Minggu, 21 April 2013

Just Married [I Think I Love You] [Part IV]



Title               : Just Married. . .

Sub-Title        : I Think I Love You

Author           : dita-cHun © 2012

Type               : Multichapter

Part                : 4

Rating            : PG+12

Genre             : Romance

Theme Song  : SS501 – Your Man

Main Cast      :

*Kim Hyun-Joong

*Jung So-Min

*Heo Young-Saeng

*Jung Yong-Hwa

*Seo-Woo

Disclaimer     : All cast punya Tuhan! ^^ Adil, pan? xD

Warning        : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya

Note               : Akhirnya saya berhasil menyelesaikan ff rekuesan ini! Yosh! Mungkin endingnya terkesan aneh dan yah begitulah *Plak* Tapi, saya benar-benar berusaha buat menyelesaikan ff ini dengan baik. Semoga yang rekues suka ya! Endingnya aku buat … ending loh! xD penasaran? Ok happy reading! ^^/ Jangan lupa tinggalkan komen ya! ^^V







     Pagi-pagi sekali aku sudah berkemas. Hari ini aku akan menemui Heo. Aku akan menyelesaikan masalah kami mengenai hutang. Setelah berkemas aku kembali memeriksa barang-barang bawaanku, jangan sampai ada yang tertinggal. Terutama check lima juta won itu.

     Begitu sampai di luar rumah, kujumpai Jung Yong Hwa yang entah sejak kapan berdiri di depan rumahku. Aku tidak ingat pernah berjanji padanya untuk bertemu di depan rumah. Dengan senyum yang sangat ringan ia lekas menghampiriku.

     “Yong Hwa-sshi, annyeong.” Sapaku.

     “Annyeong,” jawabnya. “Kau sudah mau berangkat?”

     Aku mengangguk.

     “Kalau begitu biarkan aku mengantarmu,” tawarnya.

     Aku menggeleng, menolak sungkan. “Tidak perlu, aku bisa berangkat sendiri.”

     Tanpa mempedulikan ucapanku barusan ia meraih jemariku—menggandengku. Entah kenapa aku tidak mampu menolaknya. Aku hanya mengikuti langkahnya yang selalu terjaga agar tak meninggalkanku tersebut. Ia benar-benar lembut.

     “Yong Hwa-sshi, kenapa kau membantuku melunasi hutang?” tanyaku di tengah langkah kami yang masih terus terjaga.

     “Karena aku menyukaimu, ada yang salah?” ucapnya terang-terangan. Itu tentu saja berhasil membuat wajahku memanas seketika.

     Aku diam—tak menanggapi ucapannya itu. Lidahku kelu. Tepatnya, aku bingung hendak mengatakan apa.

     Setelah sekitar dua puluh menit berjalan, kami sampai di depan sebuah rumah mewah yang kutahu benar itu adalah rumah milik Heo Young Saeng. Tanpa ragu-ragu kami lekas melangkah masuk ke dalam rumah itu. Beberapa penjaga sempat menghambat perjalanan kami, tapi Heo tiba-tiba muncul dari balik pintu rumah. Kami pun masuk lebih dalam ke dalam rumah tersebut.

     “Ada apa kau tiba-tiba kemari, Jung So Min-sshi?” tanya Heo begitu kami dipersilahkan duduk di sebuah ruang tamu.

     “Aku ingin melunasi hutang kami—aku dan Hyun Joong,” jawabku.

     Heo menatapku dalam-dalam, mencoba menyelami isi kedua mataku. Sementara aku masih diam menunggu jawabannya. Ia berdehem sekilas sebelum akhirnya menanggapi, “Lima juta won, kan?”

     Aku mengangguk, “Ini check-nya.” Kuangsurkan check di tanganku padanya. Heo lekas menyambarnya cepat—takut aku berpikir dua kali untuk menyerahkan check itu.

     “Bagaimana bisa dalam tiga bulan kau mendapatkan uang sebanyak ini?” tanya Heo curiga.

     Aku diam. Pria berlabel Jung Yong Hwa yang semula merasa tak dianggap kali ini angkat bicara. “Tidak perlu kan sampai menanyakan dari mana asal uang itu. Asal lunas bukankah sudah tuntas?”

     Kedua bola mata onyx milik Heo berbalik mengamati pria di sampingku. “Jadi, karena kau sudah mendapatkan yang lebih kaya, kau berniat meninggalkan Hyun Joong?”

     “Bukan, kau jangan salah pa—” kalimatku terpotong.

     “Ya. Aku yang akan menggantikan posisi Hyun Joong setelah mereka berpisah,” jawab Yong Hwa mantap.

     Heo mengangguk paham, “Kalau begitu kalian bisa berpisah sesuka kalian. Kita sudah tidak ada hubungan lagi dari sekarang.”

     “Baiklah kalau begitu. Kami permisi,” Yong Hwa lagi-lagi menarik tanganku. Kali ini keluar rumah Heo. Sedangkan aku lagi-lagi hanya bisa diam mengikutinya.

     “Mulai sekarang kau bisa tenang, kan?” tanyanya.

     Aku mengangguk, “Gomawo, Yong Hwa-sshi.”

**

     Sampai di rumah kulihat televisi di ruang tamu menyala dengan volume yang cukup keras. Aroma daging panggang menyeruak hingga ke indra penciumanku. Serta parfum pria milik Hyun Joong juga tercium di beberapa ruangan. Kurasa Hyun Joong mungkin sudah pulang. Tapi, ia dimana?

     “So Min-ah,” suara baritone itu mengalun dari arah belakang. Aku menoleh. Kujumpai sosok Hyun Joong di sana.

     “Kau sudah pulang? Aku sudah menyerahkan check itu pada Heo-sshi,” ucapku.

     “Aku tahu itu. Aku melihat saat kau dan Yong Hwa-sshi pergi ke rumah Heo-sshi,” komentarnya.

     “Jadi, kita…” aku sengaja menggantung kalimatku tanpa melanjutkannya.

     Ia diam. Tak ada suaranya lagi setelah itu. Aku hanya mendengar derap langkahnya menuju kamar. Ia pasti akan segera berkemas.

     Namun, apa yang kupikirkan tak sesuai dengan apa yang telah ia kerjakan di dalam kamar. Ia malah duduk di ranjang sambil terus fokus dengan ponselnya. Aku lekas mengambil koper di samping lemari. Aku ingat, itu koper yang ia bawa saat kami pindah ke sini. Perlahan kubuka pintu lemari. Kulihat lemari itu nyaris penuh dengan pakaianku dan pakaiannya. Sebentar lagi lemari ini akan kosong kembali. Ku ambil pakaian Hyun Joong dari dalam sana dan kumasukkan ke dalam koper. Mungkin ini hal terakhir yang bisa kulakukan sebagai istrinya.

     “Kau sedang apa?” suara Hyun Joong kembali menelusup di telingaku, membuatku sedikit terjingkat karena terkejut.

     “Aku hanya membantumu mengemas pakaian,” jawabku.

     “Kau mengusirku?” tanyanya lagi.

     Aku diam sejenak kemudian melanjutkan, “Kau bisa tinggal dengan Seo Woo mulai sekarang. Ia pasti akan sangat senang.”

     Lagi-lagi ia diam. Kemudian diraihnya lenganku dan memaksaku bangkit dari posisiku semula. Ia menarikku ke ranjang. Aku hanya diam. Sedetik kemudian ia beranjak, mengeluarkan pakaiannya dari koper dan menatanya kembali ke dalam lemari.

     “Aku tidak ingin kau mengusirku dari sini,” ucapnya kemudian.

     “Tapi, kau bisa tinggal bersama Seo Woo, kan?” tanyaku. Wajahku memanas menyebut nama gadis itu. Aku merasakan mataku basah, tapi aku tidak ingin menangis. Karena aku sendiri tidak tahu untuk apa aku menangis.

     “Aku tidak bisa menikah dengannya,” jawabnya.

     Aku tersentak. Entah kenapa aliran darahku terasa semakin cepat dan cepat mendengar itu. Antara rasa lega dan bingung berkecamuk di dadaku. “Kenapa?”

     “Aku tidak tahu. Aku hanya tidak bisa,” jawabnya sembari menutup pintu lemari itu rapat-rapat. Diungsikannya koper itu ke samping lemari.

     “Tapi, kalian sudah bersama selama tiga tahun, kan? Seo Woo pasti ingin segera menikah denganmu.”

     Suaraku bergetar menyebut nama itu lagi dan lagi. Aku tidak tahu perasaan apa yang sedang menyerbuku saat ini. Aku hanya merasa dadaku bergemuruh, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

     “Aku tidak bisa, So Min!” bentak Hyun Joong tiba-tiba kemudian ia keluar dari kamar.

     “Curang…” gumamku. Air mataku terjun begitu saja dari kedua pelupuk mataku. Aku bahkan tidak tahu, untuk apa aku menangis belakangan ini. Aku benar-benar tidak mengerti.

**

     Karena demam hari ini aku tidak masuk kerja. Tadi pagi Hyun Joong memasak sesuatu yang aku tak tahu itu apa. Aku belum menyentuh masakan itu sejak pagi. Ia hanya berkata agar aku istirahat dan makan yang baik. Tapi, aku mengabaikannya.

     Siang ini aku merasa agak baikan. Mungkin karena tadi aku sudah sempat minum obat. Tiba-tiba kudengar suara pintu rumahku diketuk seseorang. Aku bergegas menuju pintu, mencoba melihat siapa yang datang.

     Begitu pintu terbuka, kulihat seorang gadis manis di depan rumah. Dengan pakaian sederhana ia sudah tampak begitu cantik. Apalagi senyumnya itu, benar-benar luar biasa. Tapi, siapa dia?

     “Annyeonghaseyo, apa ini rumah Kim Hyun Joong?” sapanya ramah.

     Aku mengangguk, “Benar. Kalau boleh kutahu, kau siapa?”

     “Namaku Seo Woo.”

**

     Aku masih terduduk lemas di samping dapur. Sudah sekitar satu setengah jam aku menyaksikan perdebatan Hyun Joong dan Seo Woo. Dengan mulut terkunci, air mataku membanjir. Aku menangis.

     Seo Woo datang dan rupanya ia tidak tahu mengenai pernikahanku dengan Hyun Joong selama ini. Ia mengamuk hebat. Memukulku, menamparku, dan mengacak-acak isi rumahku dengan kasar. Aku tahu perasaannya, tentu ia sangat sakit mengetahui kekasihnya menikah dengan gadis lain tanpa sepengetahuannya.

     Tanpa memberiku ruang untuk menjelaskan semuanya, ia menyerangku. Ia menangis dan terus mendaratkan pukulan demi pukulannya padaku. Ia menangis, merasa aku telah merebut Hyun Joong darinya.

     Syukurlah saat itu Hyun Joong pulang lebih awal. Ia lekas melerai kami dan menyuruhku untuk masuk ke kamar. Dan saat ini, aku masih melihat perdebatan panjang mereka di dalam rumahku. Seo Woo terus menangis dan memukul Hyun Joong sejak tadi.

     “Seo Woo, kubilang tenanglah!” teriak Hyun Joong untuk kesekian kalinya. Kulihat Hyun Joong mendorong Seo Woo hingga terduduk di atas sofa.

     “Wae? Wae, Oppa?! Kenapa aku harus tenang?!! Dia sudah merebutkmu dariku!!” jerit Seo Woo pada Hyun Joong. Wajahnya semakin memerah seiring tangisnya yang terus-menerus pecah menahan amarahnya.

     “Dia tak pernah merebutku, Seo Woo-ya! Dengarlah!” ucap Hyun Joong tak kalah kerasnya.

     “Brengsek! Lalu kenapa kalian menikah?!” Seo Woo kembali mendaratkan pukulan pada Hyun Joong.

     “Ini semua karena hutang! Kau tahu? Aku miskin! Orang tuaku meninggalkan hutang yang sangat banyak dari rentenir dan akhirnya… Aku harus menikah dengannya agar kami bisa melunasi hutang itu lebih ringan!” jelas Hyun Joong.

     “Brengsek, alasan macam apa itu?!” ia lagi-lagi memukul Hyun Joong keras-keras.

     “Aku mengatakan yang sebenarnya!” protes Hyun Joong.

     “Kalau begitu cepat lunasi hutangmu dan bercerailah!” teriak Seo Woo.

     “Hutang itu sudah lunas,” volume suara Hyun Joong menurun drastis.

     “Lalu… Apa lagi? Cepat ceraikan dia dan kita segera menikah?!”

     “Aku tidak bisa.”

     “Mwo?”

     “Aku tidak bisa berpisah dengannya, mian…” Hyun Joong beringsut sedikit dari posisinya. Kali ini aku yang terisak agak lebih keras. Entah kenapa aku terus-menerus menangis tanpa aku tahu alasannya.

     “Seo Woo-ya, kurasa sebaiknya kita berpisah saja…” lanjutnya. “Kau bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku. Mianhae, Seo Woo-ya…”

     “Dasar kau—! Brengsek!” sebuah pukulan lebih keras dari sebelumnya sukses mendarat di wajah Hyun Joong. Kulihat samar-samar darah segar mengalir dari sana. Seo Woo mengabaikannya dan dengan cepat ia bergegas meninggalkan rumah kami.

     Hyun Joong beringsut dari posisinya semula. Ia berjalan ke arahku—menghampiriku—yang masih menangis dalam diam. “Gwaenchanha?” tanyanya padaku. Aku mengangguk mantap. Ia lekas menggendongku ke dalam kamar.

     “Mianhae, So Min…” ucapnya pelan.

     “Kenapa kau begitu jahat, Hyun Joong?” suaraku parau.

     “Karena kupikir… Aku sudah mulai menyukaimu,” ia mencium keningku lembut. Tangisku kembali pecah. “Pernikahan itu bukan sesuatu yang main-main, So Min-ah. Jadi, kuputuskan untuk belajar mencintaimu.”

     “Mengenai Yong Hwa-sshi. Aku tidak suka kau terlalu dekat dengannya,” Hyun Joong bangkit, meraih kotak P3K di samping lemari.

     “Tapi, ia menyukaiku…” jawabku akhirnya.

     “Lalu apa kau juga menyukainya?” tanyanya.

     Aku menggeleng. “Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk menyukainya. Mungkin aku juga sudah menyukaimu…”

     Hyun Jung tersenyum usai aku menyelesaikan kalimatku. “Kalau begitu ayo kita kumpulkan uang bersama dan melunasi hutang lima juta won kita pada Jung Yong Hwa!”

     “Hm,” aku mengangguk mantap.

     Mungkin aku tahu apa yang membuatku menangis belakangan ini. Itu… Karena aku sangat mencintai suamiku. Aku sangat sedih saat ia pergi menemui Seo Woo, tentu saja karena aku tidak ingin ia meninggalkanku. Meski terus-menerus berkata bahwa aku setuju saat mereka menikah nanti, dalam hati aku merasa tidak nyaman. Ya, karena mungkin Tuhan sudah menakdirkan suamiku menjadi milikku, bukan milik orang lain. Kim Hyun Joong, saranghaeyo.







.the end.



Glossarium :

*Annyeonghaseyo         : selamat pagi/siang/sore/malam, Hai, Hallo
*Gomawo                       : terima kasih
*Gwaenchanha?             : baik-baik saja?
*Mianhae                       : maaf
*Wae?                            : kenapa?
*Oppa                            : kakak laki-laki [sebutan dari adik perempuan]
*Mwo?                           : apa?
*Saranghae                : aku mencintaimu

1 komentar:

  1. oh my god,amazing ,,,,,

    akhirnya mereka saling mencintai

    BalasHapus