Title : Cinta Tak Berujung
Author : Dita Chun © 2010
Type : Cerpen/Oneshoot
Rating : T
Sejenak kurebahkan tubuhku yang lelah
ke atas ranjang. Setiap detik, menit, dan jam yang kulalui penuh dengan makna.
Kurasa memang begitulah yang seharusnya. Lembar demi lembar halaman diary
kukerjakan setiap malam dengan seksama. Berharap tak ada satu kejadian penting
pun yang terlewat di dalamnya… Menjalani kehidupan sebagai siswi SMP tentu saja
bukan hal mudah bagiku. Cara berpikirku yang mungkin tergolong agak lebih
lambat dari teman-teman di sekitarku, membuatku lebih suka mengambil sebuah
gambaran kehidupan yang seharusnya dan sewajarnya dari pandanganku sendiri…
Meski masih duduk di bangku SMP, kehidupan yang aku jalani sudah agak rumit…
Aku bangkit dari tempatku dan segera mandi kemudian makan. “Kehidupanku serumit
dan sesederhana pandanganku.” Itu adalah motto yang telah tertanam dalam hatiku
entah sejak kapan. Aku sudah lupa. Tapi… Kalau aku mengenang masa kecilku yang
serasa tanpa beban dalam menjalani kehidupan dan selalu optimis… Ingin sekali
kembali di dunia itu. Saat itu aku merasa apapun yang kukerjakan aku rasa
benar. Tapi, anak-anak tetaplah anak-anak. Dan remaja sepertiku hanya bisa
menghela nafas memiliki mimpi yang tidak wajar tersebut. Aku yang sejak kecil
hidup dalam sebuah suasana yang aneh bersama dengan ayahku yang seorang guru
diktator. Ayah yang selalu membawa kewibawaannya itu keluar rumah, membuat
orang lain sedikit merasa agak asing dengan ayahku. Tapi, biarlah… Aku tidak
begitu menghiraukan ini itu...
“Meski dia tidak tampan, meski dia tidak
tinggi… Tapi, setidaknya dalam pandanganku dia terlihat keren karena inner
beauty dalam dirinya. Kecerdasan, ketaatannya pada agama, dan sikap sopannya…
Menurutku itu cukup sempurna.” jawabku ketika seorang temanku bertanya apa
yang kusuka dari cowok itu.
“Ah, benarkah begitu?” tanya Maria dengan
agak malas.
“Tentu saja!” seruku yakin.
Dalam pandanganku, dia begitu keren!
Selalu saja kutemukan hal-hal positif dalam dirinya. Membuatku sedikit demi
sedikit seiring berjalannya waktu, terlena bersama cinta yang entah akan
bertahan sampai kapan ini… Tak begitu jelas. Aku sadar bahwa hanya aku yang
menjalankan roda cinta disini. Hanya aku yang bergerak. Dan dia… Dia semakin
menghindariku. Sepertinya dia tidak begitu menyukaiku. Tapi, aku bukanlah gadis
yang semudah itu menyerah dalam urusan cinta. Aku akan terus menariknya,
mengejar target yang telah aku tetapkan
sendiri. Berharap suatu saat dia berpaling padaku. Targetku sebenarnya adalah,
“Dia akan berbalik mengejarku dan dia akan menyatakan cintanya padaku, selanjutnya aku menerima
cintanya dan kami pacaran. Atau kalau tidak seperti itu, maka aku yang akan menyatakan
cinta padanya. Dan itu berarti hasilnya sama saja.”
“Wah, hari ini lelah sekali… Padahal hari Jum’at, kan? Tapi, tugas kelompok begitu
banyak, entah ayahku akan membiarkanku keluar atau tidak,” ocehku saat pulang
sekolah.
“Eh, kau tanya saja pada ayahmu. Kalau tidak
mengerjakannya hari ini, kapan lagi? Apa ayahmu begitu mengekangmu?” tanya
Stevy.
“Kalian sih belum kenal ayahku… Dia itu bisa
melakukan segala cara untuk mendidikku. Sepertinya dia begitu tidak
mempercayaiku. Ah, sudahlah. Aku hubungi ayahku dulu ya,” ucapku sembari
mengeluarkan ponselku dari saku rokku.
Agak lama
aku berbicara dengan ayah. Syukurlah… Ayah membiarkanku ikut kerja kelompok.
Tapi, memang aku ini anak yang keras, kadang sampai bertengkar dengan orang tua
pun pernah. Apalagi aku sadar bahwa diriku adalah gadis yang memiliki tingkat
keegoisan tinggi. Kalau sudah kataku, ya harus lakukan. Tidak bisa tidak. Kalau
sudah menetapkan target, maka aku akan melakukan segala cara untuk meraihnya.
Aku tidak akan mundur selangkahpun, kecuali benar-benar ada batu besar yang
menghalangiku….
Di sela-sela pekerjaan kami, tiba-tiba
Stevy mengatakan sesuatu padaku…
“Emm… Ren. Aku tanya satu hal padamu.”, ucap
Stevy hati-hati.
“Apa? Katakan saja.” ucapku ringan.
“Kalau seandainya… Aku bilang seandainya, lho…
Kalau seandainya, Kevin menyukai sahabatmu. Apa yang akan kau lakukan?” tanya
Stevy yakin.
“Emm. Mungkin aku akan melepaskannya. Karena,
kalau demi sahabat baikku, aku akan melepaskannya…” jawabku sungguh-sungguh.
“Lalu? Jika ada dua orang lelaki, yang satu
mengejarmu tapi kau tidak menyukainya dan yang satu lagi kau menyukainya tapi
kau tidak tahu perasaannya, mana yang akan kau pilih?” tanyanya lagi.
“Entahlah… Mungkin aku akan memilih yang aku
sukai. Karena, meskipun seandainya perasaan itu tidak berbalas, tapi aku
bahagia aku pernah menyukainya…,” ucapnya sambil melahap camilan yang ada di
sampingku.
“Kalau kau? Mana yang akan kau pilih?” aku
pun membalikkan pertanyaan pada Stevy.
“Mungkin, aku tidak akan memilih keduanya… Aku
takut, salah satu dari kami akan tersakiti…,” jawabnya agak ragu.
“Kau sendiri, Mel?” aku mengalihkan
pandanganku pada Melinda yang sedang sibuk menggambar di atas karton.
“Aku? Kenapa aku harus ikut? Emm. Tapi, kalau
memang ditanya begitu, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Terserah, deh.
Aku bergantung pada takdir,” ucap Melinda dengan nada datar.
“Ah, kau ini… Semua pertanyaan yang datang
selalu kau jawab tidak tahu. Apa nantinya saat ditanya, kapan tanggal lahirmu
kau akan bilang ‘aku tidak tahu atau entahlah’?” ucapku dengan nada sedikit
kesal.
“Habisnya, aku tidak tahu mau jawab bagaimana.
Ya lihat situasi dan kondisi dulu…," jawabnya.
Malam ini, bulan nampak begitu bulat.
Saat aku menatap ke arah langit dari atas balkon ini, tidak banyak bintang yang
terlihat. Aku pun masuk kembali ke dalam kamar. Harapanku pada Kevin begitu
besar, tiba-tiba sebuah SMS menyadarkanku dari lamunan.
“Hai, Renny. Sedang apa?” tanya Henry lewat
SMS itu.
“Ah, kau rupanya. Aku tidak melakukan apapun,
kok,” balasku.
“Ah, benarkah? Berarti… Kau tidak berkedip dan
bernafas, dong?” balasnya.
“Hahaha =D. Kau benar-benar membuatku tertawa…
Tentu saja bernafas dan berkedip. Kalau tidak, berarti aku mati dong!”
balasku.
“Kenapa belum tidur? Sudah malam, kan?”
balasnya.
“Aku belum mengantuk. Temani aku ngobrol lewat
SMS, ya? Kau mau?” balasku.
“Oke, Bos!” balasnya.
SMS kami
seolah hampir tak berujung saat kulihat
jarum pendek jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.14. Aku sampai tertawa
terbahak-bahak membaca SMS dari Henry yang begitu humoris. Yang kutakutkan
hanya satu, yaitu aku sangat takut kalau ayah masuk ke kamarku. Dia pasti akan
marah besar kalau mengetahui bahwa aku sedang SMS-an dengan cowok. Bisa-bisa
ponselku disita lagi! Aku tidak mau! Ponsel itu adalah nyawaku! Huh! Lama
sekali… Henry dan aku… tak ada satu pun yang tertidur. Aku sangat senang Henry
menemaniku yang terkena insomnia malam ini dan membuatku tertawa.
Hobby berhubungan sosial lewat
jejaring sosial “facebook” membuatku sering meng-up date status disana.
Setidaknya, saat waktu luangku banyak, kugunakan situs facebook tersebut
sebagai sarana penghubung antara aku dan Kevin. Kevin yang pada awalnya tidak tahu
identitas asliku, hanya menanggapi pesan dan pesan dinding yang ku kirimkan
padanya. Kami seolah-olah benar-benar dekat. Disini ia tak menjauhiku seperti
saat di sekolah. Dan hal inilah yang membuat harapanku semakin besar padanya.
Dan aku semakin yakin, kalau suatu saat ia akan berbalik padaku… Cara berbicara
dan gaya bahasa lewat SMS yang khas kadang membuatku tertawa. Meski ia terus
mendesakku untuk membuka identitasku yang sebenarnya, aku masih kukuh untuk
mempertahankan identitas palsu ini.
“Kalau ia
tahu bahwa aku ini Renny… Dia pasti akan menjauhiku untuk kedua kalinya…
Sebaiknya, aku tidak usah memberitahunya…” pikirku.
Di sekolah, aku yang termasuk gadis
yang cenderung tomboy ini lebih banyak bergaul dengan cowok-cowok di kelas. Tak
jarang juga aku sampai punya masalah dengan adik kelas. “Lebih baik mati
daripada mengalah pada lawan!” itu adalah prinsip bodoh yang kuterapkan…
Karena adanya Kevin… Aku mati-matian menunjukkan sikap manis, alim, dan
positifku padanya. Meski aku tahu bahwa itu sikap yang palsu, tapi kalau aku
tidak begini ia pasti tidak akan pernah berbalik padaku. Kebiasaan berkata-kata
jorok kukurangi setiap hari, sikap tomboy aku hanya melakukannya saat ia tak
ada di kelas dan aku selalu menunjukkan sikap femininku padanya.
“Renny, lihat! Wah, pangeran berkuda putihmu
sudah datang tuh!” seru Henry padaku.
“Ah, apa sih…?” ucapku lembut sambil sesekali
mencuri pandang pada Kevin. Tapi, kenyataannya ia tak menoleh sedikitpun padaku
dan hanya berlalu dengan wajah dingin. Inilah sebabnya aku tak mau membongkar
identitas palsuku di facebook. Aku sering memandanginya diam-diam yang sedang
membaca buku dengan seksama, kadang sholat dhuha di sela-sela jam istirahat,
atau secara tidak sengaja bersimpangan jalan di kantin. Seolah aku selalu saja
menemukannya dalam pandanganku dan hatiku…
“Ren, kau mau?” tawar Henry saat aku dan
teman-teman cowokku sedang berkumpul. Akupun mengambil snack yang ditawarkan
Henry tersebut.
“Eh, bagaimana hubunganmu dengan Kevin?”
tanya Riko.
“Tetap seperti sebelum-sebelumnya, dia tetap
dingin padaku. Padahal segala hal positif sudah kucoba perlihatkan padanya.
Tapi, dia seolah tak ingin melihatnya. Aku jadi agak ragu…,” jawabku.
“Kusarankan sebaiknya kau tunjukkan dirimu
yang apa adanya saja. Mungkin saja dia tahu kalau kau melakukan hal-hal positif
itu palsu. Kau bersikap alami saja. Nggak usah berubah seperti bagaimanapun,
jadi dirimu sendiri saja.” saran Henry.
“Kurasa itu ada benarnya. Kadang ada juga
cowok yang benar-benar ingin tahu sifat alami sang cewek. Karena cowok itu
nggak suka kepura-puraan. Jadi dirimu yang alami setidaknya mengurangi
penderitaanmu, kan? Bukankah bersikap palsu sangat menyiksa?” ucap Mario.
“Jadi, menurut kalian aku harus menunjukkan sifat
asliku? Sifat-sifat burukku itu?” tanyaku. Mereka semua mengangguk yakin.
“Nggak!” ucapku tegas.
“Apa? Kenapa?” tanya Henry lagi.
“Kalian masih bisa tanya kenapa?! Apa kalian
mau membunuhku?!” bentakku.
“Apa, sih? Kita kan sahabat, kita nggak ingin
kau nggak bahagia,” ucap Henry halus.
“Iya. Kau harus bahagia… Kita nggak ingin kau
melakukan hal palsu dan mendapatkan kebahagiaan palsu… Setidaknya, kalau ia
benar-benar nggak menyukaimu maka semuanya akan berakhir dan kau bisa berhenti
berharap dan menanam harapan lebih besar padanya,” ucap Mario.
“Apa?! Aku tahu kita sahabat… Tapi, aku nggak
akan membuka identitasku dan menunjukkan sikap alamiku. Kalian berbicara dengan
entengnya seolah-olah tidak tahu betapa banyaknya sifat burukku dan betapa
sedikitnya sifat baikku. Bagaimana bisa seorang laki-laki mencintai seorang
gadis yang nggak ada sifat baiknya sepertiku?!” bentakku lagi. Aku tetap kukuh
dengan pendapatku. Mereka diam.
Segala cara kulakukan untuk mendapatkan
hati Kevin… Mengirim pesan lewat facebook, mengirim SMS lewat ponsel, dan
mengiriminya surat cinta. Awalnya, hubungan pertemanan kami masih baik-baik
saja. Tapi kemudian… Seiring bergantinya hari aku dikejutkan oleh pesannya
lewat facebook. Ia kesal denganku dan sudah mengetahui identitasku. Sejak saat
itu, ia makin menjauhiku. Seolah tak membiarkanku sedikitpun menjamah dunianya.
Ia yang memiliki berbagai sifat dan sikap positif dengan aku yang memiliki
berbagai sikap dan sifat negatif memanglah bagaikan bulan dan matahari. Aku
bagaikan bulan yang rendah dan hanya bergantung pada matahari yang cahayanya
begitu menyilaukan bagiku dan bisa kupantulkan sehingga aku juga tampak indah
karenanya. Bulan yang berharap suatu saat bisa memancarkan cahayanya sendiri
seperti matahari. Tapi, selamanya bulan tidak akan pernah memancarkan cahayanya
sendiri. Ia hanya bisa bergantung pada matahari itu… Mengingat hal ini… Deraian
air mata seolah semakin banyak. Hampir setiap malam aku menangis… Aku begitu
takut kalau aku akan segera kalah darinya… Tiba-tiba sebuah SMS mengagetkanku…
“Apa kau baik-baik saja?” rupanya SMS itu
dari Henry.
“Jujur saja aku nggak baik-baik saja. Aku
sakit,” balasku.
“Aku tahu. Apa sampai sini kau belum sadar
juga?”
“Sadar? Tentang apa?”
“Jangan terlalu mengharapkannya… Aku takut kau
semakin menderita. Sewajarnya saja,” balasnya.
“Tapi, harapan besar sudah kutanamkan sejak
lama… Ia nggak mungkin bisa kupendam dalam hati begitu saja…,” balasku.
“Kalau ada orang lain yang hadir dalam hatimu…
Apa kau bisa melupakannya? Melupakan semua kesedihan yang kau alami?”
tanyanya.
“Entahlah… Kurasa… Ini cinta ter-extreme yang
pernah kujalani. Mungkin selamanya aku
akan mencintainya. Dia nggak akan pernah tergantikan oleh siapapun,”
jawabku.
“Baiklah kalau itu keputusanmu. Kurasa… kami
tidak bisa menggantikan posisi Kevin dalam hatimu. Kau benar-benar orang yang
kukuh… Tapi, apa sedikitpun tak ada peluang bagi kami untuk menggantikan
posisinya?” balasnya. Aku benar-benar terkejut. Aku tidak membalas SMS itu.
Kuletakkan ponselku ke dalam laci dan akupun tidur. Berharap semuanya segera
bisa kulupakan dan menghentikan sakit hati ini.
Hari ini tidak ada pelajaran karena
guru-guru sedang rapat. Aku membutuhkan kepastian dari bibir Kevin sendiri. Aku
pun mengajak Kevin berbicara di suatu tempat…
“Kevin… Apa tidak ada ruang sedikitpun untukku
di hatimu?” tanyaku saat itu juga.
“Entahlah. Mungkin tidak,” jawabnya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena… Sudah ada orang lain dalam hatiku.
Aku sudah punya pacar. Jadi, sebaiknya jangan terlalu berharap,” ucapnya.
“Bohong. Kau bukan orang yang mudah untuk
berpacaran. Dan bagaimana gadis itu mendapatkan hatimu? Apa dia lebih baik dariku?” tanyaku.
“Iya. Dan dia juga nggak menunjukkan
kepura-puraannya di depanku. Meski menyakitkan setidaknya itu lebih baik
daripada berwajah topeng dihadapanku,” ucapnya tegas. Aku terdiam. Ia
benar-benar menyindirku.
“Kalau sudah nggak ada yang ingin dibicarakan,
aku pergi. Permisi,” ia pun berlalu dari hadapanku. Dan saat itu pula air
mataku jatuh dari mataku yang telah memerah. Bagaimana pun aku ini seorang
gadis… Gadis yang bisa melampiaskan kemarahan dan kekesalannya dengan deraian
air mata. Aku pun terduduk dan benar-benar menangis.
Setelah tangisku reda, aku kembali ke
kelas. Beberapa sahabat perempuanku menanyakan keadaanku. Aku pun menceritakannya
pada mereka…
“Sudah kubilang, kan? Jangan menyukai cowok
seperti dia!” ucap Stevy.
“Sudah lupakan saja dia,” sahut Melinda.
“Cowok memang suka membuat cewek menderita!”
sahut Maria.
Meski
keadaanku sudah seperti ini… Dalam hati aku masih terus berharap pada Kevin.
Meski sudah ditolak mentah-mentah, aku masih belum menyerah. Aku tetap kukuh
dengan targetku. Aku terus mengirimkan pesan lewat facebook pada Kevin…
“Apa kau bisa memberiku kesempatan? Kesempatan
untuk mengisi hatimu? Meski bukan sekarang tapi, aku akan menunggumu… Tolong
balas pesanku ini,” tulisku.
Lama… Sampai
berhari-hari ia tak membalas pesanku. Ingin aku tanya padanya apa dia sudah
tahu ada pesan di facebooknya… Tapi, segera ku urungkan niatku. Aku hanya terus
menerus menunggunya. Menunggu sampai ia membalas pesanku. Akhirnya, penantianku
membuahkan hasil… Ia membalas pesanku, tapi…
“Aku akan memberimu kesempatan asal kau
menemukan 3 kata dalam hatiku saat ini… Hanya 3 kata. Kalau kau bisa menebaknya
aku akan mencoba membuka hatiku padamu,” tulisnya.
3 kata dalam
hatinya? Apa dia sudah gila?! Mana mungkin aku bisa tahu apa yang ada di dalam
benaknya?! Tapi, aku terus memikirkan pesan itu… Aku benar-benar berusaha
mencari 3 kata itu… Meski ini terdengar gila!
Semakin lama… Aku merasa ada seseorang
yang berusaha mendekatiku… Dia adalah Henry, sahabatku sendiri. Orang yang
membuatku tertawa lewat SMS-SMS yang ia kirimkan padaku… Gara-gara ini aku
sedikit goyah dari targetku. Saat aku sedang sedih karena Kevin… Henry selalu
menghiburku dengan semua kata-katanya dan senyumnya. Dan aku pun semakin ragu
pada mereka berdua. Mana yang akan aku pilih seandainya Henry benar-benar
menyukaiku? Meski aku sedikit merasakan ketertarikan pada Henry, tapi Kevin…
Aku tidak bisa begitu saja menghapusnya
dari hatiku… Aku pun berada pada puncak kebimbanganku saat Kevin dekat dengan
seorang gadis dari kelas lain. Berbeda dengan saat ia bersamaku, ia banyak
tertawa dan tersenyum dengan gadis itu. Sedangkan Henry, aku semakin sering
bersamanya karena ia selalu membantuku mengisi waktu luangku. Kondisiku pun
akhirnya sampai pada puncaknya. Aku jatuh sakit. Aku benar-benar terlalu keras
berpikir dan suatu ketika ayahku malah mengucapkan sesuatu padaku…
“Kalau kau berani pacaran… Ayah akan memindahkanmu
ke pesantren saat itu juga. Kalau ayah sampai tahu kau pacaran… Ayah akan
menghukummu lebih dari biasanya. Kau mengerti?” ucap ayah tegas. Tubuhku pun
sedikit bergetar mendengarnya. Aku pun memalingkan wajahku dari pandangan ayah.
Kadang…
dalam pikiranku terlintas untuk mengambil keputusan untuk bersama Henry saja
dan melupakan Kevin… Kadang juga terpikir kalau sebaiknya aku menduakan mereka.
Jadi, aku akan mendapatkan keduanya… Tapi, apa semua keputusan itu tidak
menyakiti kami? Aku benar-benar takut…
Setelah beberapa hari demamku turun
dan aku bisa pergi ke sekolah lagi seperti biasanya. Aku kembali melihat Kevin
di kelas ini… Dan tepat di samping Kevin yang sedang mengutak-atik ponselnya
kulihat Henry yang tengah berdiri dan melihatku. Aku pun dengan penuh keraguan
menyunggingkan sebuah senyum pada Henry.
“Eh, apa sudah baikan? Kudengar kau sakit?”
tanya Stevy.
“Iya. Aku cuma sedikit demam. Nggak apa,”
jawabku.
“Tapi, Stev… Aku sedang bimbang,” ucapku
lirih.
“Karena Kevin dan Henry?” tanya Stevy
tiba-tiba.
“Ah? Bagaimana kau tahu?” tanyaku heran.
“Hubungan kalian itu… Sudah sangat terlihat
dekat sekali. Apa kau masih tetap mengharapkan Kevin?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Lalu Henry?” tanyanya lagi. Aku pun menggeleng. Aku benar-benar bimbang.
“Jalani semuanya sealami mungkin saja…,” ucap
Stevy. Aku tak menyahut dan aku tak berani memandang Henry dan Kevin lagi.
Sampai sekarang… Aku belum menemukan 3 kata yang dimaksudkan Kevin itu. Dan
mungkin… Selamanya aku tidak akan pernah tahu…
Beberapa minggu kemudian…
“Apa tidak ada ruang untukku di hatimu?”
tanya Henry tiba-tiba sepulang sekolah.
“Apa kau benar-benar menyukaiku?” tanyaku
balik.
“Hm,” ia mengangguk.
“Baiklah. Aku mau bersamamu. Tapi, aku
tegaskan satu hal disini… Bahwa aku, tidak bisa secepat itu melupakan Kevin.
Mungkin masih ada serpihan-serpihannya yang kubawa bersamaku…,” ucapku.
“Aku mengerti. Tapi, perlahan-lahan kau pasti
bisa melupakannya seiring hubungan kita. Aku janji kita akan bahagia…,”
ucapnya. Aku mengangguk.
Beginilah
akhirnya diriku… Aku yang terjebak dalam suatu cinta segitiga yang tak kunjung
berujung… Henry yang menyukai dan mengharapkanku… Sedangkan aku yang menyukai
Kevin yang entah bagaimana perasaannya padaku.
Satu hal yang membuatku masih
menangis di sela-sela malamku… Bahkan aku sangat takut untuk memikirkannya…
Itu… Ketika aku benar-benar menyadari sebuah kenyataan dalam hatiku…
“Henry hanyalah pelarian bagiku… Pelarian dari
Kevin… Aku takut cinta ini tak berujung. Sebenarnya, aku masih benar-benar
menyimpan harapan pada Kevin… Aku terus memandanginya diam-diam saat Henry tak
ada disampingku. Dan terkadang, aku merasa sedikit bersalah pada Henry… Membuat
tubuhku bergetar… Maafkan aku Henry… Maafkan aku jika suatu saat aku
benar-benar meninggalkanmu kalau Kevin berbalik padaku… Maafkan aku…”
******
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar