Title : Come Back . . .
Author : dita-cHun
Type : Multichapter
Part : 7
Rating : PG-15
Genre : Romance
Music : Beat Line by Hey! Say! JUMP
Cast :
Kanazawa
Yuuri (OC)
Mizuhara
Karin (OC)
Yamada
Ryosuke
Chinen
Yuuri
Arioka
Daiki
Disclaimer :
Seluruh tokoh milik Tuhan, kecuali plot adalah milik saya XD, no bashing. Mau
bash? Silahkan, saya tidak peduli bash-bash-an
macam apapun
Warning :
Gaje binti abal ~segala kekurangan adalah milik saya~
Note :
Kyaaak! Minnaaa~ Aku come back lagi dengan lanjutan FF
Come Back! :D Selama ini aku jarang punya mood untuk ngelanjutin FF ini
meskipun idenya udah ada dan kelanjutan FF ini sudah bear-benar terencana dalam
kepala. Pada akhirnya FF ini berlanjut dan aku emang udah lama juga nunggu
kelanjutan FF ini karena agak beda dari FF ku yang lain. Ceritanya seputar
romance dan friendship tapi aku nggak bosan xD ehehe. Ok, happy reading! Jangan
lupa komen yah! ^^V
Summary :
Yuuri mulai merasa ada sesuatu yang ganjil dari Ryosuke.
Pria itu sepertinya sedang sakit, tapi ia tidak ingin berpikir terlalu jauh.
Chinen yang tiba-tiba datang mencari Mizuhara menimbulkan tanda tanya bagi
Yuuri. Sementara Ryosuke yang tidak senang dengan kedatangan pria itu lekas
menghubungi sepupunya tersebut untuk menyingkirkan Chinen dari rumahnya. Tapi,
Yuuri tiba-tiba memohon untuk ikut Chinen menemui Mizuhara. Ada sesuatu yang
ingin ditanyakannya kepada gadis itu. Sesuatu yang penting mengenai Ryosuke dan
menjelaskan pada Chinen bahwa ia mungkin masih mencintai Chinen, sedikitnya.
“Chii…” Yuuri kembali membuka
pembicaraan. “Maaf, untuk semuanya.”
Aku mengukir segaris senyum,
“Aku tidak menyalahkanmu. Bukankah ini berjalan seperti yang seharusnya?”
Ia diam sejenak, kemudian kembali
berbicara. “Aku tidak tahu apa ini pantas untuk kukatakan padamu. Tapi, entah
kenapa aku ingin mengatakan ini padamu. Bersama Ryosuke dan bersamamu adalah
sesuatu yang berbeda.”
“Eh?”
“Entah kenapa aku merasa lebih nyaman saat
kita—” kalimatnya terpotong saat itu juga. Saat aku angkat bicara.
“—Tapi, semuanya sudah berakhir, Yuuri-chan.
Kuharap kau tidak mengatakan hal-hal yang membuatku menaruh harapan lagi
padamu,” ucapku.
“Gomen,” ucapnya pelan sambil
menundukkan pandangannya dariku.
“Aku hanya tidak ingin menyakiti siapapun.
Kau juga, kan?” ucapku. “Masih ada lagi, Yamada. Kita semua ingin yang terbaik,
kan?”
Yuuri mengangguk.
“Kalian berdua,” sebuah suara terdengar
dari arah belakangku. Aku menoleh. Kujumpai sosok Yamada yang berjalan ke arah
kami. “Apa yang kalian obrolkan?”
“Ah, Yamada. Apa kami mengganggumu?” aku
bangkit dari tempatku duduk.
“Tidak juga. Tapi, kenapa kau datang
kemari?” tanya Yamada padaku.
“Aku menunggu Mizu-chan. Kebetulan
ada yang ingin kubicarakan dengannya,” jawabku. Ia mengangguk paham kemudian
mengambil tempat duduk di samping Yuuri.
“Aku bisa menghubungi Karin kalau kau
terburu-buru,” Yamada mengeluarkan ponsel dari saku celananya kemudian
menghubungi Mizuhara.
Aku dan Yuuri diam mendengar Yamada dan Mizuhara
bertelepon. Tidak ada yang membuka pembicaraan di antara kami. Hingga
kemudian Yamada kembali angkat bicara. “Karin bilang kau bisa datang ke
jembatan. Ia menunggumu disana.”
Aku mengangguk paham kemudian pamit.
“Chii, boleh aku ikut?” suara Yuuri sukses
menghentikan langkahku.
“Untuk apa?” tanya Yamada.
“Ada yang ingin kubicarakan juga dengan
Mizu-chan,” jawab Yuuri.
Kulihat Yamada melirikku tak suka. Aku
tersenyum, “Aku tidak akan macam-macam, kok. Aku tahu posisiku ada dimana.”
“Baiklah,” jawab Yamada akhirnya. “Yuuri-chan,
hati-hati, ok?” Ia mengacak rambut Yuuri sedikit kemudian membiarkan Yuuri
berjalan keluar bersamaku.
“Kelihatannya dia benar-benar cemas aku
melakukan sesuatu padamu,” bisikku pada Yuuri. Ia tertawa mendengarnya.
“Ryosuke hanya mengkhawatirkan sesuatu
yang tidak mungkin terjadi,” ucap Yuuri.
“Kau yakin?”
Ia mengangguk mantap, “Karena aku sudah
pernah mengenal Chii.”
**
“Mizu-chan!” aku dan Yuuri menyapa
gadis yang bersandar pada pagar pembatas jembatan, nyaris bersamaan. Gadis itu
menoleh ke arah kami kemudian mengisyaratkan agar kami datang ke arahnya.
“Kalian berdua kenapa datang bersama
begini?” tanya Mizuhara pada kami.
“Ada yang ingin kubicarakan juga,” jawab
Yuuri. “Mengenai Ryosuke.”
“Ryosuke?” Mizuhara mengernyit tidak
paham.
“Apa Ryosuke sedang sakit? Kanker otak?”
tanya Yuuri memburu.
“Eh?” aku mempertajam pendengaranku,
takut-takut aku salah dengar.
“Ya,” jawab Mizuhara tanpa basa-basi
sedikit pun. Aku tercengang.
“Sejak kapan?” tanya Yuuri lagi.
“Sejak kalian kecelakaan,” jawab Mizuhara.
“Aku tahu cepat atau lambat kau pasti akan tahu tentang hal ini. Hari itu
Ryosuke pulang dari rumah sakit, bukan karena keadaannya sudah pulih benar,
tapi karena ia mengeluh tidak enak badan. Ia bilang ia tidak tahan tinggal di
rumah sakit. Sebelum kami meninggalkan rumah sakit, dokter menjelaskan bahwa
selain amnesia ada sesuatu yang salah pada otak Ryosuke dan dinyatakan bahwa
itu adalah kanker. Dokter bilang Ryosuke mungkin bisa bertahan lebih lama
dengan obat dan terapi. Keluarga kami merahasiakan hal ini dari Ryosuke karena
kami tahu Ryosuke pasti akan sangat terpukul jika ia tahu bahwa ia tidak sehat
lagi. Setiap hari aku memberi Ryosuke obat dengan alasan bahwa itu vitamin
karena tubuhnya mudah drop.”
“Lalu bagaimana dengan terapi?” tanyaku
menyela.
“Tidak ada. Kami tidak pernah membawanya ke rumah sakit.” Jawab Mizuhara. “Karena itu,
Yuuri-chan. Bertahanlah sedikit lebih lama demi Ryosuke.”
“Kenapa kau mengatakan seperti itu?” tanya
Yuuri.
“Aku hanya ingin Ryosuke bahagia,
setidaknya untuk hari-hari terakhirnya. Dan yang kutahu, dia ingin sekali
bersamamu, Yuuri-chan. Dia sangat menyukaimu,” Mizuhara berhenti sejenak.
“Jadi, kuharap kau mau memberikan kasih sayangmu padanya, meskipun itu bukan
cinta. Berpura-puralah kau menyukainya untuk setengah tahun terakhirnya ini.”
“Setengah tahun?!” aku dan Yuuri
berteriak bersamaan.
Mizuhara mengangguk. “Ryosuke sudah
semakin parah. Dokter mengatakan Ryosuke tidak akan bertahan lebih dari setengah tahun dan itu sudah kemungkinan yang paling baik. Maka dari itu, kumohon,
Yuuri-chan…”
Kuraih tangan Yuuri, menggenggamnya erat.
“Berjuanglah, Yuuri-chan. Bukankah kalian saling mencintai?”
Yuuri menatap kedua mataku dalam-dalam.
“…Entah kenapa aku baru sadar kalau aku—”
Kubungkam bibir Yuuri dengan jari telunjukku.
“Hentikan. Aku yakin, itu bukan kalimat yang tepat untuk diucapkan dalam kondisi seperti ini.”
Perlahan genggamanku merenggang, kemudian
aku berpindah ke samping Mizuhara. “Jangan menyerah, Mizu-chan. Semua
kemungkinan bisa saja terjadi. Percayalah, Yamada pasti bisa
bertahan lebih dari hipotesis dokter.” Aku menepuk pelan pundak Mizuhara.
“Arigatou ne, Chinen.” Ucap
Mizuhara. “Jadi, kau tadi kesini, ada apa?”
“Aku…” aku menengok ke arah Yuuri. “Aku
akan melupakannya. Mungkin ini yang lebih baik.”
“Eh?” Mizuhara mengernyit tak paham.
“Yuuri adalah kekuatan Yamada. Aku tidak ingin egois,” jawabku.
“Chinen, gomen ne.” Tampaknya
Mizuhara paham dengan apa yang baru saja kumaksudkan.
Aku mengukir segaris senyum, “Kalau begitu
traktir aku es krim strawberry di kedai sana, ya!” Aku menunjuk ke arah kedai
es krim tak jauh dari tempat kami.
“Sialan, aku serius, kau malah
menggodaku!” ia meninju lenganku pelan.
“Aaaah, ittai yo, nee-chan~!”
ucapku berpura-pura. Berselang kemudian tawa kami lepas bersamaan, mengisi
suara angin yang masih asyik berdesau sejak tadi.
**
Langit di atas sana masih biru sejak Yuuri
tidak lagi bersamaku. Meskipun aku masih sangat ingin bersamanya, aku tidak
akan egois. Meski aku bisa mencintai lebih banyak dari Yamada, Yuuri belum
tentu akan bahagia.
Seminggu yang lalu saat aku memutuskan
untuk melepaskan Yuuri sepenuhnya, aku berpikir bahwa jalan yang diberikan
Tuhan bagi kami begitu rumit. Jika Tuhan menginginkan aku bersama Yuuri kenapa
Ia membawa Yamada kembali? Jika Ia menakdirkan Yuuri sebagai ujung dari benang
merah Yamada, mengapa Ia membiarkan kami tahu hidup Yamada tidak lama lagi?
Sejak minggu lalu aku benar-benar berpikir
bahwa kadang Tuhan itu membingungkan. Aku merasa jadi begitu kecil. Banyak hal
yang disebut sebagai kenyataan, tapi aku tetap tidak mengerti. Kenapa jalan
yang dibuat Tuhan untuk manusia begitu sulit untuk ditebak? Sebagai manusia,
kupikir hanya menjalani semuanya untuk menemukan ujung dari rencana Tuhan
untukku.
“Chii!” sebuah suara familiar terdengar
dari arah belakang. Aku menoleh. Kudapati Yuuri berjalan terburu-buru ke
arahku. “Ah, syukurlah. Aku sudah mencarimu ke rumah, tapi bibi mengatakan kau
ke perpustakaan dua jam lalu.”
Aku mengangguk membenarkan pernyataannya
barusan.
“Bisa menemaniku ke suatu tempat?”
tanyanya.
“Eh?”
“Kumohon...,” pintanya. “Hanya minta
waktumu sebentar saja. Ok?”
Aku mengangguk tanda setuju. Segera aku
dan Yuuri berjalan beriringan menuju halte bus terdekat. Ada tempat yang
benar-benar ingin Yuuri kunjungi saat ini. Aku tahu kemana ia ingin pergi.
Semuanya terlihat jelas pada kedua manik matanya.
Sepanjang perjalanan aku hanya menggenggam
tali tas selempang yang kugunakan. Sebelumnya kami selalu bergandengan tangan
dan suasana seperti ini agak canggung ketika masa itu menghilang tiba-tiba
seperti ini. Yuuri juga tampak sedikit canggung dan hanya meletakkan kedua
tangannya ke dalam saku jaketnya. Ia jarang melakukannya kecuali musim dingin.
Ia pasti juga merasa tidak enak padaku. Maka dari itu, aku tidak akan bertanya.
Sebuah bus berhenti tepat di hadapan kami.
Yuuri melangkah masuk lebih dulu dan aku mengekor di belakangnya. Kami masih
diam untuk waktu yang lama sampai bus kembali melaju ke perhentian selanjutnya.
“Ne, Chii...,” Yuuri mulai membuka
pembicaraan. Aku menoleh. “Kadang aku merasa Tuhan benar-benar membingungkan.”
“Eh?” Aku terkejut mendengar ucapan Yuuri
barusan. Itu sama persis dengan apa yang kupikirkan sebelumnya. Bagaimana bisa?
“Apa Chii merasa aku adalah gadis yang
mudah jatuh cinta dan melepaskan?” tanyanya.
Aku berpikir sejenak. “Tidak juga. Aku
yakin siapapun juga tidak akan berpikir demikian.”
“Begitu?”
“Un,” aku mengangguk dan mengukir
segaris senyum. “Maka dari itu, jangan pernah melepaskan pria yang kau cintai lagi,
Yuuri-chan. Kau tidak boleh kehilangan dia dan bersedih lagi. Tuhan juga
pasti memiliki rencana yang indah bagi kalian.”
Yuuri tersenyum sambil mengamini setiap
ucapanku.
**
Aku dan Yuuri melangkah masuk ke dalam
gedung berlabel Rumah Sakit Jonan. Tidak ada alasan lain bagi Yuuri
memintaku menemaninya ke rumah sakit ini selain karena Yamada. Penyakit Yamada
terus berlangsung dan Yuuri tidak tahu sudah sejauh apa penyakit itu
menggerogoti pria itu.
“Shitsureishimasu,” kami masuk ke
dalam sebuah ruangan. Seorang dokter pria bernama Inoo Kei menyambut kami
dengan senyum tipis di dalam ruangannya. Ia lekas mempersilahkan kami masuk dan
duduk.
“Silahkan,” ucapnya.
“Sebenarnya bukan siapapun di antara kami
yang ingin melakukan pemeriksaan. Tapi, ini tentang teman kami.” Yuuri mencoba
membuka pembicaraan. “Ia memiliki kanker otak stadium lanjut. Seberapa lama ia
bisa bertahan, dokter?”
Dokter Inoo diam sejenak sebelum menjawab,
“Aku tidak bisa memprediksi sebelum memeriksanya secara langsung. Kalian bisa
membawanya jika ingin tahu.”
Yuuri diam, sedangkan aku tidak tahu harus
mengatakan apa. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu jatuh dari pelupuk mata gadis
itu. Yuuri menangis. Ya, hari ini setelah beberapa waktu lalu.
“Ia bahkan tidak tahu bahwa ia sedang sakit,”
Yuuri mulai terisak. “Setiap hari ia minum obat pereda sakit dan ia mengira itu
adalah vitamin. Itu sudah berlangsung begitu lama. Selama seminggu terakhir aku
menemaninya di rumah. Ia sering mengalami sakit kepala tiba-tiba dan kadang mimisan.
Hal itu terus terjadi setiap hari. Setiap satu hari bertambah, maka rasa sakitnya juga bertambah lebih banyak. Aku
bahkan berkali-kali bertanya pada diriku sendiri apa yang akan terjadi besok
padanya melihat kondisinya yang terus memburuk. Tapi, aku tidak tahu. Aku
benar-benar takut, dokter. Aku takut sekali...”
Tangan kanan Yuuri meremas tas selempangku
yang tersampir ke arah kiri. Aku mengulurkan tangan untuk menggenggam tangannya
yang mulai gemetar. Tampaknya ia agak shock menjelaskan apa yang terjadi
pada Yamada kepada Dokter Inoo.
Dokter Inoo masih diam mendengarkan,
sementara Yuuri kembali berbicara. “Aku ingin membawanya kemari bersamaku, tapi
aku tidak tahu bagaimana mengatakan padanya.”
“Aku menyarankan sebaiknya kalian lekas
mengatakan yang sebenarnya padanya,” Dokter Inoo mulai angkat bicara. “Kalian
tidak mungkin selamanya menyembunyikan penyakitnya yang semakin kentara, kan?”
“Kami akan mencoba berbicara dengan
keluarganya,” ucapku. “Semua orang menyembunyikan hal ini darinya, tentu aku
merasa itu tidak sepenuhnya benar. Kami akan mencoba berunding dengan
keluarganya lebih dulu, dokter.”
“Ya, silahkan.” Jawab Dokter Inoo
mengiyakan.
Aku mengangguk kemudian menepuk pundak
Yuuri pelan. Ia masih setengah terisak, tapi sudah lebih baik. Mungkin ini akan
menjadi berat baginya, tapi kurasa aku bisa membantunya dengan berada di
sisinya pelan-pelan. Sebagai seorang teman dari Kanazawa Yuuri.
.Come Back...
.to be continue~
wah ceritanya mulai memuncak nih,
BalasHapustapi ak rada sensi sama sikap Yuuri yg terlalu ehemm gampangan mungkin? #antiyangbegituan
Gomen~
Salut sama chii yg dewasa, yg gak ikut2an egois kyk Yuuri, kekeke
Ditunggu lanjutannyanya yah~