“Eh, tunggu…! Diary? Sepertinya aku tahu dimana ia meletakkan diary-diary-nya! Ayo!”, ajak dokter Aaron. Kami pun mengikutinya. Akhirnya, kami sampai di rumahnya yang mewah.
“Ayo!”, kami segera masuk ke dalam kamar Meg. Dokter Aaron mengacak-acak isi laci meja di kamar Meg. Ketika itu aku melihat foto Jiro yang berfoto bersama Meg. Foto itu terpajang apik dan cukup besar.
“Oh ya, kalau Meg dan Jiro saudara kembar… Lalu kau…?”, tanyaku pada dokter Aaron yang masih sibuk.
“Aku kakak tirinya. Kami saudara tiri. Tiga tahun lalu ayahku dan Ibu Meg menikah. Dan sekarang Ibu Meg sudah meninggal. Jadi, kami hanya tinggal berdua karena ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya.”, ucapnya. Matanya masih terus menelisik ke sudut-sudut ruangan serta tangannya mengobrak-abrik isi lemari dan laci Meg.
“Ini dia!”, serunya begitu sebuah buku tebal bak kamus lengkap ada di tangannya. Itu adalah diary Meg. Kami segera membawanya ke ruang tamu dan membacanya…
Senin, 7 Desember 1998
Aku tidak tahu mengapa mereka begitu dingin padaku. Tak ada yang mau mendengarku selain Jiro… Jiro lah tempat satu-satunya mencurahkan hati. Jiro… Kau adalah kakak terbaikku! ^_^
________________________________
Lembar berikutnya…
________________________________
Kamis, 24 Desember 1998
Kenapa mereka menjauhiku? Apa salahku? Apakah karena wajahku yang buruk rupa ini? Apakah karena rambut hitam legam panjang yang terurai bagai hantu ini? Apakah mereka menjauhiku karena aku bodoh? Padahal aku ingin berteman dengan mereka dan tertawa bersama mereka seperti itu…
________________________________
Lembar berikutnya…
________________________________
Jum’at, 15 Januari 1999
Aku menangis di gudang hari ini. Mereka menyiramku dengan air kolam yang baud an aku kedinginan. Sementara Jiro sama sekali tidak tahu. Dia pasti sudah lelah karena kerja part time-nya hari ini. T.T
________________________________
Lembar berikutnya… Terus mengulas tentang teman-temannya… Sampai akhirnya kami sampai di suatu halaman…
________________________________
Rabu, 17 Februari 1999
Teman-temanku mengitariku, membuatku ketakutan. Apalagi Renny dan Pat… Mereka menghinaku habis-habisan. Sementara Devon malah merajamku dengan kata-katanya yang tajam. Padahal mereka sangat baik satu sama lain, tapi kenapa tidak padaku? Renny menyiramkan whyne itu ke seluruh tubuhku… Dan Jiro mengetahuinya. Ia segera membawaku pulang. Mulai hari ini… Aku berjanji… Aku akan berusaha demi Jiro-ku… Aku akan membalas perlakuan mereka lebih dari apa yang mereka lakukan. Lihat saja… Aku tidak akan tinggal diam!
________________________________
Lalu lembar-lembar berikutnya sampai pada bagian ia mulai bekerja di rumah sakit ini…
________________________________
Senin, 10 Mei 2006
Hari ini aku mulai bekerja di rumah sakit terkutuk ini. Jiro telah kecelakaan gara-gara seorang gadis bernama Lyena yang memutuskan hubungan dengannya. Sampai aku di rumah sakit, aku mendengar bahwa operasi itu gagal karena adanya mal praktek dari dokter Anthony. Gara-gara hal itu aku kehilangan kakakku untuk selama-lamanya. Dan sejak hari itu aku bersumpah akan membunuh dokter itu karena dia sudah membunuh kakakku tanpa mau mengakui perbuatannya dan bertanggung jawab. Operasi plastik express yang kujalani beberapa hari lalu membuahkan hasil yang baik. Tak ada lagi yang mengenaliku…
________________________________
Lembar berikutnya…
________________________________
Selasa, 11 Mei 2006
Akhirnya, aku menemukan gadis sialan bernama Lyena itu! Untuk sementara… Aku ingin membuatnya percaya padaku dulu, lalu aku akan membunuhnya pelan-pelan dan membuatnya amat kesakitan!
________________________________
Lembar berikutnya…
________________________________
Rabu, 16 Juni 2006
Seorang Chef duda bernama Herd selalu menggodaku tiap hari! Aku kesal! Dia selalu memperlakukanku seenaknya seperti gadis murahan! Aku tidak sudi itu!
________________________________
Lembar berikutnya…
________________________________
Selasa, 15 Agustus 2006
Sejak aku ditugasi menjadi asisten dokter Shella dan dokter Aini aku menderita batin. Dia tak berbeda seperti Pat dan Renny! Mereka membuatku kesal setiap hari. Kalau sekali dua kali tak apa. Tapi, ini sudah berlalu sebulan! Aku lelah!
________________________________
Lembar berikutnya…
________________________________
Kamis, 23 November 2007
Ibu menikah dengan seorang pengusaha kaya. Ia seorang duda beranak satu, sebut saja anaknya itu Aaron. Dia adalah rekanku di rumah sakit. Dia orang baik, semoga tak bernasib seperti kakakku. Karena kulihat, dia sedikit tertarik pada Lyena.
________________________________
Lembar berikutnya…
________________________________
Sabtu, 19 April 2008
Dokter Weny yang kelihatan baik itu ternyata busuk! Dia tak peduli dengan pasiennya yang parah itu. Kemarin malam kutelepon, tapi tidak mau datang ke rumah sakit. Dia malah asyik minum saat kutanya pada kawanku. Akhirnya, pasien itu meninggal malam itu juga. Meski begitu, dia tak peduli sama sekali, tapi sok perhatian. Aku muak!
________________________________
Lembar berikutnya…
________________________________
Kamis, 9 Desember 2010
Aku mulai menjalankan rencanaku satu persatu. Kukirimkan surat-surat kaleng pada Lyena yang membuatnya ketakutan. Serta membisikkan namanya dengan menyamar sebagai pria, menggunakan topi milik Aaron yang sudah lama tak terpakai.
________________________________
Lembar demi lembar terus kubuka isi dari pembunuhan itu…
________________________________
Senin, 14 Februari 2011
Hari ini tinggal Pat dan Lyena… Aku akan membunuh keduanya! Akan kurajamkan pisau tajam itu pada mereka! Setelah mereka mati… Maka, aku sudah puas. Jiro pasti akan bangga denganku… Dia pasti bahagia karena dendamnya telah terbalaskan olehku…
________________________________
Itulah tulisan terakhir di dalam diary Meg… Kecuali satu halaman di bagian paling akhir… Disana ada sesuatu yang tertulis…
________________________________
Target :
Dr. Anthony
Dr. Geovan
Dr. Weny
Dr. Aini
Dr. Shella
Dr. Devon
Suster Renny
Chef Herd (Kepala dapur)
Suster Pat
Suster Lyena
Kalian semua adalah bajingan yang akan kumusnahkan satu persatu…!
________________________________
“Astaga… Aku benar-benar tidak menyangka kalau Meg adalah orang yang seperti itu…”, gumam dokter Aaron.
“Aku sebagai sahabatnya… Juga tidak pernah tahu hal ini… Kupikir dia adalah gadis lugu yang periang… Rupanya itu hanyalah topeng…”, ucapku.
“Andai aku tahu akan seperti ini… Maka, aku dulu tidak akan memperlakukannya sedemikian rupa… Aku menyesal…”, ucap Suster Pat.
“Hm. Semuanya sudah begini… Jadi… Ya sudahlah…”, ucapku.
________the end________
.wah, wah… AKhirnya tamadt juga nii cerita..!!^^
.lanjudtnya enak bkin genre apaan yah, readerz??
.kasii saran+comment ff nii yah!!^^
.xie xie…^^
.mpe jmpa d next story…!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar