Minggu, 21 April 2013

2467 [Chapter III]



Title               : 2467…

Author           : dita-cHun © 2012

Type               : Multichapter

Chapter          : 3

Rating            : PG+12

Genre             : Fantasy, Romance, Friendship

Idea                 : Vocaloid - Regret Message, Absolute Boyfriend [Jue Dui Da Ling]

Language        : Indonesian

Theme Song  : [Vocaloid] Kagamine Rin – Regret Message

Main Cast      :

*Hongo Kanata

*Watanabe Mayu

Disclaimer     : All cast punya Tuhan! ^^ Adil, pan?

Warning        : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya

Note               : Chapter 3!







     Aku masih asyik melahap sarapanku bersama Mayu. Tiba-tiba sebuah suara bel rumah mengejutkan kami. Seseorang yang sangat kukenal muncul dari monitor CCTV. Aku bergegas keluar menemuinya. Ia tampak panik dan terburu-buru. Pasti sesuatu yang buruk sedang terjadi.

     “Ohayou gozaimasu, Kanata-san.”

     Ohayou, Ryunosuke-san. Ada apa kau tiba-tiba kemari?” tanyaku sembari mempersilahkannya masuk.

     Sampai di ruang tamu kulihat ia melirik Mayu agak lama. Berselang kemudian ia duduk di sofa dan meneguk minuman yang Mayu siapkan untuk kami barusan.

     “Ada kabar buruk,” ucap Ryunosuke akhirnya.

     “Apa itu?”

     “2464-Maeda Atsuko dan 2453-Takahashi Minami menghilang,” jawabnya.

     Aku tersentak mendengarnya. “Tidak mungkin. Bukankah kau sudah memasang kode pada mereka agar tidak bisa keluar dari tabung?” tanyaku penasaran.

     “Ya, aku sudah memasangnya. Tapi, entah bagaimana pagi ini tak kutemukan mereka berdua. Bahkan aku sama sekali tidak ingat pernah mengeluarkan mereka dari tabung,” ungkapnya.

     “Kau sudah mendeteksi keberadaannya?” tanyaku.

     Ia mengangguk, “Tapi, alat pendeteksi itu tidak menunjukkan apapun. Mungkin seseorang melepasnya.”

     “Kalau begitu kau ada rencana?” tanyaku.

     Lagi-lagi ia mengangguk, “Mungkin ini ada kaitannya dengan Chinen Yuuri-san. Jadi, aku ingin kita menemuinya dulu.”

     Aku mengangguk paham dengan apa yang ia maksud barusan.

**

     Kami berangkat menuju laboratorium pusat menggunakan mobil milik Ryunosuke. Berharap semuanya belum terlambat, Ryunosuke mempercepat laju mobilnya. Sejujurnya, aku tidak terlalu mengerti mengapa Ryunosuke sangat khawatir 2453-Takahashi Minami menghilang melebihi 2464-Maeda Atsuko. Setahuku ia lebih menyukai 2464 dibanding 2453.

     Sesampainya kami di laboratorium pusat tak kami jumpai sosok Chinen Yuuri sama sekali. Bahkan barang-barangnya pun seperti lenyap entah kemana. Syukurlah saat itu tiba-tiba kami berpapasan dengan Inoo Kei, rekanku. Namun, bukan hal baik juga apa yang ia terangkan.

     “Chinen Yuuri­-san sudah mengundurkan diri tadi malam,” terangnya.

     “Bagaimana ini?” tanyaku pada Ryunosuke.

     Ia diam sejenak, kemudian menjawab. “Kalau begitu Kei-san, bisa kau beritahu alamat Yuuri-san pada kami?” tanyanya pada sosok Kei yang masih belum berlalu.

     Kei mengangguk, kemudian menyerahkan sebuah fiberglass bertuliskan kode-kode yang menunjukkan alamat Chinen Yuuri, robot ilmuwan itu. Setelah berterima kasih, kami lekas melanjutkan perjalanan. Kali ini menuju rumah Chinen Yuuri.

     Namun, belum sampai kami pada alamat itu Ryunosuke menghentikan mobilnya mendadak. Bingung, aku lekas keluar dari mobil mengikutinya yang tiba-tiba berlari ke suatu arah.

     “Ada apa, Ryunosuke-san?” tanyaku.

     “Tadi aku melihat 2453-Takahashi Minami,” jawabnya.

     Tiba-tiba sesosok gadis melintas di hadapan kami. Aku tahu betul bahwa gadis itulah yang kami  bincangkan tadi—2453-Takahashi Minami. Tapi, aneh sekali. Sepertinya ia sama sekali tak mengenali kami, terutama Ryunosuke.

     T-2453-05-11-2453-M,” Ryunosuke tampak mengucapkan sebuah kode di hadapan gadis itu. Namun, gadis itu mengabaikannya dan berlalu begitu saja.

     “Tidak mungkin…” Ryunosuke sangsi dengan apa yang dilihatnya barusan.

     “Kenapa ia tidak mengenali kita, Ryunosuke-san?” tanyaku.

     “Mungkin seseorang menggunakan change codes untuk mengubah kodenya dan me-restart memorinya,” jawab Ryunosuke sembari mengeluarkan komputer kecil dari sakunya.

     “Lalu kenapa kita tidak mengejarnya?” tanyaku.

     “Itu beresiko,” ia diam sejenak. “Kalau ia mendeteksi kita adalah berbahaya baginya, kita bisa mati dibunuhnya. Dia itu robot, tidak punya perasaan seperti manusia.”

     “Kalau begitu kenapa kau tadi tampak begitu cemas saat 2453 menghilang?” tanyaku mengungkapkan rasa penasaranku.

     “Karena ia robot yang paling sulung setelah robot-robot yang rusak sebelumnya. Ia bisa mengendalikan robot lain yang masih memiliki koneksi kuat dengan syarafnya. Mungkin saja dia juga yang membawa 2464 pergi,” jelas Ryunosuke.

     “Berarti seseorang mengambil alih kendali 2453 dan mengubah kodenya, kemudian me-restart memorinya. Setelah itu membawa 2464 yang masih memiliki koneksi syaraf dengannya. Tapi, siapa orang itu?” tanyaku menggumam.

     “Bisa saja manusia, atau mungkin robot lain yang telah aktif.”

     Aku menghela nafas singkat, kemudian memposisikan diriku duduk di samping Ryunosuke. Ia diam lagi, mungkin sedang memikirkan cara lain untuk mendapatkan robotnya kembali.

     “Oh ya, apa 2467-Watanabe Mayu juga memiliki koneksi syaraf dengan 2453?” tanyaku.

     “Tidak. 2467 adalah produk keluaran terbaru. Ia tidak memiliki koneksi syaraf dengan robot manapun. Satu-satunya cara untuk mendapatkan 2467 hanya menggunakan kode yang kuberikan padamu. Jadi, kuharap kau menyimpannya dan merahasiakannya dengan baik,” jelas Ryunosuke. Aku mengangguk mengerti.

     Dalam hati aku sangat bersyukur jika Mayu tidak akan terlibat dalam masalah ini. Aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi jika Mayu juga menghilang saat itu. Pasti aku akan kesepian. Dan hal yang paling kutakutkan adalah saat Mayu jatuh ke tangan orang lain yang tidak tepat. Aku sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi. Meskipun hanya sekejap.

**

     Hari ini laboratorium tampak begitu sibuk. Aku yang datang terlambat, sama sekali tak mengerti apa yang menjadi topik hangat siang ini. Aku hanya mencoba membaur dan mencari tahu tentang apa yang tengah terjadi.

     Seluruh komputer utama menyala bersamaan dan semua ilmuwan yang ada di sana—termasuk Ryunosuke dan Ryosuke—sibuk mengutak-atik benda teknologi canggih itu. Aku mencoba membaur ke arah Ryosuke.

     “Ada apa?” tanyaku.

     Ia diam sejenak, mengabaikan pertanyaanku demi pekerjaannya barusan kemudian menjawab. “Endless Human-0O0 menghilang. Kami semua sedang mencari data-datanya yang mungkin masih tersisa,” jawabnya.

     “Eh?”

     Seseorang menepuk pundakku. Itu Ryunosuke. “Sebaiknya kau juga ikut mencari. Resep itu sangat penting bagi kita semua. Apalagi itu produk terakhir Chinen Yuuri-san.”

     Aku mengangguk setuju kemudian membantu mengutak-atik komputer itu—turut mencari data Endless Human-0O0. Entah kenapa aku merasa hilangnya teknologi-teknologi canggih dari laboratorium pusat ini ada keterkaitannya satu sama lain.

     Pertama, 2453-Takahashi Minami dan 2464-Maeda Atsuko tiba-tiba menghilang. Seseorang mengubah kodenya dan me-restart memorinya. Berikutnya, Endless Human-0O0 juga ikut menghilang secara tiba-tiba. Tentu ini ada kaitannya. Pasti.

     Trak!

     Itu tentu bukan sekedar perasaanku. Sesuatu terjatuh di laboratorium pertahanan negara. Telingaku mendengarnya meskipun samar-samar. Pasti seseorang tengah melakukan sesuatu di sana.

     Aku bergegas melangkah menuju laboratorium pertahanan negara. Benar dugaanku, seseorang tentu baru saja masuk ke dalam. Beberapa senjata teknologi canggih menghilang dari etalase ber-alarm itu. Tentu yang melakukannya pasti orang yang paham benar seluk beluk tempat ini. Terutama kode alarm itu.

     “Yuya Takaki-san, seseorang mencuri senjata dari laboratorium pertahanan negara…” aku mengumumkan pada pria jangkung di hadapanku kala ini.

     Ia terkejut bukan main dan bergegas menuju laboratorium pertahanan negara untuk memastikan. “Siapa yang melakukannya?” tanyanya.

     Aku menggeleng tidak tahu. “Aku hanya menjumpai ruangan ini dalam keadaan demikian setelah aku mendengar bunyi benda jatuh dari sini.”

     Setelah mendengar penjelasanku barusan, ia lekas mengutak-atik kode di komputernya. Sepertinya itu monitor CCTV. Di sana tak menunjukkan apapun. Bingung, kami lekas melaporkannya pada ketua laboratorium pusat.

     “Baiklah, aku mengerti. Ambil alih kendali robot-robot milik seluruh ilmuwan laboratorium pusat, terutama milik Kamiki Ryunosuke-san.” Perintah Yamashita Tomohisa setelah mendengar laporan kami.

     Dalam waktu lima detik sebuah pengumuman membuat seluruh ilmuwan yang semula ribut dengan komputer-komputer utama beranjak dari tempatnya masing-masing. Mereka semua siap mengeluarkan robot-robot ciptaan mereka dari tabung-tabung di ruang kerja masing-masing. Tak mau kalah, aku juga mengeluarkan kurang lebih dua ratus robot pertahanan negara ciptaanku.

     Sepertinya, perang akan dimulai kembali.

     Setelah sekitar dua ribu robot keluar dari laboratorium pusat, kami semua memasang kode tertentu pada komputer kami. Takut-takut bisa saja seseorang mengambil kendali robot itu.

     Waktu sudah berjalan kurang lebih dua jam, namun tak kujumpai sosok Ryunosuke apalagi robot-robotnya. Penasaran, aku lekas menuju laboratorium kerjanya. Kulihat Ryunosuke terduduk lesu di lantai. Aku bingung.

     “Ada apa, Ryunosuke­-san?” tanyaku.

     Ia mengedik ke arah tabung-tabung robot miliknya. Aku tersentak melihat tabung-tabung itu telah kosong. “Apa yang terjadi, Ryunosuke-san? Kemana semua robot-robotmu?”

     Ia menggeleng tidak tahu. “Mereka semua menghilang saat aku tiba. Aku sangat khawatir mereka dalam kendali orang jahat, Kanata-san…”

     “Satu-satunya harapan kita adalah 2467-Watanabe Mayu. Dia harus maju, mengambil kendali robot-robot lain.”

     “Aku tidak bisa melibatkan Mayu untuk masalah ini, Ryunosuke-san. Gomen ne,” ucapku dengan nada menyesal.

     “Tapi, hanya dia yang bisa melakukannya, Kanata-san…”

     “Tidak, aku tidak mau.” Aku menghambur keluar laboratorium, lekas menuju rumah. Aku khawatir Mayu akan terlibat dalam masalah ini.

**

     “Ada apa, Kanata-san?” tanya Mayu begitu aku sampai di rumah.

     “Perang besar akan terjadi, Mayu. Kuharap kau menjaga dirimu baik-baik,” jawabku.

     “Aku akan baik-baik saja… Percayalah,” ia menatap kedua mataku dalam-dalam sembari mengulas segaris senyum.

     Aku mengangguk dan tersenyum lega. “Hati-hati, ya.” Kubelai rambutnya yang hitam lembut itu.

     Tiba-tiba Mayu memejamkan matanya. Tubuhnya ambruk ke lantai. Ini seperti keadaanya saat non-aktif. “Mayu, Mayu! Apa yang terjadi?” aku menggoncang tubuhnya agar ia bangun. Namun, ia belum juga bangun.

     “Mayu! Mayu!” aku kembali memanggil namanya.

     W-2467-28-02-2467-M-Change Codes,” kudengar seseorang menyebutkan kode Mayu dengan change codes di akhir kalimatnya.

     Aku lekas mencari sumber suara itu. Tak kujumpai siapapun dalam rumahku. Aku hanya menjumpai ponsel Mayu menyala. Seseorang meneleponnya dan mengubah kodenya.

     Moshi-moshi, siapa di sana?” sahutku.

     Sambungan telepon itu putus.

     Tiba-tiba Mayu terbangun. “Mayu, daijoubu ka?”

     Dare?”

     Orang itu mengubah kode Mayu dan me-restart memorinya. Sialan!






.2467…




.to be continue~


Glossarium :

*Gomen ne    : maaf
*Daijoubu ka?: kau baik baik saja?
*Ohayou         : selamat pagi
*Dare?            : siapa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar