Title :
The Gentle Girl
Author :
dita-cHun © 2013
Length :
Multichapter
Chapter :
5
Subtitle :
Pesan
Rating :
PG [Parents Guidance]
Genre :
Romance, Action
Main Cast :
*Kim Jae Joong
*Ham Eun Jung
POV :
Author
Disclaimer :
Kim Jae Joong and Ham Eun Jung are belong to themselves. I’m own nothing but
plot. So, no bash, ok?
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya
Note :
Happy reading! Jangan lupa komennya yah! ^^V
Jae mencoba menghitung satu-satu
manik-manik malam di angkasa. Ia tahu betul seberapa banyak pun ia menghitung
mereka, ia tak akan mampu mengetahui jumlah pastinya benda langit yang disebut
bintang itu. Itu terlalu banyak, mungkin perlu menyibak langit menjadi beberapa
bagian barulah ia bisa menghitungnya.
Malam ini sudah terhitung sepuluh hari
sejak kepergian Ham Eun Jung. Dan Kim Jae Joong tetap tidak mampu menghilangkan
gadis itu dari ingatannya atau sedikitnya untuk melupakannya beberapa detik
saja. Apalagi dalam keadaan patah kaki seperti ini. Ia selalu sulit menghindari
rumah karena tidak ada pekerjaan yang dijadikan alasan untuk memenuhi
pikirannya dan menyingkirkan gadis itu dari ingatannya.
Bukan bermaksud jahat. Tentu saja selama
ini keberadaan Eun Jung sangat membantunya. Tapi, ia juga tidak ingin membuat
dirinya sendiri gila dengan menyimpan memori tentang Eun Jung dalam ingatannya.
Keberadaan Eun Jung dalam ingatannya seperti bom yang hendak meledakkan
kepalanya sesegera mungkin. Tidak akan terasa sakit memang jika Eun Jung masih
ada di rumah ini, di sisinya. Tapi, sekarang Eun Jung sudah pergi. Ia tidak di
sini lagi. Jika Eun Jung terus tersimpan dalam ingatannya, ia akan jadi begitu
rindu. Sikap dinginnya, ucapan kasarnya, dan bentakan ringan khas Ham Eun Jung
yang tidak akan didapatkannya dari siapapun. Lalu harus diadukan kepada siapa
lagi rindu itu jika yang dirindukan tidak ada di sisinya lagi?
Jae hanya diam. Ia tidak tahu bagaimana
menjawab pertanyaan yang berputar di dalam kepalanya. Ia hanya merasa seperti
menjadi seorang wanita saat ini. Ia begitu lemah dan terkurung di dalam
sangkarnya sendiri dalam sunyi.
“Jungie-ya...”
Tanpa sadar buliran bening itu jatuh dari
mata Jae, membasahi pipinya yang tampak semakin kurus setiap hari.
**
“Kau yakin ingin kembali bekerja?” Manager Park bertanya sembari sesekali
melirik kaki Jae yang sudah dilepas perbannya.
“Kau tidak perlu khawatir, Manager Park. Lagipula kalau aku tidak
bekerja, aku akan jatuh miskin.” Jae berusaha bercanda.
Jujur saja ia merasa cukup senang perban
yang sebulan terakhir membalut kakinya sudah bisa dilepaskan. Dokter juga
mengatakan bahwa kaki Jae Joong sudah membaik dan ia diizinkan melakukan
aktivitas seperti sebelumnya kembali.
“Oh ya, ngomong-ngomong tentang pekerjaan.
Kemarin lusa sutradara Hiroshi dari Jepang menghubungiku. Dia bilang akan
membuat iklan minuman alkohol di Tokyo dan membutuhkan pemeran utama dalam
iklan itu. Dia ingin kau yang mengisi tokoh itu, bagaimana?” Manager Park
menyejajarkan langkah dengan Jae sambil mengutak-atik buku saku di
genggamannya.
“Kapan?” Jae tampak tertarik mendengarnya.
“Musim panas ini sebelum festival Hanabi. Sekitar dua minggu lagi,” jawab
Manager Park.
Jae mengangguk paham, “Baiklah. Katakan
padanya aku setuju.”
“Ne,”
Manager Park kembali mencorat-coret
buku sakunya. “Oh ya, Jae. Lebih baik kita kembali ke Seoul setelah selesai
festival Hanabi saja. Lagipula kurasa
aku butuh liburan juga.”
“Ok!”
Yah, dalam hati mungkin ini adalah
kesempatan Jae kembali pada misi awalnya tentang pekerjaan. Ia ingin merambah
pasar Jepang. Dan saat targetnya pelan-pelan akan tercapai, seseorang yang
seharusnya ada di sisinya sudah tak mungkin menemaninya. Tapi, dengan pergi ke
Jepang, Jae berharap segera lupa tentang Eun Jung. Eun Jung yang saat ini entah
berada di sudut mana Korea. Sebentar lagi ia tidak akan memikirkan Ham Eun Jung
lagi. Ia tidak akan peduli dengan gadis itu lagi. Sekalipun ini bisa dibilang
sebagai pelarian diri.
**
Jae mengepak pakaian yang akan dibawanya ke
Jepang besok pagi. Beberapa kaos dan blazer dipilihnya secara teliti. Ia tidak
ingin salah mix-clothes. Semua orang termasuk Jae tahu bahwa Jepang adalah surga
segala fashion. Maka dari itu, ia tak ingin mempermalukan diri dengan memilih
paduan kostum yang tidak tepat.
Dua jam hampir berlalu dan Jae Joong masih
bingung harus memprioritaskan kaos berwarna ungu atau abu-abu yang akan ia
masukkan ke dalam koper. Masalahnya, koper itu sudah tidak mampu menampung
barang bawaannya lagi. Sementara ia sangat ingin membawa kedua kaos
kesayangannya itu.
“Ungu tampaknya lebih cocok,” Jae tampak
menimang-nimang kaos di genggaman tangan kirinya. “Tapi, abu-abu ini kesannya
lebih man!” Sekali lagi untuk ke
sekian kalinya ia membantah pendapatnya sendiri. Hanya karena dua helai kaos
Jae jadi gelisah.
“Ayolah, andai salah satu dari kalian bisa
bicara...,” geram Jae . “Koper itu hanya bisa menampung kau atau kau, tidak
bisa kalian berdua! Bagaimana ini?”
Jae mondar-mandir sembari menimang-nimang
ke dua kaos di tangannya. Ia berpikir keras mana yang akan ia bawa. Ia harus
cepat memutuskan sebelum hari esok tiba. Ya, harus!
Jae membuka lipatan ponselnya. Ia ingat
bahwa beberapa hari terakhir ponselnya mati karena tidak perlu digunakan. Manager Park juga belakangan sedang
mengatur jadwal Jae dan akan langsung datang ke rumah jika ada hal yang perlu
dibicarakan. Begitu ponselnya menyala kembali, ia melihat ada beberapa pesan
masuk termasuk pesan suara. Jae lekas memeriksanya satu persatu.
Plip!
“Jae, kau baik-baik saja? Kudengar kau mengalami
kecelakaan. Maaf belum sempat mengunjungimu di rumah sakit. Saat ini aku sedang
sibuk dengan serial TV dan acara reality show. Kelak kalau kau sudah baikan,
kabari aku ya! Istirahatlah lebih banyak. Semoga lekas sembuh!”
Plip!
“Jae, kenapa ponselmu mati? Padahal aku
ingin mengunjungimu di rumah sakit, tapi aku masih banyak sekali pekerjaan.
Setelah sempat nanti aku akan menjengukmu di rumah. Jaga kesehatan, ya!”
Plip!
“Jae, jaga kesehatanmu, ya! Jangan sampai
kecelakaan lagi! Semoga lekas sembuh!”
Plip
“Jae,
kau jahat sekali mematikan ponselmu di saat aku khawatir begini! Aku memang
sedang tidak bisa menjengukmu, tapi tetap saja sebagai artis junior kau tidak
boleh seenaknya kecelakaan dan membuatku khawatir, tahu!
Plip!
“...Aku ingin mengatakan sesuatu. Selama
ini aku sudah berbohong padamu dan juga Manager Park. Dan mungkin kepada yang
lainnya juga.”
“Jungie-ya...”
“Aku bukan bodyguard. Aku tidak pernah
menjadi anggota dalam agensi bodyguard itu. Aku hanya seorang office girl yang
kebetulan sedang berada di sana saat itu...”
“Eh?’
“Semula aku tidak berniat menceritakan hal
ini padamu. Lagipula sudah tidak penting lagi, kan? Tapi, aku merasa cepat atau
lambat. Dari aku atau orang lain, mungkin kau akan tahu yang sebenarnya. Maka
dari itu, aku mengatakannya padamu.”
“Eh?”
“Selain itu, aku juga minta maaf atas
keputusanku yang begitu mendadak. Mungkin kau bisa mendapatkan penggantiku
dengan yang lebih baik dan berkualitas. Dan tentu saja bukan penipu sepertiku.”
“...”
“Maaf, Kim Jae Joong. Aku sebagai
bodyguardmu telah gagal menjagamu. Mianhae, Kim Jae Joong.”
Plip!
Jae terdiam mendengar pesan suara terakhir
tersebut. Suara itu terasa bergaung di telinganya berkali-kali. Ia merasa
tubuhnya beku seketika, bahkan rasanya sulit meski hanya untuk berkedip
sekalipun.
**
Pesawat berdesing kuat begitu pengumuman
bahwa pesawat akan take off usai.
Roda pesawat mulai terlipat tanda pesawat akan mencapai udara beberapa detik lagi.
Hari ini langit begitu cerah sehingga tidak ada penundaan jadwal pesawat dan
dengan begitu penerbangan menuju Jepang akan sampai tepat waktu.
Jae meraih earphone di hadapannya dan lekas
memakainya. Setelah memilih lagu yang hendak didengarnya ia kembali diam
seperti aktivitas sebelumnya. Matanya memandang lurus ke luar jendela. Dari
posisinya duduk saat ini, ia tentu mampu melihat sayap pesawat dengan jelas
dari balik jendela. Namun, bukan itu satu-satunya fokus Jae saat ini. Ia merasa
kepalanya penuh meski ia sendiri tak tahu apa yang sedang dipikirkannya
sekarang. Seperti ada sedikit beban yang menekan kepalanya hingga membuat
emosinya kehilangan kendali beberapa jam terakhir.
“Jae,” Manager
Park menyenggol lengan Jae. Pria yang disebutkan namanya barusan menoleh.
“Kau mau snack?”
Jae menggeleng dan kembali menatap ke luar
jendela.
Sejak pertama kali Manager Park menjumpai Jae di bandara Jae hanya diam. Sesekali ia
menjawab seperlunya beberapa pertanyaan Manager
Park. Kadang anggukan, kadang gelengan. Pria itu tampak seperti orang yang
baru saja dicuci otaknya. Sejak tadi melamunkan hal yang Manager Park pun tak tahu apa itu.
“Jae, kau bisa membagikan masalahmu padaku
kalau kau mau...,” ucap Manager Park menawarkan. Jae hanya menoleh sekilas
kemudian kembali pada kegiatannya semula.
‘Maaf, Kim Jae Joong. Aku sebagai
bodyguardmu telah gagal menjagamu. Mianhae, Kim Jae Joong.’
“Mungkin aku yang terlalu lemah menjaga
diriku sendiri...,” gumam Jae.
“Eh? Jae, kau mengatakan sesuatu?” tanya Manager Park. Jae hanya menggeleng tanpa
menoleh sedikit pun pada pria di sampingnya.
**
Jae dan Manager
Park memasuki sebuah restaurant
yang sudah dipesan sebelumnya. Malam ini mereka akan mengadakan makan malam
bersama sutradara Hiroshi Takigawa sekalian membicarakan kontrak iklan yang
sebelumnya sempat mereka sepakati secara tidak tertulis.
Tak perlu waktu lama menunggu, sutradara
Hiroshi tiba beberapa menit setelah mereka tiba. Perkenalan singkat antara
sutradara dan keduanya pun berjalan lancar. Beberapa pembicaraan menggunakan
bahasa Jepang sehingga Jae perlu Manager
Park menerjemahkannya dalam bahasa Korea. Dipikir-pikir ini adalah kunjungan
pertama Jae ke Jepang untuk bekerja. Sebelumnya ia juga pernah datang ke Negeri
Sakura ini. Namun, saat itu adalah untuk menghabiskan waktu liburan.
“Aku merasa senang sekali bisa bekerja sama
dengan anda. Apalagi kabarnya karir anda sedang naik daun belakangan ini,” sutradara
Hiroshi kembali membuka pembicaraan.
“Ahaha, anda bisa saja. Saya juga senang
bisa bekerja sama dengan anda. Ini adalah kali pertama saya bekerja sama dengan
periklanan Jepang,” jawab Jae merendah.
“Kalau kita sudah sama-sama setuju,
bagaimana jika penandatanganan kontrak dipercepat, hm?” sutradara Hiroshi
menyerahkan sebuah map dengan beberapa berkas di dalamnya.
“Hai’,
Hiroshi-san.” Jae mengambil map
tersebut dan lekas menandatanganinya. Setelah itu ia kembali mengangsurkan map
itu pada sutradara Hiroshi.
“Senang sekali bisa bekerja sama dengan
anda, Kim Jae Joong-san.” Sutradara
Hiroshi menjabat tangan Jae tanda mereka sepakat dengan kontrak yang telah
tertera dalam map tadi.
**
“Sebentar lagi aku akan sibuk lagi dengan
pekerjaan.” Jae menghela nafas singkat sebelum melanjutkan kalimatnya. “Meski
begitu, aku masih ingin tahu apa kabarnya hari ini. Apa dia sibuk? Sibuk apa?
Kalau tidak, apa yang sekarang dia kerjakan? Apa dia mendapatkan pekerjaan yang
lebih baik? Semoga begitu...”
Jae mengambil ponselnya dan memutuskan
untuk mengirim satu pesan singkat pada Ham Eun Jung. Barangkali gadis itu belum
mengganti nomornya. Setidaknya, ia hanya ingin tahu keadaan gadis itu.
To : Ham Eun Jung
Apa kabar?
Perbanku sudah dilepas dua minggu lalu. Sekarang aku sudah kembali bekerja.
Jae mengirim pesan itu tanpa ingin tahu
apakah nomor itu aktif atau tidak. Ia hanya berharap Eun Jung membalasnya
meskipun hanya satu kali dengan jawaban singkat.
Sepanjang malam Jae terus menunggu. Ponsel
itu terus digenggamnya, agar ia segera tahu jika ada pesan balasan tiba-tiba
masuk. Matanya sudah mulai mengantuk dan ia memutuskan untuk tidur. Mungkin
saat ia terbangun esok hari, ia akan menemukan pesan balasan dari Ham Eun Jung.
**
Pagi-pagi sekali Jae bangun dari tidurnya.
Ponsel flip itu masih terbaring damai di atas ranjangnya. Lekas Jae membuka
lipatan ponsel itu dan segera mengecek pesan masuk. Mungkin pesan balasan itu
sudah datang!
0 Message
Melihatnya, ada
perasaan sedikit kecewa di dada Jae.
‘Ternyata
memang sudah tidak aktif, ya? Atau dia belum sempat membalasnya?’
To : Ham Eun Jung
Hari ini
aku ada syuting iklan. Setelah iklan ini rilis, aku akan mengabarimu.
Jae kembali
mengirim satu pesan ke nomor yang sama.
.The Gentle Girl
.to be continue~
Glosarium :
*Mianhae : Maaf
(Korea)
*Hai’ : Ya (Jepang)
*-san : Panggilan untuk orang yang lebih tua
atau dihormati (Jepang)
*Ne : Ya (Korea)
*Hanabi : Festival kembang api, biasanya
berlangsung saat musim panas di Jepang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar