Selasa, 30 Juli 2013

The Gentle Girl - Pesan [Chapter V]



Title            : The Gentle Girl

Author       : dita-cHun © 2013

Length       : Multichapter

Chapter      : 5

Subtitle       : Pesan

Rating        : PG [Parents Guidance]

Genre         : Romance, Action

Main Cast  :

*Kim Jae Joong

*Ham Eun Jung

POV           : Author

Disclaimer : Kim Jae Joong and Ham Eun Jung are belong to themselves. I’m own nothing but plot. So, no bash, ok?

Warning     : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya

Note           : Happy reading! Jangan lupa komennya yah! ^^V








     Jae mencoba menghitung satu-satu manik-manik malam di angkasa. Ia tahu betul seberapa banyak pun ia menghitung mereka, ia tak akan mampu mengetahui jumlah pastinya benda langit yang disebut bintang itu. Itu terlalu banyak, mungkin perlu menyibak langit menjadi beberapa bagian barulah ia bisa menghitungnya.

     Sejak tiga puluh menit silam Jae melakukan hal yang sama di balkon kamarnya, mencoba menjemput kantuk yang enggan datang. Ia sudah mencoba berbaring di atas ranjang empuk miliknya. Tapi, beberapa kali ia selalu terbangun saat matanya sudah mulai terpejam. Bagaimana sanggup menutup mata jika sosok yang dirindukannya tiba-tiba muncul dalam bayangannya?

     Malam ini sudah terhitung sepuluh hari sejak kepergian Ham Eun Jung. Dan Kim Jae Joong tetap tidak mampu menghilangkan gadis itu dari ingatannya atau sedikitnya untuk melupakannya beberapa detik saja. Apalagi dalam keadaan patah kaki seperti ini. Ia selalu sulit menghindari rumah karena tidak ada pekerjaan yang dijadikan alasan untuk memenuhi pikirannya dan menyingkirkan gadis itu dari ingatannya.

     Bukan bermaksud jahat. Tentu saja selama ini keberadaan Eun Jung sangat membantunya. Tapi, ia juga tidak ingin membuat dirinya sendiri gila dengan menyimpan memori tentang Eun Jung dalam ingatannya. Keberadaan Eun Jung dalam ingatannya seperti bom yang hendak meledakkan kepalanya sesegera mungkin. Tidak akan terasa sakit memang jika Eun Jung masih ada di rumah ini, di sisinya. Tapi, sekarang Eun Jung sudah pergi. Ia tidak di sini lagi. Jika Eun Jung terus tersimpan dalam ingatannya, ia akan jadi begitu rindu. Sikap dinginnya, ucapan kasarnya, dan bentakan ringan khas Ham Eun Jung yang tidak akan didapatkannya dari siapapun. Lalu harus diadukan kepada siapa lagi rindu itu jika yang dirindukan tidak ada di sisinya lagi?

     Jae hanya diam. Ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan yang berputar di dalam kepalanya. Ia hanya merasa seperti menjadi seorang wanita saat ini. Ia begitu lemah dan terkurung di dalam sangkarnya sendiri dalam sunyi.

     “Jungie-ya...”

     Tanpa sadar buliran bening itu jatuh dari mata Jae, membasahi pipinya yang tampak semakin kurus setiap hari.

**

     “Kau yakin ingin kembali bekerja?” Manager Park bertanya sembari sesekali melirik kaki Jae yang sudah dilepas perbannya.

     “Kau tidak perlu khawatir, Manager Park. Lagipula kalau aku tidak bekerja, aku akan jatuh miskin.” Jae berusaha bercanda.

     Jujur saja ia merasa cukup senang perban yang sebulan terakhir membalut kakinya sudah bisa dilepaskan. Dokter juga mengatakan bahwa kaki Jae Joong sudah membaik dan ia diizinkan melakukan aktivitas seperti sebelumnya kembali.

     “Oh ya, ngomong-ngomong tentang pekerjaan. Kemarin lusa sutradara Hiroshi dari Jepang menghubungiku. Dia bilang akan membuat iklan minuman alkohol di Tokyo dan membutuhkan pemeran utama dalam iklan itu. Dia ingin kau yang mengisi tokoh itu, bagaimana?” Manager Park menyejajarkan langkah dengan Jae sambil mengutak-atik buku saku di genggamannya.

     “Kapan?” Jae tampak tertarik mendengarnya.

     “Musim panas ini sebelum festival Hanabi. Sekitar dua minggu lagi,” jawab Manager Park.

     Jae mengangguk paham, “Baiklah. Katakan padanya aku setuju.”

     Ne,” Manager Park kembali mencorat-coret buku sakunya. “Oh ya, Jae. Lebih baik kita kembali ke Seoul setelah selesai festival Hanabi saja. Lagipula kurasa aku butuh liburan juga.”

     “Ok!”

     Yah, dalam hati mungkin ini adalah kesempatan Jae kembali pada misi awalnya tentang pekerjaan. Ia ingin merambah pasar Jepang. Dan saat targetnya pelan-pelan akan tercapai, seseorang yang seharusnya ada di sisinya sudah tak mungkin menemaninya. Tapi, dengan pergi ke Jepang, Jae berharap segera lupa tentang Eun Jung. Eun Jung yang saat ini entah berada di sudut mana Korea. Sebentar lagi ia tidak akan memikirkan Ham Eun Jung lagi. Ia tidak akan peduli dengan gadis itu lagi. Sekalipun ini bisa dibilang sebagai pelarian diri.

**

     Jae mengepak pakaian yang akan dibawanya ke Jepang besok pagi. Beberapa kaos dan blazer dipilihnya secara teliti. Ia tidak ingin salah mix-clothes. Semua orang termasuk Jae tahu bahwa Jepang adalah surga segala fashion. Maka dari itu, ia tak ingin mempermalukan diri dengan memilih paduan kostum yang tidak tepat.

     Dua jam hampir berlalu dan Jae Joong masih bingung harus memprioritaskan kaos berwarna ungu atau abu-abu yang akan ia masukkan ke dalam koper. Masalahnya, koper itu sudah tidak mampu menampung barang bawaannya lagi. Sementara ia sangat ingin membawa kedua kaos kesayangannya itu.

     “Ungu tampaknya lebih cocok,” Jae tampak menimang-nimang kaos di genggaman tangan kirinya. “Tapi, abu-abu ini kesannya lebih man!” Sekali lagi untuk ke sekian kalinya ia membantah pendapatnya sendiri. Hanya karena dua helai kaos Jae jadi gelisah.

     “Ayolah, andai salah satu dari kalian bisa bicara...,” geram Jae . “Koper itu hanya bisa menampung kau atau kau, tidak bisa kalian berdua! Bagaimana ini?”

     Jae mondar-mandir sembari menimang-nimang ke dua kaos di tangannya. Ia berpikir keras mana yang akan ia bawa. Ia harus cepat memutuskan sebelum hari esok tiba. Ya, harus!

     Jae membuka lipatan ponselnya. Ia ingat bahwa beberapa hari terakhir ponselnya mati karena tidak perlu digunakan. Manager Park juga belakangan sedang mengatur jadwal Jae dan akan langsung datang ke rumah jika ada hal yang perlu dibicarakan. Begitu ponselnya menyala kembali, ia melihat ada beberapa pesan masuk termasuk pesan suara. Jae lekas memeriksanya satu persatu.

     Plip!

     “Jae, kau baik-baik saja? Kudengar kau mengalami kecelakaan. Maaf belum sempat mengunjungimu di rumah sakit. Saat ini aku sedang sibuk dengan serial TV dan acara reality show. Kelak kalau kau sudah baikan, kabari aku ya! Istirahatlah lebih banyak. Semoga lekas sembuh!”

     Plip!

     “Jae, kenapa ponselmu mati? Padahal aku ingin mengunjungimu di rumah sakit, tapi aku masih banyak sekali pekerjaan. Setelah sempat nanti aku akan menjengukmu di rumah. Jaga kesehatan, ya!”

     Plip!

     “Jae, jaga kesehatanmu, ya! Jangan sampai kecelakaan lagi! Semoga lekas sembuh!”

     Plip

     “Jae, kau jahat sekali mematikan ponselmu di saat aku khawatir begini! Aku memang sedang tidak bisa menjengukmu, tapi tetap saja sebagai artis junior kau tidak boleh seenaknya kecelakaan dan membuatku khawatir, tahu!

     Plip!

     “...Aku ingin mengatakan sesuatu. Selama ini aku sudah berbohong padamu dan juga Manager Park. Dan mungkin kepada yang lainnya juga.”

     “Jungie-ya...”

     “Aku bukan bodyguard. Aku tidak pernah menjadi anggota dalam agensi bodyguard itu. Aku hanya seorang office girl yang kebetulan sedang berada di sana saat itu...”

     “Eh?’

     “Semula aku tidak berniat menceritakan hal ini padamu. Lagipula sudah tidak penting lagi, kan? Tapi, aku merasa cepat atau lambat. Dari aku atau orang lain, mungkin kau akan tahu yang sebenarnya. Maka dari itu, aku mengatakannya padamu.”

     “Eh?”

     “Selain itu, aku juga minta maaf atas keputusanku yang begitu mendadak. Mungkin kau bisa mendapatkan penggantiku dengan yang lebih baik dan berkualitas. Dan tentu saja bukan penipu sepertiku.”

     “...”

     “Maaf, Kim Jae Joong. Aku sebagai bodyguardmu telah gagal menjagamu. Mianhae, Kim Jae Joong.”

     Plip!

     Jae terdiam mendengar pesan suara terakhir tersebut. Suara itu terasa bergaung di telinganya berkali-kali. Ia merasa tubuhnya beku seketika, bahkan rasanya sulit meski hanya untuk berkedip sekalipun.

**

     Pesawat berdesing kuat begitu pengumuman bahwa pesawat akan take off usai. Roda pesawat mulai terlipat tanda pesawat akan mencapai udara beberapa detik lagi. Hari ini langit begitu cerah sehingga tidak ada penundaan jadwal pesawat dan dengan begitu penerbangan menuju Jepang akan sampai tepat waktu.

     Jae meraih earphone di hadapannya dan lekas memakainya. Setelah memilih lagu yang hendak didengarnya ia kembali diam seperti aktivitas sebelumnya. Matanya memandang lurus ke luar jendela. Dari posisinya duduk saat ini, ia tentu mampu melihat sayap pesawat dengan jelas dari balik jendela. Namun, bukan itu satu-satunya fokus Jae saat ini. Ia merasa kepalanya penuh meski ia sendiri tak tahu apa yang sedang dipikirkannya sekarang. Seperti ada sedikit beban yang menekan kepalanya hingga membuat emosinya kehilangan kendali beberapa jam terakhir.

     “Jae,” Manager Park menyenggol lengan Jae. Pria yang disebutkan namanya barusan menoleh. “Kau mau snack?”

     Jae menggeleng dan kembali menatap ke luar jendela.

     Sejak pertama kali Manager Park menjumpai Jae di bandara Jae hanya diam. Sesekali ia menjawab seperlunya beberapa pertanyaan Manager Park. Kadang anggukan, kadang gelengan. Pria itu tampak seperti orang yang baru saja dicuci otaknya. Sejak tadi melamunkan hal yang Manager Park pun tak tahu apa itu.

     “Jae, kau bisa membagikan masalahmu padaku kalau kau mau...,” ucap Manager Park menawarkan. Jae hanya menoleh sekilas kemudian kembali pada kegiatannya semula.

     ‘Maaf, Kim Jae Joong. Aku sebagai bodyguardmu telah gagal menjagamu. Mianhae, Kim Jae Joong.’

     “Mungkin aku yang terlalu lemah menjaga diriku sendiri...,” gumam Jae.

     “Eh? Jae, kau mengatakan sesuatu?” tanya Manager Park. Jae hanya menggeleng tanpa menoleh sedikit pun pada pria di sampingnya.

**

     Jae dan Manager Park memasuki sebuah restaurant yang sudah dipesan sebelumnya. Malam ini mereka akan mengadakan makan malam bersama sutradara Hiroshi Takigawa sekalian membicarakan kontrak iklan yang sebelumnya sempat mereka sepakati secara tidak tertulis.

     Tak perlu waktu lama menunggu, sutradara Hiroshi tiba beberapa menit setelah mereka tiba. Perkenalan singkat antara sutradara dan keduanya pun berjalan lancar. Beberapa pembicaraan menggunakan bahasa Jepang sehingga Jae perlu Manager Park menerjemahkannya dalam bahasa Korea. Dipikir-pikir ini adalah kunjungan pertama Jae ke Jepang untuk bekerja. Sebelumnya ia juga pernah datang ke Negeri Sakura ini. Namun, saat itu adalah untuk menghabiskan waktu liburan.

     “Aku merasa senang sekali bisa bekerja sama dengan anda. Apalagi kabarnya karir anda sedang naik daun belakangan ini,” sutradara Hiroshi kembali membuka pembicaraan.

     “Ahaha, anda bisa saja. Saya juga senang bisa bekerja sama dengan anda. Ini adalah kali pertama saya bekerja sama dengan periklanan Jepang,” jawab Jae merendah.

     “Kalau kita sudah sama-sama setuju, bagaimana jika penandatanganan kontrak dipercepat, hm?” sutradara Hiroshi menyerahkan sebuah map dengan beberapa berkas di dalamnya.

     Hai’, Hiroshi-san.” Jae mengambil map tersebut dan lekas menandatanganinya. Setelah itu ia kembali mengangsurkan map itu pada sutradara Hiroshi.

     “Senang sekali bisa bekerja sama dengan anda, Kim Jae Joong-san.” Sutradara Hiroshi menjabat tangan Jae tanda mereka sepakat dengan kontrak yang telah tertera dalam map tadi.

**

     “Sebentar lagi aku akan sibuk lagi dengan pekerjaan.” Jae menghela nafas singkat sebelum melanjutkan kalimatnya. “Meski begitu, aku masih ingin tahu apa kabarnya hari ini. Apa dia sibuk? Sibuk apa? Kalau tidak, apa yang sekarang dia kerjakan? Apa dia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik? Semoga begitu...”

     Jae mengambil ponselnya dan memutuskan untuk mengirim satu pesan singkat pada Ham Eun Jung. Barangkali gadis itu belum mengganti nomornya. Setidaknya, ia hanya ingin tahu keadaan gadis itu.

     To : Ham Eun Jung

     Apa kabar? Perbanku sudah dilepas dua minggu lalu. Sekarang aku sudah kembali bekerja.

     Jae mengirim pesan itu tanpa ingin tahu apakah nomor itu aktif atau tidak. Ia hanya berharap Eun Jung membalasnya meskipun hanya satu kali dengan jawaban singkat.

     Sepanjang malam Jae terus menunggu. Ponsel itu terus digenggamnya, agar ia segera tahu jika ada pesan balasan tiba-tiba masuk. Matanya sudah mulai mengantuk dan ia memutuskan untuk tidur. Mungkin saat ia terbangun esok hari, ia akan menemukan pesan balasan dari Ham Eun Jung.

**

     Pagi-pagi sekali Jae bangun dari tidurnya. Ponsel flip itu masih terbaring damai di atas ranjangnya. Lekas Jae membuka lipatan ponsel itu dan segera mengecek pesan masuk. Mungkin pesan balasan itu sudah datang!

     0 Message

     Melihatnya, ada perasaan sedikit kecewa di dada Jae.

     ‘Ternyata memang sudah tidak aktif, ya? Atau dia belum sempat membalasnya?’

     To : Ham Eun Jung

     Hari ini aku ada syuting iklan. Setelah iklan ini rilis, aku akan mengabarimu.

     Jae kembali mengirim satu pesan ke nomor yang sama.






.The Gentle Girl

.to be continue~



Glosarium :

*Mianhae : Maaf (Korea)
*Hai’          : Ya (Jepang)
*-san          : Panggilan untuk orang yang lebih tua atau dihormati (Jepang)
*Ne            : Ya (Korea)
*Hanabi     : Festival kembang api, biasanya berlangsung saat musim panas di Jepang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar