Selasa, 30 Juli 2013

The Gentle Girl - Kekesalan Jae Joong [Chapter II]



Title            : The Gentle Girl

Author       : dita-cHun © 2013

Length       : Multichapter

Chapter      : 2

Subtitle       : Kekesalan Jae Joong

Rating        : PG [Parents Guidance]

Genre         : Romance, Action

Main Cast  :

*Kim Jae Joong

*Ham Eun Jung

POV           : Author

Disclaimer : Kim Jae Joong and Ham Eun Jung are belong to themselves. I’m own nothing but plot. So, no bash, ok?

Warning     : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya

Note           : Ok, happy reading dan jangan lupa komen, ya! Thank you!









     “Jungie-ah,” Jae memanggil Eun Jung. Namun, sang pemilik nama mengabaikan.

     “Jungie-ah,” suara baritone itu kembali memanggil nama yang sama. Namun, tetap tak ada yang mempedulikannya sekalipun pemilik nama itu berada tepat di sampingnya.

     Ya, Ham Eun Jung! Ada masalah dengan telingamu, huh?” tingkat kesabaran Jae menipis, mengubah panggilan manis itu menjadi bentakan. Gadis itu menengok. Pandangannya tetap tajam seperti hari-hari sebelumnya. Dan kedua manik onyx miliknya mengarah tepat pada kedua mata Jae Joong yang kini terpaku dengan freeze-sight itu.

     “Cih, tidak bisa membedakan serius dengan candaan, ya?” Jae Joong kembali dari alam bawah sadar yang baru saja merenggut konsentrasinya. Kedua tangannya kini meraih sebuah majalah otomotif di atas meja dan membolak-baliknya secara acak. Tak ada satu halaman pun yang menjadi fokus bacaannya. Ia hanya menghindar dari tatapan Eun Jung yang seakan menyalahkannya sekalipun itu tanpa suara.

     “Lagipula akan lebih sesuai jika aku memanggilmu Jungie daripada Ham Eun Jung, kan? Bukankah itu terdengar lebih akrab? Toh, sekarang aku majikanmu, jadi kau harus menuruti apa yang kukatakan. Arasseo?” Jae mulai sok menceramahi.

     “Aku tidak suka,” kali ini gadis itu angkat bicara setelah sekian ribu sekon terdiam.

     “Eh?”

     “Cukup memanggilku Eun Jung saja,” lanjutnya sembari bangkit dari duduknya semula.

     Ya! Kau mau kemana?” tanya Jae Joong melihat Eun Jung siap angkat kaki dari ruang tamu.

     “Dua jam lagi ada pemotretan Sky Magazine. Aku akan memeriksa mobil,” jawabnya kemudian melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.

     “Ck, tidak bisa berbicara lebih banyak, ya? Membuatku terkesan banyak bicara saja!”

**

     “Jungie-ah, kau mau mendengar ceritaku sebelum menjadi artis terkenal?” Jae Joong membuka pembicaraan di antara mereka. Eun Jung hanya melirik sekilas kemudian kembali fokus dengan kendali mobilnya. Jae menangkap itu sebagai jawaban ‘ya’ dan kembali berbicara.

     “Dulu, dua atau tiga tahun yang lalu aku bekerja di restoran kimchi pinggir jalan bersama bibiku. Setiap hari aku dan bibi harus bangun pagi-pagi sekali untuk membuat kimchi untuk dijual. Semua pelanggan mengaku kalau kimchi buatan kami paling enak di antara restoran kimchi di daerah sana. Tapi, kemudian bibiku meninggal dan aku tidak bisa membuat kimchi lagi. Aku merasa hanya bersama bibi bisa menghasilkan kimchi yang begitu enak. Sebenarnya aku juga bisa membuat kimchi sendiri. Tapi, setiap akan membuatnya aku akan teringat bibi dan batal membuatnya. Kemudian aku menutup restoran itu dan mendaftarkan diri ke dalam audisi menyanyi. Ternyata takdir memang membawaku ke dunia musik, bukan dunia memasak. Aku masuk ke dalam management dan jadi terkenal seperti ini,” Jae mengakhiri ceritanya. “Oh ya, bagaimana menurutmu? Orang lain berkata bahwa ini cerita menyedihkan.”

     “Maaf, aku tidak mendengarnya.”

     Jae Joong terhenyak untuk sesaat kemudian kembali angkat bicara. “Memangnya suaraku kurang jelas? Atau bahasaku sulit dimengerti?’

     “Aku mendengarkan musik sampai kau berkata ‘...terkenal seperti ini’.”

     Jae Joong ternganga mendengar pernyataan Eun Jung barusan. Ia tidak menyangka bahwa cerita menyedihkannya akan menjadi semakin menyedihkan ketika ia menceritakannya pada Ham Eun Jung yang benar-benar cuek. Ia menyesal menceritakan hal itu pada Eun Jung dan gagal menyentuh hati gadis itu dengan ceritanya.

     Setelah itu Jae Joong membungkam mulut untuk waktu yang lama. Ia hendak menunjukkan rasa kesalnya pada gadis itu. Sedikitnya, Eun Jung tentu paham dengan maksud Jae Joong. Namun, ia juga memilih diam agar masalah itu tak dibesar-besarkan lebih dari perkiraannya.

     Pemotretan sudah berjalan selama tiga jam tanpa adanya komunikasi berarti antara Jae Joong dan Eun Jung. Jae berusaha memperlihatkan bahwa ia bisa mengabaikan Eun Jung dan akan membuat gadis itu memohon maaf atas kesalahannya padanya. Meskipun dalam pemikiran orang lain hal itu bisa saja dianggap sepele, namun terkecuali bagi Jae. Sekalipun Eun Jung memiliki dasar sifat yang dingin, setidaknya ia harus bisa menghormati atasannya. Itulah yang sejak tadi ada di kepala Jae Joong sehingga membuatnya berkali-kali tidak fokus pada kamera.

     “Semua hasilnya baik, hanya saja tidak seperti biasanya. Kenapa, Jae? Ada sesuatu yang mengganggumu?” Fotografer Lee mengakhiri sesi pemotretan hari ini. Kedua tangannya masih sibuk mengutak-atik tombol pada kameranya.

     Jae mengedik kemudian melirik pada Eun Jung sekilas, “Seseorang membuat mood-ku rusak.”

     “Memangnya apa yang terjadi?” tanya Fotografer Lee lagi.

     “Sesuatu terjadi dan rasanya aku ingin pulang sendiri setelah ini,” Jae meninggikan volume suaranya agar Eun Jung yang masih fokus pada agendanya dapat mendengarnya dengan jelas. “Bahkan Manager Park pun bisa bersikap lebih baik. Aku bersyukur masih memiliki manager pengertian sepertinya.”

     Kali ini Eun Jung mengangkat pandangannya, menatap ke arah Jae Joong. Ia kemudian menutup buku saku hitam itu dan memasukkannya ke dalam sakunya. Jemari lentik miliknya meraih sebuah kunci mobil di atas meja kemudian berjalan ke arah Jae Joong.

     “A-aku akan pulang sendiri!” Ucap Jae Joong begitu posisi Eun Jung sudah dekat.

     “Baiklah,” Eun Jung mengalihkan pandangannya ke arah Fotografer Lee kemudian memberi anggukan tanda salam sekilas. Setelah itu ia melenggang pergi meninggalkan Jae Joong menuju tempat parkir.

     Ya! Kau mau kemana?” Jae Joong menahan langkah Eun Jung. “Aku yang bawa mobil, kau yang jalan. Enak saja!” Jae meraih kunci mobilnya dari tangan Eun Jung kemudian meninggalkan Eun Jung di belakangnya.

**

     Jae mengendarakan mobilnya menuju tujuan yang jauh dari kata ‘rumah’. Tempat yang ingin ia kunjungi berlawanan arah dari arah kemana seharusnya mobilnya melaju. Hal ini masih belum lepas dari akting berpura-pura ngambeknya. Ia melakukan ini agar aktingnya tampak lebih ekstrim.

     Sejujurnya ia sudah tak marah lagi pada Eun Jung. Hanya saja, harga diri membuatnya mundur selangkah demi selangkah dari kebenaran yang seharusnya ia utarakan. Sedikitnya dalam hati kecilnya tentu merasa tidak enak pada Eun Jung yang selain harus menanggung hukuman jalan kaki, juga harus merasa bersalah terus menerus. Tapi, di bagian hati yang lebih besar Jae Joong mampu membayangkan se-imajinatif mungkin bahwa bisa jadi Eun Jung benar-benar cuek atas kesalahannya tersebut dan tidak akan memohon maaf padanya apapun yang terjadi.

     Memikirkan hal itu membuat kepalanya terasa makin penuh setelah mengingat jadwal malam ini yang akan padat dengan fan-meet di Gangnam. Ia jadi ragu antara kembali ke rumah atau menjalankan mobilnya ke tujuan semula, yakni pantai. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke rumah, tempat yang seharusnya menjadi peristirahatannya sampai menjelang fan-meet nanti malam.

     Sampai setengah jalan, ia merasa sesuatu mulai tidak beres pada mobilnya. Dengan malas ia keluar dari mobilnya dan memeriksa apa yang salah. Dalam waktu singkat ia mampu menemukan titik kesalahan itu. Hanya ada satu masalah, namun itu berhasil membuatnya cukup panik. Karena ini bukan masalah mesin atau apapun di dalamnya. Tapi, ini masalah ban yang bocor karena sebuah paku menancap kasar di sana.

     Baiklah, itu hanya masalah ban. Tapi, hey, tunggu dulu! Itu tidak akan masalah jika ia membawa ban ganti. Atau setidaknya ia berada di dekat bengket. Namun, malang nasib Jae. Saat ini ia berada di tengah jalan yang sama sekali jauh dari keramaian. Tidak ada bengkel, tidak ada pom bensin, dan tidak ada apapun yang dapat dijumpainya di sana selain mobilnya yang mogok, jalan raya, dan barisan pohon di kanan kiri jalan yang berbaris beraturan.

     Jae merogoh saku celananya dan menemukan ponsel flip hitam miliknya di sana. Lekas saja ia menghubungi orang yang mungkin saja bisa membantunya di saat seperti ini, Manager Park. Karena ia tak mungkin menghubungi Ham Eun Jung sekalipun gadis itu mampu membantunya di saat seperti ini.

     “Halo, Manager Park. Aku butuh bantuanmu sekarang juga,” ucap Jae begitu suara di seberang menjawab telepon darinya. “Ban mobilku bocor dan aku sekarang ada di jalan—”

     Suara Jae Joong terputus hampir bersamaan dengan jatuhnya ponsel flip miliknya ke aspal jalan. Sebelum hal itu terjadi, lebih dahulu Jae merasakan sesuatu membungkam hidung dan mulutnya. Aromanya benar-benar memuakkan dan itu berhasil membuat kesadarannya terenggut sempurna. Tubuhnya terkulai begitu saja dan tangan-tangan pemilik ide tak terpuji itu mulai menyeretnya masuk ke dalam hutan tak jauh dari bahu jalan.

**

     Eun Jung sudah tiba di rumah sejak dua setengah jam yang lalu dengan penawaran tumpangan Fotografer Lee. Semula semua terasa baik-baik saja sampai ia merasakan sesuatu yang janggal mungkin saja sudah terjadi. Dengan sepeda motor Fotografer Lee, mereka bisa mencapai rumah dari studio dalam waktu setengah jam. Sementara dengan mobil yang harus menggunakan arah memutar, setidaknya memerlukan waktu tak lebih dari empat puluh lima menit dengan kecepatan sedang. Tapi, nyatanya Jae Joong belum pulang. Eun Jung bahkan tak melihat adanya tanda-tanda kepulangan pria itu.

     Diam-diam Eun Jung mulai khawatir. Perasaannya jadi tidak enak begitu ia membuka lipatan ponselnya dan tidak ada panggilan masuk ataupun pesan dari Jae Joong yang mengabarkan kemana perginya. Eun Jung merasa mungkin ini masih berkaitan dengan kekesalan Jae Joong atas sikapnya tadi pagi. Tapi, biasanya Jae Joong tak akan marah lebih lama dari satu jam. Dan kali ini Eun Jung merasa sedikit tidak enak pada pria itu.

     Mungkin ia sudah menceritakan hal yang benar-benar banyak tadi pagi,” batinnya.

     Eun Jung mengirim sebuah pesan singkat pada Jae Joong untuk memastikan rasa khawatirnya itu tak beralasan.

     To : Kim Jae Joong

     Jangan lupa dengan jadwal malam ini.

     Pesan itu terkirim begitu saja. Dalam hati Eun Jung berharap Jae segera membalas pesan itu bagaimanapun jawabannya. Karena dengan satu balasan saja, mungkin rasa khawatirnya akan redam lebih cepat.

     10 menit, 20 menit, hingga satu setengah jam kemudian masih tak ada balasan pesan dari Jae Joong. Kali ini sudah ke dua puluh kalinya ia membuka lipatan ponselnya dan tak menjumpai satu pesan pun masuk. Ia kembali mengirim pesan.

     To : Kim Jae Joong

     Jadwal malam ini fan-meet di Gangnam.

     Pesan itu tak tampak harus memiliki balasan. Itu hanya semacam pernyataan, pengingat, tak ada pertanyaan. Jadi, untuk apa ada jawaban?

     Tapi, tetap saja Eun Jung ingin Jae Joong segera membalas pesannya. Sekalipun itu hanya pengingat. Karena biasanya Jae akan membalas setiap pesan yang masuk ke ponselnya. Dan itu segera, tidak pernah selama ini sebelumnya.

     Lima menit kemudian sebuah pesan masuk. Eun Jung lekas membukanya. Ia berharap itu dari Jae Joong dan itu memang darinya!

     From : Kim Jae Joong

     Aku tidak tahu tempat apa ini. Tapi, sepertinya mereka akan menjadikanku perkedel. Cepatlah datang, Jungie-ah!

     Eun Jung bangkit dari sofa, lekas keluar dari rumah. Ia tidak tahu kemana ia harus melangkah. Ke selatan, kah? Utara, kah? Timur atau kah Barat? Ia tidak tahu dimana Jae Joong saat ini. Namun, pria itu pasti tidak main-main kali ini. Sesuatu mungkin saja sudah terjadi padanya. Ia selalu menggunakan kata ‘menjadikanku perkedel’ sebagai tanda ‘membuatku dalam bahaya’. Karena Eun Jung sudah mendengar Jae mengucapkannya lebih dari jumlah hari dalam sebulan.

     Aku tidak tahu tempat apa ini. Tapi, sepertinya mereka akan menjadikanku perkedel. Cepatlah datang, Jungie-ah!

     Eun Jung berlari ke arah Timur. Jae Joong membawa mobilnya dan ia tidak memiliki uang untuk membayar taksi. Ia hanya mengandalkan tenaganya yang tersisa untuk mencari Jae Joong ke seluruh penjuru Korea Selatan. Setidaknya, ia memiliki fisik yang mampu bertahan menempuh empat puluh kilometer.

     Aku tidak tahu kemana aku harus mencarinya...”

     Eun Jung harus segera menemukan Jae Joong. Segera. Sebelum acara fan-meet dimulai malam ini. Karena ia disewa Jae Joong. Karena ia bodyguard-nya. Karena ia khawatir.








.to be continue . . .




Glosarium :

*Arasseo    : Mengerti
*Ya             : Hei
*Kimchi     : Makanan pedas khas Korea, bahan utamanya adalah cabe dan sawi putih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar