Minggu, 21 April 2013

2467 [Chapter I]



Title               : 2467…

Author           : dita-cHun © 2012

Type               : Multichapter

Chapter          : 1

Rating            : PG+12

Genre             : Fantasy, Romance, Friendship

Idea                 : Vocaloid - Regret Message, Absolute Boyfriend [Jue Dui Da Ling]

Language        : Indonesian

Theme Song  : [Vocaloid] Kagamine Rin – Regret Message

Main Cast      :

*Hongo Kanata

*Watanabe Mayu

Disclaimer     : All cast punya Tuhan! ^^ Adil, pan?

Warning        : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya

Note               : Awalnya, saya bikin ini karena dapet inspirasi abis nonton Absolute Boyfriend [Jue Dui Da Ling]  episode 01 sama Regret Message-nya Kagamine bersaudara [Vocaloid]. Sebenarnya cerita awalnya nggak seperti ini, tapi hari ini saya rombak cerita ini dari awal. Tapi, mirip konsep awal saya. FF ini sebenernya cerita tentang era abad ke-25 dimana teknologi sudah semakin maju. Awalnya, FF ini mau dibikin genre Sci-Fi, tapi pada akhirnya saya tetap belum siap ke arah Sci-Fi xD dan jadilah ff ini genre fantasy! *derita gagal itungan* Oh ya, maaf ya buat yang rekues FF ini, saya baru posting hari ini >/\< semoga suka sama ceritanya! Ok, happy reading! Leave a comment please ^^






     Ohayou gozaimasu, Kanata-san,” suara lembut itu menyapaku, namun kuabaikan karena aku masih mengantuk.

     “Kanata-san, sudah pagi. Aku sudah menyiapkan sandwich kesukaanmu, lho…” suara itu kembali menelusup ke dalam telingaku.

     Aku mengerang malas kemudian menutup tubuhku dengan selimut jauh lebih dalam dari sebelumnya. Aku ingin dia tahu seberapa lelahnya aku karena pekerjaan kemarin. Hari ini aku ingin tidur lebih lama.

     “Kanata-san, kau harus pergi bekerja jam sembilan nanti, kan?” suara itu pantang menyerah mengusik telingaku.

     Jengkel, lekas kubuka paksa selimut itu kembali. Memaksakan diriku untuk bangun. Setidaknya, untuk mengunci pintu rapat-rapat dari dalam kamar. Aku tidak tahan dengan suaranya yang terus-menerus memaksaku tanpa perasaan.

     Blam!

     Suara debaman pintu itu terdengar cukup keras. Aku tidak peduli. Yang lebih penting adalah aku bisa menguncinya rapat-rapat dari gadis itu. Aku ingin tidur!

     Aku beringsut kembali ke dalam selimut. Benar-benar surga dunia bagiku. Bisa tidur dengan nyaman tanpa apapun dan siapapun menggangguku. Surga…

     “Kanata-san,” suara itu membuatku terjingkat dan dalam sekejap aku terjerembab kasar ke lantai. Aku lupa kalau aku tidur di tepi ranjang. Hei, kenapa dia tiba-tiba ada di sampingku?!

     “Hei, kau ini apa-apaan, sih?” protesku sembari bangkit dari lantai.

     Ia bangun dari posisinya semula. Duduk manis di tengah ranjang. “Aku hanya ingin membangunkan Kanata-san seperti biasanya.”

     “Tapi, tidak seharusnya juga, kan kau tiba-tiba muncul di hadapanku?” ujarku tak mau kalah.

     “Kau mengunci pintumu rapat-rapat, jadi aku masuk lewat jendela…” dengan polos ia menunjuk ke arah jendela kamarku yang masih terbuka lebar. Secara tidak langsung, ia bagai mengatakan sebegitu bodohnya aku. Sialan!

     “Aku mau tidur, Mayu!” geramku sembari masuk ke dalam selimut.

     “Tidak bisa!” kedua tangan mungilnya menarik paksa selimutku. Membuatnya dalam sekejap lepas dari tubuhku. “Nanti makanannya sudah dingin…”

     Aku kembali mengerang, protes. “W-2467-28-02-2467-M-Sleep,” ucapku cepat. Dalam sekejap saja gadis yang semula berdiri di atas ranjang—dengan selimut digenggamannya—itu jatuh tertidur. Tepatnya, ia non-aktif.

     Gomen ne, tapi aku ingin membolos hari ini. Tidurlah, Mayu.” Lekas kubopong gadis itu ke salah satu sisi ranjang. Kemudian aku tidur tepat di sampingnya. Ya, aku harus tidur.

     Gadis berlabel Watanabe Mayu itu adalah sebuah robot.

     Semuanya berawal dan terjadi secara tiba-tiba. Namun, aku masih sangat mengingatnya. Hari itu tanggal 01 Maret 2467. Tepatnya satu hari setelah kelahiran Mayu. Aku baru saja pulang dari laboratorium tempatku bekerja. Kemudian aku melihatnya, Mayu melintas setelah tidak sampai dua detik sebelumnya kami berpapasan. Senyumnya yang terus diukirnya sepanjang langkahnya, aku melihatnya. Ia benar-benar menyita perhatianku kala itu.

     Sejak itu dalam hati aku berharap ingin berjumpa dengannya lagi suatu hari kelak…

     Aku pulang dengan perasaan berbunga-bunga. Entah kenapa gadis itu terus melintas di kepalaku sejak hari itu. Meski tidak mengenalnya, dalam hati aku sangat menyukainya. Gadis yang sama sekali tak kutahu siapa namanya dan dari mana ia berasal. Ia membuat dadaku terus berdesir tidak karuan. Aku sangat bahagia.

     Hingga kemudian kami kembali bertemu di laboratorium tempatku bekerja. Terkejut? Tentu saja. Gadis itu tiba-tiba datang, melintas kembali di hadapanku. Namun, kali ini tak kulihat senyum di wajahnya. Datar, hanya itu yang ditunjukkannya kala itu. Dan sayangnya ia sama sekali tak menengok ke arahku. Ia terus berjalan hingga ke ruangan yang aku tahu adalah laboratorium milik temanku, Kamiki Ryunosuke.

     Penasaran, aku turut masuk ke dalam ruangan itu. Kulihat mereka berbincang sejenak, sebelum akhirnya menyadari kehadiranku. Aku kikuk, tidak tahu harus mengatakan apa tujuanku kemari. Pasti Ryunosuke akan menanyakan itu sebentar lagi.

     “Kanata-san, ada apa?” ia menghampiriku. Dengan senyum seperti biasa.

     Aku diam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Ah, tidak. Aku hanya ingin menemuinya…” Aku menunjuk ke arah gadis itu.

     “2467? Untuk apa?” tanyanya lagi.

     Aku agak bingung dengan angka yang baru saja disebutkannya. “2467?”

     “Ya. Namanya Watanabe Mayu, tapi nama sebenarnya 2467. Dia produk terbaruku tahun ini. Bagaimana menurutmu?” ia kembali mengajukan pertanyaan padaku.

     Saat itulah aku baru sadar bahwa gadis yang kusukai adalah sebuah robot ke 467 ciptaan temanku—Kamiki Ryunosuke. Kecewa? Lumayan. Semula kupikir ia adalah manusia, sama sepertiku. Tapi, sayang sekali itu bukan. Ia hanyalah sebuah benda yang luar biasa hebat berhasil menipu pengelihatanku. Serta perasaanku.

     “Aku tertipu. Kupikir dia manusia,” ucapku terkekeh miris. Agaknya aku memang cukup kecewa.

     “Kau bisa memilikinya jika kau menyukainya, Kanata-san.”

     “Ah, tidak-tidak. Itu kan karya terbarumu, Ryunosuke-san…” tolakku sungkan.

     “Tidak apa-apa. Lagipula aku sudah cukup dengan teman-temanku yang lain. Kau butuh teman, Kanata-san…” Ryunosuke menepuk pundakku. “Oh ya, aku memiliki robot manusia lain selain 2467. Ya, itu sih sebelum aku menciptakan 2467. Lihat,” ia menuntunku ke sebuah tempat. Di sana ada beberapa tabung yang diletakkan horizontal. Ryunosuke tampak menekan salah satu tombol dan dalam sekejap tabung-tabung itu terbuka. Mereka semua benar-benar luar biasa.

     “Ini yang paling kusukai, 2464-Maeda Atsuko dan berikutnya 2456-Oku Manami. Mereka manis, kan?” goda Ryunosuke.

     “Tapi, kurasa 2467 lebih manis…” jawabku malu-malu.

     “Oh ya, ini kode untuk 2467.” Ryunosuke memberikan sebuah benda seperti fiberglass dengan beberapa kode di dalamnya. “Kurasa kau akan membutuhkannya suatu saat. Ia bisa menjadi milik seseorang yang menyebutkan kode itu di dekatnya. Cobalah.”

     Aku menerima benda itu dan lekas melangkah ke arah gadis berlabel 2467-Watanabe Mayu itu. “W-2467-28-02-2467-M,” ucapku mantap.

     Gadis itu diam menatap mataku. Ia sama sekali tak berkedip untuk kurun waktu 5 detik lamanya. Entah apa yang terjadi saat itu. Namun, setelah itu ia tersenyum dan dengan tepat menyebut namaku.

     Konichiwa, Hongo Kanata-san…”

**

     Dengan agak malas, kubuka kelopak mataku. Hal yang pertama kali kulihat adalah sosok Mayu yang masih tidur tepat di sampingku. Dengan iseng kucubit pipinya, lembut. Ia sama sekali tak terganggu. Tentu saja karena ia bukan manusia.

     Kutengok ke arah jam dinding di kamarku, jarum panjangnya tepat menunjuk ke arah sebelas sementara jarum pendeknya hampir berada pada kepala angka sepuluh. Aku benar-benar membolos, kan?

     W-2467-28-02-2467-M-On,” ucapku sembari bangkit dari tempat tidur.

     Kulihat gadis itu ikut bangkit, “Kanata-san, kau tidak bekerja?” tanyanya.

     “Aku membolos,” aku lekas meraih handuk di samping kamar mandi dan lekas masuk ke kamar mandi setelahnya.

     “Kanata-san, apa perlu kusiapkan air hangat?” tanyanya. Suaranya tampak begitu dekat, mungkin ia sedang berada tepat di depan kamar mandi.

     “Tidak perlu,” jawabku dari kamar mandi.

     “Kalau begitu aku akan siapkan makan siang dulu, ok?” ucapnya.

     Aku tak menjawab. Kupencet tombol di sampingku dan dalam sekejap air dingin terjun dari atas membasahi tubuhku. Aih, segarnya.

**

     Begitu aku keluar dari kamar mandi, kulihat sepiring sandwich yang sudah dingin di atas meja makan. Sayang sekali kalau tidak dimakan. Bukankah Mayu sudah menyiapkannya susah payah?

     Aku lekas duduk di salah satu kursi dan melahap sandwich itu. Kulihat Mayu panik. Bingung, aku lekas bertanya. “Ada apa?”

     Sandwich itu sudah dingin. Tidak baik, kan?” ucapnya menyesal.

     Aku tersenyum, “Daijoubu, tidak akan mati hanya karena makanan seperti ini…”

     “Tetap saja, kan… Aku tidak enak pada Kanata-san…” ucapnya.

     “Kalau begitu kau cepat siapkan makan siang, ya! Aku benar-benar lapar,” ucapku.

     “Eh? A… hai’.” Kulihat ia bergegas menuju dapur.

     Meskipun ia hanya sebuah robot, tapi dia tidak buruk juga.

     Sepuluh menit kemudian kujumpai beberapa masakan bertengger di atas meja makan. Mereka tampak begitu lezat. “Selamat menikmati,” ucap Mayu kemudian duduk di hadapanku.

     Itadakimasu!” ucapku kemudian melahap makanan itu satu persatu.

     Saat ini aku merasa hidupku sudah cukup lengkap, dengan Mayu di sisiku tentu saja.






.2467…

                                                                                                             

.to be continue~


Glossarium :

*Ohayou gozaimasu   : selamat pagi
*Hai’                           : ya
*Itadakimasu             : selamat makan
*Konichiwa                : selamat siang
*Daijoubu                  : tidak apa
*Gomen                     : maaf

1 komentar:

  1. kereeennn!!! aku ngeship mayu x kanata juga :)
    boleh request gaak?

    BalasHapus