Sabtu, 16 April 2011

Hospital Emergency... Part 10

   Sang korban memekik keras begitu melihat keadaan orang yang dikenalnya itu hendak membunuhnya. Ia berlari keluar dari ruangan tersebut dengan sangat ketakutan. Tiba-tiba seseorang muncul di hadapannya…
   “Suster Pat?”, tanya Lyena yang kebingungan dengan ekspresi Pat yang tampak ketakutan. Korban bernama Pat itu amat sangat ketakutan. Peluhnya bercucuran karena berlari dan tegang.

   “Ada apa, Suster?”, tanya Lyena jadi ikut panik.
   “Aku takut, Suster… Dia… Dia akan membunuhku… Kumohon tolong aku…!”, ucap Pat sambil terus menggenggam tangan Lyena yang mulai mendingin.
   “Apa sih maksudmu? Kau jangan membuat lelucon, Suster… Siapa yang ingin membunuhmu?”, tanya Lyena sanksi.
   “Dia… Suster Meg.”, Pat mengalihkan pandangannya, takut melukai perasaan kawannya itu. Sontak Lyena amat terkejut, namun hanya sejenak. Lalu tawanya datang membahana.
   “Hahaha! Mana mungkin! Kau ini kalau bercanda jangan mengajakku, Suster… Nanti aku tak bisa berhenti… Hahahaha…”, Lyena memegangi perutnya karena tertawa, tak percaya.
   “Percayalah… Suster, ayo kita pergi…  Kita harus lapor polisi.”, Pat menarik tangan Lyena hendak membawanya pergi.
   “Ah, kau ini, Suster… Dia pasti hanya bercanda… Kau yang harus percaya padaku… Kami sudah bersahabat lama. Empat tahun. Itulah persahabatan kami. Mana mungkin aku tak mengenal Suster Meg. Gadis yang lugu dan periang itu mana mungkin seorang psycho?”, ucap Lyena lembut mencoba menjelaskan.
   “Suster, kalau kau tidak percaya… Terserah! Tapi, kalau kau sudah mengetahui yang sebenarnya, maka jangan menyesal!”, bentak Pat lalu meninggalkan Lyena sendirian. Lyena terdiam sejenak. Tiba-tiba rasa penasarannya muncul. Kakinya perlahan mulai melangkah menyusuri lorong. Tak, tak, tak… Bunyi hak-nya terus mengiringinya, hingga sampailah ia di suatu ruangan. Ia melihat seorang gadis berpakaian serba putih yang ia amat kenali. Gadis itu menoleh begitu mendengar decit pintu terbuka.
   “Meg?”, Lyena mencoba meyakinkan pandangannya. Meg berlari ke arah Lyena sembari menyisipkan pisau itu di belakang tubuhnya.
   “Lyena!”, Meg merengkuh tubuh Lyena. Ia seolah ketakutan.
   “Ada apa, Meg? Kau ada masalah?”, tanya Lyena sambil mengelus punggung Meg lembut.
   “Hm. Aku punya masalah, Lyena…. Tidak ada seorang pun yang mau membantuku menyelesaikannya, Lyena…”, Meg mulai menangis pelan masih memeluk Lyena.
   “Aku akan membantumu, Meg… Aku akan membantumu sebisaku… Apa yang harus kulakukan?”, tanya Lyena masih tak sadar dengan bahaya di depan matanya.
   “Aku ingin…”, Meg mengangkat pisau itu agak jauh dari punggung Lyena, berancang-ancang untuk menghunuskannya.
   “Membunuhmu.”, jawabnya hampir menghunuskan pisau itu, tapi gagal karena Lyena segera melepaskan pelukannya. Ia mulai menyadari sesuatu yang ganjil pada Meg.
   “Apa yang kau lakukan, Meg?!”, seru Lyena terkejut dengan pisau yang dibawa oleh Meg.
   “Aku? Aku hanya ingin satu, Lyena… Dan kau mau membantuku, kan? Aku ingin… Kau mati di tanganku!”, sekali lagi Meg melayangkan pisau itu hampir menyentuh tubuh Lyena. Lyena sontak terlompat dari tempatnya. Suasana benar-benar menegang. Lyena segera keluar dari ruangan itu. Meg masih mengikutinya. Sampai akhirnya, Lyena terpojok di dinding lorong. Sementara Meg masih terus menatap Lyena tajam sambil mendekatinya perlahan.
   “Meg… Apa alasanmu? Kenapa kau melakukan itu? Kenapa, Meg?!”, ucap Lyena ketakutan.
SLASH!! Pisau itu merobek betis Lyena dan darah segar memancar dari sana. Lyena terduduk, merasakan sakit yang amat sangat yang merajam tiap desah nafasnya.
   “Arrghh!! Meg, apa yang kau inginkan?!”, teriak Lyena kesakitan.
   “Suster Lyena…! Aku ingin kau mati! Aku ingin kau menebus dosa-dosamu bersama Jiro! Kau harus membayar kematian Jiro, Lyena! Aku benci kau! Sangat benci!!!!”, teriak Meg histeris. Tiba-tiba satu ujung bibirnya terangkat. Ia merasa sekali tusukan saja mungkin luka itu akan redam sedikit.
   “Mati kau, Lyena!!!!”, Meg hendak menghunuskan pisau itu.
   “Dasar psycho!! Sudah kuduga orang itu kau!”, seorang pria merangkul tubuh Meg dari belakang dengan keras dan menjepitnya, membuat Meg hampir tak dapat bergerak.
   “Lepaskan aku!!”, Meg memberontak.



++++Lyena POV++++

   “Lepaskan aku!!”, Meg memberontak. Aku melihat Chun merengkuhnya kuat. Ia gagalkan rencana Meg yang membuatku sangat ketakutan itu.
   “Chun, bagaimana bisa kau ada disini?”, tanyaku.
   “Jangan banyak bicara. Kita harus segera mengamankannya.”, ucap Chun.
DHUAK!!! Meg menginjak kaki Chun kuat-kuat. Akibatnya, Chun melepaskan rengkuhannya dan Meg terlepas. Kulihat pisau itu diayunkannya pada Chun. Aku hendak menangkisnya, tapi diriku malah terjatuh. Pisau itu mendarat dengan baik di lengan Chun, membuat kemejanya robek dan akhirnya memerah.
   “Chun, kau tahu kenapa aku bilang bahwa aku percaya padamu hari itu?”, tanya Meg.
   “Itu… Karena akulah yang membunuh Chef Herd… Hari ini, aku ingin membunuh kalian berdua! Dasar orang-orang tidak berguna! Mati saja kalian!” teriak Meg. Meg mengambil sebuah pistol dari ruangan tadi. Aku terbelalak melihatnya. Ia menodongkan pistol itu sekitar setengah meter dari wajahku. Aku begitu ketakutan… Ingin rasanya berlari dan membawa Chun… Tapi, kakiku sudah terluka… Chun juga… Apakah aku memang akan mati dibunuhnya?
   “Satu lagi Lyena yang ingin kuucapkan padamu sebelum kau menemui ajalmu. Aaron tidak pantas bersama gadis penghianat sepertimu! Harusnya dia tidak menyukaimu! Harusnya begitu! Dan agar kau tidak menyakiti kakakku lagi… Maka, tebuslah dengan nyawamu!”, teriaknya.
TRAK!! Pistol itu jatuh ke hadapanku. Chun, meski keadaannya sudah begitu parah… Ia masih mencoba menahan Meg yang hampir membunuhku. Ia merengkuh erat gadis itu. Darah terus mengalir dari lengannya. Ia pasti merasakan sakit yang amat sangat… Maafkan aku, Chun sudah tidak mempercayaimu…
   “Lyena! Kenapa kau diam saja! Cepat ambil pisau itu!! Cepat tembak!”, seru Chun membuatku terkejut. Aku menggeleng.
   “Kenapa?! Cepatlah, Lyena!”, teriak Chun.
   “Tidak!! Kalau aku membunuh Meg, kau juga akan mati, Chun… Aku… Tidak ingin kehilangan kalian berdua…”, tangisku.
   “Bodoh! Dia ini psychopat! Cepat bunuh dia, Lyena! Cepat!!”, teriaknya lagi. Aku menggeleng.
   “Lyena, kumohon kali ini… Aku tidak ingin kau mati… Kau masih bisa hidup lebih lama… Tapi, aku? Dengan keadaan begini… Aku juga pasti akan segera mati… Maka dari itu, Lyena…. Bunuh kami selagi bisa.”, suara Chun merendah.
   “Tidak! Lyena, kau tidak ingin sahabatmu mati, kan? Buang pistol itu!”, ucap Meg.
   “Jangan pedulikan dia, Lyena! Dia bukan sahabatmu! Dia itu psychopat yang hanya dendam padamu! Jangan sia-siakan waktumu, Lyena!! Cepat!!!”, teriak Chun. Perlahan, meski dengan tidak yakin, aku meraih pistol itu.
KREK… Aku telah bersiap melepas peluru itu. Kututup erat-erat mataku…
   “Hallo, aku Meg… Suster baru yang akan bekerja bersamamu. Kita akan bersahabat, kan?”, Meg mengulurkan tangannya dengan senyum mengembang saat dia pertama kali datang ke hadapanku.
   “Chun? Itukah namamu? Lucu sekali… Hmmh… Kau hebat bisa bertahan sampai disini…”, ucapku ketika aku merawat Chun saat dia sakit.
Muncul memori lama tentang kami bertiga… Akhirnya…. DOR!! Peluru itu lepas begitu saja. TRANG!! Kaca jendela di belakang Chun dan Meg pecah. Saat aku membuka mata… Mereka sudah terkulai lemas di lantai.
   “Chun…”, aku merangkak, menghampiri Chun.
   “Jangan menangis… Jangan menyesal… Ini baik… Kau… Hiduplah dengan… baik… Lyena… Aku… akan selalu… Mengingatmu… Selamat tinggal…”, ucap Chun.
   “Maafkan…aku Jiro… Kakak… Maaf…”, ucap Meg. Mereka berdua menutup mata mereka rapat-rapat. Tak ada lagi denyut nadi mereka. Mereka meninggal, masih dalam keadaan berpelukan erat...
   “Suster Lyena, ada apa?”, tanya seseorang di belakangku. Aku melihat dokter Aaron telah berdiri di hadapanku. Aku pun memeluknya dan menangis sejadi-jadinya.
******
   “Saudara kembar?”, tanyaku.
   “Hm. Meg dan Jiro adalah saudara kembar. Tapi, Meg dilahirkan buruk rupa, sementara kakaknya, Jiro sangat tampan…”, ucap Suster Pat menjelaskan.
   “Bagaimana kau bisa tahu itu, Suster?”, tanyaku.
   “Itu karena… Dulu kami adalah teman sekelas. Setiap hari Meg selalu menutup diri. Ia hanya makan bekal atau menulis diary saat istirahat. Akhirnya, teman-teman termasuk aku menganggapnya gadis aneh. Apalagi dia termasuk… Maaf… Siswi paling bodoh di kelas. Kami semakin menganggapnya remeh.”, jelas Suster Pat jujur.
   “Aku masih mengingat satu hari… Hari itu Meg dikerjai habis-habisan oleh teman-teman. Sampai Suster Renny menumpahkan whyne ke tubuh Meg. Dan akhirnya, Jiro lah yang membawanya pulang dan selalu melindunginya. Makanya, kupikir… Dia itu sangat sayang dengan kakaknya. Karena kematian kakaknya empat tahun lalu dia langsung berpikir untuk membalas dendam... Mungkin begitu…”, lanjutnya. Aku mengangguk-angguk mengerti. Kemarin, aku baru tahu dan melihat langsung data kematian Jiro, mantan kekasihku. Kupikir dia masih hidup dan ada di suatu tempat. Ternyata dia sudah lama meninggal. Yaitu, hari dimana kami berpisah. Ia kecelakaan di depan rumah sakit setelah aku memutuskan berpisah dengannya. Sampai di rumah sakit dia dioperasi, tapi gagal, dan akhirnya meninggal.
   “Eh, tunggu…! Diary? Sepertinya aku tahu dimana ia meletakkan diary-diary-nya! Ayo!”, ajak dokter Aaron.



.TO BE CONTINUED++++++++>>>>>


Tidak ada komentar:

Posting Komentar