Title : Yoroshiku,
Jiro~kun… (Nice to Meet You, Jiro)
Author :
Dita Chun
Genre :
Romance >< Thriller *mgkn sedikit*
Part : 1
Music :
Hikari, Ganbaretsugo!, Hitomi no Screen
Cast :
Nabila Kurosawa [OC]
Jiro Wang as Jiro Shinichi
Yamada Ryosuke as Yamada Ryosuke
All member Fahrenheit
All member Hey! Say! JUMP
Seorang gadis
bertubuh mungil masih terpaku di tepi danau sambil menangis. Bukannya semakin
mereda, tangisnya justru kian lama kian meradang. Sementara siswa laki-laki
yang sedari tadi hanya berdiri dengan diam tak jauh dari tempat gadis itu hanya
terus mematung, menyaksikan drama tragedi yang diperankan teman sekaligus
majikannya itu. Ia hanya memandang datar pada gadis itu. Tak ada ekspresi
apapun yang tampak dari wajahnya. 10 menit… 15 menit… 20 menit… Waktu terus
berjalan begitu saja… Kini mulai muncul ekspresi pada wajah cowok itu. Matanya
tampak sayu. Sekali-kali ia menengok jam tangannya yang detik dan menitnya tak
mau berhenti berjalan.
“Bisakah kau
mempercepat durasi menangismu? Aku capek melihat dramamu yang terlalu mellow
ini… Hoahmm…” cowok itu mulai menguap menahan kantuk yang sudah mulai
menyergapnya.
“Jiro~kun…!!
Hiks…. Kenapa kau berkata seperti itu?! Tidak bisakah kau mengucapkan kalimat
yang lebih manis…?! Hiks…” bersama dengan cara bicara gadis itu yang agak
terbata-bata, tangisnya mulai mereda. Tak ada tanggapan dari Jiro. Lama ia
menunggu Jiro berbicara, namun tak ada suara sama sekali terdengar. Ia menoleh
ke tempat Jiro berdiri. Di temukannya Jiro tengah berdiri dengan mata terpejam,
dilipat pula kedua tangannya di depan dada untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Kini, gadis itu mulai beranjak mendekati Jiro. Ia berdiri tepat di samping
Jiro.
“JIRO~KUN…!!!”
teriak gadis itu tepat di telinga kanan Jiro. Membuat Jiro seketika terhempas
dari tempatnya semula. Jiro terbangun cepat dari tidurnya begitu mendengar
suara menggelegar yang nyaris membelah gendang telinganya.
“Hei, NONA,
bisakah kau sedikit mengecilkan volume suaramu yang bagaikan petir menggelegar
di siang bolong tanpa hujan maupun badai itu?” ucap Jiro cepat dengan nada
bicara khasnya.
“BAKA!!
(Bodoh)” teriak gadis itu sejenak sebelum meninggalkan Jiro dengan geram.
“Astaga…!!
Kenapa aku bisa dapat majikan macam itu ya?!” geram Jiro lalu bergegas menyusul
perginya gadis itu.
“Nabila~chan…!
Nabila~chan…!” teriak Jiro mulai mencari-cari Nabila yang tak terdeteksi
sedikit pun batang hidungnya.
“Hiks…”
terdengar suara isakan tak asing di dekat tempat Jiro berdiri. Ia menoleh ke
belakang. Sebuah pohon beringin tua dengan akar menjuntai nyaris menyapu tanah
tampak di mata Jiro. Ia tak lagi menduga-duga namun segera menghampiri suara
tersebut. Benar.
“Nabila~chan…”
ia memanggil gadis yang tengah duduk di belakang pohon beringin itu dengan
lembut. Sementara gadis yang dipanggil Nabila~chan itu pun menoleh.
“Gomen ne…
(maaf)” gumam Jiro pelan. Jiro segera duduk di samping Nabila. Ia menghela
nafas pelan.
“Kau tidak
seharusnya menangis hanya karena ditolak mentah-mentah Hikaru Yaotome…!” ucap
Jiro menekan sedikit kata ‘ditolak mentah-mentah’.
BUGH…!
Nabila
menjitak kepala Jiro agak keras. Ia memanyunkan bibirnya dengan sangat
sempurna.
“Kau pria,
mana tahu perasaan gadis!” seru Nabila.
“Kau selalu
mengatakan itu tiap ditolak pria…” ucap Jiro.
“Tidak juga!
Kau terlalu sok tahu!” Nabila bangkit dari tempatnya duduk semula diikuti Jiro.
“Aku tidak
sok tahu, aku memang tahu! Kau sudah menyatakan cinta pada Chinen Yuuri,
Okamoto Keito, Morimoto Ryutaro, Nakajima Yuto, Inoo Kei, dan Hikaru Yaotome.
Kira-kira enam kali banyaknya dan sebanyak itu pula kau ditolak,” Jiro mencoba
berargumentasi. Wajah Nabila seketika merah padam. Ia hendak pergi dari hadapan
Jiro, namun Jiro menahannya.
“Jangan
berpikir negative tentang argumenku… Coba belajarlah dari pengalaman… Kau baru
dua tahun masuk sekolah ini dan mudah
sekali menyatakan cinta pada temanmu. Kenapa mereka menolakmu, jawabannya ada
pada dirimu sendiri,” ucap Jiro masih terus menggenggam kuat lengan Nabila.
Nabila menatap Jiro tajam.
“…cat…” gumam
Nabila tak jelas.
“Eh?” tanya
Jiro.
“Kau
kupecat…!” ulang Nabila. Kali ini dengan suara amat keras lalu berlari
meninggalkan Jiro.
“EHHH???”
Jiro yang shock berat karena kalimat Nabila hanya dapat berteriak demikian.
Nabila sudah hilang ditelan keramaian.
******
Drrtt…
Drrrtt….
.
.
Ai
wo sagashite tabi wo suru hikari wa
Mune
ni egaku mirai e tsuzuiteku darou
Tamerau
tobira wo aketa nara
Atarashii
ashita e to arukidaseru
.
.
06.34
.
.
Nabila membuka mata, dilihatnya jam di atas meja
belajarnya masih menunjukkan waktu yang dapat dikatakan cukup pagi. Ia
terbangun karena ponselnya terus berdering sejak tadi. Ponsel yang terus
menerus bergetar dan berdering itu terus bergeser dari tempatnya semula. Nabila
memandangnya dengan malas.
“Pasti itu Jiro~kun…”
pikirnya. Ia memejamkan mata kembali lalu dengan cepat menutup telinganya
dengan bantal. Namun, si penelepon tetap keukeuh sehingga ponsel itu
terus-menerus berdering.
“Berisik!!”
teriak Nabila akhirnya. Kemudian ia menghampiri ponselnya. Tertera dengan jelas
nama Yamada Ryosuke di balik layar LCD yang terus berkedap-kedip.
“Ehh??” raut
wajah Nabila yang suntuk berubah menjadi bersemangat. Dengan segera diangkatnya
telepon tersebut.
“Moshi-moshi…
(hallo)” sapa Nabila.
“Ano… Gomen
(emm… maaf) mengganggu tidurmu…” ucap Yamada dari seberang.
“Iie (tidak)
Ada apa kau menelepon sepagi ini?” tanya Nabila.
“Ano… Maukah
kau jalan denganku hari ini?” tanya Yamada yang membuat Nabila terkejut.
“Eh?”
“Kau tidak
mau ya?” tanya Yamada, nada bicaranya turun satu oktaf.
“Ah, bukan
begitu. Baiklah. Jam berapa?” tanya Nabila.
“Bagaimana
jika kita bertemu di air mancur Hazigawa jam sembilan?” tanya Yamada.
“Hai’!
(baik)” jawab Nabila.
“Baiklah,
bye.” salam Yamada kemudian menutup telepon.
“Aku dapat
kencan…!!!” seru Nabila girang. Ia melompat-lompat di atas kasur karena terlalu
bahagia. Ini adalah pertama kalinya ia diundang kencan oleh laki-laki. Apalagi
itu Yamada Ryosuke. Cowok yang selama ini dipikir Nabila tidak mungkin
menyukainya.
“Yama~kun,
aishiteru ne…!! (Yama, aku
menyukaimu…!!)” seru Nabila.
******
Pagi ini Jiro bangun cukup pagi. Ia masih teringat
kata-kata Nabila.
“Kau…
kupecat!” kalimat itu terus bergema di telinga Jiro.
“Kalau aku
dipecat, aku tinggal dimana nantinya? Aku tidak punya banyak uang untuk menyewa
tempat tinggal. Aku harus bernegoisasi dengan gadis itu!” batin Jiro. Ia segera
mandi dan ganti pakaian. Tubuhnya yang berbalut kemeja putih dan vest hitam
lengkap dengan dasi pita dan celana panjangnya tampak sangat keren dan dewasa.
Tubuhnya yang tinggi semampai dan tegap membangun sosok pria berkharisma pada
tiap pasang mata yang memandangnya. Itu hanyalah seragam kerja yang dipakainya
tiap hari libur sekolah. Pria bernama Jiro Sinichi ini sudah dua tahun bekerja
menjadi bodyguard Nabila Kurosawa, tinggal di rumahnya, menumpang dalam segala
hal, sekolah pun di tempat yang sama dan di kelas yang sama. Seluruh biaya
hidup Jiro ditanggung oleh ayah Nabila. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Jiro
disini tak punya apapun. Wajar jika dia sangat terkejut mendengar majikannya
berkata jika dia akan dipecat.
Jiro melangkah menuju kamar Nabila. Dalam hati ia
terus berdo’a agar Nabila batal memecatnya. Ia hendak bernegoisasi dengan
majikannya itu kali ini.
.
.
TOK
TOK
TOK
.
.
Sudah berkali-kali Jiro mengetuk pintu kamar Nabila,
namun tak ada sahutan sama sekali dari dalam. Ia mencoba membuka pintu itu.
Tidak dikunci.
“Nabila~chan!
Kau di dalam?” panggil Jiro. Tak ada sahutan sama sekali dari Nabila.
“Nabila~chan!
Hallo~” panggil Jiro lagi sambil berjalan mengelilingi kamar itu.
“Dare?
(siapa?)” terdengar suara teriakan Nabila dari ruang ganti.
“Jiro
Sinichi,” jawab Jiro. Nabila segera keluar dari ruang ganti.
“Nani?
(ada apa?)” tanya Nabila sinis.
“Ada hal yang
mau kubicarakan denganmu,” ucap Jiro.
“Gomen, aku
sibuk hari ini!” Nabila duduk di depan meja rias.
“Kau tampak
rapi, mau kemana?” tanya Jiro melihat Nabila yang telah berpakaian rapi sepagi
ini.
“Aku ada
kencan!” jawab Nabila sinis.
“Kencan?
Dengan siapa?” tanya Jiro terkejut karena ini pertama kalinya.
“Yamada
Ryosuke… Pastikan kau mengemasi barang-barangmu hari ini,” ucap Nabila kasar
dan hendak keluar dari kamarnya. Namun, Jiro berdiri di depan pintu sambil
merentangkan kedua tangannya.
“Tidak bisa!”
seru Jiro menghalangi Nabila keluar.
“Minggir!”
seru Nabila.
“Aku tidak
akan minggir sebelum kau bilang aku tidak akan dipecat!” keukeuh Jiro.
“Aku tidak
mau,” jawab Nabila datar.
“Kau harus
mau!” paksa Jiro.
“Aku akan
katakan pada Otoo-san agar kau dipecat! Tidak berguna!” ucap Nabila kasar. Jiro
hanya berusaha mengendalikan emosinya yang sudah meluap-luap.
“Baik! Kalau
itu maumu! Buktikan kalau kau bisa pergi dan pulang dengan selamat tanpa
bodyguard sepertiku!” ucap Jiro lalu
berlalu dari hadapan Nabila.
“Baka!
(bodoh)” teriak Nabila lalu segera keluar dari kamar dan menuju ke Hazigawa.
COMMENT PLISS!!! ^o^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar