Minggu, 21 April 2013

Oh, Seonsaengnim!



Title                    : Oh, Seonsaengnim!

Author               : dita-cHun

Length               : Oneshot

Rating                : PG [Parents Guidance]

Genre                 : AU, School-Life, Romance

Theme Song      : T-Ara—Why Are You Being Like This

Main Cast         :

*Ham Eun Jung [T-Ara]

*Jung Il Woo

*Jeon Bo Ram [T-Ara]

*Lee Dong Hae [Super Junior]

*Cho Kyu Hyun [Super Junior]

*Lee Sung Min [Super Junior]

Language          : Indonesian

Disclaimer        : All casts belong to their management. This story is from my own feeling. So, enjoy! ^^









     “Ck!”

     Aku berdecak sebal. Pensil yang semula berada di tanganku tiba-tiba mendarat darurat ke lantai ketika tanpa sengaja terbentur salah satu sudut mejaku. Dengan malas kuraih pensil itu dan kembali memainkannya seperti semula—sebelum pensil itu jatuh.

     Ruang kelas terasa begitu membosankan. Seorang guru mata pelajaran Bahasa Korea terus mengoceh tanpa henti sejak dimulainya jam pelajaran selepas istirahat. Entah apa yang dijelaskannya saat ini, aku tak terlalu fokus dengan itu. Yang kulakukan sejak tadi tak lebih dari bermain pensil atau membuat coretan tidak penting di atas buku catatan. Aku-sudah-terlalu-bosan. Catat itu.

     Kualihkan pandanganku ke sisi kiri. Dari balik jendela tanpa ventilasi itu aku mampu melihat jelas betapa teriknya matahari siang ini. Andai AC di dalam kelas mati kemudian aku membuka jendela itu, aku mampu membayangkan satu hal. Aku akan mati terbakar.

     Baiklah, aku mulai membicarakan hal-hal tidak jelas. Tampaknya isi kepalaku mulai kacau karena keadaan super membosankan ini. Sebenarnya ada dua cara agar aku tidak bosan lagi. Pertama, mengusir Jung seonsaengnim—yang notabene adalah guru Bahasa Korea kami—dari kelas ini. Kedua, membolos dengan alasan izin ke toilet. Tapi, tampaknya aku tidak akan memilih salah satu di antara keduanya. Alasannya hanya satu, yakni aku tidak pandai melakukan keduanya.

     “Ham Eun Jung,” suara baritone itu terdengar memanggilku dengan lantang dan tegas.

     Ne?” agak terkejut, aku mendongakkan kepalaku.

     “Apa makna dari puisi tersebut?” Jung seonsaengnim menatapku lekat-lekat. Sekilas ia tampak berusaha membenarkan letak kacamatanya yang agak turun.

     “Eh? Aa…” aku melirik Jeon Bo Ram dengan tatapan memohon, mengisyaratkan agar ia memberiku jawaban atas pertanyaan guru sialan itu. Sayang sekali, tampaknya Dewi Fortuna tak sedang berpihak padaku. Jelas sekali tergambar di wajah Bo Ram, ia tak berniat memberikan satu jawaban pun padaku. Dengan kata lain, tampaknya Bo Ram tak mengerti makna tatapanku padanya. Ia masih diam memandangku dengan wajah tak berdosa. Oh, sialan!

     “Silahkan keluar jika tidak ingin mengikuti pelajaran,” sahut Jung seonsaengnim sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya barusan. Aku masih bergeming. “Dengan tidak mengurangi rasa hormat,” lanjutnya sarkastik.

     Aku beringsut dari kursi, tak ingin pria berlabel Jung Il Woo itu mengucapkan kalimat sarkastik lainnya padaku. Selain membosankan, pria ini juga sangat pandai berbicara, terutama dalam melontarkan kalimat-kalimat berbau pisau—tajam.

     Aku meninggalkan ruang kelas dengan perasaan campur aduk, antara kesal dan juga senang. Baiklah, ini memang bukan kali pertama aku diusir dari dalam kelas saat mata pelajaran Bahasa Korea berlangsung. Ini kelima kalinya. Tentu saja ini membuatku malu bukan main terhadap teman-temanku. Aku Ham Eun Jung, siswi kelas 2E Sang Gong Senior High School suatu hari kelak akan balas dendam pada pria itu!

     “Awas saja, kau, Jung seonsaengnim!” geramku pelan begitu aku berdiri di luar kelas.

     “Dendam tidak akan menghasilkan keuntungan apapun,” ucap seseorang dari belakang. Aku kenal betul suara itu. Dengan berat hati kutolehkan kepalaku ke belakang. Tepat!

     Itu Jung seonsaengnim. Mati aku.

     “A—mianhamnida, Jung seonsaengnim…” ucapku menunduk.

     Gwaenchanha,” jawabnya tenang. Aku menghela nafas lega. “…Kau bisa menjelaskan puisi yang kuterangkan tadi tanpa teks di depan kelas besok pagi.”

     Pernyataan Jung seonsaengnim barusan sukses membuatku ternganga hebat. “A-Apa? Menjelaskan puisi tadi tanpa teks?!” ujarku panik. Seingatku daya ingatku ini payah sekali. Mana mungkin aku mampu menghafal puisi laknat itu dalam waktu semalam?

     “Baiklah, sebaiknya kau berlatih agar mereka tak menertawakanmu besok pagi.” Pria itu tersenyum penuh kemenangan kemudian beranjak kembali ke dalam kelas yang semula ditinggalkannya.

     Gawat, aku benar-benar mati kali ini.

**

     Bel berbunyi tiga kali. Ini berarti jam pelajaran terakhir hari ini—yang kebetulan diisi Jung seonsaengnim—telah berakhir. Saatnya untuk kembali ke kelas dengan beban pikiran yang baru kudapat beberapa puluh menit lalu. Kuseret langkahku malas masuk ke dalam kelas. Kujumpai beberapa temanku yang masih tinggal di kelas, termasuk Bo Ram yang masih asyik dengan buku bahasanya.

     Kuputar pandanganku keluar jendela. Tampak langit di luar sana masih membiru dengan terik matahari yang masih sama. Aku melirik sedikit jam tanganku. Jarum panjangnya menunjuk tepat pada angka satu, sedangkan jarum yang lebih pendek menunjuk angka dua. Mungkin masih banyak waktu sebelum besok pagi. Tapi, sekarang aku harus mulai dari mana?

     “Eun Jung-ah,” suara itu sukses membuat perhatianku teralih. Pemilik suara messo-sopran yang memanggilku barusan bukan lain adalah Jeon Bo Ram, temanku yang over innocence hingga sering membuatku didepak Jung seonsaengnim ketika mata pelajaran Bahasa Korea berlangsung.

     “Kau tampak bad mood. Ada yang mengganggumu?” Baiklah, kau lihat bagaimana ia bertanya padaku? Ia yang membuatku terdepak hebat siang ini malah menanyakan apa yang menggangguku.

     Anhi. Hanya sedikit masalah tak penting,” jawabku kemudian mengambil posisi duduk di sampingnya.

     “Mungkin aku bisa membantumu?” ia mengukir segaris senyum di wajah imutnya. Sebenarnya gadis ini tidak terlalu buruk, ia cukup baik. Bantuannya kerap kali tulus pada siapapun, termasuk aku. Namun, tak jarang sikap over innocence-nya itu membuatku berada dalam masalah.

     “Sebenarnya ini tentang puisi yang dijelaskan Jung seonsaengnim tadi,” jawabku akhirnya. “Jung seonsaengnim memintaku menghafalkannya dalam waktu semalam. Oh my…”

     Kurasakan sebuah tangan mungil menepuk pundakku. “Gwaenchanhayo, aku akan membantumu. Lagipula itu tidak sulit, hanya puisi cinta.”

     “Sungguh?!”

     Bo Ram mengangguk mantap. Syukurlah, aku masih mendapatkan satu cahaya kecil untuk masalahku kali ini.

**

     Pagi-pagi sekali aku berangkat ke sekolah. Hari ini aku akan menghadapi Jung seonsaengnim dengan percaya diri. Aku akan membalas tatapannya dengan kesombongan. Kemudian aku akan membalas setiap kalimat tajamnya tak kalah sarkastik dengan bagaimana ia mendepakku dari kelas. Kelak dia akan tahu bagaimana ia harus menghargaiku sebagai murid.

     Semalam aku sudah menghafalkan puisi laknat itu dengan susah payah dan dengan bantuan Bo Ram tentu saja. Ia memberitahuku cara untuk menghafal puisi itu lebih cepat sehingga pagi ini aku akan siap menunjukkan kebolehanku pada Jung seonsaengnim.

     Bel pelajaran pertama berbunyi. Tak perlu waktu lama untuk menunggu kedatangan Jung seonsaengnim ke dalam kelas karena ia memang selalu tepat waktu. Aku terkikik geli membayangkan bagaimana ekspresi Jung seonsaengnim nanti ketika menyaksikanku membaca puisi.

     “Baiklah, sebelum pelajaran ini dimulai, di antara teman kalian ada yang akan menunjukkan kebolehannya berpuisi di depan kelas.” Jung seonsaengnim tampak melirikku sekilas. “Silahkan bagi anda yang merasa. Dengan tidak mengurangi rasa hormat,” lanjutnya sarkastik.

     Aku bangkit dari kursi. Seketika seluruh pasang mata memandang ke arahku. Yang pertama kali kudengar saat aku beranjak dari kursi adalah suara Bo Ram yang bertepuk tangan diikuti kemudian suara gaduh teman-temanku yang keheranan. Aku tidak peduli. Saat ini yang kuinginkan hanya satu.

     Memberi pelajaran Jung seonsaengnim atas semua tindakan buruknya padaku.

     Kulirikkan pandanganku sekilas pada Jung seonsaengnim kemudian kembali menatap angkuh ke seluruh penjuru kelas. Sebuah pensil mekanik cokelat muda tergenggam pada kedua tanganku. Aku harus bisa.

     Bulan Merindukan Matahari

Ketika kusadar redup cahaya tak sampai
Gulita menyergap, hening
Bimbang aku hendak bertanya
Sungguh, aku rindu padamu

Bintang-bintang membuatku cemburu
Mereka sanggup, aku tidak
Mereka tak butuh, aku butuh
Hanya bergantung dan terus merindukanmu

Duhai Matahari, cintaku
Tanpamu aku…

     Kalimat itu berhenti sampai di sana. Tenggorokanku tercekat. Aku lupa apa kelanjutan dari puisi itu. “Aku… Aku…” Pandanganku menerawang, mencoba mengingat kelanjutan kalimat itu.

     “Aku…”

     Lambat laun kurasakan kepercayaan diriku yang semula terbangun sempurna kini remuk sudah. Aku benar-benar tak bisa mengingat kelanjutan puisi itu. Kepalaku terasa kosong. Rasa malu dan kesal beraduk satu di dalam batinku. Aku bingung sekarang harus bagaimana.

     Bagaimana ini?!

     “Ham Eun Jung, bisakah kau melanjutkan puisimu?” suara baritone itu terdengar menyela. Aku makin tertekan keadaan. Aku tidak bisa.

     “Aku…” sebulir air mata melesat dari kelopak mataku. “Aku tidak bisa.”

     Aku menangis, terisak pelan di depan teman-temanku. Aku sudah tak tahu lagi seberapa malunya aku saat ini. Aku benar-benar… sebal.

     Gwaenchanha, kau bisa mencobanya lain waktu…” suara itu membuatku terpaku sejenak. Tangan kekarnya terasa menepuk pelan bahuku. Sontak aku menangkis tepukannya sebelum mendarat untuk kedua kalinya. Kutatap kedua bola mata onyx itu, masih sama tajamnya seperti yang setiap kali kulihat.

     “Aku… membencimu—!” geramku tertahan. Berselang kemudian kulangkahkan kakiku cepat meninggalkan ruang kelas. Aku tidak ingin melihatnya lagi, sungguh! Ck!

**

     Kupijakkan kakiku satu-satu menaiki setiap anak tangga. Lekas kupercepat langkahku begitu aku melihat kilauan cahaya dari puncak tangga. Kilauan itu terasa familiar di mataku. Itu cahaya matahari.

     Kusingkap sedikit rok bagian belakangku ke depan kemudian mengambil posisi duduk di samping pagar pembatas balkon. Dari atas sini aku selalu bisa melihat pemandangan di luar sana serta mendapatkan angin yang cukup untuk mendinginkan tubuh serta kepalaku yang terasa penuh dengan masalah.

     Kutatap langit biru di atas sana. Tidak ada yang berbeda dari hari sebelum-sebelumnya. Bahkan aku selalu berpikir bahwa langit itu adalah langit yang sama sejak aku lahir di dunia ini. Pada kenyataannya, aku tidak tahu. Aku bukan orang kurang kerjaan yang akan mencari buku tentang hal seperti itu. Aku hanya percaya dengan apa yang kupikirkan.

     Dan dalam pikiranku saat ini, Jung seonsaengnim benar-benar bukan orang yang berhati mulia.

     “Sebagai seorang guru, kau itu sombong sekali. Aku tahu kau memang guru paling muda dan paling tampan di antara yang lainnya, tapi kau tidak lebih baik dari mereka. Jujur saja, aku sangat bosan saat mendengarmu berceloteh tentang puisi dan sastra lainnya. Aku sama sekali tak suka dengan cara mengajarmu yang terkesan egois, harusnya kau tahu itu!” aku masih terisak sambil terus berceloteh, meluapkan emosiku yang sempat tertahan. Aku tidak mungkin mengatakan itu pada Jung seonsaengnim, kecuali jika aku tidak ingin naik kelas tahun depan.

     “Mungkin kau hebat bisa menjadi guru di usiamu yang begitu muda, tapi kau tahu? Orang hebat yang sombong itu tak akan bertahan lama. Aku ini sudah lama sekali dendam padamu, ingin mencincangmu halus, ukh!” lanjutku masih terus mengeluh di hadapan dinding yang masih diam bergeming.

     “Perlu keberanian sempurna untuk mencincangku halus,” ucap sebuah suara baritone dari arah belakang. Kulihat Jung seonsaengnim berjalan angkuh menaiki anak tangga satu-satu ke arahku.

     Aku mengeraskan tatapanku padanya. “Kau selalu muncul dimanapun aku menjelek-jelekanmu! Kau ini sebenarnya apa, sih?!”

     “Bukankah memang begitu seharusnya?” ia berdiri menatap langit kemudian balik menatapku. “Bukankah lebih lega ketika menjelek-jelekkan seseorang tepat di hadapannya?”

     Aku diam, kehabisan argumen.

     “Aku bahkan tidak mengerti kenapa kau selalu meminta maaf saat ketahuan mencelaku diam-diam,” ia mengambil posisi duduk tepat di sampingku. “Apa mencela seorang guru diam-diam adalah kesalahan?”

     Aku menoleh. “Itu perbuatan tidak baik.”

     “Begitu?” ia balas menatapku, membuatku kikuk seketika. “Bagiku itu hanya luapan emosi. Setiap manusia tentu memiliki emosi, tak baik menahannya terlalu lama. Aku juga… Saat aku sedang kesal, maka aku akan mengatakannya.”

     Aku hanya diam mendengarnya berceloteh. Entah kenapa saat ia berbicara tadi rasanya berbeda dari biasanya. Apakah ini hanya perasaanku saja atau memang benar begitu, aku tidak tahu. Yang pasti aku merasa kalimatnya tidak setajam biasanya.

     “Tapi, setiap orang itu pasti memiliki dua sisi. Sisi baik dan sisi buruk. Seburuk apapun orang yang kita kenal, ia pasti memiliki kebaikan di sisi lain. Begitu juga sebaliknya. Maka dari itu, aku selalu ragu untuk menarik kesimpulan tentang orang lain…”

     “Kau terlalu cerewet sebagai seorang pria,” tandasku.

     “Kelak kau tidak akan menemui orang lain sepertiku,” jawabnya tenang.

     “Cih, percaya diri sekali!”

**

     Angin musim gugur mendesau lembut, menyibak daun-daun kering yang siap lepas dari rantingnya. Perlahan hawa dingin menyusup melalui celah pintu yang belum sepenuhnya tertutup, menunjukkan bahwa suhu kota sudah turun beberapa derajat dari hari sebelumnya. Bagi kaum yang lumayan alergi dingin, tentu saat-saat seperti ini adalah neraka. Baiklah, satu di antara pengidap alergi ini adalah aku dan ini tentu begitu menyebalkan.

     Aku ingin melupakan sejenak tentang apa yang sedang terjadi di luar sana. Untuk kesekian kalinya aku menengok ke arah kalender. Mendekatinya, kemudian menatapnya penuh harap. Kulihat sebuah tanda melingkar berwarna merah terpajang apik di salah satu angka pada bulan Desember. Tanggal 12 Desember. Aku ingat betul bahwa ini adalah kalender milik kelas, bukan milikku pribadi. Alasan kenapa lingkaran merah itu ada di sana adalah aku. Akulah yang menggoreskan tinta spidol merah sedemikian rupa hingga terbentuk tanda itu. Aku ingin teman-temanku sadar akan tanggal itu, kemudian membeli sebuah kue berdiameter 40 cm untuk kejutanku di hari itu!

     Hari ulang tahunku.

     Akan lebih baik jika aku berpura-pura tidak ingat dengan hari ulang tahunku! Ya. Dengan begitu mereka bisa menyebut kue itu dengan “Surprise for Ham Eun Jung 17th Birthday”! Aih~

     “Eun Jung-ah, sedang apa kau di situ?” suara itu sukses membuyarkan lamunan panjangku barusan.

     “A-Ah, Anhi. Anhiyo.” Aku mengelak.

     Pemilik suara messo-sopran itu mendekat, menyibak poniku sekilas. “Apa kau sedang tidak sehat?” Tangan mungilnya menyentuh keningku, menyesuaikan dengan suhu pada tubuhnya sendiri.

     Aku menggeleng. “Aku merasa baik-baik saja, Bo Ram. Tidak perlu khawatir.”

     “Sungguh?” Bo Ram tampak memastikan. Aku mengangguk mantap padanya.

     “Aku hanya khawatir kau tidak bisa ikut pelajaran Jung seonsaengnim kalau kau sakit. Pelajaran bahasa akan sayang sekali jika ditinggalkan.” Baiklah, kurasa gadis ini mulai dengan kalimat-kalimat sok puitisnya. Setelah itu ia pasti akan membahas bahasa, Jung seonsaengnim, Yoon seonsaengnim, dan segala hal berbau bahasa di kepalanya.

     “Baiklah, bisakah kita mengakhiri pembicaraan?” tanyaku mencoba menghindar dari bahasan yang akan ia lontarkan setelah ini.

     “Kenapa?”

     “Yah, kurasa aku mulai bosan. Begitulah…” aku memutar bola mataku malas.

     “Ah, mianhae…”

     Gwaenchanha.”

     “Ah, Eun Jung-ah. Bagaimana jika kita menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membaca sejarah Bahasa Korea, ne? Bukankah dengan begitu rasa bosanmu akan berkurang?”

     Oh, Tuhan! Makhluk apa yang kini tengah kau pertemukan denganku?

**

     Kedua kaki jenjang milikku melangkah hati-hati memasuki ruang kelas. Pandanganku terus bergulir, mengabsen satu-satu benda biasa yang tiba-tiba menjadi mencurigakan hari ini. Bukannya apa-apa, aku hanya sedang waspada.

     Plok!

     Ups! Nampaknya sesuatu yang belum sempat kubayangkan tiba-tiba terjadi. Sebuah penghapus papan tulis melesat hebat menghantam keningku. Aku meringis, menahan pusing dan sakit yang tiba-tiba menjalari seluruh kepalaku. Sial!

     “Ham Eun Jung-ah, bisa kau kembalikan penghapus itu  pada kami?” seorang pria yang berdiri di sudut kelas menegurku. Kulihat beberapa pria lain di sekitarnya terkikik geli.

     Aku mengeraskan tatapanku pada mereka, berusaha menunjukkan bahwa aku sebal dengan apa yang baru saja mereka lakukan. Aku tahu, mungkin saat ini mereka sedang menjalankan sesuatu yang disebut kepura-puraan. Mungkin mereka hanya mengerjaiku. Karena hari ini aku tengah berulang tahun. Yap! Dan kalau memang seperti itu, maka aku harus mengikuti alur yang telah mereka buat susah payah itu.

     Aku akan berpura-pura marah, agar kue tart itu lekas datang padaku.

     “Kalian ini kenapa, sih? Tiba-tiba melempariku dengan penghapus. Tidak punya perasaan!” keluhku dengan sepenuh akting yang pernah kupelajari di teater saat sekolah dasar. “Aku sebal dengan kalian!”

     Aku meletakkan tasku ke atas meja, kemudian meninggalkan kelas. Kuharap nanti saat aku kembali dari luar kelas, sebuah kue ulang tahun beserta puluhan kado menyambutku. Aku akan berpura-pura tidak tahu dan menangis terharu pada mereka. Ah, so sweet...
    
     Seumur hidup aku tidak pernah merasakan apa itu ulang tahun di sekolah, dirayakan teman-teman dengan sejuta kejutan. Mungkin, karena ulang tahunku berada pada tanggal yang benar-benar tidak strategis, yakni 12 Desember. Orientasi siswa baru terjadi beberapa bulan sebelumnya, tentu saja canggung sekali merayakan hari ulang tahun untuk teman baru. Tapi, aku yakin kali ini aku akan mendapatkannya. Karena tahun ini kelas tidak diacak seperti tahun-tahun sebelumnya. Ini akan menjadi hari yang ba—

     Brukh!

     “...Sial.”

     Baiklah, mungkin mereka merencanakan hal itu hingga sejauh ini. Belum sempat aku meraih wastafel, kakiku menginjak sesuatu yang tampaknya licin. Pasti mereka memberi krim pembersih lantai pada keramik lantai kamar mandi ini.

     Dengan cukup susah payah aku mencoba bangkit. Dinding wastafel merah maroon itu jadi tumpuan sementara tubuhku. Sepertinya, setelah kepalaku pening karena penghapus, tubuhku jadi ikut-ikutan nyeri. Oh, Tuhan, mereka terlalu rinci merencanakan semua ini.

     Kutatap pantulan diriku di cermin. Berantakan, kata itulah yang baru saja menjelaskan keadaanku saat ini. Taburan debu kapur di penghapus tadi tampak membasuh sempurna wajahku, bahkan sebagian rambutku pun sempat terkena imbasnya.

     Aku membalik sedikit tubuhku, serong. Kulihat seragam bagian belakangku sudah basah kuyup. Lekas setelah membersihkan wajahku dari debu kapur, aku kembali menuju kelas. Kulihat semua teman-temanku—kecuali Bo Ram tentu saja yang masih asyik dengan buku bahasanya—bergerombol di depan kalender kelas. Apa, sih?

     “Kau yakin, Kyu?” tanya Lee Dong Hae pada pria di sampingnya, Cho Kyu Hyun.

     Ne. Lagipula untuk apa aku melingkari kalender tanpa alasan yang jelas? Kau kira aku kurang kerjaan apa?” jawab Kyu Hyun mantap.

     “Lalu siapa yang melakukannya, ya? Padahal hari ini bukan hari libur atau apapun. Aneh,” Dong Hae tampak bertanya-tanya.

     “Ah, mungkin saja itu Jeon Bo Ram! Dia kan selalu mengatakan hal-hal tidak penting, jadi mungkin saja dia menggambar lingkaran tidak penting ini di kalender.” Sung Min menimpali.

     Kerumunan siswa itu tiba-tiba bubar dalam kurun waktu beberapa detik. Aku menengok ke arah kalender. Yang kutemukan pertama kali adalah sumber perdebatan singkat tadi. Hari ulang tahunku. Dan rupanya... mereka tidak ingat, bahkan tahu bahwa itu hari ulang tahunku.

     Artinya apa?

     Bencana.

     Tak ada kue tart, tak ada kado, bahkan ucapan selamat ulang tahun sekali pun. Tak ada kejutan, tak ada perhatian teman-temanku. Sekarang keadaanku sudah begini dan mereka tetap acuh. Rupanya aku tertipu imajinasiku sendiri. Dan itu—menyakitkan!

**

     Bel pulang sekolah baru saja berdering tiga kali. Seluruh siswa sudah bersiap untuk pulang sejak tadi. Aku pun begitu. Aku ingin segera pulang setidaknya untuk mengeringkan tubuhku.

     “Ham Eun Jung,” suara baritone itu menghentikan langkahku.

     Kulihat Jung seonsaengnim menghampiriku. Di tangannya setumpuk kertas ujian digenggamnya. Ah, perasaanku tidak enak.

     “Kuharap kau mau membantuku mengoreksi kertas ujian. Dengan tidak mengurangi—” kalimatnya terpotong.

     “—Aku tidak bisa.”

     “—Rasa hormat.” Ia menyodorkan sebuah handuk kecil padaku. “Kau bisa meminjam kemejaku, setidaknya sampai kau selesai mengoreksi.”

     Aku berpikir sejenak.

     “Aku bisa saja mengurangi lima angka di raportmu jika kau menolak tanpa alasan. Ini perintah guru,” ucapnya.

     Aku menghela nafas, “Kalau begitu tidak perlu mengucapkan ‘tolong’ jika itu perintah.”

     Pada akhirnya, aku memutuskan untuk membantunya. Setidaknya, karena ia sudah menyertakan kata ‘tolong’ dengan cukup sopan.

**

     Sudah dua jam aku duduk di kelas dengan setumpuk kertas-kertas ujian. Hampir tiga perempat dari kertas-kertas itu kukoreksi. Jung seonsaengnim sudah pergi sejak tadi. Ia bilang akan kembali dalam setengah jam. Entah kemana perginya, aku juga tak tahu.

     Sekilas aku menatap kalender itu. Mungkin setelah kejadian ini aku tidak akan melakukan hal memalukan itu lagi. Memang rasanya sikapku terlalu kekanakan, tapi aku hanya ingin meskipun sekali, aku mendapat kue ulang tahun selain dari orang tuaku.

     “Kau sudah menyelesaikan semuanya?” aku mengalihkan perhatianku pada objek lain di luar kelas. Itu Jung seonsaengnim.

     “Apa yang kau bawa itu?” tanyaku melihat sebuah kotak berukuran sedang di tangannya.

     “Ini?” ia tampak menimang-nimang kotak itu. “Ini kue ulang tahun.”

     Ne?”

     “Aku melihat lingkaran itu di kalender. Pasti kau yang melakukannya,” ia meletakkan kotak itu di depanku. “Saengil chukahae, Ham Eun Jung.”

     Seonsaengnim...”

     Baiklah, memang sejak awal hari ini aku berakting di depan semuanya. Tapi, kali ini... Air mata yang kukeluarkan benar-benar spontan. Tiba-tiba saja aku menjadi terharu pada guru sialan itu.

     “...Gamsahamnida.”

     Untuk pertama kalinya, kulihat Jung seonsaengnim tersenyum lembut. “Kuharap kau berhenti membasahi kemejaku.”

     Sialan! Itu bukan senyuman lembut. Ia hanya mengingatkanku dengan pinjaman kemejanya.

     “Aku tahu,” aku lekas menghapus air mataku.

     “Sudah, selesaikan dulu kertas ujian itu!” ia mengingatkanku kembali dengan pekerjaanku yang sempat tertunda.

     Ne!” teriakku malas.

     Tapi, tetap saja aku merasa sangat berterima kasih pada Jung seonsaengnim.

**

     “Namaku Kim Hyun Joong. Aku akan menggantikan posisi Jung Il Woo seonsaengnim untuk mata pelajaran Bahasa Korea di kelas ini,” pria itu memperkenalkan diri.

     Seluruh siswa bersorak gembira mendengar tuturan pria berlabel Kim Hyun Joong itu. Suasana kelas tiba-tiba jadi riuh. Kudengar Jung seonsaengnim dipindah tugaskan entah kemana. Di satu sisi aku merasa senang, sedangkan di sisi lain aku merasa sebal padanya. Ia bahkan tak mengatakan apapun kemarin. Ia hanya menemaniku memakan kue tart dan menyuruhku ini itu.

     Mungkin aku merasa sedikit kehilangan.

     “Kalian bisa mencatat puisi ini kemudian mengidentifikasi maknanya. Setelah itu silahkan berikan padaku, aku akan mengoreksinya.” Ucap Kim seonsaengnim.

     Aku merogoh kolong mejaku, mencari buku catatan Bahasa Korea di sana. Tiba-tiba kurasakan tanganku menyentuh sesuatu yang asing. Itu seperti buku, tapi ukurannya cukup kecil. Mungkin itu buku saku.

     Aku meraihnya. Benar, itu buku saku. Tapi, milik siapa?

     Jung Il Woo’s Note Book

     Jung seonsaengnim?

     Aku merasa nyaman mendapatkan sekolah yang bagus tempatku mengajar. Meski begitu, kurasa murid-muridku sangat takut padaku. Mungkin karena sikapku yang terlalu dingin pada mereka. Bukannya apa-apa. Aku hanya ingin mengajarkan satu hal pada mereka selain Bahasa Korea, yakni mental.

     Aku hanya ingin mendidik mereka dengan benar. Tanpa kekerasan, hanya pelatihan mental dengan sedikit gaya bahasa dan sikap. Cukup dramatis memang bagi mereka. Tapi, itulah hidup. Tak selamanya mereka menghadapi orang baik-baik.

     Selama ini aku memiliki ketertarikan pada dua orang siswi di kelasku. Mereka mungkin sangat berbeda. Jeon Bo Ram yang sangat suka dengan pelajaranku dan Ham Eun Jung yang sangat membenciku serta pelajaranku.

     Hampir setiap kali mengajar kulihat Bo Ram tampak antusias. Sedangkan Ham Eun Jung, ia akan bermain dengan pensil mekanik di genggamannya. Mungkin ia merasa bosan. Aku tahu.

     Hari itu aku memintanya keluar dari kelas kemudian menyuruhnya menghafalkan puisi yang mungkin sama sekali ia tidak tahu. Sebuah puisi cinta. Sepulang sekolah, aku melihat Eun Jung dan Bo Ram belajar Bahasa Korea. Dengan susah payah Bo Ram mengajarkan Eun Jung cara menghafal puisi itu.

     Esok paginya, Eun Jung membaca puisi itu dengan cukup bagus. Hanya saja ada sedikit insiden kecil yang membuat ia tiba-tiba sangat marah padaku. Ia keluar dari kelas dan menangis sejadi-jadinya di atap sekolah. Aku berusaha menghiburnya, meski aku tidak tahu apa itu benar atau tidak.

     Hari ini hari terakhirku mengajar di sekolah ini sebelum aku harus menjalani perawatan lebih lanjut mengenai penyakitku di sebuah rumah sakit di Jepang. Dengan sangat terpaksa aku harus meninggalkan pekerjaanku, serta murid-muridku. Aku meminta pihak sekolah untuk merahasiakan alasan kepergianku dan mengatakan jika aku dipindah tugaskan ke kota lain. Kuharap mereka akan nyaman bersama guru baru mereka, Kim Hyun Joong—temanku.

     Sebelum pergi, aku sempat melihat lingkaran kecil di kalender hari ini. Itu hari ulang tahun seorang muridku, Ham Eun Jung. Aku pergi membeli kue tart untuknya dan membuat alasan agar ia tetap tinggal di sekolah. Aku memintanya membantuku mengoreksi hasil ujian. Padahal sebelumnya itu sudah pernah kukoreksi. Hanya alasan, ya begitulah.

     Satu hal lagi yang perlu kukatakan sebelum aku pergi. Aku memiliki sebuah kesalahan besar selama mengajar di sekolah ini. Kesalahan terbesarku adalah aku mencintai muridku yang begitu membenciku. Ham Eun Jung.




     Jung Il Woo, 12-12-2012, SK.









.the end.

Glosarium :

*Seonsaengnim        : guru
*Ne                     : ya
*Saengil             : ulang tahun
*Chukahae       : selamat
*Gamsahamnida: terima kasih
*Mianhamnida : maaf
*Gwaenchanha        : tidak apa-apa
*Anhi                 : tidak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar