Selasa, 30 Juli 2013

The Gentle Girl - Bayang Bayang [Chapter IV]



Title            : The Gentle Girl

Author       : dita-cHun © 2013

Length       : Multichapter

Chapter      : 4

Subtitle       : Bayang-Bayang

Rating        : PG [Parents Guidance]

Genre         : Romance, Action

Main Cast  :

*Kim Jae Joong

*Ham Eun Jung

POV           : Author

Disclaimer : Kim Jae Joong and Ham Eun Jung are belong to themselves. I’m own nothing but plot. So, no bash, ok?

Warning     : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya

Note           : Ok, happy reading! Jangan lupa komennya, ya!










     Fan-meet baru saja berakhir. Jae meninggalkan panggung dengan segaris senyum lembut dari bibirnya. Seiring menghilangnya tubuh Jae dari atas panggung senyum Jae turut memudar. Tampak sebuah guratan aneh di wajah Jae. Ia merasakan sesuatu yang ganjil pada tubuhnya, tepatnya kakinya. Tiba-tiba saja kakinya terasa berat dan ia merasa bahwa kedua kaki itu tak mungkin lagi menopang beban tubuhnya. Dalam sekejap saja rasa sakit itu membuat Jae kehilangan kesadaran.

     Brukh!

     Seluruh kru yang berada di balik panggung lekas menghambur ke arah Jae. Sebagian di antara mereka tampak panik dan sebagian lagi menghubungi ambulans serta Eun Jung. Lima menit kemudian sebuah ambulans datang dan membawa tubuh Jae melesat menuju rumah sakit terdekat.

**

     Tubuh Eun Jung masih berdiri kokoh di depan kamar bernomor 207. Dihitung-hitung sudah hampir tiga jam lamanya ia berdiri di sana, enggan berpindah satu inchi pun dari tempatnya berada.  Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang entah kemana tanpa seorang pun mengusiknya.

     Manager Park sibuk mondar-mandir di samping Eun Jung. Hawa di sekitar kamar itu diselimuti kekhawatiran. Sudah hampir empat jam berlalu dan Jae Joong masih belum sadar dari pingsannya. Ia masih tampak tertidur pulas dengan selang infus mengalirkan cairan dari wadahnya ke dalam tubuh Jae.

     Empat jam silam dokter menyatakan bahwa Jae tidak mengalami cidera serius selain kedua kakinya. Kejadian tertimpanya kedua kaki Jae oleh pintu besi itu dipastikan adalah penyebab utama cideranya kaki Jae. Dan dokter mengatakan bahwa Jae sudah terlalu memaksakan diri sejak dimulainya fan-meet tadi malam. Seharusnya ia segera pergi ke rumah sakit untuk pengobatan cideranya, tapi ia mengatakan baik-baik saja dan melangsungkan fan-meet dengan baik. Mengingat hal itu, Manager Park tak habis pikir mengapa Jae tiba-tiba melampaui batas. Biasanya, Jae akan mengeluh ketika sesekali tubuhnya terasa sakit. Dan ini adalah kali pertamanya Jae menahan rasa sakit itu sendirian dan tetap bekerja.

     Manager Park, berhentilah mondar-mandir.” Tegur Eun Jung yang lamunannya mulai terusik.

     Sang pemilik nama menghentikan kegiatannya dan beralih fokus pada gadis yang masih bersandar di dinding kamar itu. “Jae belum juga sadar, tidakkah kau cemas?”

     “Aku justru lebih mencemaskanmu yang terus mondar-mandir tidak jelas sepanjang tiga jam terakhir,” ucap Eun Jung. Ia bangkit dan mengambil tempat di kursi tunggu paling ujung.

     Manager Park menghela nafas sejenak kemudian turut duduk di samping Eun Jung. Ia mengambil sebuah buku saku dalam kantong jasnya. “Bagaimana ini? Banyak sekali pekerjaan yang harus dituntaskan Jae dalam minggu ini,” ucap Manager Park frustasi.

     Eun Jung menarik buku sakunya dan mulai mencorat-coret bagian disana-sini. Diam-diam Manager Park mulai memperhatikan. Ia melihat banyak sekali coretan pada jadwal pekerjaan Jae minggu ini.

     Ya, apa yang kau lakukan?” Manager Park protes atas kegiatan Eun Jung barusan.

     “Ia tidak harus bekerja minggu ini,” jawab Eun Jung.

     Mwo?!”

     “Dan lagi... Aku akan memiliki sedikit urusan lain,” lanjut Eun Jung. “Maka dari itu, biarkan ia beristirahat. Kau seharusnya paham jika kau berada dalam posisinya.”

     Manager Park terdiam. Ucapan Eun Jung tak sepenuhnya salah. Mungkin apa yang dilakukan Eun Jung akan membuat mereka harus mengganti kerugian atas pembatalan kontrak pekerjaan minggu ini. Tapi, dipikir-pikir itu bukanlah apa-apa jika dibandingkan kesehatan Jae Joong. Oleh karena itu, ia mengisyaratkan setuju dalam keheningan yang mulai menyergap kala itu.

**

     Delapan jam hampir berlalu. Tubuh kurus Jae masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Cairan bening dari wadah infus sudah mengalir ke dalam tubuh Jae sejak pertama kali ia dilarikan ke rumah sakit ini. Semua orang menunggu kesadarannya. Namun, sejak ia tiba di rumah sakit belum ada tanda-tanda bahwa ia akan siuman dalam waktu dekat.

     Eun Jung terpaku di atas sofa. Kedua matanya memandang ke arah Jae, menyisir wajah sayu yang masih terlelap di atas ranjang itu. Ia sudah berada dalam kecemasan untuk waktu yang begitu lama. Dan ia masih belum memutuskan untuk melakukan hal lain selain menunggu. Mengunggu kesadaran Jae dalam diam.

     Cklek!

     Seorang pria dan wanita muncul dari balik pintu. Dari pakaian yang mereka kenakan, Eun Jung menebak bahwa kedua orang yang berhasil merusak lamunannya itu adalah dokter dan suster yang memantau perkembangan Jae.

     Eun Jung bangkit kemudian mengangguk—memberi salam.

     “Apa Tuan Kim sudah siuman?” tanya dokter itu sembari menghambur ke arah Jae.

     “Belum,” jawab Eun Jung.

     Dokter dan suster itu tampak sibuk menangani Jae. Cairan infus itu diputus dan digantikan dengan yang baru. Beberapa kali suster memberikan injeksi ke dalam lubang infus itu. Dokter itu kemudian menghampiri Eun Jung.

     “Tolong pantau terus perkembangannya. Jika dalam dua jam Tuan Kim belum juga sadar anda bisa menghubungi kami,” ucap dokter itu.

     Eun Jung mengangguk, “Gamsahamnida.”

     “Baiklah, kami permisi dulu.” Kedua orang itu bergegas keluar setelah menuntaskan tugasnya.

     Blam!

     Pintu kamar tertutup, kembali suasana diselimuti keheningan. Eun Jung beranjak dari tempatnya semula. Ia menghampiri Jae Joong yang enggan bergerak satu inchi pun dari posisinya. Pelan-pelan jemarinya terangkat, membuat bayang-bayang di atas wajah Jae. Diam-diam, tanpa seorang pun menyadari, Eun Jung berbisik.

     “Aku ingin kau sadar, Jae...”

     Telunjuk gadis itu mendarat lembut di atas pipi pria itu. Samar-samar keempat jarinya sudah menyentuh sempurna wajah Jae Joong. Bibir Eun Jung kembali bergerak, membisikkan sesuatu yang sayup-sayup terdengar.

     “Kumohon...”

     Tidak ada yang aneh dengan ucapan Eun Jung, kecuali satu hal. Ia benci memohon. Ia tidak suka memohon. Apalagi memohon sesuatu yang ia tak mengerti untuk apa. Jae bukan siapa-siapa baginya selain statusnya sebagai bosnya. Jae bukan orang yang sangat penting, kecuali ia ingat posisinya sebagai bodyguard.

     Eun Jung memutar ulang memorinya. Ia ingat pertama kali mereka berjumpa di kantor agensi tempat ia bekerja saat itu. Siang itu Jae memilihnya menjadi bodyguard dan entah kenapa ia menerimanya begitu saja. Saat itu ia merasa tiba-tiba saja ia melupakan siapa dirinya. Bahwa ia bekerja sebagai office girl bodyguard dalam agensi itu. Entah kenapa.

     Sampai saat ini ia belum memiliki cukup keberanian untuk memberitahukan tentang hal itu kepada Jae. Mungkin suatu hari kelak Jae akan tahu dengan sendirinya. Atau mungkin tidak akan ada seoang pun yang tahu kecuali dirinya dan semua orang di dalam kantor itu. Ya, mungkin saja.

     “Mmhh...” Eun Jung menarik tangannya dari wajah Jae. Perlahan-lahan kedua mata pria itu terbuka. “Jungie...”

     Eun Jung diam menatap keadaan Jae yang tampak masih belum stabil.

     “Jungie... Kakiku...” suara Jae masih terdengar serak. “Kakiku...”

     Eun Jung bergeming.

     “Sakit... Jungie...” lagi-lagi Jae Joong mengeluh pelan. “Aku... Mengantuk.”

     Jae kembali terlelap. Kali ini Eun Jung yakin bahwa kesadaran Jae barusan hanya terenggut rasa ngantuk. Ia tidak lagi khawatir. Ia menatap wajah Jae kembali. Bibirnya kembali terbuka hendak melesatkan sesuatu yang baru saja dipendamnya.

     “Aku...akan mengundurkan diri...”

     Eun Jung melangkahkan kedua kakinya meninggalkan kamar. Meninggalkan Jae yang baru saja pulas dalam tidurnya. Mungkin keputusannya kali ini adalah sesuatu yang benar. Gara-gara Eun Jung, Jae kehilangan kesadaran. Ia yang membuat kaki Jae terluka. Dan seorang bodyguard tidaklah pantas lagi disebut demikian jika ia sudah gagal menjaga bosnya. Eun Jung baru saja gagal. Ya, baru saja.

**

     “Apa?!” suara itu menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. Terdengar kontras dengan keheningan suasana yang menyelimuti selama pembicaraan berlangsung. Sang pemilik suara mendesah, menurunkan emosi serta volume suara yang dirasa terlalu membahayakan untuk kondisi sedemikian rupa. “Tapi, kenapa tiba-tiba, Eun Jung?”

     Gadis yang disebutkan namanya barusan menghela nafas perlahan sebelum ia kembali angkat bicara. “Kurasa keputusanku sudah tepat, Manager Park. Kalian bisa mencari bodyguard yang lebih baik daripada aku.”

     Manager Park mengambil saputangan dari saku celananya kemudian mengusapkan ke sebagian wajahnya. Tampak sekali ia sedang berusaha untuk lebih tenang, namun emosi nampaknya jauh lebih menguasai dirinya dibanding kesabaran yang berusaha dibangunnya sejak tadi. “Kau tahu, kan? Mendapatkan bodyguard itu tak semudah membalik telapak tangan. Kau seharusnya berterima kasih pada Jae karena membuatmu mendapatkan pekerjaan yang bagus. Aku tidak menyangka akhirnya akan begini... Ck!”

     Eun Jung diam sejenak kemudian menjawab, “Maaf. Kalau begitu aku pamit. Sampaikan salamku pada Jae Joong jika dia sudah bangun.” Eun Jung bangkit dari posisinya semula kemudian beranjak meninggalkan ruangan.

     Manager Park terpaku melihat kepergian Eun Jung hingga bayang-bayangnya menghilang di balik pintu. Sejujurnya, dalam hati kecilnya yang paling dalam, ia ingin mencegah kepergian Eun Jung. Namun, ia sadar bahwa tidak seorang pun berhak memaksakan kehendak Eun Jung. Lagipula bodyguard sepertinya tidak memiliki kontrak seperti apa yang dimiliki artis. Hal itu tentu membuat kemungkinan Eun Jung kembali semakin kecil. Meski ia ingin Eun Jung tinggal sedikit lebih lama.

**

     Manager Park membantu Jae Joong mengemasi barang-barangnya. Tadi malam dokter sudah menyatakan bahwa Jae bisa pulang lebih cepat. Mengetahui ia bisa kembali lagi ke rumah Jae tampaknya begitu gembira. Meskipun ia tidak bisa kembali dengan keadaan normal karena kedua kakinya yang patah membuatnya harus berjalan dengan bantuan tongkat.

     Ia merindukan rumahnya, kamarnya, dan mungkin juga bodyguardnya.

     Manager Park, sebelum sampai di rumah kita mampir ke kedai dekat perempatan itu, ya. Ada sesuatu yang mau kubeli,” pesan Jae pada Manager Park sebelum keduanya sampai di tempat mobilnya terparkir.

     “Memangnya apa yang mau kau beli, huh?” Manager Park menanggapi seadanya.

     “Aku ingin membeli daging panggang di sana. Biasanya aku akan mampir dengan Jungie. Karena dia tidak ikut biar aku yang beli untuk kita makan bersama,” jawab Jae.

     Manager Park diam sejenak kemudian kembali berbicara, “Ada satu hal yang ingin kukatakan, Jae.”

     “Hm?” Jae menoleh.

     “Ham Eun Jung sudah mengundurkan diri.”

     Deg!

     Jae menghentikan langkahnya. Satu detik. Dua detik. Jae masih terpaku. Pandangannya membidik jalanan koridor yang tampak sepi. Pikirannya melayang, mencoba mengoreksi kalimat Manager Park yang mungkin saja perlu perbaikan.

     Jae mengalihkan pandangannya pada Manager Park. Sekali lagi Jae merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Manager Park menatap Jae sayu, “Aku tidak bercanda, Jae.”

     “Tapi, kenapa?” tanya Jae berusaha tenang.

     Manager Park mengedik. “Yang pasti aku tidak sanggup mencegahnya.”

     Jae kembali diam. Ia melepaskan pandangan dari Manager Park kemudian berjalan mendahului. “Sebaiknya kita segera pulang.”

     Manager Park berusaha menyejajarkan posisinya dengan Jae, “Kita mampir ke kedai itu, bagaimana?” Ia berusaha menghibur Jae yang hampir kehilangan seluruh moodnya.

     “Kita langsung pulang saja, aku tidak lapar.”

     Jae mengayun tongkatnya lebih cepat dari sebelumnya. Sesegera mungkin ia berjalan menuju mobil abu-abu yang terparkir apik di antara dua ruas garis putih. Manager Park bergegas membuka pintu mobil, membantu Jae mengisi jok bagian belakang dengan barang bawaan mereka. Setelah itu Jae dan Manager Park lekas masuk ke dalam mobil dan melesatkan mobil itu menuju rumah seperti titah Jae beberapa menit silam.

**

     “Jungie-ah... Aku membawa daging panggang. Kau mau?”

     “Ya! Kau lapar atau nafsu, sih?”

     “Jungie-ah, berbicaralah sedikit lebih banyak. Jangan terlalu hemat bicara. Tidak baik...”

     “Jungie-ah, Jungie-ah. Ya, Ham Eun Jung! Ada masalah dengan telingamu, huh?”

     Bayang-bayang kehadiran Ham Eun Jung di rumah ini terasa begitu lekat. Jae hampir gila menyaksikan sosok Eun Jung dalam memorinya. Rasanya ia tidak mungkin segera melupakan Eun Jung dalam waktu dekat. Meski yang terkenang hanyalah ekspresi-ekspresi datar Eun Jung. Meski tidak banyak kalimat yang mampu diingat Jae Joong selain gerak bibir samar gadis itu. Keberadaan Eun Jung menjadi hal yang saat ini seharusnya dilupakan atau paling tidak terlupakan. Karena entah kenapa...

     “Dia bahkan tidak memiliki siapapun, berbeda dengan kalian yang masih memiliki saudara. Jadi, sebaiknya kalian tidak perlu mendramastisir masalah kalian. Karena mungkin saja ada yang jauh lebih tidak beruntung dibanding kalian semua di dunia ini.”

     “Naiklah. Mungkin aku bisa membawamu lebih cepat untuk sepuluh kilometer ke depan.”

     “Jungie-ah, hari ini kau berbicara lebih banyak dari biasanya. Ternyata kau bisa berbicara lebih dari lima menit juga, ya?”

     Ada sebuah perasaan ganjil di dalam dada Jae. Sesuatu yang terasa agak menyakitkan dan ia tak tahu apa itu. Dan saat ia melihat pantulan dirinya sendiri di cermin, ia merasa begitu lemah. Seperti sesuatu yang memanggil Eun Jung untuk kembali. Ham Eun Jung yang melindunginya. Ia ingin Eun Jung menghapus lelehan air mata yang kali ini mulai membasahi pipinya.

     “Jungie-ah, mian. Mianhae...”












.The Gentle Girl


.to be continue~




Glosarium :

*Ya             : Hei!
*Mwo?      : Apa?
*Gamsahamnida : Terima kasih
*Mianhae  : Maaf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar