Title
: Just Married. . .
Sub-Title
: Good Work!
Author
: dita-cHun © 2012
Type
: Multichapter
Part
: 2
Rating
: PG+12
Genre
: Romance, Comedy
Theme Song : SS501 –
Four Chance
Main
Cast :
*Kim Hyun-Joong
*Jung So-Min
Disclaimer
: All cast punya Tuhan! ^^ Adil, pan? xD
Warning
: ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya
Note
:Baiklah, karena saya sangat teledor FF ini baru kelar malam ini >/\< jeongmal
mian untuk yang rekues karena ff ini updatenya sangat lama.
Sebenarnya part 2 sudah ada sejak lama, tapi pas saya ngerjakan sampai 3 page
Ms Word tiba-tiba otak saya malas kerja *Plak* dari itu, saya mohon maaf.
Sekedar bocoran, mungkin FF ini akan tamat di part 4 atau paling panjang 7 part
^/\^ sekali lagi jeongmal mian. Dan untuk memberdeul [readers] jangan lupa
komennya ya~ biar saya semangat ngerjainnya! *dihajar-kanan-kiri* Ok, happy
reading! ^^V
“Ya,
gwaenchanhayo?” suara itu sukses mengejutkanku yang baru saja berkutat
dengan koran-koran di genggamanku. Aku menoleh, “Ne, gwaenchanha…”
“Kenapa
kau kelihatan murung begitu? Apa ada sesuatu yang terjadi?” suara Hyun Joong
terdengar lebih nyaring dari sebelumnya. Tak berselang suara derap langkahnya
turut mengiringi suaranya. Kulihat ia baru saja duduk di sofa di hadapanku.
“Tidak
juga,” jawabku sekenanya. Koran-koran harian itu kulipat dan kuletakkan di atas
meja begitu saja. Rasanya aku sudah malas sekali untuk melihatnya.
“Sungguh?”
suara itu kembali menelusup ke dalam telingaku.
Aku
menghela nafas panjang sebelum akhirnya aku berkata, “Aku dipecat lagi…”
“Lagi?
Bukankah baru tiga minggu kau kerja disana?” tanya Hyun Joong seperenam oktaf
lebih tinggi dari sebelumnya.
Aku tahu
dia akan bertanya begitu. Ya, aku tahu. Kurang lebih satu setengah bulan ini
aku terus berganti hingga lima pekerjaan. Semua ini tentu saja bukannya tanpa
sebab. Aku dipecat karena mereka bilang, “Kau itu ceroboh sekali! Tidak
mungkin kami menggaji orang sepertimu.” Bagaimanapun aku ini manusia yang
tidak luput dari kesalahan sedikitpun. Memangnya aku Tuhan, apa?!
“Aduh!”
gerutuku setelah beberapa milidetik yang lalu sebuah genggaman meninju kecil
kepalaku. Itu Hyun Joong lagi, ia yang melakukannya. Tidak, bukan hanya kali
ini. Ia sudah melakukannya lebih dari tiga puluh kali sejak kami menikah. “Ya,
jangan memukulku begitu?! Kau pikir kepalaku ini pintu, apa?!” tegurku emosi.
Kulihat
Hyun Joong terkekeh kecil, “Jangan berbicara dengan dirimu sendiri, dong! Aku
kan juga manusia…”
“Aish,
aku hanya sedang berpikir, kok!” sanggahku atas kalimatnya barusan. Ia kembali
terkekeh, “Memangnya apa yang kau pikirkan sampai seserius itu?”
“Bukan
urusanmu!” telakku. “Sudah, sudah! Jangan bahas ini lagi! Kau sendiri?
Bagaimana pekerjaanmu?” tanyaku mengalihkan bahasan pembicaraan.
Ia terdiam
sejenak, “Bagus. Tidak terlalu buruk, tapi tidak terlalu banyak peningkatan…”
Aku
mengangguk paham, “Baguslah.” Aku diam sejenak, “Kuharap aku bisa dapat
pekerjaan yang gajinya bisa di atas dua puluh ribu won perhari…”
“Mana ada?
Memangnya kau bisa apa ingin gaji sebesar itu?” sindir Hyun Joong. Ucapannya
barusan berhasil membuat tanganku melayang pada bahunya. “Aish!”
“Aku tahu
kau pintar, tapi kau pemalas! Apa gunanya?” sindirku balik.
“Buktinya
aku masih berguna sekarang. Bahkan perusahaan itu menerimaku dengan baik
meskipun cuma sebagai office boy…” jawabnya telak.
‘Sialan,
dia menang!’
**
“So Min-ah,
apa kau sudah ada pekerjaan pengganti?” tanya Hyun Joong.
Aku
menghentikan kocokan telurku kemudian menjawab, “Belum. Aku benar-benar bosan
di rumah.” Kembali kulanjutkan kocokan telurku setelah itu.
“Kau mau
bekerja di tempatku tidak? Gajinya tidak besar, sih. Itu pun kalau kau mau,”
terang Hyun Joong atas maksudnya membuka pembicaraan tadi.
“Berapa
gaji perharinya?” tanyaku mulai tertarik.
“Itu… Lima
dua ribu won. Bagaimana?”
Aku
menghela nafas pelan. “Tidak bisa lebih tinggi, ya?”
Kulihat ia
menggeleng, “Pekerjaan yang tersedia tinggal office girl. Hanya setinggi
itu gajinya. Lagipula, kurasa itu sesuai dengan kemampuanmu.”
Aku
menatapnya tajam, setengah muak dan setengahnya lagi sebal. Pria ini lumayan
pintar, terutama pintar mengejek orang secara terang-terangan. “Kau
mengejekku?” tanyaku.
Ia
mengabaikan tatapanku barusan dan hanya menjawab santai, “Bukan mengejek, hanya
membicarakan kenyataan.”
Aku
menatapnya lebih geram dari sebelumnya. Kulemparkan boneka bola di samping meja
ke kepalanya. Kulihat ia mengerang pelan mendapat timpukan hebat dariku.
“Dasar, lemah!”
Ia
bangkit, tak terima dengan ucapanku barusan. “Kau mengejekku?”
“Tidak
juga, hanya mengutarakan kenyataan.” Aku tersenyum penuh kemenangan bisa
membalik kalimatnya barusan.
Tanpa
memperhatikannya kembali aku lekas melanjutkan pekerjaanku yang semula
tertunda, yakni memasak. Meskipun nyaris setiap hari kami berkelahi dan saling
pukul, tapi kami tetap mengikuti aturan status kami. Ya, kami adalah sepasang
suami-istri saat ini. Jadi, bagaimana pun kami harus melakukan kewajiban sesuai
prosedur, kan? Aku bertugas mengurus rumah dan Hyun Joong bekerja. Aku tahu
bahwa pekerjaan Hyun Joong itu tak lebih dari seorang office boy, tapi
sejak perjanjian awal… Ia menyerahkan sekitar 40% gajinya untuk mengurus rumah
tangga kami.
“So Min-ah,
aku akan keluar sebentar…” suara baritone itu kembali mengusik
telingaku.
Kulihat ia
sudah sibuk dengan jaket dan ponselnya barusan. “Mau kemana?” tanyaku.
“Seo Woo
baru saja meneleponku,” jawabnya dengan senyum hangat merekah di bibirnya.
“Lalu
makan malamnya?” tanyaku melihat deretan lauk yang hampir selesai.
“Mianhae,
aku sudah janji akan makan malam bersamanya…” Hyun Joong diam sejenak. “Ah,
tapi lain kali aku akan menghabiskan masakanmu!”
“Begitu?
Kau akan pulang jam berapa?” tanyaku lagi.
“E…
Mungkin aku pulang agak malaman. Kalau begitu aku pergi dulu, ya.” Ia bergegas
mengenakan sepatunya. Tanpa menunggu jawabanku, ia sudah menutup pintu rumah
rapat-rapat.
“Hati-hati,”
ucapku lirih.
Kumatikan
api kompor yang semula menyala. Lekas kusajikan sayur itu ke atas mangkuk.
Kemudian kuletakkan satu persatu masakan itu ke atas meja makan. Tak lupa dua
gelas air putih ku letakkan di atas sana. Hari ini aku memasak cukup banyak
karena Hyun Joong baru menerima gaji keduanya.
“Ini mie
kesukaanmu, ini juga daging panggang kesukaanmu, dan ini sayur kesukaanmu. Lalu
siapa yang akan menghabiskannya selagi kau pergi?” ucapku pelan menatap deretan
masakan di atas meja.
Kuteguk
air putih di hadapanku kemudian bangkit dari kursi. Aku lekas beranjak menuju
kamar. Mungkin aku terlalu lelah karena memasak cukup banyak dari biasanya.
Lebih baik aku tidur lebih awal.
**
Aku merasa
sesuatu menimpa tubuhku. Dengan malas kubuka mataku perlahan. Ah, itu lengan
Hyun Joong. Dengan hati-hati lekas kusingkirkan lengannya dari tubuhku. Ini
sering terjadi sejak kami menikah karena Hyun Joong itu tidak bisa diam saat
tidur. Aku tidak pernah menyinggung masalah ini karena aku tahu, ia bukannya
sengaja melakukan ini.
“Kau sudah
pulang?” tanyaku pelan sembari membalikkan tubuhku menghadap padanya. Kudengar
ia mengerang pelan sembari tangannya kembali meringsek dari posisinya semula.
Kemudian ia kembali pulas dengan tidurnya.
Kutatap
wajahnya yang sedikit berubah dari dua bulan lalu. Saat pertama kali melihatnya
ia begitu kusut. Ada sedikit kumis menghias bagian antara hidung dan bibirnya.
Sekarang wajahnya sudah lebih bersih. Ia sedikit lebih banyak memperhatikan penampilan
setelah kami menikah.
“Hyun
Joong, kau tadi makan malam dimana?” tanyaku lagi. Kusingkap poni yang sedikit
menutup bagian matanya. Aku tahu ia tidak akan menjawab pertanyaanku, tapi aku
kembali mengajukan pertanyaan padanya. “Bagaimana jika lain kali aku memasak
makanan kesukaanku?”
“…Seo
Woo…” ucap Hyun Joong lirih.
Ia
mengigau.
“Kau pasti
sangat mencintai kekasihmu,” ucapku kemudian bangkit dari posisiku semula. Aku
keluar dari kamar dan lekas menuangkan air putih ke dalam gelas. Kuteguk
sebagian, namun tegukanku berhenti ketika kujumpai meja makan penuh dengan
mangkuk kotor.
“Masakanku… habis?”
Aku
menengok ke arah jam dinding dan yang kujumpai adalah jarum pendek jam sudah
menunjukkan pukul lima pagi. Aku bergegas menuju kamar. Kutepuk-tepuk pelan
pipi Hyun Joong, berusaha membangunkannya. Aku tahu dia pasti lelah, tapi aku
hanya ingin memastikan satu hal.
“Mmh… Ada
apa, So Min-ah?” tanyanya masih setengah tidur.
“Hyun
Joong, siapa yang memakan masakanku?”
“Masakan?
Ah, itu aku yang menghabiskannya tadi malam.” Jawabnya.
“Benarkah?
Bukankah kau sudah makan bersama Seo Woo?” tanyaku lagi.
“Ne,
karena aku melihat masakanmu masih utuh. Kupikir kau tidak makan karena kau
marah,” terangnya.
“Ah,
begitu. Aku tidak lapar, kok. Tapi, aku senang kau memakannya… Jadi, aku tidak
sia-sia memasaknya.”
“So Min-ah,
mianhae. Lain kali kau harus tetap makan sekalipun aku tidak di rumah.
Aku khawatir kau bisa sakit,” ucapnya sembari menautkan jemarinya di atas
kepalaku. Aku hanya mengangguk menanggapinya.
“Oh ya,
tentang tawaran pekerjaan itu… Aku mau,” ucapku.
“Ah,
baiklah. Nanti kau berangkat bersamaku, ok?” ucapnya semangat.
“Hm!”
jawabku.
“Mulai
sekarang harus bekerja lebih keras, ya! Jangan sampai dipecat lagi. Saat ini
sangat sulit mendapat pekerjaan,” jelas Hyun Joong.
“Arasseo,”
jawabku ringan. Ia mengangguk sembari menunjukkan ibu jarinya.
.Just Married
.to be continue~
Glossarium :
*Gwaenchanhayo?
: Baik-baik saja?
*Gwaenchanha
: Baik-baik saja.
*Ya
: Hei
*Ne
: Ya
*Mianhae
: Maaf
*Arasseo
: Aku mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar