Kamis, 08 Agustus 2013

Chaerim and Love [Chapter II]

Title      : “Chaerim” and Love
Author  : Dita Chun © 2011
Type      : Multichaptered (MC)
Part      : 2 of 7
Genre   : Romance, Friendship
Rating   : PG+13
Cast     :
Shin Chaerim (OC)
Kim Yoona
Yoon Seungho
Lee Donghae




   “Chaerim~ah… Jangan menangis… Aku akan menghajarnya lebih dari itu kalau kau mau…”, ucap Donghae sembari menatapku. Aku menatapnya tajam bersamaan dengan itu air mataku mengalir... PLAAKKK!!! Sebuah tamparan mendarat di pipi Donghae. Tentu saja aku yang melakukannya. Dengan penuh kekesalan aku menamparnya.

   “Chaerim~ah… Kenapa kau…”, belum selesai ia berbicara, aku sudah memotongnya.

   “SUDAH KUBILANG KALAU KEBAHAGIAANNYA ITU KEBAHAGIAANKU JUGA!!! AKU INGIN DIA BAHAGIA!!!”, teriakku sekuat tenaga.

   “Chaerim~ah…”, ia hendak berbicara, tapi aku berlalu dari hadapannya dan meninggalkan belanjaanku. Aku pergi dengan deraian air mata di pipiku. Aku benar-benar pusing!!! Aisssh!!!!

Apakah berharap itu tak boleh? Meski hanya sekecil biji sawi sekalipun? Asal bisa berharap… Bukankah akan ada motivasi untuk mendapatkannya? Apakah tidak boleh…? Apakah hanya orang cantik dan tampan saja yang bisa mendapatkan cinta? Apa orang yang serba kurang sepertiku tidak boleh mendapatkan cinta yang kuinginkan…?

   “Chaerim! Chaerim! Shin Chaerim!”, aku mendengar seseorang yang memanggilku. Semakin lama semakin dekat dan… GREBP… Kurasakan tanganku digenggam seseorang. Ia menarik tanganku sehingga aku menghadap padanya. Aku masih menangis…

   “Kau masih beruntung… Meski tidak pandai tapi kau keren! Pandangan gadis-gadis terhadapmu juga baik! Kenapa kau mau berteman denganku yang jelek dan bodoh ini?!”, ucapku sambil menangis dan memukul-mukul tubuh Donghae. Hujan deras mulai mengguyur kota Seoul. Donghae menggenggam tanganku erat.

   “Hentikan!”, teriak Donghae keras.

   “Kau bertanya mengapa aku mau berteman denganmu?”, lanjutnya. Aku mengangguk.

   “Karena kau adalah kau. Dan kau tidak pernah ingin dan berusaha menjadi orang lain. Itulah sebabnya aku mau berteman dengan gadis jelek dan bodoh ini… Meski jelek dan bodoh atau apalah itu… Tapi, semua… Diukur dari dalam hati.”, ucapnya. Aku masih setengah terisak di tengah hujan.

   “Jadi… Jangan menangis demi dirinya… Jangan tumpahkan air mata berharga itu untuknya yang tidak pernah melihatmu…”, ucap Donghae.

   “Apa… Hanya orang cantik, tampan, pandai dan mendekati sempurna yang bisa mendapatkan cinta? Apa orang yang buruk rupa dan bodoh sepertiku tidak boleh mendapatkan cinta?”, tanyaku. Donghae menggeleng.

   “Kau boleh mendapatkan cinta… Bahkan cinta yang lebih dari orang yang mendekati sempurna sekalipun…”, ucap Donghae.

   “Hanya kau yang mengatakannya… Tapi, apa kau bisa memegang kata-katamu?”, tanyaku.

   “Aku… Baik. Akan kupegang kata-kataku. Kau pasti akan mendapatkan cinta!”, ucap Donghae. Perlahan aku tersenyum. Tapi bercampur dengan tangis bahagia  dan air hujan. Baik Donghae… Aku akan mempercayaimu… Kau tidak akan berbohong, kan?




++++Donghae POV++++

   “Meski sedikit berat mengatakannya… Untuk meyakinkan kalimat itu… Tapi, aku tetap mengatakannya bahwa ia akan mendapatkan cintanya… Orang yang ia cintai dan mencintainya sepenuh hati. Kalau kata-kataku ini benar-benar salah… Maka, aku akan bertanggung jawab atasnya…

   Hatinya begitu baik… Sayang parasnya tak berkata sama. Tak ada yang mau menerima kehadirannya di Jeongdu High School. Aku sampai miris memikirkannya sekalipun. Andai saja bisa… Aku ingin meminta pada Tuhan agar dia bahagia. Meski dia mungkin tak akan pernah tahu… Karena dalam matanya dan hatinya… Hanya ada Yoon Seungho yang selalu menyakitinya.

   Kuakui bahwa dia gadis yang tegar. Meski dia telah dihina seperti apapun juga. Ia tetap bertahan di sekolah yang telah membuatnya menderita. Bahkan saat aku memukulnya (Seungho) dia malah balik menamparku sekuat tenaga. Ia tak ingin lelaki itu sakit, maka dari itu… Ia memukulku. Demi lelaki itu… Dia memukulku sekuat tenaganya. Tapi… Tidak apa-apa asal dia senang… Tidak apa-apa…”, tulisku dalam lembaran buku diary-ku. Sudah beratus-ratus lembar kutulis tentangnya. Bahkan kalimat yang sama sering kutulis. Karena gadis itu memang begitu… Dan aku menyayanginya…

   Pagi-pagi aku pergi ke sekolah dan bergegas menemuinya yang sering datang sangat awal. Tapi, tak kutemukan ia di dalam kelas. Aku pun hanya diam memandangi bangkunya yang kosong. Kualihkan pandanganku pada lelaki itu…

   “Apa?!”, ucapnya meremehkan. Aku menatapnya dengan kesal.

   “A…”, aku hendak berucap tapi segera kuurungkan begitu kulihat seseorang yang tengah berdiri di sampingku.

   “Kau sudah datang?”, ia tersenyum seperti biasanya. Aku mengangguk dan membalas senyumnya.

   “Yak! 2 orang bodoh tengah berbincang di pagi secerah ini.”, ucap Seungho.

   “Ah? Seungho? Kau sudah datang pagi sekali… Aku datang lebih lambat darimu!”, ucap si centil Yoona sambil meletakkan tasnya di bangkunya. Kemudian ia mengalihkan pandangan ke arah kami.

   “Eh?! Wah, Seungho! Apa jadinya ya kalau mereka menikah nantinya?! Apa anak mereka akan jadi sangat bodoh karena kebodohan orang tuanya? Wah, wah…”, ucap Yoona dengan gaya centilnya.

   “Eh, diam kau! Dasar gadis centil! Rokmu itu kurang kain ya? Nggak mampu beli?”, bentakku.

   “A… What??! Kau!”, Yoona hendak memukulku tapi aku menampiknya dan mendorongnya hingga ia jatuh ke lantai.

   “Lain kali ke sekolah pakailah sepatu. Jangan gunakan high heels yang akan membuatmu jatuh!.... Nona…”, ucapku.

   “Hhhh…”, ia mengepalkan tangannya. Aku hanya tersenyum melihat itu.

   “Eh, dia pakai high heels ya? Apa tidak sakit kakinya?”, tanya Chaerim.

   “Entahlah. Ini kan sekolah. Dasar gadis centil aneh!”, ucapku. Kulihat Chaerim tertawa mendengarnya.

   “Chaerim… Asal bisa melihatmu tersenyum dan tertawa seperti ini… Aku akan baik-baik saja… Pasti aku akan baik-baik saja…”, batinku. Tiba-tiba Seungho datang menolong Yoona yang kesulitan berdiri kemudian ia menghampiriku dan menatapku tajam.

   “Kau… Sudah melukainya…! Akan kubuat perhitungan padamu!”, ancamnya keras.

   “Coba saja kalau bisa. Akan kutunggu.”, balasku ringan.

   “Baik! Kutunggu di lapangan basket sepulang sekolah!”, ucapnya lalu berlalu dari hadapanku.







.Gimana nihh the next???





.”Chaerim” And Love…





.To Be Continued+++++>>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar