Title :
The Gentle Girl
Author :
dita-cHun © 2013
Length :
Multichapter
Chapter :
3
Subtitle :
Amarah
Rating :
PG [Parents Guidance]
Genre :
Romance, Action
Main Cast :
*Kim Jae Joong
*Ham Eun Jung
POV :
Author
Disclaimer :
Kim Jae Joong and Ham Eun Jung are belong to themselves. I’m own nothing but
plot. So, no bash, ok?
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya
Note :
Happy reading! Jangan lupa komennya ya! ^^V
Ruangan itu pengap, sempit, dan kotor.
Dalam keadaan mata dan mulut tersekap kain hitam, Jae masih sanggup
mendeskripsikan tempat ia dikurung. Bahkan mungkin ia mampu menjelaskan
seberapa rapuh kursi tempatnya terikat saat ini. Mungkin kedua matanya hanya
menangkap gelap, sedangkan mulutnya tak mampu mengeluarkan suara selain
erangan-erangan tak berarti. Tapi, telinga dan hidungnya masih berfungsi dengan
baik—setidaknya, itu cukup untuk menjelaskan sebagian besar kondisi sekitarnya
saat ini. Sampai detik ini ia tidak tahu atas alasan apa ketiga pria brengsek
itu menyekapnya.
Entahlah, Jae tidak terlalu peduli dengan
hal itu. Saat ini ia ingin memikirkan hal yang jauh lebih penting dari sekedar
kondisi tempatnya disekap saat ini ataupun ketiga pria brengsek itu. Mereka
bertiga sudah merebut paksa ponsel Jae setelah ia berhasil mengirim pesan pada
Eun Jung. Ia jadi khawatir bahwa mereka bisa saja melakukan hal yang
tidak-tidak kepada Eun Jung saat ini. Atau setidaknya, ponselnya menjadi
sasaran kekerasan oleh mereka.
Jae mendesah sekilas. Ia jadi ingat dengan
pesan Manager Park untuk memasang
fitur GPS pada ponselnya. Sejak kehadiran Ham Eun Jung, ia merasa bahwa
hidupnya sudah cukup aman dan mengabaikan pesan itu. Seandainya ia melakukan
apa yang Manager Park katakan,
mungkin Eun Jung dan yang lainnya akan dengan mudah melacak posisinya saat ini.
Ada sedikit perasaan menyesal di dalam dadanya. Tapi, itu sudah tak berguna di
saat terdesak seperti ini.
Dua jam lagi acara fan-meet dimulai dan tidak ada tanda-tanda kehadiran Eun Jung sampai
saat ini. Sekarang ia hanya mampu berdo’a, berharap Tuhan menunjukkan jalan
menuju posisinya saat ini. Ia berharap Eun Jung akan datang. Ya, itu
satu-satunya harapan yang memenuhi kepalanya saat ini.
**
Keputusan Eun Jung untuk meminta bantuan
pada polisi mungkin bukanlah pilihan terbaik. Sejak dua setengah jam yang lalu
ia sudah memohon agar polisi mau menindaklanjuti kasus hilangnya Jae Joong.
Namun, pihak mereka terus mengonfirmasi bahwa untuk berita kehilangan orang
harus menunggu 1 x 24 jam untuk mendapat tindak lanjut.
Eun Jung mengambil tempat di salah satu
kursi yang dapat ia jumpai. Kedua tangannya menggenggam ponselnya yang enggan
berdering sejak pesan terakhir dari Jae Joong. Sudah lebih dari empat puluh
kali ia mencoba menghubungi ponsel Jae, namun ponsel itu tak kunjung aktif.
Ia mengambil nafas dalam-dalam kemudian
menghembuskannya perlahan. Sebuah ketenangan mungkin dapat membuatnya berpikir
jernih. Tapi, di saat kalut seperti ini mana bisa tenang?
“Dimana? Dimana dia sekarang?”
Eun Jung membuka kembali lipatan ponselnya.
Dibukanya kembali pesan terakhir dari Jae Joong yang dikirimkan padanya tiga
jam silam. Mungkin ia menemukan sedikit petunjuk di sana. Ya, ia harap begitu.
From : Kim Jae Joong
Aku tidak
tahu tempat apa ini. Tapi, sepertinya mereka akan menjadikanku perkedel.
Cepatlah datang, Jungie-ah!
“Mereka?
Apa itu penculikan? Tapi, untuk apa?”
Eun Jung mencoba memutar otak. Kedua
matanya fokus menatap layar ponselnya dalam-dalam. Ia mencoba mencari petunjuk
lebih dalam. Namun, tampaknya tak ada isyarat berarti di dalam pesan itu.
“Manager Park,” gumam Eun Jung tiba-tiba.
Ia memikirkan satu ide. Mungkin saja Manager Park tahu sesuatu tentang hal ini.
Eun Jung kerap menjumpai Jae bertelepon dengan Manager Park untuk waktu yang
lama saat mereka tidak sedang bersama. Mungkin Jae meninggalkan pesan pada pria
itu.
“Yoboseyo,”
suara di seberang menjawab.
**
“Hmmp... Hmmpp...” Jae mengerang mendengar
pintu yang mengurungnya bergetar hebat. Tampaknya seseorang dari luar tengah
berusaha membuka pintu itu secara kasar. Singkatnya, itu bisa disebut dengan
usaha pendobrakan. Siapapun orang di luar itu, tentulah bukan ketiga pria
brengsek yang berhasil menyekapnya di ruangan terkutuk ini.
“Hmmpp... Hmmmpp...” Jae kembali mengerang,
kali ini berusaha membuat erangan lebih keras dari sebelumnya. Ia berharap
erangan tak berarti yang ditimbulkannya dapat terdengar sampai ke luar. Ia
ingin mengabarkan pada sosok yang tak diketahui siapa itu bahwa ada seorang
pria terkurung di dalam sana.
Brakh!
“Hmp!” Jae memekik di balik kain yang
membekap mulutnya. Ia merasa sesuatu yang berat menimpa kedua kakinya yang
masih terikat sempurna. Tanpa bertanya jenis benda apa yang baru saja melukai
kakinya itu, ia sudah tahu. Sekian mili detik lalu pintu itu berhasil terdobrak
dan terjerembab tepat di hadapannya.
Ia merintih pelan mendapati kakinya
terjepit benda berat bernama pintu itu. Akan lebih baik seandainya itu hanya
pintu kayu seperti yang dimilikinya di dalam rumah. Sayang sekali, itu bukan.
Pintu itu terbuat dari besi tua yang sudah berkarat entah sejak kapan. Dan
tentu saja berat pintu itu kira-kira tak kurang dari dua puluh kilogram.
Jae merasakan sesuatu yang hangat menyentuh
punggungnya. Kemudian pelan-pelan ikatan demi ikatan yang melilit tubuhnya.
Dengan agak kaku Jae melepaskan kain yang membekap mata dan mulutnya. Ia
tercengang melihat sosok malaikat penyelamat yang begitu familiar dalam dalam
ingatannya.
“Ham Eun Jung...” bibirnya menyebutkan
sebuah nama. Tapi, tak sebuah suara pun terdengar. Ia terlalu terkejut
menyadari gadis itu berhasil menemukannya. Tanpa GPS. Tanpa petunjuk apapun
darinya, gadis itu berhasil menyelamatkannya.
“Jungie-ah...”
perlahan Jae memanggil gadis itu. Gadis itu menoleh dan seketika pandangan
mereka bertemu. Eun Jung mengisyaratkan tanda tanya terhadap panggilan Jae
Joong barusan.
“Bagaimana... kau menemukanku?” lanjut Jae.
Eun Jung mengedik, “Manager Park menemukan mobilmu. Sambungan telepon kalian tiba-tiba
terputus kemudian ia pergi mencarimu.”
Jae Joong mengangguk paham. Saat ini ia
mampu merasakan lega mengalir bersama aliran darahnya. Eun Jung sudah
menemukannya. Itu artinya dia terbebas, kan?
Tidak juga.
“Cih, baru ditinggal sebentar saja sudah
ditemukan.” Seorang pria agak gemuk tampak bersandar santai di samping dinding
ruangan itu. Tangannya masih asyik mengutak-atik pisau lipat di genggamannya.
“Kelihatannya itu bodyguardnya, Shin.” Kali ini seorang pria lain muncul dari arah
luar. Pria gemuk yang disebut Shin itu berdecak menanggapi pernyataan pria yang
lebih kurus itu. “Seorang wanita, ya?”
“Lemah,” ucap pria lain yang tengah
mengutak-atik ponsel Jae Joong dalam genggamannya.
Jae naik pitam. Ia tidak terima para pria
brengsek itu menghinanya—sekalipun itu memang kenyataan. Kedua tangannya
menyingkirkan pintu yang sempat menindih kakinya beberapa saat tadi kemudian
Jae berdiri hendak menghampiri ketiga pria itu. Namun, naas bagi Jae. Dengan
segera setelah ia bangkit dari kursi, tubuhnya justru terjerembab sempurna ke
lantai. Ia merasakan kakinya ngilu, mati rasa, atau apapun itu namanya. Yang
pasti ia hampir tak mampu merasakan kakinya.
Tingkah Jae barusan lekas membuat ketiga
pria itu meledakkan tawa mereka. “Bodoh!”
“Berhentilah menghinaku!” protes Jae sambil
berusaha bangkit.
“Hahaha, dasar pecundang!”
“Bodoh!”
“Lem—” kata itu terputus sampai di sana.
Pria yang tampak paling muda di antara ketiganya membeku untuk sekilas. Ia
mampu merasakan sesuatu tengah menarik kerah kemejanya. “Hei, apa yang kau
lakukan, huh?!”
“Berhenti,” ucap Eun Jung sambil menatap
intens sepasang manik onyx pria itu.
“Kenapa? Aku hanya membicarakan kenyataan,”
ucap pria itu diselingi tawanya yang terdengar meremehkan.
Eun Jung mempererat cengkramannya,
“Kubilang berhenti.”
“Lepaskan dia,” sebuah pisau lipat kini
tengah bertengger di sisi kanan leher Eun Jung. Ia melirik sekilas. Dilihatnya
pria bernama Shin itu tengah mengancamnya dengan benda tajam berbahaya itu.
Eun Jung diam kemudian memutuskan untuk
melepaskan cengkramannya.
“Kyu, bantu Dong Hae membawanya!” ucap Shin
pada kedua pria lainnya.
Pria yang dipanggil Kyu dan Dong Hae itu
lekas membantu Jae Joong bangkit. Meski dengan susah payah, karena keras kepala
membuat Jae berkali-kali menolak kedua pria itu membawanya. Pada akhirnya kedua
pria itu berhasil membawa Jae Joong keluar dari ruangan itu, meninggalkan Shin
dan juga Eun Jung yang masih diam dalam posisinya.
“Atas alasan apa kau menculiknya?” Eun Jung
mulai berani angkat bicara. Pria itu diam, mengabaikan.
“Uang?” Eun Jung kembali berbicara. “Asal
kau tahu saja, dia tidak memiliki uang sebanyak itu.”
Kali ini Shin tampak melirik meski
samar-samar. Kelihatannya ia mulai tertarik dengan bahasan Eun Jung kali itu.
“Kau pikir mudah membodohiku, huh?”
“Menurutmu aku berbohong?”
Shin diam sejenak kemudian kembali
berbicara, “Kalau dia tidak memiliki banyak uang, lantas apa yang membuatnya
berhenti menjual kimchi?”
“Huh?”
“Ia sudah membuat ayahku mati mencarinya,”
ucap Shin lirih. Eun Jung mempertajam indra pendengarannya. “Gara-gara dia
tidak menjual kimchi itu lagi, ayahku
terus mencarinya sampai kecelakaan itu merenggut nyawanya.”
Pelan-pelan Eun Jung mencoba paham bahwa
mungkin masalah antara pria bernama Shin dan Jae mungkin bukan sekedar perkara
sederhana. “Ayahmu kecelakaan juga bukan sepenuhnya salah Jae,” ucap Eun Jung
berkomentar.
“Kau tidak tahu apa-apa!” Teriak Shin tak
terima atas pernyataan Eun Jung barusan. Shin menempelkan pisau itu lebih dalam
pada leher Eun Jung membuat debaran jantung gadis itu samar-samar terdengar
makin tak beraturan. “Ayahku adalah tulang punggung keluarga kami dan tanpa
dia, aku harus bekerja lebih awal untuk mengurus kedua adik-adikku!”
Bugh!
“Ukh!”
Eun Jung mengambil kesempatan itu untuk
membalik posisi mereka. Shin mengaduh pelan merasakan kedua tangannya yang saat
ini dikunci Eun Jung. “Kau mengatakan orang lain sebagai pencundang padahal kau
sendiri adalah pecundang yang sebenarnya.”
Shin geram mendengarnya. Tak terima, ia
lekas menarik paksa tangan kekarnya dari cengkraman gadis itu. “Aku tidak
peduli kau wanita sekalipun. Aku juga akan membunuhmu bersama Kim Jae Joong
sialan itu!”
Bugh!
Sebuah pukulan hebat melayang dari pria
bernama Shin itu. Eun Jung meringis tertahan. Diusapnya darah yang baru saja
mengalir dari sudut bibirnya. Rasa perih tiba-tiba menjalar dan tanpa sadar
membuat amarahnya semakin brutal menguasai tubuhnya.
Bugh!
Sebuah pukulan mendarat di wajah Shin.
Bugh!
Pukulan berikutnya menyusul pada sisi
wajahnya yang berbeda.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Eun Jung hilang
kendali. Ia kembali mendaratkan pukulan demi pukulan pada tubuh Shin. Sinar
matanya berubah. Ia tidak seperti Eun Jung yang sebelumnya. Ia bukan lagi Ham
Eun Jung yang tenang dan mendahulukan akalnya di atas segalanya. Ia kalap,
termakan emosi yang baru saja meledak karena pukulan hebat itu.
Bugh!
Eun Jung meluncurkan pukulan terakhirnya.
Dilihatnya Shin tergolek lemah di lantai tanpa mampu membalas satu pun pukulan
Eun Jung. Shin hanya mengerang tak jelas merasakan tubuhnya dibuat babak belur
oleh gadis iu.
Eun Jung mencoba menstabilkan nafasnya
sejenak kemudian kembali berbicara, “Aku juga bisa membunuhmu sebelum kau
membunuh kami. Kau pikir hanya kau di dunia ini yang menderita, huh?!” Tangan
Eun Jung kembali menyambar kerah pria itu dengan brutal.
“Cih!” Eun Jung mendorong kasar pria itu
hingga jatuh terlentang di lantai. Ia ingat bahwa ada hal lain yang harus
dituntaskannya setelah ini. Ia harus membawa Jae Joong ke Gangnam malam ini.
Harus.
**
“Ya!”
Sebuah panggilan kasar melesat dari bibir gadis itu begitu dilihatnya dua pria
yang membawa Jae Joong sibuk mengangkat pria itu ke dalam van.
Kedua eksistensi tersebut menoleh,
memandang tak suka pada gadis yang kembali berurusan dengan mereka kali ini.
“Kembalilah dan anggap tak ada yang terjadi,” ucap pria bernama Dong Hae itu.
“Tidak tanpanya,” Eun Jung menatap kedua
pasang manik mata itu intens.
“Tidak akan!” Dong Hae mencoba menyerang Eun
Jung dari depan, namun meleset saat itu juga. Keadaan berbalik secara mendadak.
Eun Jung menarik kaos pria itu dan menghajar wajahnya satu kali.
“Kubilang lepaskan dia!”
“Kyu, bawa dia pergi! Aku akan mengurus
gadis ini!” perintah Dong Hae pada si bungsu, Kyu.
Bugh!
Eun Jung melemparkan pukulan sekali lagi
pada Dong Hae kemudian meninggalkan pria itu dan memilih mengejar Kyu yang baru
menstarter mobil van putih itu. Dengan sigap tangannya menarik pintu van dan lekas membawa Jae keluar dari
sana.
“Jungie-ah,
gwaenchanhayo...” ucap Jae pelan. Eun
Jung mengabaikannya dan memilih mengamankan pria itu dari serangan Kyu dan Dong
Hae.
Kedua pria itu mengepung Eun Jung dan Jae
Joong. Mereka bersiap melemparkan pukulan hebat kapan saja sesuka mereka. Hal
itu membuat Eun Jung ekstra waspada. Selain menangkis pukulan baginya, ia juga
harus melindungi Jae Joong dari serangan kedua pria yang mulai membabi buta
itu.
“Kenapa kalian melakukan ini padaku, huh? Wae?!” Protes Jae di sela-sela
pertarungan ketiga jagoan itu.
Pertarungan berhenti. Ketiga pasang mata
itu menatap Jae Joong.
“Kau... Kau yang membuat ayah kami mati!”
ucap Kyu lantang.
Mendengar hal itu Jae hanya mampu ber’ha?’
ria tanpa mengerti apa yang telah terjadi.
“Gara-gara kau menutup restoran kimchi itu, ayah mencarimu sampai
kecelakaan di perjalanan! Brengsek!” Dong Hae melayangkan sebuah pukulan pada
Jae. Namun, itu berhasil ditepis Eun Jung sehingga pukulan itu gagal mendarat.
“M-mwo?”
“Kau harus menebus nyawa ayahku, brengsek!”
rutuk Kyu.
“Tapi, aku sama sekali tidak mengerti!
Kalian tidak bisa sesuka hati menuduhku sebagai pembunuh! Aku bahkan tidak tahu
bahwa ada pelanggan yang seperti itu!” Protes Jae.
“Tentu saja kau tidak tahu! Kau sudah
memiliki banyak uang sekarang! Kau meninggalkan restoran itu juga sesuka
hatimu, kan?”
Jae diam. “Aku... bahkan tidak ingin
meninggalkan restoran itu. Kalian hanya tidak mengerti apapun.”
“Apa maksudmu?”
“Tanpa bibiku aku tidak mungkin membuat kimchi yang sama... Kalian hanya harus
mengerti hal itu...,” kedua manik mata Jae menerawang jauh entah kemana.
Perlahan matanya basah, namun segera kedua tangannya menghapus cairan itu
sebelum terjun dari matanya.
“Dia bahkan tidak memiliki siapapun,
berbeda dengan kalian yang masih memiliki saudara.” Eun Jung angkat bicara.
“Jadi, sebaiknya kalian tidak perlu mendramastisir masalah kalian. Karena
mungkin saja ada yang jauh lebih tidak beruntung dibanding kalian semua di
dunia ini.”
Dua bersaudara itu diam menyimak kalimat
Eun Jung. Entah kenapa mereka seolah terpaku dan tak mampu menahan Eun Jung
yang membopong Jae Joong pergi dari hadapan mereka. Mungkin mereka baru
menyadari satu hal, bahwa mereka terlalu berlebihan.
“Berjalanlah dengan benar,” ucap Eun Jung.
“Aku bahkan tidak mampu merasakan kakiku,”
jawab Jae Joong.
Eun Jung menghela nafas sekilas. Ia
kemudian berjongkok di hadapan Jae. “Naiklah. Mungkin aku bisa membawamu lebih
cepat untuk sepuluh kilometer ke depan.”
“Memangnya kau bisa?” tanya Jae Joong. Ia
lekas memposisikan diri di belakang Eun Jung. “Begini kelihatannya tidak
keren.”
“Diamlah,” ucap Eun Jung berusaha
mengentikan pembicaraan.
“Jungie-ah,
hari ini kau berbicara lebih banyak dari biasanya. Ternyata kau bisa berbicara
lebih dari lima menit juga, ya?” Jae Joong mengejek. Eun Jung diam,
mengabaikan. “Oh ya, apa yang terjadi tadi siang... Mian.”
“Hm,” jawab Eun Jung sekilas.
“...Dan terima kasih,” lanjut Jae Joong.
“Malam ini ada jadwal fan-meet di Gangnam,” ucap Eun Jung mengalihkan pembicaraan. “Kau
tetap akan datang?”
“Tentu. Lagipula ini cuma luka kecil. Tidak
perlu khawatir,” ucap Jae menepuk pundak Eun Jung.
“Aku tidak khawatir.”
Eun Jung terus menggendong Jae Joong hingga
sebuah taksi melintas dan mereka memutuskan untuk naik ke dalamnya. Diam-diam
Jae mulai merasa mungkin Ham Eun Jung bukanlah gadis super dingin dan tak punya
hati. Di sisi kecil hatinya, Jae yakin bahwa Eun Jung tentu memiliki sisi
kehangatan yang mungkin saja belum begitu tampak. Seperti mutiara di dalam
cangkang yang keras. Ya, mungkin saja, kan?
.The Gentle Girl
.to be continue~
Glosarium :
*Ya : Hei
*Gwaenchanha : Baik-baik saja
*Mian : Maaf
*Wae? : Kenapa?
*Mwo? : Apa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar