Malam ini Ibu menyuruhku membeli mi ramen di kedai biasa aku membelinya. Karena letaknya tak cukup jauh dari rumah, aku menjangkaunya dengan berjalan kaki.
“Paman, mi ramen empat ya!”, pesanku.
“Disuruh Ibu?”, tanyanya.
“Hm.”, jawabku singkat.
Selepas itu, tak ada pembicaraan dari kami sampai akhirnya aku pulang bersama keempat bungkus ramen itu. Angin malam yang jarang kurasakan, malam ini membelai rambut dan rok ungu yang kupakai. Membuatnya berkibar-kibar bagaikan bendera negara. Kurapatkan jaket yang kukenakan karena udara semakin berhembus kencang. Tiba-tiba…
“Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau membunuh dokter-dokter di rumah sakit? Apa kau juga berniat membunuhku?”, aku berjalan ke arah yang berlawanan dengan rumahku. Aku mencoba mencarinya meski dengan langkah ragu.
BRUGH!! Kudengar sebuah suara keras di dekat tiang listrik. Samar-samar di kegelapan malam, kulihat seorang pria bertopi berlari sampi tersandung-sandung. Ia menabrak tong sampah yang ada di dekat tiang listrik.
“Tunggu!! Tuan!! Tunggu!!”, panggilku sembari mengejarnya. Tak kutemukan jejaknya. Kualihkan pandanganku pada ruang sekitarku. Deretan bambu yang sangat tinggi ada di kanan kiriku. Bambu itu berderik bersahut-sahutan tertiup angin malam.
“Apa ini hutan bambu?”, pikirku. Aku terus mengikuti jalan setapak yang sekarang aku lalui ini. Perlahan kulihat semburat cahaya putih yang semakin terang. Semakin kudekati semakin terang. Eh, ini kan… Halaman belakang rumahku?! Jangan-jangan dokter Aaron… Aku segera berlari memasuki rumahku. Kucari dokter Aaron di kamarnya. Ia tidak ada.
“Jenny, kau tahu dimana dokter Aaron?”, tanyaku terengah-engah. Aku ketakutan.
“Dia ada di teras.”, jawab Jenny. Aku segera menuju teras dengan cepat. Aku begitu lega saat melihat dokter Aaron masih duduk manis di teras dalam keadaan hidup.
“Ada apa?”, tanyanya sembari bangkit dari tempat duduknya.
“Ah, tidak apa-apa. Syukurlah… Dokter, jangan di luar… Sekarang dingin, masuklah.”, ucapku.
“Hm.”, ia mengangguk.
******
“Ini adalah Kakak waktu usia tiga tahun! Lihat, dia masih mengompol!”, ucap Jenny memamerkan foto memalukan milikku pada dokter Aaron sambil tertawa.
“Aih, Jenny! Kau ini!”, aku mengambil foto itu dari tangan Jenny.
“Ahahaha! Kau lucu sekali, Suster…”, ucap dokter Aaron sambil ikutan tertawa.
“Aku juga ada foto lucu. Lihat, ini aku dan Meg ketika berlibur ke Bali. Meg sangat lucu sekali berposenya. Hahaha.”, dokter Aaron menunjukkan sebuah foto di dalam gallery ponselnya.
“Eh? Ini…”, aku bukannya tertawa, tapi pandanganku tertuju pada topi yang dikenakan dokter Aaron.
“Itu topi pemberian ayahku. Mungkin sekarang sudah lusuh dimakan waktu. Aku tidak menggunakannya lagi sejak ayahku meninggal.”, ucapnya. Topi itu sama persis dengan yang digunakan pria tadi. Apa mungkin dia… Aku memandang dokter Aaron tajam.
“Eh, kenapa kau melihatku begitu, Suster?”, tanyanya.
“Ah, tidak apa.”, aku mengelak.
Selain itu… Anehnya, dokter Aaron tidak meninggal saat bisikan itu muncul. Dia terlihat segar bugar tanpa kurang satu apapun. Apa sungguh bukan dia? Atau sungguhkah dia orang itu? Astaga… Ini benar-benar suatu kebetulan yang mengerikan.
******
Pagi-pagi sekali dokter Aaron mengajakku berangkat bersama ke rumah sakit. Aku sedikit ragu dengan ajakannya setelah peristiwa kemarin… Tapi, akhirnya aku menurutinya.
“Hari ini kau tampak tegang. Ada apa?”, tanyanya.
“Ah, begitu, kah? Aku merasa biasa saja.”, ucapku sambil tersenyum penuh keraguan.
“Pagi, Meg!”, sapaku pada Meg yang tengah membereskan obat-obat.
“Pagi, Lyena!”, ia tersenyum padaku.
“Aaron!”, sapa Meg pada dokter Aaron.
“Kau kemana saja kemarin? Kau tidak pulang! Apa kau ada kencan?”, tanya Meg pada dokter Aaron dengan keras.
“Hei, bisakah kau memanggilku dengan panggilan dokter? Ini di rumah sakit.”, bisik dokter Aaron, tapi aku mendengarnya.
“Suaramu kencang sekali.”, lanjutnya.
“Ah, sudahlah. Kau kemana saja kemarin?”, tanya Meg. Dokter Aaron membisikkan sesuatu pada Meg.
“Menginap di rumah Lyena?!”, ucap Meg keras. Kulihat dokter Aaron membungkam mulut Meg dan membisikkan sesuatu. Aku hanya terkekeh kecil ketika kulihat wajah dokter Aaron memerah bagaikan apel.
“Lyena, Aaron menginap di rumahmu?”, tanya Meg ketika mereka usai berbicara.
“Hm. Aku takut pembunuh misterius itu membunuhnya jika tahu bahwa dokter ada di rumahku. Apalagi kemarin si misterius itu membisikkan namaku lagi. Aku semakin kalut, Meg. Makanya, aku tidak mau dia dibunuh seusai pulang dari rumahku.”, ucapku. Meg mengangguk mengerti.
“Ah, kalau begitu aku pergi dulu ya Lyena!”, ia mendorong meja obat dan membawanya pergi.
******
“Lyena!! Lyena!!”, seru Meg dari kejauhan. Ia terengah-engah karena berlari.
“Ada apa, Meg?”, tanyaku jadi panik ketika melihat wajah Meg yang ketakutan.
“Suster Renny! Dia mati mengenaskan, Lyena!”, seru Meg membuatku terkejut. Aku dan Meg segera berlari ke tempat kejadian. Kulihat Suster Renny terkapar dengan kepala terpisah dari tubuhnya. Aroma darah bercampur whyne dan minyak gas tercium oleh indra penciumanku. Aku nyaris muntah dibuatnya. Aku menjauh dari mayat seorang temanku itu.
“Apa yang terjadi, Meg? Kenapa dia bisa jadi seperti itu?”, tanyaku pada Meg.
“Aku tidak tahu, Lyena… Aku takut… Bagaimana jika yang membunuh si misterius itu..?”, Meg menangis sambil merangkulku erat.
“Bagaimana jika sekarang yang dicarinya adalah suster-suster? Aku tidak mau mati, Lyena…”, tangis Meg. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada secarik kertas yang ada digenggaman mayat Suster Renny. Aku melepaskan pelukan Meg dan mencoba meraih kertas itu. Kubuka dan kubaca isinya…
________________________________
Kepada : Suster Lyena
Surat kesembilan ini kukirimkan dengan cara yang sangat istimewa, bukan, Suster Lyena? Bagaimana mayat hasil karyaku yang satu ini? Berbeda dari yang lain, kan? Sepertinya aku cocok sebagai seniman. Tunggulah karya-karyaku yang berikutnya, Suster Lyena…
________________________________
.TO BE CONTINUED++++++++>>>>>
.comment^^
.okka, mpe jmpa next part!!!^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar