Title
: Choice
Author
: dita-cHun © 2012
Length
: Oneshot
Rating
: PG-12
Genre
: Friendship, Slice of Life
Language
: Indonesian
Theme Song :
Hey! Say! JUMP—Time (?)
Main
Cast :
*Nakajima Yuto
*Suzuki Airi
*Mrs. Nakajima [OC]
Disclaimer
: Oke, cast milik Tuhan! Saya minjem, deh! *Plakdesh
Warning
: ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya
Note
: Baiklah, kali ini saya bawa FF rekuesan pairing Nakajima Yuto x Suzuki Airi.
Oke, FF ini emang berasa gak pairing! *Plak* Itu karena saya bener-bener lagi
gak ada ide bikin romens *desh* Jadi, buat yang rekues semoga suka sama FF
nista oneshot gak jelas ini! >/\< dan maaf baru selesai karena waktu itu
saya juga gak ada ide. Oh ya, niatnya sih FF ini mau nunjukin pairing Yuto x
Airi, tapi yang ada malah pas di awal serasa pemeran utamanya itu Yuto sama
emaknya! *dibuang ke tong sampah terdekat* Oke, deh happy reading aja! ^^V
Jangan lupa komen ya! Komen anda sangat berharga buat kelanjutan FF-FF saya (?)
xD
Dalam
hidup selalu ada pilihan. Entah itu hanya dua atau lebih dari itu. Yang pasti
tidak ada seorang manusia pun yang melewatkan sesuatu bernama pilihan. Setiap
mili detik yang berlalu menyisakan waktu untuk memilih. Hanya satu. Ya, hanya
satu yang terpilih dan akhirnya disebut sebagai keputusan.
Ibuku
pernah bercerita bahwa ia pernah memintaku memilih untuk hidup atau mati.
Mungkin tepatnya adalah paksaan, bukan pilihan secara cuma-cuma. Pada akhirnya,
aku masih berdiri di sini sampai hari ini. Artinya, hari itu aku memilih untuk
hidup.
Hari itu
ibuku berniat untuk menggugurkan kandungannya. Memaksaku untuk keluar dari
rahimnya dalam keadaan hidup atau mati. Ia berkata, alangkah baiknya jika saat
itu juga aku keluar dalam keadaan mati. Tapi, sayang sekali aku sudah memilih.
Entah dalam keadaan sadar atau tidak, aku ingin hidup.
Setelah itu
ia tidak juga menyerah untuk melenyapkanku dari pandangannya. Aku
ditinggalkannya di dalam sebuah kardus. Sekali lagi, malang bagi ibuku.
Seseorang melihatnya dan membawaku kembali pada ibuku. Akhirnya, ibu menyerah.
Ia merawatku hingga sebesar ini.
Alasan
kenapa ibu begitu berambisi untuk membuangku adalah karena ayahku tidak mau
mengakuiku. Ah, tidak tidak. Bukan hanya aku, tapi juga ibuku. Ibu pernah
bilang bahwa keberadaanku saat itu adalah hanya karena suatu kecelakaan.
Setelah ibuku hamil, ayah meninggalkannya begitu saja tanpa mau bertanggung
jawab. Poor my mom.
Itu
pilihan ibuku, aku menghargainya. Ia membuatku berada di dalam rahimnya karena
ia mencintai ayah. Dan lagi-lagi adalah pilihannya untuk menggugurkanku dan
juga membuangku. Tentu keputusan yang cukup berat bagi ibuku. Ah, atau tidak.
Mungkin lebih berat lagi adalah saat lagi-lagi aku harus berada di
gendongannya. Singkatnya, ibu tidak terlalu menyukaiku.
“Yuto,”
suara itu kembali menyapaku. Nah, itu adalah ibuku.
“Malam ini
ibu tidak akan pulang, jadi kau jaga diri di rumah. Jangan membuat kekacauan,
mengerti?” lanjutnya.
“Un,
wakatta…”
“Uang
jajanmu ibu letakkan di atas lemari. Jangan terlalu boros,” ujarnya lagi.
“Un,”
aku kembali mengangguk paham.
“Baiklah,
ibu berangkat…” suara itu adalah suara terakhir ibu yang kudengar untuk malam
itu. Kemudian suara deru mesin mobil ganti menyita pendengaranku. Lalu sejak
hari itu, ibuku tidak lagi kembali. Ia tidak pulang untuk waktu yang cukup
lama. Sampai hari ini terhitung tiga bulan.
Kadang aku
menyesal mengingat saat itu aku tidak bertanya apapun pada ibu. Setidaknya,
bertanya ia akan kemana atau sekedar bertanya kapan ia akan pulang.
Kupikir ibu akan pergi dengan
alasan seperti biasa. Yakni, mencari ayah baru bagiku. Atau lebih tepatnya
kekasih untuknya. Sedikitnya saat itu aku mencoba mengerti kenapa hampir setiap
malam ibuku tidak pulang. Ibuku bekerja. Sebagai kupu-kupu malam di sebuah klub
di daerah Shibuya.
Aku tidak
pernah berusaha melarangnya. Karena ibulah yang berkata padaku bahwa setiap
manusia itu memiliki pilihan dan itulah keputusan yang diambilnya dari pilihan
itu.
**
“Yu-chan,”
suara itu terdengar enak sekali di telingaku. Sangat lembut dan merdu.
“Ai-chan,
kenapa kau baru datang siang hari begini?” ucapku menanyakan keherananku.
Biasanya hari Minggu begini ia akan datang ke rumahku saat hari masih pagi.
“Gomen
ne, Yu-chan. Tadi aku mampir ke rumah Kei nii-chan untuk
mengerjakan PR,” jawabnya terdengar menyesal.
“Kau tidak
berbohong, kan?” ucapku menyelidik.
“Tidak,
tidak! Sungguh, kok. PR-nya susah, sih. Jadi, aku tanya pada Kei nii-chan.
Dia kan pintar!” ucapnya.
“Oh ya, Yu-chan,
ibumu belum pulang juga, ya?” lanjutnya.
Aku
menggeleng. “Mungkin dia tidak akan pulang lagi.”
“E?
Kenapa?”
“Karena
dia pernah bilang padaku bahwa dia itu tidak menyukaiku, hehehe.”
“Tidak
mungkin,” sahutnya.
“Setiap orang mungkin, kok. Lagipula itu kan pilihan ibuku,” ucapku.
“Kalau
main ke rumahmu, kau selalu saja berbicara tentang pilihan, pilihan, dan
pilihan lagi. Aku kan bosan,” protesnya. Aku terkikik geli mendengar kalimatnya
barusan. Pada kenyataannya, aku memang begitu.
Namanya
Suzuki Airi.
Ia adalah
satu-satunya teman yang sangat rutin untuk main ke rumahku. Entah untuk sekedar
berbincang-bincang di beranda rumah atau bahkan untuk bermain macam-macam
permainan yang ia dapatkan di sekolah bersamaku. Ia adalah gadis yang sangat
baik.
Mungkin
bocah usia sembilan tahun sepertiku seharusnya sekolah dan belajar seperti
anak-anak lain. Tapi, aku tidak bisa. Ibuku tidak lagi di sini dan aku tidak
bisa mengurus administrasi sendiri. Lagipula, mungkin sudah cukup terlambat
bagiku untuk belajar di kelas satu SD.
Tidak
pergi ke sekolah bukan berarti aku tidak pernah belajar. Aku tahu apa itu fish,
elephant, rabbit, dan human. Sesekali Airi datang ke
rumahku bersama buku pelajarannya. Kadang dengan telaten ia berbagi ilmu
padaku, menjelaskan tentang pelajaran Bahasa Inggris yang pernah dipelajarinya
dan aku sangat suka itu.
Tapi, aku
pernah mendengar Airi mengatakan sebuah kalimat aneh padaku. Ia hanya
mengucapkannya sekali dan sama sekali tak pernah mau mengatakan artinya padaku.
Mungkin ia sedang menyindirku, mengolokku, atau mengatakan hal yang begitu
memalukan. Yang pasti aku masih sangat ingat lafal kalimat itu.
“I
like you.”
**
Hari ini
hari Kamis. Tidak biasanya Airi datang ke rumahku pagi-pagi sekali. Sudah
berkali-kali aku bertanya padanya kenapa ia tidak pergi ke sekolah, tapi ia tak
juga menjawabnya. Ia hanya menarikku ke tempat yang jauh dari rumah sejak ia
datang. Dan entah kenapa aku tak kuasa menolaknya.
Airi, kau
mau membawaku kemana?
Kakiku
lemas. Langkah-langkah yang semula terjaga lebar kian mengecil. Butiran-butiran
keringat sudah membasahi tubuhku juga Airi sejak tadi. Entah sudah ke berapa
kali keringat kami saling bertukar lewat jemari kami yang terus tersimpul erat.
Langkahku semakin melemah. Aku tidak tahu sudah sampai sejauh apa aku saat ini
dengan rumah yang belum pernah kutinggalkan lebih dari lima kilometer. Yang aku
tahu, kami sudah melangkah sangat jauh. Sangat-sangat jauh, naik ke sebuah
puncak gunung yang aku pun tak pernah tahu apa namanya.
“Ai-chan,
aku—”
“Daijoubu,
Yu-chan! Kita akan sampai sebentar lagi,” potongnya.
Aku ingin
mengalah, tapi kurasa aku tidak sanggup. Meskipun aku sangat senang mengalah
pada gadis yang kusukai itu, tapi kali ini aku tidak bisa. Aku capek. Aku tidak
sanggup untuk berlari lagi. Gomen ne—
Bugh!
Yang
kurasakan pertama kali adalah perih yang menjalar dari lututku yang tergores
kerikil. Berikutnya, perih pada telapak tanganku. Aku mendesis menahan perih
dari luka-lukaku. Saat itu aku hendak menangis andai saja tak kudengar suara
tangisan yang lebih keras dariku.
“Ittai
yo, hiks. Yu-chan jahat, hiks! Kenapa tiba-tiba melepaskan
gandengan! Kakiku berdarah, nih…”
“Gomen
ne, Ai-chan. Dari tadi aku mau bilang kalau aku sudah tidak kuat
berlari lagi, tapi kau tidak mendengarnya,” ucapku melakukan pembelaan.
“Tapi, kan
kita akan sampai! Nanggung sekali, kan?” Airi tak mau mengalah, justru
melayangkan pembelaan bagi dirinya sendiri.
“Sudahlah,
sebenarnya kita ini mau kemana?” tanyaku akhirnya.
“Aku mau
menunjukkan tempat yang bagus pada Yu-chan,” jawabnya. Isakannya
mereda.
“Iya, tapi
dimana?” tanyaku tak sabar.
“Di puncak
gunung ini ada tempat yang sangat bagus. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa.
Yang pasti di sana udaranya segar sekali dan banyak bunga-bunga yang harum di
sana. Makanya, dari tadi aku tidak menjawab pertanyaan Yu-chan…”
“Sudah
sampai di sini, kalau begitu ayo!”aku bangkit dari posisiku semula.
“Hai’.
Kalau begitu kita jalan pelan-pelan saja,” Airi menggandengku kembali. Kemudian
kami kembali berjalan menuju tempat yang dimaksud Airi tadi.
Itu pasti
tempat yang benar-benar indah. Buktinya, Airi benar-benar semangat saat
menarikku menuju tempat itu. Dan aku sama sekali tidak ingin membuatnya kecewa.
Airi, aku memilih terus melangkah karena aku percaya padamu dan aku ingin membuatmu
senang.
**
“Whoaa,
kau benar, Ai-chan! Di sini udaranya lebih segar dan harum bunga-bunga
itu benar-benar menakjubkan!” seruku sampai di tempat itu.
“Tentu!
Sejak awal aku yakin Yu-chan pasti akan suka dengan tempat ini. Yah,
sayang sekali, ya… Tempat ini jauh dari rumah,” ucapnya.
“Tidak
apa-apa. Meskipun jauh dari rumah, setiap Minggu kita bisa pergi kemari
bersama-sama. Benar tidak, Ai-chan?”
Ia diam.
Suaranya menghilang berganti suara angin yang terus menerus menghembus tiap
inchi tubuhku. Tiba-tiba suasana terasa mendingin. Entah kenapa Airi tiba-tiba
diam. Padahal kebiasaannya yang tidak pernah lewat sekalipun adalah mengoceh.
Entah tentang sekolah, teman-teman, keluarga, ataupun tentang mimpinya yang
ingin menjadi artis terkenal suatu hari nanti. Dan kediamannya saat ini
merupakan keanehan yang benar-benar jarang terjadi.
“Ai-chan,
kau mendengarkanku?” aku kembali membuka pembicaraan, memastikan ia menyimak
ucapanku.
Aku diam
sejenak, mencoba mencerna suara yang baru saja merasuk dalam telingaku.
Sepertinya telingaku mulai agak kacau. Aku seperti mendengar suara isakan Airi.
Tapi, saat menyenangkan seperti ini untuk apa ia menangis?
“Ai-chan,
kau menangis?” tanyaku.
“Hiks, gomen
ne, Yu-chan…” suara Airi kembali terdengar.
“Doushita
no, Ai-chan?” tanyaku tak mengerti.
Ia kembali
diam. Kali ini tangisnya pecah lebih keras dari sebelumnya. Aku bingung. Kami
baru saja sampai di tempat yang sangat disukainya, tapi kenapa ia menangis? Apa
karena lukanya terkena angin dan jadi semakin perih?
Aku sama
sekali tidak tahu aku harus berbuat apa untuk membuat Airi kembali berbicara.
Setidaknya untuk menjelaskan alasan kenapa ia menangis saat ini. Aku
benar-benar nyaris mengumpati diriku sendiri andai tak kudengar suara Airi
kembali menelusup ke dalam telingaku.
“Gomen
ne, Yu-chan… Mulai besok kita tidak bisa bertemu lagi,” ucapnya
masih lengkap dengan isakannya.
“Eh?
Kenapa?” tanyaku masih mencoba tenang, meskipun dadaku sudah bergemuruh sejak
tadi.
“Ibuku
bilang padaku kalau aku tidak boleh berteman lagi dengan Yu-chan. Dan
mulai besok aku akan berangkat ke Tokyo untuk daftar menjadi trainee di
Hello! Project. Jadi, kita tidak bisa bertemu lagi… Gomen ne,
Yu-chan.”
“Bukankah
kita masih bisa berteman meskipun kita jauh? Kenapa tiba-tiba tidak boleh, Ai-chan?”
lagi-lagi aku mencoba tenang.
“Itu…
karena kata ibuku Yu-chan berbeda dari teman-temanku. Ia bilang Yu-chan
tidak normal karena Yu-chan tidak bisa melihat…”
Aku diam
mendengar penjelasannya barusan. Kurasakan dadaku meledak dan mungkin jantungku
sudah mencuat keluar menjadi kepingan-kepingan kerikil. Rasanya sangat
menyakitkan. Tapi, aku tahu gadis itu meninggalkanku bukan karena inisiatifnya.
Jadi, aku akan menghargai apapun pilihannya.
Aku
mencoba tersenyum, sebelum mengajukan pertanyaanku untuk terakhir kalinya
padanya. “Jadi, untuk terakhir kalinya aku ingin menanyakan hal ini pada Ai-chan.
Jangan protes, ya! Aku akan menanyakan pertanyaan dengan topik membosankan
kita!”
Ia diam,
menungguku melanjutkan kalimatku.
“Jadi, apa
keputusan Ai-chan sekarang?” pertanyaan itu melesat juga dari bibirku
pada akhirnya.
“Gomen
ne, aku ingin mengejar mimpiku, Yu-chan…” jawabnya dengan suara
agak parau.
Aku
kembali mengulas senyum. “Souka. Kalau begitu kau tidak perlu menangis
lagi, Ai-chan. Karena itu adalah keputusanmu, pilihan akhir yang sudah
berhasil kau buat.”
“Yu-chan,
arigatou…”
Kurasakan
sentuhan hangat menjalar pada tubuhku. Pelukan perpisahan kami berlangsung
begitu lama. Aku menangis saat itu, air mataku tumpah di atas seragam sekolah
Airi saat itu. Airi justru menangis lebih pelan, namun dengan air mata yang
kupikir lebih deras dari sebelumnya. Air matanya berhasil membuat kaosku basah.
Saat ini
aku ingin berterima kasih pada ibu. Berterima kasih karena sudah melahirkanku
dan mengajarkanku arti pilihan, serta menghargai setiap keputusan dari
banyaknya pilihan itu. Seberat apapun itu. Arigatou…
*the end*
Glossarium :
*Wakatta
: aku mengerti
*Gomen
: maaf
*Hai’
: ya
*Arigatou
: terima kasih
*Souka
: oh, begitu/ jadi, begitu…
*Doushita
no? : ada apa?
*Ittai
: sakit
*Daijoubu
: tidak apa/baik-baik saja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar