++++Chun POV++++
Aku membuka satu persatu surat-surat misterius yang telah mengganggu Lyena itu. Kubaca pelan-pelan dan kucerna baik-baik. Semua tulisan yang ada di dalamnya bertinta merah pekat. Surat pertama…
Kepada : Suster Lyena
Saat kau temukan surat ini… Mungkin aku sudah pergi. Kau pasti mencariku, kan? Suster Lyena… Ini surat pertamaku. Jadi, cerna ini baik-baik. “Aku telah kembali”
_________________________________
Kemudian surat kedua…
_________________________________
Kepada : Suster Lyena
Ini surat keduaku. Aku masih ingin mengatakan padamu. “Aku telah kembali”. Aku akan membalas apa yang telah kau lakukan dulu. Bersama rumah sakit tempatmu berlindung itu… Aku akan membalas kalian semua. Semua yang kalian lakukan. Ingat itu, Suster Lyena!
_________________________________
Surat ketiga…
_________________________________
Kepada : Suster Lyena
Ini surat ketiga… Surat yang menandakan bahwa perang telah dimulai. Bagaimana ekspresimu saat melihatnya tewas di depanmu? Menarik bukan? Untuk yang berikutnya… Bersiaplah… Suster Lyena…
________________________________
Surat keempat…
________________________________
Kepada : Suster Lyena
Surat keempat akhirnya tiba… Bersiaplah Suster Lyena… Jangan sampai kau salah bertindak… Kalau tidak, maka sebuah tragedi rumah sakit akan kembali menjumpaimu…
________________________________
Surat kelima…
________________________________
Kepada : Suster Lyena
Astaga… Rumah sakit terdesak ya? Hmm… Surat kelima ini akan menambah ketegangan rumah sakit, Suster… Aku berharap… Rumah sakit sialan itu segera tutup ya...!
________________________________
Surat keenam…
________________________________
Kepada : Suster Lyena
Satu, dua, tiga, empat… Mereka tewas dengan apik… Sesuai dengan keinginanku. Dan selalu kau saksi pertama tewasnya dokter-dokter itu… Hmm… Lain kali… Berhati-hatilah dengan bisikan itu, Suster…
________________________________
Surat ketujuh…
________________________________
Kepada : Suster Lyena
Sudah kubilang hati-hati kan, Suster? Tapi, kau masih tetap menghiraukannya… Sebenarnya, kau tak menghiraukannya pun mereka tetap akan mati. Karena akulah dewa kematian mereka semua…
________________________________
Dan surat terakhir….
________________________________
Kepada : Suster Lyena
Ini adalah surat kedelapan dariku. Bagaimana, Suster Lyena? Apakah permainanku menarik? Ah, pasti sangat menarik, kan? Apakah kau kira sudah cukup dengan keenam dokter sialan itu? Tentu tidak. Masih ada beberapa lagi. Kau tinggal menunggu saja dengan tenang. Setiap satu surat yang kau baca, maka satu luka akan hadir dalam hidupmu. Hingga saatnya nanti… Kau yang akan menutup semua peristiwa ini…
________________________________
Ini benar-benar mengerikan! Ini pasti pengirim yang sama. Tulisannya sangat baik… Dia cocok menjadi penulis cerita horror. Lyena bilang dia laki-laki… Kalau pun begitu… Pastilah orang yang sangat dekat dengannya… Tapi, siapa?
++++Lyena POV++++
Hari ini aku di rumah saja. Aku tidak keluar untuk urusan apapun kecuali dengan Chun tadi pagi. Aku malah takut jika bisikan itu kembali merajam telingaku.
“Kakak, ada apa denganmu?”, tanya Jenny, adikku yang masih duduk di kelas empat SD.
“Hm?”, aku mendongakkan kepalaku yang semula tertunduk.
“Lihat, wajahmu begitu pucat. Apa kau sakit, Kak?”, tanyanya lembut. Aku tersenyum padanya. Tak mungkin aku mengatakan masalahku padanya yang masih polos itu.
“Lyena, seorang temanmu datang kemari.”, ucap Ibu.
“Teman? Siapa, Bu?”, tanyaku sembari bangkit dari kursi.
“Tidak tahu. Kau temuilah.”, ucap Ibu. Aku mengangguk dan segera menuju ruang tamu. Kulihat seorang pria tengah duduk manis di atas sofa tua di rumahku.
“Kau…”
“Ah, hallo, Suster Lyena.”, sapanya ramah.
“Dokter Aaron? Ada apa kau kemari?”, tanyaku sembari menghampirinya.
“Aku ingin melihat kondisimu. Kau sempat cuti, aku jadi khawatir.”, ucapnya sembari tersenyum ramah.
“Ah, aku baik-baik saja.”, jawabku. Ibu menghampiri kami dengan dua gelas kopi hangat lalu meninggalkan kopi itu di atas meja di hadapan kami.
“Silahkan.”, ucapku.
“Ah, iya. Terima kasih.”, ucapnya. Kami pun mengobrol basa-basi. Kemudian ia pamit pulang… Tiba-tiba aku teringat surat itu…
“Apakah kau kira sudah cukup dengan keenam dokter sialan itu? Tentu tidak. Masih ada beberapa lagi. Kau tinggal menunggu saja dengan tenang…”
Lalu ucapan Chun…
“Keanehan peristiwa ini… Kenapa hanya dokter-dokter itu yang meninggal. Padahal kau bilang kau pernah mendengarnya saat banyak pasien di sekitarmu, kan? Tapi, tak ada seorang pun pasien yang meninggal saat bisikan itu muncul.”
Tidak… Dokter Aaron… Dia tidak boleh menjadi korban pembunuh itu… Tidak boleh…
“Jangan pulang!”, sergahku.
“Apa?”, tanyanya bingung. Aku berlutut di hadapannya.
“Kumohon, jangan pulang, Dokter…”, ucapku. Aku sangat takut bahwa korban surat kedelapan itu adalah dokter Aaron yang baik ini.
“Kumohon…”, ucapku lagi. Ia membangkitkan tubuhku dan mendudukkanku di sofa.
“Ada apa?”, tanyanya lembut.
“Kau tidak akan percaya pada kata-kataku. Tapi, aku tidak mau kau mati.”, ucapku.
“Apa maksudmu? Aku akan mendengarnya.”, ucap dokter Aaron.
“Aku tidak bisa menjelaskannya padamu. Tapi, kumohon jangan pulang… Kumohon.”, ucapku.
“Baiklah. Aku akan menginap disini.”, ucapnya.
“Terima kasih. Ada kamar tamu di atas. Kau istirahatlah disana.”, ucapku. Ia mengangguk mengerti.
Aku tidak mau… Dokter Aaron mati… Tidak mau…
.TO BE CONTINUED++++++++>>>>>
.yuk, COMMENT!!!
.mpe jmpa next part!!!^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar