Title :
The Gentle Girl
Author :
dita-cHun © 2013
Length :
Multichapter
Chapter :
1
Subtitle :
Mencari Bodyguard
Rating :
PG [Parents Guidance]
Genre :
Romance, Action
Main Cast :
*Kim Jae Joong
*Ham Eun Jung
POV :
Author
Disclaimer :
Kim Jae Joong and Ham Eun Jung are belong to themselves. I’m own nothing but
plot. So, no bash, ok?
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya
Note :
FF ini rekuesan Kak Annisa Cullen~ Kak... Part 1 udah selesaaaaii~ >w<
*peluk Kak Annisa* meskipun dengan ancur dan pendeeek T^T Mianhae, Kak! Kalo
gak puas blender aja authornyaaa~! *lempar blender ke Kak Annisa* Komen,
kritik, saran kalian akan saya terima dengan lapang dada *bangun lapangan* Saya
tidak butuh like, saya cuma butuh kesan kalian baca ini cerita biar saya tahu
perkembangan nulis saya bagaimana < ---- dia cerewet ya?
Ok! Happy Reading! ^^V
Alunan melodi yang tercipta dari gitar
akustik itu kian lama makin tak teratur. Sesekali terkesan terburu-buru atau
terlalu lambat. Suara petikan gitar itu mereda begitu sang pemilik jemari
lentik itu mendengar dentingan ringtone dari
ponselnya. Buru-buru ia meletakkan gitarnya di samping sofa kemudian mengangkat
panggilan masuk tersebut.
Pria itu bangkit menuju balkon. Dari sana
ia mampu melihat cahaya kemerahan mulai memudar di ufuk barat. Mendadak ia jadi
berandai-andai. Kini impiannya menjadi seorang penyanyi solo tercapai sudah. Ia
menginginkan mimpi yang lain. Mimpi yang lebih indah untuk hari esok, bukan
hanya sekedar menjadi penyanyi solo Korea Selatan.
Saat ini karirnya mulai melejit dan ia jadi
memikirkan hal yang lebih tinggi lagi. Ya, sebagai manusia ia akan berpikir di
atas langit masih ada langit yang belum dicapai. “Selanjutnya, aku ingin
merambah pasar Jepang,” gumamnya sembari kedua manik mata miliknya menyisir
barisan pohon yang berdiri tegak bagai siluet di malam hari.
“Aku harus mencari seseorang yang lebih
kuat dari sekedar manager. Saat aku naik
daun kelak, semua fans akan berebut bersalaman denganku. Agar aku tidak
terluka, aku harus mencari seseorang yang sanggup menjagaku. Ya,” pria itu
mulai memikirkan hal naif. Baginya, memang mungkin itu hanya mimpi. Mimpi yang
membuat setiap manusia kadang menjadi jauh dari kenyataan. Tapi, bukankah tanpa
mimpi tidak ada yang perlu diusahakan untuk menjadi kenyataan?
Pria itu mengambil ponsel flip dari sakunya
kemudian menelepon seseorang di seberang. Itu managernya, Park Jung Woo. “Manager
Park, aku ingin menyewa seorang bodyguard,”
ucap pria itu datar. Pernyataan pria itu sukses membuat lawan bicaranya
ber’ha?’ ria dari seberang sana.
“Akan sulit menjelaskannya di telepon, yang
pasti aku sangat butuh sekarang, sebelum semuanya terlambat...” Baiklah,
mungkin tokoh utama kita kali ini adalah sosok artis baru yang hobi
mendramastisir segala sesuatu.
“Sebelum terlambat apanya? Kau mulai tidak
waras, ya?” ucap Manager Park.
“Aku akan menjelaskannya setelah kita
bertemu di backstage nanti, ne?” ucap
pria itu. “Tolong ingat ini Manager
Park. Ini sangat penting bagi kelangsungan hidupku kelak, percayalah.”
Tanpa ba-bi-bu setelah menyelesaikan
kalimat terakhirnya pria itu mengakhiri pembicaraan. Ia melipat ponsel flip itu
dan memasukkannya kembali ke sakunya. Pria berlabel Kim Jae Joong itu adalah
artis yang mungkin terlalu melebih-lebihkan sesuatu. Singkat cerita, begitulah
kira-kira.
**
“Aku butuh orang yang benar-benar kuat, Manager Park!” Jae Joong menepuk pundak Manager Park agak keras, terbukti dengan
mengaduhnya sang pemilik pundak usai tepukan itu mendarat.
“Kalau begitu kau sewa saja algojo atau
pembunuh bayaran!” ucap Manager Park
sok serius.
“Tidak!” tolak Jae Joong. “Aku tidak akan
menyewa pembunuh bayaran atau algojo. Kau harusnya berpikir lebih cerdas, Manager Park. Orang seperti itu tidak
akan bertahan lama. Kemungkinan terburuknya, jika aku tiba-tiba memecatnya, ia
bisa balas dendam padaku! Ia akan membunuhku! Mencekikku dengan kasar,
memotong-motong tubuhku, dan menjadikannya perkedel!”
“Baiklah, kalau begitu aku akan bergabung
dengannya memakan perkedel daging Kim Jae Joong,” jawab Manager Park santai.
Jae Joong mendengus sebal, “Apa maksudmu?
Kau hendak berkhianat, Manager Park?”
“Tidak. Mungkin kau saja yang berpikir
terlalu jauh, Jae.” Ucap Manager
Park. “Ngomong-ngomong aku sudah mendapatkan data bodyguard yang bagus untukmu. Ini.”
Jae Joong menerima bendelan buku yang baru
saja diangsurkan managernya itu padanya. “Wah, cepat sekali! Kau benar-benar
manager terbaik, Manager Park!”
“Traktir aku kopi mahal di seberang sana,
ya? Kau kan baru terima gaji,” ucap Manager
Park.
Jae Joong mengedik, “Baiklah, asal itu
tidak lebih dari seribu won per
cangkir.”
**
Jae Joong lekas meninggalkan stage begitu
musik pengiring lagunya berakhir. Dengan agak buru-buru ia menyambar jaket
kulit miliknya dan lekas menuju ke mobil. Manager
Park mengatakan bahwa para calon bodyguard-nya
akan datang ke kantor management untuk
menjalani seleksi. Tampaknya, pertemuan pertamanya dengan calon-calon bodyguard-nya kali ini membuatnya
sedikit bersemangat.
“Apa mereka semua datang?” tanya Jae pada Manager Park di sela menyetirnya.
“Beberapa di antara mereka mengundurkan
diri, tapi masih ada cukup banyak pilihan tersisa.” Manager Park membolak-balik dokumen dan buku agendanya bergantian.
“Aku akan memilih bodyguard yang paling kuat di antara mereka,” gumam Jae.
“Kau tidak takut mereka menjadikanmu
perkedel?” sindir Manager Park. Jae
mendengus kesal, “Aku punya pilihan yang bagus tentunya. Tidak sembarangan.”
Sampai di tengah perjalanan, Manager Park memandu Jae untuk memutar
arah berlawanan dari kantor management.
Tanpa protesan berarti dari Jae, mereka menuju ke tempat yang Jae pun tak tahu
dimana itu.
Manager
Park membawa Jae menuju sebuah gedung tua, namun kelihatannya masih kokoh.
Begitu menapakkan kaki ke dalam sana, aura gelam mulai mencekam pelan-pelan.
Lorong-lorong panjang bagai labirin yang akan membawa mereka ke tempat asing
lainnya.
Jae melantunkan lagu-lagu secara acak untuk
mengurangi rasa takutnya. Jujur saja, Jae Joong tampak tidak nyaman masuk ke
dalam sarang bodyguard. Singkatnya,
ia sedang merasa takut.
“Kau bilang kita ke kantor management?” tanya Jae pada Manager Park yang masih memandunya dari
depan. Ia memutuskan membuka pembicaraan agar suasana tak semakin keruh.
“Mereka membatalkannya,” jawab Manager Park.
“Mereka?” Jae melirik pada Manager Park.
“Ya, mereka bilang mereka dari agen yang
sama. Jadi, mereka memilih bertemu di kantor mereka saja,” jawab Manager Park.
“Kantor?” Jae mengitarkan pandangannya ke
sekeliling. “Dari sebuah kantor, ini jauh lebih cocok disebut sebagai gedung
labirin.”
“Nah, kita sudah sampai.” Manager Park membuka pintu sebuah
ruangan paling ujung di lantai dua. Seketika tampak wajah-wajah asing menyambut
mereka berdua dengan ekspresi menakutkan—baiklah, ini karena Jae mengatakan
demikian pada author.
Ruangan itu bernuansa klasik dan penuh
misteri. Semua perabotan didominasi warna coklat dan hitam, sesekali merah maroon ada di sana-sini. Manager Park membimbing Jae untuk duduk
di salah satu sofa dalam ruangan itu.
“Jadi, ini Kim Jae Joong. Dia sedang
membutuhkan seorang bodyguard,” Manager Park membuka pembicaraan. Ke
sepuluh calon bodyguard itu hanya
menyimak dengan tatapan datar.
“Jadi, Jae, kau ingin mereka menunjukkan
keahliannya?” tanya Manager Park pada
Jae yang terpaku pada mata-mata tajam yang menatapnya denga siaga.
“E-emm... Kurasa tidak perlu. Aku akan
memilih dari wajah yang paling menyeramkan. Bukankah dengan begitu bisa
mempersingkat waktu?” Jae bangkit dari duduknya kemudian mengamati satu-satu
pria-pria kekar di hadapannya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang
gadis yang sedang menuang teh ke dalam gelas di belakang pria-pria itu.
“Kau,” Jae memanggilnya. Gadis itu menoleh
kemudian menyibakkan poninya ke belakang telinga. “Kau juga anggota agen ini?”
“Ya,” jawabnya singkat.
“Kalau begitu aku memilihmu sebagai bodyguard-ku!” Jae memutuskan sembari
menunjuk lurus ke arah gadis berambut sebahu itu. Kedua mata onyx-nya menatap Jae tajam. Namun, itu
tak sama sekali melunturkan kesan lembut di wajahnya.
“Sst...” Manager Park menyenggol pinggang Jae. “Kau yakin?” bisiknya.
“Ya,” Jae tersenyum menatap gadis itu. “Aku
sudah memutuskan.”
**
“Jae, kau yakin dia bisa menjagamu?” tanya Manager Park berbisik. Jae tersenyum
kemudian menjawab, “Ya, wajahnya sangat menakutkan.”
Jae melirik ke jok belakang mobilnya. Mulai
hari ini gadis itu akan ikut bersamanya. Mungkin ia telah berbohong pada Manager Park mengatakan gadis itu
berwajah menakutkan. Ya, mungkin bukan hanya membohongi Manager Park, tapi juga membohongi dirinya sendiri. Karena ia tidak
mengerti mengapa ia jadi tidak fokus pada kemampuan bodyguard-nya dan malah lebih pada wajahnya.
“Oh ya, kita belum berkenalan sebelumnya.
Siapa namamu?” tanya Jae pada gadis itu.
“Ham Eun Jung,” jawabnya singkat.
“Ngomong-ngomong berapa usiamu?” tanya Jae
lagi.
“Dua puluh dua,” jawabnya lagi.
“Wah, usia kita terpaut dua tahun. Kau
tinggal dimana sebelumnya? Dan kenapa kau masuk ke dalam agensi bodyguard seperti itu?” Jae melemparkan
dua pertanyaan sekaligus.
“Di Incheon dan aku tidak bisa memberitahu
alasanku.”
“Hmm... Kau hanya menjawab seperlunya, ya?
Benar-benar dingin,” sindir Jae.
Gadis itu mengalihkan pandangannya ke luar
jendela mobil dan mengabaikan ucapan Jae barusan. Jae hanya geleng-geleng
kepala melihat sikap gadis itu. Benar-benar dingin dan seenaknya. Tapi, dalam
hati Jae berharap gadis itu akan mau berbicara lebih banyak padanya suatu hari
kelak.
Ya, ia hanya itu yang terlintas di
pikirannya saat itu.
.to be continue.
. .
Glossarium :
*Ne : Ya
*Arasseo : Mengerti
*Mianhae : Maaf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar