Kamis, 08 Agustus 2013

Come Back... [Chapter VII]



Title               : Come Back . . .

Author           : dita-cHun

Type               : Multichapter

Part                : 7

Rating            : PG-15

Genre             : Romance

Music             : Beat Line by Hey! Say! JUMP

Cast                :

Kanazawa Yuuri (OC)

Mizuhara Karin (OC)

Yamada Ryosuke

Chinen Yuuri

Arioka Daiki

Disclaimer    : Seluruh tokoh milik Tuhan, kecuali plot adalah milik saya XD, no bashing. Mau bash? Silahkan, saya tidak peduli bash-bash-an  macam apapun

Warning        : Gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~

Note               : Kyaaak! Minnaaa~ Aku come back lagi dengan lanjutan FF Come Back! :D Selama ini aku jarang punya mood untuk ngelanjutin FF ini meskipun idenya udah ada dan kelanjutan FF ini sudah bear-benar terencana dalam kepala. Pada akhirnya FF ini berlanjut dan aku emang udah lama juga nunggu kelanjutan FF ini karena agak beda dari FF ku yang lain. Ceritanya seputar romance dan friendship tapi aku nggak bosan xD ehehe. Ok, happy reading! Jangan lupa komen yah! ^^V

Summary      : Yuuri mulai merasa ada sesuatu yang ganjil dari Ryosuke. Pria itu sepertinya sedang sakit, tapi ia tidak ingin berpikir terlalu jauh. Chinen yang tiba-tiba datang mencari Mizuhara menimbulkan tanda tanya bagi Yuuri. Sementara Ryosuke yang tidak senang dengan kedatangan pria itu lekas menghubungi sepupunya tersebut untuk menyingkirkan Chinen dari rumahnya. Tapi, Yuuri tiba-tiba memohon untuk ikut Chinen menemui Mizuhara. Ada sesuatu yang ingin ditanyakannya kepada gadis itu. Sesuatu yang penting mengenai Ryosuke dan menjelaskan pada Chinen bahwa ia mungkin masih mencintai Chinen, sedikitnya.








      “Chii…” Yuuri kembali membuka pembicaraan. “Maaf, untuk semuanya.”

      Aku mengukir segaris senyum, “Aku tidak menyalahkanmu. Bukankah ini berjalan seperti yang seharusnya?”

      Ia diam sejenak, kemudian kembali berbicara. “Aku tidak tahu apa ini pantas untuk kukatakan padamu. Tapi, entah kenapa aku ingin mengatakan ini padamu. Bersama Ryosuke dan bersamamu adalah sesuatu yang berbeda.”

      “Eh?”

      “Entah kenapa aku merasa lebih nyaman saat kita—” kalimatnya terpotong saat itu juga. Saat aku angkat bicara.

      “—Tapi, semuanya sudah berakhir, Yuuri-chan. Kuharap kau tidak mengatakan hal-hal yang membuatku menaruh harapan lagi padamu,” ucapku.

      Gomen,” ucapnya pelan sambil menundukkan pandangannya dariku.

      “Aku hanya tidak ingin menyakiti siapapun. Kau juga, kan?” ucapku. “Masih ada lagi, Yamada. Kita semua ingin yang terbaik, kan?”

      Yuuri mengangguk.

      “Kalian berdua,” sebuah suara terdengar dari arah belakangku. Aku menoleh. Kujumpai sosok Yamada yang berjalan ke arah kami. “Apa yang kalian obrolkan?”

      “Ah, Yamada. Apa kami mengganggumu?” aku bangkit dari tempatku duduk.

      “Tidak juga. Tapi, kenapa kau datang kemari?” tanya Yamada padaku.

      “Aku menunggu Mizu-chan. Kebetulan ada yang ingin kubicarakan dengannya,” jawabku. Ia mengangguk paham kemudian mengambil tempat duduk di samping Yuuri.

      “Aku bisa menghubungi Karin kalau kau terburu-buru,” Yamada mengeluarkan ponsel dari saku celananya kemudian menghubungi Mizuhara.

      Aku dan Yuuri diam mendengar Yamada dan Mizuhara bertelepon. Tidak ada yang membuka pembicaraan di antara kami. Hingga kemudian Yamada kembali angkat bicara. “Karin bilang kau bisa datang ke jembatan. Ia  menunggumu disana.”

      Aku mengangguk paham kemudian pamit.

      “Chii, boleh aku ikut?” suara Yuuri sukses menghentikan langkahku.

      “Untuk apa?” tanya Yamada.

      “Ada yang ingin kubicarakan juga dengan Mizu-chan,” jawab Yuuri.

      Kulihat Yamada melirikku tak suka. Aku tersenyum, “Aku tidak akan macam-macam, kok. Aku tahu posisiku ada dimana.”

      “Baiklah,” jawab Yamada akhirnya. “Yuuri-chan, hati-hati, ok?” Ia mengacak rambut Yuuri sedikit kemudian membiarkan Yuuri berjalan keluar bersamaku.

      “Kelihatannya dia benar-benar cemas aku melakukan sesuatu padamu,” bisikku pada Yuuri. Ia tertawa mendengarnya.

      “Ryosuke hanya mengkhawatirkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi,” ucap Yuuri.

      “Kau yakin?”

      Ia mengangguk mantap, “Karena aku sudah pernah mengenal Chii.”

**

      “Mizu-chan!” aku dan Yuuri menyapa gadis yang bersandar pada pagar pembatas jembatan, nyaris bersamaan. Gadis itu menoleh ke arah kami kemudian mengisyaratkan agar kami datang ke arahnya.

      “Kalian berdua kenapa datang bersama begini?” tanya Mizuhara pada kami.

      “Ada yang ingin kubicarakan juga,” jawab Yuuri. “Mengenai Ryosuke.”

      “Ryosuke?” Mizuhara mengernyit tidak paham.

      “Apa Ryosuke sedang sakit? Kanker otak?” tanya Yuuri memburu.

      “Eh?” aku mempertajam pendengaranku, takut-takut aku salah dengar.

      “Ya,” jawab Mizuhara tanpa basa-basi sedikit pun. Aku tercengang.

      “Sejak kapan?” tanya Yuuri lagi.

      “Sejak kalian kecelakaan,” jawab Mizuhara. “Aku tahu cepat atau lambat kau pasti akan tahu tentang hal ini. Hari itu Ryosuke pulang dari rumah sakit, bukan karena keadaannya sudah pulih benar, tapi karena ia mengeluh tidak enak badan. Ia bilang ia tidak tahan tinggal di rumah sakit. Sebelum kami meninggalkan rumah sakit, dokter menjelaskan bahwa selain amnesia ada sesuatu yang salah pada otak Ryosuke dan dinyatakan bahwa itu adalah kanker. Dokter bilang Ryosuke mungkin bisa bertahan lebih lama dengan obat dan terapi. Keluarga kami merahasiakan hal ini dari Ryosuke karena kami tahu Ryosuke pasti akan sangat terpukul jika ia tahu bahwa ia tidak sehat lagi. Setiap hari aku memberi Ryosuke obat dengan alasan bahwa itu vitamin karena tubuhnya mudah drop.”

      “Lalu bagaimana dengan terapi?” tanyaku menyela.

      “Tidak ada. Kami tidak pernah membawanya ke rumah sakit.” Jawab Mizuhara. “Karena itu, Yuuri-chan. Bertahanlah sedikit lebih lama demi Ryosuke.”

      “Kenapa kau mengatakan seperti itu?” tanya Yuuri.

      “Aku hanya ingin Ryosuke bahagia, setidaknya untuk hari-hari terakhirnya. Dan yang kutahu, dia ingin sekali bersamamu, Yuuri-chan. Dia sangat menyukaimu,” Mizuhara berhenti sejenak. “Jadi, kuharap kau mau memberikan kasih sayangmu padanya, meskipun itu bukan cinta. Berpura-puralah kau menyukainya untuk setengah tahun terakhirnya ini.”

      Setengah tahun?!” aku dan Yuuri berteriak bersamaan.

      Mizuhara mengangguk. “Ryosuke sudah semakin parah. Dokter mengatakan Ryosuke tidak akan bertahan lebih dari setengah tahun dan itu sudah kemungkinan yang paling baik. Maka dari itu, kumohon, Yuuri-chan…”

      Kuraih tangan Yuuri, menggenggamnya erat. “Berjuanglah, Yuuri-chan. Bukankah kalian saling mencintai?”

      Yuuri menatap kedua mataku dalam-dalam. “…Entah kenapa aku baru sadar kalau aku—”

      Kubungkam bibir Yuuri dengan jari telunjukku. “Hentikan. Aku yakin, itu bukan kalimat yang tepat untuk diucapkan dalam  kondisi seperti ini.”

      Perlahan genggamanku merenggang, kemudian aku berpindah ke samping Mizuhara. “Jangan menyerah, Mizu-chan. Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Percayalah, Yamada pasti bisa bertahan lebih dari hipotesis dokter.” Aku menepuk pelan pundak Mizuhara.

      Arigatou ne, Chinen.” Ucap Mizuhara. “Jadi, kau tadi kesini, ada apa?”

      “Aku…” aku menengok ke arah Yuuri. “Aku akan melupakannya. Mungkin ini yang lebih baik.”

      “Eh?” Mizuhara mengernyit tak paham.

      “Yuuri adalah kekuatan Yamada. Aku tidak ingin egois,” jawabku.

      “Chinen, gomen ne.” Tampaknya Mizuhara paham dengan apa yang baru saja kumaksudkan.

      Aku mengukir segaris senyum, “Kalau begitu traktir aku es krim strawberry di kedai sana, ya!” Aku menunjuk ke arah kedai es krim tak jauh dari tempat kami.

      “Sialan, aku serius, kau malah menggodaku!” ia meninju lenganku pelan.

      “Aaaah, ittai yo, nee-chan~!” ucapku berpura-pura. Berselang kemudian tawa kami lepas bersamaan, mengisi suara angin yang masih asyik berdesau sejak tadi.

**

      Langit di atas sana masih biru sejak Yuuri tidak lagi bersamaku. Meskipun aku masih sangat ingin bersamanya, aku tidak akan egois. Meski aku bisa mencintai lebih banyak dari Yamada, Yuuri belum tentu akan bahagia.

      Seminggu yang lalu saat aku memutuskan untuk melepaskan Yuuri sepenuhnya, aku berpikir bahwa jalan yang diberikan Tuhan bagi kami begitu rumit. Jika Tuhan menginginkan aku bersama Yuuri kenapa Ia membawa Yamada kembali? Jika Ia menakdirkan Yuuri sebagai ujung dari benang merah Yamada, mengapa Ia membiarkan kami tahu hidup Yamada tidak lama lagi?

      Sejak minggu lalu aku benar-benar berpikir bahwa kadang Tuhan itu membingungkan. Aku merasa jadi begitu kecil. Banyak hal yang disebut sebagai kenyataan, tapi aku tetap tidak mengerti. Kenapa jalan yang dibuat Tuhan untuk manusia begitu sulit untuk ditebak? Sebagai manusia, kupikir hanya menjalani semuanya untuk menemukan ujung dari rencana Tuhan untukku.

      “Chii!” sebuah suara familiar terdengar dari arah belakang. Aku menoleh. Kudapati Yuuri berjalan terburu-buru ke arahku. “Ah, syukurlah. Aku sudah mencarimu ke rumah, tapi bibi mengatakan kau ke perpustakaan dua jam lalu.”

      Aku mengangguk membenarkan pernyataannya barusan.

      “Bisa menemaniku ke suatu tempat?” tanyanya.

      “Eh?”

      “Kumohon...,” pintanya. “Hanya minta waktumu sebentar saja. Ok?”

      Aku mengangguk tanda setuju. Segera aku dan Yuuri berjalan beriringan menuju halte bus terdekat. Ada tempat yang benar-benar ingin Yuuri kunjungi saat ini. Aku tahu kemana ia ingin pergi. Semuanya terlihat jelas pada kedua manik matanya.

      Sepanjang perjalanan aku hanya menggenggam tali tas selempang yang kugunakan. Sebelumnya kami selalu bergandengan tangan dan suasana seperti ini agak canggung ketika masa itu menghilang tiba-tiba seperti ini. Yuuri juga tampak sedikit canggung dan hanya meletakkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. Ia jarang melakukannya kecuali musim dingin. Ia pasti juga merasa tidak enak padaku. Maka dari itu, aku tidak akan bertanya.

      Sebuah bus berhenti tepat di hadapan kami. Yuuri melangkah masuk lebih dulu dan aku mengekor di belakangnya. Kami masih diam untuk waktu yang lama sampai bus kembali melaju ke perhentian selanjutnya.

      Ne, Chii...,” Yuuri mulai membuka pembicaraan. Aku menoleh. “Kadang aku merasa Tuhan benar-benar membingungkan.”

      “Eh?” Aku terkejut mendengar ucapan Yuuri barusan. Itu sama persis dengan apa yang kupikirkan sebelumnya. Bagaimana bisa?

      “Apa Chii merasa aku adalah gadis yang mudah jatuh cinta dan melepaskan?” tanyanya.

      Aku berpikir sejenak. “Tidak juga. Aku yakin siapapun juga tidak akan berpikir demikian.”

      “Begitu?”

      Un,” aku mengangguk dan mengukir segaris senyum. “Maka dari itu, jangan pernah melepaskan pria yang kau cintai lagi, Yuuri-chan. Kau tidak boleh kehilangan dia dan bersedih lagi. Tuhan juga pasti memiliki rencana yang indah bagi kalian.”

      Yuuri tersenyum sambil mengamini setiap ucapanku.

**

      Aku dan Yuuri melangkah masuk ke dalam gedung berlabel Rumah Sakit Jonan. Tidak ada alasan lain bagi Yuuri memintaku menemaninya ke rumah sakit ini selain karena Yamada. Penyakit Yamada terus berlangsung dan Yuuri tidak tahu sudah sejauh apa penyakit itu menggerogoti pria itu.

      Shitsureishimasu,” kami masuk ke dalam sebuah ruangan. Seorang dokter pria bernama Inoo Kei menyambut kami dengan senyum tipis di dalam ruangannya. Ia lekas mempersilahkan kami masuk dan duduk.

      “Silahkan,” ucapnya.

      “Sebenarnya bukan siapapun di antara kami yang ingin melakukan pemeriksaan. Tapi, ini tentang teman kami.” Yuuri mencoba membuka pembicaraan. “Ia memiliki kanker otak stadium lanjut. Seberapa lama ia bisa bertahan, dokter?”

      Dokter Inoo diam sejenak sebelum menjawab, “Aku tidak bisa memprediksi sebelum memeriksanya secara langsung. Kalian bisa membawanya jika ingin tahu.”

      Yuuri diam, sedangkan aku tidak tahu harus mengatakan apa. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu jatuh dari pelupuk mata gadis itu. Yuuri menangis. Ya, hari ini setelah beberapa waktu lalu.

      “Ia bahkan tidak tahu bahwa ia sedang sakit,” Yuuri mulai terisak. “Setiap hari ia minum obat pereda sakit dan ia mengira itu adalah vitamin. Itu sudah berlangsung begitu lama. Selama seminggu terakhir aku menemaninya di rumah. Ia sering mengalami sakit kepala tiba-tiba dan kadang mimisan. Hal itu terus terjadi setiap hari. Setiap satu hari bertambah, maka  rasa sakitnya juga bertambah lebih banyak. Aku bahkan berkali-kali bertanya pada diriku sendiri apa yang akan terjadi besok padanya melihat kondisinya yang terus memburuk. Tapi, aku tidak tahu. Aku benar-benar takut, dokter. Aku takut sekali...”

      Tangan kanan Yuuri meremas tas selempangku yang tersampir ke arah kiri. Aku mengulurkan tangan untuk menggenggam tangannya yang mulai gemetar. Tampaknya ia agak shock menjelaskan apa yang terjadi pada Yamada kepada Dokter Inoo.

      Dokter Inoo masih diam mendengarkan, sementara Yuuri kembali berbicara. “Aku ingin membawanya kemari bersamaku, tapi aku tidak tahu bagaimana mengatakan padanya.”

      “Aku menyarankan sebaiknya kalian lekas mengatakan yang sebenarnya padanya,” Dokter Inoo mulai angkat bicara. “Kalian tidak mungkin selamanya menyembunyikan penyakitnya yang semakin kentara, kan?”

      “Kami akan mencoba berbicara dengan keluarganya,” ucapku. “Semua orang menyembunyikan hal ini darinya, tentu aku merasa itu tidak sepenuhnya benar. Kami akan mencoba berunding dengan keluarganya lebih dulu, dokter.”

      “Ya, silahkan.” Jawab Dokter Inoo mengiyakan.

      Aku mengangguk kemudian menepuk pundak Yuuri pelan. Ia masih setengah terisak, tapi sudah lebih baik. Mungkin ini akan menjadi berat baginya, tapi kurasa aku bisa membantunya dengan berada di sisinya pelan-pelan. Sebagai seorang teman dari Kanazawa Yuuri.







.Come Back...



.to be continue~

1 komentar:

  1. wah ceritanya mulai memuncak nih,
    tapi ak rada sensi sama sikap Yuuri yg terlalu ehemm gampangan mungkin? #antiyangbegituan
    Gomen~
    Salut sama chii yg dewasa, yg gak ikut2an egois kyk Yuuri, kekeke

    Ditunggu lanjutannyanya yah~

    BalasHapus