“Eh, tunggu…! Diary? Sepertinya aku tahu dimana ia meletakkan diary-diary-nya! Ayo!”, ajak dokter Aaron. Kami pun mengikutinya. Akhirnya, kami sampai di rumahnya yang mewah.
“Ayo!”, kami segera masuk ke dalam kamar Meg. Dokter Aaron mengacak-acak isi laci meja di kamar Meg. Ketika itu aku melihat foto Jiro yang berfoto bersama Meg. Foto itu terpajang apik dan cukup besar.
“Oh ya, kalau Meg dan Jiro saudara kembar… Lalu kau…?”, tanyaku pada dokter Aaron yang masih sibuk.
“Aku kakak tirinya. Kami saudara tiri. Tiga tahun lalu ayahku dan Ibu Meg menikah. Dan sekarang Ibu Meg sudah meninggal. Jadi, kami hanya tinggal berdua karena ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya.”, ucapnya. Matanya masih terus menelisik ke sudut-sudut ruangan serta tangannya mengobrak-abrik isi lemari dan laci Meg.
“Ini dia!”, serunya begitu sebuah buku tebal bak kamus lengkap ada di tangannya. Itu adalah diary Meg. Kami segera membawanya ke ruang tamu dan membacanya…