Title :
2467…
Author :
dita-cHun © 2012
Type :
Multichapter
Chapter :
2
Rating :
PG+12
Genre :
Fantasy, Romance, Friendship
Idea :
Vocaloid - Regret Message, Absolute Boyfriend [Jue Dui Da Ling]
Language :
Indonesian
Theme Song :
[Vocaloid] Kagamine Rin – Regret Message
Main Cast :
*Hongo Kanata
*Watanabe Mayu
Disclaimer :
All cast punya Tuhan! ^^ Adil, pan?
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya
Note :
Saya masih nggak paham, apa cerita kayak begini nistanya bisa disebut dengan science-fiction? Karena saya
benar-benar ragu mau masukkan genre itu di sini, saya tetap menyebutnya fantasy—karena ini dari khayalan saya
yang ketinggian. ^^V Yang saya herankan kenapa saya terus-terusan menghentikan
part pas adegan makan -__-‘ mungkin karena saya laper kali, ya? *Plak* Ya
udahlah. Semoga kalian semua suka dengan lanjutan chapternya! ^^V happy reading
dan jangan lupa komen! ^^d
Pagi-pagi
sekali aku sudah berkemas. Hari ini akan ada meeting seputar kerjasama
seluruh ilmuwan wilayah Tokyo utama. Karena aku termasuk di antara mereka, aku
harus pergi lebih awal dari biasanya. Kulihat Mayu masih tidur, kuputuskan
untuk tidak membangunkannya. Aku hanya meninggalkan memo—bahwa aku akan
berangkat lebih awal.
“Ittekimasu,”
lekas kutekan beberapa kode di samping pintu. Dalam sekejap aroma bunga
menghambur ke seluruh ruangan di dalam rumah. Berikutnya aku menekan beberapa
kode lain, antivirus untuk rumahku. Pada akhirnya, aku melangkahkan kaki
keluar rumah. Bergegas menuju laboratorium secepat mungkin.
Meskipun
hari masih cukup pagi, kulihat jalanan sudah mulai ramai penduduk kota.
Beberapa di antara mereka berjalan kaki menuju tempat kerja—sepertiku—dan beberapa
yang lain menggunakan mobil teknologi canggih, kusimpulkan itu produk keluaran
terbaru tahun 2465.
Ya,
abad 25 memang sudah jauh berbeda dari abad 21. Bumi sudah semakin jarang
manusia. Banyak orang yang tidak bisa bertahan hidup lama—entah karena terserang
virus atau karena kecelakaan. Aku termasuk manusia yang bisa hidup lebih dari
empat puluh tahun. Ini bukan waktu yang singkat mengingat mayoritas manusia
lebih cepat meninggal di usia dua puluh delapan tahun.
Bagi
kami—penduduk abad 25—tidak ada perbedaan antara remaja dan orang dewasa. Dari
segi wajah hingga pekerjaan, semuanya bisa setara. Setiap penduduk yang berusia
sepuluh tahun atau lebih sudah bisa bekerja di perusahaan, atau jika beruntung
bisa bekerja di laboratorium pusat utama kota. Sejak ditemukannya ramuan awet
muda dengan kandungan 35% herbal dan 65% bahan kimia, tidak ada lagi manusia
usia lanjut. Yang ada hanya bayi, manusia remaja, manusia dewasa, robot, dan
mayat.
Jika
sesekali melintas di kawasan Himawari, kami bisa menjumpai beberapa robot yang
tampak persis seperti manusia normal. Para ilmuwan pusat banyak yang
menciptakan robot untuk menghasilkan uang dan mempertahankan negara—karena
manusia sudah semakin langka. Kadang ada sesuatu yang membuatku khawatir. Hal
itu hanya satu, namun berkali-kali mengusik batinku dan berhasil membuatku
takut. Sesuatu yang disebut terputar-balik.
“Kanata-san,
ohayou gozaimasu…” seorang pria tampak berdiri tak jauh dari posisiku
semula. Aku menghampirinya dengan senyum sumringah.
“Ryosuke-san,
ohayou.”
“Kanata-san,
kau ikut meeting itu, kan?” tanyanya. Aku mengangguk mengiyakan. Kami
lekas melangkah bersama menuju laboratorium pusat.
Namanya
Yamada Ryosuke. Tepatnya 009-Yamada Ryosuke. Ia bukan manusia, ia robot. Karena
intelligence-nya yang luar biasa melebihi robot-robot lain, ia lolos
untuk bekerja di laboratorium pusat. Aku sendiri heran mengapa mereka
mengizinkan robot untuk turut campur dalam urusan besar manusia seperti ini.
Satu
lagi robot lain yang bekerja di laboratorium pusat selain Ryosuke. Namanya 1130-Chinen
Yuuri. Intelligence-nya memang sedikit lebih rendah dibanding Ryosuke.
Tapi, ia termasuk robot yang cukup rajin. Mungkin itu alasan ketua laboratorium
pusat memperkerjakannya di sini.
“Yuuri-san,
kau masih bekerja?” tanya Ryosuke—menyapa.
“Begitulah.
Ini termasuk produk yang akan dibicarakan pada meeting hari ini,”
jawabnya tanpa mengabaikan tabung reaksi di genggamannya. Ryosuke mengangguk
paham.
“Yuuri-san,
Ryosuke-san. Aku duluan, ya!” pamitku pada keduanya. Sepertinya aku
ingat sesuatu.
**
Ponselku
berdering, aku lekas mengambilnya dari saku kemejaku. Layar tembus pandang itu
tampak menunjukkan deretan huruf dan angka—nama penelepon. Aku lekas menekan
salah satu tool di sana. Seketika kulihat wajah penelepon itu pada layar
ponselku.
“Ada
apa, Mayu?” tanyaku.
“Kanata-san,
hari ini pulang terlambat tidak? Aku harus menyiapkan makan malam pukul
berapa?” tanyanya dari seberang sana.
“Kurasa
aku akan pulang tepat waktu, jadi kau siapkan makan malam seperti biasa saja.”
“Souka.
Kalau begitu, sudah ya. Bekerja dengan giat, ok!” ucapnya. Aku mengangguk.
Setelah itu Mayu tampak memutuskan sambungan telepon.
“Kanata-san,”
kulihat Ryunosuke berlari kecil ke arahku. “Ada yang ingin kau bicarakan?”
“Ya,”
aku mengangguk.
“Tentang
apa?” tanyanya lagi.
“Tentang
robot-robotmu,” jawabku. Ia mengangguk paham.
**
“Baiklah,
hari ini kita akan mendiskusikan tentang produk baru milik Chinen Yuuri-san.
Kabarnya kau memiliki berita besar mengenai produkmu, Yuuri-san.” Ucap
ketua laboratorium pusat—Yamashita Tomohisa—mengawali pertemuan hari ini.
Yuuri
mengangguk sekilas kemudian bangkit dari posisinya semula. Sebuah komputer
dengan layar tembus pandang itu tampak menunjukkan tulisan ‘input’ untuk
kurun waktu dua detik lamanya. Kami semua menunggu dengan diam dan rasa
penasaran. Mungkin, itu produk yang sempat kami—aku dan Ryosuke—singgung tadi
pagi.
“Baiklah,
aku akan menjelaskan.” Yuuri tampak percaya diri berdiri di hadapan kami.
Layar
komputer itu kemudian menunjukkan sebuah gambar manusia tiga dimensi. “Ini
adalah manusia,” jelasnya. Kemudian ia menekan salah satu tool lagi di
sana. Kali ini yang muncul adalah struktur tubuh robot dalam bentuk yang sama,
yakni tiga dimensi. “Ini adalah robot,” Yuuri melanjutkan.
“Seperti
yang kita ketahui, sejak abad 25 manusia sudah semakin langka di muka bumi.
Bahkan robot nyaris mendominasi keberadaan mereka di bumi ini. Manusia adalah
makhluk utama yang paling dibutuhkan keberadaannya di bumi ini jauh dibanding
keberadaan robot. Tanpa adanya manusia, robot tidak akan pernah ada. Jika
manusia pada waktu yang akan datang benar-benar punah, maka tidak akan ada lagi
robot di muka bumi setelah itu.” Yuuri terus menjelaskan panjang lebar.
“Jadi,
kau akan membuat produk untuk membuat manusia kembali mendominasi bumi?”
Ryosuke tampak menyela.
“Tidak
sebanyak itu juga. Hanya saja aku membuat produk agar setiap manusia bisa hidup
lebih lama. Dan jika mungkin aku ingin membuat produk yang membuat manusia
hidup abadi,” ungkap Yuuri.
Semua
orang yang ada di ruangan ini mengangguk paham.
“Lalu
bagaimana jika manusia kembali melakukan kerusakan di muka bumi seperti abad 21
hingga abad 23?” tanya Ryosuke lagi. Tampaknya ia tertarik sekali dengan
pembicaraan ini.
“Mencobanya
lebih baik daripada tidak sama sekali, Ryosuke-san.” Yuuri masih teguh.
“Yuuri-san,
kau tampaknya teguh untuk mempertahankan keberadaan manusia di bumi. Padahal
kau bukan manusia, tapi kenapa?” tanya seorang wanita yang duduk tepat di
hadapanku—Shida Mirai.
“Aku
juga sependapat dengan Mirai-san. Pasti ada tujuan khusus kan, Yuuri-san?
Selidik wanita di samping Mirai—Kawashima Umika.
“Aku…”
Yuuri mencoba menjawab. “Sedang mencoba percaya pada manusia, Mirai-san,
Umika-san.”
Jujur
saja, mendengar pernyataan Yuuri barusan aku begitu kagum. Ia hanya sebuah
robot, ciptaan manusia. Ia mengatakan hal itu secara blak-blakan—meskipun aku
tahu mereka tidak punya perasaan seperti kami manusia. Aku begitu menghargai
pendapatnya, tepatnya senang atas pendapatnya.
“Jadi,
apa nama produk itu, Yuuri-san?” Ryosuke kembali bertanya.
“Aku
menyebutnya Endless Human-0O0,” jawab Yuuri.
“Eh?”
“Kenapa
angka itu 0 kemudian huruf O dan angka 0 lagi?” tanya seorang pria yang
duduknya paling ujung—Inoo Kei.
“Angka
0 pertama menunjukkan awal. Awalnya, produk ini tidak ada, yakni nol. Huruf O
melambangkan lingkaran yang memiliki sisi yang tak terhingga—tidak putus. Pada
saat produk ini ada, produk ini akan terus mendominasi perputaran masa. Dan angka 0 yang terakhir menunjukkan akhir.
Pada akhirnya, tidak akan ada produk Endless Human yang berikutnya
apalagi berikutnya lagi. Ini produk ramuan terakhir yang kubuat,” jawab Yuuri
panjang lebar.
“Produk
terakhir?” Setelah sekian lama diam, akhirnya aku angkat bicara.
Yuuri
mengangguk. “Ini produk terakhirku sebelum mengundurkan diri.”
Kami
semua terkejut atas pernyataannya barusan. “Tapi, kenapa Yuuri-san?”
tanya seorang pria lain di samping Inoo Kei—Matsumoto Jun.
“Aku
merasa waktuku sudah tidak banyak. Kamenashi Kazuya-san yang membuatku
sudah tiada saat ini. Aku merasa waktuku non-aktif untuk selamanya sudah
hampir tiba.” Ungkapnya terang-terangan di hadapan kami semua.
“Baiklah,
kuharap jangan menyelaku dulu untuk kali
ini. Aku akan menjelaskan lebih lanjut mengenai produk ini.” Yuuri kembali
menekan tool lain di komputer itu. Kemudian muncullah ramuan yang
dimaksudnya. Aku benar-benar terkesima dengan produk baru itu. Hebat.
**
“Kanata-san,
kudengar kau juga memiliki robot di rumahmu. Apa itu benar?” tanya Ryosuke saat
kami pulang bersama dari laboratorium pusat.
Aku
mengangguk membenarkan. “Kamiki Ryunosuke-san yang memberikannya
padaku.”
“Ah,
benarkah? Kalau boleh kutahu siapa namanya?”
“2467-Watanabe
Mayu,” jawabku.
Ryosuke
mengangguk paham. “Lain kali ajak dia ke laboratorium. Aku jadi penasaran.”
Aku
terkekeh. “Kapan-kapan saja. Aku takut kau naksir nanti.”
Seiring
perjalanan kami, senja menyambut. Matahari sudah kembali dari tempat
peraduannya. Dalam sekejap saja lampu-lampu otomatis kota menyala terang.
Bintang di langit rasanya sukar sekali dijumpai saat ini. Cahaya mereka kalah
dengan terangnya lampu-lampu otomatis kota. Maka dari itu, jika kami bisa
melihat bintang saat malam hari, tentu adalah momen unik bagi kami.
Aku
dan Ryosuke terus melangkah dengan candaan sepanjang perjalanan kami. Begitu
sampai di jalan Himawari, kami berpisah. Ia tinggal di sana. Karena itu
merupakan kediaman bagi para robot. Pernah sekali aku mengunjungi apartemennya
dan di sana benar-benar penuh dengan teknologi canggih. Lain kali aku akan
mampir lagi ke sana.
**
“Kanata-san,
konbanwa…” sapa Mayu yang sudah berada di sisi pagar.
“Kau
menungguku?” tanyaku. Ia mengangguk.
“Lain
kali seharusnya Kanata-san membeli mobil seperti mereka,” kudengar ia
kembali mengoceh tentang keterlambatanku pulang. Aku memang kurang suka
mengendarai mobil, tepatnya kurang bisa. Oleh karenanya, aku lebih senang pergi
dengan berjalan kaki kemanapun. Tapi, berkali-kali Mayu menyinggungku untuk
membeli mobil agar aku tidak sering pulang terlambat.
Pada
akhirnya aku tetap menjawab, “Akan kupikirkan lagi…”
Sejujurnya,
tanpa memikirkannya dua kali aku bisa menjawabnya, yakni aku tidak akan membeli
mobil. Meski uang yang kumiliki sudah lebih dari cukup untuk membeli mobil
keluaran 2465, tetap saja aku tidak minat. Bagiku, berjalan membuat waktuku
terasa lebih nyaman untuk dijalani.
“Kanata-san,
sedang melamunkan apa?” suara Mayu membuyarkan lamunan singkatku.
“Tidak
ada,” jawabku.
“Kalau
begitu ayo makan,” Mayu menuntunku ke meja makan. Aku hanya mengikutinya dalam
diam. Kemudian kami makan malam seperti malam-malam sebelumnya dengan masakan
Mayu tentu saja.
.2467…
.to be continue~
Glossarium :
*Ittekimasu : aku berangkat
*Ohayou/Ohayou gozaimasu : selamat pagi
*Konbanwa : selamat malam
*Souka :
jadi, begitu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar