Sabtu, 16 April 2011

Hospital Emergency... Part 3

  Kulipat lagi surat itu seperti semula dan kuletakkan di saku pakaianku. Kulemparkan pandanganku ke arah monitor alarm. Rupanya Meg tak menyadari itu karena terlalu serius dengan pekerjaannya di komputer. Bagan kamar nomor 102 berkedap-kedip. Aku menyegerakan langkahku ke sana.
  “Permisi…”, salamku ketika aku memasuki ruang VIP itu. Seorang wanita, dari data dia adalah pasien yang mengidap asma akut. Aku segera memberikan penanganan sementara untuknya. Berikutnya, kuhubungi dokter Aaron karena tertulis di data bahwa yang menangani pasien ini adalah dokter Aaron.
  “Dokter, pasien di kamar 102.”, ucapku.

  “Baik, aku akan segera kesana. Berikan oksigen penolongan. Kau tetaplah disana.”, jawabnya dari seberang. Hebat… Aku belum menyampaikan apa penyakit pasien ini dia malah sudah tahu. Setelah itu dengan sigap kuberikan oksigen penolongan pada pasien itu. Asmanya tak kunjung reda. Setelah beberapa lama, akhirnya dokter Aaron tiba juga. Sejuta kelegaan membasahi hatiku.
  “Suster, tolong berikan suntikan itu.”, pinta dokter Aaron. Tanpa ada jawaban dari mulutku aku segera mengambilkan suntikan yang dimaksud. Dengan sigap dokter Aaron menangani wanita itu. Perlahan tapi pasti, wanita itu mulai tenang.
  “Pasien ini harus dilakukan pemeriksaan X-Ray lagi.”, ucap dokter Aaron.
  “Sepertinya bukan pada paru-parunya, tapi pada jantungnya. Mungkin, komplikasi.”, ucap dokter Aaron. Aku mengangguk mengerti.
  “Bagaimana keadaan putri saya, dok?”, tanya seorang wanita yang agak tua yang sedari tadi melihat kami bekerja.
  “Kemungkinan ada komplikasi, yaitu di paru-paru dan jantungnya. Untuk lebih pasti, sebaiknya diadakan pemeriksaan X-Ray.”, ucap dokter Aaron menjelaskan.
  “Baik, dok. Lakukan apa saja. Asalkan putriku bisa sembuh, lakukan saja.”, ucap wanita itu. Air mata dan peluhnya bercampur. Ia sangat tegang.
  “Kami akan berusaha, permisi.”, pamit dokter Aaron.
  “Nyonya, tabahkan hatimu. Putrimu pasti akan sembuh.”, ucapku pada wanita itu.
  “Terima kasih, suster.”, ucapnya.
  “Permisi…”, salamku.
Bekerja di sebuah rumah sakit seperti yang kulakukan ini, bukan hanya tekanan fisik, tapi mental pun iya. Rumah sakit yang sangat besar ini, tak pernah sepi pasien. Pelayanannya yang cukup baik, membuat masyarakat cukup puas. Tapi, aku merasa… Ada yang aneh dengan rumah sakit ini. Aku merasa ada sesuatu yang pernah terjadi disini… Mungkin, bukan hanya aku yang mengalami tekanan mental bekerja di rumah sakit ini, tapi Meg, dan dokter Aaron pun iya. Tapi, kami… Seolah ikut menutupi ini semua…
******
  Malam ini bulan hampir tak terlihat karena berselimut awan hitam yang begitu pekat. Suasana malam yang sunyi seperti biasa di rumah sakit ini terus membuatku sedikit berperasaan tidak enak. Aku yang terus berjalan di lorong sembari mendorong meja obat merasakan dinginnya AC di lorong ini menusuk tiap rusuk dan tulang belakangku. Membuatnya terasa sedikit nyeri dan bulu kudukku berdiri.
  “Suster Lyena…”, kudengar suara bisikan seseorang dari belakang. Aku menoleh cepat. Tak ada siapapun di lorong. Aku mempercepat langkahku.
  “Aaaaarrghh!!”, kudengar sebuah teriakan dari ruangan dokter disana. Aku meninggalkan meja obat itu di samping dinding dan menghampiri ruangan yang tak jauh dari tempatku berdiri tersebut. Seketika mataku membulat begitu kulihat dokter Anthony terkapar dengan darah mengalir dari perutnya yang tercabik-cabik kasar bagaikan dirobek oleh benda yang sangat tajam. Peluh dingin membasahi tubuhku. Aku amat terkejut melihat tubuh yang telah terkapar lemah itu.
  “Suster Lyena…”, ucapnya lemah. Jemarinya berusaha menggapaiku, tapi aku memundurkan langkahku yang gemetar. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang ada di hadapanku ini. Dokter Anthony sekuat tenaga mencoba meraihku dengan posisi terseret-seret. Darah terus mengalir dari perutnya dan mengotori keramik putih bersih  di bawah tubuhnya. Tiba-tiba hak sepatuku menabrak sesuatu dan aku terduduk di lantai.
  “Suster… Lye… Na…”, ia masih terus menyeret-nyeret tubuhnya yang lemah mendekatiku. Aku memundurkan tubuhku dengan nafas masih tak beraturan. Kurasakan degup jantungku makin kuat. Oksigen serasa habis di telan waktu. Dadaku makin sesak, tak sanggup melihat hal itu, aku pun tak sadarkan diri.
******
  “Apa yang anda ketahui tentang hal ini?”, tanya seorang polisi ketika aku dibawa ke kantor polisi. Kasus ini telah dibuka. Aku masih terdiam. Lidahku serasa kelu tak dapat mengeluarkan suara.
  “Suster, anda adalah satu-satunya saksi kunci pembunuhan ini. Apa anda tidak ingin membantu kami?”, ucapnya lagi.
  “A…ku…”, akhirnya aku berbicara meski sangat lirih.
  “Aku akan mendengarmu. Katakan saja apa yang kau ketahui.”, ucapnya.
  “A…ku…”, belum selesai aku berbicara, pikiranku kembali melayang pada peristiwa beberapa hari yang lalu itu. Gumpalan cairan merah pekat yang terus terngiang di kepalaku itu membuat kepalaku sakit. Sosok dokter Anthony yang berusaha meraihku pun terus merajam dadaku. Membuat diriku begitu sakit akhir-akhir ini.
  “Arrgghh….! Arrghh…! Aaaaaarrggghhhh!!!!”, aku menekan-nekan kepalaku yang terus berdenyut sambil berteriak kesakitan. Kepalaku terasa sangat sakit.
Beberapa polisi mengerumuniku dan menanyakan kondisiku. Aku hanya terus menekan kepalaku kuat masih kesakitan. Hal itu benar-benar menorehkan terror dalam pikiranku. Apalagi bisikan-bisikan misterius itu… Pasti dia pembunuhnya… Pasti…! Akh!
******
  “Lyena… Kau baik-baik saja?”, aku mulai membuka mataku perlahan. Kulihat ruangan serba putih di sekelilingku. Kepalaku masih terasa nyeri. Buliran air mata Meg membasahi pipinya yang kemerahan. Ia menggenggam tanganku erat.
  “Meg…”, gumamku.
  “Kalau tidak mampu mengatakannya, maka jangan katakan. Kau membuat dirimu tersiksa seperti ini, Lyena… Aku benar-benar sedih melihatmu…”, Meg masih menangis di samping ranjangku.
  “Aku… Tidak tahu. Tapi, aku mendengar… suara bisikan memanggil…ku… Mungkin… Dia yang membunuh dokter Anthony… Dia berbisik memanggilku, Meg…”, air mataku mengalir perlahan jatuh ke atas bantal.
  “Bisikan? Kau tahu siapa dia?”, tanya Meg memburuku. Aku menggeleng.
Pengirim surat misterius itukah? Apakah dia? Tapi… Apakah dia memang Jiro? Apakah Jiro kembali untuk membalas dendam?
  “Meg… Aku takut…”, aku menggenggam tangan Meg.
  “Aku akan selalu menemanimu, Lyena.”, jawabnya.




.TO BE CONTINUED++++++++>>>>>



.Yuhuuu… TBC!!
.jgn lupa COMMENT yak!^^
.siapapun halal mengoment n sangat d anjurkan!
.mpe jmpa next part!!!^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar