Minggu, 21 April 2013

Just Married [Part II]



Title               : Just Married. . .

Sub-Title        : Good Work!

Author           : dita-cHun © 2012

Type               : Multichapter

Part                : 2

Rating            : PG+12

Genre             : Romance, Comedy

Theme Song  : SS501 – Four Chance

Main Cast      :

*Kim Hyun-Joong

*Jung So-Min

Disclaimer     : All cast punya Tuhan! ^^ Adil, pan? xD

Warning        : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya

Note               :Baiklah, karena saya sangat teledor FF ini baru kelar malam ini >/\< jeongmal mian untuk yang rekues karena ff ini updatenya sangat lama. Sebenarnya part 2 sudah ada sejak lama, tapi pas saya ngerjakan sampai 3 page Ms Word tiba-tiba otak saya malas kerja *Plak* dari itu, saya mohon maaf. Sekedar bocoran, mungkin FF ini akan tamat di part 4 atau paling panjang 7 part ^/\^ sekali lagi jeongmal mian. Dan untuk memberdeul [readers] jangan lupa komennya ya~ biar saya semangat ngerjainnya! *dihajar-kanan-kiri* Ok, happy reading! ^^V




     “Ya, gwaenchanhayo?” suara itu sukses mengejutkanku yang baru saja berkutat dengan koran-koran di genggamanku. Aku menoleh, “Ne, gwaenchanha…”

     “Kenapa kau kelihatan murung begitu? Apa ada sesuatu yang terjadi?” suara Hyun Joong terdengar lebih nyaring dari sebelumnya. Tak berselang suara derap langkahnya turut mengiringi suaranya. Kulihat ia baru saja duduk di sofa di hadapanku.

     “Tidak juga,” jawabku sekenanya. Koran-koran harian itu kulipat dan kuletakkan di atas meja begitu saja. Rasanya aku sudah malas sekali untuk melihatnya.

     “Sungguh?” suara itu kembali menelusup ke dalam telingaku.

     Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya aku berkata, “Aku dipecat lagi…”

     “Lagi? Bukankah baru tiga minggu kau kerja disana?” tanya Hyun Joong seperenam oktaf lebih tinggi dari sebelumnya.

     Aku tahu dia akan bertanya begitu. Ya, aku tahu. Kurang lebih satu setengah bulan ini aku terus berganti hingga lima pekerjaan. Semua ini tentu saja bukannya tanpa sebab. Aku dipecat karena mereka bilang, “Kau itu ceroboh sekali! Tidak mungkin kami menggaji orang sepertimu.” Bagaimanapun aku ini manusia yang tidak luput dari kesalahan sedikitpun. Memangnya aku Tuhan, apa?!

     “Aduh!” gerutuku setelah beberapa milidetik yang lalu sebuah genggaman meninju kecil kepalaku. Itu Hyun Joong lagi, ia yang melakukannya. Tidak, bukan hanya kali ini. Ia sudah melakukannya lebih dari tiga puluh kali sejak kami menikah. “Ya, jangan memukulku begitu?! Kau pikir kepalaku ini pintu, apa?!” tegurku emosi.

     Kulihat Hyun Joong terkekeh kecil, “Jangan berbicara dengan dirimu sendiri, dong! Aku kan juga manusia…”

     “Aish, aku hanya sedang berpikir, kok!” sanggahku atas kalimatnya barusan. Ia kembali terkekeh, “Memangnya apa yang kau pikirkan sampai seserius itu?”

     “Bukan urusanmu!” telakku. “Sudah, sudah! Jangan bahas ini lagi! Kau sendiri? Bagaimana pekerjaanmu?” tanyaku mengalihkan bahasan pembicaraan.

     Ia terdiam sejenak, “Bagus. Tidak terlalu buruk, tapi tidak terlalu banyak peningkatan…”

     Aku mengangguk paham, “Baguslah.” Aku diam sejenak, “Kuharap aku bisa dapat pekerjaan yang gajinya bisa di atas dua puluh ribu won perhari…”

     “Mana ada? Memangnya kau bisa apa ingin gaji sebesar itu?” sindir Hyun Joong. Ucapannya barusan berhasil membuat tanganku melayang pada bahunya. “Aish!”

     “Aku tahu kau pintar, tapi kau pemalas! Apa gunanya?” sindirku balik.

     “Buktinya aku masih berguna sekarang. Bahkan perusahaan itu menerimaku dengan baik meskipun cuma sebagai office boy…” jawabnya telak.

     ‘Sialan, dia menang!’

**

     “So Min-ah, apa kau sudah ada pekerjaan pengganti?” tanya Hyun Joong.

     Aku menghentikan kocokan telurku kemudian menjawab, “Belum. Aku benar-benar bosan di rumah.” Kembali kulanjutkan kocokan telurku setelah itu.

     “Kau mau bekerja di tempatku tidak? Gajinya tidak besar, sih. Itu pun kalau kau mau,” terang Hyun Joong atas maksudnya membuka pembicaraan tadi.

     “Berapa gaji perharinya?” tanyaku mulai tertarik.

     “Itu… Lima dua ribu won. Bagaimana?”

     Aku menghela nafas pelan. “Tidak bisa lebih tinggi, ya?”

     Kulihat ia menggeleng, “Pekerjaan yang tersedia tinggal office girl. Hanya setinggi itu gajinya. Lagipula, kurasa itu sesuai dengan kemampuanmu.”

     Aku menatapnya tajam, setengah muak dan setengahnya lagi sebal. Pria ini lumayan pintar, terutama pintar mengejek orang secara terang-terangan. “Kau mengejekku?” tanyaku.

     Ia mengabaikan tatapanku barusan dan hanya menjawab santai, “Bukan mengejek, hanya membicarakan kenyataan.”

     Aku menatapnya lebih geram dari sebelumnya. Kulemparkan boneka bola di samping meja ke kepalanya. Kulihat  ia mengerang pelan mendapat timpukan hebat dariku. “Dasar, lemah!”

     Ia bangkit, tak terima dengan ucapanku barusan. “Kau mengejekku?”

     “Tidak juga, hanya mengutarakan kenyataan.” Aku tersenyum penuh kemenangan bisa membalik kalimatnya barusan.

     Tanpa memperhatikannya kembali aku lekas melanjutkan pekerjaanku yang semula tertunda, yakni memasak. Meskipun nyaris setiap hari kami berkelahi dan saling pukul, tapi kami tetap mengikuti aturan status kami. Ya, kami adalah sepasang suami-istri saat ini. Jadi, bagaimana pun kami harus melakukan kewajiban sesuai prosedur, kan? Aku bertugas mengurus rumah dan Hyun Joong bekerja. Aku tahu bahwa pekerjaan Hyun Joong itu tak lebih dari seorang office boy, tapi sejak perjanjian awal… Ia menyerahkan sekitar 40% gajinya untuk mengurus rumah tangga kami.

     “So Min-ah, aku akan keluar sebentar…” suara baritone itu kembali mengusik telingaku.

     Kulihat ia sudah sibuk dengan jaket dan ponselnya barusan. “Mau kemana?” tanyaku.

     “Seo Woo baru saja meneleponku,” jawabnya dengan senyum hangat merekah di bibirnya.

     “Lalu makan malamnya?” tanyaku melihat deretan lauk yang hampir selesai.

     “Mianhae, aku sudah janji akan makan malam bersamanya…” Hyun Joong diam sejenak. “Ah, tapi lain kali aku akan menghabiskan masakanmu!”

     “Begitu? Kau akan pulang jam berapa?” tanyaku lagi.

     “E… Mungkin aku pulang agak malaman. Kalau begitu aku pergi dulu, ya.” Ia bergegas mengenakan sepatunya. Tanpa menunggu jawabanku, ia sudah menutup pintu rumah rapat-rapat.

     “Hati-hati,” ucapku lirih.

     Kumatikan api kompor yang semula menyala. Lekas kusajikan sayur itu ke atas mangkuk. Kemudian kuletakkan satu persatu masakan itu ke atas meja makan. Tak lupa dua gelas air putih ku letakkan di atas sana. Hari ini aku memasak cukup banyak karena Hyun Joong baru menerima gaji keduanya.

     “Ini mie kesukaanmu, ini juga daging panggang kesukaanmu, dan ini sayur kesukaanmu. Lalu siapa yang akan menghabiskannya selagi kau pergi?” ucapku pelan menatap deretan masakan di atas meja.

     Kuteguk air putih di hadapanku kemudian bangkit dari kursi. Aku lekas beranjak menuju kamar. Mungkin aku terlalu lelah karena memasak cukup banyak dari biasanya. Lebih baik aku tidur lebih awal.

**

     Aku merasa sesuatu menimpa tubuhku. Dengan malas kubuka mataku perlahan. Ah, itu lengan Hyun Joong. Dengan hati-hati lekas kusingkirkan lengannya dari tubuhku. Ini sering terjadi sejak kami menikah karena Hyun Joong itu tidak bisa diam saat tidur. Aku tidak pernah menyinggung masalah ini karena aku tahu, ia bukannya sengaja melakukan ini.

     “Kau sudah pulang?” tanyaku pelan sembari membalikkan tubuhku menghadap padanya. Kudengar ia mengerang pelan sembari tangannya kembali meringsek dari posisinya semula. Kemudian ia kembali pulas dengan tidurnya.

     Kutatap wajahnya yang sedikit berubah dari dua bulan lalu. Saat pertama kali melihatnya ia begitu kusut. Ada sedikit kumis menghias bagian antara hidung dan bibirnya. Sekarang wajahnya sudah lebih bersih. Ia sedikit lebih banyak memperhatikan penampilan setelah kami menikah.

     “Hyun Joong, kau tadi makan malam dimana?” tanyaku lagi. Kusingkap poni yang sedikit menutup bagian matanya. Aku tahu ia tidak akan menjawab pertanyaanku, tapi aku kembali mengajukan pertanyaan padanya. “Bagaimana jika lain kali aku memasak makanan kesukaanku?”

     “…Seo Woo…” ucap Hyun Joong lirih.

     Ia mengigau.

     “Kau pasti sangat mencintai kekasihmu,” ucapku kemudian bangkit dari posisiku semula. Aku keluar dari kamar dan lekas menuangkan air putih ke dalam gelas. Kuteguk sebagian, namun tegukanku berhenti ketika kujumpai meja makan penuh dengan mangkuk kotor.

     “Masakanku… habis?”

     Aku menengok ke arah jam dinding dan yang kujumpai adalah jarum pendek jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Aku bergegas menuju kamar. Kutepuk-tepuk pelan pipi Hyun Joong, berusaha membangunkannya. Aku tahu dia pasti lelah, tapi aku hanya ingin memastikan satu hal.

     “Mmh… Ada apa, So Min-ah?” tanyanya masih setengah tidur.

     “Hyun Joong, siapa yang memakan masakanku?”

     “Masakan? Ah, itu aku yang menghabiskannya tadi malam.” Jawabnya.

     “Benarkah? Bukankah kau sudah makan bersama Seo Woo?” tanyaku lagi.

     “Ne, karena aku melihat masakanmu masih utuh. Kupikir kau tidak makan karena kau marah,” terangnya.

     “Ah, begitu. Aku tidak lapar, kok. Tapi, aku senang kau memakannya… Jadi, aku tidak sia-sia memasaknya.”

     “So Min­-ah, mianhae. Lain kali kau harus tetap makan sekalipun aku tidak di rumah. Aku khawatir kau bisa sakit,” ucapnya sembari menautkan jemarinya di atas kepalaku. Aku hanya mengangguk menanggapinya.

     “Oh ya, tentang tawaran pekerjaan itu… Aku mau,” ucapku.

     “Ah, baiklah. Nanti kau berangkat bersamaku, ok?” ucapnya semangat.

     “Hm!” jawabku.

     “Mulai sekarang harus bekerja lebih keras, ya! Jangan sampai dipecat lagi. Saat ini sangat sulit mendapat pekerjaan,” jelas Hyun Joong.

     “Arasseo,” jawabku ringan. Ia mengangguk sembari menunjukkan ibu jarinya.





.Just Married





.to be continue~





Glossarium :

*Gwaenchanhayo?    : Baik-baik saja?
*Gwaenchanha          : Baik-baik saja.
*Ya                            : Hei
*Ne                            : Ya
*Mianhae                   : Maaf
*Arasseo                    : Aku mengerti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar