++++Pat POV++++
Sudah berlalu empat tahun lamanya sejak kematian Jiro. Fotonya masih terpajang apik di dinding kamarku. Kembali terbayang memori itu di kepalaku. Saat pertama kali aku berjumpa dengannya di sekolah. Perangainya yang cool membuatku sempat jatuh hati padanya. Tapi, Lyena malah merebutnya dariku… Pacar pertama Jiro adalah Suster Lyena yang sekarang bekerja di rumah sakit yang sama denganku. Meski sudah berlalu empat tahun, aku masih menyimpan rasa kesal padanya. Meski Jiro sudah mati… Aku tak pernah melupakannya sedikitpun…
“Jiro… Aku akan berusaha untukmu…”, ucapku sembari menatap foto Jiro lekat-lekat.
“Apa? Aaron mengajakmu menikah? Aku tidak salah dengar?”, sindir Meg.
“Hm. Kami akan menikah dalam waktu dekat. Kita akan segera menjadi saudara Meg!”, seruku sambil melingkarkan tangan kiriku ke leher Meg. Meg hanya terkekeh.
“Pagi, Suster Lyena.”, sapa seseorang. Aku menoleh. Kulihat seorang pria tengah berdiri tak jauh dariku. Ia mengembangkan senyum manis di bibirnya.
“Pagi, dokter.”, jawabku sembari tersenyum. Semburat kemerahan mewarnai pipiku. Tak lama kemudian ia berlalu. Meski hanya sekedar mengucapkan salam, aku jadi canggung begini saat bersamanya.
“Pagi, Lyena.”, ucap seseorang. Aku menoleh. Kulihat Chun yang berdiri disana. Aku mengalihkan pandanganku dan segera berlalu dari hadapannya. Aku tak mau psycho itu mempermainkanku lagi.
++++Chun POV++++
Lyena berlalu kembali saat aku menyapanya. Ia selalu berusaha menjauhiku sejak kejadian hari itu. Andai saja aku tidak melakukannya…
“Chun.”, seseorang memanggilku dengan suara amat lembut.
“Kau… Meg?”, aku mencoba mengingat-ingat wajah suster di hadapanku itu.
“Lyena terlalu shock sejak malam itu. Tapi, Chun. Aku percaya bahwa kau bukanlah orang yang melakukan hal itu. Aku percaya pasti bukan kau. Kau bukan orang seperti itu, kan?”, ucapnya.
“Terima kasih kau sudah mau mempercayaiku, Meg. Emm… Aku ingin menjelaskan kejadian hari itu padamu, Meg…”, ucapku. Meg mengangguk. Kami pun duduk di sebuah kursi taman.
“Aku akan mendengarkannya.”, ucap Meg. Aku begitu lega ia mengatakan kalimat itu.
“Hari itu… Meeting dengan client dibatalkan. Akhirnya, aku memutuskan untuk menyusul Lyena. Takut sesuatu terjadi padanya. Tapi, begitu sampai di dapur, aku menemukan Chef Herd sudah dalam keadaan demikian. Aku mencabut pisau yang ada di perutnya itu. Seketika darahnya menghempas ke celana panjangku. Saat itu Lyena dan kau datang. Dan begitulah…”, ucapku mengakhiri cerita. Meg mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Suster Meg, dokter Aaron mencarimu.”, ucap seorang suster menghampiri Meg.
“Meski Lyena atau pun siapapun tidak mempercayaimu, aku akan tetap percaya padamu, Chun…”, ucap Meg lalu pergi. Tunggu… Suster barusan itu… Sepertinya aku pernah melihatnya sebelumnya… Tapi, dimana? Siapa dia? Ah, sudahlah.
++++Lyena POV++++
Surat itu lagi?! Kenapa dia tak henti-hentinya melakukan hal konyol begini, sih?! Meski kesal, tetap saja aku membuka kertas itu.
________________________________
Kepada : Suster Lyena
Suster Lyena… Korban berikutnya… Aku akan segera menghabisinya. Temukan ya! Karena berikutnya adalah giliranmu!
________________________________
Aku membuang kertas surat itu ke dalam tempat sampah. Apakah dia benar-benar psycho yang hendak membunuh semua pegawai dalam rumah sakit ini? Tapi, kenapa melalui aku? Memangnya aku sudah berbuat salah apa padanya? Dan… Kenangan kami itu… Apakah itu kepura-puraan? Ini memuakkan!
++++Author POV++++
Pembunuh itu berada di sebuah ruangan. Ia terus mengasah pisaunya, sekiranya bisa untuk membunuh dua orang sekaligus. Tak lupa ia isi pistol di atas meja dengan peluru yang runcing dan sangat berbahaya. Ia terus mengeluarkan aura datarnya. Ia tak nampak bagaikan seorang pembunuh. Ia nampak seperti anak kecil yang manis. Tapi, imej manis itu tak dapat disandangnya kala pisau itu ada di genggamannya. Ekspresinya terus-menerus datar sambil mengasah pisau itu. Ia amat serius dengan pekerjaannya itu.
KRIEET…!
Begitu mendengar suara pintu itu ia menyeringai. Melihat korbannya sudah datang tepat pada waktunya. Pada waktu pisau itu telah tajam. Sang korban memekik keras begitu melihat keadaan orang yang dikenalnya itu hendak membunuhnya. Ia berlari keluar dari ruangan tersebut dengan sangat ketakutan. Tiba-tiba seseorang muncul di hadapannya…
.TO BE CONTINUED++++++++>>>>>
.baca y,,,! Comment jujja!!
.mpe jmpa next part!!^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar