“Suster Lyena…”, bisikan itu kembali muncul ketika aku melewati ruangan dokter Devon. Aku bergidik. Tak sanggup menoleh untuk kesekian kalinya setelah peristiwa naas itu. Aku merasa, bisikan itu adalah awal dari semua petaka ini. Atau lebih tepatnya, surat misterius itu. Anehnya, bisikan itu hanya datang sekali memanggilku. Ia tidak mengulangnya. Dan setiap aku menoleh, pada detik berikutnya selalu terjadi sesuatu yang mengerikan.
DHUAKH!!! Aku mendengar sesuatu dari lantai bawah. Kurasa bisikan itu sudah tak ada lagi. Kuberanikan diri untuk memalingkan wajah ke lantai dasar lewat balkon. Lagi… Kali ini korbannya adalah dokter Devon. Ia terjatuh di lantai bawah. Darah mengucur dari keningnya. Matanya melotot terlihat jelas dari sini. Tubuhnya masih sedikit bergerak. Ia kejang-kejang, kemudian terdiam lama sekali. Sakit kepala itu kembali menyerang kepalaku. Nampak bayang-bayang kejadian-kejadian yang terjadi berturut-turut itu. Hari itu, aku melewati lorong rumah sakit. Selang beberapa menit setelah bisikan itu, kutemukan dokter Anthony meninggal dengan luka robek yang amat dalam dan mengenaskan. Berikutnya, bisikan yang sama kembali menghampiriku. Hari itu aku tidak sedang di rumah sakit. Tapi, aku bertemu dengan dokter Geovan. Dia juga meninggal secara mengenaskan seusai bertemu denganku. Berikutnya, dokter Weny, dokter Aini, dan dokter Shella. Mereka juga meninggal setelah bisikan itu mengiang di telingaku. Sekarang dokter Devon…! Apa sebenarnya yang telah terjadi ini?!
******
Karena pihak rumah sakit takut imej rumah sakit ini tercoreng akibat kasus-kasus yang terjadi belakangan ini. Pihak rumah sakit memutuskan menutup rapat-rapat informasi seputar kematian dokter-dokter yang sangat tidak wajar itu. Sebenarnya aku kecewa. Kasus ini tidak dituntaskan, tapi malah ditutup rapat-rapat sedemikian rupa.
Hari ini aku sedang duduk di kafe bersama Chun.
“Kau kecewa?”, tanyanya seusai aku menceritakan kejadian itu pada Chun.
“Aku sangat kecewa. Aku ingin kasus ini dibuka dan segera tuntas. Aku merasakan suatu ketidakberesan di rumah sakit itu, Chun…”, jawabku. Chun berpikir sejenak lalu menyandarkan dagunya pada tangannya yang bersandar di atas meja.
“Kenapa kau tidak minta pada pihak rumah sakit? Katakan saja apa yang kau tahu…”, ucap Chun.
“Ini tidak mungkin. Siapa aku? Mereka pasti akan mengira kalau aku lah pelakunya… Karena hanya aku yang mendengar bisikan misterius itu, Chun…”, jawabku.
“Apa kau tahu pemilik suara itu? Misalnya… Perempuan atau laki-laki yang kau kenal?”, tanya Chun menyelidik.
“Kurasa…”, aku mulai mengingat-ingat kembali kejadian itu, serta suara bisikan misterius itu.
“Suster Lyena…”, bisikan itu kembali bersarang di pikiranku.
“Laki-laki… Suaranya amat datar dan nada suaranya cukup rendah. Aku yakin dia laki-laki.”, ucapku.
“Keanehan peristiwa ini… Kenapa hanya dokter-dokter itu yang meninggal. Padahal kau bilang kau pernah mendengarnya saat banyak pasien di sekitarmu, kan? Tapi, tak ada seorang pun pasien yang meninggal saat bisikan itu muncul.”, ucap Chun.
“Ah, kau benar. Apakah ini… Teror?”, ucapku lirih.
“Hm. Dan mungkin… Dia adalah orang yang dekat denganmu… Sepertinya dia faham situasi dan kondisimu saat itu. Dimana kau berada juga waktunya. Dia tahu pasti gerak-gerikmu.”, ucap Chun. Orang dekatku…? Tapi… Siapa?
“Maaf, apakah anda yang bernama Lyena?”, tanya seorang pelayan menghampiriku.
“Benar. Ada apa?”, tanyaku balik.
“Seseorang menitipkan ini untuk anda.”, pelayan itu menyerahkan sebuah amplop padaku.
“Permisi.”, salamnya. Tapi, aku menarik lengannya sebelum ia pergi.
“Tunggu.”, aku membaca deretan tulisan pada surat itu.
______________________________________
Kepada : Suster Lyena
Ini adalah surat kedelapan dariku. Bagaimana, Suster Lyena? Apakah permainanku menarik? Ah, pasti sangat menarik, kan? Apakah kau kira sudah cukup dengan keenam dokter sialan itu? Tentu tidak. Masih ada beberapa lagi. Kau tinggal menunggu saja dengan tenang. Setiap satu surat yang kau baca, maka satu luka akan hadir dalam hidupmu. Hingga saatnya nanti… Kau yang akan menutup semua peristiwa ini…
______________________________________
“Siapa yang memberikan surat ini padamu?”, tanyaku pada pelayan itu.
“Emm… Saya tidak tahu jelas siapa namanya. Yang pasti dia mengenakan jaket kulit hitam dan berkacamata gelap. Memakai topi abu-abu. Hanya itu yang saya tahu.”, jawabnya.
“Saya permisi.”, pamitnya.
“Apa isi surat itu?”, tanya Chun. Aku menyerahkan surat misterius itu padanya.
“Surat ke delapan? Lalu mana yang lainnya?”, tanyanya. Aku membuka tas yang sedang kubawa dan mengambil tujuh amplop di dalamnya. Aku menyerahkannya pada Chun.
“Ini.”
“Ini dari pengirim yang sama?”, tanya Chun sembari membaca bagian depan ketujuh amplop itu bergantian.
“Hm. Dan semuanya ditulis dengan menggunakan tinta merah.”, jawabku.
“Eh, Lyena!”, seru seseorang. Aku menoleh. Ia menghampiriku.
“Meg?”, ucapku.
“Ah, siapa pria tampan ini…?”, goda Meg sambil menyenggol bahuku.
“Dia Wu Chun, temanku.”, jawabku memperkenalkan Chun.
“Hai, aku Chun.”, sapa Chun ramah.
“Aku Meg, sahabat Lyena. Kalian dekat?”, tanya Meg.
“Aissh, kau ini!”, ucapku.
“Hahaha… Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi.”, ucap Meg terkekeh.
“Lyena… Boleh aku pinjam surat ini?”, tanya Chun.
“Untuk apa?”, tanyaku.
“Emm… Kuperiksa misalnya.”, jawab Chun sedikit ragu.
“Surat? Surat apa itu?”, Meg mengambil sebuah amplop dan membuka surat tersebut. Ia membacanya. Matanya tampak serius.
“Lyena… Ini… Surat apa ini? Kenapa isinya begitu mengerikan?”, tanya Meg.
“Eh, tunggu… Surat ini kan… Surat yang malam itu kau temukan di depan pintu ruang ganti! Apa ini adalah pengirim yang sama?”, tanya Meg.
“Kurasa begitu. Meg, surat inilah terror itu. Kurasa… Pemilik surat itu adalah orang yang membisikkan namaku itu.”, ucapku.
“Kenapa ada hal semacam ini? Kenapa kau tidak melapor pada polisi?”, tanya Meg.
“Sudahlah. Polisi pasti mengira hal ini adalah kekanak-kanakan dan imajinasiku saja…!”, seruku.
“Ah, maaf, Lyena.”, ucapnya rendah.
“Tapi, aku janji! Aku akan selalu ada di sisimu!”, ucap Meg.
“Hm. Aku juga.”, timpal Chun sembari tersenyum.
“Terima kasih…”, ucapku.
.TO BE CONTINUED++++++++>>>>>
.Gimana??
.Nympe dsini cerita nyambung kagag?
.Ywdah, yuk COMMENT!!!^^
.mpe jmpa next part!!^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar