Title :
2467…
Author :
dita-cHun © 2012
Type :
Multichapter
Chapter :
3
Rating :
PG+12
Genre :
Fantasy, Romance, Friendship
Idea :
Vocaloid - Regret Message, Absolute Boyfriend [Jue Dui Da Ling]
Language :
Indonesian
Theme Song :
[Vocaloid] Kagamine Rin – Regret Message
Main Cast :
*Hongo Kanata
*Watanabe Mayu
Disclaimer :
All cast punya Tuhan! ^^ Adil, pan?
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya
Note :
Chapter 3!
Aku masih asyik melahap sarapanku bersama
Mayu. Tiba-tiba sebuah suara bel rumah mengejutkan kami. Seseorang yang sangat
kukenal muncul dari monitor CCTV. Aku bergegas keluar menemuinya. Ia
tampak panik dan terburu-buru. Pasti sesuatu yang buruk sedang terjadi.
“Ohayou, Ryunosuke-san. Ada
apa kau tiba-tiba kemari?” tanyaku sembari mempersilahkannya masuk.
Sampai di ruang tamu kulihat ia melirik
Mayu agak lama. Berselang kemudian ia duduk di sofa dan meneguk minuman yang
Mayu siapkan untuk kami barusan.
“Ada kabar buruk,” ucap Ryunosuke akhirnya.
“Apa itu?”
“2464-Maeda Atsuko dan 2453-Takahashi
Minami menghilang,” jawabnya.
Aku tersentak mendengarnya. “Tidak mungkin.
Bukankah kau sudah memasang kode pada mereka agar tidak bisa keluar dari
tabung?” tanyaku penasaran.
“Ya, aku sudah memasangnya. Tapi, entah
bagaimana pagi ini tak kutemukan mereka berdua. Bahkan aku sama sekali tidak
ingat pernah mengeluarkan mereka dari tabung,” ungkapnya.
“Kau sudah mendeteksi keberadaannya?”
tanyaku.
Ia mengangguk, “Tapi, alat pendeteksi itu
tidak menunjukkan apapun. Mungkin seseorang melepasnya.”
“Kalau begitu kau ada rencana?” tanyaku.
Lagi-lagi ia mengangguk, “Mungkin ini ada
kaitannya dengan Chinen Yuuri-san. Jadi, aku ingin kita menemuinya
dulu.”
Aku mengangguk paham dengan apa yang ia
maksud barusan.
**
Kami berangkat menuju laboratorium pusat
menggunakan mobil milik Ryunosuke. Berharap semuanya belum terlambat, Ryunosuke
mempercepat laju mobilnya. Sejujurnya, aku tidak terlalu mengerti mengapa
Ryunosuke sangat khawatir 2453-Takahashi Minami menghilang melebihi 2464-Maeda
Atsuko. Setahuku ia lebih menyukai 2464 dibanding 2453.
Sesampainya kami di laboratorium pusat tak
kami jumpai sosok Chinen Yuuri sama sekali. Bahkan barang-barangnya pun seperti
lenyap entah kemana. Syukurlah saat itu tiba-tiba kami berpapasan dengan Inoo
Kei, rekanku. Namun, bukan hal baik juga apa yang ia terangkan.
“Chinen Yuuri-san sudah
mengundurkan diri tadi malam,” terangnya.
“Bagaimana ini?” tanyaku pada Ryunosuke.
Ia diam sejenak, kemudian menjawab. “Kalau
begitu Kei-san, bisa kau beritahu alamat Yuuri-san pada kami?”
tanyanya pada sosok Kei yang masih belum berlalu.
Kei mengangguk, kemudian menyerahkan sebuah
fiberglass bertuliskan kode-kode yang menunjukkan alamat Chinen Yuuri,
robot ilmuwan itu. Setelah berterima kasih, kami lekas melanjutkan perjalanan.
Kali ini menuju rumah Chinen Yuuri.
Namun, belum sampai kami pada alamat itu
Ryunosuke menghentikan mobilnya mendadak. Bingung, aku lekas keluar dari mobil
mengikutinya yang tiba-tiba berlari ke suatu arah.
“Ada apa, Ryunosuke-san?” tanyaku.
“Tadi aku melihat 2453-Takahashi Minami,”
jawabnya.
Tiba-tiba sesosok gadis melintas di hadapan
kami. Aku tahu betul bahwa gadis itulah yang kami bincangkan tadi—2453-Takahashi Minami. Tapi,
aneh sekali. Sepertinya ia sama sekali tak mengenali kami, terutama Ryunosuke.
“T-2453-05-11-2453-M,” Ryunosuke
tampak mengucapkan sebuah kode di hadapan gadis itu. Namun, gadis itu
mengabaikannya dan berlalu begitu saja.
“Tidak mungkin…” Ryunosuke sangsi dengan
apa yang dilihatnya barusan.
“Kenapa ia tidak mengenali kita, Ryunosuke-san?”
tanyaku.
“Mungkin seseorang menggunakan change
codes untuk mengubah kodenya dan me-restart memorinya,” jawab
Ryunosuke sembari mengeluarkan komputer kecil dari sakunya.
“Lalu kenapa kita tidak mengejarnya?”
tanyaku.
“Itu beresiko,” ia diam sejenak. “Kalau ia
mendeteksi kita adalah berbahaya baginya, kita bisa mati dibunuhnya. Dia itu
robot, tidak punya perasaan seperti manusia.”
“Kalau begitu kenapa kau tadi tampak begitu
cemas saat 2453 menghilang?” tanyaku mengungkapkan rasa penasaranku.
“Karena ia robot yang paling sulung setelah
robot-robot yang rusak sebelumnya. Ia bisa mengendalikan robot lain yang masih
memiliki koneksi kuat dengan syarafnya. Mungkin saja dia juga yang membawa 2464
pergi,” jelas Ryunosuke.
“Berarti seseorang mengambil alih kendali
2453 dan mengubah kodenya, kemudian me-restart memorinya. Setelah itu
membawa 2464 yang masih memiliki koneksi syaraf dengannya. Tapi, siapa orang
itu?” tanyaku menggumam.
“Bisa saja manusia, atau mungkin robot lain
yang telah aktif.”
Aku menghela nafas singkat, kemudian
memposisikan diriku duduk di samping Ryunosuke. Ia diam lagi, mungkin sedang
memikirkan cara lain untuk mendapatkan robotnya kembali.
“Oh ya, apa 2467-Watanabe Mayu juga
memiliki koneksi syaraf dengan 2453?” tanyaku.
“Tidak. 2467 adalah produk keluaran
terbaru. Ia tidak memiliki koneksi syaraf dengan robot manapun. Satu-satunya
cara untuk mendapatkan 2467 hanya menggunakan kode yang kuberikan padamu. Jadi,
kuharap kau menyimpannya dan merahasiakannya dengan baik,” jelas Ryunosuke. Aku
mengangguk mengerti.
Dalam hati aku sangat bersyukur jika Mayu
tidak akan terlibat dalam masalah ini. Aku tidak tahu lagi apa yang akan
terjadi jika Mayu juga menghilang saat itu. Pasti aku akan kesepian. Dan hal
yang paling kutakutkan adalah saat Mayu jatuh ke tangan orang lain yang tidak
tepat. Aku sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi. Meskipun hanya
sekejap.
**
Hari ini laboratorium tampak begitu sibuk.
Aku yang datang terlambat, sama sekali tak mengerti apa yang menjadi topik
hangat siang ini. Aku hanya mencoba membaur dan mencari tahu tentang apa yang
tengah terjadi.
Seluruh komputer utama menyala bersamaan
dan semua ilmuwan yang ada di sana—termasuk Ryunosuke dan Ryosuke—sibuk
mengutak-atik benda teknologi canggih itu. Aku mencoba membaur ke arah Ryosuke.
“Ada apa?” tanyaku.
Ia diam sejenak, mengabaikan pertanyaanku
demi pekerjaannya barusan kemudian menjawab. “Endless Human-0O0
menghilang. Kami semua sedang mencari data-datanya yang mungkin masih tersisa,”
jawabnya.
“Eh?”
Seseorang menepuk pundakku. Itu Ryunosuke.
“Sebaiknya kau juga ikut mencari. Resep itu sangat penting bagi kita semua.
Apalagi itu produk terakhir Chinen Yuuri-san.”
Aku mengangguk setuju kemudian membantu
mengutak-atik komputer itu—turut mencari data Endless Human-0O0. Entah
kenapa aku merasa hilangnya teknologi-teknologi canggih dari laboratorium pusat
ini ada keterkaitannya satu sama lain.
Pertama, 2453-Takahashi Minami dan
2464-Maeda Atsuko tiba-tiba menghilang. Seseorang mengubah kodenya dan me-restart
memorinya. Berikutnya, Endless Human-0O0 juga ikut menghilang secara
tiba-tiba. Tentu ini ada kaitannya. Pasti.
Trak!
Itu tentu bukan sekedar perasaanku. Sesuatu
terjatuh di laboratorium pertahanan negara. Telingaku mendengarnya meskipun
samar-samar. Pasti seseorang tengah melakukan sesuatu di sana.
Aku bergegas melangkah menuju laboratorium
pertahanan negara. Benar dugaanku, seseorang tentu baru saja masuk ke dalam.
Beberapa senjata teknologi canggih menghilang dari etalase ber-alarm
itu. Tentu yang melakukannya pasti orang yang paham benar seluk beluk tempat
ini. Terutama kode alarm itu.
“Yuya Takaki-san, seseorang mencuri
senjata dari laboratorium pertahanan negara…” aku mengumumkan pada pria
jangkung di hadapanku kala ini.
Ia terkejut bukan main dan bergegas menuju
laboratorium pertahanan negara untuk memastikan. “Siapa yang melakukannya?”
tanyanya.
Aku menggeleng tidak tahu. “Aku hanya menjumpai
ruangan ini dalam keadaan demikian setelah aku mendengar bunyi benda jatuh dari
sini.”
Setelah mendengar penjelasanku barusan, ia
lekas mengutak-atik kode di komputernya. Sepertinya itu monitor CCTV. Di sana
tak menunjukkan apapun. Bingung, kami lekas melaporkannya pada ketua
laboratorium pusat.
“Baiklah, aku mengerti. Ambil alih kendali
robot-robot milik seluruh ilmuwan laboratorium pusat, terutama milik Kamiki
Ryunosuke-san.” Perintah Yamashita Tomohisa setelah mendengar laporan
kami.
Dalam waktu lima detik sebuah pengumuman
membuat seluruh ilmuwan yang semula ribut dengan komputer-komputer utama
beranjak dari tempatnya masing-masing. Mereka semua siap mengeluarkan
robot-robot ciptaan mereka dari tabung-tabung di ruang kerja masing-masing. Tak
mau kalah, aku juga mengeluarkan kurang lebih dua ratus robot pertahanan negara
ciptaanku.
Sepertinya, perang akan dimulai kembali.
Setelah sekitar dua ribu robot keluar dari
laboratorium pusat, kami semua memasang kode tertentu pada komputer kami.
Takut-takut bisa saja seseorang mengambil kendali robot itu.
Waktu sudah berjalan kurang lebih dua jam,
namun tak kujumpai sosok Ryunosuke apalagi robot-robotnya. Penasaran, aku lekas
menuju laboratorium kerjanya. Kulihat Ryunosuke terduduk lesu di lantai. Aku
bingung.
“Ada apa, Ryunosuke-san?” tanyaku.
Ia mengedik ke arah tabung-tabung robot
miliknya. Aku tersentak melihat tabung-tabung itu telah kosong. “Apa yang
terjadi, Ryunosuke-san? Kemana semua robot-robotmu?”
Ia menggeleng tidak tahu. “Mereka semua
menghilang saat aku tiba. Aku sangat khawatir mereka dalam kendali orang jahat,
Kanata-san…”
“Satu-satunya harapan kita adalah
2467-Watanabe Mayu. Dia harus maju, mengambil kendali robot-robot lain.”
“Aku tidak bisa melibatkan Mayu untuk masalah
ini, Ryunosuke-san. Gomen ne,” ucapku dengan nada menyesal.
“Tapi, hanya dia yang bisa melakukannya,
Kanata-san…”
“Tidak, aku tidak mau.” Aku menghambur
keluar laboratorium, lekas menuju rumah. Aku khawatir Mayu akan terlibat dalam
masalah ini.
**
“Ada apa, Kanata-san?” tanya Mayu
begitu aku sampai di rumah.
“Perang besar akan terjadi, Mayu. Kuharap
kau menjaga dirimu baik-baik,” jawabku.
“Aku akan baik-baik saja… Percayalah,” ia
menatap kedua mataku dalam-dalam sembari mengulas segaris senyum.
Aku mengangguk dan tersenyum lega.
“Hati-hati, ya.” Kubelai rambutnya yang hitam lembut itu.
Tiba-tiba Mayu memejamkan matanya. Tubuhnya
ambruk ke lantai. Ini seperti keadaanya saat non-aktif. “Mayu, Mayu! Apa
yang terjadi?” aku menggoncang tubuhnya agar ia bangun. Namun, ia belum juga
bangun.
“Mayu! Mayu!” aku kembali memanggil
namanya.
“W-2467-28-02-2467-M-Change Codes,”
kudengar seseorang menyebutkan kode Mayu dengan change codes di akhir
kalimatnya.
Aku lekas mencari sumber suara itu. Tak kujumpai
siapapun dalam rumahku. Aku hanya menjumpai ponsel Mayu menyala. Seseorang
meneleponnya dan mengubah kodenya.
“Moshi-moshi, siapa di sana?”
sahutku.
Sambungan telepon itu putus.
Tiba-tiba Mayu terbangun. “Mayu, daijoubu
ka?”
“Dare?”
Orang itu mengubah kode Mayu dan me-restart
memorinya. Sialan!
.2467…
.to be
continue~
Glossarium
:
*Gomen
ne : maaf
*Daijoubu
ka?: kau baik baik saja?
*Ohayou : selamat pagi
*Dare? : siapa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar