Title
: Beautiful…
Author
: dita-cHun © 2012
Length
: Oneshot
Rating
: G [General]
Genre
: AU, Hurt/Comfort, Angst, Little bit of Romance, Little bit of Friendship ^^V
Theme
Song : Kiss—Because I’m a Girl
Cast
:
*Ham Eun Jung
*Goo Hye Sun
*Cho Kyu Hyun
POV
: Ham Eun Jung
Language
: Indonesian
Disclaimer
: Ham Eun Jung, Goo Hye Sun, and Cho Kyu Hyun belong to their management. This
story is from my own feeling. So, enjoy! ^^
Warning
: ~geje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya xD
Note
: saya kembali! *Plak xD Ok, happy reading! ^^V *admin digiles
Goo
Hye Sun sunbae.
Tiap aku
melihat gadis itu melintas di hadapanku, perasaanku jadi buruk. Aku tahu benar
dia sunbae-ku di sekolah ini. Dan aku juga sangat menghormatinya dari
sudut pandang junior kepada senior. Hanya saja, entah kenapa ketika aku
melihatnya—baik pandangan kami bertemu atau tidak—aku selalu merasa tidak
nyaman. Untuk jarak sekian menit kemudian aku menjadi enggan menengok ke arah
cermin, melirik pun aku enggan. Aku seolah mendengar cermin itu berbicara kasar
padaku, mencercaku habis-habisan. Hei, rasa sakit itu terlalu mengerikan
menghujam jantungku!
Aku tidak
mengerti, kenapa perasaan aneh itu selalu menyergapku kala aku berpapasan
dengan setiap cermin usai melihat Goo Hye Sun sunbae. Ia memang cantik
dan menarik. Ia berbakat di semua bidang akademi dan beberapa bidang non-akademi.
Ia baik, bahkan sangat baik padaku. Bagaimana aku bisa demikian iri padanya?
Mungkin,
ini karena aku tengah merasakan ketidak adilan yang terlalu berat sebelah.
**
Lagi-lagi
aku melirik ke arah cermin. Tampak pantulan diriku yang masih sama seperti
beberapa menit lalu. Menurutku, aku tidak terlalu buruk dari segi seorang
gadis. Aku memang tidak cantik, tapi aku pasti memiliki hal yang bisa aku
banggakan. Meskipun sedikit, aku percaya itu.
Tapi,
apa itu?
“Eun Jung-ah,”
suara itu terdengar familiar di telingaku. Sama sekali bukan suara yang asing
dan nada suara itu terdengar begitu menyenangkan. Aku menoleh. Kudapati sesosok
pria jangkung berdiri tak jauh dari tempatku saat ini. Berselang kemudian ia
tampak berlari kecil ke arahku. “Cho Kyu Hyun sunbae.”
“Sedang
sibuk?” suara baritone itu menelusup ke dalam pendengaranku. Pria
berlabel Cho Kyu Hyun itu tengah mengurangi langkahnya yang kian dekat
denganku, sampai akhirnya kedua kaki jenjang miliknya berhenti sekitar satu
meter di hadapanku.
Pertanyaannya barusan lekas kujawab dengan gelengan, “Tidak terlalu sibuk, kok.
Ada apa, sunbae?”
“Tidak ada
yang istimewa, sih.” Kyu Hyun sunbae tampak memijat tengkuknya. Aku
mengangkat alis, mengisyaratkan permintaan penjelasan dari kalimat yang baru
saja meluncur dari bibirnya. “Sebenarnya aku ingin mengundangmu ke pameran
besok lusa, kebetulan lukisanku ikut partisipasi di sana…” sambungnya kemudian.
Aku mengangguk paham.
“Tanpa kau
minta pun aku akan datang, sunbae,” ujarku yakin. “Lagipula aku sudah
lihat pengumuman pameran itu di madding,” kusungging segaris senyum
padanya. Tak butuh waktu lama hingga ia membalas senyumanku, “Gomawoyo, Eun
Jung-ah…”
**
Dengan
ragu aku melangkahkan kakiku menyusuri koridor sekolah yang akan membawaku ke
sebuah ruang kelas yang sebenarnya sama sekali tak ingin kumasuki. Itu ruang
kelas 3A. Memang bukan ruang kelas yang istimewa, tapi cukup membuat perasaanku
menjadi tidak enak seketika. Aku sama sekali tidak berminat pergi ke sana andai
saja Yoon seonsaengnim tidak memintaku mengantarkan berkas-berkas ini
ke sana.
“Ham Eun
Jung?” kurasa bukan waktu yang tepat ketika suara itu menyergapku dari arah
belakang. Mungkin juga tidak akan pernah ada waktu yang tepat bagi kami, meksi
hanya sekedar untuk berpapasan di jalan. Dengan ragu, kutengokkan wajahku ke
arah belakang. Meski aku sudah tahu siapa pemilik suara selembut kapas itu,
tapi bukankah tidak sopan jika aku pura-pura tidak mendengar dan terus berlalu?
Kurasa
aku masih memiliki sopan santun, setidaknya dari segi junior terhadap senior.
“Goo Hye
Sun sunbae, kau di sini juga?” tanyaku berbasa-basi.
Kulihat
gadis yang kini berada di hadapanku itu mengulum senyum tipis di wajahnya. “Kau
mau kemana?”
“Ah,
kebetulan sekali, aku mau ke kelas 3A. Kudengar, itu kelasmu, kan, sunbae?”
sudah kedua kalinya aku melontarkan pertanyaan tidak penting padanya.
Pertanyaan yang tentu saja kutahu jawabannya adalah ‘iya’. Aku hanya tidak tahu
bagaimana aku harus menyikapi situasi saat ini. Aku benar-benar merasa kurang
nyaman.
“Kau perlu
bantuan?” tawarnya ramah. Sebelum mulutku melontarkan sepatah kata pun,
jemari-jemari lentik yang biasa menyentuh tuts piano miliknya itu sudah meraih
setengah bagian dari berkas-berkas di genggamanku. Samar-samar aku melihatnya
kembali mengukir segaris senyum. “Kalau kau sangat sibuk, kau bisa meminta
bantuanku kapan saja, Eun Jung-ah. Tidak perlu sungkan. Bukankah kita
kenal sejak lama?”
Bagiku, pertanyaan
yang baru saja dilontarkannya itu tidak membutuhkan jawaban apapun. Aku hanya
mengukir senyum tipis padanya sebagai isyarat kalau aku menyimak pertanyaannya
barusan. Tidak perlu waktu lama hingga kami sampai di depan pintu ruang kelas
3A.
“Gomawoyo,
sunbae…” ucapku mencoba berterima kasih atas bantuannya barusan. Gadis itu
mengerling samar, “Sisanya biar aku yang membagikannya sendiri, ok?”
Aku
mengangguk paham dan dengan langkah mantap lekas kutinggalkan ruang kelas 3A
dan Hye Sun sunbae yang masih terpaku di sana. Kupercepat langkahku
satu setengah kali lipat lebih cepat dari sebelumnya ketika bayangan Hye Sun sunbae
kembali berkelebat dalam ingatanku. Gadis itu… seniorku. Aku tidak tahu
apa yang salah padanya atau padaku.
‘Eun
Jung-ah,’ aku merasa cermin ukuran setengah meter di hadapanku seolah
memanggilku. Meski ragu, aku tetap mencoba mendekat. Kulihat pantulan diriku
yang masih sama persis seperti saat aku bercermin sebelumnya. Aku masih Ham Eun
Jung yang tidak cantik. Aku sama sekali tidak menarik.
‘Kau
baru sadar kalau kau buruk rupa, hm?’ suara itu kembali menelusup ke dalam
pendengaranku, meskipun terdengar sangat samar.
Mungkin
benar. Mata minus-ku terlihat makin ‘sempurna’ dibingkai kacamata berframe
lebar.—menunjukkan betapa ‘lucunya’ penampilan seorang gadis sekolah menengah
sepertiku. Rok yang berwarna senada dengan blazer seragamku memang
bukan hal yang aneh, karena itulah tuntutan sekolah. Tapi, ukurannya
benar-benar nyaris selututku dan ini bukan fashion di kalangan remaja
seperti teman-temanku. Ini hanya karena aku merasa rok terlalu pendek pasti
akan membuatku sangat malu saat menggunakannya.
‘Kau
tidak mengerti fashion. Lihat Hye Sun sunbae! Dia cantik, menarik, dan mengerti
fashion. Sekarang apa yang masih bisa kau banggakan dari dirimu, huh? Ham Eun
Jung…’
Demi
apapun, kuharap cermin itu diam!
Butiran-butiran bening melesat keluar dari pelupuk mataku kala itu juga. Bukan
karena aku terluka dengan kalimat cermin itu, tidak! Ini hanya karena aku sadar
bahwa ucapan cermin itu tidak salah. Sama sekali tidak salah. Aku hanya merasa
jadi menyedihkan saat aku menyadari hal itu lagi dan lagi. Satu hal bahwa aku
tidak cantik. Tidak bisa cantik seperti Goo Hye Sun sunbae.
**
Untuk
kesekian kalinya aku mencoba merapikan kemejaku. Aku tidak ingin pakaianku
tampak buruk di hadapan Cho Kyu Hyun sunbae nanti. Apalagi ini acara
yang cukup penting bagi sunbae. Hari ini ia debut lewat beberapa
lukisannya yang lolos seleksi untuk pameran. Tentu saja aku harus tampak
benar-benar rapi di hadapannya.
“Apa perlu
memakai riasan tipis, ya?” gumamku di depan cermin. Dihitung-hitung, sudah
sekitar setengah jam lebih aku berada di dalam kamar, merapikan kemejaku, dan
mengatur dandananku di depan cermin. “Ah, mungkin sedikit lipgloss bagus juga.”
Masih
terus berkutat dengan alat make-up di hadapanku, tiba-tiba suara
ketukan pintu sukses membuyarkan konsentrasiku. Aku lekas menyambar knop pintu
kamar tak jauh dari tempatku semula. Begitu pintu terbuka sepertiga, aku
melihat sosok wanita paruh baya tengah berdiri menghadap ke arah pintu. Itu
ibuku.
“Eun Jung-ah,
ada yang mencarimu, tuh!” Ibu mengedik ke arah luar, mencoba mengisyaratkan
seseorang sedang menungguku di sana. Aku menengok sekilas, mencoba mengintip
siapa yang malam-malam begini tiba-tiba mencariku. Merasa masih belum melihat
sosok orang yang mencariku itu, aku mencoba menatap lebih intens ke arah luar.
Namun, seberapa keras aku mencoba, aku masih belum dapat menjumpainya. Tidak
kelihatan.
“Dilihat
bagaimana pun tidak akan kelihatan kalau kau lihat dari sini. Sudah, temui dia
sana.” Perintah Ibu. Aku hanya mengangguk patuh dan lekas berjalan ke arah
luar. “Nugu?” sapaku.
“Ah, Eun
Jung-ah…” gadis itu menengok ke arahku. Tak perlu waktu lama hingga ia
menyungging segaris senyum padaku.
“Sunbae…”
kubalas senyumnya baru saja dengan sebuah senyum masam. Kukira yang datang Cho
Kyu Hyun sunbae. Ternyata malah dia—Goo Hye Sun sunbae.
Tapi, kenapa dia tiba-tiba ada di sini? Dan pakaiannya itu kenapa begitu rapi?
“Eh… Kau
kelihatan cantik sekali, Eun Jung-ah…” pujinya usai beberapa mili
detik yang lalu ia menatapku sekilas. “Cho Kyu Hyun pasti akan langsung
terpesona padamu…”
“Eh?”
“Jangan
kira bisa menyembunyikan itu dariku, ya…” goda Hye Sun sunbae. “Kau
menyukainya, kan?”
“Sunbae…”
mungkin wajahku sudah semerah tomat saat ini. Aku benar-benar tidak bisa
menyembunyikan perasaanku bahwa aku menyukai Cho Kyu Hyun sunbae sejak
lama.
“Tenang
saja, aku tidak akan membeberkan hal itu di depannya, kok! Aku bisa menjaga
rahasia, hm?” ucap Hye Sun sunbae sembari meletakkan telunjuknya
tepat di depan bibirnya—isyarat bahwa ia akan diam tentang hal ini. Kulihat ia
mengerling samar padaku dan aku… Sama sekali tidak merasa terganggu dengan
aktivitasnya barusan? Kenapa tiba-tiba, eh?
“Sunbae,
ada yang ingin kutanyakan padamu.”
“Hm?
Katakan saja,” ucapnya ramah.
“Sebenarnya… Bagaimana menjadi cantik itu? Cantik sepertimu…” mungkin ini
memang lucu. Tapi, aku benar-benar menginginkan jawaban dari Hye Sun sunbae
langsung. Aku ingin tahu bagaimana menjadi cantik itu.
Kulihat ia
terdiam sejenak, mungkin sedang berpikir. “Kurasa itu mudah!” ujarnya
tiba-tiba. Aku mengangkat kedua bahuku bersamaan, mengisyaratkan bahwa aku sama
sekali tak paham.
“Jadilah
dirimu sendiri, jadilah nyaman. Setelah kau nyaman, kau akan tahu bagaimana
caranya menjadi cantik versimu!” ia diam sejenak. “…Kurasa kecantikan itu
relatif. Jadi, tidak bisa diukur dengan kata cantik sepertimu.
Setiap orang punya sisi kecantikan masing-masing. Jadi, yakinkan dirimu kalau
kau itu pada dasarnya cantik. Maka, kecantikan itu akan datang padamu dengan
sendirinya.”
Aku diam
sejenak menyimak penjelasannya. “Contohnya pita ini…” jemari-jemari miliknya
itu kini tengah menarik lembut pita kemejaku yang semula tersimpul rapi,
sehingga simpulannya terlepas sekali tarik. “Menurutmu pita ini cocok tidak
dengan kemejamu?”
“Kurasa
warna peach bagus juga dipadukan dengan putih. Jadi, jawabanku ini
cocok.” jawabku.
“Baiklah,
lalu bagaimana kau menyimpulnya sedemikian rupa tadi?” tanyanya lagi. Kali ini
ia mempersilahkanku untuk menyimpul kembali pita itu. Aku hanya menurut dan
menyimpul pita itu seperti sebelumnya.
“Cantik,
kan?” ucap sunbae usai aku menyelesaikan simpulanku.
“Eh?” aku
menengok ke arah pita yang sudah bersimpul menghias kemejaku itu, mencoba
menelaah ucapan sunbae barusan. “Ini—”
“Ya,
itulah cantik ala Ham Eun Jung. Cantik yang kau ciptakan dari simpulanmu
sendiri…”
Perlahan
aku mencoba mengerti, bagaimana caranya menjadi cantik dari setiap kalimat yang
terlontar dari bibir Goo Hye Sun sunbae.
**
“Cho
Kyu Hyun pasti akan langsung terpesona padamu…”
Kalimat
itu kembali terngiang di telingaku. Aku masih ingat betul apa yang baru
dilontarkan Goo Hye Sun sunbae padaku sekitar seperempat jam yang
lalu. Terdengar begitu jelas di telingaku, rasanya seperti baru saja kudengar.
Hei, apa itu benar?
“Cho Kyu
Hyun!” aku kembali bangun dari lamunanku ketika suara Hye Sun sunbae memekak
keras dalam telingaku. Ia memang tidak sedang berbicara padaku, tidak juga
sedang memanggilku. Ia hanya sedang memanggil seorang pria berjas hitam yang
berdiri tak jauh di hadapan kami—Cho Kyu Hyun sunbae. Dari tempat kami
berdiri, terlihat jelas segaris senyum tampak melintas sekilas di wajahnya.
“Ya,
kalian terlambat sepuluh menit,” tukas Kyu Hyun sunbae pada kami begitu
ia sudah berada tepat di hadapan kami.
“Mianhaeyo,
kau tahu kan… wanita…” ucap Hye Sun sunbae pada Kyu Hyun sunbae sambil
membingkai pipinya dengan tangan kanannya, seolah berbisik. Tak lama setelah
itu mereka tertawa bersamaan. Aku yang sama sekali tidak paham hanya membaur
pada tawa mereka tanpa bertanya satu hal pun.
Aku
memang mencoba mengerti, tapi aku tidak benar-benar mengerti.
“Cho Kyu
Hyun, hari ini Eun Jung tampak cantik, kan?” celetuk Hye Sun sunbae
tiba-tiba. Aku melirik sedikit ke arah Kyu Hyun sunbae, kali ini ia
tengah menatapku dari atas ke bawah hingga ke atas lagi. Cukup intens.
“Ne,
bukankah dia memang selalu cantik?” ucap Kyu Hyun sunbae tiba-tiba.
Kalimatnya terdengar agak kasar di telingaku. Kata ‘cantik’ ia tekan sedikit
pada ucapannya itu. Apa maksudnya?
Kudengar
Hye Sun sunbae tertawa cukup keras menanggapi kalimat Kyu Hyun sunbae
barusan. Berselang kemudian ia berkata, “Ne, tapi hari ini ia
lebih cantik, begitu maksudku.”
Entah
kenapa ucapan Kyu Hyun sunbae dan tawa Hye Sun sunbae barusan
membuat dadaku terasa sesak. Apa itu semacam ejekan? Aku tidak tahu. Yang pasti
telingaku begitu risih mendengar mereka seperti itu. Sama sekali tidak enak
pada telingaku dan juga perasaanku.
“E…”
celetukku tiba-tiba. “Aku permisi ke toilet sebentar.”
Tak
berselang setelah kalimatku usai, aku lekas melangkah menjauh dari mereka.
Kutatap kaki-kaki jenjang yang berarak sejalan dengan arahku. Aku tidak berani
membusungkan dada, bahkan untuk mengangkat wajahku pun aku merasa ragu. Aku
tidak cantik, kan? Mereka membual, kan?
Seberapa
pun mereka berkata aku cantik, aku sama sekali tidak merasa cantik.
Sesampaiku
di toilet, lekas kubasuh sedikit tanganku yang mulai terasa dingin karena
beberapa AC dengan suhu rendah di luar sana. Pandanganku kembali berhenti pada
cermin yang menempel pada dinding searah horizontal di hadapanku.
Aku
yang sekarang ini pun, masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Goo Hye
Sun sunbae.
Perlahan
tanganku merayap, meraih kedua telingaku yang tak kalah dingin dari
jemari-jemariku yang masih basah. Mungkin, dekapanku sudah cukup rapat. Namun,
masih belum cukup rapat untuk menghapus suara air kran yang terus mengalir
membanjir di atas wastafel. Suara-suara itu kembali terngiang di telingaku.
Hentikan!
‘Goo
Hye Sun sunbae terlalu cantik dibandingkan denganmu. Kenapa kau selalu tampak
menyedihkan, Ham Eun Jung?’
PRANG!!
Perlahan
kurasakan perih mulai merambat pada kelima buku-buku jariku yang masih terkepal
kuat. Perih itu seketika menyita pandanganku, tampak darah segar mengalir dari
tiap buku jemariku. Aroma darah yang tercium samar menguar dari sana.
“Diamlah—!” jeritku tertahan. Suaraku sudah mulai serak karena ludahku kian
mengering, “…Bodoh…”
Butiran-butiran bening jatuh menitik dari kedua pelupuk mataku. Rasanya hangat,
tapi menyakitkan. Pandanganku mengabur, tapi aku tidak pingsan. Aku masih cukup
sadar untuk mengingat semuanya dan merasakan apa yang sedang terjadi.
Tubuhku roboh tanpa apapun selain ubin-ubin keramik yang menopangnya. Kutengok
kembali jemariku yang sudah terkulai lemas di atas lantai. Cairan kental
berwarna merah pekat itu masih mengalir lambat dari buku-buku jemariku. Samar-samar
kulihat beberapa butir material cermin menempel di sana. Ya, cermin cerewet itu
baru saja kupecahkan dengan tanganku sendiri.
“Omona,
Eun Jung-ah!” suara itu menyergap telingaku. Tanpa menoleh pun, aku
tahu siapa pemilik suara lembut itu. “Apa yang terjadi padamu?”
Goo
Hye Sun sunbae.
Kedua
tangan miliknya terasa lembut menyentuh jemariku yang terluka. Aku masih diam,
tak menanggapi pertanyaannya barusan. Perlahan ibu jarinya menghapus air mata
yang baru saja menitik di atas pipiku.
“Apa yang
terjadi, Eun Jung-ah?” suaranya kembali mengusik indra pendengaranku.
Dengan
ragu kubuka bibirku yang semula terkatup rapat, suara parau milikku kembali
terdengar. “Sunbae… Aku tanya satu hal lagi padamu…”
Aku masih
mengukuhkan pandanganku. Susah payah aku mencoba menahan buliran bening yang
hendak melesat dari pelupuk mataku. Tak lama aku mendengar deheman kecil
darinya, tanda persetujuan atas pertanyaanku barusan.
“Seberapa
berharganya kecantikan bagi dirimu, sunbae?” suaraku kembali
terdengar, meskipun samar dan agak parau.
“Eh? Apa
sih yang kau bicarakan?” terdengar kikikan kecil dari bibirnya. Mungkin, ia
pikir aku bercanda. Hei, tapi aku tidak sedang bercanda sekarang!
“Tahukah kau, sunbae? Aku sangat iri padamu,” ucapku. “…dan aku
juga… membencimu.”
Tawanya
seketika terhenti, lenyap begitu saja. Kualihkan pandanganku agar aku mampu
menatap wajah dengan ekspresi keterkejutan itu. Tangannya bergetar samar di
kulit tanganku. Kedua matanya masih menyelami kedua mataku yang juga
tengah menatapnya. Aku tahu dalam hatinya pasti ia bertanya, kenapa?
“Karena
kau cantik,” ucapku tanpa komando apapun darinya.
Kali ini
ia mengalihkan pandangannya pada jemariku yang masih terluka, “Kurasa kita
harus cepat mengobatinya…”
“…Dan aku
jadi ingin mati setiap melihatmu,” tandasku mengabaikan ucapannya barusan.
“Setiap melihatmu, bebanku terasa berat sekali, sunbae. Dadaku terus
menerus sesak dan perasaanku tidak nyaman. Aku membencimu, sunbae…
Sangat sangat membencimu!” jeritku kuat-kuat. Air mataku membanjir kembali,
namun Hye Sun sunbae tak menepis buliran bening itu lagi. Ia terdiam,
masih membisu. Matanya yang sudah memerah sejak tadi kali ini ikut melesatkan
air mata dari pelupuk matanya. Ia menangis. Samar-samar indra pendengaranku
kembali menangkap suaranya, meskipun dengan volume yang cukup kecil.
“Mianhae…”
kata itu terus berulang dengan jeda di setiap isakannya.
“Aku tidak
butuh itu. Seberapa banyak pun kau mengucapkannya… Aku tidak peduli. Aku sudah
terlanjur membencimu. Jadi, mulai sekarang… Menjauhlah dari kehidupanku, Goo
Hye Sun sunbae…” ucapku. Berselang kemudian aku mencoba bangkit, tak
peduli dengan isakannya yang kian lama kian mengeras. Suaranya benar-benar
pilu, namun hatiku sudah mati rasa padanya. Aku tidak peduli lagi. Air matanya
yang membanjir itu tidak akan pernah bisa setara dengan sakit hatiku selama
ini.
Dengan
tertatih kutinggalkan gedung pameran itu tanpa pamit kepada siapa pun. Aku
masih terus diam, dengan air mata berlinang. Sesekali kudengar suara binatang
malam dan isakanku yang bertumbukan bersama angin musim gugur. Lampu-lampu kota
serasa membias bersama air mataku yang mulai merenggut sebagian kesadaranku.
Pertanyaan-pertanyaan dalam batinku menyeruak hingga ke telingaku sendiri.
Perlahan kurasakan tubuhku memanas dan pandanganku kian mengabur. Kesadaranku
lenyap dalam sekali hembusan angin.
Sunbae, mari kutanya kembali satu hal padamu…
Seberapa berharganya kecantikan bagi dirimu?
Lalu seberapa berharga pula kecantikan bagi seekor itik buruk rupa?
Apa
kau mengerti, sunbae?
Kurasa kau tidak akan mengerti, sunbae...
Karena kau selalu menjadi angsa, sosok yang selalu tampak sempurna…
_the
end_
Glossarium
Sunbae
: senior
Ne
: ya
-ah
: sebutan/panggilan untuk orang yang cukup dekat, sudah kenal lama
Gomawoyo
: terima kasih
Seonsaengnim
: guru
Mianhaeyo
: maaf
Nugu?
: siapa?
Mianhae
: maaf
Omona!
: astaga!
seperti biasa/... ceritanya asik disimak... ^_^
BalasHapus