Title : My Boyfriend is a Gay?! O.O
Author : Dita d’Chapbi ‘cHun’ Meii
Type : Oneshot
Genre : Romance
Rating : PG+15
Music : Trouble is a Friend by Lenka
POV : Himitsu Meiko
Main Cast :
#Himitsu Meiko (OC)
#Arioka Daiki
#Yamada Ryosuke
Disclaimer : Daiki, Yama, dan Meiko-chan adalah milik Tuhan. Sedangkan seluruh setting disini adalah murni milik author. So, no bashing. Mau bash? Silahkan, author gak peduli dengan bash-bash an macam apapun.
Warning : gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~
“Meiko-chan, tadaima! (aku datang)” kudengar suara tak begitu asing menelusup ke telingaku. Ya, itu Yama-chan—Yamada Ryosuke, teman sebangkuku. Seperti biasanya, ia datang lebih siang dariku, menyapa sambil memperlihatkan sederet gigi rapinya, kemudian bergegas duduk di bangkunya, tepat di sampingku. Hari ini tentunya aku lebih malas dari pada hari biasanya. Bagaimana tidak? Peristiwa kemarin seolah terus-menerus mengusik batinku. Bahkan antara percaya dan tidak percaya pun sulit untuk dipastikan.
“Eh, doushita no? (ada apa?)” tanyanya yang melihatku menggeser sedikit bangkuku, memberi jarak dari bangkunya yang biasanya merapat denganku.
“Ah, iie… (tidak) Daijoubu… (tidak apa)” jawabku ragu-ragu. Rasanya, melihat wajah pria kekar disampingku ini malas sekali. Kusso! (sialan!) Kenapa aku harus sebangku dengannya, sih?
“Meiko-chan, kau baik-baik saja?” tanyanya mengagetkanku dari lamunan batinku. Wajahnya semakin dekat dan semakin dekat dengan wajahku. Ia menatapku penuh selidik.
“Kyaaa~!!”
.
.
PLAK!
.
“Oops…” gumamku. Baru saja, tanganku melayang ke wajah Yamada—tanpa sengaja. Dan hal itu sukses membuat salah satu pipi Yamada menjadi merah.
“Go…men… (ma…af…)” ucapku lalu cepat-cepat keluar dari kelas sebelum Yamada benar-benar marah padaku. Kusso! (sialan!) Kenapa jadi begini?! Huh!
“Meiko-chan—tebak siapa aku!” ucap sebuah suara dari arah belakang sambil dengan cepat menutup mataku.
“Dai-chan, aku sedang tidak ingin bercanda hari ini!” aku memberontak.
“Nande?” tanya Daiki usai melepaskan tangannya dari wajahku.
“Iie (tidak),” jawabku singkat.
“Pasti ada sesuatu, kan? Katakan!” ucap Daiki sambil memelukku dari belakang. Dasar pria ini kebiasaan—manja!
.
BUGH!
.
“Aw, ittai! (sakit!)” jerit Daiki tertahan. Pasti saat ini perutnya sedang nyut-nyutan akibat pukulanku barusan.
“Gomen (maaf), tapi kumohon biarkan aku sendirian! Aku sedang tidak mood hari ini!” bentakku lalu pergi dari hadapannya. Samar-samar kudengar suaranya.
“Dia mulai lagi dengan karatenya…”
Andai aku tidak tahu peristiwa itu… Andai aku tidak melihatnya… Andai aku tidak mendengarnya… Pasti aku tidak akan begini!
_____flashback_____
“Moshi-moshi (hallo), ah, Yama-chan. Ahh~ baiklah… Aku akan kesana secepatnya! Hm! Baik-baik!” hari itu nada bicara telepon Daiki sedikit berbeda dari biasanya. Ia lebih bersemangat, padahal yang meneleponnya hanyalah Yamada—sahabatnya.
“Dai-chan, doushita no? (ada apa?)” tanyaku. Kali itu aku dan dia sedang berkencan di taman.
“Ahh, daijoubu (tidak apa-apa). Aku harus pergi sekarang. Gomen (maaf), Meiko-chan…” ucap Daiki seraya berdiri dari duduknya.
“Chotto! (tunggu!) Kemarikan ponselmu,” ucapku sambil tangan kananku menengadah meminta ponsel yang sudah masuk ke dalam sakunya.
“Untuk?” tanya Daiki sambil menyerahkan ponsel birunya. Dengan sigap aku meraihnya. Kubuka daftar panggilan masuk dalam ponselnya. Panggilan terakhir. Yamada Ryosuke~ Pria itulah yang terakhir kali menelepon Daiki.
“Baiklah…” aku mengembalikan ponselnya ke genggaman Daiki.
“Cemburu ya?” goda Daiki sambil mendekatkan wajahnya padaku.
“Tidak!” dustaku sambil mengalihkan pandangan.
“Pergilah, lagipula itu hanya Yama-chan, kan?” lanjutku.
“Jangan marah! Lain kali kita akan menghabiskan waktu lebih lama, hm?” ucapnya sembari mengulurkan jari kelingkingnya. Aku berpikir sejenak.
“Hai’. (baik)” kurangkaikan kelingkingku dengan kelingkingnya.
Tapi, hari itu akhirnya tiba… Hari dimana aku melihat Daiki dan Yamada di rumah Yamada…
“Yama-chan, berhentilah bercanda!” seru Daiki yang kini tengah terkunci di antara kedua tangan Yamada di sudut dinding. Tak mau berprasangka buruk, aku ingin melihat apa duduk masalah sebenarnya.
“Demo, aku memang menyukaimu. Jadi, jangan pernah bilang lagi kalau aku bercanda!” ucap Yamada yang membuatku terbelalak seketika.
“Eh?”
“Jangan anggap perasaanku ini main-main…” lanjut Yamada tertunduk.
“Yama-chan… Aku… Juga menyukaimu…” ucap Daiki kemudian memeluk Yamada.
Aku yang terlalu shock dengan adegan mereka berdua barusan, batal bertamu ke rumah Yamada—meski sebenarnya sudah masuk tanpa izin, sih. Hal itulah yang terus menerus mengusik batinku. Huh!
_____end of flashback_____
“Himitsu-chan… Himitsu-chan… Daijoubu desu ka? (kau baik-baik saja?)” kudengar sebuah suara membuyarkan lamunanku. Ah, pria itu—Chinen Yuuri.
“Ah, daijoubu (tidak apa), Chinen-kun…” dustaku.
“Kau sedang bertengkar dengan Dai-chan, ya?” ucapnya to the point. Pria berparas super cantik di sekolah ini memang selalu tahu banyak hal. Termasuk tentang hubunganku dan Daiki. Wajar sekali. Dunia jelajahnya adalah internet dan segala hal yang berbau up to date. Lihat saja dandanannya hari ini! Begitu keren! Dia memang tahu apa itu fashion!
‘Ah! Tahu banyak hal?’ pikirku. Aku menimang-nimang kalimat yang sedang kususun saat ini. Aku berpikir, akankah aku bertanya padanya?
“Chinen-kun,” panggilku.
“Hm?” ia mulai mengayun-ayunkan ayunan yang sedang didudukinya. Sambil sebuah lollipop rasa strawberry itu dikulumnya, ia tampak serius menungguku bicara.
“Anoo… Kau tahu gay?” tanyaku. Ia menghentikan ayunannya lalu melepaskan lollipop strawberry itu dari mulutnya.
“Kenapa tiba-tiba kau tanya begitu?” tanya Chinen.
“Tidak apa, cuma ingin berbagi pikiran saja…” jawabku lalu mengayunkan ayunanku.
“Ahh~souka… Aku tahu. Memangnya kenapa?” tanya Chinen lagi.
“Menurutmu, kalau seandainya… Seandainya kau perempuan… Seandainya lho… (Cih, padahal dia memang seperti perempuan) Kalau pacarmu seorang gay, apa yang akan kau lakukan?” tanyaku.
“Hmm… Kalau pacarku gay, ya?” ia tampak berpikir keras.
“Aku akan putus darinya! Mudah, kan?” serunya sambil menunjukkan sederet gigi rapinya. Kecuali dua gigi mirip kelinci itu.
‘Baka! (bodoh)’ batinku merutukinya.
“Apa tidak ada cara lain selain putus? Kalau kalian sudah saling cinta, bukankah itu akan sangat sulit?” ucapku.
“Haaa~ benar juga. Bagaimana yaa…?” ia menatap ke langit. Mencoba memikirkan sesuatu.
“Ah, bagaimana kalau menyadarkannya?!” ucapnya.
“Eh? Menyadarkan? Contohnya?” tanyaku tak jelas.
“Begini, kalau seandainya Daiki itu gay—“
“Aku tidak bilang itu Daiki, baka! (bodoh)” amarahku sudah memuncak meladeni pria ini.
“Aku kan bilang seandainya, baka! (bodoh)” bentaknya balik. Ternyata dia keras juga. Aku diam dan kembali ke topik.
“Kalau seandainya dia gay, sebaiknya coba kau pastikan dulu, yang mana yang lebih dicintainya~ Itu sih kalau sudah pasti gay. Kalau baru dugaan sebaiknya diselidiki dulu…” ucap Chinen.
“Hmm… Bagaimana caranya?” tanyaku.
“Cari bukti-bukti yang kuat tentang hubungan mereka—pria dengan pria itu—Baru setelah itu kita bisa menentukan langkah selanjutnya! Mengerti tidak?” tanya Chinen.
“Hmm… Bukti ya? Apa ya?” aku berpikir sejenak.
“Ternyata memang Daiki, ya?” sahut Chinen.
.
BUGH!
.
“Ittai desu! (sakit!)” teriaknya.
“Chinen no baka! (Chinen bodoh)” teriakku usai memukulnya. Sebaiknya aku pergi sebelum dia bicara yang macam-macam.
*******************************************************************
“Himitsu-chan, ada apa denganmu? Kenapa kau membolos pelajaran?” tanya Daiki yang tiba-tiba menghadangku di halaman sekolah.
“Bagaimana kau tahu aku membolos?” tanyaku menyelidik.
“Tadi Yama-chan yang memberitahuku. Aku jadi khawatir tahu!” ucap Daiki lalu mengacak-acak rambutku.
“Yama-chan? Kenapa harus dia?!” kali ini nada bicaraku naik satu oktaf.
“Karena dia teman sebangkumu, bukan? Memangnya mau siapa lagi?” balas Daiki. Ia menang.
“Kenapa membolos, hm?” tanya Daiki sambil menggiringku ke bawah pohon yang cukup rindang. Aku hanya menurut dan duduk di bawahnya.
“Aku malas ikut pelajaran matematika… Bosan…” kutumpangkan daguku pada telapak tangan kiriku, sembari pandanganku terus menyisir pohon-pohon di hutan dekat sana.
“Ah, kau sendiri juga bolos, ya?” aku baru sadar usai menengok jam tanganku.
“Mencarimu…” jawabnya singkat.
“Eh?”
“Aku takut terjadi apa-apa… denganmu…” ucapnya tanpa memandangku. Nada suaranya begitu lembut, seperti biasanya. Daiki memang jarang sekali berkata kasar padaku—bahkan bisa dibilang tidak pernah. Ia sangat baik.
Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya. Bahunya yang begitu hangat… Dai-chan, aishiteru yo~ (aku mencintaimu).
***************************************************************
.
“Kalau seandainya dia gay, sebaiknya coba kau pastikan dulu, yang mana yang lebih dicintainya~ Itu sih kalau sudah pasti gay. Kalau baru dugaan sebaiknya diselidiki dulu…”
“Hmm… Bagaimana caranya?”
“Cari bukti-bukti yang kuat tentang hubungan mereka—pria dengan pria itu—Baru setelah itu kita bisa menentukan langkah selanjutnya! Mengerti tidak?”
.
Kurasa… Apa yang dikatakan ‘si cantik’ itu ada benarnya juga, sih… Harus cari bukti dulu… Tapi, apa? Aku melihat mereka tanpa ada rekaman ulang… Itu bukanlah bukti yang kuat. Lalu?
.
“Tomoni tomoni arui te ikou… Tomoni tomoni…”
.
‘Lagu itu! Itu ponsel Yama-chan!’ seruku dalam hati. Lagu Over sedari tadi terus mengusik telingaku. Apa aku akan dengan lancang mengambil ponselnya? Tapi, bagaimana jika nanti dia marah? Kan bisa gawat…
‘Ah, sudahlah! Aku kan hanya berniat baik! Lagipula sekalian kujalankan niatku!’ batinku. Kuraih ponsel Yamada dibalik saku jaket yang terselip di tas abu-abu miliknya.
“EHH?” kulihat nomor yang tertera pada layar ponsel itu. Itu nomor…
‘DAI-CHAN…!’
.
CKLEK!
.
Kubuka lipatan telepon berwarna merah menyala itu. Aku tak berbicara sama sekali sampai kudengar suara Daiki dari seberang sana.
“Moshi-moshi (hallo), Yama-chan…”
“…”
“Yama-chan, kau disana?” tanya Daiki lagi.
“…”
“Moshi-moshi… (hallo) Oi, kau mengangkatnya sambil tidur ya! Baka! (bodoh)”
“…”
“Yama-chan, oi, kita bertemu di tempat biasa, kan? Kutunggu di rumahku ya~ Jaa ne! (bye)”
Daiki mengakhiri pembicaraannya. Itu… Daiki barusan… Semangat sekali dia!! Kusso! (sialan) Ternyata dia benar-benar bermain di belakangku ya? Dengan pria pula! Dasar sialaaaaan!!!
Nyaris saja kubanting ponsel mahal ini, namun niat itu kuurungkan. Kembali aku mengutak-atik ponselnya.
.
KLIK
.
From : ariokadaiki@docomo.ne.jp
Mail : Yama-chan, bagaimana?
From : yamadaryosuke@docomo.ne.jp
Mail : Umm, kupikir-pikir dulu~
From : ariokadaiki@docomo.ne.jp
Mail : Yama-chan, jangan terlalu lama memikirkannya. Nanti kau sudah tua!
From : yamadaryosuke@docomo.ne.jp
Mail : Baka (bodoh)! Sebegitu cintanya kah kau padaku, babe? Hahahaha.
From : ariokadaiki@docomo.ne.jp
Mail : Mungkin kau yang terlalu cinta padaku = =”
From : yamadaryosuke@docomo.ne.jp
Mail : Baiklah, baiklah. Lalu bagaimana jika Meiko-chan cemburu? LOL
From : ariokadaiki@docomo.ne.jp
Mail : Tidak akan! LOL
From : yamadaryosuke@docomo.ne.jp
Mail : Aku akan bilang lho tentang rahasia kita! :P
From : ariokadaiki@docomo.ne.jp
Mail : Aku saja yang bilang~ Nanti kalau kau yang bilang dia akan salah faham, baka! XP
From : yamadaryosuke@docomo.ne.jp
Mail : Terserah sajalah. Nanti kau yang ke rumahku atau aku yang ke rumahmu?
From : ariokadaiki@docomo.ne.jp
Mail : Kau saja yang ke rumahku. Kebetulan Okaa-san dan Otoo-san sedang pergi hari ini.
From : yamadaryosuke@docomo.ne.jp
Mail : Ok.
.
“APA-APAAN INI HEEEEHHH?!!” teriakku sambil membanting ponsel Yamada ke atas lantai.
.
TRAK!
.
“EHH? Lho? Lho? Mati? Lho? Bagaimana ini? Huwaaaaa…!” gerutuku panik. Ponsel Yamada jatuh menghantam lantai dan akhirnya tewas seketika.
“Meiko-chan, kau sedang apa?” suara Yamada mengejutkanku.
“Huaaa… Yama-chan, gomeeennn~ (maaf) Ponselmu jatuh menghantam lantai… Bagaimana ini?” tanyaku panik.
“Nahloh? Bagaimana bisa jatuh? Bukankah tadi ada di dalam tas?” tanya Yamada ikut panic.
“Tadi ada telepon lalu kuangkat, tanpa sengaja ponselmu jatuh! Gomen na! (maaf)” ucapku.
“Ahh~souka… Kalau begitu biarkan saja. Aku sudah bawa ponsel yang baru, kok!” ucap Yamada sambil menunjukkan ponsel yang sama persis dengan ponselnya. Ponsel itu dari saku bajunya.
“Ehh?”
“Iya, untuk cadangan kalau-kalau yang ini sudah rusak. Ternyata memang rusak ya~” ucap Yamada sambil menimang-nimang ponsel lamanya.
“Tapi, tapi, tapi, tapi—“
“Sudahlah. Jangan merasa bersalah… Tidak apa, kok.” Ucap Yamada.
‘Bukan itu, baka! (bodoh) Yang kucemaskan itu isinya! Semua bukti ada disana! Sialan!’ batinku.
“Ada apa ini?” tanya sebuah suara.
“Lho? Dai-chan? Kenapa kau kemari?” tanya Yamada pada orang yang kini berdiri di sampingnya.
“Ah, aku mau mengembalikan ini!” ucap Daiki seraya memberikan sebuah buku tebal.
“Ah, kamusku!” seru Yamada sembari mengambil kamusnya dari tangan Daiki.
“Oh, ya, nanti siang jadi, kan?” tanya Daiki.
“Chotto matte! (tunggu sebentar) Ada apa dengan kalian berdua ini sebenarnya?!” tanyaku to the point.
“Ah, Meiko-chan sebenarnya—“
“Sebenarnya, aku les gratis bahasa Perancis pada Yama-chan! Sebagai gantinya… Aku harus menemani dia latihan menyatakan cinta pada Shourai!” seru Daiki.
“Eh? Les bahasa Perancis? Latihan menyatakan cinta pada Shourai?” tanyaku makin bingung.
“Ha… Hai’ (ya)” jawab Yamada tersipu.
“Iya, sebenarnya, Yama-chan itu tidak tahu caranya menyatakan cinta! Makanya kami latihan setiap hari. Bukankah kau sudah tahu sejak lama kalau Yama-chan menyukai Shourai?” ucap Daiki.
“Shourai Sera?” tanyaku. Yamada mengangguk.
“Dia gadis yang manis…” ucap Yamada.
“Heeeh?? Ternyata begitu…???”
“Sebenarnya tidak enak juga menyembunyikan ini darimu, tapi mau bagaimana lagi. Nanti kau malah keceplosan pada Shourai dan mengatakannya duluan sebelum Yama-chan menyatakan cintanya,” ucap Daiki.
“Lalu e-mail itu? Aku membacanya!” ucapku.
“Eh? Itu ya? Hahaha… Aku dan Yama-chan kan memang teman lama. Wajar kita bercanda dalam e-mail! Kau itu cemburu ya?” goda Daiki.
“Aku… Aku… Aku memang cemburu karena aku cinta Dai-chan!!!” teriakku lalu pergi dari kelas. Aku sangat malu mengatakannya. Mana mungkin seorang Himitsu mengatakan cinta. Cinta itu cukup dirasakan saja… Tidak perlu diucapkan… Karena cinta itu… Himitsu… (Rahasia) Rahasia hati. Kecuali dalam keadaan… Ah, sudahlah! Aku lelah! Yang pasti aku senang mengetahui satu hal. Bahwa pacarku bukanlah seorang gay!
‘My Boyfriend is (not) a Gay?!’
_____the end_____
aku gak pernah bosen baca epep yang ini!
BalasHapusXD
ayam sama Dai dikira GAY?!
hahahaha...
XD
kaka, itu yang coment aku ne!!
BalasHapusXD
iya laaah seneng baca kisah cinta nya aku sama dai!!
BalasHapuswkakakakak
#nongol tiba2 xD
hehe, tak apa lah ~ kekeke
Hapus*injek sesuai request xDD
Uwah.... Keren ne! XD
BalasHapusKupikir Dai emang sama Yama... Ga rela! XD*plak
Aku sampe ktawa bacanya ka! XD
By : Anna~ XD