Minggu, 21 April 2013

2467 [Chapter IV]



Title               : 2467…

Author           : dita-cHun © 2012

Type               : Multichapter

Chapter          : 4

Rating            : PG+12

Genre             : Fantasy, Romance, Sci-Fi, Friendship

Idea                 : Vocaloid - Regret Message, Absolute Boyfriend [Jue Dui Da Ling]

Language        : Indonesian

Theme Song  : [Vocaloid] Kagamine Rin – Regret Message

Main Cast      :

*Hongo Kanata

*Watanabe Mayu

Disclaimer     : All cast punya Tuhan! ^^ Adil, pan?

Warning        : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya

Note               : Yatta! Akhirnya part 4 release dan inilah part terakhir bagi FF 2467 :’( Aih, FF Sci-Fi pertama sayaaa~ Baiklah, sebelum baca saya akan katakan bahwa saya paling susah bikin ending. Rata-rata FF saya kalo gak angst ya gantung, yang hepi ending ya begitulah *Plak* Di sini saya nggak akan menyelesaikan semua masalah sampai akar-akarnya *tengok ending* Saya cuma endingkan seperlunya aja *Plakdesh* Buat yang rekues, moga gak kecewa yaaah! >//< semoga tetep suka FF ini sampe part akhir begini! Ok, happy reading! Jangan lupa komen! ^^d







     “Aku Kanata, Hongo Kanata. Kau tidak ingat?” tanyaku mencoba mengingatkannya. Jika beruntung mungkin saja ia akan kembali ingat padaku.

     “Aku tidak mengenalmu,” ungkapnya.

     “Aku pemilikmu, Mayu…” ucapku.

     “Kau bukan pemilikku. Pemilikku adalah Yamada Ryosuke-san,” jawaban itu sukses membuatku tersentak hebat. “Yamada Ryosuke-san akan menjemputku sebentar lagi…”

     “Tidak, Mayu!” volume suaraku naik. Kugapai lengannya agar ia mengurungkan niatnya untuk keluar rumah. “Pemilikmu adalah aku dan sampai kapanpun itu tidak akan berubah.”

     “Lepaskan aku,” ia memberontak. Kuperkuat genggamanku hingga menjadi sebuah cengkeraman kasar. Ia mengerang sambil terus menarik lengannya. Aku tak melepasnya begitu saja, aku semakin memperkuat genggamanku. Hingga akhirnya, kurasakan sesuatu melesak kuat menghantam dadaku. Mayu baru saja mendorongku.

     Aku lupa kalau ia juga sama, yakni robot yang bisa membunuhku kapan saja.

     Ia bergegas keluar dengan langkah yang terus terjaga kestabilannya. Sedangkan aku sendiri sudah tidak mampu bangkit dari tempatku. Kurasakan dadaku lebih nyeri dari sebelumnya. Aku tak ingin kehilangannya.

     Kupanggil namanya berkali-kali. Kutingkatkan volume suaraku sekuat yang kumampu. Namun, yang terdengar hanya desahan-desahan tak berguna dari mulutku. Tentu saja hal itu tak membuat Mayu berbalik, menoleh sedikitpun tidak. Ia hanya diam sambil terus bergegas menuju teras.

     Tak lama kemudian, kulihat sosok pria yang kutahu bernama Yamada Ryosuke itu berdiri di depan pagar rumahku. Dengan lancang digapainya pinggang Mayu hingga menutup jarak di antara mereka. Sekilas kulihat Ryosuke menoleh ke arahku dengan senyum kemenangan terlintas di bibirnya. Hingga kemudian yang kurasakan adalah gelap. Hanya gelap.

**

     Aku merasa sesuatu masuk ke dalam pandanganku. Hal yang pertama kali kulihat adalah lampu yang bertengger apik di atap rumah. Aku menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan. Dadaku nyeri.

     Kuedarkan pandanganku ke sana kemari. Yang kujumpai hanyalah ubin-ubin tempatku bersandar dan perabotan rumah yang masih berdiam di tempatnya. Aku tak menjumpai Mayu dimanapun sepanjang aku melihat. Mungkin ia belum pulang.

     Aku bangkit, beranjak menuju sofa tak jauh dari tempatku semula. Aku benar-benar linglung setelah entah berapa jam aku pingsan. Yang pasti aku tahu bahwa ini sudah malam.

     Sesuatu mengusik pendengaranku. Itu bel rumah. Seseorang pasti sedang berkunjung—entah siapa. Malas untuk bangkit, kuraih komputer seukuran ponsel di atas meja. Jemariku mulai menari-nari di atas sana, membuka pintu pagar tanpa peduli siapa yang datang.

     Tak sampai setengah menit kulihat sosok pria berdiri di hadapanku. Aku kenal betul dengan pria itu. Ia mantan rekan kerjaku, Chinen Yuuri. Aku lekas bergeser dari posisiku semula, mempersilahkannya duduk di sampingku.

     “Ada apa, Chinen Yuuri-san?” tanyaku.

     “Kudengar Endless Human-0O0 menghilang,” ia lekas mengambil posisi yang pas untuk duduk.  Aku mengangguk membenarkan akan pernyataannya barusan.

     “Perang besar akan dimulai kembali dan kali ini dalangnya Yamada Ryosuke-san,” ungkapku.

     Ia mengangguk paham. Sama sekali tak ada tanda keterkejutan di wajah mungilnya itu. Ia tetap tenang berbicara, “Sejak pertemuan hari itu aku sudah memperkirakan hal seperti ini akan terjadi.”

     Endless Human-0O0 tidak boleh jatuh pada tangan yang salah. Jika tidak, maka hidup manusia di muka bumi tinggal menghitung hari,” lanjutnya.

     “Aku tidak mengerti kenapa Ryosuke-san melakukan ini…” komentarku.

     “Alasannya sangat sederhana. Karena ia tidak percaya pada manusia. Dari sisi sesama robot, aku sama sekali tidak menyalahkannya. Tapi, dari sisi kenyataan aku merasa bahwa pendapatnya tengah keliru,” ucap Yuuri.

     “Aku harus mencarinya, sesegera mungkin.” Aku lekas meraih jaket di dalam laci kemudian memakainya.

     “Sesemangat itu, alasannya pasti tidak ada kaitannya dengan laboratorium pusat, kan?” ucapnya menyelidik.

     Aku diam sejenak. “Ia menculik kekasihku.”

**

     Langkahku terhenti begitu kujumpai sebuah rumah mewah yang pernah kukunjungi sekali. Tanpa membunyikan bel aku melompati pagar besi di hadapanku. Aku tidak peduli apapun yang akan terjadi padaku selanjutnya. Yang ada di otakku hanya bagaimana cara mendapatkan Mayu kembali.

     Kulangkahkan kakiku menyusuri setiap ichi rumah mewah itu. Sesekali aku melirik ke arah jendela untuk mencari keberadaan Mayu—jika beruntung—atau Ryosuke. Sudah lima belas menit aku menyusuri rumah itu, namun yang kujumpai adalah nihil. Tak kutemukan apapun yang kucari. Mungkin mereka tidak kemari, pikirku.

     “Kau bisa menemukan petunjuk yang bisa membuat kekasihmu kembali jika kau teliti. Itu tidak akan jauh dari rumahnya.”

     Kalimat Yuuri kembali bergema di telingaku. Itulah yang membuatku mengurungkan niat untuk keluar dari rumah itu. Aku harus menemukan petunjuk itu lebih dulu sebelum menghadapi Ryosuke.

     Tiba-tiba pandanganku tertuju pada buah tiruan di samping jendela. Aku ingat bahwa aku pernah menjumpai buah yang sama di tempat yang lain. Buah itu selalu berulang diingatanku. Sesuatu yang berulang itu mungkin saja adalah petunjuk. Warna yang sama, buah yang sama… Ah, jumlah yang sama!

     “Sembilan buah Strawberry merah…” gumamku.

     Aku kembali memutar otak. Apa hubungan antara sembilan buah strawberry, Ryosuke, dan Mayu? Kode? Jumlah kode Mayu dua belas digit angka dan dua digit huruf. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan sembilan.

     Sembilan… Angka itu memang sangat dominan pada Ryosuke. Pembuat Ryosuke bernama Yabu Kouta, itu artinya sembilan digit huruf pemilik pertamanya. Nama yang digunakan sebagai kode awal Ryosuke juga memiliki unsur sembilan, 009-Yamada Ryosuke. Ryosuke pertama kali diaktifkan pada tanggal 09 Mei 2463 sebelum Kouta-san meninggal.

     “Ah!”

**

     Aku tahu petunjuk itu sedikitnya mungkin berguna. Meski ada berbagai peluang yang bisa saja terjadi di luar rencanaku, aku tidak peduli! Yang harus kulakukan sekarang adalah mencari keberadaan Mayu dan mencoba peluang itu sebanyak aku bisa.

     “Kanata-san,” suara baritone itu sukses membuatku berhenti berlari. Seorang pria berlabel Yuya Takaki itu berlari kecil ke arahku.

     “Takaki-san?”

     “Ryunosuke-san menunggumu di laboratoriumnya. Aku tidak tahu masalahnya apa, tapi kelihatannya penting.”

     Aku mengangguk paham kemudian memutar arah menuju laboratorium Ryunosuke. Apa yang akan ia katakan pasti ada kaitannya dengan robot-robotnya. Itu berarti Mayu juga termasuk.

     “Ryunosuke-san,” begitu pintu laboratorium terbuka, aku bergegas menghampiri Ryunosuke yang tampak asyik berkutat dengan komputer di hadapannya. Ia menoleh kemudian bangkit dari posisinya semula.

     “Robot kita hanya tersisa seratus buah. Kurasa robot-robot kita kurang stabil keadaannya. Mereka jadi tidak cukup kuat melawan 2453 dan yang lainnya,” terang Ryunosuke. Tampaknya ia serius dengan pernyataannya barusan.

     “Lalu kau ada rencana?” tanyaku.

     “Tinggal satu. Libatkan 2467,” jawabnya mantap.

     Aku menghela nafas singkat.

     “Kumohon, Kanata-san. Semua ini juga demi seluruh manusia di bumi, termasuk kau dan aku…” pinta Ryunosuke. Ia menepuk pundakku penuh harap.

     “Bukan itu masalahnya,” aku menepis tangannya. “… Mayu tidak di pihak kita lagi.”

     Ryunosuke terbelalak hebat saat itu juga. Kedua bola matanya nyaris keluar dari kelopaknya andai ia tidak kembali mendinginkan pikirannya. “Apa maksudmu?”

     Aku diam, merasa bersalah.

     “Jawab aku, Kanata­-san! Apa maksudmu?” Ryunosuke menggoncang tubuhku.

     “Ryosuke-san menggunakan change codes dan me-restart memori 2467-Watanabe Mayu,” jawabku. Tepat setelah kalimatku selesai tubuhku terhuyung ke belakang. Ryunosuke mendorong tubuhku kasar. Aku tahu, ia pasti kesal.

     Gomen…”

     “Ucapan maafmu itu bahkan tidak berguna lagi untuk saat ini, Kanata-san.” Telak Ryunosuke lalu kembali mengutak-atik komputernya.

     “Tapi, aku mendapatkan petunjuk tentang kode baru itu—mungkin,” ucapku.

     “Sekarang robot buatanku sendiri akan membunuhku. Kuso,” tampaknya Ryunosuke mengabaikan ucapanku barusan.

     “Aku akan pergi, Ryunosuke-san. Aku akan berusaha membawa Mayu kembali,” aku mengambil selangkah demi selangkah menjauh dari laboratorium itu. Ryunosuke masih mengabaikanku. Ia tentu sudah terlalu kesal. Dan ini semua karena kecerobohanku meninggalkan fiberglass kode Mayu di kamar begitu saja.

**

     Dengan mata kepalaku sendiri kulihat sebuah pertempuran dahsyat antara robot-robot milik laboratorium pusat dan robot-robot buatan Ryunosuke yang sekarang ada di pihak Ryosuke. Saat di dalam tabung mereka semua tampak manis, bagaikan peri yang tengah tertidur. Tapi, sekarang mereka tampak begitu mengerikan dengan seragam tempur dan senjata—yang aku pun tak tahu persis itu apa—di genggaman tangan mereka.

     Pandanganku masih terus beredar mencari keberadaan satu robot. Yakni, 2467-Watanabe Mayu. Tiba-tiba kulihat sesosok gadis melintas di hadapanku. Aku jadi ingat satu hal. Ya, ini adalah peristiwa saat kami pertama berjumpa. Gadis itu masih sama dalam posisi yang sama, namun dalam balutan pakaian yang berbeda dan senyum yang berbeda pula. Sejenak aku bergeming. Kemudian aku cepat mengumandangkan kode yang mungkin saja tidak salah.

     R-2467-09-05-2463-S,” ucapku di belakang gadis itu.

     Ia menoleh. Aku benar! Dengan sigap lekas kuraih lengan gadis yang masih diam di hadapanku itu. Aku menariknya menjauh dari tempat itu. Namun, sebuah suara tembakan menghentikan kami.

     Aku menoleh.

     “Kanata-san, 2467 bukan milikmu lagi saat ini. Sekarang ia milikku,” kulihat Ryosuke berdiri tak jauh dari tempat kami semula sembari kedua tangannya menggenggam sebuah senapan yang di arahkan kepadaku.

     “Jangan bermimpi, Ryosuke-san. Sekarang 2467 adalah milikku lagi,” ucapku mengukir senyum kemenangan sembari menarik pelatuk senapan di genggamanku ke arahnya.

     “Benarkah? Aku tidak percaya,” ucapnya. Kudengar samar-samar suara pelatuknya sudah tertarik ke belakang.

     “2467, siapa pemilikmu?” ucap Ryosuke lantang.

     “Pemilikku Yamada Ryosuke-san…”

     Klik!

     Suara itu sukses membuatku menoleh seketika. Kulihat Mayu berdiri sembari mengarahkan senjatanya ke arahku. Aku terpaku, bingung. Jadi, kode yang kuucapkan tadi sama sekali tidak berguna?

     “Aku tidak akan memaafkan siapapun yang menyakiti pemilikku,” ucap Mayu.

     “Kanata-san, kau dengar itu?” kali ini suara Ryosuke lebih lantang dari sebelumnya. Aku diam.

     “Menyedihkan,” lanjutnya. “Habisi dia, Red Strawberry.”

     Deg!

     Tidak, aku tidak salah! Kode itu benar, hanya sebagian kurang tepat. Itu artinya aku masih memiliki peluang lain. Dengan langkah mantap aku melompat ke arah Mayu dan memeluknya hingga jatuh ke lantai. Mungkin ini kesempatan terakhirku.

     R-2467-09-05-2467-S-Change  codes,” bisikku di telinganya.

     Dor!

     Peluru dari senjata Mayu melesat entah kemana. Aku hanya mendengar suara itu tanpa merasakan apapun. Tiba-tiba tubuh Mayu melemas, matanya terpejam sempurna. Ia non-aktif. Ini artinya aku berhasil.

     W-2467-04-03-7312-M-Codes lock forever,” bisikku spontan.

     “Sepertinya kau mendapatkan kode itu, ya?” kurasakan sesuatu menempel di kepalaku. Aku tersentak. Itu pistol.

     Dor!

     Suara itu membuatku lemas seketika. Tidak, peluru itu tidak menembus kepalaku. Kepalaku masih baik-baik saja, hanya terasa lebih berat dari sebelumnya. Mungkin aku hanya terkejut. Lalu suara apa itu tadi?

     Tadaima, Kanata-san…” suara lembut itu merasuk dalam telingaku.

     Aku menoleh. Kulihat Mayu membuka kedua matanya sembari mengulum senyum padaku. “Aku tidak akan memaafkan siapapun yang menyakiti pemilikku…” ucapnya.

     Okaerinasai, Mayu-chan…”

     Pada akhirnya, 2467-Watanabe Mayu milikku telah kembali. Selamat datang, Mayu-chan…






.the-end.



Glossarium    :

*Okaerinasai  : selamat datang
*Tadaima       : aku pulang/aku kembali
*Gomen         : maaf
*Kuso             : sialan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar