Kamis, 30 Mei 2013

The Gentle Girl - Mencari Bodyguard [Chapter I]



Title            : The Gentle Girl

Author       : dita-cHun © 2013

Length       : Multichapter

Chapter      : 1

Subtitle       : Mencari Bodyguard

Rating        : PG [Parents Guidance]

Genre         : Romance, Action

Main Cast  :

*Kim Jae Joong

*Ham Eun Jung

POV           : Author

Disclaimer  : Kim Jae Joong and Ham Eun Jung are belong to themselves. I’m own nothing but plot. So, no bash, ok?

Warning     : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya

Note           : FF ini rekuesan Kak Annisa Cullen~ Kak... Part 1 udah selesaaaaii~ >w< *peluk Kak Annisa* meskipun dengan ancur dan pendeeek T^T Mianhae, Kak! Kalo gak puas blender aja authornyaaa~! *lempar blender ke Kak Annisa* Komen, kritik, saran kalian akan saya terima dengan lapang dada *bangun lapangan* Saya tidak butuh like, saya cuma butuh kesan kalian baca ini cerita biar saya tahu perkembangan nulis saya bagaimana < ---- dia cerewet ya?
Ok! Happy Reading! ^^V







     Alunan melodi yang tercipta dari gitar akustik itu kian lama makin tak teratur. Sesekali terkesan terburu-buru atau terlalu lambat. Suara petikan gitar itu mereda begitu sang pemilik jemari lentik itu mendengar dentingan ringtone dari ponselnya. Buru-buru ia meletakkan gitarnya di samping sofa kemudian mengangkat panggilan masuk tersebut.

     Sebuah pembicaraan cukup panjang berlangsung tiga menit lamanya dari benda mungil bernama ponsel flip tersebut. Mungkin tanggapan pria itu tak lebih dari sekedar, “Ne, arasseo.” Tapi, ia mengakui bahwa pembicaraan panjang tersebut berhasil merenggut setengah mood-nya untuk mengisi bar yang tersusun di atas kertas musik miliknya.

     Pria itu bangkit menuju balkon. Dari sana ia mampu melihat cahaya kemerahan mulai memudar di ufuk barat. Mendadak ia jadi berandai-andai. Kini impiannya menjadi seorang penyanyi solo tercapai sudah. Ia menginginkan mimpi yang lain. Mimpi yang lebih indah untuk hari esok, bukan hanya sekedar menjadi penyanyi solo Korea Selatan.

     Saat ini karirnya mulai melejit dan ia jadi memikirkan hal yang lebih tinggi lagi. Ya, sebagai manusia ia akan berpikir di atas langit masih ada langit yang belum dicapai. “Selanjutnya, aku ingin merambah pasar Jepang,” gumamnya sembari kedua manik mata miliknya menyisir barisan pohon yang berdiri tegak bagai siluet di malam hari.

     “Aku harus mencari seseorang yang lebih kuat dari sekedar manager. Saat aku naik daun kelak, semua fans akan berebut bersalaman denganku. Agar aku tidak terluka, aku harus mencari seseorang yang sanggup menjagaku. Ya,” pria itu mulai memikirkan hal naif. Baginya, memang mungkin itu hanya mimpi. Mimpi yang membuat setiap manusia kadang menjadi jauh dari kenyataan. Tapi, bukankah tanpa mimpi tidak ada yang perlu diusahakan untuk menjadi kenyataan?


     Pria itu mengambil ponsel flip dari sakunya kemudian menelepon seseorang di seberang. Itu managernya, Park Jung Woo. “Manager Park, aku ingin menyewa seorang bodyguard,” ucap pria itu datar. Pernyataan pria itu sukses membuat lawan bicaranya ber’ha?’ ria dari seberang sana.

     “Akan sulit menjelaskannya di telepon, yang pasti aku sangat butuh sekarang, sebelum semuanya terlambat...” Baiklah, mungkin tokoh utama kita kali ini adalah sosok artis baru yang hobi mendramastisir segala sesuatu.

     “Sebelum terlambat apanya? Kau mulai tidak waras, ya?” ucap Manager Park.

     “Aku akan menjelaskannya setelah kita bertemu di backstage nanti, ne?” ucap pria itu. “Tolong ingat ini Manager Park. Ini sangat penting bagi kelangsungan hidupku kelak, percayalah.”

     Tanpa ba-bi-bu setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya pria itu mengakhiri pembicaraan. Ia melipat ponsel flip itu dan memasukkannya kembali ke sakunya. Pria berlabel Kim Jae Joong itu adalah artis yang mungkin terlalu melebih-lebihkan sesuatu. Singkat cerita, begitulah kira-kira.

**

     “Aku butuh orang yang benar-benar kuat, Manager Park!” Jae Joong menepuk pundak Manager Park agak keras, terbukti dengan mengaduhnya sang pemilik pundak usai tepukan itu mendarat.

     “Kalau begitu kau sewa saja algojo atau pembunuh bayaran!” ucap Manager Park sok serius.

     “Tidak!” tolak Jae Joong. “Aku tidak akan menyewa pembunuh bayaran atau algojo. Kau harusnya berpikir lebih cerdas, Manager Park. Orang seperti itu tidak akan bertahan lama. Kemungkinan terburuknya, jika aku tiba-tiba memecatnya, ia bisa balas dendam padaku! Ia akan membunuhku! Mencekikku dengan kasar, memotong-motong tubuhku, dan menjadikannya perkedel!”

     “Baiklah, kalau begitu aku akan bergabung dengannya memakan perkedel daging Kim Jae Joong,” jawab Manager Park santai.

     Jae Joong mendengus sebal, “Apa maksudmu? Kau hendak berkhianat, Manager Park?”

     “Tidak. Mungkin kau saja yang berpikir terlalu jauh, Jae.” Ucap Manager Park. “Ngomong-ngomong aku sudah mendapatkan data bodyguard yang bagus untukmu. Ini.”

     Jae Joong menerima bendelan buku yang baru saja diangsurkan managernya itu padanya. “Wah, cepat sekali! Kau benar-benar manager terbaik, Manager Park!”

     “Traktir aku kopi mahal di seberang sana, ya? Kau kan baru terima gaji,” ucap Manager Park.

     Jae Joong mengedik, “Baiklah, asal itu tidak lebih dari seribu won per cangkir.”

**

     Jae Joong lekas meninggalkan stage begitu musik pengiring lagunya berakhir. Dengan agak buru-buru ia menyambar jaket kulit miliknya dan lekas menuju ke mobil. Manager Park mengatakan bahwa para calon bodyguard-nya akan datang ke kantor management untuk menjalani seleksi. Tampaknya, pertemuan pertamanya dengan calon-calon bodyguard-nya kali ini membuatnya sedikit bersemangat.

     “Apa mereka semua datang?” tanya Jae pada Manager Park di sela menyetirnya.

     “Beberapa di antara mereka mengundurkan diri, tapi masih ada cukup banyak pilihan tersisa.” Manager Park membolak-balik dokumen dan buku agendanya bergantian.

     “Aku akan memilih bodyguard yang paling kuat di antara mereka,” gumam Jae.

     “Kau tidak takut mereka menjadikanmu perkedel?” sindir Manager Park. Jae mendengus kesal, “Aku punya pilihan yang bagus tentunya. Tidak sembarangan.”

     Sampai di tengah perjalanan, Manager Park memandu Jae untuk memutar arah berlawanan dari kantor management. Tanpa protesan berarti dari Jae, mereka menuju ke tempat yang Jae pun tak tahu dimana itu.

     Manager Park membawa Jae menuju sebuah gedung tua, namun kelihatannya masih kokoh. Begitu menapakkan kaki ke dalam sana, aura gelam mulai mencekam pelan-pelan. Lorong-lorong panjang bagai labirin yang akan membawa mereka ke tempat asing lainnya.

     Jae melantunkan lagu-lagu secara acak untuk mengurangi rasa takutnya. Jujur saja, Jae Joong tampak tidak nyaman masuk ke dalam sarang bodyguard. Singkatnya, ia sedang merasa takut.

     “Kau bilang kita ke kantor management?” tanya Jae pada Manager Park yang masih memandunya dari depan. Ia memutuskan membuka pembicaraan agar suasana tak semakin keruh.

     “Mereka membatalkannya,” jawab Manager Park.

     “Mereka?” Jae melirik pada Manager Park.

     “Ya, mereka bilang mereka dari agen yang sama. Jadi, mereka memilih bertemu di kantor mereka saja,” jawab Manager Park.

     “Kantor?” Jae mengitarkan pandangannya ke sekeliling. “Dari sebuah kantor, ini jauh lebih cocok disebut sebagai gedung labirin.”

     “Nah, kita sudah sampai.” Manager Park membuka pintu sebuah ruangan paling ujung di lantai dua. Seketika tampak wajah-wajah asing menyambut mereka berdua dengan ekspresi menakutkan—baiklah, ini karena Jae mengatakan demikian pada author.

     Ruangan itu bernuansa klasik dan penuh misteri. Semua perabotan didominasi warna coklat dan hitam, sesekali merah maroon ada di sana-sini. Manager Park membimbing Jae untuk duduk di salah satu sofa dalam ruangan itu.

     “Jadi, ini Kim Jae Joong. Dia sedang membutuhkan seorang bodyguard,” Manager Park membuka pembicaraan. Ke sepuluh calon bodyguard itu hanya menyimak dengan tatapan datar.

     “Jadi, Jae, kau ingin mereka menunjukkan keahliannya?” tanya Manager Park pada Jae yang terpaku pada mata-mata tajam yang menatapnya denga siaga.

     “E-emm... Kurasa tidak perlu. Aku akan memilih dari wajah yang paling menyeramkan. Bukankah dengan begitu bisa mempersingkat waktu?” Jae bangkit dari duduknya kemudian mengamati satu-satu pria-pria kekar di hadapannya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang gadis yang sedang menuang teh ke dalam gelas di belakang pria-pria itu.

     “Kau,” Jae memanggilnya. Gadis itu menoleh kemudian menyibakkan poninya ke belakang telinga. “Kau juga anggota agen ini?”

     “Ya,” jawabnya singkat.

     “Kalau begitu aku memilihmu sebagai bodyguard-ku!” Jae memutuskan sembari menunjuk lurus ke arah gadis berambut sebahu itu. Kedua mata onyx-nya menatap Jae tajam. Namun, itu tak sama sekali melunturkan kesan lembut di wajahnya.

     “Sst...” Manager Park menyenggol pinggang Jae. “Kau yakin?” bisiknya.

     “Ya,” Jae tersenyum menatap gadis itu. “Aku sudah memutuskan.”

**

     “Jae, kau yakin dia bisa menjagamu?” tanya Manager Park berbisik. Jae tersenyum kemudian menjawab, “Ya, wajahnya sangat menakutkan.”

     Jae melirik ke jok belakang mobilnya. Mulai hari ini gadis itu akan ikut bersamanya. Mungkin ia telah berbohong pada Manager Park mengatakan gadis itu berwajah menakutkan. Ya, mungkin bukan hanya membohongi Manager Park, tapi juga membohongi dirinya sendiri. Karena ia tidak mengerti mengapa ia jadi tidak fokus pada kemampuan bodyguard-nya dan malah lebih pada wajahnya.

     “Oh ya, kita belum berkenalan sebelumnya. Siapa namamu?” tanya Jae pada gadis itu.

     “Ham Eun Jung,” jawabnya singkat.

     “Ngomong-ngomong berapa usiamu?” tanya Jae lagi.

     “Dua puluh dua,” jawabnya lagi.

     “Wah, usia kita terpaut dua tahun. Kau tinggal dimana sebelumnya? Dan kenapa kau masuk ke dalam agensi bodyguard seperti itu?” Jae melemparkan dua pertanyaan sekaligus.

     “Di Incheon dan aku tidak bisa memberitahu alasanku.”

     “Hmm... Kau hanya menjawab seperlunya, ya? Benar-benar dingin,” sindir Jae.

     Gadis itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil dan mengabaikan ucapan Jae barusan. Jae hanya geleng-geleng kepala melihat sikap gadis itu. Benar-benar dingin dan seenaknya. Tapi, dalam hati Jae berharap gadis itu akan mau berbicara lebih banyak padanya suatu hari kelak.

     Ya, ia hanya itu yang terlintas di pikirannya saat itu.





.to be continue. . .



Glossarium :

*Ne            : Ya
*Arasseo    : Mengerti
*Mianhae  : Maaf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar