Minggu, 21 April 2013

Choice



Title                   : Choice

Author              : dita-cHun © 2012

Length              : Oneshot

Rating               : PG-12

Genre                : Friendship, Slice of Life

Language        : Indonesian

Theme Song   : Hey! Say! JUMP—Time (?)

Main Cast        :

*Nakajima Yuto

*Suzuki Airi

*Mrs. Nakajima [OC]

Disclaimer      : Oke, cast milik Tuhan! Saya minjem, deh! *Plakdesh

Warning          : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya

Note                   : Baiklah, kali ini saya bawa FF rekuesan pairing Nakajima Yuto x Suzuki Airi. Oke, FF ini emang berasa gak pairing! *Plak* Itu karena saya bener-bener lagi gak ada ide bikin romens *desh* Jadi, buat yang rekues semoga suka sama FF nista oneshot gak jelas ini! >/\< dan maaf baru selesai karena waktu itu saya juga gak ada ide. Oh ya, niatnya sih FF ini mau nunjukin pairing Yuto x Airi, tapi yang ada malah pas di awal serasa pemeran utamanya itu Yuto sama emaknya! *dibuang ke tong sampah terdekat* Oke, deh happy reading aja! ^^V Jangan lupa komen ya! Komen anda sangat berharga buat kelanjutan FF-FF saya (?) xD






     Dalam hidup selalu ada pilihan. Entah itu hanya dua atau lebih dari itu. Yang pasti tidak ada seorang manusia pun yang melewatkan sesuatu bernama pilihan. Setiap mili detik yang berlalu menyisakan waktu untuk memilih. Hanya satu. Ya, hanya satu yang terpilih dan akhirnya disebut sebagai keputusan.

     Ibuku pernah bercerita bahwa ia pernah memintaku memilih untuk hidup atau mati. Mungkin tepatnya adalah paksaan, bukan pilihan secara cuma-cuma. Pada akhirnya, aku masih berdiri di sini sampai hari ini. Artinya, hari itu aku memilih untuk hidup.

     Hari itu ibuku berniat untuk menggugurkan kandungannya. Memaksaku untuk keluar dari rahimnya dalam keadaan hidup atau mati. Ia berkata, alangkah baiknya jika saat itu juga aku keluar dalam keadaan mati. Tapi, sayang sekali aku sudah memilih. Entah dalam keadaan sadar atau tidak, aku ingin hidup.

     Setelah itu ia tidak juga menyerah untuk melenyapkanku dari pandangannya. Aku ditinggalkannya di dalam sebuah kardus. Sekali lagi, malang bagi ibuku. Seseorang melihatnya dan membawaku kembali pada ibuku. Akhirnya, ibu menyerah. Ia merawatku hingga sebesar ini.

     Alasan kenapa ibu begitu berambisi untuk membuangku adalah karena ayahku tidak mau mengakuiku. Ah, tidak tidak. Bukan hanya aku, tapi juga ibuku. Ibu pernah bilang bahwa keberadaanku saat itu adalah hanya karena suatu kecelakaan. Setelah ibuku hamil, ayah meninggalkannya begitu saja tanpa mau bertanggung jawab. Poor my mom.

     Itu pilihan ibuku, aku menghargainya. Ia membuatku berada di dalam rahimnya karena ia mencintai ayah. Dan lagi-lagi adalah pilihannya untuk menggugurkanku dan juga membuangku. Tentu keputusan yang cukup berat bagi ibuku. Ah, atau tidak. Mungkin lebih berat lagi adalah saat lagi-lagi aku harus berada di gendongannya. Singkatnya, ibu tidak terlalu menyukaiku.

     “Yuto,” suara itu kembali menyapaku. Nah, itu adalah ibuku.

     “Malam ini ibu tidak akan pulang, jadi kau jaga diri di rumah. Jangan membuat kekacauan, mengerti?” lanjutnya.

     “Un, wakatta…”

     “Uang jajanmu ibu letakkan di atas lemari. Jangan terlalu boros,” ujarnya lagi.

     “Un,” aku kembali mengangguk paham.

     “Baiklah, ibu berangkat…” suara itu adalah suara terakhir ibu yang kudengar untuk malam itu. Kemudian suara deru mesin mobil ganti menyita pendengaranku. Lalu sejak hari itu, ibuku tidak lagi kembali. Ia tidak pulang untuk waktu yang cukup lama. Sampai hari ini terhitung tiga bulan.

     Kadang aku menyesal mengingat saat itu aku tidak bertanya apapun pada ibu. Setidaknya, bertanya ia akan kemana atau sekedar bertanya kapan ia akan pulang.
Kupikir ibu akan pergi dengan alasan seperti biasa. Yakni, mencari ayah baru bagiku. Atau lebih tepatnya kekasih untuknya. Sedikitnya saat itu aku mencoba mengerti kenapa hampir setiap malam ibuku tidak pulang. Ibuku bekerja. Sebagai kupu-kupu malam di sebuah klub di daerah Shibuya.

     Aku tidak pernah berusaha melarangnya. Karena ibulah yang berkata padaku bahwa setiap manusia itu memiliki pilihan dan itulah keputusan yang diambilnya dari pilihan itu.

**

     “Yu-chan,” suara itu terdengar enak sekali di telingaku. Sangat lembut dan merdu.

     “Ai-chan, kenapa kau baru datang siang hari begini?” ucapku menanyakan keherananku. Biasanya hari Minggu begini ia akan datang ke rumahku saat hari masih pagi.

     “Gomen ne, Yu-chan. Tadi aku mampir ke rumah Kei nii-chan untuk mengerjakan PR,” jawabnya terdengar menyesal.

     “Kau tidak berbohong, kan?” ucapku menyelidik.

     “Tidak, tidak! Sungguh, kok. PR-nya susah, sih. Jadi, aku tanya pada Kei nii-chan. Dia kan pintar!” ucapnya.

     “Oh ya, Yu-chan, ibumu belum pulang juga, ya?” lanjutnya.

     Aku menggeleng. “Mungkin dia tidak akan pulang lagi.”

     “E? Kenapa?”

     “Karena dia pernah bilang padaku bahwa dia itu tidak menyukaiku, hehehe.”

     “Tidak mungkin,” sahutnya.

     “Setiap  orang mungkin, kok. Lagipula itu kan pilihan ibuku,” ucapku.

     “Kalau main ke rumahmu, kau selalu saja berbicara tentang pilihan, pilihan, dan pilihan lagi. Aku kan bosan,” protesnya. Aku terkikik geli mendengar kalimatnya barusan. Pada kenyataannya, aku memang begitu.

     Namanya Suzuki Airi.

     Ia adalah satu-satunya teman yang sangat rutin untuk main ke rumahku. Entah untuk sekedar berbincang-bincang di beranda rumah atau bahkan untuk bermain macam-macam permainan yang ia dapatkan di sekolah bersamaku. Ia adalah gadis yang sangat baik.

     Mungkin bocah usia sembilan tahun sepertiku seharusnya sekolah dan belajar seperti anak-anak lain. Tapi, aku tidak bisa. Ibuku tidak lagi di sini dan aku tidak bisa mengurus administrasi sendiri. Lagipula, mungkin sudah cukup terlambat bagiku untuk belajar di kelas satu SD.

     Tidak pergi ke sekolah bukan berarti aku tidak pernah belajar. Aku tahu apa itu fish, elephant, rabbit, dan human. Sesekali Airi datang ke rumahku bersama buku pelajarannya. Kadang dengan telaten ia berbagi ilmu padaku, menjelaskan tentang pelajaran Bahasa Inggris yang pernah dipelajarinya dan aku sangat suka itu.

     Tapi, aku pernah mendengar Airi mengatakan sebuah kalimat aneh padaku. Ia hanya mengucapkannya sekali dan sama sekali tak pernah mau mengatakan artinya padaku. Mungkin ia sedang menyindirku, mengolokku, atau mengatakan hal yang begitu memalukan. Yang pasti aku masih sangat ingat lafal kalimat itu.

     “I like you.”

**

     Hari ini hari Kamis. Tidak biasanya Airi datang ke rumahku pagi-pagi sekali. Sudah berkali-kali aku bertanya padanya kenapa ia tidak pergi ke sekolah, tapi ia tak juga menjawabnya. Ia hanya menarikku ke tempat yang jauh dari rumah sejak ia datang. Dan entah kenapa aku tak kuasa menolaknya.

     Airi, kau mau membawaku kemana?

     Kakiku lemas. Langkah-langkah yang semula terjaga lebar kian mengecil. Butiran-butiran keringat sudah membasahi tubuhku juga Airi sejak tadi. Entah sudah ke berapa kali keringat kami saling bertukar lewat jemari kami yang terus tersimpul erat. Langkahku semakin melemah. Aku tidak tahu sudah sampai sejauh apa aku saat ini dengan rumah yang belum pernah kutinggalkan lebih dari lima kilometer. Yang aku tahu, kami sudah melangkah sangat jauh. Sangat-sangat jauh, naik ke sebuah puncak gunung yang aku pun tak pernah tahu apa namanya.

     “Ai-chan, aku—”

     “Daijoubu, Yu-chan! Kita akan sampai sebentar lagi,” potongnya.

     Aku ingin mengalah, tapi kurasa aku tidak sanggup. Meskipun aku sangat senang mengalah pada gadis yang kusukai itu, tapi kali ini aku tidak bisa. Aku capek. Aku tidak sanggup untuk berlari lagi. Gomen ne

     Bugh!

     Yang kurasakan pertama kali adalah perih yang menjalar dari lututku yang tergores kerikil. Berikutnya, perih pada telapak tanganku. Aku mendesis menahan perih dari luka-lukaku. Saat itu aku hendak menangis andai saja tak kudengar suara tangisan yang lebih keras dariku.

     “Ittai yo, hiks. Yu-chan jahat, hiks! Kenapa tiba-tiba melepaskan gandengan! Kakiku berdarah, nih…”

     “Gomen ne, Ai-chan. Dari tadi aku mau bilang kalau aku sudah tidak kuat berlari lagi, tapi kau tidak mendengarnya,” ucapku melakukan pembelaan.

     “Tapi, kan kita akan sampai! Nanggung sekali, kan?” Airi tak mau mengalah, justru melayangkan pembelaan bagi dirinya sendiri.

     “Sudahlah, sebenarnya kita ini mau kemana?” tanyaku akhirnya.

     “Aku mau menunjukkan tempat yang bagus pada Yu-chan,” jawabnya. Isakannya mereda.

     “Iya, tapi dimana?” tanyaku tak sabar.

     “Di puncak gunung ini ada tempat yang sangat bagus. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Yang pasti di sana udaranya segar sekali dan banyak bunga-bunga yang harum di sana. Makanya, dari tadi aku tidak menjawab pertanyaan Yu-chan…”

     “Sudah sampai di sini, kalau begitu ayo!”aku bangkit dari posisiku semula.

     “Hai’. Kalau begitu kita jalan pelan-pelan saja,” Airi menggandengku kembali. Kemudian kami kembali berjalan menuju tempat yang dimaksud Airi tadi.

     Itu pasti tempat yang benar-benar indah. Buktinya, Airi benar-benar semangat saat menarikku menuju tempat itu. Dan aku sama sekali tidak ingin membuatnya kecewa. Airi, aku memilih terus melangkah karena aku percaya padamu dan aku ingin membuatmu senang.

**

     “Whoaa, kau benar, Ai-chan! Di sini udaranya lebih segar dan harum bunga-bunga itu benar-benar menakjubkan!” seruku sampai di tempat itu.

     “Tentu! Sejak awal aku yakin Yu-chan pasti akan suka dengan tempat ini. Yah, sayang sekali, ya… Tempat ini jauh dari rumah,” ucapnya.

     “Tidak apa-apa. Meskipun jauh dari rumah, setiap Minggu kita bisa pergi kemari bersama-sama. Benar tidak, Ai­-chan?”

     Ia diam. Suaranya menghilang berganti suara angin yang terus menerus menghembus tiap inchi tubuhku. Tiba-tiba suasana terasa mendingin. Entah kenapa Airi tiba-tiba diam. Padahal kebiasaannya yang tidak pernah lewat sekalipun adalah mengoceh. Entah tentang sekolah, teman-teman, keluarga, ataupun tentang mimpinya yang ingin menjadi artis terkenal suatu hari nanti. Dan kediamannya saat ini merupakan keanehan yang benar-benar jarang terjadi.

     “Ai-chan, kau mendengarkanku?” aku kembali membuka pembicaraan, memastikan ia menyimak ucapanku.

     Aku diam sejenak, mencoba mencerna suara yang baru saja merasuk dalam telingaku. Sepertinya telingaku mulai agak kacau. Aku seperti mendengar suara isakan Airi. Tapi, saat menyenangkan seperti ini untuk apa ia menangis?

     “Ai-chan, kau menangis?” tanyaku.

     “Hiks, gomen ne, Yu­-chan…” suara Airi kembali terdengar.

     “Doushita no, Ai-chan?” tanyaku tak mengerti.

     Ia kembali diam. Kali ini tangisnya pecah lebih keras dari sebelumnya. Aku bingung. Kami baru saja sampai di tempat yang sangat disukainya, tapi kenapa ia menangis? Apa karena lukanya terkena angin dan jadi semakin perih?

     Aku sama sekali tidak tahu aku harus berbuat apa untuk membuat Airi kembali berbicara. Setidaknya  untuk menjelaskan alasan kenapa ia menangis saat ini. Aku benar-benar nyaris mengumpati diriku sendiri andai tak kudengar suara Airi kembali menelusup ke dalam telingaku.

     “Gomen ne, Yu-chan… Mulai besok kita tidak bisa bertemu lagi,” ucapnya masih lengkap dengan isakannya.

     “Eh? Kenapa?” tanyaku masih mencoba tenang, meskipun dadaku sudah bergemuruh sejak tadi.

     “Ibuku bilang padaku kalau aku tidak boleh berteman lagi dengan Yu-chan. Dan mulai besok aku akan berangkat ke Tokyo untuk daftar menjadi trainee di Hello! Project. Jadi, kita tidak bisa bertemu lagi… Gomen ne, Yu-chan.”

     “Bukankah kita masih bisa berteman meskipun kita jauh? Kenapa tiba-tiba tidak boleh, Ai-chan?” lagi-lagi aku mencoba tenang.

     “Itu… karena kata ibuku Yu-chan berbeda dari teman-temanku. Ia bilang Yu-chan tidak normal karena  Yu-chan tidak bisa melihat…”

     Aku diam mendengar penjelasannya barusan. Kurasakan dadaku meledak dan mungkin jantungku sudah mencuat keluar menjadi kepingan-kepingan kerikil. Rasanya sangat menyakitkan. Tapi, aku tahu gadis itu meninggalkanku bukan karena inisiatifnya. Jadi, aku akan menghargai apapun pilihannya.

     Aku mencoba tersenyum, sebelum mengajukan pertanyaanku untuk terakhir kalinya padanya. “Jadi, untuk terakhir kalinya aku ingin menanyakan hal ini pada Ai-chan. Jangan protes, ya! Aku akan menanyakan pertanyaan dengan topik membosankan kita!”

     Ia diam, menungguku melanjutkan kalimatku.

     “Jadi, apa keputusan Ai-chan sekarang?” pertanyaan itu melesat juga dari bibirku pada akhirnya.

     “Gomen ne, aku ingin mengejar mimpiku, Yu-chan…” jawabnya dengan suara agak parau.

     Aku kembali mengulas senyum. “Souka. Kalau begitu kau tidak perlu menangis lagi, Ai-chan. Karena itu adalah keputusanmu, pilihan akhir yang sudah berhasil kau buat.”

     “Yu-chan, arigatou…”

     Kurasakan sentuhan hangat menjalar pada tubuhku. Pelukan perpisahan kami berlangsung begitu lama. Aku menangis saat itu, air mataku tumpah di atas seragam sekolah Airi saat itu. Airi justru menangis lebih pelan, namun dengan air mata yang kupikir lebih deras dari sebelumnya. Air matanya berhasil membuat kaosku basah.

     Saat ini aku ingin berterima kasih pada ibu. Berterima kasih karena sudah melahirkanku dan mengajarkanku arti pilihan, serta menghargai setiap keputusan dari banyaknya pilihan itu. Seberat apapun itu. Arigatou







*the end*


Glossarium :

*Wakatta                 : aku mengerti
*Gomen                   : maaf
*Hai’                         : ya
*Arigatou                : terima kasih
*Souka                     : oh, begitu/ jadi, begitu…
*Doushita no?       : ada apa?
*Ittai                         : sakit
*Daijoubu               : tidak apa/baik-baik saja


Tidak ada komentar:

Posting Komentar