Title :
Sin
Author :
Dita Chun © 2013
Type :
Oneshoot
Genre :
Romance
Rating :
T [Teenager]
Theme Song :
BOIS—Scar
Main Cast :
*Ham Eun Jung as Ham Eun Jung
*Lee Jang Woo as Lee Jang Woo and Lee Jang Hyun
Disclaimer :
Ham Eun Jung and Lee Jang Woo are belong to themselves. I’m own nothing but
plot. So, don’t bash me, ok?
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya
Note :
FF “Sin” akhirnya selesai digarap! Yay! Saya milih pairing WooJung karena baru
suka ngeliatin foto-foto mesranya WooJung pas di We Got Married. Btw, saya
menghabiskan banyak waktu untuk mengerjakannya, loh! *gak ada yang nanya* Jujur
aja pas ngerjain ini FF berasa mengalir aja, santai gitu. Lagian udah lama saya
pengen ngerjain cerita tentang perselingkuhan kayak begini. Meskipun hasilnya
gak bisa dibilang maksimal sih. Seenggaknya saya bisa ngerjainnya sepanjang
hari ini sampe tamat. Ok, happy reading! ^^ Komen kalian mudah-mudahan bisa
menjadi bayaran atas usaha nyelesaiin FF ini. So, jangan lupa leave a comment
yah! ^^V
Sejenak rumah terasa sepi. Segala keributan
yang baru saja terjadi tiba-tiba lenyap. Hanya terdengar suara nafasku yang
masih tersengal-sengal di hadapannya. Dengan ekor mataku, aku mampu melihat
barang-barang pecah belah berserakan di atas lantai. Serpihan-serpihan itu
mungkin saja akan melukai siapapun yang menginjaknya, sengaja atau tidak.
Vas-vas mahal, guci-guci antik, dan gelas-gelas wine tercecer sembarangan hampir di seluruh sudut rumah.
Aku hafal benar dengan penyakit menahun
yang kerap mengganggu tidurku pada malam hari itu. Jujur saja itu memang sangat
menggangguku. Dan kerap kali hal itu kujadikan alasan untuk mengusirnya keluar
dari dalam kamar. Meskipun aku tahu itu akan sangat dingin di ruang tamu karena
biasanya itu adalah musim dingin. Tapi, aku tidak peduli. Karena sejak dulu aku
memang keras dan tentu ia sangat paham dengan watakku tersebut.
Dan tiba-tiba saja aku menyadari bahwa
hafalan di luar kepalaku tentangnya adalah bukan apa-apa. Aku tidak mengerti
tentangnya. Tentang dia, hampir semuanya aku tidak mengetahuinya. Aku hanya
tahu apa yang tampak dari luar. Sosok dirinya yang kuat. Ya, dari luar dia
memang seperti plastik yang bisa kupermainkan sesukaku tanpa takut merobeknya.
Hingga aku tahu bahwa di dalam plastik yang tampak di mataku itu ada sebuah kaca
yang bisa saja remuk menjadi serpihan kuarsa hanya dengan sekali getaran.
**
Aku terpekur sendiri di atas timangan
ayunan kayu. Kepalaku terasa berdenyut sejak siang tadi. Aku benar-benar
menyesali takdir yang baru saja diturunkan Tuhan padaku. Mengapa rasanya begitu
tidak adil?
Semua teman-temanku masih menikmati masa
lajang, bermain-main, berkencan dengan banyak pria sesuka hati, sedangkan
takdir menyeretku secara paksa ke dalam sebuah pernikahan, mengikatku pada
seorang pria yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Aku bahkan tidak pernah
berpikir akan mendapatkan akhir percintaan seperti ini. Belum habis pikir
bagaimana kedua orang tuaku menerima telak pinangan terhadapku dari pria itu,
sebuah nada dering mengejutkanku dari lamunan.
Aku melirik ponsel putih yang terbaring
manis di atas ayunan tepat di sampingku. Dari balik layar LCD yang berkedip itu
aku mampu melihat sebuah pemberitahuan pesan baru dari nomor tak kukenal. Aku
tidak memiliki teman dengan nomor seperti itu, tapi aku tahu siapa yang mengirimkannya
padaku.
Suamiku, Lee Jang Woo.
Ia selalu ingin tahu apa-apa yang sedang
kulakukan. Mengirimiku pesan singkat tiap beberapa jam sekali. Bukankah itu
mengganggu sekali?
Baiklah, aku tahu. Dia memang suamiku.
Tapi, bukan berarti aku harus menjadi budak yang harus melaporkan kegiatanku
padanya selama 24 jam. Lagipula aku sama sekali tidak mencintainya. Sejak awal
kami bertemu, hingga hari ini. Tidak sama sekali.
Aku mengabaikan pesan singkat itu dan
merebahkan diri di atas ayunan. Aku ingin main-main seperti dulu. Aku ingin
berkencan dengan pria yang kusukai. Dan aku ingin sekali melepaskan status
istri yang sangat merepotkan ini.
Ting Tong!
Aku bangkit dari ayunan hendak mengintip
siapa yang datang. Kusingkap sedikit kain gordyn
yang mengganggu pandanganku melihat keluar jendela. Dari jendela berkaca ribbon itu aku menyaksikan sosok pria
yang sangat kukenal berdiri di luar pagar rumah. Tampaknya ia menungguku
membukakan pintu.
‘Enak saja. Memangnya siapa dia? Bukankah
dia membawa kunci rumah sendiri?’
Aku meninggalkan jendela dan pergi menuju
dapur. Mengabaikan pria berkaos abu-abu itu di depan gerbang. Tunggu. Kaos
abu-abu? Bukankah tadi dia berangkat dengan kemeja dan jas kerjanya?
Karena sedikit rasa penasaran, kuputuskan
untuk kembali menengok ke arah jendela. Pria itu masih berdiri di depan sana.
Sesekali ia melirik jam di tangannya. Beberapa kali aku mendengar suara bel
dibunyikan dan aku yakin itu bukanlah suamiku.
Aku membuka pintu dan mendapati sosoknya
menghela nafas lega. Beberapa detik setelah pandangan kami bertemu, ia
melambaikan tangan ke arahku sambil menyungging senyum. Ternyata memang bukan
suamiku. Senyumnya bahka berbeda meski sekilas wajah mereka terlihat sama.
“Hai, kakak ipar! Bisa kau buka pintunya
lebih cepat? Kurasa kulitku sudah melepuh,” ucapnya dari luar pagar.
Aku terkesima untuk beberapa detik.
Sikapnya memang berbeda. Tapi, apa dia bilang barusan? Kakak ipar? Siapa? Aku?
“Ah, kau pasti mengira aku Jang Woo hyung, ya? Baiklah, biarkan aku masuk
dan aku akan menjelaskannya padamu.”
Tanpa mengucap sepatah kata pun aku
bergegas membuka pintu gerbang yang memisahkan kami untuk beberapa detik
lamanya.
**
Aku mempersilahkannya duduk di ruang tamu
dan menyeduhkan secangkir teh hangat untuknya. Samar-samar aku melihat peluh
membasahi wajah dan lehernya. Mungkin ia sudah lama di depan sana dan aku malah
pura-pura tidak tahu, mengabaikannya. Sedikitnya aku merasa tidak enak, apalagi
sepertinya dia adalah salah satu anggota keluarga suamiku.
“Aku Lee Jang Hyun, saudara kembar Jang Woo
hyung.” Terangnya sebelum meneguk teh
di tangannya.
“Saudara kembar?”
Ia mengangguk. “Mungkin kita belum pernah
bertemu sebelumnya karena aku baru pulang dari Amerika. Oh ya, maaf aku tidak
bisa datang di pernikahan kalian. Kuharap kau tidak marah.”
“Ah, tidak. Tidak apa-apa,” selaku.
Ia kembali tersenyum sambil menatapku
sebentar. “Kau benar-benar cantik dan baik. Jang Woo hyung beruntung sekali bisa mendapatkan istri sepertimu.”
Aku tertawa kecil mendengarnya. “Oh ya, kau
pulang dari Amerika. Di sana sedang kuliah?”
“Kurang lebih, begitulah...”
“Apa maksudmu dengan kurang lebih, hei?”
“Aku orangnya cukup bebas, tidak suka
dikekang. Jadi, aku pergi ke Amerika untuk kuliah sekalian berlibur,” jawabnya
terang-terangan. Aku terkekeh mendengar jawabannya.
Dia ini... Pria di hadapanku ini
benar-benar berbeda dengan suamiku yang pendiam. Dia jarang membuka pembicaraan
bebas seperti ini. Apa yang ada di dalam kepalanya itu mungkin hanya bisnis dan
menanyakan apa-apa yang kukerjakan seolah peduli. Berbeda dengan dia yang bisa
membicarakan hal begini secara lepas. Dan kuakui bahwa aku cukup nyaman
mengobrol dengannya. Meski ini adalah kali pertama pertemuan kami. Setidaknya,
arah pembicaraan kami tidak akan monoton seperti saat aku bersama suamiku.
“Oh ya, Jang Woo hyung belum pulang, ya?” Pandangan Jang Hyun mengedar ke sekeliling
sudut rumah.
“Dia akan pulang setengah jam lagi,”
jawabku.
Jang Hyun mengangguk paham. “Kalau begitu
sampaikan saja salamku pada Jang Woo hyung,
ya?”
“Eh? Tidak mau menunggu?”
Ia menggeleng. “Aku ada janji dengan
temanku. Jadi, aku harus pergi. Senang bertemu denganmu, kakak ipar!” Ia
menepuk pundakku sebentar lalu beranjak keluar.
“Ah, sebentar!” Ia menahan langkahnya dan
kembali berbalik menatapku. “Siapa namamu?”
“Eun Jung. Namaku Ham Eun Jung,” jawabku
mantap.
“Eun Jung? Baiklah, kupanggil Jungie-ya?” Ia tampak meminta persetujuan
dariku. Aku mengangguk tanda setuju. Sebelum pergi aku melihat ia mengerling
sekilas padaku. Ah, dia benar-benar orang yang mudah akrab, ya?
**
Sejak pertemuan pertama kami hari itu, ia
jadi sering berkunjung ke rumah ini. Bahkan hampir setiap hari kami bertemu
sepanjang suamiku bekerja. Ia selalu memiliki topik pembicaraan yang enak
dibahas setiap hari. Aku jadi menikmati obrolannya dengan cepat. Jujur, aku
merasa nyaman setiap ia datang ke rumah ini.
Pip!
Ponselku berdering sebentar. Aku kembali
menerima pesan dari suamiku yang nomornya sudah tercantum dalam list kontakku. Pesan-pesan singkat itu
memiliki makna yang hampir sama seperti hari-hari sebelumnya.
Pertanyaan-pertanyaan seperti apakah aku
sudah makan atau aku sedang melakukan apa dan dimana, bersama siapa sekarang.
Semua kalimat itu seolah menjadi rutinitas yang akan menggangguku setiap siang
dan sore. Dan hampir seluruh pesan yang datang darinya tidak pernah kubalas.
Meski begitu, ia tak pernah berhenti melakukan kegiatan bodohnya tersebut
padaku. Apa dia begitu menganggur sampai-sampai terlalu sempat mengirimiku
pesan singkat padaku?
Pernikahan kami sudah berjalan empat bulan
lamanya. Dan selama itu pula aku selalu tidur lebih awal sebelum ia pulang
kerja. Kemudian aku akan bangun ketika sarapan sudah tersedia di atas meja yang
mana aku tahu bahwa ia menyiapkan itu semua sendirian. Hampir setiap hari aku
tidak melihat wajahnya karena kebiasaanku bangun terlambat dan tidur cepat itu.
Ia sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali. Ia selalu meninggalkan rumah dalam
keadaan bersih dan aku bersyukur bahwa ia masih tahu diri sebagai seorang
suami.
Entah kenapa aku begitu membencinya lebih
dari apapun. Melihat wajahnya sejak pernikahan itu membuat dadaku sesak dalam
sekejap. Ia memang tampan, tapi aku terus mengingat bahwa pria inilah yang
sudah merenggut masa bahagiaku. Pria ini yang sudah mengikatku di dalam rumah
dengan berbagai kewajiban dan nasehat tak berguna. Dan aku paling marah
mengingat ia menolak permintaanku mempekerjakan pembantu rumah tangga di rumah.
Dengan dalih bahwa kami masih sanggup mengerjakan semuanya, ia benar-benar membuatku
kesal hari itu.
“Jungie-ya...,”
aku merasakan sebuah tangan menepuk pundakku halus. Selama empat bulan terakhir
mengenalnya, aku sudah hafal dengan suara dan kebiasaannya menepuk pundakku
seperti apa yang baru saja dilakukannya.
“Jang Hyun-ah, bagaimana kau bisa masuk?” Tanyaku bingung.
“Taraaa!” Ia menunjukkan sesuatu di
genggamannya, sebuah kunci berpola sama dengan kunci rumahku. “Aku membuat
salinannya diam-diam.” Seperti biasa, ia mengerling saat mengajukan ide-ide tak
terduga padaku.
“Lagipula aku sering berkunjung. Jadi,
kurasa ini wajar-wajar saja daripada mengganggumu dengan suara bel rumah.
Hehe,” ia terkekeh sembari mengambil posisi di sampingku.
Aku hanya menanggapi ocehannya dengan
sebuah senyum simpul.
“Ngomong-ngomong aku ingin menunjukkan
sesuatu padamu,” ia tampak mengeluarkan sesuata dari tas gitar yang tadi
tersampir di punggungnya. Sebuah gitar akustik coklat muda beraksen klasik. Ia
lekas memangkunya dan memetik sedikit senar di bagian terbawah, kemudian naik
dengan nada konstan. Sementara itu tangan kirinya masih asyik mengutak atik
pemutar senar di bagian paling ujung ruas chord.
Setelah dirasanya cukup, ia menghentikan
kegiatannya barusan dan lekas membunyikan gitarnya dengan melodi yang belum
pernah kudengar sebelum ini. Kemudian bibirnya mulai melantunkan lirik-lirik
manis yang membuatku terpukau dalam sekejap. Ia benar-benar pemusik, ya?
Suaranya tidak mirip dengan suara suamiku
yang agak serak. Suaranya lembut seperti kapas yang menyentuh telingaku. Selain
itu nada-nada yang diucapkannya tidaklah meleset dan membuatku makin kagum
padanya. Pria ini benarkah adik pria menyebalkan itu?
Selesai ia melantunkan lagunya, aku
memberikan sedikit applause padanya.
“Bagus! Liriknya manis dan nadanya juga teratur. Kalau kau seorang artis
mungkin aku akan menjadi penggemar pertamamu.”
Ia mengukir segaris senyum penuh arti, “Mau
menjadi penggemar fanatikku?”
Aku terkejut melihat wajahnya mendekat
padaku. Jarak antara kedua hidung kami mungkin tak lebih dari lima centimeter.
Dan suasana seperti ini benar-benar membuatku beku. Aku hanya diam melihat
wajahnya yang masih tersenyum dengan sangat sempurna.
“Ah! Aku akan mengambilkan jus,” aku
bangkit dari ayunan berusaha merusak suasana tidak nyaman di antara kami
berdua. Ia hanya terkekeh melihat keteganganku yang masih tersisa atas
tindakannya barusan. Aku bergegas menuju dapur dan menuang jus siap saji dari
kulkas ke dalam dua gelas bening di atas nampan.
Aku kembali ke ayunan tempat kami
bercengkrama tadi. Ia kembali memetik senar-senar gitar di pangkuannya itu.
Matanya bahkan tak teralih sedikitpun dari gitar coklat itu. Ia tampak fokus,
bahkan hampir tidak sadar bahwa aku datang membawakannya segelas jus jeruk.
“Minumlah,” ucapku mempersilahkan. Ia
menghentikan permainannya dan lekas meneguk jus di hadapannya sampai
seperempat. “Manis,” ucapnya sambil menatap ke arahku.
Entah sadar atau tidak, aku pasti tampak
gugup di hadapannya. Ia memang begitu, selalu begitu. Aku sudah terbiasa karena
dia selalu bersikap sama setiap hari. Wajahnya tak pernah berhenti tersenyum
dan sikapnya yang terlalu akrab membuatku terkadang salah paham bahwa mungkin
ia suka padaku.
Sebuah perasaan terlarang mulai menyelimuti
dadaku belakangan ini. Aku merasa bahwa aku suka padanya sejak ia pertama
datang. Andai yang kujumpai di upacara pernikahan itu adalah dia, mungkin aku
tidak perlu semenderita sekarang ini. Ia orang yang bebas, sama sepertiku yang
tak suka terikat. Mungkin jika saat itu kami yang menikah, hidupku bisa saja
lebih bahagia dari pada hari ini.
“Hei,” ia menegurku yang tengah asyik dalam
lamunan. “Memikirkan sesuatu?”
Aku terdiam mendengar pertanyaannya
barusan. Hanya kedua mataku yang terpaku menatapnya. Namun, bibirku tak sanggup
mengungkapkannya. Akan dicap wanita seperti apa aku jika benar-benar
mengatakannya? Aku bimbang.
Cup!
Kurasakan sesuatu menyentuh bibirku.
Rasanya masam, tapi tetap manis, seperti jus jeruk. Ia benar-benar menciumku.
Adik ipar yang selalu menghiburku itu tanpa segan melakukan hal ini. Demi apa
aku harus beku sekarang?
“Aku sudah memikirkannya dan akan
mengakuinya. Sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta padamu,
Jungie-ya...”
Aku terkejut mendengar ucapannya barusan.
Aku tidak tahu haruskah sedih atau senang mendengar pernyataannya itu. Aku
bingung harus menjawab seperti apa.
“Aku tahu ini tidak seharusnya. Tapi, aku
bersedia meski hanya menjadi simpananmu. Asal berada di sisimu saja, itu sudah
cukup, Jungie-ya...,” ia kembali
mengecup bibirku sekilas. “Kumohon...”
Bagaimana aku harus menjawabnya?
**
Suamiku pulang dengan wajah letih. Setiap
hari ia bekerja lebih dari dua belas jam sehari. Meski pekerjaannya
memperbolehkannya untuk meninggalkan ruang kerja di atas pukul tiga, tapi ia
bersikukuh mengerjakan semuanya sampai jam kerjanya habis. Aku pernah
mendengarnya samar-samar saat aku pura-pura sudah tidur di atas ranjang. Bahwa
ia ingin menunjukkan contoh bagi semua orang di bawahnya. Semuanya dilakukannya
atas dasar berterima kasih pada setiap orang yang harus bekerja lebih berat di
bawah naungannya.
Sore ini aku tidak tidur lebih awal atau
pura-pura tidur cepat. Sepulang Jang Hyun dari rumah, aku sengaja menyiapkan
beberapa makanan untuk suamiku malam ini. Entah setan apa yang baru saja
merasukiku sampai aku melakukan hal ini. Yang pasti dalam kepalaku masih
berputar kalimat-kalimat Jang Hyun yang diucapkannya siang tadi. Entah perasaan
apa yang sedang bergejolak dalam batinku, aku sama sekali tidak mengenalinya.
“Kenapa belum tidur?” Itulah kalimat
pertama yang kudengar dari bibirnya saat ia menjumpaiku duduk di sofa sambil
menonton TV.
“Aku belum mengantuk,” jawabku ketus tanpa
mengalihkan pandanganku pada TV di hadapanku.
Aku merasakan ia bergerak datang.
Langkahnya terhenti tepat di sampingku. Kemudian ia lekas mengambil posisi
duduk tepat di sisi kiriku.
“Aku sudah menyiapkan makan malam. Makanlah
selagi hangat,” lagi-lagi aku mengucapkannya tanpa menatap suamiku.
“Makan malam? Sungguh?” suaranya terdengar
senang. “Terima kasih...”
Aku merasakan kedua tangan kekarnya
merangkul tubuhku lembut dari samping. Mungkin ia senang karena ini adalah kali
pertama aku membuatkannya makan malam. Setelah itu ia mengajakku makan berdua
dan aku mengiyakan saja pertanyaannya tanpa mengajukan argumen apapun.
Wajahnya berbinar menatap beberapa makanan
di atas meja makan. Aku memang tidak jago memasak, tapi setidaknya aku tahu
bagaimana memasak makanan Korea. Ia menarik kursi untuk memberikanku tempat
duduk. Kemudian ia duduk di hadapanku. Tangannya bergegas meraih satu demi satu
sendok setiap lauk di atas meja. Dimasukkannnya satu-satu ke dalam mangkuk nasi
yang sudah nyaris penuh itu. Aku bahkan tidak yakin ia akan menghabiskannya.
Kuraih dua sendok ramen di hadapanku dan
lekas memakannya tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirku. Aku melirik
sebentar ke arah suamiku. Ia menikmati makanannya dengan lahap sampai
mengabaikan keberadaanku. Ck, benar-benar!
“Ini... adalah makanan terenak yang pernah
masuk ke dalam mulutku,” ucapnya setelah menyelesaikan makanannya.
“Aku akan mencuci piring,” ucapku sembari
bangkit dan mengemasi piring-piring di atas meja.
“Aku akan membantu,” ia turut bangkit dari
kursinya.
“Tidak perlu,” selaku sambil meraih piring
dan mangkuk di tangannya. “Aku akan melakukannya sendiri.”
Sebentar setelah aku meletakkan piring ke
dalam tempat cuci piring, aku merasakan kedua tangan suamiku memelukku dari
belakang. Kepalanya yang lelah disandarkannya pada pundakku. Aku berusaha
mengabaikannya dan melanjutkan cucian piring yang sedang menumpuk.
Pelukannya terasa asing dibanding
pelukan-pelukan yang ditimbulkannya saat aku pura-pura tidur sambil
memunggunginya. Biasanya itu akan terkesan lembut dan hampir tidak terasa di
tubuhku. Tapi, kali ini pelukan itu terasa lebih erat. Aku tidak mengerti dengan
apa yang ada di dalam kepalanya saat ini.
“Bagaimana kalau kita memiliki seorang
bayi, hm?”
Prang!
Suara itu membuat pelukannya terlepas dari
tubuhku. Mangkuk yang baru saja kucuci tanpa sengaja jatuh membentur lantai.
Cepat-cepat ia bertanya apakah aku tidak apa-apa dan aku hanya mengangguk agar
tak membuatnya terlalu khawatir.
Sebentar ia membantuku membersihkan pecahan
mangkuk itu dari lantai. Kemudian ia membimbingku menuju ruang makan. “Biar aku
saja yang mencuci piringnya.” Setelah itu ia kembali menuju dapur dan
membersihkan piring dan mangkuk-mangkuk yang belum sempat kucuci.
**
Suamiku baru saja berangkat kerja. Aku
menyadarinya ketika merasakan bibirnya mengecup keningku sebelum berangkat.
Seperti biasa aku pura-pura masih tidur dan ia meninggalkanku dalam
ketidaktahuan akan hal itu. Sepeninggalnya menuju tempat kerja, aku mengintip
ke dalam ruang makan. Seketika pandanganku menangkap dua tangkup roti bakar di
atas piring dan segelas penuh susu segar.
Aku menghampiri sarapan pagi dengan porsi
lebih banyak dari biasanya itu. Sejenak aku mengamatinya kemudian jemariku
merangkak naik menyentuhnya. Masih hangat. Mungkin ia baru saja memanggangnya.
Di dalam jepitan kedua roti itu ada selai strawberry
kesukaanku. Cepat-cepat aku duduk dan memakan sarapan pagiku itu.
“Baru bangun?” Sebuah suara mengejutkanku
dan berhasil membuatku tersedak roti yang baru saja kutelan. Aku menoleh menuju
asal suara dan kulihat seorang pria berdiri di ambang pintu dapur.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan pria
itu, ia sudah menghampiriku dan mengecup keningku sekilas. “Ah, lanjutkan
sarapanmu. Setelah ini aku ingin mengajakmu keluar,” ucapnya sembari menarik
kursi di sampingku dan duduk di sana.
Aku meletakkan setengah roti yang belum
kuhabiskan. Tanganku meraih segelas susu di samping piring dan menenggaknya
seperempat. “Jang Hyun, bukankah ini tidak benar?”
Ia tersenyum, “Aku tidak memaksamu untuk
mencintaiku. Aku hanya ingin tinggal di sisimu. Sebentar saja...”
Jang Hyun memungut setengah roti di atas
piring dan menyuapkan sebagian padaku. “Makanlah. Kalau tidak, kau bisa sakit.”
Aku membuka mulutku dan memakan roti itu.
Rasa strawberry yang masam tiba-tiba
terasa manis di lidahku. Aku mengunyahnya pelan-pelan sampai akhirnya potongan
lembut roti itu masuk ke kerongkonganku. “Kau yakin ini akan baik-baik saja?”
“Tentu. Selama kau tidak memberitahu Jang
Woo hyung,” ucapnya sebelum memakan
sebagian roti di genggamannya. “Ini akan menjadi rahasia kita.”
Aku hanya diam, tak memberikan tanggapan
apapun atas kalimatnya.
**
Beberapa bulan terakhir aku menjalani hal
yang disebut sebagai ‘perselingkuhan’ dengan adik iparku sendiri. Semula kurasa
perasaan kami akan hilang dengan sendirinya seiring bergulirnya waktu. Namun,
ternyata hal itu tak pernah terjadi. Perasaanku pada Jang Hyun semakin menggebu
setiap kali kami bertemu.
Semakin lama hubungan ini terasa semakin
serius. Dan seiring berputarnya detik, menit, dan jam hubungan ini menjadi
semakin menjadi-jadi. Kami jadi sering keluar pagi-pagi sekali saat suamiku
sudah berangkat kerja dan baru pulang sebelum matahari tenggelam, yakni dua jam
sebelum suamiku pulang dari kantor. Kadang kala aku berpikir bagaimana kelak
kami berdua mengakhiri hubungan ini. Sudah terlalu jauh bagi kami untuk berhenti.
Yang perlu kami lakukan hanyalan berjalan dan menunggu waktu Tuhan memisahkan
kami dengan segala cara.
Seperti sekarang ini. Aku dan Jang Hyun
baru saja pulang dari mall. Hari
belum sore, jadi kupikir suamiku belum akan pulang. Jadi, kami memutuskan untuk
menghabiskan waktu bersama di rumah.
Karena ini sudah masuk pertengahan musim
dingin, tentu kami akan mempertimbangkan bagaimana baiknya saat keluar dan
suamiku tidak mengetahuinya. Suhu yang turun drastis kadang membuatku sulit
beradaptasi dengan udara di luar. Dan untung saja, selama ini Jang Woo tidak
merasa curiga ketika aku pulang dalam keadaan basah karena salju.
Pip!
Aku meraih ponselku dari dalam tas dan
mendapati sebuah panggilan masuk dari suamiku. Aku mencoba memberi isyarat pada
Jang Hyun untuk memberikanku jeda dalam pelukan kami. Tampaknya ia mengerti
bahwa yang menelepon adalah kakaknya dan ia segera mengambil posisi di atas
sofa di samping ranjang.
“Ya?” Aku menjawab panggilan tersebut
sambil mencoba menstabilkan nafasku.
“Sedang apa?” Suara pria itu terdengar
serak. Mungkin radangnya kembali kambuh mengingat sekarang memang sudah masuk
musim dingin.
“Aku baru pulang berbelanja. Kenapa?”
“Ah, tidak. Tidak apa-apa. Aku cuma mau
mengabarkan kalau hari ini aku akan pulang terlambat. Tidak apa-apa?” Tanyanya
dari seberang.
“Un,” aku mengiyakan. “Ada lagi?”
“Aku mencintaimu,” ucapnya pelan.
“Un,” lagi-lagi hanya itu yang melesat
keluar dari bibirku.
“Sudah, ya. Aku akan menelepon lagi nanti,”
ucapnya mengakhiri pembicaraan. Aku lekas menutup lipatan ponsel di
genggamanku.
“Dia bilang apa?” Tanya Jang Hyun yang saat
ini sudah berguling tidak jelas di atas ranjang.
“Dia akan pulang terlambat. Mungkin
lembur,” aku melemparkan ponselku ke atas ranjang dan merebahkan diri di sampingnya.
“Baguslah! Kalau begitu kita bisa
menghabiskan waktu lebih lama,” ucap Jang Hyun senang. Ia mengecup pipiku
sebentar dan kembali rebahan di sampingku. “Andai kau tidak pernah menikah
dengan Jang Woo hyung. Kita tidak
perlu bersembunyi seperti ini. Iya, kan?”
Aku menatap matanya sebentar dan mengukir
segaris senyum.
**
Larut malam kudengar suara langkah kaki
agak berat menapaki tangga satu-satu. Suara itu menuju ke atas dan semakin
mendekat. Aku yang belum benar-benar lelap dalam buaian mimpi seketika menyalakan
kembali lampu utama kamar.
Pelan-pelan mataku berusaha menyesuaikan.
Aku bergegas menuju jendela dan mengintip siapa gerangan yang datang. Seorang
pria berkemeja biru melangkah mendekat ke arah kamar. Aku tidak yakin, tapi
sepertinya itu suamiku.
Aku menengok ke arah jam dinding di sisi
kanan lemari. Jarum pendeknya menunjuk angka tiga dan jarum panjangnya hampir
menyentuh angka satu. Terlalu larut sebagai jam lembur, pikirku. Sebelumnya
suamiku tidak pernah pulang selarut ini. Biasanya ia akan lembur sampai pukul
sepuluh atau sebelas malam.
Dok! Dok!
Dok!
Pintu kamar yang sempat kukunci dari dalam
diketuk kasar dari arah luar. Keraguan akan kebenaran sosok suamiku saat itu
benar-benar tengah merongrong batinku. Siapa dia? Wajahnya mirip suamiku, tapi
caranya berjalan, caranya mengetuk pintu, benar-benar berbeda daripada
biasanya.
“Eun Jung-ah! Eun Jung-ah! Kau
sudah tidur, hm?” Suaranya masih serak seperti yang kudengar dalam telepon tadi
sore. Namun, kali ini terdengar lebih berat dengan volume dan nada tidak
beraturan. Ia terus menyebut namaku sampai berkali-kali dan aku masih
mengabaikannya. Aku hanya mengintip tindakannya dari jendela kamar dan masih
berpikir beberapa kali untuk membukakan pintu kamar yang membuat jarak di
antara kami berdua.
Setelah agak lama suara itu mereda. Yang
tertangkap indra pendengaranku adalah suara nafasku dan helaan AC yang menyala
dalam suhu tiga puluh derajat. Benarkah itu suamiku? Lee Jang Woo?
Untuk menghapus rasa penasaran, kesal, dan takut
yang beraduk dalam dadaku, kulangkahkan kakiku mendekati pintu. Kuputar kunci
searah jarum jam sehingga pintu tak lagi terkunci dari dalam. Sebentar kemudian
ganti kuputar knop pintu dan seketika kujumpai pria yang tadi mengganggu
tidurku. Tubuhnya tergeletak dari luar kamar hingga kepalanya masuk ke dalam
kamar.
Aku berjongkok di sampingnya untuk
memastikan siapa pria itu. Kelihatannya dia memang suamiku. Setidaknya sembilan
puluh lima persen aku yakin bahwa dia adalah suamiku. Kemeja yang dipakainya
tadi pagi, kemudian tas kerjanya, dan sepatu kesayangannya. Semua itu
menunjukkan identitas suamiku.
Tapi, yang membuatku ragu untuk presentase
lima persen berikutnya adalah penampilannya yang sama sekali berbeda. Sebagian
kemejanya keluar dan sebagian yang lain masuk dalam celana panjang hitamnya.
Rambutnya berantakan, padahal aku tahu ia selalu rajin menyisirnya sebelum ini.
Dan dari mulutnya aku mampu mencium aroma alkohol yang menguar keluar.
“Hei!” Aku mencoba membangunkannya. Tidur
di atas lantai seperti itu pasti sangat dingin. “Hei!”
“Mmhhh...”
Hanya erangan-erangan tak berarti yang
keluar dari mulutnya. Sesekali ia mengucapkan kalimat yang tak kumengerti. Ada
apa dengannya?
**
Pagi-pagi sekali aku mendengar seseorang
mengoceh. Dan yang kujumpai adalah sosok suami yang masih terlelap dalam
tidurnya di sampingku. Mungkin yang barusan itu suaranya yang tengah mengigau.
Apalagi suara itu terdengar sangat khas di telingaku.
“Aih...,” kulihat ia mulai bangkit dari
posisinya semula. Tangan kanannya meraih puncak kepalanya sambil memijatnya
sebentar. “Eun Jung-ah, ini sudah jam
berapa?”
Aku diam, tak menggubris pertanyaannya.
“...Kepalaku rasanya berat,” lanjutnya
sambil meringis menahan sakit di kepalanya.
Aku hanya menatapnya tanpa melontar sepatah
kata pun padanya. Lima atau sepuluh menit lagi dia pasti ingat dengan
sendirinya. Aku tahu karena dulu aku sering mengalaminya, sangat sering bahkan.
Kutinggalkan suamiku sendiri di atas
ranjang dalam keadaan bingung. Mungkin ingatannya sudah kembali bekerja. Tapi,
aku tidak peduli. Yang aku ingin lakukan adalah memarahi atas tindakannya
semalam. Ia benar-benar membuatku kesal karena mengganggu tidurku.
“Maaf, Eun Jung-ah,” ia merangkulku dari belakang sambil menyandarkan kepalanya di
pundakku. Seolah bisa membaca batinku, ia meminta maaf untuk kesalahannya tadi
malam.
Aku melepaskan pelukannya dengan kasar dan
mengabaikannya yang masih terdiam, mungkin dalam perasaan bingung. Tapi, aku
bukannya bermaksud menolak permintaan maafnya. Aku hanya merasa semakin lama
tubuhku ini tidaklah pantas disentuh suamiku lagi sejak hubunganku dengan Jang
Hyun bertambah serius dan semakin jauh.
**
Belakangan ini Jang Hyun menghampiriku
untuk waktu semakin sering. Setiap suamiku tidak berada di sisiku, maka
disanalah Jang Hyun akan muncul dan mengisi kekosongan hatiku.
Suatu ketika aku mencoba membicarakan
tentang akhir dari hubungan kami. Akan seperti apa dan bagaimanakah saat itu
terjadi. Yang kudengar dari bibir Jang Hyun adalah lontaran kalimat tidak
senang atas pertanyaanku tentang hal itu.
“Cukup tahu aku mencintaimu dan sejauh apa
kita akan pergi,” Jang Hyun mengulurkan tangannya padaku. “Selama kita
berkencan, aku ingin kau meninggalkan cincin pernikahanmu padaku.”
“Eh?”
Ia tersenyum. “Tenang saja. Aku akan
menjaganya baik-baik, kok. Kau bisa mengambilnya saat kembali ke rumah.”
Dengan berat hati kulepaskan cincin yang
mengikatku dengan Jang Woo. Kemudian kuberikan lingkaran kecil itu pada Jang
Hyun. Kulihat ia memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Dan aku mencoba untuk
tidak berkomentar.
“Nah, hari ini kita akan main kemana?” Ia
mulai menanyakan tentang hal lain yang belum sempat kami bahas pagi ini.
“Aku ingin menonton,” jawabku.
“Ok! Dikabulkan!” Jang Hyun lekas menarik
lenganku, membawaku berjalan menuju gedung bioskop terdekat. Aku berlari kecil
untuk menyamakan langkah kakinya yang lebih lebar. Kencan kami untuk yang
kesekian ratus kali pun dimulai.
**
Sepulang kencan kami terlalu senang sampai
lupa waktu. Akibatnya, aku baru pulang agak larut. Jang Hyun bilang tidak perlu
khawatir jika baru sekali ini Jang Woo memergoki mereka pergi berdua. Hubungan
kakak ipar dan adik ipar yang sesekali bertemu itu wajar, kan?
Sampai di depan rumah kedatangan kami
disambut oleh suamiku di depan pintu. Senyumnya masih belum berubah sejak
pertama kali kami bertemu. Sekilas aku melihatnya melirik pada Jang Hyun.
“Hei, kau mau merebut istri orang, ya?”
Ucapan Jang Woo membuatku terpaku untuk sejenak. Tapi, rupanya hal itu
ditanggapi Jang Hyun dengan gurauan dan alhasil pembicaraan panjang mereka pun
dimulai.
“Kau yang meninggalkan istri cantik
sendirian di rumah. Harusnya kau tahu siapa yang salah sebenarnya, hyung. Hehehe,” ucap Jang Hyun terkekeh.
Mengabaikan mereka, aku lekas menuju dapur
dan menyiapkan tiga gelas teh hangat untuk kami. Dari ekspresi Jang Woo,
tampaknya ia tidak curiga sama sekali atas kepergianku dengan Jang Hyun hari
ini. Baguslah, aku jadi tidak perlu repot-repot menjelaskannya, kan?
“Eh? Eun Jung-ah, cincinmu kemana?”
Deg!
Aku lupa meminta cincinku kembali pada Jang
Hyun. “Itu... Aku meninggalkannya di tas. Lagipula bagaimana pun terserah
bagaimana aku memakainya, kan?” Aku menjawab pertanyaan suamiku dengan sebuah
kebohongan.
Sesekali aku melirik ke arah Jang Hyun dan
ia hanya tersenyum padaku, “Hyung,
kau tidak perlu membesar-besarkan masalah seperti ini, kan?”
Suamiku mengangguk membenarkan ucapan Jang
Hyun dan kembali menenggak separuh teh dalam cangkirnya. Diikuti aku dan Jang
Hyun kemudian. Fiuh~ hampir saja.
**
Aku kembali membanting barang pecah belah
di dalam ruang tamu. Vas-vas mahal dan gelas-gelas kesayangannya sengaja
kupecahkan untuk memicu amarahnya padaku. Aku tidak peduli ia akan menghardik,
membentak, atau membunuhku sekalipun. Aku hanya ingin tahu seberapa kuat ia
mempertahankan emosinya.
“Kau ingin membunuhku sekarang? Ingin
membentakku keras-keras karena semua ini? Silahkan! Kau sudah tahu bahwa selama
ini aku berhubungan dengan Jang Hyun di belakangmu, kan? Kau marah? Kesal? Huh?
Katakan saja!” Aku terus berusaha memancing emosinya.
Aku sudah tidak tahan melihat sikap diamnya
dan kepura-pura tidak tahuannya atas hubunganku dengan Jang Hyun selama ini.
Sudah setahun, apakah masuk akan bahwa ia tidak tahu menahu tentang hal ini?
Sikapku seperti ini membuatku menatap
diriku sendiri. Aku seperti seekor ayam yang berharap seekor singa membunuhku.
Aku seperti sedang menyetorkan nyawaku kepada suamiku sendiri, Lee Jang Woo.
Karena memang sudah tidak ada hal lain lagi untuk membuat hubungan terlarang
antara aku dan Jang Hyun berakhir.
Sejak berhubungan dengan Jang Hyun, aku
selalu diselimuti perasaan takut dan khawatir jika suamiku tiba-tiba
mengetahuinya. Hal itu membuatku dua kali lipat merasa tidak nyaman dibanding
saat aku merebahkan diri di samping suamiku sebelum Jang Hyun datang.
Aku ingin mengakhirinya sebelum aku masuk
lebih jauh ke dalam dosa dan rasa bersalah pada suamiku. Bagaimanapun aku masih
seorang istri dari pria bernama Lee Jang Woo. Dan aku masih seorang manusia
yang merasa takut dengan apa yang akan dilakukan Tuhan padaku jika aku tak
mengakhirinya dengan segera.
Kulihat pria itu datang menghampiriku.
Jarak kami semakin menipis seiring langkah mantapnya menuju ke arahku. Apa yang
akan dilakukannya kali ini? Menamparku? Membunuhku? Setidaknya itu lebih baik
daripada sikap diamnya yang tak pernah dapat kuartikan.
Aku memandangnya dengan tatapan bengis.
Tatapan kami bertemu untuk waktu yang lama. Antara aku dan dia, kami saling
menyelami isi pandangan kami masing-masing. Tiba-tiba kurasakan tangannya
mendekapku kuat-kuat. Pelukannya terasa lebih hangat dari pelukan-pelukan yang
dilakukannya padaku sebelumnya.
Aku mengerang, menolak pelukannya. Aku
merasa tidak pantas mendapatkan pelukan dari seorang suami yang begitu mencintaiku
sedalam ini, sejauh ini. Aku tidak pantas karena aku tidak pernah menyadari apa
yang seharusnya kuketahui, apa yang seharusnya kusadari sejak awal, dan apa
yang harus kulakukan sejak upacara pernikahan hari itu.
“Aku sudah tahu semuanya,” bibirnya mulai
melontarkan sebaris kalimat. “Aku sudah tahu apa yang tidak seharusnya
kuketahui sejak awal.”
Ia mendekapku lebih erat. “Aku tidak pernah
ingin menyalahkanmu. Tapi, aku terluka karena hal itu.” Kali ini ia mengecup
lembut puncak kepalaku.
Bibirku bergetar menahan air mata yang
mulai membasahi mataku satu-satu. Aku tidak sanggup berargumen karena aku tidak
bisa menyalahkannya lagi. Ia terlalu banyak mengalah dan itulah yang membuatku
tenggelam terlalu jauh dalam kebencian pada diriku sendiri.
Jemarinya mulai membelai rambut dan
punggungku pelan-pelan. “Aku tidak ingin membentakmu karena itu akan membuatmu
menangis. Dan air matamu adalah luka batin dalam dadaku yang selalu ingin
kuhindari.”
Ia mengecup pipiku sebentar. “Maaf, selama
ini aku hanya bisa membuatmu kesal dan menangis.”
Aku menggeleng atas pernyataannya barusan. Selama
ini dia tidak pernah bersalah atas semuanya. Ia tak pernah berusaha
mencari-cari kesalahanku meski cuma sekali. Ia tak pernah membenciku meski aku
sudah merampas haknya dan terkadang merusak segalanya. Selama ini akulah yang
menanam kesalahan padanya. Akulah yang menanam bibit kebencian tak berakar
padanya. Aku terus berusaha mencari
kesalahannya yang dapat kujadikan alasan rasa benci terhadap dirinya. Tapi,
sedkitpun ia tak pernah marah padaku. Ia tak membentakku atau bahkan membuangku
seperti sampah ketika ia memergokiku berselingkuh dengan saudara kandungnya.
Ia tak pernah menyalahkanku atas semua
kesalahanku. Ia justru berpikir dimana letak kesalahannya sendiri sehingga
pikirannya itu membawanya ke sebuah klub malam untuk menghilangkan penat. Ya,
malam itu adalah malam seusai ia memergokiku bercinta dengan adiknya.
Ia tidak lembur malam itu. Karena hari itu
ia diperbolehkan pulang lebih awal. Dan melihatku bersama adiknya, aku tak
mampu membayangkan seberapa jauh hatinya teriris atas perbuatanku.
“Karena aku mencintaimu, Eun Jung-ah. Aku mencintaimu sejak awal dan
sampai akhir aku ingin terus mencintaimu seperti dan bahkan lebih dari ini...”
Bibirnya mengecup lembut bibirku yang masih terasa bergetar.
Aku selalu menatapnya sebagai sebuah
plastik yang tak akan pernah robek sekalipun aku mempermainkannya. Tapi, dia
bukanlah plastik. Dia tidak pernah memiliki hati sekeras batu, sekuat tembikar,
atau setahan plastik. Pada kenyataannya, dia adalah sebuah gelas yang berusaha
menyembunyikan keretakannya sekalipun aku berusaha membantingnya keras-keras.
Tanganku bergerak naik, membalas pelukannya
lebih erat. Aku tidak ingin menciptakan dosa kedua kali kepadanya. Dan di
waktu-waktu yang tersisa ini semoga aku masih bisa melihatnya bahagia dengan
balasan cintaku padanya yang tidak lebih banyak dari segenggam air.
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar