Kamis, 08 Agustus 2013

Soul [Chapter I]

Title      : Soul (Story kolaborasi with Tania Jumpers’Elf)
Author  : Dita Chun © 2012
Part      : 1
Genre   : Romance, Fantasy
Music    : Tommorow’s Way by Yui
Rating   : PG +13
POV      : Author
Cast     :
Hanazawa Ryuu (L)
Hanazawa Yuu (L)
Matsumura Kanzaki  (L)
Kanazawa Yuuri (P)
Mizuhara Karin (P)

karena masih ada yang bingung tentang OC-OC ini maka saya buat L dan P d part 1 supaya readers bisa mengerti apa jenis kelamin mereka XD
L = laki-laki
P = perempuan




.

.

   “Nii-chan? (kakak)”

   “Ryuu-chan, ada apa?”

   “Aku sangat merindukanmu, nii-chan.”

   “Demo (tapi), kita sudah berbeda, Ryuu-chan.”

   “Kenapa nii-chan selalu mengatakan hal itu dan hal itu?!”

   “Jangan mempersulit kehidupan kita, Ryuu-chan.”

   “Kalau begitu kembalilah kesini! Kembalilah!”

   “Kau yakin?”

   “Apa maksudmu?”

   “Ada satu cara. Aku akan kembali ke kehidupanmu.”

   “Eh?”

   “Kau yakin? Kau tidak akan menyesal?”

   “Iie… (tidak) Aku yakin. Kembalilah… Nii-chan…”

.

.

   “Ahh!” pekik Ryuu sejenak. Sedetik kemudian ia terdiam. Membiarkan udara yang memburu itu bergiliran masuk dan keluar. Nafasnya benar-benar terengah-engah.

   “Ryuu-chan, daijobou desu ka? (kau baik-baik saja?)” tanya Okaa-san (ibu) sambil memegang kening Ryuu. Dilihatnya tubuh Ryuu yang sudah basah dengan keringat.

   “Nande? (ada apa?)” tanya Okaa-san lagi. Ryuu masih terdiam.

   “Ryuu-chan?” ucap Okaa-san lagi.

   “Eh?” kali ini Ryuu benar-benar telah kembali sadar.

   “Daijobou desu ka? (kau baik-baik saja?)” tanya Okaa-san mengulang. Ryuu hanya mengangguk pelan. Okaa-san nyaris saja meninggalkan kamar Ryuu kalau saja ia tidak memanggil Okaa-san nya.

   “Anoo… Okaa-san,” panggil Ryuu pelan. Okaa-san menoleh.

   “Sebenarnya aku dan nii-chan…” ingin sekali rasanya ia bercerita pada Okaa-san nya. Tentang segalanya. Semua kenyataan yang terjadi.

   “Arrghhh…! Argghh…! Nii…!! Chan…!! Aaarghh…!!” rasa sakit menyerang kepala Ryuu seketika. Selalu. Selalu ini yang terjadi setiap ia akan menceritakan segalanya. Rasa sakit yang tiada tara hingga membuatnya tak sadarkan diri.

   “Ryuu-chan..! Ryuu-chan…!” Okaa-san yang panik seketika menampar-nampar pelan pipi Ryuu.

   “Bangunlah, Ryuu-chan… Ryuu-chan…” panggil Okaa-san lagi. Namun, tak ada tanggapan apapun dari Ryuu.

   “Otoo-san! (ayah) Otoo-san!” Okaa-san mencoba memanggil Otoo-san yang kebetulan hari ini sedang libur kerja.

   “Nani? (ada apa?)” tanya Otoo-san panik ketika sampai di kamar Ryuu.

   “Ryuu? Apa yang terjadi?” tanya Otoo-san melihat Ryuu di pelukan Okaa-san.

   “Dia kambuh lagi,” jawab Okaa-san lalu mengisyaratkan Otoo-san agar lekas membawanya ke rumah sakit.

******

   “Dokter, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa itu bisa menimpa Ryuu?” Okaa-san lekas memburu dokter yang menangani Ryuu. Dokter itu melepaskan stetoskop yang melingkar di lehernya. Ia menghela nafas sejenak lalu mulai berbicara.

   “Tidak ada tanda-tanda penyakit yang terdeteksi. Ini aneh. Seperti gejala shock berulang. Tapi, ini sudah berjalan setahun lebih,” ucap dokter itu. Ia tampak berpikir keras.

   “Aku tidak pernah menjumpai penyakit semacam ini. Apa kau merasa ada yang aneh pada Ryuu belakangan? Apa dia stress? Bisa saja itu yang menyebabkan gangguan di otaknya,” ucap dokter.

   “Kurasa ada, dok. Setahun belakangan Ryuu tampak sedikit aneh. Emosinya agak sulit terkontrol. Padahal dia itu anak yang pendiam. Tapi, di waktu yang tak pasti emosinya sangat cepat naik. Apa kira-kira ini ada hubungannya?” tanya Okaa-san. Dokter itu tampak berpikir sejenak.

   “Entahlah. Bisa saja ya. Bisa juga tidak. Karena kondisi masing-masing pasien berbeda,” jawab dokter itu meragu.

   “Okaa-san…” terdengar suara dari sisi pintu.

   “Ryuu-chan!” sontak Okaa-san panik karena ia tahu benar kondisi Ryuu belum sepenuhnya stabil. Ia menghampiri Ryuu dan menuntunnya duduk di sofa.

   “Kenapa kau keluar?” tanya Okaa-san lembut.

   “Iie (tidak). Aku merasa sudah baikan. Okaa-san, kita pulang?” ucap Ryuu melemah. Tatapannya tampak sayu. Khas perangai Ryuu. Berbeda dengan  tatapannya beberapa hari silam yang tampak aneh. Kali ini Ryuu sudah tampak seperti biasanya.

   “Kau yakin?” tanya Okaa-san. Ryuu hanya mengangguk.

   “Kumohon…” ucap Ryuu dengan ekspresi yang sama. Begitu teduh.

   “Dokter…” Okaa-san mengalihkan pandangannya pada dokter itu. Dokter itu hanya mengangguk mengiyakan.

   “Baiklah.”

   “Arigatou (terima kasih), Okaa-san,” kali ini Ryuu tersenyum.

   “Oh ya, tadi ada yang ingin kau katakan? Ada apa dengan nii-chan mu?” tanya Okaa-san berusaha mengingat-ingat kejadian tadi pagi.

   “I… Iie… Daijobou… (tidak, tidak apa)” jawab Ryuu tergagap.

   “Nii-chan… gomen ne~ (maaf)” ucap Ryuu dalam hati. Ia berusaha menahan kenyataan yang ada di dalam dirinya. Ryuu dan Yuu… Dua jiwa itu ada di dalam satu tubuh yang sama. Dalam tubuh Ryuu. Ryuu dan Yuu yang memiliki emosi berbeda. Dan Yuu yang perlahan-lahan tampak selalu haus ingin memakai tubuh Yuu sebagai pengganti tubuhnya yang telah tiada, semakin membuat Ryuu menderita.. Ryuu dan Yuu…

******

   Ryuu masih terdiam menatap air hujan yang membasahi jendela kamarnya. Ia merenung sejenak. Meski ia tahu apa yang dipikirkannya itu pastilah akan diketahui oleh Yuu.

   “Nii-chan, doushite? (kenapa?) Kenapa semua jadi begini?” gumam Ryuu pelan.

   ‘Bertahanlah Ryuu-chan… Bertahanlah… Sebentar lagi waktu itu akan tiba… Bertahanlah… Hanya sebentar…’ terdengar samar-samar suara Yuu.

   ‘Sampai kapan, nii-chan? Sampai kapan? Kenapa aku merasa kau semakin menggerogoti tubuhku?’ batin Ryuu. Ia berharap nii-chan nya mendengarnya.

   ‘Pasti akan segera tiba Ryuu… Akan segera tiba… Bersabarlah… Aku hanya meminjam tubuhmu sebentar saja… Sebentar…’ balas Yuu dengan suara khasnya. Suara yang benar-benar ia rindukan. Terbayang lagi wajah Yuu di kepala Ryuu.

.

.

   “Nii-chan, kau begitu popular!”

   “Ehh? Ryuu-chan, kau ini apa-apaan? Memangnya kau fans ku?”

   “Hai’! (ya) Aku fans mu! Hanazawa Yuu-kun!”

   “Dasar… Baka! (bodoh)”

   “Eh? Kenapa kau selalu memanggilku ‘baka’? (bodoh) Aku tidak suka!”

   “Kamawanai~ (aku tidak peduli) Ryuu-chan no baka… (Ryuu bodoh)”

   “Nii-chan!”

   “Hahaha… Gomen na~ gomen… (maaf, maaf) Aku bercanda, Ryuu no baka… (Ryuu bodoh)”

   “Nii-chan!”

.

.

   ‘Ryuu-chan, rupanya kau masih ingat itu?’ suara Yuu seketika membuyarkan lamunan Ryuu.

   “Aku tidak pernah lupa, nii-chan… Kau yang popular sejak awal SMA… Dikelilingi puluhan gadis-gadis cantik yang menunggumu di gerbang…” ucap Ryuu mengingat-ingat kejadian tiga tahun lalu.

   ‘Stop, Ryuu! Hentikan!’ bentak Yuu membuat Ryuu terdiam seketika.

   “Gomen na~ demo, (maaf, tapi) kau tidak mungkin melupakan semua hal itu kan? Nii-chan?” ucap Ryuu.

   ‘Diamlah seperti biasanya!’ balas Yuu.

   “Hai’… (ya)” jawab Ryuu menyerah lalu kembali menyibukkan diri dengan buku-bukunya.

.

.

   “Demo (tapi), Ryuu… Kau tidak bisa menceritakan  tentang hal ini kepada siapapun… Kalau tidak, sesuatu yang buruk akan menimpamu. Kau mengerti?”

   “Hai’ (ya). Aku mengerti.”

.

.

   ‘Bersabarlah, Ryuu… Sedikit lagi… Waktu itu pasti tiba… Pasti akan segera tiba…’ batin Ryuu mengulang kalimat Yuu.

******

.

BRAKH!

.

   “Kameda, kau curang, kan?!” keributan seketika terjadi di ruang kelas 2b. Teriakan seorang gadis yang membahana itu cukup menggemparkan seisi kelas di hari sepagi ini.

   “A… Apa maksudmu?” siswa laki-laki yang disebut Kameda itu menjawab dengan gugup.

.

BRAKH!

.

   “Kau sudah ketahuan malah tidak mengaku! Ikut aku! Cepat!” gadis itu lekas menarik kerah kemeja Kameda entah kemana. Ryuu yang sedari tadi memperhatikan tingkah gadis itu sejak awal mengikuti kemana mereka pergi.

   “Ma… Mau apa kau bawa aku ke kamar mandi?” tanya Kameda dengan nada yang sama.

   “Mau membunuhmu, kau tahu?!” bentak gadis itu.

   “Kau pikir aku tidak tahu! Kau itu berlari lima mil saja tidak bisa, mana bisa kau memenangkan pertandingan marathon itu? Kau pasti curang, kan?!” lanjutnya.

   ‘Ryuu-chan, apa yang kau lakukan? Kau menyukainya?’ suara Yuu kembali bergema di telinga Ryuu.

   ‘Sudahlah…’ batin Ryuu lalu pergi dari tempat itu.

   ‘Kau juga tahu kalau Kameda curang, kan? Kenapa tidak kau yang bilang sejak awal?’ ucap Yuu.

   ‘Tidak mungkin. Menurutku itu tidak begitu penting. Itu, kan hanya pertandingan marathon.’

   ‘Benarkah? Apa obsesimu dengan marathon sudah berakhir? Sejak kapan?’

   “Diamlah, nii-chan!!” seru Ryuu keras tanpa sadar membuat orang-orang di sekelilingnya terkejut.

   “Ryuu-kun? Daijobou desu ka? (kau baik-baik saja?)” tanya Matsumura Kanzaki, salah seorang senpai Ryuu.

   “I… Iie, senpai (tidak, senior). Daijobou (tidak apa-apa),” jawab Ryuu agak panik.

   “Hontou? (sungguh?)” tanya Kanzaki meyakinkan. Ryuu hanya mengangguk. Kanzaki mengacak-acak rambut Ryuu sejenak.

   “Kau tahu aku dulu dekat dengan nii-chan mu… Kalau kau ada masalah, kau bisa cerita padaku,” ucap Kanzaki berusaha menenangkan Ryuu.

   “Hai’. Arigatou, senpai… (ya. terima kasih, senior)” ucap Ryuu tertunduk. Kanzaki hanya tersenyum simpul.

   “Matsumura, Danzo sensei mencarimu,” seorang siswa laki-laki berambut kemerahan menghampiri Kanzaki.

   “Ada apa?” tanya Kanzaki.

   “Aku tidak tahu.”

   “Ano… Ryuu-kun, aku pergi dulu. Jaa ne… (bye)” ucap Kanzaki kemudian berlalu dari hadapan Ryuu. Ryuu hanya bisa diam menatap punggung yang kian lama kian hilang ditelan kelokan itu.

******

   “Mizuhara-san… Ini adalah kamarmu di asrama ini. Kau akan sekamar dengan Kanazawa-san. Kanazawa Yuuri,” ucap Ayaka sensei begitu mereka sampai di depan kamar nomor 104. Ia menjelaskan sedikit pada Karin tentang kamar yang akan ditempatinya itu. Sejenak kemudian Ayaka sensei meninggalkan Karin sendirian. Karin masih sibuk mengamati kamar itu. Ia tersenyum sekilas. Dengan langkah yakin, ia mulai memasuki kamar itu.

   “Shitsureishimasu… (permisi)” ucap Karin ramah. Tak ada jawaban. Hening.
Karin segera meletakkan kopernya di sisi lemari di kamar itu. Ia tertegun melihat begitu rusuhnya kamar itu. Semua barang berantakan.

   “Eh?” hanya itu reaksi Karin yang pertama kali dalam hidupnya menyaksikan betapa berantakannya kamar di asrama perempuan.

.

CKLEK!

.

Karin menoleh ke arah pintu. Seorang gadis manis agak sedikit lebih tinggi darinya masuk ke kamarnya. Wajahnya tampak begitu suram. Mereka berdua tampak terkejut bersamaan begitu pandangan mereka saling bertemu.

   “Ehh? Dare? (siapa?)” tanya gadis itu.

   “Ano… Mizuhara Karin desu. Aku siswi baru di sekolah ini. Yoroshiku (nice to meet you),” ucap Karin.

   “Siswi baru?” kali ini gadis itu mengangguk-angguk mengerti.

   “Kau… Kanazawa Yuuri?” tanya Karin meyakinkan.

   “Hai’! Yoroshiku mo! (ya! nice to meet you)” gadis bernama Yuuri itu mengembangkan seulas senyum.





.TO BE CONTINUE~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar