Senin, 04 Maret 2013

Nightmare is Haunting [Chapter I]

Title           : Nightmare is Haunting
 
Author       : dita-cHun © 2011
 
Length       : Multichaptered
 
Chapter     : 1
 
Genre        : Thriller—dan segala genre lainnya
 
Rating        : PG [Parents Guidance]
 
POV           : Author
 
Main Cast :
 
*Wang Da Dong
 
*Yan Ya Lun
 
*Liu Xing Guang (OC)
 
(dapat bertambah sewaktu-waktu)
 
Disclaimer : Member Fahrenheit adalah milik Tuhan~ ^^ Sedangkan seluruh karakter disini adalah milik author, begitupun segala setting dan bla bla bla juga punya author! ^^ So, no bashing. Mau bash? Silahkan~ Author tidak peduli dengan bash-bash an macam apapun #author dibuang ke laut# XD
 
Warning    : gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~
 
 
 
 
 
.
 
   “Hah… hah… hah…” seorang pria paruh baya berusaha mengatur nafas. Nafasnya yang begitu memburu. Ada apa? Ada apa gerangan? Pastilah itu yang kini tengah mendekam dalam batin masing-masing insan yang masih duduk di depan layar bioskop itu. Sesekali jemari mereka meraup beberapa biji jagung yang telah mengembang itu—popcorn—begitulah mereka akrab menyebut makanan itu. Dengan jantung berdegup tak kalah kerasnya dengan suara bioskop, mereka menanti-nanti adegan selanjutnya. Ya, film itu tengah booming di kalangan masyarakat kala itu—Nightmare.

 
   Film besutan kedua sutradara ternama itu kini tengah laris diperbincangkan. Coba saja kau berjalan di tengah keramaian kota Taipei, berjalan menyusuri hiruk pikuknya masyarakat di setiap pasar malam besar. Pasti yang akan kau dengan kali itu adalah, “Sudahkah kau menonton ‘Nightmare’?” Entah kepada siapapun kalimat itu terlontar. Entah untuk sanak-saudara ataupun sekedar kerabat yang sekilas menemanimu minum kopi bersama di kedai kecil. Nyaris 85% kota Taipei sedang ribut membicarakan film legendaris itu.
 
.
 
Special?
 
.
 
Tidak juga.
 
.
 
Hanya sebuah film thriller biasa. Film dimana kau akan menemukan segala kengerian disana. Kengerian tak terbayangkan yang entah sengaja atau tidak sempat terbesit dalam otak kedua sutradara itu.
 
.
 
Siapa?
 
.
 
Tak mungkin kau tak mengenalnya~
 
.
 
Hei~ Mereka ada dimana saja~
 
.
 
Bahkan disetiap kalimat yang diucapkan oleh nyaris setiap orang…
 
.
 
Dua bersaudara, Wang Da Dong dan Yan Ya Lun. Saudara tiri. Sekedar status saja, bahwa mereka memiliki Ibu yang sama dengan ayah yang berbeda. Takdir~ Itulah jawaban yang akan mereka lontarkan ketika sebuah pertanyaan tak sedap menyeruak ke telinga mereka. Toh, mereka tetap bahagia meskipun bukan saudara se-ayah.
 
   “Ya Lun, kemarilah!” seorang pria yang sedikit lebih tinggi dari Ya Lun memanggilnya—sambil sebelah tangannya memberikan isyarat agar Ya Lun cepat datang.
 
   “Eh? Ada apa?” Ya Lun datang dengan kedua tangan dipenuhi minuman kaleng yang baru saja ia beli di perempatan dekat situ.
 
   “Lihat ini!” pria tadi menyodorkan selembar kertas—skenario—penuh tulisan yang masih acak. Jemari lentiknya menari-nari di atas kertas yang sudah tak putih itu. Ia sedang serius menjelaskan sesuatu.
 
   “Menurutku, bagian ini kurang tepat. Bagaimana kalau begini…” pria beridentitaskan Wang Da Dong itu mulai bercerita panjang kali lebar. Persis seperti orang sedang mendongeng. Namun, Ya Lun tak peduli. Ia terus mendengarkan ocehan kakaknya itu sembari pandangannya terus tertuju pada kertas skenario itu.
 
   “Ah, begitu ya? Kupikir sudah tepat…” Ya Lun mengangguk-angguk, pertanda ia mengerti—atau setidaknya mencoba mengerti—apa yang baru saja dijelaskan oleh kakaknya itu.
 
   “Menulis cerita thriller itu menyenangkan ya, Kak!” seru Ya Lun sembari merapikan  tiap helai kertas yang sudah mencuat keluar dari map bening itu. Kemudian sesegera mungkin ia memasukkannya ke dalam tas dan bergegas bangkit dari duduknya.
 
   “Tapi, cerita thriller juga tidak bisa ditulis sembarangan~ Harus benar-benar mendapatkan feel yang pas seperti halnya menulis komedi. Tidak lucu kalau cerita itu bergenre komedi, tiada seorangpun pembaca yang tertawa. Kau mengerti, kan?” ucap Da Dong kembali bertutur.
 
   “Hm! Aku tahu. Yang paling utama adalah… Membuat feel dari cerita tersebut. Begitu, kan?” ucap Ya Lun.
 
   “Yup!”
 
**
 
.
 
   Seorang gadis berperawakan mungil masih sibuk meraba-raba dinding di sisi kanan dan kirinya. Kenapa melakukannya? Tak ada setitikpun cahaya yang memantul ke matanya. Singkat cerita—buta—begitulah kondisinya.
 
   “Xing, kau mau kemana?” tanya sebuah suara yang begitu dikenalnya. Ia menoleh, meski ia tahu tak mungkin ia dapat melihat sosok itu.
 
   “Huan, kau kah?” bukannya menjawab, gadis beridentitas ‘Xing’ itu balik bertanya pada orang itu.
 
   “Seperti yang kau dengar. Kau mau kemana, Xing?” tanya pria bernama Huan itu. Xing hanya menjawab dengan segaris senyum tipis.
 
   “Maaf, aku tidak mungkin memberitahumu… Bye…” gadis itu kembali meraba-raba dinding. Wajahnya menyeringai kecil lalu berjalan ke tempat yang entah kemana itu—Huan pun tak tahu.
 
.
 
CKLEK!
 
.
 
   “Nonton film itu lagi?” tanya sebuah suara dari belakang. Ia menoleh kemudian tersenyum.
 
   “Iya. Entah kenapa aku tidak pernah bosan melihatnya…” ucap Ya Lun usai mematikan DVD nya.
 
   “Apalagi? Pasti Xing, kan?” Da Dong meletakkan sekaleng minuman ke atas meja di hadapan Ya Lun. Ya Lun tersenyum usai meneguk sebagian minumannya.
 
   “Dia aktris yang menarik…” ucap Ya Lun sambil memutar-mutar kaleng minumannya.
 
   “Aku tahu,” ucap Da Dong lalu duduk di samping Ya Lun.
 
   “Da Dong, aku menginginkan dia…” ucap Ya Lun pelan, suaranya nyaris saja tak terdengar. Seringaian kecil menghiasi wajah imut lelaki itu. Matanya masih mengawang pada film yang belum habis ditontonnya tadi.
 
   “Eh?” Da Dong menoleh.
 
   “Apa sesulit itu dimengerti?” tanya Ya Lun sambil menatap Da Dong lekat-lekat. Sementara saudaranya sedang menelisik, apa gerangan yang membuat pria bernama ‘Ya Lun’ itu mengumbar kalimat membingungkan itu.
 
   “Ahh~ jadi begitu… Aku mengerti. Rupanya cara berpikirmu bagus juga,” ucap Da Dong memuji.
 
.
 
Xing~
 
.
 
Nama itu terus terngiang di telinga mereka. Masing-masing masih asyik bermain-main dengan alam pikiran mereka.
 
   “Xing~ Liu Xing Guang… Pasti akan menarik!” gumam Da Dong lalu meneguk kembali minumannya.
 
   “Tentu! Aku ingin Xing~ Aku harus mendapatkannya!” ucap Ya Lun lalu meremas kaleng minumannya yang sudah kosong.
 
**
 
   “Bagaimana kita memulainya?” tanya Da Dong yang tengah berjalan di trotoar dekat mall itu. Sesuatu tengah menyita pandangannya, serta lelaki di sampingnya.
 
   “Drama romance!” seru Ya Lun lalu merebut jus yang belum habis diteguk Da Dong.
 
   “Drama romance? Wah~ sepertinya menarik... Tapi, Lun—“
 
   “Eh? Ya Lun? Sialan! Dia mendahuluiku!” gerutu Da Dong yang melihat Ya Lun yang sudah ada di seberang sana.
 
.
 
BUGH!
 
.
 
   “Ah!” pekik seorang gadis yang baru saja menabrak orang lain di depannya. Kini bajunya basah berlumuran jus melon. Bukan miliknya tentunya~ Milik pria yang baru saja menabraknya…
 
   “Ah, maaf, Nona. Sungguh, maafkan aku…” ucap pria itu notabene Yan Ya Lun.
 
   “Aish, lain kali hati-hati, dong… Kalau begini aku harus bagaimana?” gerutu gadis itu sambil terus membersihkan bagian bajunya yang basah itu. Saking ributnya dengan bajunya, ia sampai tak sempat melihat sosok yang baru saja menabraknya itu.
 
   “Eh? Liu Xing Guang? Kau, kah?” ucap Ya Lun terkejut—mungkin hanya akting. Merasa namanya disebut, gadis bernama Xing itu mendongakkan kepala.
 
   “Eh? Sutradara?!” seru Xing tak kalah terkejutnya. Ia bertemu—bukan—bertabrakan dengan sutradara idolanya itu.
 
   “Maaf ya, Nona… Aku tidak sengaja,” ucap Ya Lun mulai menebar senyum khasnya. Gadis itu tersenyum sekilas.
 
   “Ah, tidak apa. Lain kali hati-hati saja…” ucap Xing.
 
   “Kuantar ke toko pakaian, bagaimana?” tawar Ya Lun.
 
.
 
Licik~
 
.
 
     Ya~ Gambarkan saja pria bertubuh mungil itu dengan deskripsi sesingkat itu.
 
   “Dasar licik~ Tapi, bagus juga dia mendapatkannya…” ucap Da Dong tersenyum melihat adegan Ya Lun dan Xing barusan.
 
.
 
CLING!
 
.
 
   “Ah, ada e-mail!” Da Dong cepat-cepat merogoh saku celananya. Dibukanya ponsel lipat berwarna hitam itu. Ada e-mail dari… Ya Lun.
 
   “Lihat saja! Sebentar lagi aku mendapatkannya~”
 
   “Sialan anak itu… Ah, sudahlah. Lebih baik aku pulang dulu, lagipula skenario Nightmare 2 belum selesai!” seru Da Dong lalu bergegas pulang.
 
 
 
 
 
.TO BE CONTINUE...
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar