Title :
Greensleeves
Author :
Dita Chun © 2013
Length :
Oneshoot
Rating :
G [General]
Genre :
Romance, Slice of Life
Theme Song :
Mozart—Greensleeves
Main Cast :
*Aku
*Dia
Disclaimer :
This story inspired by the classical music by Mozart title Greensleeves. The
plot is from my own feeling.
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya
Note :
Gak tau apa yang udah aku tulis. Yang pasti waktu itu Irene bilang pengen
dibikinin cerita tentang Greensleeves. Tapi, karena dia belum ada kabar tentang
idenya, aku bikin ini aja. Judulnya Greensleeves juga karena aku nggak tau
harus dikasih judul yang gimana lagi. Happy reading, enjoy it, jangan lupa
komen! ^_
Hari itu mentari bersinar cerah, menembus
rerimbunan daun yang mulai menghijau satu-satu. Angin bertiup sepoi-sepoi dan
udara terasa sejuk. Tidak ada mendung bahkan hujan sekalipun. Ramalan cuaca
mengatakan bahwa hari itu akan menjadi hari yang cerah sampai akhir.
Hari itu, di bawah kilauan matahari di atas
bumi, aku menjumpainya. Dia berdiri di seberang zebra-cross menunggu lampu isyarat pejalan kaki berwarna hijau.
Sebuah headset melintang
menyambungkan ponsel di sakunya dengan kedua telinganya yang hampir tertutup
rambut-rambut halus. Sebuah lagu klasik mengalun dari dalam sana, kurasa. Aku
tak mampu mendengarnya bahkan mengetahuinya walau sedikit. Aku hanya
menyimpulkan atas observasi singkat yang baru saja kulakukan.
Bola matanya berwarna senada dengan batu onyx yang pernah kuketahui informasinya
lewat internet. Kelopak matanya terbuka dan tertutup dengan teratur.
Pandangannya sayu dan menenangkan. Nafasnya ringan dan langkahnya santai.
Bukankah orang-orang demikian tidak mungkin sedang mendengarkan musik rock?
Aku memang tidak pernah mengenalnya. Tidak
tahu siapa namanya, dari mana datangnya dan akan kemana perginya sosok itu. Itu
adalah kali pertama aku melihatnya. Tapi, aku merasa seperti sudah mengenalnya
cukup lama. Entahlah.
Di seberang zebra-cross dia menunggu untuk waktu yang lama. Detik jam berjalan
sangat lambat dari biasanya. Aku juga menunggu di seberang sini. Bukan menunggu
lampu isyarat sepertinya. Aku hanya sedang menunggu dia.
Aku keluar dari rumah dengan tanpa tujuan.
Kemudian aku menemukan tujuanku meski sekelumit. Aku ingin melihatnya lebih
dekat. Boleh?
Masih di seberang sana, dia membenarkan
letak headsetnya yang mulai miring.
Setelah itu dia merapatkan sedikit resleting jaket hijau yang sedang
dikenakannya. Mungkin suhu mulai turun beberapa derajat, aku tidak tahu pasti.
Yang kutahu ini masih awal pergantian musim dingin ke musim semi.
Lampu lalu lintas berganti merah dan lampu
isyarat pejalan kaki menyala dengan warna sebaliknya. Kaki kirinya melangkah
lebih dulu sebelum kaki kanannya. Langkahnya mantap, tapi tetap ringan. Kedua
kakinya menapaki satu-satu garis putih di atas aspal. Dia tidak terlihat
terburu-buru.
Aku melangkah tiga kali dari tempatku
semula. Dia tampak semakin dekat, hampir mencapai pertengahan zebra-cross. Aku kembali menepis jarak
di antara kami berdua. Dia masih melangkah, mengabaikan keberadaanku yang
semakin mendekat.
Sejenak dia berhenti untuk menyingkap
sedikit lengan hijau jaketnya. Mungkin tangannya terasa panas. Aku kadang
melakukannya juga, tapi tidak sering.
Dia kembali melangkah. Jarak kami semakin
dekat. Aku hampir sampai di dekatnya. Ya, sedikit lagi.
Aroma olive
fragrance menyeruak ketika kami bersimpangan. Aku melihat kedua matanya
melirik padaku meski sebentar. Musik klasik dari Mozart berjudul Greensleeves terdengar samar-samar
ketika aku mempertajam pendengaranku. Aku benar. Dia memang sedang mendengarkan
musik klasik dan aku mengenali musiknya. Kadang aku merasa bahwa memperhatikan
orang lain terlalu lama seperti ini akan sedikit mengganggu. Tapi, aku tidak
peduli. Karena kurasa aku mulai menyukainya.
Brakh!
Aku tidak tahu apa yang salah denganku atau
apa yang salah dengannya. Ketika aku menengok ke belakang dimana ia baru saja
melewatiku, aku tak menjumpai sosoknya berdiri di sana lagi. Langkahnya yang
mantap tak terlihat sama sekali. Aku hanya melihat sebuah mobil berhenti di
tengah-tengah zebra-cross dan
seonggok manusia di atas trotoar jalan dengan darah meluber dari puncak
kepalanya yang bocor.
Matanya menatap kuat ke arahku tanpa
berkedip meskipun sedikit. Dadanya tidak lagi naik turun untuk bernafas. Headset di telinganya sudah berpindah di
sisi kanan trotoar dan jaket hijau miliknya sudah tak hijau lagi bersimbah
darah. Olive fragrance yang baru saja
terkuar dari tubuhnya melenyap pelan-pelan berganti aroma anyir dari darah yang
enggan berhenti meluber.
Apa yang salah, haruskah aku bertanya pada
Tuhan?
Aku hanya menebak-nebak tentang dirinya.
Ya, baru saja sebelum mobil itu merampas nyawa manusia yang begitu berharga tersebut.
Ketika aku ingin tahu tanpa menebak-nebak lagi, kenapa Tuhan mengambilnya di
depan mataku?
Lututku gemetar, tidak tahu rasa sakit apa
yang kini tengah merayapi tubuhku. Klakson-klakson kendaraan bermotor
menghujani indra pendengaranku. Tapi, yang jauh lebih kuat terdengar dalam
telingaku adalah suaranya yang pertama dan terakhir kali kudengar.
“Greensleeves...”
Tubuhku terus melemas hingga kedua kakiku
tak lagi mampu menopang tubuhku. Aku terhuyung ke atas aspal jalan yang kasar.
Terasa panas pada tubuh dan wajahku. Aku masih terpaku di atas bumi. Kedua
mataku terus menyelami kedua matanya yang masih menatapku tajam. Sambil
berlinang air mata, aku hanya sanggup mengungkap satu kalimat padanya.
“Selamat jalan...”
Pandanganku meremang dan menggelap. Hanya
hitam yang kulihat setelah itu.
The End
sasuga, dita-chan no fanfic~ dr awal ak udah ngira bakal begini, hehe
BalasHapusak suka susunan kalimatnya, diksinya bagus dan tepat lho :)
keep witing yah :D
wah kata-katanya keren banget..
BalasHapusaku selalu suka cara penulisan Dita
walau pendek banget sih ini hehe
huahhh kasian banget di tabrak >.<
Uwah~! Sudah lama aku tidak ke sini! *o*
BalasHapusAda Fic baru lagi deh. x3
Huwaa... Entah kenapa aku ngebayangin cowok itu si Ryosuke lho.. ;_;
Figurenya cocok. x3
Keren, keren! x3
Aah... Sayang banget kalau terakhirnya meninggal nyun. Ini juga random amat tokohnya. x3
Yey! Bikin fanfic lagi? xD
-Annabeth
Asik banget dinikmati... kata-katanya bikin nyaman di mata....
BalasHapus