Title :
Nightmare is Haunting
Author :
dita-cHun © 2011
Length :
Multichaptered
Chapter :
1
Genre :
Thriller—dan segala genre lainnya
Rating :
PG [Parents Guidance]
POV :
Author
Main Cast :
*Wang Da Dong
*Yan Ya Lun
*Liu Xing Guang (OC)
(dapat bertambah sewaktu-waktu)
Disclaimer :
Member Fahrenheit adalah milik Tuhan~ ^^ Sedangkan seluruh karakter disini
adalah milik author, begitupun segala setting dan bla bla bla juga punya
author! ^^ So, no bashing. Mau bash? Silahkan~ Author tidak peduli dengan
bash-bash an macam apapun #author dibuang ke laut# XD
Warning :
gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~
.
“Hah… hah… hah…” seorang pria paruh
baya berusaha mengatur nafas. Nafasnya yang begitu memburu. Ada apa? Ada apa
gerangan? Pastilah itu yang kini tengah mendekam dalam batin masing-masing
insan yang masih duduk di depan layar bioskop itu. Sesekali jemari mereka
meraup beberapa biji jagung yang telah mengembang itu—popcorn—begitulah mereka akrab menyebut makanan itu. Dengan jantung
berdegup tak kalah kerasnya dengan suara bioskop, mereka menanti-nanti adegan
selanjutnya. Ya, film itu tengah booming di kalangan masyarakat kala
itu—Nightmare.
Film besutan kedua sutradara ternama
itu kini tengah laris diperbincangkan. Coba saja kau berjalan di tengah
keramaian kota Taipei, berjalan menyusuri hiruk pikuknya masyarakat di setiap
pasar malam besar. Pasti yang akan kau dengan kali itu adalah, “Sudahkah kau
menonton ‘Nightmare’?” Entah kepada siapapun kalimat itu terlontar. Entah untuk
sanak-saudara ataupun sekedar kerabat yang sekilas menemanimu minum kopi
bersama di kedai kecil. Nyaris 85% kota Taipei sedang ribut membicarakan film
legendaris itu.
.
Special?
.
Tidak juga.
.
Hanya sebuah film thriller biasa. Film dimana kau akan menemukan segala kengerian
disana. Kengerian tak terbayangkan yang entah sengaja atau tidak sempat
terbesit dalam otak kedua sutradara itu.
.
Siapa?
.
Tak mungkin kau tak mengenalnya~
.
Hei~ Mereka ada dimana saja~
.
Bahkan disetiap kalimat yang diucapkan oleh nyaris
setiap orang…
.
Dua bersaudara, Wang Da Dong dan Yan Ya Lun.
Saudara tiri. Sekedar status saja, bahwa mereka memiliki Ibu yang sama dengan
ayah yang berbeda. Takdir~ Itulah jawaban yang akan mereka lontarkan ketika
sebuah pertanyaan tak sedap menyeruak ke telinga mereka. Toh, mereka tetap
bahagia meskipun bukan saudara se-ayah.
“Ya Lun, kemarilah!” seorang pria
yang sedikit lebih tinggi dari Ya Lun memanggilnya—sambil sebelah tangannya
memberikan isyarat agar Ya Lun cepat datang.
“Eh? Ada apa?” Ya Lun datang dengan
kedua tangan dipenuhi minuman kaleng yang baru saja ia beli di perempatan dekat
situ.
“Lihat ini!” pria tadi menyodorkan
selembar kertas—skenario—penuh tulisan yang masih acak. Jemari lentiknya
menari-nari di atas kertas yang sudah tak putih itu. Ia sedang serius
menjelaskan sesuatu.
“Menurutku, bagian ini kurang tepat.
Bagaimana kalau begini…” pria beridentitaskan Wang Da Dong itu mulai bercerita
panjang kali lebar. Persis seperti orang sedang mendongeng. Namun, Ya Lun tak
peduli. Ia terus mendengarkan ocehan kakaknya itu sembari pandangannya terus
tertuju pada kertas skenario itu.
“Ah, begitu ya? Kupikir sudah tepat…”
Ya Lun mengangguk-angguk, pertanda ia mengerti—atau setidaknya mencoba
mengerti—apa yang baru saja dijelaskan oleh kakaknya itu.
“Menulis cerita thriller itu menyenangkan ya, Kak!” seru Ya Lun sembari
merapikan tiap helai kertas yang sudah mencuat keluar dari map bening
itu. Kemudian sesegera mungkin ia memasukkannya ke dalam tas dan bergegas
bangkit dari duduknya.
“Tapi, cerita thriller juga tidak bisa ditulis sembarangan~ Harus benar-benar
mendapatkan feel yang pas seperti
halnya menulis komedi. Tidak lucu kalau cerita itu bergenre komedi, tiada seorangpun pembaca yang tertawa. Kau mengerti,
kan?” ucap Da Dong kembali bertutur.
“Hm! Aku tahu. Yang paling utama
adalah… Membuat feel dari cerita
tersebut. Begitu, kan?” ucap Ya Lun.
“Yup!”
**
.
Seorang gadis
berperawakan mungil masih sibuk meraba-raba dinding di sisi kanan dan kirinya.
Kenapa melakukannya? Tak ada setitikpun cahaya yang memantul ke matanya.
Singkat cerita—buta—begitulah kondisinya.
“Xing, kau mau
kemana?” tanya sebuah suara yang begitu dikenalnya. Ia menoleh, meski ia tahu
tak mungkin ia dapat melihat sosok itu.
“Huan, kau kah?”
bukannya menjawab, gadis beridentitas ‘Xing’ itu balik bertanya pada orang itu.
“Seperti yang kau
dengar. Kau mau kemana, Xing?” tanya pria bernama Huan itu. Xing hanya menjawab
dengan segaris senyum tipis.
“Maaf, aku tidak
mungkin memberitahumu… Bye…” gadis itu kembali meraba-raba dinding. Wajahnya
menyeringai kecil lalu berjalan ke tempat yang entah kemana itu—Huan pun tak
tahu.
.
CKLEK!
.
“Nonton film itu lagi?” tanya sebuah
suara dari belakang. Ia menoleh kemudian tersenyum.
“Iya. Entah kenapa aku tidak pernah
bosan melihatnya…” ucap Ya Lun usai mematikan DVD nya.
“Apalagi? Pasti Xing, kan?” Da Dong
meletakkan sekaleng minuman ke atas meja di hadapan Ya Lun. Ya Lun tersenyum
usai meneguk sebagian minumannya.
“Dia aktris yang menarik…” ucap Ya
Lun sambil memutar-mutar kaleng minumannya.
“Aku tahu,” ucap Da Dong lalu duduk
di samping Ya Lun.
“Da Dong, aku menginginkan dia…” ucap
Ya Lun pelan, suaranya nyaris saja tak terdengar. Seringaian kecil menghiasi
wajah imut lelaki itu. Matanya masih mengawang pada film yang belum habis
ditontonnya tadi.
“Eh?” Da Dong menoleh.
“Apa sesulit itu dimengerti?” tanya
Ya Lun sambil menatap Da Dong lekat-lekat. Sementara saudaranya sedang
menelisik, apa gerangan yang membuat pria bernama ‘Ya Lun’ itu mengumbar
kalimat membingungkan itu.
“Ahh~ jadi begitu… Aku mengerti.
Rupanya cara berpikirmu bagus juga,” ucap Da Dong memuji.
.
Xing~
.
Nama itu terus terngiang di telinga mereka.
Masing-masing masih asyik bermain-main dengan alam pikiran mereka.
“Xing~ Liu Xing Guang… Pasti akan
menarik!” gumam Da Dong lalu meneguk kembali minumannya.
“Tentu! Aku ingin Xing~ Aku harus
mendapatkannya!” ucap Ya Lun lalu meremas kaleng minumannya yang sudah kosong.
**
“Bagaimana kita memulainya?” tanya Da
Dong yang tengah berjalan di trotoar dekat mall itu. Sesuatu tengah menyita
pandangannya, serta lelaki di sampingnya.
“Drama romance!” seru Ya Lun lalu merebut jus yang belum habis diteguk Da
Dong.
“Drama romance? Wah~ sepertinya menarik... Tapi, Lun—“
“Eh? Ya Lun? Sialan! Dia
mendahuluiku!” gerutu Da Dong yang melihat Ya Lun yang sudah ada di seberang
sana.
.
BUGH!
.
“Ah!” pekik seorang gadis yang baru
saja menabrak orang lain di depannya. Kini bajunya basah berlumuran jus melon.
Bukan miliknya tentunya~ Milik pria yang baru saja menabraknya…
“Ah, maaf, Nona. Sungguh, maafkan
aku…” ucap pria itu notabene Yan Ya Lun.
“Aish, lain kali hati-hati, dong…
Kalau begini aku harus bagaimana?” gerutu gadis itu sambil terus membersihkan
bagian bajunya yang basah itu. Saking ributnya dengan bajunya, ia sampai tak
sempat melihat sosok yang baru saja menabraknya itu.
“Eh? Liu Xing Guang? Kau, kah?” ucap
Ya Lun terkejut—mungkin hanya akting. Merasa namanya disebut, gadis bernama
Xing itu mendongakkan kepala.
“Eh? Sutradara?!” seru Xing tak kalah
terkejutnya. Ia bertemu—bukan—bertabrakan dengan sutradara idolanya itu.
“Maaf ya, Nona… Aku tidak sengaja,”
ucap Ya Lun mulai menebar senyum khasnya. Gadis itu tersenyum sekilas.
“Ah, tidak apa. Lain kali hati-hati
saja…” ucap Xing.
“Kuantar ke toko pakaian, bagaimana?”
tawar Ya Lun.
.
Licik~
.
Ya~
Gambarkan saja pria bertubuh mungil itu dengan deskripsi sesingkat itu.
“Dasar licik~ Tapi, bagus juga dia
mendapatkannya…” ucap Da Dong tersenyum melihat adegan Ya Lun dan Xing barusan.
.
CLING!
.
“Ah, ada e-mail!” Da Dong cepat-cepat merogoh saku celananya. Dibukanya
ponsel lipat berwarna hitam itu. Ada e-mail
dari… Ya Lun.
“Lihat saja! Sebentar lagi aku
mendapatkannya~”
“Sialan anak itu… Ah, sudahlah. Lebih
baik aku pulang dulu, lagipula skenario Nightmare 2 belum selesai!” seru Da
Dong lalu bergegas pulang.
.TO BE
CONTINUE...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar