Minggu, 21 April 2013

Di Bawah Pohon Mangga



Title            : Di Bawah Pohon Mangga XD

Author        : Dita d’Chapbi ‘cHun’ Meii a.k.a dita-cHun

Type           : Oneshot

Genre         : Romance, Friendship (super gak jelas)

POV            : Author

Main Cast   :

#Nia

#Basor

#Lisa

#Hafid

Disclaimer  : Seluruh pemeran adalah milik Allah SWT, sedangkan segala karakternya adalah milik saya! \^^/ #author ditimpuk piso# XDD

Warning     : Ini Cuma cerita fiktif abal punya saya, Typo, tapi yang udah baca wajib komen! Hao? ^o^? #digiles massa#



     Pagi ini tidak seperti biasanya, matahari enggan menampakkan setitikpun cahaya bagi sebagian penduduk kota. Meski begitu, tak sedikit orang yang tetap rela melangkahkan kaki keluar rumah menuju tempat-tempat kerja mereka. Yah… Segelintir orang lainnya tetap memaksakan diri untuk mengunci pintu rumah rapat-rapat. Rintik-rintik air yang jatuh bersusulan dari langit mulai membasahi seluruh penjuru kota. Cuaca tidak cukup baik pagi ini, seperti ramalan cuaca yang beberapa jam yang lalu baru muncul pada berita di salah satu TV swasta.

     Nia masih berkutat dengan roti di tangannya, sebentar-sebentar mengoleskan selai coklat ke atas roti tawar tersebut. Demi apapun, rasanya dia malas pergi ke sekolah. Namun, Papa tetap bersikukuh memaksanya untuk tetap berangkat meski hujan tak juga reda. Dengan malas ia mengunyah roti super manis di genggamannya itu. Membosankan…

     “Pa, kenapa sih aku harus sekolah? Hujan deras begini mana ada guru yang datang?” keluhnya kemudian memasukkan kembali secuil roti ke dalam mulutnya.

     “Sudah, jangan banyak alasan. Papa tidak mau kamu menyerah Cuma karena segelintir air dari langit itu,” ucap Papa bersikukuh. Merasa kalah, Nia hanya membalasnya dengan dengusan. Sesegera mungkin ia bersiap, kemudian masuk ke dalam mobil hitam metallic yang biasa menunggunya di depan gerbang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

.

Ding~ Dong~ Ding~ Dong~

.

     ”Sialan!” desah Nia sembari mempercepat langkahnya menuju gerbang yang sudah tertutup rapat tersebut. Ia terus mengumpat-umpat dalam hati. Hari ini kesialan berlimpah padanya, mungkin Dewi Fortuna tak sedang berpihak padanya. Ia terlambat, dimarahi habis-habisan oleh guru piket, kemudian diharuskan meninggalkan salah satu sepatunya di pos jaga.

     “Nia, kenapa mukamu berubah jadi origami, huh?” sindir Lisa begitu Nia sampai ke dalam kelas.

     “Arrghh, aku pusiiiiinggg~!!!” keluh Nia sambil menenggelamkan kepalanya ke dalam dua telapak tangannya.

     “Apalagi?” timpal Lisa lagi.

     “Eh, emm… Siang ini pulang sekolah kumpul. Kata wali kelas kita harus ikut pembinaan PBB untuk upacara tanggal 1 Oktober,” ucap Hafid, ketua kelas yang baru saja tiba dari ruang guru dengan tumpukan kertas hasil ulangan matematika digenggamannya. Nyaris 80% siswa langsung mengeluh mendengar pemberitahuan dari Hafid barusan, sisanya lagi sudah menyibukkan diri masing-masing—tak peduli.

     “Eh, ada untungnya juga, kan, kau datang ke sekolah…” goda Lisa.

     “Eh?” tanya Nia tak jelas. Lisa mengisyaratkan sesuatu pada Nia.

     “Nia, tugas kemarin sudah dikumpulkan?” Nia menoleh mendengar sebuah suara tak asing menyapanya. Seorang cowok sebayanya—Basor—berdiri di hadapannya. Dia… adalah cowok yang diam-diam disukainya selama ini. Menurutnya, cinta itu tidak perlu diungkapkan, cukup dirasakan saja.

     “Oh, itu, sudah…” jawab Nia pelan. Sejenak ia menggigit bibir, entah apa yang akan dikatakannya kalau perasaan itu kembali menyergapnya. Perasaan berdebar-debar yang membuatnya senang sekaligus tidak nyaman. Entahlah…

     “Ok, thanks ya,” Basor kembali ke bangkunya kembali. Nia lekas menghela nafas lega.

     ‘Syukurlah…’ batinnya.

********************************************************************

     “Hoaahh… Legaaaaa~ Akhirnya latihan selesai!! Yosh!” Nia menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi. Badannya sudah lelah untuk menerima perintah PBB lagi.

     “Oi, memangnya ini bangkumu?” sebuah suara mengagetkannya. Nia terjingkat dari tidurnya.

     “Ba… Basor?” ia jadi salah tingkah sendiri melihat cowok di hadapannya itu. Ia segera berdiri dari kursi.

     “Duduklah… Ada yang ingin kubicarakan sebentar…” ucap Basor sembari duduk di salah satu sudut kursi, sedangkan Nia mengikuti di sudut berikutnya.

     ‘Pasti tugas… Pelajaran…’ batin Nia menebak-nebak.

     “Ada apa?” tanya Nia.

     Basor menghela nafas pelan. Ia mencoba mengatur kalimat. Kemudian menimang-nimangnya. Diarahkan pandangannya ke langit-langit.

     “Sebenarnya… Aku…” Basor menggantungkan kalimatnya. Ia mengetuk-ketukkan jarinya ke atas kursi kayu yang menopang tubuh mereka. Nia berusaha mencerna kalimat tak jelas itu.

     “Aku… ingin makan mangga. Kudengar kau pandai memanjat. Bagaimana kalau kau memanjat dan mengambilkan sebuah mangga masak untukku? Hm?” ucap Basor watados (wajah tanpa dosa).

     “HEEEHH??”

     “Iya, bukankah gampang? Monkey girl?” goda basor.

.

BUGHH!!

.

     “Panjat saja sendiri, bodoh!” Nia lekas angkat kaki dari sana. Ia mengumpat-umpat cowok itu dalam hati. Rasanya seluruh batinnya sudah penuh dengan kalimat-kalimat umpatan hingga ia sampai di rumah.

    



___the end___


.cerita gaje kesekian kali punya saya…
.sorry, Cuma menumpahkan kerusuhan #PLAK#
.author mau cari ide lain lagi, ok? Byeee~ #author ngaciirrrr# XD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar