Title : Hospital Emergency
Author : Dita d’Chapbi ‘cHun’ Meii a.k.a ditachun
Type : Multichaptered
Part : 1 of 11
Genre : Romance, Thriller
Rating : PG+13
Cast :
#Lyena (OC)
#Aaron Yan as Aaron
#Meg (OC)
#Wu Chun as Chun
#Jiro Wang as Jiro
#Jenny (OC)
#Pat (OC)
Disclaimer : Chun, Aaron, dan Jiro adalah milik Tuhan! ^^ Sementara seluruh OC adalah punya author, begitupun karakter yang mereka mainkan adalah milik author. Setting dan bla bla nya juga punya author. So, no bashing, ok? Mau bash? Silahkan, author gak peduli sama bash-bash-an macam apapun XD #author dibuang ke jurang#
Warning : gaje binti abal XD
LET'S CHECK IT OUT!!
Seperti biasanya saat jam kerjaku selesai, aku mengganti pakaian kerjaku di ruang ganti bersama seorang rekan kerjaku Meg. Sesekali kami bercanda dan tertawa pelan. Canda kami terpecah ketika kudengar suara pintu ruang ganti diketuk. Ah, mungkin temanku. Batinku. Kubuka pintu itu. Decit bunyinya memekikkan telinga. Aku menoleh kesana kemari. Mataku terus berpencar mencari sesuatu, tepatnya seseorang. Sepi. Tak ada seorang pun yang berdiri di depan pintu. Kutemukan secarik kertas putih yang terlipat rapi di atas lantai. Kubuka perlahan. Tulisan bertinta merah... Itulah isi kertas itu. Kubaca perlahan dan kucerna baik-baik…
_________________________________
Kepada : Suster Lyena
Saat kau temukan surat ini… Mungkin aku sudah pergi. Kau pasti mencariku, kan? Suster Lyena… Ini surat pertamaku. Jadi, cerna ini baik-baik. “Aku telah kembali”
_________________________________
“Siapa, Lyena?”, tanya Meg tiba-tiba membuyarkan konsentrasiku pada surat misterius tersebut.
“Entahlah. Tidak ada siapapun.”, ucapku.
“Apa ini?”, Meg menyahut kertas yang semula ada di genggamanku dan membacanya detil.
“Aku telah kembali? Apa maksudnya?”, gumam Meg pada dirinya sendiri kemudian melipat kertas itu.
“Ah, sudahlah. Jangan cemas. Ini pasti hanya orang iseng.”, ucap Meg yang mengerti sedikit kegalauanku. Ia menepuk pundakku pelan. Aku segera memasukkan pakaian kerjaku ke dalam tas dan bergegas pulang.
“Hari ini kau pulang sendiri?”, tanya Meg saat kami melewati lorong rumah sakit yang panjang ini.
“Hm. Kau?”
“Aaron bilang dia akan mengantarku. Kau mau pulang bersama kami? Nanti biar kuantar sampai rumah.”, tawar Meg ramah.
“Baiklah.”
Sesampainya di depan rumah sakit, kulihat dokter Aaron. Dia adalah kakak Meg yang juga bekerja sebagai seorang dokter di rumah sakit ini. Dia telah bersandar di samping sebuah mobil hitam metallic dan melambaikan tangan pada kami.
“Selamat malam, suster Lyena.”, sapanya lembut.
“Selamat malam, dok.”, jawabku. Setelah itu kami segera masuk ke mobil. Dokter Aaron segera melajukan mobilnya dengan stabil. Hingga akhirnya, tibalah mobil itu di depan halaman sebuah rumah sederhana. Setelah mengucapkan terima kasih, aku segera masuk ke rumah. Kubuka pintu rumah pelan. Krieet… Seorang wanita paruh baya sedang berdiri di sisi dapur. Ia menyiapkan makan malam hari ini seperti malam-malam sebelumnya.
“Aku pulang.”, salamku.
“Ah, kau sudah pulang? Bagaimana pekerjaanmu hari ini?”, sapanya lembut. Seperti biasanya, kalimat itu selalu terlontar kala aku mengucapkan salam kepulanganku.
“Seperti biasanya… Tidak ada yang istimewa.”, jawabku sembari mencuci tanganku di wastafel.
“Cepat mandi dan segera makan malam. Ibu akan memanggil Jenny turun.”, ucapnya lalu berjalan naik ke atas tangga. Di panggilnya berkali-kali nama gadis kecil itu lembut sambil mengetuk-ketuk pintu kamarnya. Terdengar sampai di lantai bawah. Sejak ayah meninggal, akulah tulang punggung keluarga. Bekerja sebagai seorang suster di rumah sakit yang cukup besar di kota ini. Bersama teman baikku, Meg, aku bekerja dengan cukup nyaman disana.
******
“Suster Lyena!! Tolong ambilkan alat-alat medis!”, seru dokter Aaron seperti sebelum-sebelumnya. Seorang pasien yang baru masuk karena kecelakaan dan harus dioperasi. Dengan sigap aku mengambil alat-alat yang dimaksud dokter Aaron. Dokter Aaron segera mengambil beberapa alat medis. Membersihkan beberapa luka pasien tersebut. Aku segera memasang beberapa alat-alat medis pada pasien itu. Beberapa orang suster termasuk Meg masuk ke ruang operasi bersiap membantu dokter Aaron menyelesaikan tugasnya. Kami semua berada dalam ketegangan ketika detak jantung pasien tersebut melemah. Dengan cepat dan hati-hati dokter Aaron mengutak-atik luka pasien itu dan selesai sudah operasi ini. Keringat berbasah pada kening kami. Dokter Aaron segera keluar dari ruangan tersebut sedangkan aku dan Meg masih ribut dengan alat-alat medis dan lain-lain.
“Meg, aku duluan ya.”, ucapku meninggalkan Meg. Meg hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Kubawa alat-alat medis itu ke tempatnya. Kulepaskan pakaian operasiku dan segera keluar.
“Suster Lyena…”, kudengar seseorang memanggilku dari belakang. Suaranya menggema. Aku berbalik. Begitu banyak orang yang berjalan di lorong ini. Siapakah gerangan yang memanggilku? Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku menoleh.
“Chun!”, aku begitu gembira melihat pria yang tengah tersenyum padaku itu.
“Aku pulang. Apa kabar?”, sapa Chun ramah seperti biasa.
“Aku baik.”, jawabku.
“Eh, apa kau yang memanggilku tadi?”, tanyaku padanya.
“Memanggilmu? Adakah? Aku baru sampai.”, jawabnya.
“Ah, pasti hanya orang iseng.”, ucapku.
Chun adalah teman lamaku. Dia temanku ketika awal aku bekerja di rumah sakit ini. Sebagai pasien yang pernah lama menginap di rumah sakit ini karena penyakit jantung kronis kami saling kenal dan cukup dekat. Penyakitnya memang belum sepenuhnya sembuh… Tapi, semangatnya untuk hidup sangat kuat. Akhirnya, ia bertahan sampai sekarang. Beberapa tahun yang lalu, dia pergi ke Taiwan. Sekarang dia kemari lagi dan menemuiku. Aku sangat senang. Dia orang yang ramah dan baik bagaikan malaikat…
******
“Tidak! Sampai kapanpun kita tidak akan berpisah!”, teriaknya keras padaku. Meski bagaimanapun, aku sudah tidak mampu lagi bersamanya.
“Maaf, tapi aku tidak sanggup lagi bersamamu… Kita berpisah saja… Maafkan aku.”, ucapku hendak pergi darinya.
“Tidak!”, ia menggenggam pergelangan tanganku kuat.
“Kumohon!”, ucapnya.
“Aku tidak mau…!”, seruku berusaha melepaskan genggamannya.
“Aaaah!!”, aku mendorongnya kuat ke jalan raya. Lalu aku berlari meninggalkannya dengan cepat. Aku takut ia mengejarku… Sangat takut ia datang padaku…
.TO BE CONTINUED+++++++>>>>>
.gmana readerz??
.jelekkah??
.pliss, pliss, COMMENT ya…^^
.mpe jmpa next part!!^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar