Title :
The Gentle Girl
Author :
dita-cHun © 2013
Length :
Multichapter
Chapter :
7
Subtitle :
Ciuman Pertama
Rating :
PG [Parents Guidance]
Genre :
Romance, Action
Main Cast :
*Kim Jae Joong
*Ham Eun Jung
POV :
Author
Disclaimer :
Kim Jae Joong and Ham Eun Jung are belong to themselves. I’m own nothing but
plot. So, no bash, ok?
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya
Note : Ok, happy reading! Jangan lupa
komennya ya! Komen-komen kalian bakal
jadi penyemangat saya ngerjain chapter-chapter yang selanjutnya! ^^
“Ok, stand
by!” teriak sutradara Hiroshi dari kejauhan. “Camera roll and action!”
Jae lekas berjalan di sekeliling pantai.
Kemudian sesuai naskah ia lekas menoleh ke arah posisi Atsuko. Di sana ia
melihat gadis berambut pendek itu berdiri membelakanginya. Jae segera berlari
ke arahnya dan lekas menciumnya sesuai apa yang sudah di jelaskan sebelumnya.
Cup!
Sesuatu yang mengejutkan terjadi. Sutradara
Hiroshi bangkit dari kursi menyaksikan adegan tak terduga tersebut. Seluruh kru
menatap ke arah Jae dan gadis di luar naskah yang tiba-tiba muncul dalam lokasi
syuting tersebut. Kelihatannya, Jae salah mencium orang.
“Eeehhhh?! Jungie-chan?!”
Seorang gadis lain yang sempat meneriakkan
nama Eun Jung tadi lekas menghampiri keduanya. “Jungie-chan, daijoubu ka?”
Eun Jung hanya menjawab dengan anggukan
dalam diam. Gadis berlabel Shida Mirai itu lekas menuntun Eun Jung menjauh dari
lokasi syuting. Sejenak ia berhenti, menoleh pada Jae Joong dan memberi salam
tanda permintaan maaf. Jae membalasnya singkat sebelum kedua gadis itu kembali
melangkah.
“Ah, maaf!” seseorang dari kejauhan tampak
berjalan terburu-buru. “Maaf aku meninggalkan lokasi tiba-tiba!” Itu Atsuko.
Berkali-kali ia membungkuk dalam memohon maaf, baik pada sutradara maupun kru
dan juga Jae Joong tentunya.
“Maafkan aku...,” ucap gadis itu dengan
volume lebih rendah dari sebelumnya.
“Memangnya kau tadi kemana?” Tanya Jae pada
gadis yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
“A-aku...,” gadis itu tampak ragu-ragu
melanjutkan kalimatnya. “...Aku memiliki masalah pencernaan akhir-akhir ini.
Maaf.”
Jae mengukir segaris senyum, “Daijoubu.”
Sejenak Atsuko mengedarkan pandangannya ke
sekeliling. “Eh? Kenapa semuanya tiba-tiba tegang begini?”
“Emm... Tadi ada sedikit masalah,” ucap Jae
canggung.
“Oh ya? Apa?” Tanya Atsuko penasaran. Jae
menggeleng, enggan mengatakannya. “Tidak perlu dipikirkan.”
Atsuko mengangguk paham. “Kalau begitu bisa
retake sekarang?”
Jae mengangguk mengiyakan.
**
Klik!
Klik!
Satu jam hampir berlalu, meninggalkan Eun
Jung yang masih berkutat dengan alam bawah sadarnya. Kedua tangannya memainkan
ponsel flip di genggamannya hingga engsel ponsel itu nyaris meleset dari
posisinya semula. Dan sayangnya, ia sama sekali tak menyadari itu. Karena
pikirannya kembali melayang pada ingatannya tentang pertemuannya dengan Jae
satu setengah jam silam.
Klik!
Rekan sekamarnya, Mirai mulai tampak tak
tenang mendengar bunyi ponsel itu dibuka tutup. Ia memang baru mengenal Eun
Jung. Pertemanan mereka belum berjalan satu bulan. Tapi, untuk masalah seperti
ini, ia sangat sadar bahwa semua ini karena ulah isengnya. Meski ingin, saat
ini ia menahan diri untuk membicarakannya pada Eun Jung. Meski ia sangat ingin
minta maaf, Eun Jung pasti tidak akan mendengarnya.
Klik!
Klik!
Klik!
Kasus ini bukanlah pertama kalinya bagi
Mirai. Tepatnya, ini adalah kali ketiga ia membuat teman sekamar sekaligus
rekan kerjanya itu berada dalam masalah cukup sulit. Belajar dari kedua
pengalaman sebelumnya, ia sempat meminta maaf pada Eun Jung. Hampir dengan
segala cara ia berusaha meminta maaf pada Eun Jung, tapi permintaan maafnya itu
sama sekali tak digubris. Memang, Eun Jung pernah berpesan satu hal pada Mirai.
Agar jika suatu hari hubungan mereka tiba-tiba renggang karena suatu masalah,
maka ia ingin Mirai meninggalkannya, atau setidaknya menganggapnya tiada untuk
kurun waktu semalam.
Klik!
“Tapi, aku benar-benar tidak tahan...,”
Mirai menatap ke arah ranjang di atasnya, tempat Eun Jung merebahkan diri saat
ini. “Gomen ne, Jungie-chan.”
Klik!
**
“Cut!”
sutradara Hiroshi kembali menghentikan adegan ciuman Jae dan Atsuko untuk
kesekian kalinya. Baik Jae maupun Atsuko, keduanya memisahkan diri secara
spontan begitu mendengar kata pemotong adegan tanpa dialog mereka dari sang
sutradara.
Mereka sudah melakukan dua puluh tiga kali retake adegan tersebut dan itu tetap
dipandang tidak memuaskan oleh sutradara Hiroshi. Entah bagian mana letak
kesalahan kedua manusia itu, yang pasti sutradara tampak begitu frustasi
mengarahkan mereka sesuai adegan yang diinginkannya.
“Kira-kira apalagi salahnya?” Atsuko
berbisik pada Jae begitu dirasanya ada kesempatan berbicara ketika sutradara
Hiroshi kembali sibuk pada layar monitor di hadapannya.
Jae mengangkat pundak tanda tak tahu. “Aku
bahkan bisa merasakan bibirku mulai membengkak untuk dua puluh tiga kali retake ini,” bisik Jae Joong pada
Atsuko.
Gadis itu tertawa kecil mendengarnya,
“Tapi, kelihatannya tidak begitu.”
Jae menyentuh bibirnya dengan sebagian
jemari tangan kanannya sebentar. “Hei, aku tidak bercanda. Bukankah adegan
ciuman ini terlalu dalam untuk sebuah iklan?”
“Mungkin pendapatmu tidak salah. Aku juga
merasa bahwa adegan seperti itu agaknya terlalu berlebihan,” timpal Atsuko.
“Kim Jae Joong,” suara sutradara Hiroshi
membuyarkan pembicaraan sepihak Jae dan Atsuko barusan. “Kurasa ekspresimu jauh
lebih tidak tenang dari sebelumnya. Ada yang mengganggu pikiranmu?”
Deg!
Jae terdiam. Nampaknya, sutradara Hiroshi
mulai menemukan sumber kekacauan akting Jae. Meski Jae seolah tak tahu, namun
batinnya sejak tadi sudah meneriakkan ganjalan hatinya itu dan ia
menyangkalnya. Bahwa yang mengganggu pikirannya saat ini adalah...
“Apakah tadi itu ciuman pertamamu?”
Tidaklah meleset.
“Ma-maafkan aku, Hiroshi-san!” Jae membungkuk tanda permintaan
maaf atas ketidakfokusannya.
Atsuko menoleh pada Jae Joong, “Ciuman
pertama?”
“Bersama Maeda Atsuko kau tampak sangat
memaksakan diri. Kau merasa tidak nyaman dengannya?” Tanya sutradara Hiroshi
lagi. Jae menggeleng cepat.
“Tidak. Maeda Atsuko adalah lawan main yang
baik. Mana mungkin aku tidak nyaman?” Bantah Jae.
“Aku tidak bertanya tentang bagaimana
baiknya Maeda Atsuko di hadapanmu. Tapi, apa kau sungguh memiliki feel melakukan ciuman itu dengannya?
Jika iya, kenapa aku melihat adegan terbaik adalah take paling awal? Kau dan gadis asing itu,” ucapan sutradara
Hiroshi mulai terdengar memojokkan Jae.
Sementara itu Atsuko masih tidak paham dan
semakin tidak paham dengan pembicaraan kedua pria itu. “Sebenarnya kalian ini
membicarakan adegan yang mana?”
“Kuharap kau bisa lebih profesional, Jae.
Pisahkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Setidaknya kita harus
mengambil retake ketika pikiranmu
benar-benar jernih,” ucap sutradara Hiroshi. “Dua hari lagi, cukup?”
Jae diam sejenak sebelum akhirnya menjawab,
“Ya.”
**
Eun Jung memijakkan kakinya satu persatu
menuruni anak tangga ranjang susun yang menghubungkan ranjangnya dengan ranjang
Mirai di bawahnya. Sebentar ia melirik ke arah Mirai yang sudah tertidur pulas
entah sejak pukul berapa. Yang pasti matanya yang belum mampu terpejam itu
masih sanggup menangkap jelas keempat angka pada jam digital di atas meja.
Sudah pukul tiga lewat lima belas menit. Ia
bahkan baru sadar bahwa selarut ini matanya belum juga mau bekerjasama
dengannya. Setiap kali matanya terpejam, tak lama kemudian ia membuka kedua
matanya sambil menghela nafas. Ingatan tentang kejadian tak terduga itu terus
muncul sekalipun matanya benar-benar terpejam. Itu bahkan jauh lebih menakutkan
dari mimpi apapun yang pernah menghinggapi malam-malamnya.
Pandangan Eun Jung teralih pada yukata berwarna merah menyala di atas
meja komputer. Ia menatapnya agak lama sebelum tangannya meraih lipatan yukata itu. Ingatannya kembali muncul
saat ia merasakan lembutnya kain yukata
milik Mirai di genggamannya.
“Jungie-chan,
lihat! Bagus, kan?”
“Hm. Kau akan memakainya saat Natsu Masuri
lusa?”
“Bukan aku, tapi kau!”
“Eh?”
“Aku membelinya dari online shop, ternyata
ukurannya terlalu besar. Lagipula kelihatannya cocok sekali untukmu,
Jungie-chan. Aku akan memakai yukata yang kupakai Natsu Matsuri tahun lalu.
Kita akan pergi berdua ke sana, kan?”
“Tidak perlu, Mirai-chan. Aku akan
membantumu mengecilkannya.”
“Tidak, tidak. Aku sudah berencana
memberikannya padamu. Sesekali aku ingin melihat Jungie-chan seperti seorang
wanita.”
“...”
“Ayo, cobalah!”
“Aku akan mencobanya di rumah.”
“Ayolaaah, aku ingin melihat Jungie-chan
memakai ini segera...”
“...”
“Kirei... Jungie-chan, ayo ke tepi pantai!”
“Iie. Aku akan ganti baju dulu.”
“Sudahlah. Wah, lihat! Itu Maeda Atsuko.
Ada syuting, ya?”
“Mungkin.”
“Ayo, lihat lebih dekat.”
“Ah!”
“Tunggu aku di sana yang Jungie-chan! Aku
akan mengambil minuman.”
“Hm.”
“Stand by. Camera roll and action!”
“Ah! Apa yang kau—”
Cup!
Eun Jung berjalan ke arah lemari di samping
ranjang. Dibukanya lemari tersebut dan diambilnya sebuah kotak berwarna biru
muda dari dalam sana. Ia lekas memasukkan yukata
itu ke dalam kotak tersebut dan meletakkannya di atas meja di samping ranjang
Mirai.
“Arigatou,
Mirai-chan. Tapi, aku tidak akan
memakainya lagi.”
**
Jae menutup lipatan ponsel flipnya. Pikirannya
kembali melayang pada pertemuannya dengan Eun Jung tadi malam. Andai tak
bertemu dalam posisi seperti itu, Jae tentu bisa menanyakan perihal
pesan-pesannya yang bagaikan tak sampai pada mantan bodyguardnya itu. Dan mungkin mereka bisa mengobrol kembali seperti
sebelumnya. Tapi, rencana perjumpaan mereka yang demikian siapa yang tahu
maksudnya selain Tuhan?
Jae juga belum habis pikir bagaimana gadis
bermarga Ham itu bisa berada di Jepang. Apalagi penampilannya tadi... Ah! Jae
hampir gila mengingat penampilan Eun Jung yang sama sekali berbeda dengan satu
setengah bulan lalu. Ingin sekali Jae menampik bahwa otaknya mengatakan gadis
itu terlalu cantik dengan yukata yang
dikenakannya tadi. Namun, ia tidak mampu karena memang begitulah kenyataannya.
Sejak awal mereka bertemu sampai pertemuannya hari ini gadis itu masih tampak
cantik. Atau mungkin selama satu setengah bulan tak melihatnya membuat Jae
berpikir bahwa gadis itu menjelma menjadi malaikat yang membuatnya benar-benar
terpaku saat itu.
‘Bagaimana angsa yang kukenal itu, berubah
menjadi seorang malaikat? Dan lagi ciuman itu... Aku tidak menyangka dia yang
akan mendapatkan ciuman pertamaku.’
Pip!
Ponsel Jae berdering sebentar. Ia lekas
membuka lipatan ponsel digenggamannya. Di balik layar LCD yang berkedip itu Jae
mampu melihat sebuah pemberitahuan pesan belum terbaca. Jae lekas membukanya.
From : Maeda Atsuko
Aku tidak tahu apa yang sedang mengganggu
pikiranmu sampai sutradara meminta kita mengulang adegan dua hari lagi. Kalau kau
ingin menceritakannya, aku akan berusaha menjadi pendengar yang baik.
Jae lekas membalas pesan tersebut.
To : Maeda Atsuko
Terima kasih. Aku akan memikirkannya nanti.
Tak lama kemudian Jae kembali menerima
pesan balasan.
From : Maeda Atsuko
Baiklah. Tapi, apapun yang terjadi kau
harus semangat, ya, Jae. Aku akan mendukungmu dari belakang.
Belum sempat Jae
membalas pesan tersebut, ia dikejutkan Manager
Park yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya tanpa sepatah salam pun. Jae
kembali menutup ponselnya dan meletakannya di atas meja.
“Ada apa?” Tanya Jae pada Manager Park yang langsung mengambil
posisi di atas sofa.
“Kurasa aku tahu siapa yang menerorku
selama ini,” ucap Manager Park.
“Siapa?”
“Ham Eun Jung.”
“Eh?”
.The
Gentle Girl
.to
be continue~
Glossarium :
*Natsu
Matsuri : festival musim panas
*Gomen : maaf [Jepang]
*Iie : tidak [Jepang]
*Arigatou : terima kasih [Jepang]
*Daijoubu
ka? : apakah baik-baik saja?
[Jepang]
*Daijoubu : tidak apa-apa [Jepang]
*Kirei : cantik [Jepang]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar