Title :
2467…
Author :
dita-cHun © 2012
Type :
Multichapter
Chapter :
4
Rating :
PG+12
Genre :
Fantasy, Romance, Sci-Fi, Friendship
Idea :
Vocaloid - Regret Message, Absolute Boyfriend [Jue Dui Da Ling]
Language :
Indonesian
Theme Song :
[Vocaloid] Kagamine Rin – Regret Message
Main Cast :
*Hongo Kanata
*Watanabe Mayu
Disclaimer :
All cast punya Tuhan! ^^ Adil, pan?
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya
Note :
Yatta! Akhirnya part 4 release dan inilah part terakhir bagi FF 2467 :’( Aih,
FF Sci-Fi pertama sayaaa~ Baiklah, sebelum baca saya akan katakan bahwa saya paling
susah bikin ending. Rata-rata FF saya kalo gak angst ya gantung, yang hepi
ending ya begitulah *Plak* Di sini saya nggak akan menyelesaikan semua masalah
sampai akar-akarnya *tengok ending* Saya cuma endingkan seperlunya aja
*Plakdesh* Buat yang rekues, moga gak kecewa yaaah! >//< semoga tetep
suka FF ini sampe part akhir begini! Ok, happy reading! Jangan lupa komen! ^^d
“Aku
Kanata, Hongo Kanata. Kau tidak ingat?” tanyaku mencoba mengingatkannya. Jika
beruntung mungkin saja ia akan kembali ingat padaku.
“Aku
tidak mengenalmu,” ungkapnya.
“Aku
pemilikmu, Mayu…” ucapku.
“Kau
bukan pemilikku. Pemilikku adalah Yamada Ryosuke-san,” jawaban itu sukses
membuatku tersentak hebat. “Yamada Ryosuke-san akan menjemputku sebentar
lagi…”
“Tidak,
Mayu!” volume suaraku naik. Kugapai lengannya agar ia mengurungkan niatnya
untuk keluar rumah. “Pemilikmu adalah aku dan sampai kapanpun itu tidak akan
berubah.”
“Lepaskan
aku,” ia memberontak. Kuperkuat genggamanku hingga menjadi sebuah cengkeraman
kasar. Ia mengerang sambil terus menarik lengannya. Aku tak melepasnya begitu
saja, aku semakin memperkuat genggamanku. Hingga akhirnya, kurasakan sesuatu
melesak kuat menghantam dadaku. Mayu baru saja mendorongku.
Aku
lupa kalau ia juga sama, yakni robot yang bisa membunuhku kapan saja.
Ia
bergegas keluar dengan langkah yang terus terjaga kestabilannya. Sedangkan aku
sendiri sudah tidak mampu bangkit dari tempatku. Kurasakan dadaku lebih nyeri
dari sebelumnya. Aku tak ingin kehilangannya.
Kupanggil
namanya berkali-kali. Kutingkatkan volume suaraku sekuat yang kumampu. Namun,
yang terdengar hanya desahan-desahan tak berguna dari mulutku. Tentu saja hal
itu tak membuat Mayu berbalik, menoleh sedikitpun tidak. Ia hanya diam sambil
terus bergegas menuju teras.
Tak
lama kemudian, kulihat sosok pria yang kutahu bernama Yamada Ryosuke itu
berdiri di depan pagar rumahku. Dengan lancang digapainya pinggang Mayu hingga
menutup jarak di antara mereka. Sekilas kulihat Ryosuke menoleh ke arahku
dengan senyum kemenangan terlintas di bibirnya. Hingga kemudian yang kurasakan
adalah gelap. Hanya gelap.
**
Aku
merasa sesuatu masuk ke dalam pandanganku. Hal yang pertama kali kulihat adalah
lampu yang bertengger apik di atap rumah. Aku menarik nafas kemudian
menghembuskannya perlahan. Dadaku nyeri.
Kuedarkan
pandanganku ke sana kemari. Yang kujumpai hanyalah ubin-ubin tempatku bersandar
dan perabotan rumah yang masih berdiam di tempatnya. Aku tak menjumpai Mayu
dimanapun sepanjang aku melihat. Mungkin ia belum pulang.
Aku
bangkit, beranjak menuju sofa tak jauh dari tempatku semula. Aku benar-benar
linglung setelah entah berapa jam aku pingsan. Yang pasti aku tahu bahwa ini
sudah malam.
Sesuatu
mengusik pendengaranku. Itu bel rumah. Seseorang pasti sedang berkunjung—entah
siapa. Malas untuk bangkit, kuraih komputer seukuran ponsel di atas meja.
Jemariku mulai menari-nari di atas sana, membuka pintu pagar tanpa peduli siapa
yang datang.
Tak
sampai setengah menit kulihat sosok pria berdiri di hadapanku. Aku kenal betul
dengan pria itu. Ia mantan rekan kerjaku, Chinen Yuuri. Aku lekas bergeser dari
posisiku semula, mempersilahkannya duduk di sampingku.
“Ada
apa, Chinen Yuuri-san?” tanyaku.
“Kudengar
Endless Human-0O0 menghilang,” ia lekas mengambil posisi yang pas untuk
duduk. Aku mengangguk membenarkan akan
pernyataannya barusan.
“Perang
besar akan dimulai kembali dan kali ini dalangnya Yamada Ryosuke-san,”
ungkapku.
Ia
mengangguk paham. Sama sekali tak ada tanda keterkejutan di wajah mungilnya
itu. Ia tetap tenang berbicara, “Sejak pertemuan hari itu aku sudah
memperkirakan hal seperti ini akan terjadi.”
“Endless
Human-0O0 tidak boleh jatuh pada tangan yang salah. Jika tidak, maka hidup
manusia di muka bumi tinggal menghitung hari,” lanjutnya.
“Aku
tidak mengerti kenapa Ryosuke-san melakukan ini…” komentarku.
“Alasannya
sangat sederhana. Karena ia tidak percaya pada manusia. Dari sisi sesama robot,
aku sama sekali tidak menyalahkannya. Tapi, dari sisi kenyataan aku merasa
bahwa pendapatnya tengah keliru,” ucap Yuuri.
“Aku
harus mencarinya, sesegera mungkin.” Aku lekas meraih jaket di dalam laci
kemudian memakainya.
“Sesemangat
itu, alasannya pasti tidak ada kaitannya dengan laboratorium pusat, kan?”
ucapnya menyelidik.
Aku
diam sejenak. “Ia menculik kekasihku.”
**
Langkahku
terhenti begitu kujumpai sebuah rumah mewah yang pernah kukunjungi sekali.
Tanpa membunyikan bel aku melompati pagar besi di hadapanku. Aku tidak peduli
apapun yang akan terjadi padaku selanjutnya. Yang ada di otakku hanya bagaimana
cara mendapatkan Mayu kembali.
Kulangkahkan
kakiku menyusuri setiap ichi rumah mewah itu. Sesekali aku melirik ke arah
jendela untuk mencari keberadaan Mayu—jika beruntung—atau Ryosuke. Sudah lima
belas menit aku menyusuri rumah itu, namun yang kujumpai adalah nihil. Tak
kutemukan apapun yang kucari. Mungkin mereka tidak kemari, pikirku.
“Kau
bisa menemukan petunjuk yang bisa membuat kekasihmu kembali jika kau teliti. Itu
tidak akan jauh dari rumahnya.”
Kalimat
Yuuri kembali bergema di telingaku. Itulah yang membuatku mengurungkan niat
untuk keluar dari rumah itu. Aku harus menemukan petunjuk itu lebih dulu
sebelum menghadapi Ryosuke.
Tiba-tiba
pandanganku tertuju pada buah tiruan di samping jendela. Aku ingat bahwa aku
pernah menjumpai buah yang sama di tempat yang lain. Buah itu selalu berulang
diingatanku. Sesuatu yang berulang itu mungkin saja adalah petunjuk. Warna yang
sama, buah yang sama… Ah, jumlah yang sama!
“Sembilan
buah Strawberry merah…” gumamku.
Aku
kembali memutar otak. Apa hubungan antara sembilan buah strawberry,
Ryosuke, dan Mayu? Kode? Jumlah kode Mayu dua belas digit angka dan dua digit
huruf. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan sembilan.
Sembilan…
Angka itu memang sangat dominan pada Ryosuke. Pembuat Ryosuke bernama Yabu
Kouta, itu artinya sembilan digit huruf pemilik pertamanya. Nama yang digunakan
sebagai kode awal Ryosuke juga memiliki unsur sembilan, 009-Yamada Ryosuke. Ryosuke
pertama kali diaktifkan pada tanggal 09 Mei 2463 sebelum Kouta-san
meninggal.
“Ah!”
**
Aku
tahu petunjuk itu sedikitnya mungkin berguna. Meski ada berbagai peluang yang
bisa saja terjadi di luar rencanaku, aku tidak peduli! Yang harus kulakukan
sekarang adalah mencari keberadaan Mayu dan mencoba peluang itu sebanyak aku
bisa.
“Kanata-san,”
suara baritone itu sukses membuatku berhenti berlari. Seorang pria
berlabel Yuya Takaki itu berlari kecil ke arahku.
“Takaki-san?”
“Ryunosuke-san
menunggumu di laboratoriumnya. Aku tidak tahu masalahnya apa, tapi kelihatannya
penting.”
Aku
mengangguk paham kemudian memutar arah menuju laboratorium Ryunosuke. Apa yang
akan ia katakan pasti ada kaitannya dengan robot-robotnya. Itu berarti Mayu
juga termasuk.
“Ryunosuke-san,”
begitu pintu laboratorium terbuka, aku bergegas menghampiri Ryunosuke yang
tampak asyik berkutat dengan komputer di hadapannya. Ia menoleh kemudian
bangkit dari posisinya semula.
“Robot
kita hanya tersisa seratus buah. Kurasa robot-robot kita kurang stabil
keadaannya. Mereka jadi tidak cukup kuat melawan 2453 dan yang lainnya,” terang
Ryunosuke. Tampaknya ia serius dengan pernyataannya barusan.
“Lalu
kau ada rencana?” tanyaku.
“Tinggal
satu. Libatkan 2467,” jawabnya mantap.
Aku
menghela nafas singkat.
“Kumohon,
Kanata-san. Semua ini juga demi seluruh manusia di bumi, termasuk kau
dan aku…” pinta Ryunosuke. Ia menepuk pundakku penuh harap.
“Bukan
itu masalahnya,” aku menepis tangannya. “… Mayu tidak di pihak kita lagi.”
Ryunosuke
terbelalak hebat saat itu juga. Kedua bola matanya nyaris keluar dari
kelopaknya andai ia tidak kembali mendinginkan pikirannya. “Apa maksudmu?”
Aku
diam, merasa bersalah.
“Jawab
aku, Kanata-san! Apa maksudmu?” Ryunosuke menggoncang tubuhku.
“Ryosuke-san
menggunakan change codes dan me-restart memori 2467-Watanabe
Mayu,” jawabku. Tepat setelah kalimatku selesai tubuhku terhuyung ke belakang.
Ryunosuke mendorong tubuhku kasar. Aku tahu, ia pasti kesal.
“Gomen…”
“Ucapan
maafmu itu bahkan tidak berguna lagi untuk saat ini, Kanata-san.” Telak
Ryunosuke lalu kembali mengutak-atik komputernya.
“Tapi,
aku mendapatkan petunjuk tentang kode baru itu—mungkin,” ucapku.
“Sekarang
robot buatanku sendiri akan membunuhku. Kuso,” tampaknya Ryunosuke mengabaikan
ucapanku barusan.
“Aku
akan pergi, Ryunosuke-san. Aku akan berusaha membawa Mayu kembali,” aku
mengambil selangkah demi selangkah menjauh dari laboratorium itu. Ryunosuke
masih mengabaikanku. Ia tentu sudah terlalu kesal. Dan ini semua karena
kecerobohanku meninggalkan fiberglass kode Mayu di kamar begitu saja.
**
Dengan
mata kepalaku sendiri kulihat sebuah pertempuran dahsyat antara robot-robot
milik laboratorium pusat dan robot-robot buatan Ryunosuke yang sekarang ada di
pihak Ryosuke. Saat di dalam tabung mereka semua tampak manis, bagaikan peri
yang tengah tertidur. Tapi, sekarang mereka tampak begitu mengerikan dengan
seragam tempur dan senjata—yang aku pun tak tahu persis itu apa—di genggaman
tangan mereka.
Pandanganku
masih terus beredar mencari keberadaan satu robot. Yakni, 2467-Watanabe Mayu.
Tiba-tiba kulihat sesosok gadis melintas di hadapanku. Aku jadi ingat satu hal.
Ya, ini adalah peristiwa saat kami pertama berjumpa. Gadis itu masih sama dalam
posisi yang sama, namun dalam balutan pakaian yang berbeda dan senyum yang
berbeda pula. Sejenak aku bergeming. Kemudian aku cepat mengumandangkan kode
yang mungkin saja tidak salah.
“R-2467-09-05-2463-S,”
ucapku di belakang gadis itu.
Ia
menoleh. Aku benar! Dengan sigap lekas kuraih lengan gadis yang masih diam di
hadapanku itu. Aku menariknya menjauh dari tempat itu. Namun, sebuah suara
tembakan menghentikan kami.
Aku
menoleh.
“Kanata-san,
2467 bukan milikmu lagi saat ini. Sekarang ia milikku,” kulihat Ryosuke berdiri
tak jauh dari tempat kami semula sembari kedua tangannya menggenggam sebuah
senapan yang di arahkan kepadaku.
“Jangan
bermimpi, Ryosuke-san. Sekarang 2467 adalah milikku lagi,” ucapku
mengukir senyum kemenangan sembari menarik pelatuk senapan di genggamanku ke
arahnya.
“Benarkah?
Aku tidak percaya,” ucapnya. Kudengar samar-samar suara pelatuknya sudah
tertarik ke belakang.
“2467,
siapa pemilikmu?” ucap Ryosuke lantang.
“Pemilikku
Yamada Ryosuke-san…”
Klik!
Suara
itu sukses membuatku menoleh seketika. Kulihat Mayu berdiri sembari mengarahkan
senjatanya ke arahku. Aku terpaku, bingung. Jadi, kode yang kuucapkan tadi sama
sekali tidak berguna?
“Aku
tidak akan memaafkan siapapun yang menyakiti pemilikku,” ucap Mayu.
“Kanata-san,
kau dengar itu?” kali ini suara Ryosuke lebih lantang dari sebelumnya. Aku
diam.
“Menyedihkan,”
lanjutnya. “Habisi dia, Red Strawberry.”
Deg!
Tidak,
aku tidak salah! Kode itu benar, hanya sebagian kurang tepat. Itu artinya aku
masih memiliki peluang lain. Dengan langkah mantap aku melompat ke arah Mayu
dan memeluknya hingga jatuh ke lantai. Mungkin ini kesempatan terakhirku.
“R-2467-09-05-2467-S-Change codes,” bisikku di telinganya.
Dor!
Peluru
dari senjata Mayu melesat entah kemana. Aku hanya mendengar suara itu tanpa merasakan
apapun. Tiba-tiba tubuh Mayu melemas, matanya terpejam sempurna. Ia non-aktif.
Ini artinya aku berhasil.
“W-2467-04-03-7312-M-Codes
lock forever,” bisikku spontan.
“Sepertinya
kau mendapatkan kode itu, ya?” kurasakan sesuatu menempel di kepalaku. Aku
tersentak. Itu pistol.
Dor!
Suara
itu membuatku lemas seketika. Tidak, peluru itu tidak menembus kepalaku.
Kepalaku masih baik-baik saja, hanya terasa lebih berat dari sebelumnya.
Mungkin aku hanya terkejut. Lalu suara apa itu tadi?
“Tadaima,
Kanata-san…” suara lembut itu merasuk dalam telingaku.
Aku
menoleh. Kulihat Mayu membuka kedua matanya sembari mengulum senyum padaku.
“Aku tidak akan memaafkan siapapun yang menyakiti pemilikku…” ucapnya.
“Okaerinasai,
Mayu-chan…”
Pada
akhirnya, 2467-Watanabe Mayu milikku telah kembali. Selamat datang, Mayu-chan…
.the-end.
Glossarium :
*Okaerinasai : selamat datang
*Tadaima :
aku pulang/aku kembali
*Gomen :
maaf
*Kuso :
sialan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar