Selasa, 30 Juli 2013

Sin



Title                 : Sin

Author            : Dita Chun © 2013

Type                : Oneshoot

Genre              : Romance

Rating             : T [Teenager]

Theme Song   : BOIS—Scar

Main Cast       :

*Ham Eun Jung as Ham Eun Jung

*Lee Jang Woo as Lee Jang Woo and Lee Jang Hyun

Disclaimer      : Ham Eun Jung and Lee Jang Woo are belong to themselves. I’m own nothing but plot. So, don’t bash me, ok?

Warning          : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya

Note                : FF “Sin” akhirnya selesai digarap! Yay! Saya milih pairing WooJung karena baru suka ngeliatin foto-foto mesranya WooJung pas di We Got Married. Btw, saya menghabiskan banyak waktu untuk mengerjakannya, loh! *gak ada yang nanya* Jujur aja pas ngerjain ini FF berasa mengalir aja, santai gitu. Lagian udah lama saya pengen ngerjain cerita tentang perselingkuhan kayak begini. Meskipun hasilnya gak bisa dibilang maksimal sih. Seenggaknya saya bisa ngerjainnya sepanjang hari ini sampe tamat. Ok, happy reading! ^^ Komen kalian mudah-mudahan bisa menjadi bayaran atas usaha nyelesaiin FF ini. So, jangan lupa leave a comment yah! ^^V








     Sejenak rumah terasa sepi. Segala keributan yang baru saja terjadi tiba-tiba lenyap. Hanya terdengar suara nafasku yang masih tersengal-sengal di hadapannya. Dengan ekor mataku, aku mampu melihat barang-barang pecah belah berserakan di atas lantai. Serpihan-serpihan itu mungkin saja akan melukai siapapun yang menginjaknya, sengaja atau tidak. Vas-vas mahal, guci-guci antik, dan gelas-gelas wine tercecer sembarangan hampir di seluruh sudut rumah.

     Aku kembali mengalihkan tatapanku padanya. Wajahnya masih terlihat tenang. Sejak awal ia datang, ia selalu begitu. Ia tidak pernah menunjukkan raut wajah khawatir atau marah kepadaku. Aku hanya pernah melihatnya diam dan tersenyum. Seumur hidup aku tidak pernah mendengar suara baritone-nya digunakan untuk membentakku. Tidak pernah sekalipun. Suara itu selalu terdengar lembut, kadang manja, dan kadang kala terdengar serak saat radang di tenggorokannya kambuh.

     Aku hafal benar dengan penyakit menahun yang kerap mengganggu tidurku pada malam hari itu. Jujur saja itu memang sangat menggangguku. Dan kerap kali hal itu kujadikan alasan untuk mengusirnya keluar dari dalam kamar. Meskipun aku tahu itu akan sangat dingin di ruang tamu karena biasanya itu adalah musim dingin. Tapi, aku tidak peduli. Karena sejak dulu aku memang keras dan tentu ia sangat paham dengan watakku tersebut.

     Dan tiba-tiba saja aku menyadari bahwa hafalan di luar kepalaku tentangnya adalah bukan apa-apa. Aku tidak mengerti tentangnya. Tentang dia, hampir semuanya aku tidak mengetahuinya. Aku hanya tahu apa yang tampak dari luar. Sosok dirinya yang kuat. Ya, dari luar dia memang seperti plastik yang bisa kupermainkan sesukaku tanpa takut merobeknya. Hingga aku tahu bahwa di dalam plastik yang tampak di mataku itu ada sebuah kaca yang bisa saja remuk menjadi serpihan kuarsa hanya dengan sekali getaran.

**

     Aku terpekur sendiri di atas timangan ayunan kayu. Kepalaku terasa berdenyut sejak siang tadi. Aku benar-benar menyesali takdir yang baru saja diturunkan Tuhan padaku. Mengapa rasanya begitu tidak adil?

     Semua teman-temanku masih menikmati masa lajang, bermain-main, berkencan dengan banyak pria sesuka hati, sedangkan takdir menyeretku secara paksa ke dalam sebuah pernikahan, mengikatku pada seorang pria yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Aku bahkan tidak pernah berpikir akan mendapatkan akhir percintaan seperti ini. Belum habis pikir bagaimana kedua orang tuaku menerima telak pinangan terhadapku dari pria itu, sebuah nada dering mengejutkanku dari lamunan.

     Aku melirik ponsel putih yang terbaring manis di atas ayunan tepat di sampingku. Dari balik layar LCD yang berkedip itu aku mampu melihat sebuah pemberitahuan pesan baru dari nomor tak kukenal. Aku tidak memiliki teman dengan nomor seperti itu, tapi aku tahu siapa yang mengirimkannya padaku.

     Suamiku, Lee Jang Woo.

     Ia selalu ingin tahu apa-apa yang sedang kulakukan. Mengirimiku pesan singkat tiap beberapa jam sekali. Bukankah itu mengganggu sekali?

     Baiklah, aku tahu. Dia memang suamiku. Tapi, bukan berarti aku harus menjadi budak yang harus melaporkan kegiatanku padanya selama 24 jam. Lagipula aku sama sekali tidak mencintainya. Sejak awal kami bertemu, hingga hari ini. Tidak sama sekali.

     Aku mengabaikan pesan singkat itu dan merebahkan diri di atas ayunan. Aku ingin main-main seperti dulu. Aku ingin berkencan dengan pria yang kusukai. Dan aku ingin sekali melepaskan status istri yang sangat merepotkan ini.

     Ting Tong!

     Aku bangkit dari ayunan hendak mengintip siapa yang datang. Kusingkap sedikit kain gordyn yang mengganggu pandanganku melihat keluar jendela. Dari jendela berkaca ribbon itu aku menyaksikan sosok pria yang sangat kukenal berdiri di luar pagar rumah. Tampaknya ia menungguku membukakan pintu.

     ‘Enak saja. Memangnya siapa dia? Bukankah dia membawa kunci rumah sendiri?’

     Aku meninggalkan jendela dan pergi menuju dapur. Mengabaikan pria berkaos abu-abu itu di depan gerbang. Tunggu. Kaos abu-abu? Bukankah tadi dia berangkat dengan kemeja dan jas kerjanya?

     Karena sedikit rasa penasaran, kuputuskan untuk kembali menengok ke arah jendela. Pria itu masih berdiri di depan sana. Sesekali ia melirik jam di tangannya. Beberapa kali aku mendengar suara bel dibunyikan dan aku yakin itu bukanlah suamiku.

     Aku membuka pintu dan mendapati sosoknya menghela nafas lega. Beberapa detik setelah pandangan kami bertemu, ia melambaikan tangan ke arahku sambil menyungging senyum. Ternyata memang bukan suamiku. Senyumnya bahka berbeda meski sekilas wajah mereka terlihat sama.

     “Hai, kakak ipar! Bisa kau buka pintunya lebih cepat? Kurasa kulitku sudah melepuh,” ucapnya dari luar pagar.

     Aku terkesima untuk beberapa detik. Sikapnya memang berbeda. Tapi, apa dia bilang barusan? Kakak ipar? Siapa? Aku?

     “Ah, kau pasti mengira aku Jang Woo hyung, ya? Baiklah, biarkan aku masuk dan aku akan menjelaskannya padamu.”

     Tanpa mengucap sepatah kata pun aku bergegas membuka pintu gerbang yang memisahkan kami untuk beberapa detik lamanya.

**

     Aku mempersilahkannya duduk di ruang tamu dan menyeduhkan secangkir teh hangat untuknya. Samar-samar aku melihat peluh membasahi wajah dan lehernya. Mungkin ia sudah lama di depan sana dan aku malah pura-pura tidak tahu, mengabaikannya. Sedikitnya aku merasa tidak enak, apalagi sepertinya dia adalah salah satu anggota keluarga suamiku.

     “Aku Lee Jang Hyun, saudara kembar Jang Woo hyung.” Terangnya sebelum meneguk teh di tangannya.

     “Saudara kembar?”

     Ia mengangguk. “Mungkin kita belum pernah bertemu sebelumnya karena aku baru pulang dari Amerika. Oh ya, maaf aku tidak bisa datang di pernikahan kalian. Kuharap kau tidak marah.”

     “Ah, tidak. Tidak apa-apa,” selaku.

     Ia kembali tersenyum sambil menatapku sebentar. “Kau benar-benar cantik dan baik. Jang Woo hyung beruntung sekali bisa mendapatkan istri sepertimu.”

     Aku tertawa kecil mendengarnya. “Oh ya, kau pulang dari Amerika. Di sana sedang kuliah?”

     “Kurang lebih, begitulah...”

     “Apa maksudmu dengan kurang lebih, hei?”

     “Aku orangnya cukup bebas, tidak suka dikekang. Jadi, aku pergi ke Amerika untuk kuliah sekalian berlibur,” jawabnya terang-terangan. Aku terkekeh mendengar jawabannya.

     Dia ini... Pria di hadapanku ini benar-benar berbeda dengan suamiku yang pendiam. Dia jarang membuka pembicaraan bebas seperti ini. Apa yang ada di dalam kepalanya itu mungkin hanya bisnis dan menanyakan apa-apa yang kukerjakan seolah peduli. Berbeda dengan dia yang bisa membicarakan hal begini secara lepas. Dan kuakui bahwa aku cukup nyaman mengobrol dengannya. Meski ini adalah kali pertama pertemuan kami. Setidaknya, arah pembicaraan kami tidak akan monoton seperti saat aku bersama suamiku.

     “Oh ya, Jang Woo hyung belum pulang, ya?” Pandangan Jang Hyun mengedar ke sekeliling sudut rumah.

     “Dia akan pulang setengah jam lagi,” jawabku.

     Jang Hyun mengangguk paham. “Kalau begitu sampaikan saja salamku pada Jang Woo hyung, ya?”

     “Eh? Tidak mau menunggu?”

     Ia menggeleng. “Aku ada janji dengan temanku. Jadi, aku harus pergi. Senang bertemu denganmu, kakak ipar!” Ia menepuk pundakku sebentar lalu beranjak keluar.

     “Ah, sebentar!” Ia menahan langkahnya dan kembali berbalik menatapku. “Siapa namamu?”

     “Eun Jung. Namaku Ham Eun Jung,” jawabku mantap.

     “Eun Jung? Baiklah, kupanggil Jungie-ya?” Ia tampak meminta persetujuan dariku. Aku mengangguk tanda setuju. Sebelum pergi aku melihat ia mengerling sekilas padaku. Ah, dia benar-benar orang yang mudah akrab, ya?

**

     Sejak pertemuan pertama kami hari itu, ia jadi sering berkunjung ke rumah ini. Bahkan hampir setiap hari kami bertemu sepanjang suamiku bekerja. Ia selalu memiliki topik pembicaraan yang enak dibahas setiap hari. Aku jadi menikmati obrolannya dengan cepat. Jujur, aku merasa nyaman setiap ia datang ke rumah ini.

     Pip!

     Ponselku berdering sebentar. Aku kembali menerima pesan dari suamiku yang nomornya sudah tercantum dalam list kontakku. Pesan-pesan singkat itu memiliki makna yang hampir sama seperti hari-hari sebelumnya.

     Pertanyaan-pertanyaan seperti apakah aku sudah makan atau aku sedang melakukan apa dan dimana, bersama siapa sekarang. Semua kalimat itu seolah menjadi rutinitas yang akan menggangguku setiap siang dan sore. Dan hampir seluruh pesan yang datang darinya tidak pernah kubalas. Meski begitu, ia tak pernah berhenti melakukan kegiatan bodohnya tersebut padaku. Apa dia begitu menganggur sampai-sampai terlalu sempat mengirimiku pesan singkat padaku?

     Pernikahan kami sudah berjalan empat bulan lamanya. Dan selama itu pula aku selalu tidur lebih awal sebelum ia pulang kerja. Kemudian aku akan bangun ketika sarapan sudah tersedia di atas meja yang mana aku tahu bahwa ia menyiapkan itu semua sendirian. Hampir setiap hari aku tidak melihat wajahnya karena kebiasaanku bangun terlambat dan tidur cepat itu. Ia sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali. Ia selalu meninggalkan rumah dalam keadaan bersih dan aku bersyukur bahwa ia masih tahu diri sebagai seorang suami.

     Entah kenapa aku begitu membencinya lebih dari apapun. Melihat wajahnya sejak pernikahan itu membuat dadaku sesak dalam sekejap. Ia memang tampan, tapi aku terus mengingat bahwa pria inilah yang sudah merenggut masa bahagiaku. Pria ini yang sudah mengikatku di dalam rumah dengan berbagai kewajiban dan nasehat tak berguna. Dan aku paling marah mengingat ia menolak permintaanku mempekerjakan pembantu rumah tangga di rumah. Dengan dalih bahwa kami masih sanggup mengerjakan semuanya, ia benar-benar membuatku kesal hari itu.
    
     “Jungie-ya...,” aku merasakan sebuah tangan menepuk pundakku halus. Selama empat bulan terakhir mengenalnya, aku sudah hafal dengan suara dan kebiasaannya menepuk pundakku seperti apa yang baru saja dilakukannya.

     “Jang Hyun-ah, bagaimana kau bisa masuk?” Tanyaku bingung.

     “Taraaa!” Ia menunjukkan sesuatu di genggamannya, sebuah kunci berpola sama dengan kunci rumahku. “Aku membuat salinannya diam-diam.” Seperti biasa, ia mengerling saat mengajukan ide-ide tak terduga padaku.

     “Lagipula aku sering berkunjung. Jadi, kurasa ini wajar-wajar saja daripada mengganggumu dengan suara bel rumah. Hehe,” ia terkekeh sembari mengambil posisi di sampingku.

     Aku hanya menanggapi ocehannya dengan sebuah senyum simpul.

     “Ngomong-ngomong aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” ia tampak mengeluarkan sesuata dari tas gitar yang tadi tersampir di punggungnya. Sebuah gitar akustik coklat muda beraksen klasik. Ia lekas memangkunya dan memetik sedikit senar di bagian terbawah, kemudian naik dengan nada konstan. Sementara itu tangan kirinya masih asyik mengutak atik pemutar senar di bagian paling ujung ruas chord.

     Setelah dirasanya cukup, ia menghentikan kegiatannya barusan dan lekas membunyikan gitarnya dengan melodi yang belum pernah kudengar sebelum ini. Kemudian bibirnya mulai melantunkan lirik-lirik manis yang membuatku terpukau dalam sekejap. Ia benar-benar pemusik, ya?

     Suaranya tidak mirip dengan suara suamiku yang agak serak. Suaranya lembut seperti kapas yang menyentuh telingaku. Selain itu nada-nada yang diucapkannya tidaklah meleset dan membuatku makin kagum padanya. Pria ini benarkah adik pria menyebalkan itu?

     Selesai ia melantunkan lagunya, aku memberikan sedikit applause padanya. “Bagus! Liriknya manis dan nadanya juga teratur. Kalau kau seorang artis mungkin aku akan menjadi penggemar pertamamu.”

     Ia mengukir segaris senyum penuh arti, “Mau menjadi penggemar fanatikku?”

     Aku terkejut melihat wajahnya mendekat padaku. Jarak antara kedua hidung kami mungkin tak lebih dari lima centimeter. Dan suasana seperti ini benar-benar membuatku beku. Aku hanya diam melihat wajahnya yang masih tersenyum dengan sangat sempurna.

     “Ah! Aku akan mengambilkan jus,” aku bangkit dari ayunan berusaha merusak suasana tidak nyaman di antara kami berdua. Ia hanya terkekeh melihat keteganganku yang masih tersisa atas tindakannya barusan. Aku bergegas menuju dapur dan menuang jus siap saji dari kulkas ke dalam dua gelas bening di atas nampan.

     Aku kembali ke ayunan tempat kami bercengkrama tadi. Ia kembali memetik senar-senar gitar di pangkuannya itu. Matanya bahkan tak teralih sedikitpun dari gitar coklat itu. Ia tampak fokus, bahkan hampir tidak sadar bahwa aku datang membawakannya segelas jus jeruk.

     “Minumlah,” ucapku mempersilahkan. Ia menghentikan permainannya dan lekas meneguk jus di hadapannya sampai seperempat. “Manis,” ucapnya sambil menatap ke arahku.

     Entah sadar atau tidak, aku pasti tampak gugup di hadapannya. Ia memang begitu, selalu begitu. Aku sudah terbiasa karena dia selalu bersikap sama setiap hari. Wajahnya tak pernah berhenti tersenyum dan sikapnya yang terlalu akrab membuatku terkadang salah paham bahwa mungkin ia suka padaku.

     Sebuah perasaan terlarang mulai menyelimuti dadaku belakangan ini. Aku merasa bahwa aku suka padanya sejak ia pertama datang. Andai yang kujumpai di upacara pernikahan itu adalah dia, mungkin aku tidak perlu semenderita sekarang ini. Ia orang yang bebas, sama sepertiku yang tak suka terikat. Mungkin jika saat itu kami yang menikah, hidupku bisa saja lebih bahagia dari pada hari ini.

     “Hei,” ia menegurku yang tengah asyik dalam lamunan. “Memikirkan sesuatu?”

     Aku terdiam mendengar pertanyaannya barusan. Hanya kedua mataku yang terpaku menatapnya. Namun, bibirku tak sanggup mengungkapkannya. Akan dicap wanita seperti apa aku jika benar-benar mengatakannya? Aku bimbang.

     Cup!

     Kurasakan sesuatu menyentuh bibirku. Rasanya masam, tapi tetap manis, seperti jus jeruk. Ia benar-benar menciumku. Adik ipar yang selalu menghiburku itu tanpa segan melakukan hal ini. Demi apa aku harus beku sekarang?

     “Aku sudah memikirkannya dan akan mengakuinya. Sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta padamu, Jungie-ya...”

     Aku terkejut mendengar ucapannya barusan. Aku tidak tahu haruskah sedih atau senang mendengar pernyataannya itu. Aku bingung harus menjawab seperti apa.

     “Aku tahu ini tidak seharusnya. Tapi, aku bersedia meski hanya menjadi simpananmu. Asal berada di sisimu saja, itu sudah cukup, Jungie-ya...,” ia kembali mengecup bibirku sekilas. “Kumohon...”

     Bagaimana aku harus menjawabnya?

**

     Suamiku pulang dengan wajah letih. Setiap hari ia bekerja lebih dari dua belas jam sehari. Meski pekerjaannya memperbolehkannya untuk meninggalkan ruang kerja di atas pukul tiga, tapi ia bersikukuh mengerjakan semuanya sampai jam kerjanya habis. Aku pernah mendengarnya samar-samar saat aku pura-pura sudah tidur di atas ranjang. Bahwa ia ingin menunjukkan contoh bagi semua orang di bawahnya. Semuanya dilakukannya atas dasar berterima kasih pada setiap orang yang harus bekerja lebih berat di bawah naungannya.

     Sore ini aku tidak tidur lebih awal atau pura-pura tidur cepat. Sepulang Jang Hyun dari rumah, aku sengaja menyiapkan beberapa makanan untuk suamiku malam ini. Entah setan apa yang baru saja merasukiku sampai aku melakukan hal ini. Yang pasti dalam kepalaku masih berputar kalimat-kalimat Jang Hyun yang diucapkannya siang tadi. Entah perasaan apa yang sedang bergejolak dalam batinku, aku sama sekali tidak mengenalinya.

     “Kenapa belum tidur?” Itulah kalimat pertama yang kudengar dari bibirnya saat ia menjumpaiku duduk di sofa sambil menonton TV.

     “Aku belum mengantuk,” jawabku ketus tanpa mengalihkan pandanganku pada TV di hadapanku.

     Aku merasakan ia bergerak datang. Langkahnya terhenti tepat di sampingku. Kemudian ia lekas mengambil posisi duduk tepat di sisi kiriku.

     “Aku sudah menyiapkan makan malam. Makanlah selagi hangat,” lagi-lagi aku mengucapkannya tanpa menatap suamiku.

     “Makan malam? Sungguh?” suaranya terdengar senang. “Terima kasih...”

     Aku merasakan kedua tangan kekarnya merangkul tubuhku lembut dari samping. Mungkin ia senang karena ini adalah kali pertama aku membuatkannya makan malam. Setelah itu ia mengajakku makan berdua dan aku mengiyakan saja pertanyaannya tanpa mengajukan argumen apapun.

     Wajahnya berbinar menatap beberapa makanan di atas meja makan. Aku memang tidak jago memasak, tapi setidaknya aku tahu bagaimana memasak makanan Korea. Ia menarik kursi untuk memberikanku tempat duduk. Kemudian ia duduk di hadapanku. Tangannya bergegas meraih satu demi satu sendok setiap lauk di atas meja. Dimasukkannnya satu-satu ke dalam mangkuk nasi yang sudah nyaris penuh itu. Aku bahkan tidak yakin ia akan menghabiskannya.
    
     Kuraih dua sendok ramen di hadapanku dan lekas memakannya tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirku. Aku melirik sebentar ke arah suamiku. Ia menikmati makanannya dengan lahap sampai mengabaikan keberadaanku. Ck, benar-benar!

     “Ini... adalah makanan terenak yang pernah masuk ke dalam mulutku,” ucapnya setelah menyelesaikan makanannya.

     “Aku akan mencuci piring,” ucapku sembari bangkit dan mengemasi piring-piring di atas meja.

     “Aku akan membantu,” ia turut bangkit dari kursinya.

     “Tidak perlu,” selaku sambil meraih piring dan mangkuk di tangannya. “Aku akan melakukannya sendiri.”

     Sebentar setelah aku meletakkan piring ke dalam tempat cuci piring, aku merasakan kedua tangan suamiku memelukku dari belakang. Kepalanya yang lelah disandarkannya pada pundakku. Aku berusaha mengabaikannya dan melanjutkan cucian piring yang sedang menumpuk.

     Pelukannya terasa asing dibanding pelukan-pelukan yang ditimbulkannya saat aku pura-pura tidur sambil memunggunginya. Biasanya itu akan terkesan lembut dan hampir tidak terasa di tubuhku. Tapi, kali ini pelukan itu terasa lebih erat. Aku tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam kepalanya saat ini.

     “Bagaimana kalau kita memiliki seorang bayi, hm?”

     Prang!

     Suara itu membuat pelukannya terlepas dari tubuhku. Mangkuk yang baru saja kucuci tanpa sengaja jatuh membentur lantai. Cepat-cepat ia bertanya apakah aku tidak apa-apa dan aku hanya mengangguk agar tak membuatnya terlalu khawatir.

     Sebentar ia membantuku membersihkan pecahan mangkuk itu dari lantai. Kemudian ia membimbingku menuju ruang makan. “Biar aku saja yang mencuci piringnya.” Setelah itu ia kembali menuju dapur dan membersihkan piring dan mangkuk-mangkuk yang belum sempat kucuci.

**

     Suamiku baru saja berangkat kerja. Aku menyadarinya ketika merasakan bibirnya mengecup keningku sebelum berangkat. Seperti biasa aku pura-pura masih tidur dan ia meninggalkanku dalam ketidaktahuan akan hal itu. Sepeninggalnya menuju tempat kerja, aku mengintip ke dalam ruang makan. Seketika pandanganku menangkap dua tangkup roti bakar di atas piring dan segelas penuh susu segar.

     Aku menghampiri sarapan pagi dengan porsi lebih banyak dari biasanya itu. Sejenak aku mengamatinya kemudian jemariku merangkak naik menyentuhnya. Masih hangat. Mungkin ia baru saja memanggangnya. Di dalam jepitan kedua roti itu ada selai strawberry kesukaanku. Cepat-cepat aku duduk dan memakan sarapan pagiku itu.

     “Baru bangun?” Sebuah suara mengejutkanku dan berhasil membuatku tersedak roti yang baru saja kutelan. Aku menoleh menuju asal suara dan kulihat seorang pria berdiri di ambang pintu dapur.

     Belum sempat aku menjawab pertanyaan pria itu, ia sudah menghampiriku dan mengecup keningku sekilas. “Ah, lanjutkan sarapanmu. Setelah ini aku ingin mengajakmu keluar,” ucapnya sembari menarik kursi di sampingku dan duduk di sana.

     Aku meletakkan setengah roti yang belum kuhabiskan. Tanganku meraih segelas susu di samping piring dan menenggaknya seperempat. “Jang Hyun, bukankah ini tidak benar?”

     Ia tersenyum, “Aku tidak memaksamu untuk mencintaiku. Aku hanya ingin tinggal di sisimu. Sebentar saja...”

     Jang Hyun memungut setengah roti di atas piring dan menyuapkan sebagian padaku. “Makanlah. Kalau tidak, kau bisa sakit.”

     Aku membuka mulutku dan memakan roti itu. Rasa strawberry yang masam tiba-tiba terasa manis di lidahku. Aku mengunyahnya pelan-pelan sampai akhirnya potongan lembut roti itu masuk ke kerongkonganku. “Kau yakin ini akan baik-baik saja?”

     “Tentu. Selama kau tidak memberitahu Jang Woo hyung,” ucapnya sebelum memakan sebagian roti di genggamannya. “Ini akan menjadi rahasia kita.”

     Aku hanya diam, tak memberikan tanggapan apapun atas kalimatnya.

**

     Beberapa bulan terakhir aku menjalani hal yang disebut sebagai ‘perselingkuhan’ dengan adik iparku sendiri. Semula kurasa perasaan kami akan hilang dengan sendirinya seiring bergulirnya waktu. Namun, ternyata hal itu tak pernah terjadi. Perasaanku pada Jang Hyun semakin menggebu setiap kali kami bertemu.

     Semakin lama hubungan ini terasa semakin serius. Dan seiring berputarnya detik, menit, dan jam hubungan ini menjadi semakin menjadi-jadi. Kami jadi sering keluar pagi-pagi sekali saat suamiku sudah berangkat kerja dan baru pulang sebelum matahari tenggelam, yakni dua jam sebelum suamiku pulang dari kantor. Kadang kala aku berpikir bagaimana kelak kami berdua mengakhiri hubungan ini. Sudah terlalu jauh bagi kami untuk berhenti. Yang perlu kami lakukan hanyalan berjalan dan menunggu waktu Tuhan memisahkan kami dengan segala cara.

     Seperti sekarang ini. Aku dan Jang Hyun baru saja pulang dari mall. Hari belum sore, jadi kupikir suamiku belum akan pulang. Jadi, kami memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama di rumah.

     Karena ini sudah masuk pertengahan musim dingin, tentu kami akan mempertimbangkan bagaimana baiknya saat keluar dan suamiku tidak mengetahuinya. Suhu yang turun drastis kadang membuatku sulit beradaptasi dengan udara di luar. Dan untung saja, selama ini Jang Woo tidak merasa curiga ketika aku pulang dalam keadaan basah karena salju.

     Pip!

     Aku meraih ponselku dari dalam tas dan mendapati sebuah panggilan masuk dari suamiku. Aku mencoba memberi isyarat pada Jang Hyun untuk memberikanku jeda dalam pelukan kami. Tampaknya ia mengerti bahwa yang menelepon adalah kakaknya dan ia segera mengambil posisi di atas sofa di samping ranjang.

     “Ya?” Aku menjawab panggilan tersebut sambil mencoba menstabilkan nafasku.

     “Sedang apa?” Suara pria itu terdengar serak. Mungkin radangnya kembali kambuh mengingat sekarang memang sudah masuk musim dingin.

     “Aku baru pulang berbelanja. Kenapa?”

     “Ah, tidak. Tidak apa-apa. Aku cuma mau mengabarkan kalau hari ini aku akan pulang terlambat. Tidak apa-apa?” Tanyanya dari seberang.

     “Un,” aku mengiyakan. “Ada lagi?”

     “Aku mencintaimu,” ucapnya pelan.

     “Un,” lagi-lagi hanya itu yang melesat keluar dari bibirku.

     “Sudah, ya. Aku akan menelepon lagi nanti,” ucapnya mengakhiri pembicaraan. Aku lekas menutup lipatan ponsel di genggamanku.

     “Dia bilang apa?” Tanya Jang Hyun yang saat ini sudah berguling tidak jelas di atas ranjang.

     “Dia akan pulang terlambat. Mungkin lembur,” aku melemparkan ponselku ke atas ranjang dan merebahkan diri di sampingnya.

     “Baguslah! Kalau begitu kita bisa menghabiskan waktu lebih lama,” ucap Jang Hyun senang. Ia mengecup pipiku sebentar dan kembali rebahan di sampingku. “Andai kau tidak pernah menikah dengan Jang Woo hyung. Kita tidak perlu bersembunyi seperti ini. Iya, kan?”

     Aku menatap matanya sebentar dan mengukir segaris senyum.

**

     Larut malam kudengar suara langkah kaki agak berat menapaki tangga satu-satu. Suara itu menuju ke atas dan semakin mendekat. Aku yang belum benar-benar lelap dalam buaian mimpi seketika menyalakan kembali lampu utama kamar.

     Pelan-pelan mataku berusaha menyesuaikan. Aku bergegas menuju jendela dan mengintip siapa gerangan yang datang. Seorang pria berkemeja biru melangkah mendekat ke arah kamar. Aku tidak yakin, tapi sepertinya itu suamiku.

     Aku menengok ke arah jam dinding di sisi kanan lemari. Jarum pendeknya menunjuk angka tiga dan jarum panjangnya hampir menyentuh angka satu. Terlalu larut sebagai jam lembur, pikirku. Sebelumnya suamiku tidak pernah pulang selarut ini. Biasanya ia akan lembur sampai pukul sepuluh atau sebelas malam.

     Dok! Dok! Dok!

     Pintu kamar yang sempat kukunci dari dalam diketuk kasar dari arah luar. Keraguan akan kebenaran sosok suamiku saat itu benar-benar tengah merongrong batinku. Siapa dia? Wajahnya mirip suamiku, tapi caranya berjalan, caranya mengetuk pintu, benar-benar berbeda daripada biasanya.

     “Eun Jung-ah! Eun Jung-ah! Kau sudah tidur, hm?” Suaranya masih serak seperti yang kudengar dalam telepon tadi sore. Namun, kali ini terdengar lebih berat dengan volume dan nada tidak beraturan. Ia terus menyebut namaku sampai berkali-kali dan aku masih mengabaikannya. Aku hanya mengintip tindakannya dari jendela kamar dan masih berpikir beberapa kali untuk membukakan pintu kamar yang membuat jarak di antara kami berdua.

     Setelah agak lama suara itu mereda. Yang tertangkap indra pendengaranku adalah suara nafasku dan helaan AC yang menyala dalam suhu tiga puluh derajat. Benarkah itu suamiku? Lee Jang Woo?

     Untuk menghapus rasa penasaran, kesal, dan takut yang beraduk dalam dadaku, kulangkahkan kakiku mendekati pintu. Kuputar kunci searah jarum jam sehingga pintu tak lagi terkunci dari dalam. Sebentar kemudian ganti kuputar knop pintu dan seketika kujumpai pria yang tadi mengganggu tidurku. Tubuhnya tergeletak dari luar kamar hingga kepalanya masuk ke dalam kamar.

     Aku berjongkok di sampingnya untuk memastikan siapa pria itu. Kelihatannya dia memang suamiku. Setidaknya sembilan puluh lima persen aku yakin bahwa dia adalah suamiku. Kemeja yang dipakainya tadi pagi, kemudian tas kerjanya, dan sepatu kesayangannya. Semua itu menunjukkan identitas suamiku.

     Tapi, yang membuatku ragu untuk presentase lima persen berikutnya adalah penampilannya yang sama sekali berbeda. Sebagian kemejanya keluar dan sebagian yang lain masuk dalam celana panjang hitamnya. Rambutnya berantakan, padahal aku tahu ia selalu rajin menyisirnya sebelum ini. Dan dari mulutnya aku mampu mencium aroma alkohol yang menguar keluar.

     “Hei!” Aku mencoba membangunkannya. Tidur di atas lantai seperti itu pasti sangat dingin. “Hei!”

     “Mmhhh...”

     Hanya erangan-erangan tak berarti yang keluar dari mulutnya. Sesekali ia mengucapkan kalimat yang tak kumengerti. Ada apa dengannya?

**

     Pagi-pagi sekali aku mendengar seseorang mengoceh. Dan yang kujumpai adalah sosok suami yang masih terlelap dalam tidurnya di sampingku. Mungkin yang barusan itu suaranya yang tengah mengigau. Apalagi suara itu terdengar sangat khas di telingaku.

     “Aih...,” kulihat ia mulai bangkit dari posisinya semula. Tangan kanannya meraih puncak kepalanya sambil memijatnya sebentar. “Eun Jung-ah, ini sudah jam berapa?”

     Aku diam, tak menggubris pertanyaannya.

     “...Kepalaku rasanya berat,” lanjutnya sambil meringis menahan sakit di kepalanya.

     Aku hanya menatapnya tanpa melontar sepatah kata pun padanya. Lima atau sepuluh menit lagi dia pasti ingat dengan sendirinya. Aku tahu karena dulu aku sering mengalaminya, sangat sering bahkan.

     Kutinggalkan suamiku sendiri di atas ranjang dalam keadaan bingung. Mungkin ingatannya sudah kembali bekerja. Tapi, aku tidak peduli. Yang aku ingin lakukan adalah memarahi atas tindakannya semalam. Ia benar-benar membuatku kesal karena mengganggu tidurku.

     “Maaf, Eun Jung-ah,” ia merangkulku dari belakang sambil menyandarkan kepalanya di pundakku. Seolah bisa membaca batinku, ia meminta maaf untuk kesalahannya tadi malam.

     Aku melepaskan pelukannya dengan kasar dan mengabaikannya yang masih terdiam, mungkin dalam perasaan bingung. Tapi, aku bukannya bermaksud menolak permintaan maafnya. Aku hanya merasa semakin lama tubuhku ini tidaklah pantas disentuh suamiku lagi sejak hubunganku dengan Jang Hyun bertambah serius dan semakin jauh.

**

     Belakangan ini Jang Hyun menghampiriku untuk waktu semakin sering. Setiap suamiku tidak berada di sisiku, maka disanalah Jang Hyun akan muncul dan mengisi kekosongan hatiku.

     Suatu ketika aku mencoba membicarakan tentang akhir dari hubungan kami. Akan seperti apa dan bagaimanakah saat itu terjadi. Yang kudengar dari bibir Jang Hyun adalah lontaran kalimat tidak senang atas pertanyaanku tentang hal itu.

     “Cukup tahu aku mencintaimu dan sejauh apa kita akan pergi,” Jang Hyun mengulurkan tangannya padaku. “Selama kita berkencan, aku ingin kau meninggalkan cincin pernikahanmu padaku.”

     “Eh?”

     Ia tersenyum. “Tenang saja. Aku akan menjaganya baik-baik, kok. Kau bisa mengambilnya saat kembali ke rumah.”

     Dengan berat hati kulepaskan cincin yang mengikatku dengan Jang Woo. Kemudian kuberikan lingkaran kecil itu pada Jang Hyun. Kulihat ia memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Dan aku mencoba untuk tidak berkomentar.

     “Nah, hari ini kita akan main kemana?” Ia mulai menanyakan tentang hal lain yang belum sempat kami bahas pagi ini.

     “Aku ingin menonton,” jawabku.

     “Ok! Dikabulkan!” Jang Hyun lekas menarik lenganku, membawaku berjalan menuju gedung bioskop terdekat. Aku berlari kecil untuk menyamakan langkah kakinya yang lebih lebar. Kencan kami untuk yang kesekian ratus kali pun dimulai.

**

     Sepulang kencan kami terlalu senang sampai lupa waktu. Akibatnya, aku baru pulang agak larut. Jang Hyun bilang tidak perlu khawatir jika baru sekali ini Jang Woo memergoki mereka pergi berdua. Hubungan kakak ipar dan adik ipar yang sesekali bertemu itu wajar, kan?

     Sampai di depan rumah kedatangan kami disambut oleh suamiku di depan pintu. Senyumnya masih belum berubah sejak pertama kali kami bertemu. Sekilas aku melihatnya melirik pada Jang Hyun.

     “Hei, kau mau merebut istri orang, ya?” Ucapan Jang Woo membuatku terpaku untuk sejenak. Tapi, rupanya hal itu ditanggapi Jang Hyun dengan gurauan dan alhasil pembicaraan panjang mereka pun dimulai.

     “Kau yang meninggalkan istri cantik sendirian di rumah. Harusnya kau tahu siapa yang salah sebenarnya, hyung. Hehehe,” ucap Jang Hyun terkekeh.

     Mengabaikan mereka, aku lekas menuju dapur dan menyiapkan tiga gelas teh hangat untuk kami. Dari ekspresi Jang Woo, tampaknya ia tidak curiga sama sekali atas kepergianku dengan Jang Hyun hari ini. Baguslah, aku jadi tidak perlu repot-repot menjelaskannya, kan?

     “Eh? Eun Jung-ah, cincinmu kemana?”

     Deg!

     Aku lupa meminta cincinku kembali pada Jang Hyun. “Itu... Aku meninggalkannya di tas. Lagipula bagaimana pun terserah bagaimana aku memakainya, kan?” Aku menjawab pertanyaan suamiku dengan sebuah kebohongan.

     Sesekali aku melirik ke arah Jang Hyun dan ia hanya tersenyum padaku, “Hyung, kau tidak perlu membesar-besarkan masalah seperti ini, kan?”

     Suamiku mengangguk membenarkan ucapan Jang Hyun dan kembali menenggak separuh teh dalam cangkirnya. Diikuti aku dan Jang Hyun kemudian. Fiuh~ hampir saja.

**

     Aku kembali membanting barang pecah belah di dalam ruang tamu. Vas-vas mahal dan gelas-gelas kesayangannya sengaja kupecahkan untuk memicu amarahnya padaku. Aku tidak peduli ia akan menghardik, membentak, atau membunuhku sekalipun. Aku hanya ingin tahu seberapa kuat ia mempertahankan emosinya.

     “Kau ingin membunuhku sekarang? Ingin membentakku keras-keras karena semua ini? Silahkan! Kau sudah tahu bahwa selama ini aku berhubungan dengan Jang Hyun di belakangmu, kan? Kau marah? Kesal? Huh? Katakan saja!” Aku terus berusaha memancing emosinya.

     Aku sudah tidak tahan melihat sikap diamnya dan kepura-pura tidak tahuannya atas hubunganku dengan Jang Hyun selama ini. Sudah setahun, apakah masuk akan bahwa ia tidak tahu menahu tentang hal ini?

     Sikapku seperti ini membuatku menatap diriku sendiri. Aku seperti seekor ayam yang berharap seekor singa membunuhku. Aku seperti sedang menyetorkan nyawaku kepada suamiku sendiri, Lee Jang Woo. Karena memang sudah tidak ada hal lain lagi untuk membuat hubungan terlarang antara aku dan Jang Hyun berakhir.

     Sejak berhubungan dengan Jang Hyun, aku selalu diselimuti perasaan takut dan khawatir jika suamiku tiba-tiba mengetahuinya. Hal itu membuatku dua kali lipat merasa tidak nyaman dibanding saat aku merebahkan diri di samping suamiku sebelum Jang Hyun datang.

     Aku ingin mengakhirinya sebelum aku masuk lebih jauh ke dalam dosa dan rasa bersalah pada suamiku. Bagaimanapun aku masih seorang istri dari pria bernama Lee Jang Woo. Dan aku masih seorang manusia yang merasa takut dengan apa yang akan dilakukan Tuhan padaku jika aku tak mengakhirinya dengan segera.

     Kulihat pria itu datang menghampiriku. Jarak kami semakin menipis seiring langkah mantapnya menuju ke arahku. Apa yang akan dilakukannya kali ini? Menamparku? Membunuhku? Setidaknya itu lebih baik daripada sikap diamnya yang tak pernah dapat kuartikan.

     Aku memandangnya dengan tatapan bengis. Tatapan kami bertemu untuk waktu yang lama. Antara aku dan dia, kami saling menyelami isi pandangan kami masing-masing. Tiba-tiba kurasakan tangannya mendekapku kuat-kuat. Pelukannya terasa lebih hangat dari pelukan-pelukan yang dilakukannya padaku sebelumnya.

     Aku mengerang, menolak pelukannya. Aku merasa tidak pantas mendapatkan pelukan dari seorang suami yang begitu mencintaiku sedalam ini, sejauh ini. Aku tidak pantas karena aku tidak pernah menyadari apa yang seharusnya kuketahui, apa yang seharusnya kusadari sejak awal, dan apa yang harus kulakukan sejak upacara pernikahan hari itu.

     “Aku sudah tahu semuanya,” bibirnya mulai melontarkan sebaris kalimat. “Aku sudah tahu apa yang tidak seharusnya kuketahui sejak awal.”

     Ia mendekapku lebih erat. “Aku tidak pernah ingin menyalahkanmu. Tapi, aku terluka karena hal itu.” Kali ini ia mengecup lembut puncak kepalaku.

     Bibirku bergetar menahan air mata yang mulai membasahi mataku satu-satu. Aku tidak sanggup berargumen karena aku tidak bisa menyalahkannya lagi. Ia terlalu banyak mengalah dan itulah yang membuatku tenggelam terlalu jauh dalam kebencian pada diriku sendiri.

     Jemarinya mulai membelai rambut dan punggungku pelan-pelan. “Aku tidak ingin membentakmu karena itu akan membuatmu menangis. Dan air matamu adalah luka batin dalam dadaku yang selalu ingin kuhindari.”

     Ia mengecup pipiku sebentar. “Maaf, selama ini aku hanya bisa membuatmu kesal dan menangis.”

     Aku menggeleng atas pernyataannya barusan. Selama ini dia tidak pernah bersalah atas semuanya. Ia tak pernah berusaha mencari-cari kesalahanku meski cuma sekali. Ia tak pernah membenciku meski aku sudah merampas haknya dan terkadang merusak segalanya. Selama ini akulah yang menanam kesalahan padanya. Akulah yang menanam bibit kebencian tak berakar padanya.  Aku terus berusaha mencari kesalahannya yang dapat kujadikan alasan rasa benci terhadap dirinya. Tapi, sedkitpun ia tak pernah marah padaku. Ia tak membentakku atau bahkan membuangku seperti sampah ketika ia memergokiku berselingkuh dengan saudara kandungnya.

     Ia tak pernah menyalahkanku atas semua kesalahanku. Ia justru berpikir dimana letak kesalahannya sendiri sehingga pikirannya itu membawanya ke sebuah klub malam untuk menghilangkan penat. Ya, malam itu adalah malam seusai ia memergokiku bercinta dengan adiknya.

     Ia tidak lembur malam itu. Karena hari itu ia diperbolehkan pulang lebih awal. Dan melihatku bersama adiknya, aku tak mampu membayangkan seberapa jauh hatinya teriris atas perbuatanku.

     “Karena aku mencintaimu, Eun Jung-ah. Aku mencintaimu sejak awal dan sampai akhir aku ingin terus mencintaimu seperti dan bahkan lebih dari ini...” Bibirnya mengecup lembut bibirku yang masih terasa bergetar.

     Aku selalu menatapnya sebagai sebuah plastik yang tak akan pernah robek sekalipun aku mempermainkannya. Tapi, dia bukanlah plastik. Dia tidak pernah memiliki hati sekeras batu, sekuat tembikar, atau setahan plastik. Pada kenyataannya, dia adalah sebuah gelas yang berusaha menyembunyikan keretakannya sekalipun aku berusaha membantingnya keras-keras.

     Tanganku bergerak naik, membalas pelukannya lebih erat. Aku tidak ingin menciptakan dosa kedua kali kepadanya. Dan di waktu-waktu yang tersisa ini semoga aku masih bisa melihatnya bahagia dengan balasan cintaku padanya yang tidak lebih banyak dari segenggam air.






The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar