Minggu, 21 April 2013

Beautiful



Title                     : Beautiful…

Author                : dita-cHun © 2012

Length                : Oneshot

Rating                 : G [General]

Genre                  : AU, Hurt/Comfort, Angst, Little bit of Romance, Little bit of Friendship ^^V

Theme Song       : Kiss—Because I’m a Girl

Cast                     :

*Ham Eun Jung

*Goo Hye Sun

*Cho Kyu Hyun

POV                    : Ham Eun Jung

Language           : Indonesian

Disclaimer          : Ham Eun Jung, Goo Hye Sun, and Cho Kyu Hyun belong to their management. This story is from my own feeling. So, enjoy! ^^

Warning             : ~geje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya xD

Note                    : saya kembali! *Plak  xD Ok, happy reading! ^^V *admin digiles






     Goo Hye Sun sunbae.

     Tiap aku melihat gadis itu melintas di hadapanku, perasaanku jadi buruk. Aku tahu benar dia sunbae-ku di sekolah ini. Dan aku juga sangat menghormatinya dari sudut pandang junior kepada senior. Hanya saja, entah kenapa ketika aku melihatnya—baik pandangan kami bertemu atau tidak—aku selalu merasa tidak nyaman. Untuk jarak sekian menit kemudian aku menjadi enggan menengok ke arah cermin, melirik pun aku enggan. Aku seolah mendengar cermin itu berbicara kasar padaku, mencercaku habis-habisan. Hei, rasa sakit itu terlalu mengerikan menghujam jantungku!

     ‘Apa yang bisa kau banggakan dari dirimu, huh? Berbeda sekali dengan Goo Hye Sun sunbae. Ia bisa membanggakan segalanya yang melekat dalam dirinya. Sementara kau? Apa yang bisa kau banggakan dari dirimu, huh? Ham Eun Jung…’

     Aku tidak mengerti, kenapa perasaan aneh itu selalu menyergapku kala aku berpapasan dengan setiap cermin usai melihat Goo Hye Sun sunbae. Ia memang cantik dan menarik. Ia berbakat di semua bidang akademi dan beberapa bidang non-akademi. Ia baik, bahkan sangat baik padaku. Bagaimana aku bisa demikian iri padanya?

     Mungkin, ini karena aku tengah merasakan ketidak adilan yang terlalu berat sebelah.


**


     Lagi-lagi aku melirik ke arah cermin. Tampak pantulan diriku yang masih sama seperti beberapa menit lalu. Menurutku, aku tidak terlalu buruk dari segi seorang gadis. Aku memang tidak cantik, tapi aku pasti memiliki hal yang bisa aku banggakan. Meskipun sedikit, aku percaya itu.

     Tapi, apa itu?

     “Eun Jung-ah,” suara itu terdengar familiar di telingaku. Sama sekali bukan suara yang asing dan nada suara itu terdengar begitu menyenangkan. Aku menoleh. Kudapati sesosok pria jangkung berdiri tak jauh dari tempatku saat ini. Berselang kemudian ia tampak berlari kecil ke arahku. “Cho Kyu Hyun sunbae.”

     “Sedang sibuk?” suara baritone itu menelusup ke dalam pendengaranku. Pria berlabel Cho Kyu Hyun itu tengah mengurangi langkahnya yang kian dekat denganku, sampai akhirnya kedua kaki jenjang miliknya berhenti sekitar satu meter di hadapanku.

     Pertanyaannya barusan lekas kujawab dengan gelengan, “Tidak terlalu sibuk, kok. Ada apa, sunbae?”

     “Tidak ada yang istimewa, sih.” Kyu Hyun sunbae tampak memijat tengkuknya. Aku mengangkat alis, mengisyaratkan permintaan penjelasan dari kalimat yang baru saja meluncur dari bibirnya. “Sebenarnya aku ingin mengundangmu ke pameran besok lusa, kebetulan lukisanku ikut partisipasi di sana…” sambungnya kemudian. Aku mengangguk paham.

     “Tanpa kau minta pun aku akan datang, sunbae,” ujarku yakin. “Lagipula aku sudah lihat pengumuman pameran itu di madding,” kusungging segaris senyum padanya. Tak butuh waktu lama hingga ia membalas senyumanku, “Gomawoyo, Eun Jung-ah…”


**


     Dengan ragu aku melangkahkan kakiku menyusuri koridor sekolah yang akan membawaku ke sebuah ruang kelas yang sebenarnya sama sekali tak ingin kumasuki. Itu ruang kelas 3A. Memang bukan ruang kelas yang istimewa, tapi cukup membuat perasaanku menjadi tidak enak seketika. Aku sama sekali tidak berminat pergi ke sana andai saja Yoon seonsaengnim tidak memintaku mengantarkan berkas-berkas ini ke sana.

     “Ham Eun Jung?” kurasa bukan waktu yang tepat ketika suara itu menyergapku dari arah belakang. Mungkin juga tidak akan pernah ada waktu yang tepat bagi kami, meksi hanya sekedar untuk berpapasan di jalan. Dengan ragu, kutengokkan wajahku ke arah belakang. Meski aku sudah tahu siapa pemilik suara selembut kapas itu, tapi bukankah tidak sopan jika aku pura-pura tidak mendengar dan terus berlalu?

     Kurasa aku masih memiliki sopan santun, setidaknya dari segi junior terhadap senior.

     “Goo Hye Sun sunbae, kau di sini juga?” tanyaku berbasa-basi.

     Kulihat gadis yang kini berada di hadapanku itu mengulum senyum tipis di wajahnya. “Kau mau kemana?”

     “Ah, kebetulan sekali, aku mau ke kelas 3A. Kudengar, itu kelasmu, kan, sunbae?” sudah kedua kalinya aku melontarkan pertanyaan tidak penting padanya. Pertanyaan yang tentu saja kutahu jawabannya adalah ‘iya’. Aku hanya tidak tahu bagaimana aku harus menyikapi situasi saat ini. Aku benar-benar merasa kurang nyaman.

     “Kau perlu bantuan?” tawarnya ramah. Sebelum mulutku melontarkan sepatah kata pun, jemari-jemari lentik yang biasa menyentuh tuts piano miliknya itu sudah meraih setengah bagian dari berkas-berkas di genggamanku. Samar-samar aku melihatnya kembali mengukir segaris senyum. “Kalau kau sangat sibuk, kau bisa meminta bantuanku kapan saja, Eun Jung-ah. Tidak perlu sungkan. Bukankah kita kenal sejak lama?”

     Bagiku, pertanyaan yang baru saja dilontarkannya itu tidak membutuhkan jawaban apapun. Aku hanya mengukir senyum tipis padanya sebagai isyarat kalau aku menyimak pertanyaannya barusan. Tidak perlu waktu lama hingga kami sampai di depan pintu ruang kelas 3A.

     “Gomawoyo, sunbae…” ucapku mencoba berterima kasih atas bantuannya barusan. Gadis itu mengerling samar, “Sisanya biar aku yang membagikannya sendiri, ok?”

     Aku mengangguk paham dan dengan langkah mantap lekas kutinggalkan ruang kelas 3A dan Hye Sun sunbae yang masih terpaku di sana. Kupercepat langkahku satu setengah kali lipat lebih cepat dari sebelumnya ketika bayangan Hye Sun sunbae kembali berkelebat dalam ingatanku. Gadis itu… seniorku. Aku tidak tahu apa yang salah padanya atau padaku.

     ‘Eun Jung-ah,’ aku merasa cermin ukuran setengah meter di hadapanku seolah memanggilku. Meski ragu, aku tetap mencoba mendekat. Kulihat pantulan diriku yang masih sama persis seperti saat aku bercermin sebelumnya. Aku masih Ham Eun Jung yang tidak cantik. Aku sama sekali tidak menarik.

     ‘Kau baru sadar kalau kau buruk rupa, hm?’ suara itu kembali menelusup ke dalam pendengaranku, meskipun terdengar sangat samar.

     Mungkin benar. Mata minus-ku terlihat makin ‘sempurna’ dibingkai kacamata berframe lebar.—menunjukkan betapa ‘lucunya’ penampilan seorang gadis sekolah menengah sepertiku. Rok yang berwarna senada dengan blazer seragamku memang bukan hal yang aneh, karena itulah tuntutan sekolah. Tapi, ukurannya benar-benar nyaris selututku dan ini bukan fashion di kalangan remaja seperti teman-temanku. Ini hanya karena aku merasa rok terlalu pendek pasti akan membuatku sangat malu saat menggunakannya.

     ‘Kau tidak mengerti fashion. Lihat Hye Sun sunbae! Dia cantik, menarik, dan mengerti fashion. Sekarang apa yang masih bisa kau banggakan dari dirimu, huh? Ham Eun Jung…’

     Demi apapun, kuharap cermin itu diam!

     Butiran-butiran bening melesat keluar dari pelupuk mataku kala itu juga. Bukan karena aku terluka dengan kalimat cermin itu, tidak! Ini hanya karena aku sadar bahwa ucapan cermin itu tidak salah. Sama sekali tidak salah. Aku hanya merasa jadi menyedihkan saat aku menyadari hal itu lagi dan lagi. Satu hal bahwa aku tidak cantik. Tidak bisa cantik seperti Goo Hye Sun sunbae.


**


     Untuk kesekian kalinya aku mencoba merapikan kemejaku. Aku tidak ingin pakaianku tampak buruk di hadapan Cho Kyu Hyun sunbae nanti. Apalagi ini acara yang cukup penting bagi sunbae. Hari ini ia debut lewat beberapa lukisannya yang lolos seleksi untuk pameran. Tentu saja aku harus tampak benar-benar rapi di hadapannya.

     “Apa perlu memakai riasan tipis, ya?” gumamku di depan cermin. Dihitung-hitung, sudah sekitar setengah jam lebih aku berada di dalam kamar, merapikan kemejaku, dan mengatur dandananku di depan cermin. “Ah, mungkin sedikit lipgloss bagus juga.”

     Masih terus berkutat dengan alat make-up di hadapanku, tiba-tiba suara ketukan pintu sukses membuyarkan konsentrasiku. Aku lekas menyambar knop pintu kamar tak jauh dari tempatku semula. Begitu pintu terbuka sepertiga, aku melihat sosok wanita paruh baya tengah berdiri menghadap ke arah pintu. Itu ibuku.

     “Eun Jung-ah, ada yang mencarimu, tuh!” Ibu mengedik ke arah luar, mencoba mengisyaratkan seseorang sedang menungguku di sana. Aku menengok sekilas, mencoba mengintip siapa yang malam-malam begini tiba-tiba mencariku. Merasa masih belum melihat sosok orang yang mencariku itu, aku mencoba menatap lebih intens ke arah luar. Namun, seberapa keras aku mencoba, aku masih belum dapat menjumpainya. Tidak kelihatan.

     “Dilihat bagaimana pun tidak akan kelihatan kalau kau lihat dari sini. Sudah, temui dia sana.” Perintah Ibu. Aku hanya mengangguk patuh dan lekas berjalan ke arah luar. “Nugu?” sapaku.

     “Ah, Eun Jung-ah…” gadis itu menengok ke arahku. Tak perlu waktu lama hingga ia menyungging segaris senyum padaku.

     “Sunbae…” kubalas senyumnya baru saja dengan sebuah senyum masam. Kukira yang datang Cho Kyu Hyun sunbae. Ternyata malah dia—Goo Hye Sun sunbae. Tapi, kenapa dia tiba-tiba ada di sini? Dan pakaiannya itu kenapa begitu rapi?

     “Eh… Kau kelihatan cantik sekali, Eun Jung-ah…” pujinya usai beberapa mili detik yang lalu ia menatapku sekilas. “Cho Kyu Hyun pasti akan langsung terpesona padamu…”

     “Eh?”

     “Jangan kira bisa menyembunyikan itu dariku, ya…” goda Hye Sun sunbae. “Kau menyukainya, kan?”

     “Sunbae…” mungkin wajahku sudah semerah tomat saat ini. Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaanku bahwa aku menyukai Cho Kyu Hyun sunbae sejak lama.

     “Tenang saja, aku tidak akan membeberkan hal itu di depannya, kok! Aku bisa menjaga rahasia, hm?” ucap Hye Sun sunbae sembari meletakkan  telunjuknya tepat di depan bibirnya—isyarat bahwa ia akan diam tentang hal ini. Kulihat ia mengerling samar padaku dan aku… Sama sekali tidak merasa terganggu dengan aktivitasnya barusan? Kenapa tiba-tiba, eh?

     “Sunbae, ada yang ingin kutanyakan padamu.”

     “Hm? Katakan saja,” ucapnya ramah.

     “Sebenarnya… Bagaimana menjadi cantik itu? Cantik sepertimu…” mungkin ini memang lucu. Tapi, aku benar-benar menginginkan jawaban dari Hye Sun sunbae langsung. Aku ingin tahu bagaimana menjadi cantik itu.

     Kulihat ia terdiam sejenak, mungkin sedang berpikir. “Kurasa itu mudah!” ujarnya tiba-tiba. Aku mengangkat kedua bahuku bersamaan, mengisyaratkan bahwa aku sama sekali tak paham.

     “Jadilah dirimu sendiri, jadilah nyaman. Setelah kau nyaman, kau akan tahu bagaimana caranya menjadi cantik versimu!” ia diam sejenak. “…Kurasa kecantikan itu relatif. Jadi, tidak bisa diukur dengan kata cantik sepertimu. Setiap orang punya sisi kecantikan masing-masing. Jadi, yakinkan dirimu kalau kau itu pada dasarnya cantik. Maka, kecantikan itu akan datang padamu dengan sendirinya.”

     Aku diam sejenak menyimak penjelasannya. “Contohnya pita ini…” jemari-jemari miliknya itu kini tengah menarik lembut pita kemejaku yang semula tersimpul rapi, sehingga simpulannya terlepas sekali tarik. “Menurutmu pita ini cocok tidak dengan kemejamu?”

     “Kurasa warna peach bagus juga dipadukan dengan putih. Jadi, jawabanku ini cocok.” jawabku.

     “Baiklah, lalu bagaimana kau menyimpulnya sedemikian rupa tadi?” tanyanya lagi. Kali ini ia mempersilahkanku untuk menyimpul kembali pita itu. Aku hanya menurut dan menyimpul pita itu seperti sebelumnya.

     “Cantik, kan?” ucap sunbae usai aku menyelesaikan simpulanku.

     “Eh?” aku menengok ke arah pita yang sudah bersimpul menghias kemejaku itu, mencoba menelaah ucapan sunbae barusan. “Ini—”

     “Ya, itulah cantik ala Ham Eun Jung. Cantik yang kau ciptakan dari simpulanmu sendiri…”

     Perlahan aku mencoba mengerti, bagaimana caranya menjadi cantik dari setiap kalimat yang terlontar dari bibir Goo Hye Sun sunbae.


**


     “Cho Kyu Hyun pasti akan langsung terpesona padamu…”

     Kalimat itu kembali terngiang di telingaku. Aku masih ingat betul apa yang baru dilontarkan Goo Hye Sun sunbae padaku sekitar seperempat jam yang lalu. Terdengar begitu jelas di telingaku, rasanya seperti baru saja kudengar. Hei, apa itu benar?

     “Cho Kyu Hyun!” aku kembali bangun dari lamunanku ketika suara Hye Sun sunbae memekak keras dalam telingaku. Ia memang tidak sedang berbicara padaku, tidak juga sedang memanggilku. Ia hanya sedang memanggil seorang pria berjas hitam yang berdiri tak jauh di hadapan kami—Cho Kyu Hyun sunbae. Dari tempat kami berdiri, terlihat jelas segaris senyum tampak melintas sekilas di wajahnya.

     “Ya, kalian terlambat sepuluh menit,” tukas Kyu Hyun sunbae pada kami begitu ia sudah berada tepat di hadapan kami.

     “Mianhaeyo, kau tahu kan… wanita…” ucap Hye Sun sunbae pada Kyu Hyun sunbae sambil membingkai pipinya dengan tangan kanannya, seolah berbisik. Tak lama setelah itu mereka tertawa bersamaan. Aku yang sama sekali tidak paham hanya membaur pada tawa mereka tanpa bertanya satu hal pun.

     Aku memang mencoba mengerti, tapi aku tidak benar-benar mengerti.
    
     “Cho Kyu Hyun, hari ini Eun Jung tampak cantik, kan?” celetuk Hye Sun sunbae tiba-tiba. Aku melirik sedikit ke arah Kyu Hyun sunbae, kali ini ia tengah menatapku dari atas ke bawah hingga ke atas lagi. Cukup intens.

     “Ne, bukankah dia memang selalu cantik?” ucap Kyu Hyun sunbae tiba-tiba. Kalimatnya terdengar agak kasar di telingaku. Kata ‘cantik’ ia tekan sedikit pada ucapannya itu. Apa maksudnya?

     Kudengar Hye Sun sunbae tertawa cukup keras menanggapi kalimat Kyu Hyun sunbae barusan. Berselang kemudian ia berkata, “Ne, tapi hari ini ia lebih cantik, begitu maksudku.”

     Entah kenapa ucapan Kyu Hyun sunbae dan tawa Hye Sun sunbae barusan membuat dadaku terasa sesak. Apa itu semacam ejekan? Aku tidak tahu. Yang pasti telingaku begitu risih mendengar mereka seperti itu. Sama sekali tidak enak pada telingaku dan juga perasaanku.

     “E…” celetukku tiba-tiba. “Aku permisi ke toilet sebentar.”

     Tak berselang setelah kalimatku usai, aku lekas melangkah menjauh dari mereka. Kutatap kaki-kaki jenjang yang berarak sejalan dengan arahku. Aku tidak berani membusungkan dada, bahkan untuk mengangkat wajahku pun aku merasa ragu. Aku tidak cantik, kan? Mereka membual, kan?

     Seberapa pun mereka berkata aku cantik, aku sama sekali tidak merasa cantik.

     Sesampaiku di toilet, lekas kubasuh sedikit tanganku yang mulai terasa dingin karena beberapa AC dengan suhu rendah di luar sana. Pandanganku kembali berhenti pada cermin yang menempel pada dinding searah horizontal di hadapanku.

     Aku yang sekarang ini pun, masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Goo Hye Sun sunbae.

     Perlahan tanganku merayap, meraih kedua telingaku yang tak kalah dingin dari jemari-jemariku yang masih basah. Mungkin, dekapanku sudah cukup rapat. Namun, masih belum cukup rapat untuk menghapus suara air kran yang terus mengalir membanjir di atas wastafel. Suara-suara itu kembali terngiang di telingaku. Hentikan!

     ‘Goo Hye Sun sunbae terlalu cantik dibandingkan denganmu. Kenapa kau selalu tampak menyedihkan, Ham Eun Jung?’

     PRANG!!

     Perlahan kurasakan perih mulai merambat pada kelima buku-buku jariku yang masih terkepal kuat. Perih itu seketika menyita pandanganku, tampak darah segar mengalir dari tiap buku jemariku. Aroma darah yang tercium samar menguar dari sana.

     “Diamlah—!” jeritku tertahan. Suaraku sudah mulai serak karena ludahku kian mengering, “…Bodoh…”

     Butiran-butiran bening jatuh menitik dari kedua pelupuk mataku. Rasanya hangat, tapi menyakitkan. Pandanganku mengabur, tapi aku tidak pingsan. Aku masih cukup sadar untuk mengingat semuanya dan merasakan apa yang sedang terjadi.  Tubuhku roboh tanpa apapun selain ubin-ubin keramik yang menopangnya. Kutengok kembali jemariku yang sudah terkulai lemas di atas lantai. Cairan kental berwarna merah pekat itu masih mengalir lambat dari buku-buku jemariku. Samar-samar kulihat beberapa butir material cermin menempel di sana. Ya, cermin cerewet itu baru saja kupecahkan dengan tanganku sendiri.

     “Omona, Eun Jung-ah!” suara itu menyergap telingaku. Tanpa menoleh pun, aku tahu siapa pemilik suara lembut itu. “Apa yang terjadi padamu?”

     Goo Hye Sun sunbae.

     Kedua tangan miliknya terasa lembut menyentuh jemariku yang terluka. Aku masih diam, tak menanggapi pertanyaannya barusan. Perlahan ibu jarinya menghapus air mata yang baru saja menitik di atas pipiku.

     “Apa yang terjadi, Eun Jung-ah?” suaranya kembali mengusik indra pendengaranku.

     Dengan ragu kubuka bibirku yang semula terkatup rapat, suara parau milikku kembali terdengar. “Sunbae… Aku tanya satu hal lagi padamu…”

     Aku masih mengukuhkan pandanganku. Susah payah aku mencoba menahan buliran bening yang hendak melesat dari pelupuk mataku. Tak lama aku mendengar deheman kecil darinya, tanda persetujuan atas pertanyaanku barusan.

     “Seberapa berharganya kecantikan bagi dirimu, sunbae?” suaraku kembali terdengar, meskipun samar dan agak parau.

     “Eh? Apa sih yang kau bicarakan?” terdengar kikikan kecil dari bibirnya. Mungkin, ia pikir aku bercanda. Hei, tapi aku tidak sedang bercanda sekarang!

     “Tahukah  kau, sunbae? Aku sangat iri padamu,” ucapku. “…dan aku juga… membencimu.”

     Tawanya seketika terhenti, lenyap begitu saja. Kualihkan pandanganku agar aku mampu menatap wajah dengan ekspresi keterkejutan itu. Tangannya bergetar samar di kulit tanganku. Kedua  matanya masih menyelami kedua mataku yang juga tengah menatapnya. Aku tahu dalam hatinya pasti ia bertanya, kenapa?

     “Karena kau cantik,” ucapku tanpa komando apapun darinya.

     Kali ini ia mengalihkan pandangannya pada jemariku yang masih terluka, “Kurasa kita harus cepat mengobatinya…”

     “…Dan aku jadi ingin mati setiap melihatmu,” tandasku mengabaikan ucapannya barusan. “Setiap melihatmu, bebanku terasa berat sekali, sunbae. Dadaku terus menerus sesak dan perasaanku tidak nyaman. Aku membencimu, sunbae… Sangat sangat membencimu!” jeritku kuat-kuat. Air mataku membanjir kembali, namun Hye Sun sunbae tak menepis buliran bening itu lagi. Ia terdiam, masih membisu. Matanya yang sudah memerah sejak tadi kali ini ikut melesatkan air mata dari pelupuk matanya. Ia menangis. Samar-samar indra pendengaranku kembali menangkap suaranya, meskipun dengan volume yang cukup kecil.

     “Mianhae…” kata itu terus berulang dengan jeda di setiap isakannya.

     “Aku tidak butuh itu. Seberapa banyak pun kau mengucapkannya… Aku tidak peduli. Aku sudah terlanjur membencimu. Jadi, mulai sekarang… Menjauhlah dari kehidupanku, Goo Hye Sun sunbae…” ucapku. Berselang kemudian aku mencoba bangkit, tak peduli dengan isakannya yang kian lama kian mengeras. Suaranya benar-benar pilu, namun hatiku sudah mati rasa padanya. Aku tidak peduli lagi. Air matanya yang membanjir itu tidak akan pernah bisa setara dengan sakit hatiku selama ini.

     Dengan tertatih kutinggalkan gedung pameran itu tanpa pamit kepada siapa pun. Aku masih terus diam, dengan air mata berlinang. Sesekali kudengar suara binatang malam dan isakanku yang bertumbukan bersama angin musim gugur. Lampu-lampu kota serasa membias bersama air mataku yang mulai merenggut sebagian kesadaranku. Pertanyaan-pertanyaan dalam batinku menyeruak hingga ke telingaku sendiri. Perlahan kurasakan tubuhku memanas dan pandanganku kian mengabur. Kesadaranku lenyap dalam sekali hembusan angin.

     Sunbae, mari kutanya kembali satu hal padamu…

     Seberapa berharganya kecantikan bagi dirimu?

     Lalu seberapa berharga pula kecantikan bagi seekor itik buruk rupa?

     Apa kau mengerti, sunbae?

     Kurasa kau tidak akan mengerti, sunbae...

     Karena kau selalu menjadi angsa, sosok yang selalu tampak sempurna…





_the end_



Glossarium

Sunbae                  : senior
Ne                          : ya
-ah                         : sebutan/panggilan untuk orang yang cukup dekat, sudah kenal lama
Gomawoyo           : terima kasih
Seonsaengnim      : guru
Mianhaeyo           : maaf
Nugu?                   : siapa?
Mianhae               : maaf
Omona!                : astaga!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar