Title :
The Gentle Girl
Author :
dita-cHun © 2013
Length :
Multichapter
Chapter :
4
Subtitle :
Bayang-Bayang
Rating :
PG [Parents Guidance]
Genre :
Romance, Action
Main Cast :
*Kim Jae Joong
*Ham Eun Jung
POV :
Author
Disclaimer :
Kim Jae Joong and Ham Eun Jung are belong to themselves. I’m own nothing but
plot. So, no bash, ok?
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya
Note :
Ok, happy reading! Jangan lupa komennya, ya!
Fan-meet baru saja berakhir. Jae
meninggalkan panggung dengan segaris senyum lembut dari bibirnya. Seiring
menghilangnya tubuh Jae dari atas panggung senyum Jae turut memudar. Tampak
sebuah guratan aneh di wajah Jae. Ia merasakan sesuatu yang ganjil pada
tubuhnya, tepatnya kakinya. Tiba-tiba saja kakinya terasa berat dan ia merasa
bahwa kedua kaki itu tak mungkin lagi menopang beban tubuhnya. Dalam sekejap
saja rasa sakit itu membuat Jae kehilangan kesadaran.
Seluruh kru yang berada di balik panggung
lekas menghambur ke arah Jae. Sebagian di antara mereka tampak panik dan
sebagian lagi menghubungi ambulans serta Eun Jung. Lima menit kemudian sebuah
ambulans datang dan membawa tubuh Jae melesat menuju rumah sakit terdekat.
**
Tubuh Eun Jung masih berdiri kokoh di depan
kamar bernomor 207. Dihitung-hitung sudah hampir tiga jam lamanya ia berdiri di
sana, enggan berpindah satu inchi pun dari tempatnya berada. Matanya menatap lurus ke depan dengan
pandangan kosong. Pikirannya melayang entah kemana tanpa seorang pun
mengusiknya.
Manager
Park sibuk mondar-mandir di samping Eun Jung. Hawa di sekitar kamar itu
diselimuti kekhawatiran. Sudah hampir empat jam berlalu dan Jae Joong masih
belum sadar dari pingsannya. Ia masih tampak tertidur pulas dengan selang infus
mengalirkan cairan dari wadahnya ke dalam tubuh Jae.
Empat jam silam dokter menyatakan bahwa Jae
tidak mengalami cidera serius selain kedua kakinya. Kejadian tertimpanya kedua
kaki Jae oleh pintu besi itu dipastikan adalah penyebab utama cideranya kaki
Jae. Dan dokter mengatakan bahwa Jae sudah terlalu memaksakan diri sejak
dimulainya fan-meet tadi malam.
Seharusnya ia segera pergi ke rumah sakit untuk pengobatan cideranya, tapi ia
mengatakan baik-baik saja dan melangsungkan fan-meet
dengan baik. Mengingat hal itu, Manager Park
tak habis pikir mengapa Jae tiba-tiba melampaui batas. Biasanya, Jae akan
mengeluh ketika sesekali tubuhnya terasa sakit. Dan ini adalah kali pertamanya
Jae menahan rasa sakit itu sendirian dan tetap bekerja.
“Manager
Park, berhentilah mondar-mandir.” Tegur Eun Jung yang lamunannya mulai terusik.
Sang pemilik nama menghentikan kegiatannya
dan beralih fokus pada gadis yang masih bersandar di dinding kamar itu. “Jae
belum juga sadar, tidakkah kau cemas?”
“Aku justru lebih mencemaskanmu yang terus
mondar-mandir tidak jelas sepanjang tiga jam terakhir,” ucap Eun Jung. Ia
bangkit dan mengambil tempat di kursi tunggu paling ujung.
Manager Park menghela nafas sejenak
kemudian turut duduk di samping Eun Jung. Ia mengambil sebuah buku saku dalam
kantong jasnya. “Bagaimana ini? Banyak sekali pekerjaan yang harus dituntaskan
Jae dalam minggu ini,” ucap Manager Park frustasi.
Eun Jung menarik buku sakunya dan mulai
mencorat-coret bagian disana-sini. Diam-diam Manager Park mulai memperhatikan. Ia melihat banyak sekali coretan
pada jadwal pekerjaan Jae minggu ini.
“Ya,
apa yang kau lakukan?” Manager Park
protes atas kegiatan Eun Jung barusan.
“Ia tidak harus bekerja minggu ini,” jawab
Eun Jung.
“Mwo?!”
“Dan lagi... Aku akan memiliki sedikit
urusan lain,” lanjut Eun Jung. “Maka dari itu, biarkan ia beristirahat. Kau
seharusnya paham jika kau berada dalam posisinya.”
Manager
Park terdiam. Ucapan Eun Jung tak sepenuhnya salah. Mungkin apa yang dilakukan
Eun Jung akan membuat mereka harus mengganti kerugian atas pembatalan kontrak
pekerjaan minggu ini. Tapi, dipikir-pikir itu bukanlah apa-apa jika dibandingkan
kesehatan Jae Joong. Oleh karena itu, ia mengisyaratkan setuju dalam keheningan
yang mulai menyergap kala itu.
**
Delapan jam hampir berlalu. Tubuh kurus Jae
masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Cairan bening dari wadah
infus sudah mengalir ke dalam tubuh Jae sejak pertama kali ia dilarikan ke
rumah sakit ini. Semua orang menunggu kesadarannya. Namun, sejak ia tiba di
rumah sakit belum ada tanda-tanda bahwa ia akan siuman dalam waktu dekat.
Eun Jung terpaku di atas sofa. Kedua
matanya memandang ke arah Jae, menyisir wajah sayu yang masih terlelap di atas
ranjang itu. Ia sudah berada dalam kecemasan untuk waktu yang begitu lama. Dan
ia masih belum memutuskan untuk melakukan hal lain selain menunggu. Mengunggu
kesadaran Jae dalam diam.
Cklek!
Seorang pria dan wanita muncul dari balik
pintu. Dari pakaian yang mereka kenakan, Eun Jung menebak bahwa kedua orang
yang berhasil merusak lamunannya itu adalah dokter dan suster yang memantau
perkembangan Jae.
Eun Jung bangkit kemudian
mengangguk—memberi salam.
“Apa Tuan Kim sudah siuman?” tanya dokter
itu sembari menghambur ke arah Jae.
“Belum,” jawab Eun Jung.
Dokter dan suster itu tampak sibuk
menangani Jae. Cairan infus itu diputus dan digantikan dengan yang baru.
Beberapa kali suster memberikan injeksi ke dalam lubang infus itu. Dokter itu
kemudian menghampiri Eun Jung.
“Tolong pantau terus perkembangannya. Jika
dalam dua jam Tuan Kim belum juga sadar anda bisa menghubungi kami,” ucap
dokter itu.
Eun Jung mengangguk, “Gamsahamnida.”
“Baiklah, kami permisi dulu.” Kedua orang
itu bergegas keluar setelah menuntaskan tugasnya.
Blam!
Pintu kamar tertutup, kembali suasana
diselimuti keheningan. Eun Jung beranjak dari tempatnya semula. Ia menghampiri
Jae Joong yang enggan bergerak satu inchi pun dari posisinya. Pelan-pelan
jemarinya terangkat, membuat bayang-bayang di atas wajah Jae. Diam-diam, tanpa
seorang pun menyadari, Eun Jung berbisik.
“Aku ingin kau sadar, Jae...”
Telunjuk gadis itu mendarat lembut di atas
pipi pria itu. Samar-samar keempat jarinya sudah menyentuh sempurna wajah Jae
Joong. Bibir Eun Jung kembali bergerak, membisikkan sesuatu yang sayup-sayup
terdengar.
“Kumohon...”
Tidak ada yang aneh dengan ucapan Eun Jung,
kecuali satu hal. Ia benci memohon. Ia tidak suka memohon. Apalagi memohon
sesuatu yang ia tak mengerti untuk apa. Jae bukan siapa-siapa baginya selain
statusnya sebagai bosnya. Jae bukan orang yang sangat penting, kecuali ia ingat
posisinya sebagai bodyguard.
Eun Jung memutar ulang memorinya. Ia ingat
pertama kali mereka berjumpa di kantor agensi tempat ia bekerja saat itu. Siang
itu Jae memilihnya menjadi bodyguard
dan entah kenapa ia menerimanya begitu saja. Saat itu ia merasa tiba-tiba saja
ia melupakan siapa dirinya. Bahwa ia bekerja sebagai office girl bodyguard dalam agensi itu. Entah kenapa.
Sampai saat ini ia belum memiliki cukup
keberanian untuk memberitahukan tentang hal itu kepada Jae. Mungkin suatu hari
kelak Jae akan tahu dengan sendirinya. Atau mungkin tidak akan ada seoang pun
yang tahu kecuali dirinya dan semua orang di dalam kantor itu. Ya, mungkin
saja.
“Mmhh...” Eun Jung menarik tangannya dari
wajah Jae. Perlahan-lahan kedua mata pria itu terbuka. “Jungie...”
Eun Jung diam menatap keadaan Jae yang
tampak masih belum stabil.
“Jungie... Kakiku...” suara Jae masih
terdengar serak. “Kakiku...”
Eun Jung bergeming.
“Sakit... Jungie...” lagi-lagi Jae Joong
mengeluh pelan. “Aku... Mengantuk.”
Jae kembali terlelap. Kali ini Eun Jung
yakin bahwa kesadaran Jae barusan hanya terenggut rasa ngantuk. Ia tidak lagi
khawatir. Ia menatap wajah Jae kembali. Bibirnya kembali terbuka hendak
melesatkan sesuatu yang baru saja dipendamnya.
“Aku...akan mengundurkan diri...”
Eun Jung melangkahkan kedua kakinya
meninggalkan kamar. Meninggalkan Jae yang baru saja pulas dalam tidurnya.
Mungkin keputusannya kali ini adalah sesuatu yang benar. Gara-gara Eun Jung,
Jae kehilangan kesadaran. Ia yang membuat kaki Jae terluka. Dan seorang bodyguard tidaklah pantas lagi disebut
demikian jika ia sudah gagal menjaga bosnya. Eun Jung baru saja gagal. Ya, baru
saja.
**
“Apa?!” suara itu menggelegar ke seluruh
penjuru ruangan. Terdengar kontras dengan keheningan suasana yang menyelimuti
selama pembicaraan berlangsung. Sang pemilik suara mendesah, menurunkan emosi
serta volume suara yang dirasa terlalu membahayakan untuk kondisi sedemikian
rupa. “Tapi, kenapa tiba-tiba, Eun Jung?”
Gadis yang disebutkan namanya barusan
menghela nafas perlahan sebelum ia kembali angkat bicara. “Kurasa keputusanku sudah
tepat, Manager Park. Kalian bisa
mencari bodyguard yang lebih baik
daripada aku.”
Manager
Park mengambil saputangan dari saku celananya kemudian mengusapkan ke sebagian
wajahnya. Tampak sekali ia sedang berusaha untuk lebih tenang, namun emosi
nampaknya jauh lebih menguasai dirinya dibanding kesabaran yang berusaha
dibangunnya sejak tadi. “Kau tahu, kan? Mendapatkan bodyguard itu tak semudah
membalik telapak tangan. Kau seharusnya berterima kasih pada Jae karena
membuatmu mendapatkan pekerjaan yang bagus. Aku tidak menyangka akhirnya akan
begini... Ck!”
Eun Jung diam sejenak kemudian menjawab,
“Maaf. Kalau begitu aku pamit. Sampaikan salamku pada Jae Joong jika dia sudah
bangun.” Eun Jung bangkit dari posisinya semula kemudian beranjak meninggalkan ruangan.
Manager
Park terpaku melihat kepergian Eun Jung hingga bayang-bayangnya menghilang
di balik pintu. Sejujurnya, dalam hati kecilnya yang paling dalam, ia ingin
mencegah kepergian Eun Jung. Namun, ia sadar bahwa tidak seorang pun berhak
memaksakan kehendak Eun Jung. Lagipula bodyguard
sepertinya tidak memiliki kontrak seperti apa yang dimiliki artis. Hal itu
tentu membuat kemungkinan Eun Jung kembali semakin kecil. Meski ia ingin Eun
Jung tinggal sedikit lebih lama.
**
Manager Park membantu Jae Joong
mengemasi barang-barangnya. Tadi malam dokter sudah menyatakan bahwa Jae bisa
pulang lebih cepat. Mengetahui ia bisa kembali lagi ke rumah Jae tampaknya
begitu gembira. Meskipun ia tidak bisa kembali dengan keadaan normal karena kedua
kakinya yang patah membuatnya harus berjalan dengan bantuan tongkat.
Ia merindukan rumahnya, kamarnya, dan
mungkin juga bodyguardnya.
“Manager
Park, sebelum sampai di rumah kita mampir ke kedai dekat perempatan itu, ya.
Ada sesuatu yang mau kubeli,” pesan Jae pada Manager Park sebelum keduanya sampai di tempat mobilnya terparkir.
“Memangnya apa yang mau kau beli, huh?” Manager Park menanggapi seadanya.
“Aku ingin membeli daging panggang di sana.
Biasanya aku akan mampir dengan Jungie. Karena dia tidak ikut biar aku yang
beli untuk kita makan bersama,” jawab Jae.
Manager
Park diam sejenak kemudian kembali berbicara, “Ada satu hal yang ingin
kukatakan, Jae.”
“Hm?” Jae menoleh.
“Ham Eun Jung sudah mengundurkan diri.”
Deg!
Jae menghentikan langkahnya. Satu detik.
Dua detik. Jae masih terpaku. Pandangannya membidik jalanan koridor yang tampak
sepi. Pikirannya melayang, mencoba mengoreksi kalimat Manager Park yang mungkin saja perlu perbaikan.
Jae mengalihkan pandangannya pada Manager Park. Sekali lagi Jae merasa
tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Manager
Park menatap Jae sayu, “Aku tidak bercanda, Jae.”
“Tapi, kenapa?” tanya Jae berusaha tenang.
Manager
Park mengedik. “Yang pasti aku tidak sanggup mencegahnya.”
Jae kembali diam. Ia melepaskan pandangan
dari Manager Park kemudian berjalan
mendahului. “Sebaiknya kita segera pulang.”
Manager
Park berusaha menyejajarkan posisinya dengan Jae, “Kita mampir ke kedai
itu, bagaimana?” Ia berusaha menghibur Jae yang hampir kehilangan seluruh moodnya.
“Kita langsung pulang saja, aku tidak
lapar.”
Jae mengayun tongkatnya lebih cepat dari
sebelumnya. Sesegera mungkin ia berjalan menuju mobil abu-abu yang terparkir
apik di antara dua ruas garis putih. Manager
Park bergegas membuka pintu mobil, membantu Jae mengisi jok bagian belakang
dengan barang bawaan mereka. Setelah itu Jae dan Manager Park lekas masuk ke dalam mobil dan melesatkan mobil itu
menuju rumah seperti titah Jae beberapa menit silam.
**
“Jungie-ah... Aku membawa daging panggang.
Kau mau?”
“Ya! Kau lapar atau nafsu, sih?”
“Jungie-ah, berbicaralah sedikit lebih
banyak. Jangan terlalu hemat bicara. Tidak baik...”
“Jungie-ah, Jungie-ah. Ya, Ham Eun Jung!
Ada masalah dengan telingamu, huh?”
Bayang-bayang kehadiran Ham Eun Jung di
rumah ini terasa begitu lekat. Jae hampir gila menyaksikan sosok Eun Jung dalam
memorinya. Rasanya ia tidak mungkin segera melupakan Eun Jung dalam waktu
dekat. Meski yang terkenang hanyalah ekspresi-ekspresi datar Eun Jung. Meski
tidak banyak kalimat yang mampu diingat Jae Joong selain gerak bibir samar
gadis itu. Keberadaan Eun Jung menjadi hal yang saat ini seharusnya dilupakan
atau paling tidak terlupakan. Karena entah kenapa...
“Dia bahkan tidak memiliki siapapun,
berbeda dengan kalian yang masih memiliki saudara. Jadi, sebaiknya kalian tidak
perlu mendramastisir masalah kalian. Karena mungkin saja ada yang jauh lebih
tidak beruntung dibanding kalian semua di dunia ini.”
“Naiklah. Mungkin aku bisa membawamu lebih
cepat untuk sepuluh kilometer ke depan.”
“Jungie-ah, hari ini kau berbicara lebih
banyak dari biasanya. Ternyata kau bisa berbicara lebih dari lima menit juga,
ya?”
Ada sebuah perasaan ganjil di dalam dada
Jae. Sesuatu yang terasa agak menyakitkan dan ia tak tahu apa itu. Dan saat ia
melihat pantulan dirinya sendiri di cermin, ia merasa begitu lemah. Seperti
sesuatu yang memanggil Eun Jung untuk kembali. Ham Eun Jung yang melindunginya.
Ia ingin Eun Jung menghapus lelehan air mata yang kali ini mulai membasahi
pipinya.
“Jungie-ah,
mian. Mianhae...”
.The Gentle Girl
.to be continue~
Glosarium :
*Ya : Hei!
*Mwo? : Apa?
*Gamsahamnida :
Terima kasih
*Mianhae : Maaf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar