Title :
2467…
Author :
dita-cHun © 2012
Type :
Multichapter
Chapter :
1
Rating :
PG+12
Genre :
Fantasy, Romance, Friendship
Idea :
Vocaloid - Regret Message, Absolute Boyfriend [Jue Dui Da Ling]
Language :
Indonesian
Theme Song :
[Vocaloid] Kagamine Rin – Regret Message
Main Cast :
*Hongo Kanata
*Watanabe Mayu
Disclaimer :
All cast punya Tuhan! ^^ Adil, pan?
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya
Note :
Awalnya, saya bikin ini karena dapet inspirasi abis nonton Absolute Boyfriend
[Jue Dui Da Ling] episode 01 sama Regret
Message-nya Kagamine bersaudara [Vocaloid]. Sebenarnya cerita awalnya nggak
seperti ini, tapi hari ini saya rombak cerita ini dari awal. Tapi, mirip konsep
awal saya. FF ini sebenernya cerita tentang era abad ke-25 dimana teknologi
sudah semakin maju. Awalnya, FF ini mau dibikin genre Sci-Fi, tapi pada
akhirnya saya tetap belum siap ke arah Sci-Fi xD dan jadilah ff ini genre
fantasy! *derita gagal itungan* Oh ya, maaf ya buat yang rekues FF ini, saya
baru posting hari ini >/\< semoga suka sama ceritanya! Ok, happy reading!
Leave a comment please ^^
“Ohayou gozaimasu, Kanata-san,”
suara lembut itu menyapaku, namun kuabaikan karena aku masih mengantuk.
Aku mengerang malas kemudian menutup
tubuhku dengan selimut jauh lebih dalam dari sebelumnya. Aku ingin dia tahu
seberapa lelahnya aku karena pekerjaan kemarin. Hari ini aku ingin tidur lebih
lama.
“Kanata-san, kau harus pergi bekerja
jam sembilan nanti, kan?” suara itu pantang menyerah mengusik telingaku.
Jengkel, lekas kubuka paksa selimut itu
kembali. Memaksakan diriku untuk bangun. Setidaknya, untuk mengunci pintu
rapat-rapat dari dalam kamar. Aku tidak tahan dengan suaranya yang
terus-menerus memaksaku tanpa perasaan.
Blam!
Suara debaman pintu itu terdengar cukup
keras. Aku tidak peduli. Yang lebih penting adalah aku bisa menguncinya
rapat-rapat dari gadis itu. Aku ingin tidur!
Aku beringsut kembali ke dalam selimut.
Benar-benar surga dunia bagiku. Bisa tidur dengan nyaman tanpa apapun dan
siapapun menggangguku. Surga…
“Kanata-san,” suara itu membuatku
terjingkat dan dalam sekejap aku terjerembab kasar ke lantai. Aku lupa kalau
aku tidur di tepi ranjang. Hei, kenapa dia tiba-tiba ada di sampingku?!
“Hei, kau ini apa-apaan, sih?” protesku
sembari bangkit dari lantai.
Ia bangun dari posisinya semula. Duduk
manis di tengah ranjang. “Aku hanya ingin membangunkan Kanata-san
seperti biasanya.”
“Tapi, tidak seharusnya juga, kan kau
tiba-tiba muncul di hadapanku?” ujarku tak mau kalah.
“Kau mengunci pintumu rapat-rapat, jadi aku
masuk lewat jendela…” dengan polos ia menunjuk ke arah jendela kamarku yang
masih terbuka lebar. Secara tidak langsung, ia bagai mengatakan sebegitu
bodohnya aku. Sialan!
“Aku mau tidur, Mayu!” geramku sembari
masuk ke dalam selimut.
“Tidak bisa!” kedua tangan mungilnya
menarik paksa selimutku. Membuatnya dalam sekejap lepas dari tubuhku. “Nanti
makanannya sudah dingin…”
Aku kembali mengerang, protes. “W-2467-28-02-2467-M-Sleep,”
ucapku cepat. Dalam sekejap saja gadis yang semula berdiri di atas
ranjang—dengan selimut digenggamannya—itu jatuh tertidur. Tepatnya, ia non-aktif.
“Gomen ne, tapi aku ingin membolos
hari ini. Tidurlah, Mayu.” Lekas kubopong gadis itu ke salah satu sisi ranjang.
Kemudian aku tidur tepat di sampingnya. Ya, aku harus tidur.
Gadis berlabel Watanabe Mayu itu adalah
sebuah robot.
Semuanya berawal dan terjadi secara
tiba-tiba. Namun, aku masih sangat mengingatnya. Hari itu tanggal 01 Maret
2467. Tepatnya satu hari setelah kelahiran Mayu. Aku baru saja pulang dari
laboratorium tempatku bekerja. Kemudian aku melihatnya, Mayu melintas setelah
tidak sampai dua detik sebelumnya kami berpapasan. Senyumnya yang terus
diukirnya sepanjang langkahnya, aku melihatnya. Ia benar-benar menyita
perhatianku kala itu.
Sejak itu dalam hati aku berharap ingin
berjumpa dengannya lagi suatu hari kelak…
Aku pulang dengan perasaan berbunga-bunga.
Entah kenapa gadis itu terus melintas di kepalaku sejak hari itu. Meski tidak
mengenalnya, dalam hati aku sangat menyukainya. Gadis yang sama sekali tak
kutahu siapa namanya dan dari mana ia berasal. Ia membuat dadaku terus berdesir
tidak karuan. Aku sangat bahagia.
Hingga kemudian kami kembali bertemu di
laboratorium tempatku bekerja. Terkejut? Tentu saja. Gadis itu tiba-tiba
datang, melintas kembali di hadapanku. Namun, kali ini tak kulihat senyum di
wajahnya. Datar, hanya itu yang ditunjukkannya kala itu. Dan sayangnya ia sama
sekali tak menengok ke arahku. Ia terus berjalan hingga ke ruangan yang aku
tahu adalah laboratorium milik temanku, Kamiki Ryunosuke.
Penasaran, aku turut masuk ke dalam ruangan
itu. Kulihat mereka berbincang sejenak, sebelum akhirnya menyadari kehadiranku.
Aku kikuk, tidak tahu harus mengatakan apa tujuanku kemari. Pasti Ryunosuke
akan menanyakan itu sebentar lagi.
“Kanata-san, ada apa?” ia
menghampiriku. Dengan senyum seperti biasa.
Aku diam sejenak sebelum akhirnya menjawab,
“Ah, tidak. Aku hanya ingin menemuinya…” Aku menunjuk ke arah gadis itu.
“2467? Untuk apa?” tanyanya lagi.
Aku agak bingung dengan angka yang baru
saja disebutkannya. “2467?”
“Ya. Namanya Watanabe Mayu, tapi nama
sebenarnya 2467. Dia produk terbaruku tahun ini. Bagaimana menurutmu?” ia
kembali mengajukan pertanyaan padaku.
Saat itulah aku baru sadar bahwa gadis yang
kusukai adalah sebuah robot ke 467 ciptaan temanku—Kamiki Ryunosuke. Kecewa?
Lumayan. Semula kupikir ia adalah manusia, sama sepertiku. Tapi, sayang sekali
itu bukan. Ia hanyalah sebuah benda yang luar biasa hebat berhasil menipu
pengelihatanku. Serta perasaanku.
“Aku tertipu. Kupikir dia manusia,” ucapku
terkekeh miris. Agaknya aku memang cukup kecewa.
“Kau bisa memilikinya jika kau menyukainya,
Kanata-san.”
“Ah, tidak-tidak. Itu kan karya terbarumu,
Ryunosuke-san…” tolakku sungkan.
“Tidak apa-apa. Lagipula aku sudah cukup
dengan teman-temanku yang lain. Kau butuh teman, Kanata-san…” Ryunosuke
menepuk pundakku. “Oh ya, aku memiliki robot manusia lain selain 2467. Ya, itu
sih sebelum aku menciptakan 2467. Lihat,” ia menuntunku ke sebuah tempat. Di
sana ada beberapa tabung yang diletakkan horizontal. Ryunosuke tampak menekan
salah satu tombol dan dalam sekejap tabung-tabung itu terbuka. Mereka semua
benar-benar luar biasa.
“Ini yang paling kusukai, 2464-Maeda Atsuko
dan berikutnya 2456-Oku Manami. Mereka manis, kan?” goda Ryunosuke.
“Tapi, kurasa 2467 lebih manis…” jawabku
malu-malu.
“Oh ya, ini kode untuk 2467.” Ryunosuke
memberikan sebuah benda seperti fiberglass dengan beberapa kode di
dalamnya. “Kurasa kau akan membutuhkannya suatu saat. Ia bisa menjadi milik
seseorang yang menyebutkan kode itu di dekatnya. Cobalah.”
Aku menerima benda itu dan lekas melangkah
ke arah gadis berlabel 2467-Watanabe Mayu itu. “W-2467-28-02-2467-M,”
ucapku mantap.
Gadis itu diam menatap mataku. Ia sama
sekali tak berkedip untuk kurun waktu 5 detik lamanya. Entah apa yang terjadi
saat itu. Namun, setelah itu ia tersenyum dan dengan tepat menyebut namaku.
“Konichiwa, Hongo Kanata-san…”
**
Dengan agak malas, kubuka kelopak mataku.
Hal yang pertama kali kulihat adalah sosok Mayu yang masih tidur tepat di
sampingku. Dengan iseng kucubit pipinya, lembut. Ia sama sekali tak terganggu.
Tentu saja karena ia bukan manusia.
Kutengok ke arah jam dinding di kamarku,
jarum panjangnya tepat menunjuk ke arah sebelas sementara jarum pendeknya
hampir berada pada kepala angka sepuluh. Aku benar-benar membolos, kan?
“W-2467-28-02-2467-M-On,” ucapku
sembari bangkit dari tempat tidur.
Kulihat gadis itu ikut bangkit, “Kanata-san,
kau tidak bekerja?” tanyanya.
“Aku membolos,” aku lekas meraih handuk di
samping kamar mandi dan lekas masuk ke kamar mandi setelahnya.
“Kanata-san, apa perlu kusiapkan air
hangat?” tanyanya. Suaranya tampak begitu dekat, mungkin ia sedang berada tepat
di depan kamar mandi.
“Tidak perlu,” jawabku dari kamar mandi.
“Kalau begitu aku akan siapkan makan siang
dulu, ok?” ucapnya.
Aku tak menjawab. Kupencet tombol di
sampingku dan dalam sekejap air dingin terjun dari atas membasahi tubuhku. Aih,
segarnya.
**
Begitu aku keluar dari kamar mandi, kulihat
sepiring sandwich yang sudah dingin di atas meja makan. Sayang sekali
kalau tidak dimakan. Bukankah Mayu sudah menyiapkannya susah payah?
Aku lekas duduk di salah satu kursi dan
melahap sandwich itu. Kulihat Mayu panik. Bingung, aku lekas bertanya.
“Ada apa?”
“Sandwich itu sudah dingin. Tidak
baik, kan?” ucapnya menyesal.
Aku tersenyum, “Daijoubu, tidak akan
mati hanya karena makanan seperti ini…”
“Tetap saja, kan… Aku tidak enak pada
Kanata-san…” ucapnya.
“Kalau begitu kau cepat siapkan makan
siang, ya! Aku benar-benar lapar,” ucapku.
“Eh? A… hai’.” Kulihat ia bergegas
menuju dapur.
Meskipun ia hanya sebuah robot, tapi dia
tidak buruk juga.
Sepuluh menit kemudian kujumpai beberapa
masakan bertengger di atas meja makan. Mereka tampak begitu lezat. “Selamat
menikmati,” ucap Mayu kemudian duduk di hadapanku.
“Itadakimasu!” ucapku kemudian
melahap makanan itu satu persatu.
Saat ini aku merasa hidupku sudah cukup
lengkap, dengan Mayu di sisiku tentu saja.
.2467…
.to be
continue~
Glossarium
:
*Ohayou
gozaimasu : selamat pagi
*Hai’ : ya
*Itadakimasu : selamat makan
*Konichiwa : selamat siang
*Daijoubu : tidak apa
*Gomen : maaf
kereeennn!!! aku ngeship mayu x kanata juga :)
BalasHapusboleh request gaak?