Selasa, 30 Juli 2013

The Gentle Girl - Ciuman Pertama [Chapter VII]



Title            : The Gentle Girl

Author       : dita-cHun © 2013

Length       : Multichapter

Chapter      : 7

Subtitle       : Ciuman Pertama

Rating        : PG [Parents Guidance]

Genre         : Romance, Action

Main Cast  :

*Kim Jae Joong

*Ham Eun Jung

POV           : Author

Disclaimer : Kim Jae Joong and Ham Eun Jung are belong to themselves. I’m own nothing but plot. So, no bash, ok?

Warning     : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya

Note           : Ok, happy reading! Jangan lupa komennya ya! Komen-komen kalian bakal  jadi penyemangat saya ngerjain chapter-chapter yang selanjutnya! ^^













     “Ok, stand by!” teriak sutradara Hiroshi dari kejauhan. “Camera roll and action!”

     Jae lekas berjalan di sekeliling pantai. Kemudian sesuai naskah ia lekas menoleh ke arah posisi Atsuko. Di sana ia melihat gadis berambut pendek itu berdiri membelakanginya. Jae segera berlari ke arahnya dan lekas menciumnya sesuai apa yang sudah di jelaskan sebelumnya.

     Cup!

     Sesuatu yang mengejutkan terjadi. Sutradara Hiroshi bangkit dari kursi menyaksikan adegan tak terduga tersebut. Seluruh kru menatap ke arah Jae dan gadis di luar naskah yang tiba-tiba muncul dalam lokasi syuting tersebut. Kelihatannya, Jae salah mencium orang.

     “Eeehhhh?! Jungie-chan?!”

     Jae membuka matanya dan melemparkan pandangan terkejut pada gadis yang saat ini masih diciumnya, Ham Eun Jung. Sementara gadis itu sudah menunjukkan ekspresi terkejut lebih dulu sebelum Jae menyadarinya. Cepat-cepat keduanya melepaskan diri dalam waktu bersamaan.

     Seorang gadis lain yang sempat meneriakkan nama Eun Jung tadi lekas menghampiri keduanya. “Jungie-chan, daijoubu ka?”

     Eun Jung hanya menjawab dengan anggukan dalam diam. Gadis berlabel Shida Mirai itu lekas menuntun Eun Jung menjauh dari lokasi syuting. Sejenak ia berhenti, menoleh pada Jae Joong dan memberi salam tanda permintaan maaf. Jae membalasnya singkat sebelum kedua gadis itu kembali melangkah.

     “Ah, maaf!” seseorang dari kejauhan tampak berjalan terburu-buru. “Maaf aku meninggalkan lokasi tiba-tiba!” Itu Atsuko. Berkali-kali ia membungkuk dalam memohon maaf, baik pada sutradara maupun kru dan juga Jae Joong tentunya.

     “Maafkan aku...,” ucap gadis itu dengan volume lebih rendah dari sebelumnya.

     “Memangnya kau tadi kemana?” Tanya Jae pada gadis yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.

     “A-aku...,” gadis itu tampak ragu-ragu melanjutkan kalimatnya. “...Aku memiliki masalah pencernaan akhir-akhir ini. Maaf.”

     Jae mengukir segaris senyum, “Daijoubu.”

     Sejenak Atsuko mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Eh? Kenapa semuanya tiba-tiba tegang begini?”

     “Emm... Tadi ada sedikit masalah,” ucap Jae canggung.

     “Oh ya? Apa?” Tanya Atsuko penasaran. Jae menggeleng, enggan mengatakannya. “Tidak perlu dipikirkan.”

     Atsuko mengangguk paham. “Kalau begitu bisa retake sekarang?”

     Jae mengangguk mengiyakan.

**

     Klik!

     Klik!

     Satu jam hampir berlalu, meninggalkan Eun Jung yang masih berkutat dengan alam bawah sadarnya. Kedua tangannya memainkan ponsel flip di genggamannya hingga engsel ponsel itu nyaris meleset dari posisinya semula. Dan sayangnya, ia sama sekali tak menyadari itu. Karena pikirannya kembali melayang pada ingatannya tentang pertemuannya dengan Jae satu setengah jam silam.

     Klik!

     Rekan sekamarnya, Mirai mulai tampak tak tenang mendengar bunyi ponsel itu dibuka tutup. Ia memang baru mengenal Eun Jung. Pertemanan mereka belum berjalan satu bulan. Tapi, untuk masalah seperti ini, ia sangat sadar bahwa semua ini karena ulah isengnya. Meski ingin, saat ini ia menahan diri untuk membicarakannya pada Eun Jung. Meski ia sangat ingin minta maaf, Eun Jung pasti tidak akan mendengarnya.

     Klik!

     Klik!

     Klik!

     Kasus ini bukanlah pertama kalinya bagi Mirai. Tepatnya, ini adalah kali ketiga ia membuat teman sekamar sekaligus rekan kerjanya itu berada dalam masalah cukup sulit. Belajar dari kedua pengalaman sebelumnya, ia sempat meminta maaf pada Eun Jung. Hampir dengan segala cara ia berusaha meminta maaf pada Eun Jung, tapi permintaan maafnya itu sama sekali tak digubris. Memang, Eun Jung pernah berpesan satu hal pada Mirai. Agar jika suatu hari hubungan mereka tiba-tiba renggang karena suatu masalah, maka ia ingin Mirai meninggalkannya, atau setidaknya menganggapnya tiada untuk kurun waktu semalam.

     Klik!

     “Tapi, aku benar-benar tidak tahan...,” Mirai menatap ke arah ranjang di atasnya, tempat Eun Jung merebahkan diri saat ini. “Gomen ne, Jungie-chan.”

     Klik!

**

     Cut!” sutradara Hiroshi kembali menghentikan adegan ciuman Jae dan Atsuko untuk kesekian kalinya. Baik Jae maupun Atsuko, keduanya memisahkan diri secara spontan begitu mendengar kata pemotong adegan tanpa dialog mereka dari sang sutradara.

     Mereka sudah melakukan dua puluh tiga kali retake adegan tersebut dan itu tetap dipandang tidak memuaskan oleh sutradara Hiroshi. Entah bagian mana letak kesalahan kedua manusia itu, yang pasti sutradara tampak begitu frustasi mengarahkan mereka sesuai adegan yang diinginkannya.

     “Kira-kira apalagi salahnya?” Atsuko berbisik pada Jae begitu dirasanya ada kesempatan berbicara ketika sutradara Hiroshi kembali sibuk pada layar monitor di hadapannya.

     Jae mengangkat pundak tanda tak tahu. “Aku bahkan bisa merasakan bibirku mulai membengkak untuk dua puluh tiga kali retake ini,” bisik Jae Joong pada Atsuko.

     Gadis itu tertawa kecil mendengarnya, “Tapi, kelihatannya tidak begitu.”

     Jae menyentuh bibirnya dengan sebagian jemari tangan kanannya sebentar. “Hei, aku tidak bercanda. Bukankah adegan ciuman ini terlalu dalam untuk sebuah iklan?”

     “Mungkin pendapatmu tidak salah. Aku juga merasa bahwa adegan seperti itu agaknya terlalu berlebihan,” timpal Atsuko.

     “Kim Jae Joong,” suara sutradara Hiroshi membuyarkan pembicaraan sepihak Jae dan Atsuko barusan. “Kurasa ekspresimu jauh lebih tidak tenang dari sebelumnya. Ada yang mengganggu pikiranmu?”

     Deg!

     Jae terdiam. Nampaknya, sutradara Hiroshi mulai menemukan sumber kekacauan akting Jae. Meski Jae seolah tak tahu, namun batinnya sejak tadi sudah meneriakkan ganjalan hatinya itu dan ia menyangkalnya. Bahwa yang mengganggu pikirannya saat ini adalah...

     “Apakah tadi itu ciuman pertamamu?”

     Tidaklah meleset.

     “Ma-maafkan aku, Hiroshi-san!” Jae membungkuk tanda permintaan maaf atas ketidakfokusannya.

     Atsuko menoleh pada Jae Joong, “Ciuman pertama?”

     “Bersama Maeda Atsuko kau tampak sangat memaksakan diri. Kau merasa tidak nyaman dengannya?” Tanya sutradara Hiroshi lagi. Jae menggeleng cepat.

     “Tidak. Maeda Atsuko adalah lawan main yang baik. Mana mungkin aku tidak nyaman?” Bantah Jae.

     “Aku tidak bertanya tentang bagaimana baiknya Maeda Atsuko di hadapanmu. Tapi, apa kau sungguh memiliki feel melakukan ciuman itu dengannya? Jika iya, kenapa aku melihat adegan terbaik adalah take paling awal? Kau dan gadis asing itu,” ucapan sutradara Hiroshi mulai terdengar memojokkan Jae.

     Sementara itu Atsuko masih tidak paham dan semakin tidak paham dengan pembicaraan kedua pria itu. “Sebenarnya kalian ini membicarakan adegan yang mana?”

     “Kuharap kau bisa lebih profesional, Jae. Pisahkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Setidaknya kita harus mengambil retake ketika pikiranmu benar-benar jernih,” ucap sutradara Hiroshi. “Dua hari lagi, cukup?”

     Jae diam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Ya.”

**

     Eun Jung memijakkan kakinya satu persatu menuruni anak tangga ranjang susun yang menghubungkan ranjangnya dengan ranjang Mirai di bawahnya. Sebentar ia melirik ke arah Mirai yang sudah tertidur pulas entah sejak pukul berapa. Yang pasti matanya yang belum mampu terpejam itu masih sanggup menangkap jelas keempat angka pada jam digital di atas meja.

     Sudah pukul tiga lewat lima belas menit. Ia bahkan baru sadar bahwa selarut ini matanya belum juga mau bekerjasama dengannya. Setiap kali matanya terpejam, tak lama kemudian ia membuka kedua matanya sambil menghela nafas. Ingatan tentang kejadian tak terduga itu terus muncul sekalipun matanya benar-benar terpejam. Itu bahkan jauh lebih menakutkan dari mimpi apapun yang pernah menghinggapi malam-malamnya.

     Pandangan Eun Jung teralih pada yukata berwarna merah menyala di atas meja komputer. Ia menatapnya agak lama sebelum tangannya meraih lipatan yukata itu. Ingatannya kembali muncul saat ia merasakan lembutnya kain yukata milik Mirai di genggamannya.

     “Jungie-chan, lihat! Bagus, kan?”

     “Hm. Kau akan memakainya saat Natsu Masuri lusa?”

     “Bukan aku, tapi kau!”

     “Eh?”

     “Aku membelinya dari online shop, ternyata ukurannya terlalu besar. Lagipula kelihatannya cocok sekali untukmu, Jungie-chan. Aku akan memakai yukata yang kupakai Natsu Matsuri tahun lalu. Kita akan pergi berdua ke sana, kan?”

     “Tidak perlu, Mirai-chan. Aku akan membantumu mengecilkannya.”

     “Tidak, tidak. Aku sudah berencana memberikannya padamu. Sesekali aku ingin melihat Jungie-chan seperti seorang wanita.”

     “...”

     “Ayo, cobalah!”

     “Aku akan mencobanya di rumah.”

     “Ayolaaah, aku ingin melihat Jungie-chan memakai ini segera...”

     “...”

     “Kirei... Jungie-chan, ayo ke tepi pantai!”

     “Iie. Aku akan ganti baju dulu.”

     “Sudahlah. Wah, lihat! Itu Maeda Atsuko. Ada syuting, ya?”

     “Mungkin.”

     “Ayo, lihat lebih dekat.”

     “Ah!”

     “Tunggu aku di sana yang Jungie-chan! Aku akan mengambil minuman.”

     “Hm.”

     “Stand by. Camera roll and action!”

     “Ah! Apa yang kau—”

     Cup!

     Eun Jung berjalan ke arah lemari di samping ranjang. Dibukanya lemari tersebut dan diambilnya sebuah kotak berwarna biru muda dari dalam sana. Ia lekas memasukkan yukata itu ke dalam kotak tersebut dan meletakkannya di atas meja di samping ranjang Mirai.

     Arigatou, Mirai-chan. Tapi, aku tidak akan memakainya lagi.”

**

     Jae menutup lipatan ponsel flipnya. Pikirannya kembali melayang pada pertemuannya dengan Eun Jung tadi malam. Andai tak bertemu dalam posisi seperti itu, Jae tentu bisa menanyakan perihal pesan-pesannya yang bagaikan tak sampai pada mantan bodyguardnya itu. Dan mungkin mereka bisa mengobrol kembali seperti sebelumnya. Tapi, rencana perjumpaan mereka yang demikian siapa yang tahu maksudnya selain Tuhan?

     Jae juga belum habis pikir bagaimana gadis bermarga Ham itu bisa berada di Jepang. Apalagi penampilannya tadi... Ah! Jae hampir gila mengingat penampilan Eun Jung yang sama sekali berbeda dengan satu setengah bulan lalu. Ingin sekali Jae menampik bahwa otaknya mengatakan gadis itu terlalu cantik dengan yukata yang dikenakannya tadi. Namun, ia tidak mampu karena memang begitulah kenyataannya. Sejak awal mereka bertemu sampai pertemuannya hari ini gadis itu masih tampak cantik. Atau mungkin selama satu setengah bulan tak melihatnya membuat Jae berpikir bahwa gadis itu menjelma menjadi malaikat yang membuatnya benar-benar terpaku saat itu.

     ‘Bagaimana angsa yang kukenal itu, berubah menjadi seorang malaikat? Dan lagi ciuman itu... Aku tidak menyangka dia yang akan mendapatkan ciuman pertamaku.’

     Pip!

     Ponsel Jae berdering sebentar. Ia lekas membuka lipatan ponsel digenggamannya. Di balik layar LCD yang berkedip itu Jae mampu melihat sebuah pemberitahuan pesan belum terbaca. Jae lekas membukanya.

     From : Maeda Atsuko

     Aku tidak tahu apa yang sedang mengganggu pikiranmu sampai sutradara meminta kita mengulang adegan dua hari lagi. Kalau kau ingin menceritakannya, aku akan berusaha menjadi pendengar yang baik.

     Jae lekas membalas pesan tersebut.

     To : Maeda Atsuko

     Terima kasih. Aku akan memikirkannya nanti.

     Tak lama kemudian Jae kembali menerima pesan balasan.

     From : Maeda Atsuko

     Baiklah. Tapi, apapun yang terjadi kau harus semangat, ya, Jae. Aku akan mendukungmu dari belakang.

     Belum sempat Jae membalas pesan tersebut, ia dikejutkan Manager Park yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya tanpa sepatah salam pun. Jae kembali menutup ponselnya dan meletakannya di atas meja.

     “Ada apa?” Tanya Jae pada Manager Park yang langsung mengambil posisi di atas sofa.

     “Kurasa aku tahu siapa yang menerorku selama ini,” ucap Manager Park.

     “Siapa?”

     “Ham Eun Jung.”

     “Eh?”







.The Gentle Girl




.to be continue~





Glossarium :

*Natsu Matsuri           : festival musim panas
*Gomen                      : maaf [Jepang]
*Iie                              : tidak [Jepang]
*Arigatou                    : terima kasih [Jepang]
*Daijoubu ka?             : apakah baik-baik saja? [Jepang]
*Daijoubu                   : tidak apa-apa [Jepang]
*Kirei                          : cantik [Jepang]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar