Minggu, 21 April 2013

Cinta Tak Berujung



Title       : Cinta Tak Berujung

Author   : Dita Chun © 2010

Type        : Cerpen/Oneshoot

Rating    : T





          Sejenak kurebahkan tubuhku yang lelah ke atas ranjang. Setiap detik, menit, dan jam yang kulalui penuh dengan makna. Kurasa memang begitulah yang seharusnya. Lembar demi lembar halaman diary kukerjakan setiap malam dengan seksama. Berharap tak ada satu kejadian penting pun yang terlewat di dalamnya… Menjalani kehidupan sebagai siswi SMP tentu saja bukan hal mudah bagiku. Cara berpikirku yang mungkin tergolong agak lebih lambat dari teman-teman di sekitarku, membuatku lebih suka mengambil sebuah gambaran kehidupan yang seharusnya dan sewajarnya dari pandanganku sendiri… Meski masih duduk di bangku SMP, kehidupan yang aku jalani sudah agak rumit… Aku bangkit dari tempatku dan segera mandi kemudian makan. “Kehidupanku serumit dan sesederhana pandanganku.” Itu adalah motto yang telah tertanam dalam hatiku entah sejak kapan. Aku sudah lupa. Tapi… Kalau aku mengenang masa kecilku yang serasa tanpa beban dalam menjalani kehidupan dan selalu optimis… Ingin sekali kembali di dunia itu. Saat itu aku merasa apapun yang kukerjakan aku rasa benar. Tapi, anak-anak tetaplah anak-anak. Dan remaja sepertiku hanya bisa menghela nafas memiliki mimpi yang tidak wajar tersebut. Aku yang sejak kecil hidup dalam sebuah suasana yang aneh bersama dengan ayahku yang seorang guru diktator. Ayah yang selalu membawa kewibawaannya itu keluar rumah, membuat orang lain sedikit merasa agak asing dengan ayahku. Tapi, biarlah… Aku tidak begitu menghiraukan ini itu...

          Pagi-pagi sekali aku datang ke sekolah. Sejak menjadi anggota OSIS di sekolah, aku selalu datang lebih awal dibanding dengan keseharianku yang sebelumnya yang lebih suka datang di detik-detik terakhir bel jam pelajaran pertama. Sejak masuk ke kelas 8 ini… Aku merasakan ketertarikan pada seorang temanku di kelas. Dalam pandangan anak gadis seusiaku, dia memang bukanlah laki-laki yang tampan. Bukanlah termasuk laki-laki yang berwajah proporsional ataupun laki-laki yang suka menebar senyum dan berjalan dengan gagahnya. Aku pun sejak awal sudah menyadari tentang hal ini.

  “Meski dia tidak tampan, meski dia tidak tinggi… Tapi, setidaknya dalam pandanganku dia terlihat keren karena inner beauty dalam dirinya. Kecerdasan, ketaatannya pada agama, dan sikap sopannya… Menurutku itu cukup sempurna.” jawabku ketika seorang temanku bertanya apa yang kusuka dari cowok itu.

  “Ah, benarkah begitu?” tanya Maria dengan agak malas.

  “Tentu saja!” seruku yakin.

          Dalam pandanganku, dia begitu keren! Selalu saja kutemukan hal-hal positif dalam dirinya. Membuatku sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu, terlena bersama cinta yang entah akan bertahan sampai kapan ini… Tak begitu jelas. Aku sadar bahwa hanya aku yang menjalankan roda cinta disini. Hanya aku yang bergerak. Dan dia… Dia semakin menghindariku. Sepertinya dia tidak begitu menyukaiku. Tapi, aku bukanlah gadis yang semudah itu menyerah dalam urusan cinta. Aku akan terus menariknya, mengejar  target yang telah aku tetapkan sendiri. Berharap suatu saat dia berpaling padaku. Targetku sebenarnya adalah, “Dia akan berbalik mengejarku dan dia akan menyatakan  cintanya padaku, selanjutnya aku menerima cintanya dan kami pacaran. Atau kalau tidak seperti itu, maka aku yang akan menyatakan cinta padanya. Dan itu berarti hasilnya sama saja.”

  “Wah, hari ini lelah sekali… Padahal  hari Jum’at, kan? Tapi, tugas kelompok begitu banyak, entah ayahku akan membiarkanku keluar atau tidak,” ocehku saat pulang sekolah.

  “Eh, kau tanya saja pada ayahmu. Kalau tidak mengerjakannya hari ini, kapan lagi? Apa ayahmu begitu mengekangmu?” tanya Stevy.

  “Kalian sih belum kenal ayahku… Dia itu bisa melakukan segala cara untuk mendidikku. Sepertinya dia begitu tidak mempercayaiku. Ah, sudahlah. Aku hubungi ayahku dulu ya,” ucapku sembari mengeluarkan ponselku dari saku rokku.

   Agak lama aku berbicara dengan ayah. Syukurlah… Ayah membiarkanku ikut kerja kelompok. Tapi, memang aku ini anak yang keras, kadang sampai bertengkar dengan orang tua pun pernah. Apalagi aku sadar bahwa diriku adalah gadis yang memiliki tingkat keegoisan tinggi. Kalau sudah kataku, ya harus lakukan. Tidak bisa tidak. Kalau sudah menetapkan target, maka aku akan melakukan segala cara untuk meraihnya. Aku tidak akan mundur selangkahpun, kecuali benar-benar ada batu besar yang menghalangiku….

          Di sela-sela pekerjaan kami, tiba-tiba Stevy mengatakan sesuatu padaku…

  “Emm… Ren. Aku tanya satu hal padamu.”, ucap Stevy hati-hati.

  “Apa? Katakan saja.” ucapku ringan.

  “Kalau seandainya… Aku bilang seandainya, lho… Kalau seandainya, Kevin menyukai sahabatmu. Apa yang akan kau lakukan?” tanya Stevy yakin.

  “Emm. Mungkin aku akan melepaskannya. Karena, kalau demi sahabat baikku, aku akan melepaskannya…” jawabku sungguh-sungguh.

  “Lalu? Jika ada dua orang lelaki, yang satu mengejarmu tapi kau tidak menyukainya dan yang satu lagi kau menyukainya tapi kau tidak tahu perasaannya, mana yang akan kau pilih?” tanyanya lagi.

  “Entahlah… Mungkin aku akan memilih yang aku sukai. Karena, meskipun seandainya perasaan itu tidak berbalas, tapi aku bahagia aku pernah menyukainya…,” ucapnya sambil melahap camilan yang ada di sampingku.

  “Kalau kau? Mana yang akan kau pilih?” aku pun membalikkan pertanyaan pada Stevy.

  “Mungkin, aku tidak akan memilih keduanya… Aku takut, salah satu dari kami akan tersakiti…,” jawabnya agak ragu.

  “Kau sendiri, Mel?” aku mengalihkan pandanganku pada Melinda yang sedang sibuk menggambar di atas karton.

  “Aku? Kenapa aku harus ikut? Emm. Tapi, kalau memang ditanya begitu, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Terserah, deh. Aku bergantung pada takdir,” ucap Melinda dengan nada datar.

  “Ah, kau ini… Semua pertanyaan yang datang selalu kau jawab tidak tahu. Apa nantinya saat ditanya, kapan tanggal lahirmu kau akan bilang ‘aku tidak tahu atau entahlah’?” ucapku dengan nada sedikit kesal.

  “Habisnya, aku tidak tahu mau jawab bagaimana. Ya lihat situasi dan kondisi dulu…," jawabnya.

          Malam ini, bulan nampak begitu bulat. Saat aku menatap ke arah langit dari atas balkon ini, tidak banyak bintang yang terlihat. Aku pun masuk kembali ke dalam kamar. Harapanku pada Kevin begitu besar, tiba-tiba sebuah SMS menyadarkanku dari lamunan.

  “Hai, Renny. Sedang apa?” tanya Henry lewat SMS itu.

  “Ah, kau rupanya. Aku tidak melakukan apapun, kok,” balasku.

  “Ah, benarkah? Berarti… Kau tidak berkedip dan bernafas, dong?” balasnya.

  “Hahaha =D. Kau benar-benar membuatku tertawa… Tentu saja bernafas dan berkedip. Kalau tidak, berarti aku mati dong!” balasku.

  “Kenapa belum tidur? Sudah malam, kan?” balasnya.

  “Aku belum mengantuk. Temani aku ngobrol lewat SMS, ya? Kau mau?” balasku.

  “Oke, Bos!” balasnya.

   SMS kami seolah hampir  tak berujung saat kulihat jarum pendek jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.14. Aku sampai tertawa terbahak-bahak membaca SMS dari Henry yang begitu humoris. Yang kutakutkan hanya satu, yaitu aku sangat takut kalau ayah masuk ke kamarku. Dia pasti akan marah besar kalau mengetahui bahwa aku sedang SMS-an dengan cowok. Bisa-bisa ponselku disita lagi! Aku tidak mau! Ponsel itu adalah nyawaku! Huh! Lama sekali… Henry dan aku… tak ada satu pun yang tertidur. Aku sangat senang Henry menemaniku yang terkena insomnia malam ini dan membuatku tertawa.

          Hobby berhubungan sosial lewat jejaring sosial “facebook” membuatku sering meng-up date status disana. Setidaknya, saat waktu luangku banyak, kugunakan situs facebook tersebut sebagai sarana penghubung antara aku dan Kevin. Kevin yang pada awalnya tidak tahu identitas asliku, hanya menanggapi pesan dan pesan dinding yang ku kirimkan padanya. Kami seolah-olah benar-benar dekat. Disini ia tak menjauhiku seperti saat di sekolah. Dan hal inilah yang membuat harapanku semakin besar padanya. Dan aku semakin yakin, kalau suatu saat ia akan berbalik padaku… Cara berbicara dan gaya bahasa lewat SMS yang khas kadang membuatku tertawa. Meski ia terus mendesakku untuk membuka identitasku yang sebenarnya, aku masih kukuh untuk mempertahankan identitas palsu ini.

     “Kalau ia tahu bahwa aku ini Renny… Dia pasti akan menjauhiku untuk kedua kalinya… Sebaiknya, aku tidak usah memberitahunya…” pikirku.

          Di sekolah, aku yang termasuk gadis yang cenderung tomboy ini lebih banyak bergaul dengan cowok-cowok di kelas. Tak jarang juga aku sampai punya masalah dengan adik kelas. “Lebih baik mati daripada mengalah pada lawan!” itu adalah prinsip bodoh yang kuterapkan… Karena adanya Kevin… Aku mati-matian menunjukkan sikap manis, alim, dan positifku padanya. Meski aku tahu bahwa itu sikap yang palsu, tapi kalau aku tidak begini ia pasti tidak akan pernah berbalik padaku. Kebiasaan berkata-kata jorok kukurangi setiap hari, sikap tomboy aku hanya melakukannya saat ia tak ada di kelas dan aku selalu menunjukkan sikap femininku padanya.

  “Renny, lihat! Wah, pangeran berkuda putihmu sudah datang tuh!” seru Henry padaku.

  “Ah, apa sih…?” ucapku lembut sambil sesekali mencuri pandang pada Kevin. Tapi, kenyataannya ia tak menoleh sedikitpun padaku dan hanya berlalu dengan wajah dingin. Inilah sebabnya aku tak mau membongkar identitas palsuku di facebook. Aku sering memandanginya diam-diam yang sedang membaca buku dengan seksama, kadang sholat dhuha di sela-sela jam istirahat, atau secara tidak sengaja bersimpangan jalan di kantin. Seolah aku selalu saja menemukannya dalam pandanganku dan hatiku…

  “Ren, kau mau?” tawar Henry saat aku dan teman-teman cowokku sedang berkumpul. Akupun mengambil snack yang ditawarkan Henry tersebut.

  “Eh, bagaimana hubunganmu dengan Kevin?” tanya Riko.

  “Tetap seperti sebelum-sebelumnya, dia tetap dingin padaku. Padahal segala hal positif sudah kucoba perlihatkan padanya. Tapi, dia seolah tak ingin melihatnya. Aku jadi agak ragu…,” jawabku.

  “Kusarankan sebaiknya kau tunjukkan dirimu yang apa adanya saja. Mungkin saja dia tahu kalau kau melakukan hal-hal positif itu palsu. Kau bersikap alami saja. Nggak usah berubah seperti bagaimanapun, jadi dirimu sendiri saja.” saran Henry.

  “Kurasa itu ada benarnya. Kadang ada juga cowok yang benar-benar ingin tahu sifat alami sang cewek. Karena cowok itu nggak suka kepura-puraan. Jadi dirimu yang alami setidaknya mengurangi penderitaanmu, kan? Bukankah bersikap palsu sangat menyiksa?” ucap Mario.

  “Jadi, menurut kalian aku harus menunjukkan sifat asliku? Sifat-sifat burukku itu?” tanyaku. Mereka semua mengangguk yakin.

  “Nggak!” ucapku tegas.

  “Apa? Kenapa?” tanya Henry lagi.

  “Kalian masih bisa tanya kenapa?! Apa kalian mau membunuhku?!” bentakku.

  “Apa, sih? Kita kan sahabat, kita nggak ingin kau nggak bahagia,” ucap Henry halus.

  “Iya. Kau harus bahagia… Kita nggak ingin kau melakukan hal palsu dan mendapatkan kebahagiaan palsu… Setidaknya, kalau ia benar-benar nggak menyukaimu maka semuanya akan berakhir dan kau bisa berhenti berharap dan menanam harapan lebih besar padanya,” ucap Mario.

  “Apa?! Aku tahu kita sahabat… Tapi, aku nggak akan membuka identitasku dan menunjukkan sikap alamiku. Kalian berbicara dengan entengnya seolah-olah tidak tahu betapa banyaknya sifat burukku dan betapa sedikitnya sifat baikku. Bagaimana bisa seorang laki-laki mencintai seorang gadis yang nggak ada sifat baiknya sepertiku?!” bentakku lagi. Aku tetap kukuh dengan pendapatku. Mereka diam.

          Segala cara kulakukan untuk mendapatkan hati Kevin… Mengirim pesan lewat facebook, mengirim SMS lewat ponsel, dan mengiriminya surat cinta. Awalnya, hubungan pertemanan kami masih baik-baik saja. Tapi kemudian… Seiring bergantinya hari aku dikejutkan oleh pesannya lewat facebook. Ia kesal denganku dan sudah mengetahui identitasku. Sejak saat itu, ia makin menjauhiku. Seolah tak membiarkanku sedikitpun menjamah dunianya. Ia yang memiliki berbagai sifat dan sikap positif dengan aku yang memiliki berbagai sikap dan sifat negatif memanglah bagaikan bulan dan matahari. Aku bagaikan bulan yang rendah dan hanya bergantung pada matahari yang cahayanya begitu menyilaukan bagiku dan bisa kupantulkan sehingga aku juga tampak indah karenanya. Bulan yang berharap suatu saat bisa memancarkan cahayanya sendiri seperti matahari. Tapi, selamanya bulan tidak akan pernah memancarkan cahayanya sendiri. Ia hanya bisa bergantung pada matahari itu… Mengingat hal ini… Deraian air mata seolah semakin banyak. Hampir setiap malam aku menangis… Aku begitu takut kalau aku akan segera kalah darinya… Tiba-tiba sebuah SMS mengagetkanku…

  “Apa kau baik-baik saja?” rupanya SMS itu dari Henry.

  “Jujur saja aku nggak baik-baik saja. Aku sakit,” balasku.

  “Aku tahu. Apa sampai sini kau belum sadar juga?”

  “Sadar? Tentang apa?”

  “Jangan terlalu mengharapkannya… Aku takut kau semakin menderita. Sewajarnya saja,” balasnya.

  “Tapi, harapan besar sudah kutanamkan sejak lama… Ia nggak mungkin bisa kupendam dalam hati begitu saja…,” balasku.

  “Kalau ada orang lain yang hadir dalam hatimu… Apa kau bisa melupakannya? Melupakan semua kesedihan yang kau alami?” tanyanya.

  “Entahlah… Kurasa… Ini cinta ter-extreme yang pernah kujalani. Mungkin selamanya aku  akan mencintainya. Dia nggak akan pernah tergantikan oleh siapapun,” jawabku.

  “Baiklah kalau itu keputusanmu. Kurasa… kami tidak bisa menggantikan posisi Kevin dalam hatimu. Kau benar-benar orang yang kukuh… Tapi, apa sedikitpun tak ada peluang bagi kami untuk menggantikan posisinya?” balasnya. Aku benar-benar terkejut. Aku tidak membalas SMS itu. Kuletakkan ponselku ke dalam laci dan akupun tidur. Berharap semuanya segera bisa kulupakan dan menghentikan sakit hati ini.

          Hari ini tidak ada pelajaran karena guru-guru sedang rapat. Aku membutuhkan kepastian dari bibir Kevin sendiri. Aku pun mengajak Kevin berbicara di suatu tempat…

  “Kevin… Apa tidak ada ruang sedikitpun untukku di hatimu?” tanyaku saat itu juga.

  “Entahlah. Mungkin tidak,” jawabnya.

  “Kenapa?” tanyaku.

  “Karena… Sudah ada orang lain dalam hatiku. Aku sudah punya pacar. Jadi, sebaiknya jangan terlalu berharap,” ucapnya.

  “Bohong. Kau bukan orang yang mudah untuk berpacaran. Dan bagaimana gadis itu mendapatkan hatimu? Apa  dia lebih baik dariku?” tanyaku.

  “Iya. Dan dia juga nggak menunjukkan kepura-puraannya di depanku. Meski menyakitkan setidaknya itu lebih baik daripada berwajah topeng dihadapanku,” ucapnya tegas. Aku terdiam. Ia benar-benar menyindirku.

  “Kalau sudah nggak ada yang ingin dibicarakan, aku pergi. Permisi,” ia pun berlalu dari hadapanku. Dan saat itu pula air mataku jatuh dari mataku yang telah memerah. Bagaimana pun aku ini seorang gadis… Gadis yang bisa melampiaskan kemarahan dan kekesalannya dengan deraian air mata. Aku pun terduduk dan benar-benar menangis.

          Setelah tangisku reda, aku kembali ke kelas. Beberapa sahabat perempuanku menanyakan keadaanku. Aku pun menceritakannya pada mereka…

  “Sudah kubilang, kan? Jangan menyukai cowok seperti dia!” ucap Stevy.

  “Sudah lupakan saja dia,” sahut Melinda.

  “Cowok memang suka membuat cewek menderita!” sahut Maria.
Meski keadaanku sudah seperti ini… Dalam hati aku masih terus berharap pada Kevin. Meski sudah ditolak mentah-mentah, aku masih belum menyerah. Aku tetap kukuh dengan targetku. Aku terus mengirimkan pesan lewat facebook pada Kevin…

  “Apa kau bisa memberiku kesempatan? Kesempatan untuk mengisi hatimu? Meski bukan sekarang tapi, aku akan menunggumu… Tolong balas pesanku ini,” tulisku.

    Lama… Sampai berhari-hari ia tak membalas pesanku. Ingin aku tanya padanya apa dia sudah tahu ada pesan di facebooknya… Tapi, segera ku urungkan niatku. Aku hanya terus menerus menunggunya. Menunggu sampai ia membalas pesanku. Akhirnya, penantianku membuahkan hasil… Ia membalas pesanku, tapi…

  “Aku akan memberimu kesempatan asal kau menemukan 3 kata dalam hatiku saat ini… Hanya 3 kata. Kalau kau bisa menebaknya aku akan mencoba membuka hatiku padamu,” tulisnya.

    3 kata dalam hatinya? Apa dia sudah gila?! Mana mungkin aku bisa tahu apa yang ada di dalam benaknya?! Tapi, aku terus memikirkan pesan itu… Aku benar-benar berusaha mencari 3 kata itu… Meski ini terdengar gila!

          Semakin lama… Aku merasa ada seseorang yang berusaha mendekatiku… Dia adalah Henry, sahabatku sendiri. Orang yang membuatku tertawa lewat SMS-SMS yang ia kirimkan padaku… Gara-gara ini aku sedikit goyah dari targetku. Saat aku sedang sedih karena Kevin… Henry selalu menghiburku dengan semua kata-katanya dan senyumnya. Dan aku pun semakin ragu pada mereka berdua. Mana yang akan aku pilih seandainya Henry benar-benar menyukaiku? Meski aku sedikit merasakan ketertarikan pada Henry, tapi Kevin… Aku tidak bisa begitu saja  menghapusnya dari hatiku… Aku pun berada pada puncak kebimbanganku saat Kevin dekat dengan seorang gadis dari kelas lain. Berbeda dengan saat ia bersamaku, ia banyak tertawa dan tersenyum dengan gadis itu. Sedangkan Henry, aku semakin sering bersamanya karena ia selalu membantuku mengisi waktu luangku. Kondisiku pun akhirnya sampai pada puncaknya. Aku jatuh sakit. Aku benar-benar terlalu keras berpikir dan suatu ketika ayahku malah mengucapkan sesuatu padaku…

  “Kalau kau berani pacaran… Ayah akan memindahkanmu ke pesantren saat itu juga. Kalau ayah sampai tahu kau pacaran… Ayah akan menghukummu lebih dari biasanya. Kau mengerti?” ucap ayah tegas. Tubuhku pun sedikit bergetar mendengarnya. Aku pun memalingkan wajahku dari pandangan ayah.
Kadang… dalam pikiranku terlintas untuk mengambil keputusan untuk bersama Henry saja dan melupakan Kevin… Kadang juga terpikir kalau sebaiknya aku menduakan mereka. Jadi, aku akan mendapatkan keduanya… Tapi, apa semua keputusan itu tidak menyakiti kami? Aku benar-benar takut…

          Setelah beberapa hari demamku turun dan aku bisa pergi ke sekolah lagi seperti biasanya. Aku kembali melihat Kevin di kelas ini… Dan tepat di samping Kevin yang sedang mengutak-atik ponselnya kulihat Henry yang tengah berdiri dan melihatku. Aku pun dengan penuh keraguan menyunggingkan sebuah senyum pada Henry.

  “Eh, apa sudah baikan? Kudengar kau sakit?” tanya Stevy.

  “Iya. Aku cuma sedikit demam. Nggak apa,” jawabku.

  “Tapi, Stev… Aku sedang bimbang,” ucapku lirih.

  “Karena Kevin dan Henry?” tanya Stevy tiba-tiba.

  “Ah? Bagaimana kau tahu?” tanyaku heran.

  “Hubungan kalian itu… Sudah sangat terlihat dekat sekali. Apa kau masih tetap mengharapkan Kevin?” tanyanya.

  Aku mengangguk.

  “Lalu Henry?” tanyanya lagi. Aku pun  menggeleng. Aku benar-benar bimbang.

  “Jalani semuanya sealami mungkin saja…,” ucap Stevy. Aku tak menyahut dan aku tak berani memandang Henry dan Kevin lagi. Sampai sekarang… Aku belum menemukan 3 kata yang dimaksudkan Kevin itu. Dan mungkin… Selamanya aku tidak akan pernah tahu…

          Beberapa minggu kemudian…

  “Apa tidak ada ruang untukku di hatimu?” tanya Henry tiba-tiba sepulang sekolah.

  “Apa kau benar-benar menyukaiku?” tanyaku balik.

  “Hm,” ia mengangguk.

  “Baiklah. Aku mau bersamamu. Tapi, aku tegaskan satu hal disini… Bahwa aku, tidak bisa secepat itu melupakan Kevin. Mungkin masih ada serpihan-serpihannya yang kubawa bersamaku…,” ucapku.

  “Aku mengerti. Tapi, perlahan-lahan kau pasti bisa melupakannya seiring hubungan kita. Aku janji kita akan bahagia…,” ucapnya. Aku mengangguk.
Beginilah akhirnya diriku… Aku yang terjebak dalam suatu cinta segitiga yang tak kunjung berujung… Henry yang menyukai dan mengharapkanku… Sedangkan aku yang menyukai Kevin yang entah bagaimana perasaannya padaku.

  Satu hal yang membuatku masih menangis di sela-sela malamku… Bahkan aku sangat takut untuk memikirkannya… Itu… Ketika aku benar-benar menyadari sebuah kenyataan dalam hatiku…

  “Henry hanyalah pelarian bagiku… Pelarian dari Kevin… Aku takut cinta ini tak berujung. Sebenarnya, aku masih benar-benar menyimpan harapan pada Kevin… Aku terus memandanginya diam-diam saat Henry tak ada disampingku. Dan terkadang, aku merasa sedikit bersalah pada Henry… Membuat tubuhku bergetar… Maafkan aku Henry… Maafkan aku jika suatu saat aku benar-benar meninggalkanmu kalau Kevin berbalik padaku… Maafkan aku…”




****** 
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar