“Tidak! Sampai kapanpun kita tidak akan berpisah!”, teriaknya keras padaku. Meski bagaimanapun, aku sudah tidak mampu lagi bersamanya.
“Maaf, tapi aku tidak sanggup lagi bersamamu… Kita berpisah saja… Maafkan aku.”, ucapku hendak pergi darinya.
“Tidak!”, ia menggenggam pergelangan tanganku kuat.
“Aku tidak mau…!”, seruku berusaha melepaskan genggamannya.
“Aaaah!!”, aku mendorongnya kuat ke jalan raya. Lalu aku berlari meninggalkannya dengan cepat. Aku takut ia mengejarku… Sangat takut ia datang padaku… Aku berlari sekuat dan sebisaku.
“Aaaa!!”, teriakku. Aku terbangun dari mimpi burukku tersebut. Nafasku terengah-engah seolah-olah masih berada di mimpi itu. Aku masih terduduk di ranjang kecilku. Kulemparkan pandanganku ke arah jam di atas mejaku. Bunyi detiknya memecah malam. Masih jam 03.24. Meski aku sadar itu hanya mimpi, tapi itu seolah sangat nyata. Aku tak sanggup memejamkan mataku. Akhirnya, kuputuskan untuk keluar dari kamar. Kulangkahkan kakiku ke arah dapur. Sunyi dan gelap. Hanya terdengar suara hewan malam yang bersahut-sahutan di luar rumah. Cklek! Kunyalakan lampu dapur, sesegera mungkin kubuka kulkas yang sudah ada tepat di hadapanku. Cahayanya menyilaukan mataku ketika kubuka pintu kulkas itu. Kutuangkan air putih ke dalam gelas bening dengan tangan sedikit gemetar. Hatiku diselimuti ketakutan bayang-bayang kejadian 4 tahun yang lalu.
“Aissh…”, gerutuku pelan. Kuteguk perlahan air putih itu. Kurasakan dinginnya menembus gelas dan telapak tanganku. Sementara yang telah kuteguk dalam-dalam, seolah tak berfungsi membasahi kerongkonganku yang kering. Apakah dia kembali? Ini tidak mungkin. Jiro tidak mungkin kembali…
******
Begitu matahari menyapa, aku menyegerakan langkahku menuju halte bis. Menunggu bis yang biasa kutumpangi. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya bis tersebut datang juga. Kupercepat langkahku naik ke dalam bis yang penuh sesak dengan penumpang bagaikan lautan manusia. Meski keadaan penuh sesak begini, kusabarkan hatiku. Meski sebenarnya, genderang kemarahan dalam hatiku telah berbunyi. Panas, sakit, semuanya kurasakan di dalam sini. Begitu bis sampai di halte yang kutuju, aku segera turun. Sampai di halte, aku masih harus berjalan kaki 100 meter ke arah rumah sakit tempatku bekerja.
“Pagi, Suster Lyena.”, sapa seorang temanku Pat ramah.
“Pagi.”, jawabku. Aku segera mengganti pakaianku dengan pakaian kerja. Pakaian ketat serba putih-putih ini sudah kugunakan kurang lebih 6 tahun lamanya. Waktu itu sangat cepat berlalu…
“Semangat ya, adik. Kau pasti akan segera sembuh.”, aku tersenyum pada seorang gadis kecil, pasien di rumah sakit ini. Ia mengidap tumor otak stadium akhir. Meski aku tersenyum mengatakan kalimatku tadi… Sebenarnya, itu suatu kebohongan. Seperti ucapan dokter-dokter yang telah kudengar sebelumnya, jika tumor otak sudah mencapai stadium akhir, maka hanya tinggal menunggu waktu. Untuk mengulur waktu itu… Disinilah tempat mereka. Berobat VIP yang sebenarnya hanyalah sia-sia belaka. Hanya ada teriakan kesakitan ketika penyakit itu menyergap… Bereaksi… Tugas kami sebagai suster disini adalah menyemangati mereka. Mengatakan kalimat-kalimat kebohongan… “Semangat ya…” kalimat itu terucap begitu saja, padahal mungkin semangat yang ada dalam benak mereka sudah habis. “Kau pasti akan segera sembuh…” apalagi kalimat ini… Padahal sudah tidak ada lagi harapan hidup bagi mereka. Maafkan aku… Tapi, ini adalah tugasku. Ini pekerjaanku. Maafkan aku…
“Suster?”, seorang lelaki kecil bernama Boy memanggilku dengan suara kecilnya yang khas.
“Hm?”, aku menjawab dengan deheman kecil.
“Suster, setiap hari kau berkata bahwa kami akan sembuh. Kapan kami bisa sembuh dan keluar dari rumah sakit ini?”, tanyanya dengan senyuman mengembang. Astaga… Bagaimana aku menjawabnya? Anak sekecil ini… Sudah dipermainkan oleh kekejaman penyakit tumor yang dideritanya. Air mata ini seolah tak terbendung. Ingin kuteteskan, tapi aku tak tega meneteskannya di hadapan mereka, anak-anak yang sudah terlanjur percaya akan kesembuhan yang kami, para suster tanamkan…
“Suatu saat… Kalian akan keluar dari rumah sakit ini dengan senyuman. Kalian akan bermain seperti dulu lagi…”, jawabku. Kebohongan lagi… Padahal aku tahu… Bagaimana keadaan mereka saat keluar dari rumah sakit ini. Hanya tinggal jasad mereka yang bertahan… Jiwa mereka… Sudah tidak ada dalam jasad mereka. Saat itulah penyakit yang menggerogoti mereka berhenti menyiksa mereka.
******
“Suster Lyena, ada surat untukmu.”, ucap Meg saat aku sampai di receptionist. Ia menyerahkan sepucuk surat itu padaku.
“Surat? Dari siapa?”, tanyaku sembari menerima surat tersebut.
“Entahlah. Tidak ada alamat atau nama pengirimnya.”, ucap Meg masih fokus dengan komputernya. Aku menatap surat itu dalam-dalam. Masih belum kubuka juga amplopnya. Apa lagi ini? Kubuka perlahan amplop itu, kulihat secarik kertas putih terlipat rapi. Kubuka dan kubaca.
_____________________________________
Kepada : Suster Lyena
Ini surat keduaku. Aku masih ingin mengatakan padamu. “Aku telah kembali”. Aku akan membalas apa yang telah kau lakukan dulu. Bersama rumah sakit tempatmu berlindung itu… Aku akan membalas kalian semua. Semua yang kalian lakukan. Ingat itu, Suster Lyena!
_____________________________________
“Aku telah kembali”, kalimat itu berputar di kepalaku. Jiro… Apakah kau? Apakah kau datang kembali? Bayang-bayang masa lalu kembali bersarang di hati dan pikiranku. Membuatku melihatnya dengan jelas kembali di balik mataku.
“Aku ingin kita berpisah! Tidak ada kecocokan lagi di antara kita! Aku sudah tidak sanggup bersamamu!”, teriakku tepat di depan rumah sakit 4 tahun lalu.
“Tidak! Sampai kapanpun kita tidak akan berpisah!”, teriaknya keras padaku. Meski bagaimanapun, aku sudah tidak mampu lagi bersamanya.
“Maaf, tapi aku tidak sanggup lagi bersamamu… Kita berpisah saja… Maafkan aku.”, ucapku hendak pergi darinya.
“Tidak!”, ia menggenggam pergelangan tanganku kuat.
“Kumohon!”, ucapnya.
“Aku tidak mau…!”, seruku berusaha melepaskan genggamannya.
“Aaaah!!”, aku mendorongnya kuat ke jalan raya. Lalu aku berlari meninggalkannya dengan cepat. Aku takut ia mengejarku… Sangat takut ia datang padaku… Aku berlari sekuat dan sebisaku. Sejak hari itu, aku tak pernah bertemu lagi dengan Jiro. Sudah berlalu 4 tahun… Apa mungkin benar-benar Jiro? Kalau bukan… Siapa dia?
.TO BE CONTINUED+++++++>>>>>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar