Title :
Oh, Seonsaengnim!
Author :
dita-cHun
Length :
Oneshot
Rating :
PG [Parents Guidance]
Genre :
AU, School-Life, Romance
Theme Song : T-Ara—Why Are You
Being Like This
Main Cast :
*Ham Eun Jung [T-Ara]
*Jung Il Woo
*Jeon Bo Ram [T-Ara]
*Lee Dong Hae [Super Junior]
*Cho Kyu Hyun [Super Junior]
*Lee Sung Min [Super Junior]
Language :
Indonesian
Disclaimer : All casts
belong to their management. This story is from my own feeling. So, enjoy! ^^
“Ck!”
Aku
berdecak sebal. Pensil yang semula berada di tanganku tiba-tiba mendarat
darurat ke lantai ketika tanpa sengaja terbentur salah satu sudut mejaku.
Dengan malas kuraih pensil itu dan kembali memainkannya seperti semula—sebelum
pensil itu jatuh.
Ruang
kelas terasa begitu membosankan. Seorang guru mata pelajaran Bahasa Korea terus
mengoceh tanpa henti sejak dimulainya jam pelajaran selepas istirahat. Entah
apa yang dijelaskannya saat ini, aku tak terlalu fokus dengan itu. Yang
kulakukan sejak tadi tak lebih dari bermain pensil atau membuat coretan tidak
penting di atas buku catatan. Aku-sudah-terlalu-bosan. Catat itu.
Kualihkan
pandanganku ke sisi kiri. Dari balik jendela tanpa ventilasi itu aku mampu
melihat jelas betapa teriknya matahari siang ini. Andai AC di dalam
kelas mati kemudian aku membuka jendela itu, aku mampu membayangkan satu hal.
Aku akan mati terbakar.
Baiklah,
aku mulai membicarakan hal-hal tidak jelas. Tampaknya isi kepalaku mulai kacau
karena keadaan super membosankan ini. Sebenarnya ada dua cara agar aku
tidak bosan lagi. Pertama, mengusir Jung seonsaengnim—yang notabene adalah guru Bahasa Korea
kami—dari kelas ini. Kedua, membolos dengan alasan izin ke toilet. Tapi,
tampaknya aku tidak akan memilih salah satu di antara keduanya. Alasannya hanya
satu, yakni aku tidak pandai melakukan keduanya.
“Ham
Eun Jung,” suara baritone itu terdengar memanggilku dengan lantang dan
tegas.
“Ne?”
agak terkejut, aku mendongakkan kepalaku.
“Apa
makna dari puisi tersebut?” Jung seonsaengnim menatapku lekat-lekat.
Sekilas ia tampak berusaha membenarkan letak kacamatanya yang agak turun.
“Eh?
Aa…” aku melirik Jeon Bo Ram
dengan tatapan memohon, mengisyaratkan agar ia memberiku
jawaban atas pertanyaan guru sialan itu. Sayang sekali, tampaknya Dewi Fortuna
tak sedang berpihak padaku. Jelas sekali tergambar di wajah Bo Ram, ia tak berniat
memberikan satu jawaban pun padaku. Dengan kata lain, tampaknya Bo Ram tak mengerti makna
tatapanku padanya. Ia masih diam memandangku dengan wajah tak berdosa. Oh,
sialan!
“Silahkan
keluar jika tidak ingin mengikuti pelajaran,” sahut Jung seonsaengnim
sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya barusan. Aku masih bergeming. “Dengan
tidak mengurangi rasa hormat,” lanjutnya sarkastik.
Aku
beringsut dari kursi, tak ingin pria berlabel Jung Il Woo itu mengucapkan
kalimat sarkastik lainnya padaku. Selain membosankan, pria ini juga sangat
pandai berbicara, terutama dalam melontarkan kalimat-kalimat berbau
pisau—tajam.
Aku
meninggalkan ruang kelas dengan perasaan campur aduk, antara kesal dan juga
senang. Baiklah, ini memang bukan kali pertama aku diusir dari dalam kelas saat
mata pelajaran Bahasa Korea berlangsung. Ini kelima kalinya. Tentu saja ini
membuatku malu bukan main terhadap teman-temanku. Aku Ham Eun Jung, siswi kelas
2E Sang Gong Senior High School suatu hari kelak akan balas dendam pada
pria itu!
“Awas
saja, kau, Jung seonsaengnim!” geramku pelan begitu aku berdiri di luar
kelas.
“Dendam
tidak akan menghasilkan keuntungan apapun,” ucap seseorang dari belakang. Aku kenal
betul suara itu. Dengan berat hati kutolehkan kepalaku ke belakang. Tepat!
Itu
Jung seonsaengnim. Mati aku.
“A—mianhamnida,
Jung seonsaengnim…” ucapku menunduk.
“Gwaenchanha,”
jawabnya tenang. Aku menghela nafas lega. “…Kau bisa menjelaskan puisi yang
kuterangkan tadi tanpa teks di depan kelas besok pagi.”
Pernyataan
Jung seonsaengnim barusan sukses membuatku ternganga hebat. “A-Apa?
Menjelaskan puisi tadi tanpa teks?!” ujarku panik. Seingatku daya ingatku ini
payah sekali. Mana mungkin aku mampu menghafal puisi laknat itu dalam waktu
semalam?
“Baiklah,
sebaiknya kau berlatih agar mereka tak menertawakanmu besok pagi.” Pria itu
tersenyum penuh kemenangan kemudian beranjak kembali ke dalam kelas yang semula
ditinggalkannya.
Gawat,
aku benar-benar mati kali ini.
**
Bel
berbunyi tiga kali. Ini berarti jam pelajaran terakhir hari ini—yang kebetulan
diisi Jung seonsaengnim—telah berakhir. Saatnya untuk kembali ke kelas
dengan beban pikiran yang baru kudapat beberapa puluh menit lalu. Kuseret langkahku
malas masuk ke dalam kelas. Kujumpai beberapa temanku yang masih tinggal di
kelas, termasuk Bo Ram
yang masih asyik dengan buku bahasanya.
Kuputar
pandanganku keluar jendela. Tampak langit di luar sana masih membiru dengan
terik matahari yang masih sama. Aku melirik sedikit jam tanganku. Jarum
panjangnya menunjuk tepat pada angka satu, sedangkan jarum yang lebih pendek
menunjuk angka dua. Mungkin masih banyak waktu sebelum besok pagi. Tapi,
sekarang aku harus mulai dari mana?
“Eun
Jung-ah,” suara itu sukses membuat perhatianku teralih. Pemilik suara messo-sopran
yang memanggilku barusan bukan lain adalah Jeon Bo Ram, temanku yang over innocence
hingga sering membuatku didepak Jung seonsaengnim ketika mata pelajaran
Bahasa Korea berlangsung.
“Kau
tampak bad mood. Ada yang mengganggumu?” Baiklah, kau lihat bagaimana ia
bertanya padaku? Ia yang membuatku terdepak hebat siang ini malah menanyakan
apa yang menggangguku.
“Anhi.
Hanya sedikit masalah tak penting,” jawabku kemudian mengambil posisi duduk di
sampingnya.
“Mungkin
aku bisa membantumu?” ia mengukir segaris senyum di wajah imutnya. Sebenarnya
gadis ini tidak terlalu buruk, ia cukup baik. Bantuannya kerap kali tulus pada
siapapun, termasuk aku. Namun, tak jarang sikap over innocence-nya itu
membuatku berada dalam masalah.
“Sebenarnya
ini tentang puisi yang dijelaskan Jung seonsaengnim tadi,” jawabku
akhirnya. “Jung seonsaengnim memintaku menghafalkannya dalam waktu semalam. Oh my…”
Kurasakan
sebuah tangan mungil menepuk pundakku. “Gwaenchanhayo, aku akan
membantumu. Lagipula itu tidak sulit, hanya puisi cinta.”
“Sungguh?!”
Bo Ram mengangguk mantap.
Syukurlah, aku masih mendapatkan satu cahaya kecil untuk masalahku kali ini.
**
Pagi-pagi
sekali aku berangkat ke sekolah. Hari ini aku akan menghadapi Jung seonsaengnim
dengan percaya diri. Aku akan membalas tatapannya dengan kesombongan. Kemudian
aku akan membalas setiap kalimat tajamnya tak kalah sarkastik dengan bagaimana
ia mendepakku dari kelas. Kelak dia akan tahu bagaimana ia harus menghargaiku
sebagai murid.
Semalam
aku sudah menghafalkan puisi laknat itu dengan susah payah dan dengan bantuan Bo Ram tentu saja. Ia
memberitahuku cara untuk menghafal puisi itu lebih cepat sehingga pagi ini aku
akan siap menunjukkan kebolehanku pada Jung seonsaengnim.
Bel
pelajaran pertama berbunyi. Tak perlu waktu lama untuk menunggu kedatangan Jung
seonsaengnim ke dalam kelas karena ia memang selalu tepat waktu. Aku
terkikik geli membayangkan bagaimana ekspresi Jung seonsaengnim nanti
ketika menyaksikanku membaca puisi.
“Baiklah,
sebelum pelajaran ini dimulai, di antara teman kalian ada yang akan menunjukkan
kebolehannya berpuisi di depan kelas.” Jung seonsaengnim tampak
melirikku sekilas. “Silahkan bagi anda yang merasa. Dengan tidak mengurangi
rasa hormat,” lanjutnya sarkastik.
Aku
bangkit dari kursi. Seketika seluruh pasang mata memandang ke arahku. Yang
pertama kali kudengar saat aku beranjak dari kursi adalah suara Bo Ram yang bertepuk tangan
diikuti kemudian suara gaduh teman-temanku yang keheranan. Aku tidak peduli.
Saat ini yang kuinginkan hanya satu.
Memberi
pelajaran Jung seonsaengnim atas semua tindakan buruknya padaku.
Kulirikkan
pandanganku sekilas pada Jung seonsaengnim kemudian kembali menatap
angkuh ke seluruh penjuru kelas. Sebuah pensil mekanik cokelat muda tergenggam
pada kedua tanganku. Aku harus bisa.
Bulan
Merindukan Matahari
Ketika kusadar redup cahaya tak sampai
Gulita menyergap, hening
Bimbang aku hendak bertanya
Sungguh, aku rindu padamu
Bintang-bintang membuatku cemburu
Mereka sanggup, aku tidak
Mereka tak butuh, aku butuh
Hanya bergantung dan terus merindukanmu
Duhai Matahari, cintaku
Tanpamu aku…
Kalimat
itu berhenti sampai di sana. Tenggorokanku tercekat. Aku lupa apa kelanjutan
dari puisi itu. “Aku… Aku…” Pandanganku menerawang, mencoba mengingat
kelanjutan kalimat itu.
“Aku…”
Lambat
laun kurasakan kepercayaan diriku yang semula terbangun sempurna kini remuk
sudah. Aku benar-benar tak bisa mengingat kelanjutan puisi itu. Kepalaku terasa
kosong. Rasa malu dan kesal beraduk satu di dalam batinku. Aku bingung sekarang
harus bagaimana.
Bagaimana
ini?!
“Ham
Eun Jung, bisakah kau melanjutkan puisimu?” suara baritone itu terdengar
menyela. Aku makin tertekan keadaan. Aku tidak bisa.
“Aku…”
sebulir air mata melesat dari kelopak mataku. “Aku tidak bisa.”
Aku
menangis, terisak pelan di depan teman-temanku. Aku sudah tak tahu lagi
seberapa malunya aku saat ini. Aku benar-benar… sebal.
“Gwaenchanha,
kau bisa mencobanya lain waktu…” suara itu membuatku terpaku sejenak. Tangan
kekarnya terasa menepuk pelan bahuku. Sontak aku menangkis tepukannya sebelum
mendarat untuk kedua kalinya. Kutatap kedua bola mata onyx itu, masih
sama tajamnya seperti yang setiap kali kulihat.
“Aku…
membencimu—!” geramku tertahan. Berselang kemudian kulangkahkan kakiku cepat
meninggalkan ruang kelas. Aku tidak ingin melihatnya lagi, sungguh! Ck!
**
Kupijakkan
kakiku satu-satu menaiki setiap anak tangga. Lekas kupercepat langkahku begitu
aku melihat kilauan cahaya dari puncak tangga. Kilauan itu terasa familiar di
mataku. Itu cahaya matahari.
Kusingkap
sedikit rok bagian belakangku ke depan kemudian mengambil posisi duduk di
samping pagar pembatas balkon. Dari atas sini aku selalu bisa melihat
pemandangan di luar sana serta mendapatkan angin yang cukup untuk mendinginkan
tubuh serta kepalaku yang terasa penuh dengan masalah.
Kutatap
langit biru di atas sana. Tidak ada yang berbeda dari hari sebelum-sebelumnya.
Bahkan aku selalu berpikir bahwa langit itu adalah langit yang sama sejak aku
lahir di dunia ini. Pada kenyataannya, aku tidak tahu. Aku bukan orang kurang
kerjaan yang akan mencari buku tentang hal seperti itu. Aku hanya percaya
dengan apa yang kupikirkan.
Dan
dalam pikiranku saat ini, Jung seonsaengnim benar-benar bukan orang yang
berhati mulia.
“Sebagai
seorang guru, kau itu sombong sekali. Aku tahu kau memang guru paling muda dan
paling tampan di antara yang lainnya, tapi kau tidak lebih baik dari mereka.
Jujur saja, aku sangat bosan saat mendengarmu berceloteh tentang puisi dan
sastra lainnya. Aku sama sekali tak suka dengan cara mengajarmu yang terkesan
egois, harusnya kau tahu itu!” aku masih terisak sambil terus berceloteh,
meluapkan emosiku yang sempat tertahan. Aku tidak mungkin mengatakan itu pada
Jung seonsaengnim, kecuali jika aku tidak ingin naik kelas tahun depan.
“Mungkin
kau hebat bisa menjadi guru di usiamu yang begitu muda, tapi kau tahu? Orang
hebat yang sombong itu tak akan bertahan lama. Aku ini sudah lama sekali dendam
padamu, ingin mencincangmu halus, ukh!” lanjutku masih terus mengeluh di
hadapan dinding yang masih diam bergeming.
“Perlu
keberanian sempurna untuk mencincangku halus,” ucap sebuah suara baritone
dari arah belakang. Kulihat Jung seonsaengnim berjalan angkuh menaiki
anak tangga satu-satu ke arahku.
Aku
mengeraskan tatapanku padanya. “Kau selalu muncul dimanapun aku
menjelek-jelekanmu! Kau ini sebenarnya apa, sih?!”
“Bukankah
memang begitu seharusnya?” ia berdiri menatap langit kemudian balik menatapku.
“Bukankah lebih lega ketika menjelek-jelekkan seseorang tepat di hadapannya?”
Aku
diam, kehabisan argumen.
“Aku
bahkan tidak mengerti kenapa kau selalu meminta maaf saat ketahuan mencelaku
diam-diam,” ia mengambil posisi duduk tepat di sampingku. “Apa mencela seorang
guru diam-diam adalah kesalahan?”
Aku
menoleh. “Itu perbuatan tidak baik.”
“Begitu?”
ia balas menatapku, membuatku kikuk seketika. “Bagiku itu hanya luapan emosi.
Setiap manusia tentu memiliki emosi, tak baik menahannya terlalu lama. Aku
juga… Saat aku sedang kesal, maka aku akan mengatakannya.”
Aku
hanya diam mendengarnya berceloteh. Entah kenapa saat ia berbicara tadi rasanya
berbeda dari biasanya. Apakah ini hanya perasaanku saja atau memang benar begitu,
aku tidak tahu. Yang pasti aku merasa kalimatnya tidak setajam biasanya.
“Tapi,
setiap orang itu pasti memiliki dua sisi. Sisi baik dan sisi buruk. Seburuk
apapun orang yang kita kenal, ia pasti memiliki kebaikan di sisi lain. Begitu
juga sebaliknya. Maka dari itu, aku selalu ragu untuk menarik kesimpulan tentang
orang lain…”
“Kau
terlalu cerewet sebagai seorang pria,” tandasku.
“Kelak
kau tidak akan menemui orang lain sepertiku,” jawabnya tenang.
“Cih,
percaya diri sekali!”
**
Angin musim gugur mendesau
lembut, menyibak daun-daun kering yang siap lepas dari rantingnya. Perlahan
hawa dingin menyusup melalui celah pintu yang belum sepenuhnya tertutup,
menunjukkan bahwa suhu kota sudah turun beberapa derajat dari hari sebelumnya.
Bagi kaum yang lumayan alergi dingin, tentu saat-saat seperti ini adalah
neraka. Baiklah, satu di antara pengidap alergi ini adalah aku dan ini tentu
begitu menyebalkan.
Aku ingin melupakan sejenak
tentang apa yang sedang terjadi di luar sana. Untuk kesekian kalinya aku
menengok ke arah kalender. Mendekatinya, kemudian menatapnya penuh harap.
Kulihat sebuah tanda melingkar berwarna merah terpajang apik di salah satu
angka pada bulan Desember. Tanggal 12 Desember. Aku ingat betul bahwa ini
adalah kalender milik kelas, bukan milikku pribadi. Alasan kenapa lingkaran
merah itu ada di sana adalah aku. Akulah yang menggoreskan tinta spidol merah
sedemikian rupa hingga terbentuk tanda itu. Aku ingin teman-temanku sadar akan
tanggal itu, kemudian membeli sebuah kue berdiameter 40 cm untuk kejutanku di
hari itu!
Hari ulang tahunku.
Akan lebih baik jika aku
berpura-pura tidak ingat dengan hari ulang tahunku! Ya. Dengan begitu mereka
bisa menyebut kue itu dengan “Surprise for Ham Eun Jung 17th
Birthday”! Aih~
“Eun Jung-ah, sedang
apa kau di situ?” suara itu sukses membuyarkan lamunan panjangku
barusan.
“A-Ah, Anhi. Anhiyo.” Aku mengelak.
Pemilik suara messo-sopran
itu mendekat, menyibak poniku sekilas. “Apa kau sedang tidak sehat?” Tangan
mungilnya menyentuh keningku, menyesuaikan dengan suhu pada tubuhnya sendiri.
Aku menggeleng. “Aku merasa
baik-baik saja, Bo Ram. Tidak perlu khawatir.”
“Sungguh?” Bo
Ram
tampak memastikan. Aku mengangguk mantap padanya.
“Aku hanya khawatir kau tidak
bisa ikut pelajaran Jung seonsaengnim kalau kau sakit. Pelajaran bahasa
akan sayang sekali jika ditinggalkan.” Baiklah, kurasa gadis ini mulai dengan
kalimat-kalimat sok puitisnya. Setelah itu ia pasti akan membahas bahasa, Jung seonsaengnim,
Yoon seonsaengnim, dan segala hal berbau bahasa di kepalanya.
“Baiklah, bisakah kita
mengakhiri pembicaraan?” tanyaku mencoba menghindar dari bahasan yang akan ia
lontarkan setelah ini.
“Kenapa?”
“Yah, kurasa aku mulai bosan.
Begitulah…” aku memutar bola mataku malas.
“Ah, mianhae…”
“Gwaenchanha.”
“Ah, Eun Jung-ah.
Bagaimana jika kita menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membaca sejarah
Bahasa Korea, ne? Bukankah dengan begitu rasa bosanmu akan berkurang?”
Oh,
Tuhan! Makhluk apa yang kini tengah kau pertemukan denganku?
**
Kedua kaki jenjang milikku
melangkah hati-hati memasuki ruang kelas. Pandanganku terus bergulir, mengabsen
satu-satu benda biasa yang tiba-tiba menjadi mencurigakan hari ini. Bukannya
apa-apa, aku hanya sedang waspada.
Plok!
Ups! Nampaknya sesuatu yang belum sempat
kubayangkan tiba-tiba terjadi. Sebuah penghapus papan tulis melesat hebat
menghantam keningku. Aku meringis, menahan pusing dan sakit yang tiba-tiba
menjalari seluruh kepalaku. Sial!
“Ham Eun Jung-ah,
bisa kau kembalikan penghapus itu pada
kami?” seorang pria yang berdiri di sudut kelas menegurku. Kulihat beberapa
pria lain di sekitarnya terkikik geli.
Aku mengeraskan tatapanku pada mereka,
berusaha menunjukkan bahwa aku sebal dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
Aku tahu, mungkin saat ini mereka sedang menjalankan sesuatu yang disebut
kepura-puraan. Mungkin mereka hanya mengerjaiku. Karena hari ini aku tengah
berulang tahun. Yap! Dan kalau memang seperti itu, maka aku harus mengikuti
alur yang telah mereka buat susah payah itu.
Aku akan
berpura-pura marah, agar kue tart itu lekas datang padaku.
“Kalian ini kenapa, sih? Tiba-tiba
melempariku dengan penghapus. Tidak punya perasaan!” keluhku dengan sepenuh
akting yang pernah kupelajari di teater saat sekolah dasar. “Aku sebal dengan
kalian!”
Aku meletakkan tasku ke atas meja, kemudian
meninggalkan kelas. Kuharap nanti saat aku kembali dari luar kelas, sebuah kue
ulang tahun beserta puluhan kado menyambutku. Aku akan berpura-pura tidak tahu
dan menangis terharu pada mereka. Ah, so sweet...
Seumur hidup aku tidak pernah merasakan apa
itu ulang tahun di sekolah, dirayakan teman-teman dengan sejuta kejutan.
Mungkin, karena ulang tahunku berada pada tanggal yang benar-benar tidak
strategis, yakni 12 Desember. Orientasi siswa baru terjadi beberapa bulan
sebelumnya, tentu saja canggung sekali merayakan hari ulang tahun untuk teman
baru. Tapi, aku yakin kali ini aku akan mendapatkannya. Karena tahun ini kelas
tidak diacak seperti tahun-tahun sebelumnya. Ini akan menjadi hari yang ba—
Brukh!
“...Sial.”
Baiklah, mungkin mereka merencanakan hal
itu hingga sejauh ini. Belum sempat aku meraih wastafel, kakiku menginjak
sesuatu yang tampaknya licin. Pasti mereka memberi krim pembersih lantai pada
keramik lantai kamar mandi ini.
Dengan cukup susah payah aku mencoba
bangkit. Dinding wastafel merah maroon itu
jadi tumpuan sementara tubuhku. Sepertinya,
setelah kepalaku pening karena penghapus, tubuhku jadi ikut-ikutan nyeri. Oh,
Tuhan, mereka terlalu rinci merencanakan semua ini.
Kutatap
pantulan diriku di cermin. Berantakan, kata itulah yang baru saja menjelaskan
keadaanku saat ini. Taburan debu kapur di penghapus tadi tampak membasuh
sempurna wajahku, bahkan sebagian rambutku pun sempat terkena imbasnya.
Aku membalik sedikit tubuhku, serong.
Kulihat seragam bagian belakangku sudah basah kuyup. Lekas setelah membersihkan
wajahku dari debu kapur, aku kembali menuju kelas. Kulihat semua
teman-temanku—kecuali Bo Ram tentu saja yang masih asyik dengan buku
bahasanya—bergerombol di depan kalender kelas. Apa, sih?
“Kau yakin, Kyu?” tanya Lee Dong Hae pada pria
di sampingnya, Cho Kyu Hyun.
“Ne. Lagipula untuk apa aku
melingkari kalender tanpa alasan yang jelas? Kau kira aku kurang kerjaan apa?”
jawab Kyu Hyun mantap.
“Lalu siapa yang melakukannya, ya? Padahal
hari ini bukan hari libur atau apapun. Aneh,” Dong Hae tampak bertanya-tanya.
“Ah, mungkin saja itu Jeon Bo Ram! Dia kan
selalu mengatakan hal-hal tidak penting, jadi mungkin saja dia menggambar
lingkaran tidak penting ini di kalender.” Sung Min menimpali.
Kerumunan siswa itu tiba-tiba bubar dalam
kurun waktu beberapa detik. Aku menengok ke arah kalender. Yang kutemukan
pertama kali adalah sumber perdebatan singkat tadi. Hari ulang tahunku. Dan
rupanya... mereka tidak ingat, bahkan tahu bahwa itu hari ulang tahunku.
Artinya apa?
Bencana.
Tak ada kue tart, tak ada kado, bahkan
ucapan selamat ulang tahun sekali pun. Tak ada kejutan, tak ada perhatian
teman-temanku. Sekarang keadaanku sudah begini dan mereka tetap acuh. Rupanya
aku tertipu imajinasiku sendiri. Dan itu—menyakitkan!
**
Bel pulang sekolah baru saja berdering tiga
kali. Seluruh siswa sudah bersiap untuk pulang sejak tadi. Aku pun begitu. Aku
ingin segera pulang setidaknya untuk mengeringkan tubuhku.
“Ham Eun Jung,” suara baritone itu
menghentikan langkahku.
Kulihat Jung seonsaengnim
menghampiriku. Di tangannya setumpuk kertas ujian digenggamnya. Ah, perasaanku
tidak enak.
“Kuharap kau mau membantuku mengoreksi
kertas ujian. Dengan tidak mengurangi—” kalimatnya terpotong.
“—Aku tidak bisa.”
“—Rasa hormat.” Ia menyodorkan sebuah
handuk kecil padaku. “Kau bisa meminjam kemejaku, setidaknya sampai kau selesai
mengoreksi.”
Aku berpikir sejenak.
“Aku bisa saja mengurangi lima angka di
raportmu jika kau menolak tanpa alasan. Ini perintah guru,” ucapnya.
Aku menghela nafas, “Kalau begitu tidak
perlu mengucapkan ‘tolong’ jika itu perintah.”
Pada akhirnya, aku memutuskan untuk
membantunya. Setidaknya, karena ia sudah menyertakan kata ‘tolong’ dengan cukup
sopan.
**
Sudah dua jam aku duduk di kelas dengan
setumpuk kertas-kertas ujian. Hampir tiga perempat dari kertas-kertas itu
kukoreksi. Jung seonsaengnim sudah pergi sejak tadi. Ia bilang akan
kembali dalam setengah jam. Entah kemana perginya, aku juga tak tahu.
Sekilas aku menatap kalender itu. Mungkin
setelah kejadian ini aku tidak akan melakukan hal memalukan itu lagi. Memang
rasanya sikapku terlalu kekanakan, tapi aku hanya ingin meskipun sekali, aku
mendapat kue ulang tahun selain dari orang tuaku.
“Kau sudah menyelesaikan semuanya?” aku
mengalihkan perhatianku pada objek lain di luar kelas. Itu Jung seonsaengnim.
“Apa yang kau bawa itu?” tanyaku melihat
sebuah kotak berukuran sedang di tangannya.
“Ini?” ia tampak menimang-nimang kotak itu.
“Ini kue ulang tahun.”
“Ne?”
“Aku melihat lingkaran itu di kalender. Pasti
kau yang melakukannya,” ia meletakkan kotak itu di depanku. “Saengil chukahae,
Ham Eun Jung.”
“Seonsaengnim...”
Baiklah, memang sejak awal hari ini aku
berakting di depan semuanya. Tapi, kali ini... Air mata yang kukeluarkan
benar-benar spontan. Tiba-tiba saja aku menjadi terharu pada guru sialan itu.
“...Gamsahamnida.”
Untuk pertama kalinya, kulihat Jung seonsaengnim
tersenyum lembut. “Kuharap kau berhenti membasahi kemejaku.”
Sialan! Itu bukan senyuman lembut. Ia hanya
mengingatkanku dengan pinjaman kemejanya.
“Aku tahu,” aku lekas menghapus air mataku.
“Sudah, selesaikan dulu kertas ujian itu!”
ia mengingatkanku kembali dengan pekerjaanku yang sempat tertunda.
“Ne!” teriakku malas.
Tapi, tetap saja aku merasa sangat berterima kasih pada Jung
seonsaengnim.
**
“Namaku
Kim Hyun Joong. Aku akan menggantikan posisi Jung Il Woo seonsaengnim
untuk mata pelajaran Bahasa Korea di kelas ini,” pria itu memperkenalkan diri.
Seluruh
siswa bersorak gembira mendengar tuturan pria berlabel Kim Hyun Joong itu.
Suasana kelas tiba-tiba jadi riuh. Kudengar Jung seonsaengnim dipindah tugaskan entah kemana. Di satu sisi aku
merasa senang, sedangkan di sisi lain aku merasa sebal padanya. Ia bahkan tak
mengatakan apapun kemarin. Ia hanya menemaniku memakan kue tart dan menyuruhku
ini itu.
Mungkin
aku merasa sedikit kehilangan.
“Kalian
bisa mencatat puisi ini kemudian mengidentifikasi maknanya. Setelah itu
silahkan berikan padaku, aku akan mengoreksinya.” Ucap Kim seonsaengnim.
Aku
merogoh kolong mejaku, mencari buku catatan Bahasa Korea di sana. Tiba-tiba
kurasakan tanganku menyentuh sesuatu yang asing. Itu seperti buku, tapi
ukurannya cukup kecil. Mungkin itu buku saku.
Aku
meraihnya. Benar, itu buku saku. Tapi, milik siapa?
Jung Il
Woo’s Note Book
Jung
seonsaengnim?
Aku merasa
nyaman mendapatkan sekolah yang bagus tempatku mengajar. Meski begitu, kurasa
murid-muridku sangat takut padaku. Mungkin karena sikapku yang terlalu dingin
pada mereka. Bukannya apa-apa. Aku hanya ingin mengajarkan satu hal pada mereka
selain Bahasa Korea, yakni mental.
Aku hanya
ingin mendidik mereka dengan benar. Tanpa kekerasan, hanya pelatihan mental
dengan sedikit gaya bahasa dan sikap. Cukup dramatis memang bagi mereka. Tapi,
itulah hidup. Tak selamanya mereka menghadapi orang baik-baik.
Selama ini
aku memiliki ketertarikan pada dua orang siswi di kelasku. Mereka mungkin
sangat berbeda. Jeon Bo Ram
yang sangat suka dengan pelajaranku dan Ham Eun Jung yang sangat membenciku
serta pelajaranku.
Hampir
setiap kali mengajar kulihat Bo
Ram tampak antusias. Sedangkan Ham Eun Jung, ia akan
bermain dengan pensil mekanik di genggamannya. Mungkin ia merasa bosan. Aku
tahu.
Hari itu
aku memintanya keluar dari kelas kemudian menyuruhnya menghafalkan puisi yang
mungkin sama sekali ia tidak tahu. Sebuah puisi cinta. Sepulang sekolah, aku
melihat Eun Jung dan Bo Ram
belajar Bahasa Korea. Dengan susah payah Bo
Ram mengajarkan Eun Jung cara menghafal puisi itu.
Esok
paginya, Eun Jung membaca puisi itu dengan cukup bagus. Hanya saja ada sedikit
insiden kecil yang membuat ia tiba-tiba sangat marah padaku. Ia keluar dari
kelas dan menangis sejadi-jadinya di atap sekolah. Aku berusaha menghiburnya,
meski aku tidak tahu apa itu benar atau tidak.
Hari ini
hari terakhirku mengajar di sekolah ini sebelum aku harus menjalani perawatan
lebih lanjut mengenai penyakitku di sebuah rumah sakit di Jepang. Dengan sangat
terpaksa aku harus meninggalkan pekerjaanku, serta murid-muridku. Aku meminta
pihak sekolah untuk merahasiakan alasan kepergianku dan mengatakan jika aku
dipindah tugaskan ke kota lain. Kuharap mereka akan nyaman bersama guru baru
mereka, Kim Hyun Joong—temanku.
Sebelum
pergi, aku sempat melihat lingkaran kecil di kalender hari ini. Itu hari ulang
tahun seorang muridku, Ham Eun Jung. Aku pergi membeli kue tart untuknya dan
membuat alasan agar ia tetap tinggal di sekolah. Aku memintanya membantuku
mengoreksi hasil ujian. Padahal sebelumnya itu sudah pernah kukoreksi. Hanya
alasan, ya begitulah.
Satu hal
lagi yang perlu kukatakan sebelum aku pergi. Aku memiliki sebuah kesalahan
besar selama mengajar di sekolah ini. Kesalahan terbesarku adalah aku mencintai
muridku yang begitu membenciku. Ham Eun Jung.
Jung
Il Woo, 12-12-2012, SK.
.the end.
Glosarium
:
*Seonsaengnim : guru
*Ne : ya
*Saengil : ulang tahun
*Chukahae : selamat
*Gamsahamnida:
terima kasih
*Mianhamnida : maaf
*Gwaenchanha : tidak apa-apa
*Anhi : tidak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar