++++Author POV++++
“Oh ya, ada apa kau kemari, Chun?”
“Aku…”, Chun segera menenggelamkan cincin itu kedalam saku jaketnya. Ia urungkan niatnya untuk menyatakan perasaannya pada gadis yang ia cintai yang telah berdiri di hadapannya tersebut.
“Aku ingin check kesehatan.”, ucap Chun berbohong, tapi dengan senyum manisnya yang mengembang.
“Check kesehatan pada dokter…”, kalimat Suster Lyena mengambang.
“Dokter Aaron!”, ucap Chun.
“Kudengar dia dokter umum terbaik disini.”, lanjutnya.
“Oh, baiklah. Sampai jumpa, Chun.”, Lyena bergegas meninggalkan Chun begitu ia melihat Suster Pat yang memanggilnya. Chun hanya mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan dokter Aaron. Cklek! Suara itu mengejutkan dokter Aaron.
“Pasien?”, tanya dokter Aaron.
“Hm.”, Chun mengangguk.
“Aku ingin check kesehatan. Akhir-akhir ini aku jarang check kesehatan.”, ucap Chun.
“Ah, silahkan duduk.”, ucap dokter Aaron mempersilahkan. Chun menurutinya dan duduk di salah satu kursi di ruangan itu. Dokter Aaron mulai mempersiapkan alat-alatnya.
“Apa yang kau rasakan?”, tanya dokter Aaron sambil meletakkan stethoscope di dada Chun.
“Sakit.”
“Apa?”, tanya dokter Aaron mengulang.
“Ah, maaf.”, ucap Chun.
“Kau ada masalah akhir-akhir ini?”, tanya dokter Aaron lagi.
“Kau pernah patah hati, dok?”, tanya Chun balik. Dokter Aaron menelisik manik mata hitam itu dalam-dalam.
“Tentu.”, jawab dokter Aaron akhirnya. Chun hanya tersenyum simpul mendengar jawaban dokter Aaron tersebut.
“Kau sedang patah hati?”, dokter Aaron sambil terus menekan alat check tensi darah itu.
“Begitulah.”, jawab Chun singkat.
“Sepertinya kau pernah punya penyakit jantung… Benar tidak?”, tanya dokter Aaron. Chun mengangguk.
“Aku akan menuliskan resep untukmu atas pemeriksaan hari ini. Masih ada harapan untuk terus hidup. Jangan menyerah atas hal apapun juga. Lawan penyakit mematikanmu ini.”, ucap dokter Aaron sambil menepuk pundak Chun.
“Aku tahu.”, jawab Chun sambil menyeringai kecil.
******
Langit kemerahan mulai berubah menjadi langit hitam. Matahari mulai membenamkan wajahnya dan mempersilahkan bulan untuk memantulkan cahayanya. Di dapur rumah sakit, pembunuh misterius itu memulai aksinya kembali. Ia menyeringai begitu melihat sang calon korban telah berada di depannya. Ia mengambil sebuah pisau dapur.
“Mana yang paling tajam?”, tanya sang pembunuh itu.
“Eh, kau? Hahaha. Yang paling tajam tentu saja yang telah diasah. Lihat yang ada di ujung itu. Kurasa itu yang paling tajam. Memangnya kau mau apa dengan itu?”, tanya sang korban tanpa rasa curiga sedikit pun.
“Aku ingin…”, ia sengaja menggantungkan ucapannya sembari berjalan ke arah sang korban yang sibuk mencicipi masakan.
“Membunuhmu.”, mata pembunuh itu kian membulat bersamaan dengan ditatapnya mata sang korban lekat-lekat. Sedetik kemudian pisau itu sudah mendarat cepat di leher sang korban hingga menembus ke bagian belakangnya. Belum puas dengan aksinya, ia melanjutkannya dengan mencabut hunusan pisau itu. Darah segar memancar membasahi sang pembunuh tersebut. Ia kembali mendaratkan pisau itu, kali ini di dada korban. Ia terus menusuki tubuh itu ganas dengan pisau yang telah berlumuran darah. Ia pisahkan kepala korban dengan tubuhnya. Ia bagi tubuh korban itu menjadi dua. Semangat psychopatnya kian mengalir. Rasa dendam terus berkobar di seluruh tubuhnya, membuatnya selalu tak puas dengan sekali hunusan di setiap tubuh korban. Sang pembunuh itu menangis meraung-raung kemudian di susul tawanya yang membahana. Ia bagaikan orang gila.
++++Lyena POV++++
Malam ini aku mengajak Meg membongkar kedok si misterius itu. Kulangkahkan kakiku perlahan memasuki dapur rumah sakit. Meg terus mengekor di belakangku. Dengan was-was kuberanikan diriku memasuki ruangan itu. Aroma darah membuatku nyaris muntah. Apakah ini darah ikan?! Baunya amat menyengat dan amis. Tiba-tiba kujumpai sesosok pria sedang berdiri memegang pisau yang telah berlumuran darah. Celana putihnya bersimbah darah segar. Sepertinya… Aku mengenalinya…
“Siapa kau?”, tanyaku. Ia terkejut, menjatuhkan pisau di genggamannya. Ia segera menoleh.
“CHUN?!”, seruku dan Meg hampir bersamaan. Aku begitu terkejut melihat Chun dalam keadaan seperti itu. Apalagi… Apalagi… Chef Herd, kepala dapur di rumah sakit ini telah meninggal dengan keadaan yang amat tak layak. Tak berbentuk manusia sama sekali selain kepalanya yang terpisah tepat di samping jasadnya. Chun mendekatiku perlahan.
“Lyena…”, ia mendekat padaku.
“Apa yang kau lakukan, Chun? Kau… Membunuh Chef Herd?”, ucapku sembari terus mundur.
“Jadi, kau pelakunya? Kau yang menerorku selama ini?”, lanjutku. Aku merasakan sesuatu yang perih di dadaku. Chun… Menghianatiku? Dia membunuh semua dokter-dokter itu? Air mataku menetes, seolah tak percaya dengan apa yang kulihat.
“Lyena, percayalah padaku. Bukan aku yang melakukannya. Percayalah…”, ucap Chun.
“Kau jahat, Chun!”, teriakku lalu pergi keluar sembari menarik Meg.
“Lyena… Mungkin saja Chun benar…”, ucap Meg.
“Aku tidak mau percaya padanya lagi! Dia psychopat!”, seruku. Meg diam, tampak keterkejutan dalam wajahnya yang jelita itu.
.TO BE CONTINUED++++++++>>>>>
.GMana neeh?
.Comment yah…^^
.mpe jmpa next part!^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar