Title
: Just Married. . .
Sub-Title
: I Think I Love You
Author
: dita-cHun © 2012
Type
: Multichapter
Part
: 4
Rating
: PG+12
Genre
: Romance
Theme Song : SS501 –
Your Man
Main
Cast :
*Kim Hyun-Joong
*Jung So-Min
*Heo Young-Saeng
*Jung Yong-Hwa
*Seo-Woo
Disclaimer
: All cast punya Tuhan! ^^ Adil, pan? xD
Warning
: ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya
Note
: Akhirnya saya berhasil menyelesaikan ff rekuesan ini! Yosh! Mungkin endingnya
terkesan aneh dan yah begitulah *Plak* Tapi, saya benar-benar berusaha buat
menyelesaikan ff ini dengan baik. Semoga yang rekues suka ya! Endingnya aku
buat … ending loh! xD penasaran? Ok happy reading! ^^/ Jangan lupa tinggalkan
komen ya! ^^V
Pagi-pagi
sekali aku sudah berkemas. Hari ini aku akan menemui Heo. Aku akan
menyelesaikan masalah kami mengenai hutang. Setelah berkemas aku kembali
memeriksa barang-barang bawaanku, jangan sampai ada yang tertinggal. Terutama check
lima juta won itu.
“Yong Hwa-sshi,
annyeong.” Sapaku.
“Annyeong,”
jawabnya. “Kau sudah mau berangkat?”
Aku
mengangguk.
“Kalau
begitu biarkan aku mengantarmu,” tawarnya.
Aku
menggeleng, menolak sungkan. “Tidak perlu, aku bisa berangkat sendiri.”
Tanpa
mempedulikan ucapanku barusan ia meraih jemariku—menggandengku. Entah kenapa aku
tidak mampu menolaknya. Aku hanya mengikuti langkahnya yang selalu terjaga agar
tak meninggalkanku tersebut. Ia benar-benar lembut.
“Yong Hwa-sshi,
kenapa kau membantuku melunasi hutang?” tanyaku di tengah langkah kami yang
masih terus terjaga.
“Karena
aku menyukaimu, ada yang salah?” ucapnya terang-terangan. Itu tentu saja
berhasil membuat wajahku memanas seketika.
Aku
diam—tak menanggapi ucapannya itu. Lidahku kelu. Tepatnya, aku bingung hendak
mengatakan apa.
Setelah
sekitar dua puluh menit berjalan, kami sampai di depan sebuah rumah mewah yang
kutahu benar itu adalah rumah milik Heo Young Saeng. Tanpa ragu-ragu kami lekas
melangkah masuk ke dalam rumah itu. Beberapa penjaga sempat menghambat
perjalanan kami, tapi Heo tiba-tiba muncul dari balik pintu rumah. Kami pun
masuk lebih dalam ke dalam rumah tersebut.
“Ada apa
kau tiba-tiba kemari, Jung So Min-sshi?” tanya Heo begitu kami
dipersilahkan duduk di sebuah ruang tamu.
“Aku ingin
melunasi hutang kami—aku dan Hyun Joong,” jawabku.
Heo
menatapku dalam-dalam, mencoba menyelami isi kedua mataku. Sementara aku masih
diam menunggu jawabannya. Ia berdehem sekilas sebelum akhirnya menanggapi,
“Lima juta won, kan?”
Aku
mengangguk, “Ini check-nya.” Kuangsurkan check di tanganku padanya.
Heo lekas menyambarnya cepat—takut aku berpikir dua kali untuk menyerahkan check
itu.
“Bagaimana
bisa dalam tiga bulan kau mendapatkan uang sebanyak ini?” tanya Heo curiga.
Aku diam.
Pria berlabel Jung Yong Hwa yang semula merasa tak dianggap kali ini angkat
bicara. “Tidak perlu kan sampai menanyakan dari mana asal uang itu. Asal lunas
bukankah sudah tuntas?”
Kedua bola
mata onyx milik Heo berbalik mengamati pria di sampingku. “Jadi,
karena kau sudah mendapatkan yang lebih kaya, kau berniat meninggalkan Hyun
Joong?”
“Bukan,
kau jangan salah pa—” kalimatku terpotong.
“Ya. Aku
yang akan menggantikan posisi Hyun Joong setelah mereka berpisah,” jawab Yong
Hwa mantap.
Heo mengangguk
paham, “Kalau begitu kalian bisa berpisah sesuka kalian. Kita sudah tidak ada
hubungan lagi dari sekarang.”
“Baiklah
kalau begitu. Kami permisi,” Yong Hwa lagi-lagi menarik tanganku. Kali ini
keluar rumah Heo. Sedangkan aku lagi-lagi hanya bisa diam mengikutinya.
“Mulai
sekarang kau bisa tenang, kan?” tanyanya.
Aku
mengangguk, “Gomawo, Yong Hwa-sshi.”
**
Sampai di
rumah kulihat televisi di ruang tamu menyala dengan volume yang cukup keras.
Aroma daging panggang menyeruak hingga ke indra penciumanku. Serta parfum pria
milik Hyun Joong juga tercium di beberapa ruangan. Kurasa Hyun Joong mungkin
sudah pulang. Tapi, ia dimana?
“So Min-ah,”
suara baritone itu mengalun dari arah belakang. Aku menoleh. Kujumpai
sosok Hyun Joong di sana.
“Kau sudah
pulang? Aku sudah menyerahkan check itu pada Heo-sshi,”
ucapku.
“Aku tahu
itu. Aku melihat saat kau dan Yong Hwa-sshi pergi ke rumah Heo-sshi,”
komentarnya.
“Jadi,
kita…” aku sengaja menggantung kalimatku tanpa melanjutkannya.
Ia diam.
Tak ada suaranya lagi setelah itu. Aku hanya mendengar derap langkahnya menuju
kamar. Ia pasti akan segera berkemas.
Namun, apa
yang kupikirkan tak sesuai dengan apa yang telah ia kerjakan di dalam kamar. Ia
malah duduk di ranjang sambil terus fokus dengan ponselnya. Aku lekas mengambil
koper di samping lemari. Aku ingat, itu koper yang ia bawa saat kami pindah ke
sini. Perlahan kubuka pintu lemari. Kulihat lemari itu nyaris penuh dengan
pakaianku dan pakaiannya. Sebentar lagi lemari ini akan kosong kembali. Ku
ambil pakaian Hyun Joong dari dalam sana dan kumasukkan ke dalam koper. Mungkin
ini hal terakhir yang bisa kulakukan sebagai istrinya.
“Kau
sedang apa?” suara Hyun Joong kembali menelusup di telingaku, membuatku sedikit
terjingkat karena terkejut.
“Aku hanya
membantumu mengemas pakaian,” jawabku.
“Kau
mengusirku?” tanyanya lagi.
Aku diam
sejenak kemudian melanjutkan, “Kau bisa tinggal dengan Seo Woo mulai sekarang.
Ia pasti akan sangat senang.”
Lagi-lagi
ia diam. Kemudian diraihnya lenganku dan memaksaku bangkit dari posisiku
semula. Ia menarikku ke ranjang. Aku hanya diam. Sedetik kemudian ia beranjak,
mengeluarkan pakaiannya dari koper dan menatanya kembali ke dalam lemari.
“Aku tidak
ingin kau mengusirku dari sini,” ucapnya kemudian.
“Tapi, kau
bisa tinggal bersama Seo Woo, kan?” tanyaku. Wajahku memanas menyebut nama
gadis itu. Aku merasakan mataku basah, tapi aku tidak ingin menangis. Karena
aku sendiri tidak tahu untuk apa aku menangis.
“Aku tidak
bisa menikah dengannya,” jawabnya.
Aku
tersentak. Entah kenapa aliran darahku terasa semakin cepat dan cepat mendengar
itu. Antara rasa lega dan bingung berkecamuk di dadaku. “Kenapa?”
“Aku tidak
tahu. Aku hanya tidak bisa,” jawabnya sembari menutup pintu lemari itu
rapat-rapat. Diungsikannya koper itu ke samping lemari.
“Tapi,
kalian sudah bersama selama tiga tahun, kan? Seo Woo pasti ingin segera menikah
denganmu.”
Suaraku
bergetar menyebut nama itu lagi dan lagi. Aku tidak tahu perasaan apa yang
sedang menyerbuku saat ini. Aku hanya merasa dadaku bergemuruh, jantungku
berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Aku tidak
bisa, So Min!” bentak Hyun Joong tiba-tiba kemudian ia keluar dari kamar.
“Curang…”
gumamku. Air mataku terjun begitu saja dari kedua pelupuk mataku. Aku bahkan
tidak tahu, untuk apa aku menangis belakangan ini. Aku benar-benar tidak
mengerti.
**
Karena
demam hari ini aku tidak masuk kerja. Tadi pagi Hyun Joong memasak sesuatu yang
aku tak tahu itu apa. Aku belum menyentuh masakan itu sejak pagi. Ia hanya
berkata agar aku istirahat dan makan yang baik. Tapi, aku mengabaikannya.
Siang ini
aku merasa agak baikan. Mungkin karena tadi aku sudah sempat minum obat.
Tiba-tiba kudengar suara pintu rumahku diketuk seseorang. Aku bergegas menuju
pintu, mencoba melihat siapa yang datang.
Begitu
pintu terbuka, kulihat seorang gadis manis di depan rumah. Dengan pakaian
sederhana ia sudah tampak begitu cantik. Apalagi senyumnya itu, benar-benar
luar biasa. Tapi, siapa dia?
“Annyeonghaseyo,
apa ini rumah Kim Hyun Joong?” sapanya ramah.
Aku
mengangguk, “Benar. Kalau boleh kutahu, kau siapa?”
“Namaku
Seo Woo.”
**
Aku masih
terduduk lemas di samping dapur. Sudah sekitar satu setengah jam aku
menyaksikan perdebatan Hyun Joong dan Seo Woo. Dengan mulut terkunci, air
mataku membanjir. Aku menangis.
Seo Woo
datang dan rupanya ia tidak tahu mengenai pernikahanku dengan Hyun Joong selama
ini. Ia mengamuk hebat. Memukulku, menamparku, dan mengacak-acak isi rumahku
dengan kasar. Aku tahu perasaannya, tentu ia sangat sakit mengetahui kekasihnya
menikah dengan gadis lain tanpa sepengetahuannya.
Tanpa
memberiku ruang untuk menjelaskan semuanya, ia menyerangku. Ia menangis dan
terus mendaratkan pukulan demi pukulannya padaku. Ia menangis, merasa aku telah
merebut Hyun Joong darinya.
Syukurlah
saat itu Hyun Joong pulang lebih awal. Ia lekas melerai kami dan menyuruhku
untuk masuk ke kamar. Dan saat ini, aku masih melihat perdebatan panjang mereka
di dalam rumahku. Seo Woo terus menangis dan memukul Hyun Joong sejak tadi.
“Seo Woo,
kubilang tenanglah!” teriak Hyun Joong untuk kesekian kalinya. Kulihat Hyun
Joong mendorong Seo Woo hingga terduduk di atas sofa.
“Wae?
Wae, Oppa?! Kenapa aku harus tenang?!! Dia sudah merebutkmu
dariku!!” jerit Seo Woo pada Hyun Joong. Wajahnya semakin memerah seiring
tangisnya yang terus-menerus pecah menahan amarahnya.
“Dia tak
pernah merebutku, Seo Woo-ya! Dengarlah!” ucap Hyun Joong tak kalah
kerasnya.
“Brengsek!
Lalu kenapa kalian menikah?!” Seo Woo kembali mendaratkan pukulan pada Hyun
Joong.
“Ini semua
karena hutang! Kau tahu? Aku miskin! Orang tuaku meninggalkan hutang yang
sangat banyak dari rentenir dan akhirnya… Aku harus menikah dengannya agar kami
bisa melunasi hutang itu lebih ringan!” jelas Hyun Joong.
“Brengsek,
alasan macam apa itu?!” ia lagi-lagi memukul Hyun Joong keras-keras.
“Aku
mengatakan yang sebenarnya!” protes Hyun Joong.
“Kalau
begitu cepat lunasi hutangmu dan bercerailah!” teriak Seo Woo.
“Hutang
itu sudah lunas,” volume suara Hyun Joong menurun drastis.
“Lalu… Apa
lagi? Cepat ceraikan dia dan kita segera menikah?!”
“Aku tidak
bisa.”
“Mwo?”
“Aku tidak
bisa berpisah dengannya, mian…” Hyun Joong beringsut sedikit dari
posisinya. Kali ini aku yang terisak agak lebih keras. Entah kenapa aku
terus-menerus menangis tanpa aku tahu alasannya.
“Seo Woo-ya,
kurasa sebaiknya kita berpisah saja…” lanjutnya. “Kau bisa mendapatkan pria
yang jauh lebih baik dariku. Mianhae, Seo Woo-ya…”
“Dasar
kau—! Brengsek!” sebuah pukulan lebih keras dari sebelumnya sukses mendarat di
wajah Hyun Joong. Kulihat samar-samar darah segar mengalir dari sana. Seo Woo
mengabaikannya dan dengan cepat ia bergegas meninggalkan rumah kami.
Hyun Joong
beringsut dari posisinya semula. Ia berjalan ke arahku—menghampiriku—yang masih
menangis dalam diam. “Gwaenchanha?” tanyanya padaku. Aku mengangguk
mantap. Ia lekas menggendongku ke dalam kamar.
“Mianhae,
So Min…” ucapnya pelan.
“Kenapa
kau begitu jahat, Hyun Joong?” suaraku parau.
“Karena
kupikir… Aku sudah mulai menyukaimu,” ia mencium keningku lembut. Tangisku
kembali pecah. “Pernikahan itu bukan sesuatu yang main-main, So Min-ah.
Jadi, kuputuskan untuk belajar mencintaimu.”
“Mengenai
Yong Hwa-sshi. Aku tidak suka kau terlalu dekat dengannya,” Hyun Joong
bangkit, meraih kotak P3K di samping lemari.
“Tapi, ia
menyukaiku…” jawabku akhirnya.
“Lalu apa
kau juga menyukainya?” tanyanya.
Aku
menggeleng. “Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk menyukainya. Mungkin
aku juga sudah menyukaimu…”
Hyun Jung
tersenyum usai aku menyelesaikan kalimatku. “Kalau begitu ayo kita kumpulkan
uang bersama dan melunasi hutang lima juta won kita pada Jung Yong
Hwa!”
“Hm,” aku
mengangguk mantap.
Mungkin
aku tahu apa yang membuatku menangis belakangan ini. Itu… Karena aku sangat mencintai
suamiku. Aku sangat sedih saat ia pergi menemui Seo Woo, tentu saja karena aku
tidak ingin ia meninggalkanku. Meski terus-menerus berkata bahwa aku setuju
saat mereka menikah nanti, dalam hati aku merasa tidak nyaman. Ya, karena
mungkin Tuhan sudah menakdirkan suamiku menjadi milikku, bukan milik orang
lain. Kim Hyun Joong, saranghaeyo.
.the end.
Glossarium :
*Annyeonghaseyo
: selamat pagi/siang/sore/malam, Hai, Hallo
*Gomawo
: terima kasih
*Gwaenchanha?
: baik-baik saja?
*Mianhae
: maaf
*Wae?
: kenapa?
*Oppa
: kakak laki-laki [sebutan dari adik
perempuan]
*Mwo?
: apa?
*Saranghae :
aku mencintaimu
oh my god,amazing ,,,,,
BalasHapusakhirnya mereka saling mencintai