Title :
The Gentle Girl
Author :
dita-cHun © 2013
Length :
Multichapter
Chapter :
2
Subtitle :
Kekesalan Jae Joong
Rating :
PG [Parents Guidance]
Genre :
Romance, Action
Main Cast :
*Kim Jae Joong
*Ham Eun Jung
POV :
Author
Disclaimer :
Kim Jae Joong and Ham Eun Jung are belong to themselves. I’m own nothing but
plot. So, no bash, ok?
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya
Note :
Ok, happy reading dan jangan lupa komen, ya! Thank you!
“Jungie-ah,”
Jae memanggil Eun Jung. Namun, sang pemilik nama mengabaikan.
“Jungie-ah,”
suara baritone itu kembali memanggil
nama yang sama. Namun, tetap tak ada yang mempedulikannya sekalipun pemilik
nama itu berada tepat di sampingnya.
“Ya,
Ham Eun Jung! Ada masalah dengan telingamu, huh?” tingkat kesabaran Jae
menipis, mengubah panggilan manis itu menjadi bentakan. Gadis itu menengok.
Pandangannya tetap tajam seperti hari-hari sebelumnya. Dan kedua manik onyx miliknya mengarah tepat pada kedua
mata Jae Joong yang kini terpaku dengan freeze-sight
itu.
“Lagipula akan lebih sesuai jika aku
memanggilmu Jungie daripada Ham Eun Jung, kan? Bukankah itu terdengar lebih
akrab? Toh, sekarang aku majikanmu, jadi kau harus menuruti apa yang kukatakan.
Arasseo?” Jae mulai sok menceramahi.
“Aku tidak suka,” kali ini gadis itu angkat
bicara setelah sekian ribu sekon terdiam.
“Eh?”
“Cukup memanggilku Eun Jung saja,”
lanjutnya sembari bangkit dari duduknya semula.
“Ya!
Kau mau kemana?” tanya Jae Joong melihat Eun Jung siap angkat kaki dari ruang
tamu.
“Dua jam lagi ada pemotretan Sky Magazine. Aku akan memeriksa mobil,”
jawabnya kemudian melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.
“Ck, tidak bisa berbicara lebih banyak, ya?
Membuatku terkesan banyak bicara saja!”
**
“Jungie-ah,
kau mau mendengar ceritaku sebelum menjadi artis terkenal?” Jae Joong membuka
pembicaraan di antara mereka. Eun Jung hanya melirik sekilas kemudian kembali
fokus dengan kendali mobilnya. Jae menangkap itu sebagai jawaban ‘ya’ dan
kembali berbicara.
“Dulu, dua atau tiga tahun yang lalu aku
bekerja di restoran kimchi pinggir
jalan bersama bibiku. Setiap hari aku dan bibi harus bangun pagi-pagi sekali
untuk membuat kimchi untuk dijual.
Semua pelanggan mengaku kalau kimchi
buatan kami paling enak di antara restoran kimchi
di daerah sana. Tapi, kemudian bibiku meninggal dan aku tidak bisa membuat kimchi lagi. Aku merasa hanya bersama
bibi bisa menghasilkan kimchi yang
begitu enak. Sebenarnya aku juga bisa membuat kimchi sendiri. Tapi, setiap akan membuatnya aku akan teringat bibi
dan batal membuatnya. Kemudian aku menutup restoran itu dan mendaftarkan diri
ke dalam audisi menyanyi. Ternyata takdir memang membawaku ke dunia musik,
bukan dunia memasak. Aku masuk ke dalam management
dan jadi terkenal seperti ini,” Jae mengakhiri ceritanya. “Oh ya, bagaimana
menurutmu? Orang lain berkata bahwa ini cerita menyedihkan.”
“Maaf, aku tidak mendengarnya.”
Jae Joong terhenyak untuk sesaat kemudian
kembali angkat bicara. “Memangnya suaraku kurang jelas? Atau bahasaku sulit
dimengerti?’
“Aku mendengarkan musik sampai kau berkata
‘...terkenal seperti ini’.”
Jae Joong ternganga mendengar pernyataan
Eun Jung barusan. Ia tidak menyangka bahwa cerita menyedihkannya akan menjadi semakin
menyedihkan ketika ia menceritakannya pada Ham Eun Jung yang benar-benar cuek.
Ia menyesal menceritakan hal itu pada Eun Jung dan gagal menyentuh hati gadis
itu dengan ceritanya.
Setelah itu Jae Joong membungkam mulut
untuk waktu yang lama. Ia hendak menunjukkan rasa kesalnya pada gadis itu.
Sedikitnya, Eun Jung tentu paham dengan maksud Jae Joong. Namun, ia juga
memilih diam agar masalah itu tak dibesar-besarkan lebih dari perkiraannya.
Pemotretan sudah berjalan selama tiga jam tanpa
adanya komunikasi berarti antara Jae Joong dan Eun Jung. Jae berusaha
memperlihatkan bahwa ia bisa mengabaikan Eun Jung dan akan membuat gadis itu
memohon maaf atas kesalahannya padanya. Meskipun dalam pemikiran orang lain hal
itu bisa saja dianggap sepele, namun terkecuali bagi Jae. Sekalipun Eun Jung
memiliki dasar sifat yang dingin, setidaknya ia harus bisa menghormati
atasannya. Itulah yang sejak tadi ada di kepala Jae Joong sehingga membuatnya
berkali-kali tidak fokus pada kamera.
“Semua hasilnya baik, hanya saja tidak
seperti biasanya. Kenapa, Jae? Ada sesuatu yang mengganggumu?” Fotografer Lee
mengakhiri sesi pemotretan hari ini. Kedua tangannya masih sibuk mengutak-atik
tombol pada kameranya.
Jae mengedik kemudian melirik pada Eun Jung
sekilas, “Seseorang membuat mood-ku
rusak.”
“Memangnya apa yang terjadi?” tanya
Fotografer Lee lagi.
“Sesuatu terjadi dan rasanya aku ingin
pulang sendiri setelah ini,” Jae meninggikan volume suaranya agar Eun Jung yang
masih fokus pada agendanya dapat mendengarnya dengan jelas. “Bahkan Manager Park pun bisa bersikap lebih
baik. Aku bersyukur masih memiliki manager
pengertian sepertinya.”
Kali ini Eun Jung mengangkat pandangannya,
menatap ke arah Jae Joong. Ia kemudian menutup buku saku hitam itu dan
memasukkannya ke dalam sakunya. Jemari lentik miliknya meraih sebuah kunci
mobil di atas meja kemudian berjalan ke arah Jae Joong.
“A-aku akan pulang sendiri!” Ucap Jae Joong
begitu posisi Eun Jung sudah dekat.
“Baiklah,” Eun Jung mengalihkan pandangannya
ke arah Fotografer Lee kemudian memberi anggukan tanda salam sekilas. Setelah
itu ia melenggang pergi meninggalkan Jae Joong menuju tempat parkir.
“Ya!
Kau mau kemana?” Jae Joong menahan langkah Eun Jung. “Aku yang bawa mobil, kau
yang jalan. Enak saja!” Jae meraih kunci mobilnya dari tangan Eun Jung kemudian
meninggalkan Eun Jung di belakangnya.
**
Jae mengendarakan mobilnya menuju tujuan
yang jauh dari kata ‘rumah’. Tempat yang ingin ia kunjungi berlawanan arah dari
arah kemana seharusnya mobilnya melaju. Hal ini masih belum lepas dari akting
berpura-pura ngambeknya. Ia melakukan ini agar aktingnya tampak lebih ekstrim.
Sejujurnya ia sudah tak marah lagi pada Eun
Jung. Hanya saja, harga diri membuatnya mundur selangkah demi selangkah dari kebenaran
yang seharusnya ia utarakan. Sedikitnya dalam hati kecilnya tentu merasa tidak
enak pada Eun Jung yang selain harus menanggung hukuman jalan kaki, juga harus
merasa bersalah terus menerus. Tapi, di bagian hati yang lebih besar Jae Joong
mampu membayangkan se-imajinatif mungkin bahwa bisa jadi Eun Jung benar-benar
cuek atas kesalahannya tersebut dan tidak akan memohon maaf padanya apapun yang
terjadi.
Memikirkan hal itu membuat kepalanya terasa
makin penuh setelah mengingat jadwal malam ini yang akan padat dengan fan-meet di Gangnam. Ia jadi ragu antara
kembali ke rumah atau menjalankan mobilnya ke tujuan semula, yakni pantai. Pada
akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke rumah, tempat yang seharusnya menjadi
peristirahatannya sampai menjelang fan-meet
nanti malam.
Sampai setengah jalan, ia merasa sesuatu
mulai tidak beres pada mobilnya. Dengan malas ia keluar dari mobilnya dan
memeriksa apa yang salah. Dalam waktu singkat ia mampu menemukan titik
kesalahan itu. Hanya ada satu masalah, namun itu berhasil membuatnya cukup panik.
Karena ini bukan masalah mesin atau apapun di dalamnya. Tapi, ini masalah ban
yang bocor karena sebuah paku menancap kasar di sana.
Baiklah, itu hanya masalah ban. Tapi, hey,
tunggu dulu! Itu tidak akan masalah jika ia membawa ban ganti. Atau setidaknya
ia berada di dekat bengket. Namun, malang nasib Jae. Saat ini ia berada di
tengah jalan yang sama sekali jauh dari keramaian. Tidak ada bengkel, tidak ada
pom bensin, dan tidak ada apapun yang dapat dijumpainya di sana selain mobilnya
yang mogok, jalan raya, dan barisan pohon di kanan kiri jalan yang berbaris
beraturan.
Jae merogoh saku celananya dan menemukan
ponsel flip hitam miliknya di sana. Lekas saja ia menghubungi orang yang
mungkin saja bisa membantunya di saat seperti ini, Manager Park. Karena ia tak mungkin menghubungi Ham Eun Jung
sekalipun gadis itu mampu membantunya di saat seperti ini.
“Halo, Manager
Park. Aku butuh bantuanmu sekarang juga,” ucap Jae begitu suara di seberang
menjawab telepon darinya. “Ban mobilku bocor dan aku sekarang ada di jalan—”
Suara Jae Joong terputus hampir bersamaan
dengan jatuhnya ponsel flip miliknya ke aspal jalan. Sebelum hal itu terjadi,
lebih dahulu Jae merasakan sesuatu membungkam hidung dan mulutnya. Aromanya
benar-benar memuakkan dan itu berhasil membuat kesadarannya terenggut sempurna.
Tubuhnya terkulai begitu saja dan tangan-tangan pemilik ide tak terpuji itu
mulai menyeretnya masuk ke dalam hutan tak jauh dari bahu jalan.
**
Eun Jung sudah tiba di rumah sejak dua
setengah jam yang lalu dengan penawaran tumpangan Fotografer Lee. Semula semua
terasa baik-baik saja sampai ia merasakan sesuatu yang janggal mungkin saja
sudah terjadi. Dengan sepeda motor Fotografer Lee, mereka bisa mencapai rumah
dari studio dalam waktu setengah jam. Sementara dengan mobil yang harus
menggunakan arah memutar, setidaknya memerlukan waktu tak lebih dari empat
puluh lima menit dengan kecepatan sedang. Tapi, nyatanya Jae Joong belum
pulang. Eun Jung bahkan tak melihat adanya tanda-tanda kepulangan pria itu.
Diam-diam Eun Jung mulai khawatir.
Perasaannya jadi tidak enak begitu ia membuka lipatan ponselnya dan tidak ada
panggilan masuk ataupun pesan dari Jae Joong yang mengabarkan kemana perginya.
Eun Jung merasa mungkin ini masih berkaitan dengan kekesalan Jae Joong atas
sikapnya tadi pagi. Tapi, biasanya Jae Joong tak akan marah lebih lama dari
satu jam. Dan kali ini Eun Jung merasa sedikit tidak enak pada pria itu.
“Mungkin
ia sudah menceritakan hal yang benar-benar banyak tadi pagi,” batinnya.
Eun Jung mengirim sebuah pesan singkat pada
Jae Joong untuk memastikan rasa khawatirnya itu tak beralasan.
To : Kim
Jae Joong
Jangan
lupa dengan jadwal malam ini.
Pesan itu terkirim begitu saja. Dalam hati
Eun Jung berharap Jae segera membalas pesan itu bagaimanapun jawabannya. Karena
dengan satu balasan saja, mungkin rasa khawatirnya akan redam lebih cepat.
10 menit, 20 menit, hingga satu setengah
jam kemudian masih tak ada balasan pesan dari Jae Joong. Kali ini sudah ke dua
puluh kalinya ia membuka lipatan ponselnya dan tak menjumpai satu pesan pun
masuk. Ia kembali mengirim pesan.
To : Kim Jae Joong
Jadwal
malam ini fan-meet di Gangnam.
Pesan itu tak tampak harus memiliki
balasan. Itu hanya semacam pernyataan, pengingat, tak ada pertanyaan. Jadi,
untuk apa ada jawaban?
Tapi, tetap saja Eun Jung ingin Jae Joong
segera membalas pesannya. Sekalipun itu hanya pengingat. Karena biasanya Jae
akan membalas setiap pesan yang masuk ke ponselnya. Dan itu segera, tidak
pernah selama ini sebelumnya.
Lima menit kemudian sebuah pesan masuk. Eun
Jung lekas membukanya. Ia berharap itu dari Jae Joong dan itu memang darinya!
From : Kim Jae Joong
Aku tidak
tahu tempat apa ini. Tapi, sepertinya mereka akan menjadikanku perkedel. Cepatlah
datang, Jungie-ah!
Eun Jung bangkit dari sofa, lekas keluar
dari rumah. Ia tidak tahu kemana ia harus melangkah. Ke selatan, kah? Utara,
kah? Timur atau kah Barat? Ia tidak tahu dimana Jae Joong saat ini. Namun, pria
itu pasti tidak main-main kali ini. Sesuatu mungkin saja sudah terjadi padanya.
Ia selalu menggunakan kata ‘menjadikanku perkedel’ sebagai tanda ‘membuatku
dalam bahaya’. Karena Eun Jung sudah mendengar Jae mengucapkannya lebih dari
jumlah hari dalam sebulan.
Aku tidak tahu tempat apa ini. Tapi,
sepertinya mereka akan menjadikanku perkedel. Cepatlah datang, Jungie-ah!
Eun Jung berlari
ke arah Timur. Jae Joong membawa mobilnya dan ia tidak memiliki uang untuk
membayar taksi. Ia hanya mengandalkan tenaganya yang tersisa untuk mencari Jae
Joong ke seluruh penjuru Korea Selatan. Setidaknya, ia memiliki fisik yang
mampu bertahan menempuh empat puluh kilometer.
“Aku tidak tahu kemana aku harus
mencarinya...”
Eun Jung harus segera menemukan Jae Joong.
Segera. Sebelum acara fan-meet
dimulai malam ini. Karena ia disewa Jae Joong. Karena ia bodyguard-nya. Karena ia khawatir.
.to be continue
. . .
Glosarium :
*Arasseo : Mengerti
*Ya : Hei
*Kimchi : Makanan pedas khas Korea, bahan utamanya
adalah cabe dan sawi putih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar