Minggu, 21 April 2013

Just Married [Part III]



Title               : Just Married. . .

Sub-Title        : Time to Say Goodbye

Author           : dita-cHun © 2012

Type               : Multichapter

Part                : 3

Rating            : PG+13

Genre             : Romance

Theme Song  : K-Will – Love is Punishment

Main Cast      :

*Kim Hyun-Joong

*Jung So-Min

*Jung Yong-Hwa

*Seo Woo

Disclaimer     : All cast punya Tuhan! ^^ Adil, pan? xD

Warning        : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya

Note               : Yak, part 3 release! Mungkin di sini adegannya terlalu mellow, jadi genre comedy-nya saya hapus aja ya! *Plak* Saya memang agak susah bikin komedi T___T Jangan lupa komen, ya! Ok, happy reading! ^^V





     “So Min-ah,” sebuah suara tak asing menelusup ke dalam telingaku, disusul kemudian sesosok pria yang kukenal berlari kecil ke arahku.

     “Ah, Yong Hwa-sshi. Ada apa?” tanyaku begitu kulihat ia sudah dekat.

     “Anhiyo, kau sudah makan?” tanyanya.

     Aku menggeleng, “Aku masih harus merapikan ini. Mungkin sebentar lagi.”

     Kulihat segaris senyum terlintas di wajahnya, “Baiklah, kutunggu. Kita makan bersama, ok?”

     “Tidak perlu, kau bisa makan duluan.” Tolakku.

     “Gwaenchanha, aku bisa menahan lapar, kok…” jawabnya kemudian keluar dari ruang kerja manager. Aku menghela nafas singkat kemudian melanjutkan pekerjaanku kembali.

     Hari ini adalah hari ke dua belas aku bekerja semenjak melamar pekerjaan di kantor ini. Memang benar kalau gaji pererhari di kantor ini cukup rendah. Hanya tiga ribu won perhari. Hyun Joong bilang ini cukup setimpal dengan jabatanku yang hanya sebatas office girl. Aku bisa melakukan pekerjaan ini lebih dari sepuluh hari, itu sudah lebih baik dari dua bulan lalu. Setidaknya, aku tidak kurang dari lima hari bekerja untuk dipecat.

     Terlalu asyik melamun aku tidak sadar jika sebuah vas tepat berada di samping tanganku. Tak berselang hingga vas itu jatuh berkeping-keping di atas lantai. Aku panik. Lekas saja aku mengambil beberapa pecahan-pecahan vas itu hati-hati dan meletakkannya ke dalam kantong plastik yang sempat kubawa tadi. Hanya satu harapanku saat ini. Aku tidak ingin dipecat. Setidaknya, aku tidak ingin membuat Hyun Joong merasa sia-sia membantuku mendapatkan pekerjaan ini.

     “Aish!” tanpa sengaja jari tengahku teriris salah satu kepingan vas. Kulihat dengan jelas darah segar mengalir dari sana.

     “So Min-ah, apa yang terjadi?” kulihat Yong Hwa bergegas masuk ke dalam ruangan.

     “Gwaenchanhayo, Yong Hwa-sshi.” Ucapku berusaha tak membuatnya panik.

     Ia mengabaikan ucapanku barusan dan lekas menuntunku ke sofa. Dilihatnya seksama luka di jariku. Kemudian ia menghisap darah yang keluar dari jariku. Aku berusaha menolak, tapi ia terlanjur melakukannya.

     “So Min-ah, apa yang terjadi?” sosok lain tiba-tiba muncul dari balik pintu.

     “Aku tidak apa-apa, hanya teriris pecahan vas…” jawabku pada pria itu—Hyun Joong.

     “Ah, Hyun Joong. Gwaenchahayo, serahkan saja padaku. Oh ya, tolong kau bereskan pecahan vas itu ya? Aku akan membawa So Min ke ruang kesehatan,” ucap  Yong Hwa sembari membantuku berdiri. Kulihat Hyun Joong menatap ke arah kami dalam diam. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Tapi, aku merasakan tatapannya barusan itu adalah signal kurang baik.

     “Yong Hwa-sshi, kau tidak perlu khawatir begitu. Ini kan luka kecil,” ucapku tak terima dengan wajahnya yang terus tampak khawatir itu. Ia terus menyuruhku istirahat di ruang kesehatan, padahal aku merasa baik-baik saja.

     “So Min-ah, lain kali kau harus hati-hati. Jangan membuatku panik lagi,” ucapnya.

     Aku mengangguk, “Mianhae.”

**

     “Hyun Joong, kenapa kau diam sekali sore ini?” tanyaku mencoba membuka pembicaraan di antara aku dan Hyun Joong. Ia mendesah kembali, untuk kesekian kalinya hari ini.

     “Aku baik-baik saja,” jawabnya singkat.

     “Hari ini kita masak daging panggang lagi, ok?” ucapku.

     “Aku sedang tidak ingin makan daging,” jawabnya sembari mempercepat langkahnya. Aku terus berjalan bahkan berlari kecil untuk mensejajarkan langkahku dengannya.

     “Kalau begitu kita makan mie atau sayur kesukaanmu?” tawarku lagi.

     Ia berhenti mendadak. Tatapannya seperti tadi siang, menakutkan. “Lakukan sesukamu.”

     Aku tersentak mendengar kalimatnya barusan. Hyun Joong memang orang yang agak kasar. Tapi, tidak biasanya ia mengatakan hal yang sebegitu menyakitkan. Aneh. Ada yang mengganggu otaknya, kah?

     “Hyun Joong, tunggu!” aku membuka kembali pintu rumah yang hampir tertutup karena ia membukanya sebagian. Dengan cepat kulepas sepatku dan kaos kakiku di beranda dan lekas menggantinya dengan sandal rumah.

     Kulihat Hyun Joong mencuci tangannya kemudian memasak omelette di atas penggorengan. Aku benar-benar tidak mengerti dengan isi otaknya itu.

     “Ya, Hyun Joong. Kau itu kenapa, sih?” tanyaku sebal dengan sikap anehnya barusan.

     Ia menyajikan omelletenya ke atas piring kemudian membawanya ke kamar. Ia mengabaikanku. Tapi, kenapa?

     “Ya, kau sakit?” aku mencoba menyentuh keningnya, namun dengan cepat ia menampiknya.

     Diletakkannya omelette itu ke atas ranjang kemudian tangannya ganti meraih lenganku. Aku bingung. Tapi, sepertinya ia mengabaikan kebingunganku dan hanya mendorong kasar tubuhku agar duduk ke atas ranjang. Digenggamnya tangan kananku dan kulihat ia menatap intens pada jariku yang terbalut plester luka.

     Dibukanya plester itu cepat. Tak peduli seberapa keras aku mengerang kesakitan karena ulahnya barusan. “Ya, apa yang kau lakukan?!” protesku.

     “Tidak perlu menggunakan plester itu. Milikku lebih baik,” ia mengeluarkan sebuah plester luka dari saku kemejanya. Kemudian dibalutkannya luka itu di jariku tadi.

     “Hyun Joong, sebenarnya kau ini kenapa?” tanyaku lagi.

     Belum sempat ia menjawab, ponselnya berdering. “Hallo, Seo Woo-ya. Ada apa?”

     “Ah, begitu. Baiklah. Hm, aku akan segera ke sana.” Ucap Hyun Joong mengakhiri pembicaraannya. Aku diam.

     Setelah ia menutup telepon, ia tampak sibuk dengan lemari di samping ranjang. Diraihnya beberapa helai pakaian dari dalam sana, kemudian diangsurkannya ke dalam tas. Ia akan pergi lagi?

     “Kau akan menginap lagi?” tanyaku. Ia mengangguk.

     Aku bangkit dari ranjang, mengantarnya sampai pintu depan rumah. Namun, saat pintu itu terbuka kulihat sesosok pria tengah berdiri di sana. Dengan senyum khasnya ia menyambutku.

     “Yong Hwa­-sshi, ada apa malam-malam begini kau kemari?” tanyaku padanya.

     “Kudengar kau tinggal di daerah sini. Kebetulan aku sedang menginap di rumah sepupuku, jadi aku mampir.” Terangnya.

     Tak lama setelah itu Hyun Joong tampak keluar. Yong Hwa terkejut, mungkin ia belum tahu tentang pernikahanku dengan Hyun Joong. “Dia suamiku,” terangku.

     Yong Hwa tampak kikuk, kemudian kembali berbicara, “Ah, jadi kau dan Hyun Joong suami isti. Maaf, aku tidak tahu.”

     “Tidak apa,” ucapku.

     “Ngomong-ngomong, Hyun Joong. Kau mau ke mana malam-malam begini membawa barang begitu?” tanya Yong Hwa pada Hyun Joong.

     “Aku akan ke apartemen kekasihku,” jawab Hyun Joong jujur. Sementara pria yang diajaknya bicara itu sama sekali bingung dengan apa yang baru saja dilontarkan Hyun Joong.

     “Kekasihmu? Bukankah So Min istrimu?” tanya Yong Hwa menngharap penjelasan lebih lanjut.

     “Dia memang istriku, tapi kami tidak saling mencintai. Asal kau tahu, pernikahan ini hanya main-main. Dan maaf, bisakah kau pulang setelah ini? Kurasa tidak baik jika kalian berdua ada di rumah bersamaan tanpa status yang jelas.” Hyun Joong bergegas pergi setelah itu. Aku masih terdiam, memandang kepergian Hyun Joong.

     “So Min­-ah, maaf jika perkataanku akan menyakitkan. Tapi, aku merasa kalau kau dan Hyun Joong sama sekali bukanlah pasangan yang tepat.” Ucap Yong Hwa.

     “Aku tahu. Ini semua juga terjadi secara tiba-tiba. Tapi, setelah uang kami terkumpul… Kami akan segera berpisah, Yong Hwa-sshi,” ucapku. Kurasakan wajahku memanas dan mataku basah.

     “Jadi, kalian ada perjanjian atas pernikahan ini?” tanya Yong Hwa. Aku mengangguk.

     “Tepatnya hutang, lima juta won. Itu jumlah yang tidak sedikit, apalagi dengan waktu yang cukup banyak dengan orang yang sama sekali membingungkan…” jawabku.

     Kulihat Yong Hwa mengeluarkan sesuatu dari tas yang dibawanya. Kusimpulkan itu check. Ia merobek satu helainya kemudian diserahkannya padaku. Di sana tertulis uang sejumlah lima juta won beserta tanda tangannya.

     “Berpisahlah dengannya, secepatnya. Kau tidak boleh menderita hidup bersama dengan orang yang sama sekali tidak kau cintai apalagi mencintaimu, So Min-ah. Kau bisa mengambilnya dan melunasi hutang-hutangmu, kemudian bercerailah.” Ujarnya. Ia tak tampak bercanda. Wajahnya serius dan check di genggamanku saat ini bukanlah sesuatu yang main-main.

     “Gomawo, Yong Hwa-sshi. Aku akan merundingkannya dengan Hyun Joong,” ucapku.

     Ia mengangguk, “Kalau begitu aku pamit dulu. Selamat malam.”

     Aku masih terpaku sembari menatap kepergian Yong Hwa hingga sosoknya benar-benar menghilang ditelan kelokan. Saat ini aku sudah mendapatkan lima juta won itu dengan mudah. Seorang dermawan bernama Jung Yong Hwa itu seperti malaikat yang tiba-tiba datang untuk melepaskanku dari belenggu. Hyun Joong harus tahu tentang hal ini. Sebentar lagi hutang kami akan lunas. Ya, beban kami akan segera lenyap.

     “Hallo,” sebuah suara lembut menyapa telingaku untuk pertama kali. Aku tersentak, itu suara gadis. Mungkin itu suara Seo Woo.

     “Ah, hallo. Bisa aku berbicara dengan Hyun Joong?” tanyaku padanya.

     “Maaf, kalau boleh kutahu kau siapa?”

     “Aku Jung So Min, katakan saja So Min ingin berbicara mengenai uang…” ucapku.

     “Ah, begitu. Baiklah, tunggu sebentar.”

     Tak lama kemudian suara gadis itu berganti dengan suara baritone yang biasa kudengar. Itu tak lain adalah suara Hyun Joong.

     “Hallo, ada apa, So Min” tanyanya.

     “E… Itu mengenai hutang. Aku sudah mendapatkan lima juta won itu. Aku berniat untuk menyerahkannya pada Heo-sshi. Dengan begitu kita bisa segera berpisah. Kita akan kembali tenang dengan kehidupan kita masing-masing. Kau tentunya ingin menikah dengan Seo Woo, kan? Kau bisa mengabarkan berita baik ini padanya,” jelasku.

     “Ah, begitu. Kalau begitu baiklah…”

     “Hm. Sudah, ya. Besok aku akan menemui Heo-sshi…”

     “Hm.”

     “Selamat malam, Hyun Joong-sshi…” ucapku mengakhiri pembicaraan. Entah kenapa aku merasa pembicaraan kami barusan agak menyakitkan. Mungkin terasa tidak nyaman. Ini pasti karena aku terbawa suasana karena aku akan segera berpisah dengannya. Ya, pasti begitu.

     Tes!

     Lalu untuk apa aku menangis?






.Just Married




.to be continue~

Glosarium :

*Ya                   : Hei
*Gwaenchanha : Tidak apa-apa/Baik-baik saja
*Mianhae          : Maaf
*Gomawo          : Terima kasih
*Anhiyo            : Tidak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar