Title :
Di Bawah Pohon Mangga XD
Author :
Dita d’Chapbi ‘cHun’ Meii a.k.a dita-cHun
Type :
Oneshot
Genre :
Romance, Friendship (super gak jelas)
POV :
Author
Main Cast :
#Nia
#Basor
#Lisa
#Hafid
Disclaimer :
Seluruh pemeran adalah milik Allah SWT, sedangkan segala karakternya adalah
milik saya! \^^/ #author ditimpuk piso# XDD
Warning :
Ini Cuma cerita fiktif abal punya saya, Typo, tapi yang udah baca wajib komen!
Hao? ^o^? #digiles massa#
Pagi
ini tidak seperti biasanya, matahari enggan menampakkan setitikpun cahaya bagi
sebagian penduduk kota. Meski begitu, tak sedikit orang yang tetap rela
melangkahkan kaki keluar rumah menuju tempat-tempat kerja mereka. Yah…
Segelintir orang lainnya tetap memaksakan diri untuk mengunci pintu rumah
rapat-rapat. Rintik-rintik air yang jatuh bersusulan dari langit mulai
membasahi seluruh penjuru kota. Cuaca tidak cukup baik pagi ini, seperti
ramalan cuaca yang beberapa jam yang lalu baru muncul pada berita di salah satu
TV swasta.
Nia
masih berkutat dengan roti di tangannya, sebentar-sebentar mengoleskan selai
coklat ke atas roti tawar tersebut. Demi apapun, rasanya dia malas pergi ke
sekolah. Namun, Papa tetap bersikukuh memaksanya untuk tetap berangkat meski
hujan tak juga reda. Dengan malas ia mengunyah roti super manis di genggamannya
itu. Membosankan…
“Pa,
kenapa sih aku harus sekolah? Hujan deras begini mana ada guru yang datang?”
keluhnya kemudian memasukkan kembali secuil roti ke dalam mulutnya.
“Sudah,
jangan banyak alasan. Papa tidak mau kamu menyerah Cuma karena segelintir air
dari langit itu,” ucap Papa bersikukuh. Merasa kalah, Nia hanya membalasnya
dengan dengusan. Sesegera mungkin ia bersiap, kemudian masuk ke dalam mobil
hitam metallic yang biasa menunggunya di depan gerbang.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
.
Ding~ Dong~ Ding~ Dong~
.
”Sialan!”
desah Nia sembari mempercepat langkahnya menuju gerbang yang sudah tertutup
rapat tersebut. Ia terus mengumpat-umpat dalam hati. Hari ini kesialan
berlimpah padanya, mungkin Dewi Fortuna tak sedang berpihak padanya. Ia
terlambat, dimarahi habis-habisan oleh guru piket, kemudian diharuskan
meninggalkan salah satu sepatunya di pos jaga.
“Nia,
kenapa mukamu berubah jadi origami, huh?” sindir Lisa begitu Nia sampai ke
dalam kelas.
“Arrghh,
aku pusiiiiinggg~!!!” keluh Nia sambil menenggelamkan kepalanya ke dalam dua
telapak tangannya.
“Apalagi?”
timpal Lisa lagi.
“Eh,
emm… Siang ini pulang sekolah kumpul. Kata wali kelas kita harus ikut pembinaan
PBB untuk upacara tanggal 1 Oktober,” ucap Hafid, ketua kelas yang baru saja
tiba dari ruang guru dengan tumpukan kertas hasil ulangan matematika
digenggamannya. Nyaris 80% siswa langsung mengeluh mendengar pemberitahuan dari
Hafid barusan, sisanya lagi sudah menyibukkan diri masing-masing—tak peduli.
“Eh,
ada untungnya juga, kan, kau datang ke sekolah…” goda Lisa.
“Eh?”
tanya Nia tak jelas. Lisa mengisyaratkan sesuatu pada Nia.
“Nia,
tugas kemarin sudah dikumpulkan?” Nia menoleh mendengar sebuah suara tak asing
menyapanya. Seorang cowok sebayanya—Basor—berdiri di hadapannya. Dia… adalah
cowok yang diam-diam disukainya selama ini. Menurutnya, cinta itu tidak perlu
diungkapkan, cukup dirasakan saja.
“Oh,
itu, sudah…” jawab Nia pelan. Sejenak ia menggigit bibir, entah apa yang akan
dikatakannya kalau perasaan itu kembali menyergapnya. Perasaan berdebar-debar
yang membuatnya senang sekaligus tidak nyaman. Entahlah…
“Ok,
thanks ya,” Basor kembali ke bangkunya kembali. Nia lekas menghela nafas lega.
‘Syukurlah…’
batinnya.
********************************************************************
“Hoaahh…
Legaaaaa~ Akhirnya latihan selesai!! Yosh!” Nia menjatuhkan tubuhnya ke atas
kursi. Badannya sudah lelah untuk menerima perintah PBB lagi.
“Oi,
memangnya ini bangkumu?” sebuah suara mengagetkannya. Nia terjingkat dari
tidurnya.
“Ba…
Basor?” ia jadi salah tingkah sendiri melihat cowok di hadapannya itu. Ia
segera berdiri dari kursi.
“Duduklah…
Ada yang ingin kubicarakan sebentar…” ucap Basor sembari duduk di salah satu
sudut kursi, sedangkan Nia mengikuti di sudut berikutnya.
‘Pasti
tugas… Pelajaran…’ batin Nia menebak-nebak.
“Ada
apa?” tanya Nia.
Basor
menghela nafas pelan. Ia mencoba mengatur kalimat. Kemudian menimang-nimangnya.
Diarahkan pandangannya ke langit-langit.
“Sebenarnya…
Aku…” Basor menggantungkan kalimatnya. Ia mengetuk-ketukkan jarinya ke atas
kursi kayu yang menopang tubuh mereka. Nia berusaha mencerna kalimat tak jelas
itu.
“Aku…
ingin makan mangga. Kudengar kau pandai memanjat. Bagaimana kalau kau memanjat
dan mengambilkan sebuah mangga masak untukku? Hm?” ucap Basor watados (wajah
tanpa dosa).
“HEEEHH??”
“Iya,
bukankah gampang? Monkey girl?” goda basor.
.
BUGHH!!
.
“Panjat
saja sendiri, bodoh!” Nia lekas angkat kaki dari sana. Ia mengumpat-umpat cowok
itu dalam hati. Rasanya seluruh batinnya sudah penuh dengan kalimat-kalimat
umpatan hingga ia sampai di rumah.
___the
end___
.cerita gaje kesekian kali punya saya…
.sorry, Cuma menumpahkan kerusuhan #PLAK#
.author mau cari ide lain lagi, ok? Byeee~
#author ngaciirrrr# XD
Tidak ada komentar:
Posting Komentar