Sabtu, 16 April 2011

Hospital Emergency... Part 11

   “Eh, tunggu…! Diary? Sepertinya aku tahu dimana ia meletakkan diary-diary-nya! Ayo!”, ajak dokter Aaron. Kami pun mengikutinya. Akhirnya, kami sampai di rumahnya yang mewah.
   “Ayo!”, kami segera masuk ke dalam kamar Meg. Dokter Aaron mengacak-acak isi laci meja di kamar Meg. Ketika itu aku melihat foto Jiro yang berfoto bersama Meg. Foto itu terpajang apik dan cukup besar.
   “Oh ya, kalau Meg dan Jiro saudara kembar… Lalu kau…?”, tanyaku pada dokter Aaron yang masih sibuk.
   “Aku kakak tirinya. Kami saudara tiri. Tiga tahun lalu ayahku dan Ibu Meg menikah. Dan sekarang Ibu Meg sudah meninggal. Jadi, kami hanya tinggal berdua karena ayah selalu sibuk dengan  pekerjaannya.”, ucapnya. Matanya masih terus menelisik  ke sudut-sudut ruangan serta tangannya mengobrak-abrik isi lemari dan laci Meg.
   “Ini dia!”, serunya begitu sebuah buku tebal bak kamus lengkap ada di tangannya. Itu adalah diary Meg. Kami segera membawanya ke ruang tamu dan membacanya…

Hospital Emergency... Part 10

   Sang korban memekik keras begitu melihat keadaan orang yang dikenalnya itu hendak membunuhnya. Ia berlari keluar dari ruangan tersebut dengan sangat ketakutan. Tiba-tiba seseorang muncul di hadapannya…
   “Suster Pat?”, tanya Lyena yang kebingungan dengan ekspresi Pat yang tampak ketakutan. Korban bernama Pat itu amat sangat ketakutan. Peluhnya bercucuran karena berlari dan tegang.

Hospital Emergency... Part 9

++++Pat POV++++

  Sudah berlalu empat tahun lamanya sejak kematian Jiro. Fotonya masih terpajang apik di dinding kamarku. Kembali terbayang memori itu di kepalaku. Saat pertama kali aku berjumpa dengannya di sekolah. Perangainya yang cool membuatku sempat jatuh hati padanya. Tapi, Lyena malah merebutnya dariku… Pacar pertama Jiro adalah Suster Lyena yang sekarang bekerja di rumah sakit yang sama denganku. Meski sudah berlalu empat tahun, aku masih menyimpan rasa kesal padanya. Meski Jiro sudah mati… Aku tak pernah melupakannya sedikitpun…
  “Jiro… Aku akan berusaha untukmu…”, ucapku sembari menatap foto Jiro lekat-lekat.




Hospital Emergency... Part 8

++++Author POV++++

  “Oh ya, ada apa kau kemari, Chun?”
  “Aku…”, Chun segera menenggelamkan cincin itu kedalam saku jaketnya. Ia urungkan niatnya untuk menyatakan perasaannya pada gadis yang ia cintai yang telah berdiri di hadapannya tersebut.
  “Aku ingin check kesehatan.”, ucap Chun berbohong, tapi dengan senyum manisnya yang mengembang.
  “Check kesehatan pada dokter…”, kalimat Suster Lyena mengambang.
  “Dokter Aaron!”, ucap Chun.
  “Kudengar dia dokter umum terbaik disini.”, lanjutnya.
  “Oh, baiklah. Sampai jumpa, Chun.”, Lyena bergegas meninggalkan Chun begitu ia melihat Suster Pat yang memanggilnya. Chun hanya mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan dokter Aaron. Cklek! Suara itu mengejutkan dokter Aaron.

Hospital Emergency... Part 7

++++Author POV++++

  “Hahaha…! Dia tidak pantas sekolah disini! Dia itu jelek dan bodoh! Mana pantas orang sepertinya berdiri di antara kita?”, ucap seorang siswi dengan tawanya yang membahana diikuti teman-teman yang lainnya. Sementara diantara mereka berdiri seorang gadis buruk rupa, berambut hitam panjang bagaikan hantu yang tak pernah diterima dan ditakuti oleh mereka. Gadis itu terduduk dan meraung-raung, ia rasakan kepalanya berdenyut kuat. Dirinya sudah diambang kesabarannya, tapi dia tahu bahwa dia memang bukanlah siapa-siapa. Ia menangis dengan ungkapan dan perlakuan teman-temannya itu padanya.

Hospital Emergency... Part 6

  Malam ini Ibu menyuruhku membeli mi ramen di kedai biasa aku membelinya. Karena letaknya tak cukup jauh dari rumah, aku menjangkaunya dengan berjalan kaki.
  “Paman, mi ramen empat ya!”, pesanku.
  “Disuruh Ibu?”, tanyanya.
  “Hm.”, jawabku singkat.
Selepas itu, tak ada pembicaraan dari kami sampai akhirnya aku pulang bersama keempat bungkus ramen itu. Angin malam yang jarang kurasakan, malam ini membelai rambut dan rok ungu yang kupakai. Membuatnya berkibar-kibar bagaikan bendera negara. Kurapatkan jaket yang kukenakan karena udara semakin berhembus kencang. Tiba-tiba…

Hospital Emergency... Part 5

++++Chun POV++++

  Aku membuka satu persatu surat-surat misterius yang telah mengganggu Lyena itu. Kubaca pelan-pelan dan kucerna baik-baik. Semua tulisan yang ada di dalamnya bertinta merah pekat. Surat pertama…

Hospital Emergency... Part 4

  “Suster Lyena…”, bisikan itu kembali muncul ketika aku melewati ruangan dokter Devon. Aku bergidik. Tak sanggup menoleh untuk kesekian kalinya setelah peristiwa naas itu. Aku merasa, bisikan itu adalah awal dari semua petaka ini. Atau lebih tepatnya, surat misterius itu. Anehnya, bisikan itu hanya datang sekali memanggilku. Ia tidak mengulangnya. Dan setiap aku menoleh, pada detik berikutnya selalu terjadi sesuatu yang mengerikan.

Hospital Emergency... Part 3

  Kulipat lagi surat itu seperti semula dan kuletakkan di saku pakaianku. Kulemparkan pandanganku ke arah monitor alarm. Rupanya Meg tak menyadari itu karena terlalu serius dengan pekerjaannya di komputer. Bagan kamar nomor 102 berkedap-kedip. Aku menyegerakan langkahku ke sana.
  “Permisi…”, salamku ketika aku memasuki ruang VIP itu. Seorang wanita, dari data dia adalah pasien yang mengidap asma akut. Aku segera memberikan penanganan sementara untuknya. Berikutnya, kuhubungi dokter Aaron karena tertulis di data bahwa yang menangani pasien ini adalah dokter Aaron.
  “Dokter, pasien di kamar 102.”, ucapku.

Hospital Emergency... Part 2

   “Tidak! Sampai kapanpun kita tidak akan berpisah!”, teriaknya keras padaku. Meski bagaimanapun, aku sudah tidak mampu lagi bersamanya.
   “Maaf, tapi aku tidak sanggup lagi bersamamu… Kita berpisah saja… Maafkan aku.”, ucapku hendak pergi darinya.
   “Tidak!”, ia menggenggam pergelangan tanganku kuat.
   “Kumohon!”, ucapnya.