Sabtu, 16 April 2011

Hospital Emergency... Part 7

++++Author POV++++

  “Hahaha…! Dia tidak pantas sekolah disini! Dia itu jelek dan bodoh! Mana pantas orang sepertinya berdiri di antara kita?”, ucap seorang siswi dengan tawanya yang membahana diikuti teman-teman yang lainnya. Sementara diantara mereka berdiri seorang gadis buruk rupa, berambut hitam panjang bagaikan hantu yang tak pernah diterima dan ditakuti oleh mereka. Gadis itu terduduk dan meraung-raung, ia rasakan kepalanya berdenyut kuat. Dirinya sudah diambang kesabarannya, tapi dia tahu bahwa dia memang bukanlah siapa-siapa. Ia menangis dengan ungkapan dan perlakuan teman-temannya itu padanya.

  “Hahaha, dia tak pantas disebut sebagai manusia! Dia itu iblis! Lihat saja cara berdandannya yang seperti itu… Rambut hitam legam bagaikan hantu… Hahaha!”, suara mereka bergema di koridor sekolah.
  “Arrrghhh…!! Aarrrghh!!!”, ia makin merasakan sakit di kepalanya. Ia terus menekan-nekan puncak kepalanya dengan kedua tangannya. Pipinya berbasah oleh air matanya yang berlinang. Terdengar amat pilu. Gadis yang mengoloknya tadi menumpahkan whyne pada kepala gadis itu sampai whyne itu habis tak berbekas pada botolnya. Mereka bagaikan sedang bermain-main dengan boneka. Mereka memang selalu memperlakukan gadis itu begitu. Tiba-tiba seorang pria melangkahkan kakinya masuk ke koridor. Seorang pria keren yang 180 derajat berbeda  dengan gadis di hadapannya itu. Mereka bagaikan langit dan bumi.
  “Hei, apa yang kalian lakukan?!”, teriaknya keras. Suasana tiba-tiba sunyi akibat suara menggelegar itu. Gadis itu masih menangis dan menggigil. Sementara pria itu terus mendekat padanya.
  “Jiro…”, ucap gadis itu saat sadar siapa yang ada di hadapannya itu. Dituntunnya gadis  malang itu berjalan di sisinya.
  “Aku akan selalu melindungimu… Jangan takut…”, ucap pria itu.
Sejak saat itu, gadis yang malang itu bertekad untuk terus membuat pria itu bahagia… Ia berjanji dalam dirinya sendiri. Kejadian itu sudah berlalu 11 tahun yang lalu dimana dirinya masih begitu labil.
  “Hmm… Jiro… Aku akan terus berusaha demi kau… Aku tidak akan mengecewakanmu.”, ucap gadis itu sambil tersenyum.



++++Lyena POV++++

  “Dimana Suster Meg? Biasanya kau sudah bersamanya.”, ucap Suster Pat ketika kami berdua sedang duduk di kantin menghabiskan waktu makan siang.
  “Emm… Dia bilang dia makan di luar. Jadi, dia tidak ikut bersamaku.”, jawabku kemudian memakan roti di genggamanku.
Selesai makan siang, aku segera menuju ke ruangan dokter Aaron. Dia bilang ingin membicarakan sesuatu padaku. Cklek! Kubuka pintu ruangannya sambil mengucap permisi dan segera masuk. Ia tampak sedang sibuk dengan data-data pasien di genggamannya. Begitu melihatku datang, ia melepas kacamata minusnya dan meletakkannya di meja.
  “Silahkan.”, ia menyuruhku duduk di sofa dalam ruangan itu. Aku hanya mengangguk dan segera duduk.
  “Suster Lyena… Emm… Ada yang ingin kubicarakan.”, ucap dokter Aaron terbata-bata. Aku berusaha mencerna kalimatnya.
  “Sebenarnya… Aku… Aku…”, peluh dingin membasahi keningnya dan dengan cepat ia membersihkannya dengan sapu tangan.
  “Aku sudah lama menyukaimu. Maukah kau menikah denganku?”, ucapnya sembari menodongkan sebuah cincin padaku.
  “Dokter, kau… Sungguh?”, tanyaku ragu. Aku memang sedikit menyimpan perasaan pada dokter Aaron. Ia mengangguk. Aku berdiri dari tempatku semula.
  “Ibuku selalu mendesakku untuk menikah. Usiaku pun sudah semakin bertambah. Aku sadar. Tapi, aku bilang padanya bahwa aku belum ingin menikah. Tapi, sekarang kau mengajukannya padaku. Kurasa ini tidak buruk. Karena aku… Juga mempunyai rasa yang sama sepertimu.”, ucapku.
  “Sungguh?”, dokter Aaron ikut berdiri. Ditatapnya aku dengan mata berbinar-binar. Aku hanya mengangguk. Spontan ia memelukku.
  “Aku akan berusaha membahagiakanmu.”, ucapnya. Aku tersenyum.
******
  Kulihat sebuah amplop tengah bertengger di atas lantai di depan ruangan dokter Aaron. Pasti ini surat orang itu… Meski orang yang kucurigai itu dokter Aaron, tapi aku yakin bahwa bukan dia pelakunya.
________________________________
Kepada : Suster Lyena

Suster Lyena… Nanti malam… Datanglah ke dapur rumah sakit… Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Terserah kau mau datang atau tidak, yang pasti aku sudah mengatakannya. Jangan sampai terlambat bertindak, Suster…
________________________________
Dapur rumah sakit? Nanti malam? Mungkin… Inilah kesempatanku untuk mengungkapkan siapa si misterius itu yang sebenarnya. Aku akan membongkar kedoknya. BUGH!
  “Ah, maaf.”, ucapku ketika menabrak seseorang.
  “Chun?”, aku terkejut melihat pria di hadapanku itu.
  “Ah, Chun, bisa kita bicara?”, tanyaku. Chun hanya mengangguk.
  “Ini surat-surat itu. Apa ada lagi?”, tanya Chun. Aku mengangguk dan menyerahkan surat itu pada Chun.
  “Ada apa?”, tanya Chun sambil membaca surat-surat itu.
  “Malam ini kau ikutlah denganku ke dapur rumah sakit.”, ucapku.
  “Dapur rumah sakit? Untuk apa kesana?”, tanya Chun.
  “Baca surat ke sepuluh itu.”, ucapku. Ia membaca surat itu. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
  “Aku ingin tahu siapa dia. Aku ingin melihatnya.”, lanjutku.
  “Berarti kita harus stay di rumah sakit sampai nanti malam?”, tanya Chun.
  “Kenapa?”, tanyaku.
  “Sebenarnya aku ada meeting dengan client-ku nanti malam.”, jawabnya.
  “Oh, begitu… Emm… Kalau begitu sepulang meeting kau kemarilah. Aku akan mengajak Meg atau dokter Aaron saja.”, ucapku.
  “Dokter Aaron?”, tanya Chun.
  “Dia kekasihku.”, semburat kemerahan pasti sudah nampak di wajahku. Aku menundukkan kepala.
  “Oh…”, komentarnya datar.
  “Baiklah. Sesegera mungkin aku kemari.”, ucap Chun.
  “Oh ya, ada apa kau kemari, Chun?”
  “Aku…”




.TO BE CONTINUED+++++++>>>>>



.Hehehe….
.Aioo comment!!!
.mpe jmpa next part!!^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar