Kamis, 08 Agustus 2013

Yoroshiku, Jiro-kun... [Chapter I]

Title            : Yoroshiku, Jiro~kun… (Nice to Meet You, Jiro)
Author        : Dita Chun
Genre          : Romance >< Thriller *mgkn sedikit*
Part              : 1
Music          : Hikari, Ganbaretsugo!, Hitomi no Screen
Cast  :
Nabila Kurosawa [OC]
Jiro Wang as Jiro Shinichi
Yamada Ryosuke as Yamada Ryosuke
All member Fahrenheit
All member Hey! Say! JUMP





  Seorang gadis bertubuh mungil masih terpaku di tepi danau sambil menangis. Bukannya semakin mereda, tangisnya justru kian lama kian meradang. Sementara siswa laki-laki yang sedari tadi hanya berdiri dengan diam tak jauh dari tempat gadis itu hanya terus mematung, menyaksikan drama tragedi yang diperankan teman sekaligus majikannya itu. Ia hanya memandang datar pada gadis itu. Tak ada ekspresi apapun yang tampak dari wajahnya. 10 menit… 15 menit… 20 menit… Waktu terus berjalan begitu saja… Kini mulai muncul ekspresi pada wajah cowok itu. Matanya tampak sayu. Sekali-kali ia menengok jam tangannya yang detik dan menitnya tak mau berhenti berjalan.

  “Bisakah kau mempercepat durasi menangismu? Aku capek melihat dramamu yang terlalu mellow ini… Hoahmm…” cowok itu mulai menguap menahan kantuk yang sudah mulai menyergapnya.

  “Jiro~kun…!! Hiks…. Kenapa kau berkata seperti itu?! Tidak bisakah kau mengucapkan kalimat yang lebih manis…?! Hiks…” bersama dengan cara bicara gadis itu yang agak terbata-bata, tangisnya mulai mereda. Tak ada tanggapan dari Jiro. Lama ia menunggu Jiro berbicara, namun tak ada suara sama sekali terdengar. Ia menoleh ke tempat Jiro berdiri. Di temukannya Jiro tengah berdiri dengan mata terpejam, dilipat pula kedua tangannya di depan dada untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Kini, gadis itu mulai beranjak mendekati Jiro. Ia berdiri tepat di samping Jiro.

  “JIRO~KUN…!!!” teriak gadis itu tepat di telinga kanan Jiro. Membuat Jiro seketika terhempas dari tempatnya semula. Jiro terbangun cepat dari tidurnya begitu mendengar suara menggelegar yang nyaris membelah gendang telinganya.

  “Hei, NONA, bisakah kau sedikit mengecilkan volume suaramu yang bagaikan petir menggelegar di siang bolong tanpa hujan maupun badai itu?” ucap Jiro cepat dengan nada bicara khasnya.

  “BAKA!! (Bodoh)” teriak gadis itu sejenak sebelum meninggalkan Jiro dengan geram.

  “Astaga…!! Kenapa aku bisa dapat majikan macam itu ya?!” geram Jiro lalu bergegas menyusul perginya gadis itu.

  “Nabila~chan…! Nabila~chan…!” teriak Jiro mulai mencari-cari Nabila yang tak terdeteksi sedikit pun batang hidungnya.

  “Hiks…” terdengar suara isakan tak asing di dekat tempat Jiro berdiri. Ia menoleh ke belakang. Sebuah pohon beringin tua dengan akar menjuntai nyaris menyapu tanah tampak di mata Jiro. Ia tak lagi menduga-duga namun segera menghampiri suara tersebut. Benar.

  “Nabila~chan…” ia memanggil gadis yang tengah duduk di belakang pohon beringin itu dengan lembut. Sementara gadis yang dipanggil Nabila~chan itu pun menoleh.

  “Gomen ne… (maaf)” gumam Jiro pelan. Jiro segera duduk di samping Nabila. Ia menghela nafas pelan.

  “Kau tidak seharusnya menangis hanya karena ditolak mentah-mentah Hikaru Yaotome…!” ucap Jiro menekan sedikit kata ‘ditolak mentah-mentah’.

BUGH…!

Nabila  menjitak kepala Jiro agak keras. Ia memanyunkan bibirnya dengan sangat sempurna.

  “Kau pria, mana tahu perasaan gadis!” seru Nabila.

  “Kau selalu mengatakan itu tiap ditolak pria…” ucap Jiro.

  “Tidak juga! Kau terlalu sok tahu!” Nabila bangkit dari tempatnya duduk semula diikuti Jiro.

  “Aku tidak sok tahu, aku memang tahu! Kau sudah menyatakan cinta pada Chinen Yuuri, Okamoto Keito, Morimoto Ryutaro, Nakajima Yuto, Inoo Kei, dan Hikaru Yaotome. Kira-kira enam kali banyaknya dan sebanyak itu pula kau ditolak,” Jiro mencoba berargumentasi. Wajah Nabila seketika merah padam. Ia hendak pergi dari hadapan Jiro, namun Jiro menahannya.

  “Jangan berpikir negative tentang argumenku… Coba belajarlah dari pengalaman… Kau baru dua tahun masuk sekolah ini  dan mudah sekali menyatakan cinta pada temanmu. Kenapa mereka menolakmu, jawabannya ada pada dirimu sendiri,” ucap Jiro masih terus menggenggam kuat lengan Nabila. Nabila menatap Jiro tajam.

  “…cat…” gumam Nabila tak jelas.

  “Eh?” tanya Jiro.

  “Kau kupecat…!” ulang Nabila. Kali ini dengan suara amat keras lalu berlari meninggalkan Jiro.

  “EHHH???” Jiro yang shock berat karena kalimat Nabila hanya dapat berteriak demikian. Nabila sudah hilang ditelan keramaian.

******

Drrtt… Drrrtt….
.
.
Ai wo sagashite tabi wo suru hikari wa
Mune ni egaku mirai e tsuzuiteku darou
Tamerau tobira wo aketa nara
Atarashii ashita e to arukidaseru
.
.
06.34
.
.

Nabila membuka mata, dilihatnya jam di atas meja belajarnya masih menunjukkan waktu yang dapat dikatakan cukup pagi. Ia terbangun karena ponselnya terus berdering sejak tadi. Ponsel yang terus menerus bergetar dan berdering itu terus bergeser dari tempatnya semula. Nabila memandangnya dengan malas.

  “Pasti itu Jiro~kun…” pikirnya. Ia memejamkan mata kembali lalu dengan cepat menutup telinganya dengan bantal. Namun, si penelepon tetap keukeuh sehingga ponsel itu terus-menerus berdering.

  “Berisik!!” teriak Nabila akhirnya. Kemudian ia menghampiri ponselnya. Tertera dengan jelas nama Yamada Ryosuke di balik layar LCD yang terus berkedap-kedip.

  “Ehh??” raut wajah Nabila yang suntuk berubah menjadi bersemangat. Dengan segera diangkatnya telepon tersebut.

  “Moshi-moshi… (hallo)” sapa Nabila.

  “Ano… Gomen (emm… maaf) mengganggu tidurmu…” ucap Yamada dari seberang.

  “Iie (tidak) Ada apa kau menelepon sepagi ini?” tanya Nabila.

  “Ano… Maukah kau jalan denganku hari ini?” tanya Yamada yang membuat Nabila terkejut.

  “Eh?”

  “Kau tidak mau ya?” tanya Yamada, nada bicaranya turun satu oktaf.

  “Ah, bukan begitu. Baiklah. Jam berapa?” tanya Nabila.

  “Bagaimana jika kita bertemu di air mancur Hazigawa jam sembilan?” tanya Yamada.

  “Hai’! (baik)” jawab Nabila.

  “Baiklah, bye.” salam Yamada kemudian menutup telepon.

  “Aku dapat kencan…!!!” seru Nabila girang. Ia melompat-lompat di atas kasur karena terlalu bahagia. Ini adalah pertama kalinya ia diundang kencan oleh laki-laki. Apalagi itu Yamada Ryosuke. Cowok yang selama ini dipikir Nabila tidak mungkin menyukainya.

  “Yama~kun, aishiteru ne…!! (Yama,  aku menyukaimu…!!)” seru Nabila.

******

Pagi ini Jiro bangun cukup pagi. Ia masih teringat kata-kata Nabila.

  “Kau… kupecat!” kalimat itu terus bergema di telinga Jiro.

  “Kalau aku dipecat, aku tinggal dimana nantinya? Aku tidak punya banyak uang untuk menyewa tempat tinggal. Aku harus bernegoisasi dengan gadis itu!” batin Jiro. Ia segera mandi dan ganti pakaian. Tubuhnya yang berbalut kemeja putih dan vest hitam lengkap dengan dasi pita dan celana panjangnya tampak sangat keren dan dewasa. Tubuhnya yang tinggi semampai dan tegap membangun sosok pria berkharisma pada tiap pasang mata yang memandangnya. Itu hanyalah seragam kerja yang dipakainya tiap hari libur sekolah. Pria bernama Jiro Sinichi ini sudah dua tahun bekerja menjadi bodyguard Nabila Kurosawa, tinggal di rumahnya, menumpang dalam segala hal, sekolah pun di tempat yang sama dan di kelas yang sama. Seluruh biaya hidup Jiro ditanggung oleh ayah Nabila. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Jiro disini tak punya apapun. Wajar jika dia sangat terkejut mendengar majikannya berkata jika dia akan dipecat.

Jiro melangkah menuju kamar Nabila. Dalam hati ia terus berdo’a agar Nabila batal memecatnya. Ia hendak bernegoisasi dengan majikannya itu kali ini.

.
.
TOK
TOK
TOK
.
.

Sudah berkali-kali Jiro mengetuk pintu kamar Nabila, namun tak ada sahutan sama sekali dari dalam. Ia mencoba membuka pintu itu. Tidak dikunci.

  “Nabila~chan! Kau di dalam?” panggil Jiro. Tak ada sahutan sama sekali dari Nabila.

  “Nabila~chan! Hallo~” panggil Jiro lagi sambil berjalan mengelilingi kamar itu.

  “Dare? (siapa?)” terdengar suara teriakan Nabila dari ruang ganti.

  “Jiro Sinichi,” jawab Jiro. Nabila segera keluar dari ruang ganti.

  “Nani? (ada apa?)” tanya Nabila sinis.

  “Ada hal yang mau kubicarakan denganmu,” ucap Jiro.

  “Gomen, aku sibuk hari ini!” Nabila duduk di depan meja rias.

  “Kau tampak rapi, mau kemana?” tanya Jiro melihat Nabila yang telah berpakaian rapi sepagi ini.

  “Aku ada kencan!” jawab Nabila sinis.

  “Kencan? Dengan siapa?” tanya Jiro terkejut karena ini pertama kalinya.

  “Yamada Ryosuke… Pastikan kau mengemasi barang-barangmu hari ini,” ucap Nabila kasar dan hendak keluar dari kamarnya. Namun, Jiro berdiri di depan pintu sambil merentangkan kedua tangannya.

  “Tidak bisa!” seru Jiro menghalangi Nabila keluar.

  “Minggir!” seru Nabila.

  “Aku tidak akan minggir sebelum kau bilang aku tidak akan dipecat!” keukeuh Jiro.

  “Aku tidak mau,” jawab Nabila datar.

  “Kau harus mau!” paksa Jiro.

  “Aku akan katakan pada Otoo-san agar kau dipecat! Tidak berguna!” ucap Nabila kasar. Jiro hanya berusaha mengendalikan emosinya yang sudah meluap-luap.

  “Baik! Kalau itu maumu! Buktikan kalau kau bisa pergi dan pulang dengan selamat tanpa bodyguard  sepertiku!” ucap Jiro lalu berlalu dari hadapan Nabila.

  “Baka! (bodoh)” teriak Nabila lalu segera keluar dari kamar dan menuju ke Hazigawa.







COMMENT PLISS!!! ^o^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar