Kamis, 08 Agustus 2013

Yoroshiku, Jiro-kun... [Chapter II]

Title              : Yoroshiku, Jiro~kun… (Nice to Meet You, Jiro)
Author         : Dita Chun
Genre           : Romance >< Thriller *mgkn sedikit*
Part              : 2 of 2
Music           : Hikari, Ganbaretsugo!, Hitomi no Screen
Cast              :
 Nabila Kurosawa [OC]
Jiro Wang as Jiro Shinichi
Yamada Ryosuke as Yamada Ryosuke
All member Fahrenheit
All member Hey! Say! JUMP



I want you
I need you
Yeh! Kanpeki Knock Out
Yosoku (You’re so cool) Takichuu (Take it, true) 
Ganbaretsugo! (Ganbare let’s go!)
Isogu (It’s so good) Sou nen chuu
Saki midarete
Souonchuu (So want you) Sekaijyuu
Happen to you!
.
.

Begitu sampai di tempat janjian mereka Nabila mulai mencari-cari keberadaan Yamada. Bola mata kecoklatan itu berhenti beredar begitu melihat seorang cowok tak asing sedang bersandar di salah satu sisi dinding di dekat air mancur. Ia menghampiri cowok itu setengah berlari.

  “Ohaeyou (pagi)” sapa Nabila begitu posisinya sudah dekat dengan Yamada. Penampilan Yamada tak terlalu mencolok, tapi keren. Kaos biru langit dilapisi jaket putih tipis, celana jeans, dan shall membalut tubuh tegapnya. Meski tidak begitu tinggi, pakaian itu nampak pas di tubuhnya.

  “Ayo!” ajak Yamada dengan senyum mengembang di wajahnya.

  “Hm,” Nabila mengangguk kecil kemudian mengikuti Yamada.

  “Yama~kun, kita mau kemana?”

******

  “Ikaga? (bagaimana?)” seseorang dari segerombolan cowok berkata pada kawan di sampingnya.

  “Ah~Tanganku gatal ingin cepat menghabisinya…” ucap yang lain sambil memainkan pisau lipatnya.

  “Aaron, kau jangan berlebihan begitulah… Dia kan perempuan!” seru cowok di sampingnya, diketahui namanya Yabu Kota.

  “Doushite? Laki-laki atau perempuan bagiku sama saja. Asal dia mangsa,” ucap Aaron.

  “Aku setuju dengan Aaron,” ucap Wu Chun.

  “Kau memang selalu setuju pada Aaron!” seru Calvin.

  “Dai-chan, kau tahu laki-laki itu?” tanya Calvin pada Daiki yang berada di samping Aaron.

  “Namanya Yamada Ryosuke, dia tidak ada hubungan apapun dengan keluarga Kurosawa. Dia hanya salah satu dari segelintir teman gadis itu,” jawab Daiki. Calvin mengangguk-angguk tanda mengerti.

  “Ayo!” seru Aaron bersemangat. Sedangkan Daiki segera mengulum permen karet yang tadi dibawanya.

  “Chotto matte! (tunggu sebentar!)” seru Yuya Takaki sang ketua menghentikan mereka.

  “Nani? (ada apa?)” tanya Yabu.

  “Kudengar dia punya bodyguard pribadi,” ucap Yuya menjelaskan singkat.

  “Dare? (siapa?)” tanya Calvin.

  “Namanya Jiro Sinichi, teman sekelas gadis itu. Menurut riwayat, dia pemenang kompetisi kendo di Okinawa selama empat tahun berturut-turut,” ucap Daiki menjelaskan.

  “Kenapa kau tahu segalanya?” tanya Yabu pada Daiki.

  “Yuya~kun menyuruhku mengawasinya. Ya, sudah,” ucap Daiki ringan.

  “Jiro Sinichi?” tanya Aaron meyakinkan Daiki.

  “Hm, ada masalah?” tanya Daiki balik.

  “Iie (tidak)” jawab Aaron.

******

  “Siapa kalian?” tanya Yamada melihat enam orang laki-laki di hadapannya.

  “Bocah, kami tidak ada urusan denganmu! Sebaiknya kau pulang, tidur siang sana!” ucap Calvin sembarangan.

  “Iie! (tidak)” seru Yamada kukuh.

  “Sudah, bawa saja dia! Nanti kita urus juga dia setelah gadis ini!” seru Yuya.

  “Hai’!” jawab mereka semua serempak.

Daiki yang posisinya paling dekat dengan Nabila segera membekap Nabila bersamaan dengan itu Chun melakukan hal yang sama namun pada Yamada.

  “Ayo,” ucap Yuya memberikan komando pada kelima temannya. Mereka segera mengikuti Yuya.

.
.
BRAKH!!!
.
.

Aaron menendang keras kursi tempat Nabila di ikatkan. Nabila berteriak kecil karenanya. Tiba-tiba Aaron mengambil sesuatu dari balik saku celana jeansnya. Sesuatu yang sangat tajam dan berbahaya. Pisau lipat.

.
CKLEK!
 .

Pisau itu keluar dari tempatnya semula dan kini ujungnya sudah berada sekitar 5 cm di depan hidung Nabila. Ia tersenyum evil melihat Nabila yang terus ketakutan. Tubuhnya bergetar.

 “Aaron, jangan melukainya dulu!” teriak Calvin.

 “Calvin, sudahlah~ Biarkan Aaron bermain…” timpal Chun.

 “Lepaskan dia!” teriak Yamada yang masih terikat kuat tubuhnya.

 .
PLAKK!
.

 “Diam kau!” seru Daiki sejenak setelah ia menampar Yamada. Nampak darah mengalir melalui celah bibirnya.

 “Kubilang lepaskan dia!!” teriak Yamada lagi tak mau menyerah.

.
PLAKK! BUGH! BUGH!
.

Daiki yang telah kesal memukuli wajah dan tubuh Yamada.

  “Kau tuli?!” teriak Daiki.

  “Lepaskan dia!!!!” teriak Yamada. Baru saja Daiki akan kembali memukul Yamada. Namun, Yabu mencegahnya.

  “Percuma saja! Meski kau pukul dia sampai mati dia tetap akan berteriak begitu… Caranya hanya satu…” ucap Yabu sambil mendekati Nabila. Nabila yang telah berhasil meraih ponsel dari saku belakangnya menekan nomor Jiro dan segera meneleponnya. Tiba-tiba Yabu mencengkeram kuat dagunya sambil kemudian menoleh ke arah Yamada.

  “Arrghh….!” racau Nabila merasakan dagunya nyeri.

  “Aaron, mungkin kali ini kau yang bisa menutup mulutnya!” seru Yabu.

  “Hai’!” seru Aaron bersemangat. Yabu melepaskan cengkramannya. Aaron menempelkan salah satu sisi pisau di genggamannya ke pipi Nabila.

  “Ck! Kau akan lihat hasil dari perbuatanmu!” seru Daiki pada Yamada.

  “Hentikan!! Hentikan!!” teriak Yamada melihat sisi pisau itu mulai bergerak perlahan di wajah Nabila.

  “Aaron kalau sudah bermain pasti tidak akan mau berhenti… Benar-benar professional…” ucap Chun.

  “Lakukan saja semau kalian! Aku hanya ingin melihat hasilnya,” Yuya berpindah tempat duduk agak jauh dari gerombolan temannya.

.
SRRETT!!
.

  “Aarrghh…” racau Nabila merasa sesuatu telah menembus kulit wajahnya. Segaris luka telah terbentuk di pipi kanan Nabila. Hal itu membuat Nabila menjatuhkan ponsel yang digenggamnya. Entah Jiro menjawab teleponnya atau tidak dia tidak tahu. Apakah Jiro akan datang atau tidak, hanya Tuhan yang tahu.

  “Wow?” hanya itu reaksi dari Chun.

  “Benar-benar devil!” seru Daiki tak kalah hebohnya. Mereka menyaksikan Aaron yang sedang bermain-main dan Nabila yang ketakutan seperti adegan drama TV. Yuya masih asyik duduk di tempatnya sembari memakan pop corn yang entah kapan dibelinya.

  “Hentikan!!” teriak Yamada.

.
BUGH!!
.

  “Kau mengganggu saja!” ucap Yabu sambil memukul Yamada.

  “Aku suka kucing… Kau tampak imut seperti kucing… Tapi, kenapa kumismu hanya satu? Sepertinya aku harus menggariskan satu lagi,” ucap Aaron yang membuat Nabila semakin ketakutan.

  “Jangan… Kumohon, jangan lakukan itu…” Nabila mulai menangis.

  “Jangan menangis… Nanti luka yang basah akan kena air matamu dan itu sangat menyakitkan…” ucap Aaron. Ia menggoreskan pisau itu kembali di pipi kiri Nabila. Nabila terus berteriak. Airmatanya makin deras mengalir dan itu membuat luka di pipinya makin meradang. Perih yang amat sangat sudah tak tertahankan lagi baginya.

  “Hentikan kalian semua!!” sebuah suara asing mengagetkan semua yang ada di dalam bangunan tua itu.

.
.
Hitomi no naka utsuru sekai
Afure sou na kanashimi demo
Bokutachi wa mou nigedasanai sa
Seishun sutori
Me wo korashite, mitsumenagara
Hikari kitto sagashidasu sa
Namida no saki wo mitai kara
.
.

  “Jiro~kun?” Nabila terkejut melihat sosok pria yang dikenalnya tengah berdiri di depan pintu.

  “Jiro Sinichi?” Yamada tak kalah terkejutnya melihat pria itu.

  “Sudah kubilang kau tidak mungkin aman tanpaku,” ucap Jiro pada Nabila.

  “Jiro~kun?” tiba-tiba sebuah suara muncul ditengah keheningan yang tercipta. Itu suara Aaron. Aaron kemudian berdiri dari tempatnya semula. Kakinya serasa lemas tiba-tiba melihat pria yang berdiri di ambang pintu itu.

  “Aaron?” Jiro tak kalah terkejutnya melihat Aaron. Apalagi pisau berlumuran darah yang digenggam Aaron. Sejenak kemudian ia melihat luka di pipi Nabila.

  “Aaron, kau mengenalnya?” tanya Yabu.

  “Ka… Kakak…?” ucap Aaron membuat seisi ruangan amat terkejut.

  “Doushite…? (Kenapa…?) Kenapa kau melukainya…? Kau bukan orang seperti itu…!” teriak Jiro menatap Aaron.

  “Aku… Aku bukan lagi adikmu yang lemah! Ingat itu!” seru Aaron tiba-tiba. Aaron kembali ke sisi Nabila dan nyaris menggoreskan pisau itu kembali.

.
TLAK!
.

Jiro memukul tangan Aaron sehingga pisau itu jatuh.

.
BUGH!
.

  “Memalukan!”

.
BUGH!
.

  “Kau bukan laki-laki!”

.
BUGH!
.

  “Kau tidak ingat kata-kataku? Sudah lupa, hah?!” Jiro terus berteriak dan memukul Aaron.


___flashback___

  “Hahaha…! Aaron cengeng! Aaron cengeng!” segerombolan anak mengitari Aaron yang saat itu masih berusia 11 tahun.

  “Dasar! Anak-anak kurang ajar! Dia ini adikku! Kau mau mengejeknya?!” teriak Jiro pada anak-anak itu.

  “Dia idiot! Tidak pantas disebut laki-laki! Berkelahi saja tidak bisa!” ucap salah seorang dari mereka.

  “Kalian yang bukan laki-laki! Laki-laki itu yang memukul hanya untuk melindungi bukan untuk melawan! Kalian yang banci!” teriak Jiro.

  “Ayo!” Jiro menggendong Aaron yang masih terduduk di atas tanah lapang.

  “Kau tidak usah takut… Mereka hanya bicara seenaknya… Percayalah padaku… Laki-laki itu adalah yang memukul untuk melindungi saja bukan untuk melawan… Kalau kau hanya berkelahi tanpa  alasan, banci namanya!” ucap Jiro.

  “Aku memang tidak sekuat kakak…” ucap Aaron.

___end of flashback___

 Seketika Aaron terduduk lemas di lantai. Sementara kelima temannya sudah tak peduli lagi. Mereka berlima berusaha melawan Jiro. Namun, Jiro bisa mengatasi mereka.

 “Kalian berandalan tidak berguna! Apa maksud kalian memperlakukan Nabila seperti ini?!” bentak Jiro.

  “Dia… bukan manusia…! Ayahku tidak pernah mencuri apapun di rumah keluarga Kurosawa… Tapi, mereka mengatakan ayahku telah mencuri permata di rumah itu dan memecatnya. Ayahku sakit keras dan mati setelah itu! Kami tak punya apapun lagi! Kau puas, Kurosawa?!” ucap Yuya.

  “Aku tahu kau pernah tidak menyukai ayahku… Dia hanya pegawai biasa… Tapi, kau tidak pernah tahu apa arti pekerjaan itu baginya dan kami karena kau tidak pernah merasakannya!” teriak Yuya.

  “I…Itu…” Nabila ketakutan mengingat kejadian beberapa tahun lalu.

  “Kau mau mengelak?” ucap Yuya. Nabila menundukkan kepalanya merasa bersalah.

  “Meski begitu kalian tidak seharusnya melakukan hal ini! Kalian bisa bicarakan ini baik-baik, kan?” ucap Jiro. Hening. Tak ada yang menjawab. Jiro segera melepaskan ikatan Nabila dan Yamada.

  “Ayo, kita pulang,” Jiro memakaikan jaketnya pada Nabila.

  “Kalau kalian merasa tidak puas. Temuilah sendiri Presdir…” ucap Jiro.

  “Yamada, pulanglah…” ucap Jiro.

  “Demo… (tapi…) Bagaimana bisa kau mengucapkan ‘ayo, kita pulang’ padanya?” tanya Yamada.

  “Dia tinggal di rumahku,” ucap Nabila. Yamada melotot mendengarnya.

  “Dia bodyguardku…” lanjut Nabila. Kali ini Yamada mengangguk tanda mengerti.

  “Ano… Nabila-chan, kau mau kan kita pacaran?” tanya Yamada.

  “Gomene,,, (Maaf) Kurasa aku tidak bisa…” ucap Nabila.

  “Eh? Doushite? (kenapa?)” tanya Yamada.

  “Ternyata aku menyukai Jiro~kun… Dia keren!” seru Nabila.

  “Ehh??” Jiro makin terkejut.

  “Mungkin sejak awal aku menyukaimu… Hanya aku tidak sadar…” ucap Nabila.

  “Pupus sudah…” gumam Yamada lalu berlalu.

  “Yama~kun…?” panggil Nabila.

  “Daijobou desu ka? (apa kau baik-baik saja?)” lanjutnya.

  “Daijobou~ Bye!” seru Yamada tanpa menoleh.

  “Jiro~kun… Yoroshiku ne! (senang bertemu denganmu!)” ucap Nabila.

  “Yoroshiku mo~ (senang bertemu denganmu juga~)” jawab Jiro diselingi senyumnya yang khas.


___the end___


.COMMENT PLISSS !!! ^o^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar