Title : Hari yang
Bermakna
Author : Dita Chun © 2011
Type : Oneshoot
Genre : School Life, Slice
of Life
Rating : G
Matahari
masih belum berada di puncak. Tak seperti biasanya, pagi-pagi sekali aku
berangkat menuju ke sekolah. Tempatku berlari dari segala pekerjaan rumah yang
menantiku. Juga tempat yang cukup mengerikan di saat-saat begini. Kulongokkan
kepalaku ke dalam ruang kelas. Sunyi dan gelap. Tak ada siapapun di dalam sana.
Aku yang sedikit pengecut ini tak berani masuk ke dalam sana. Kududukkan
tubuhku di atas sebuah kursi biru panjang di depan kelas sambil menenggerkan
tasku di samping tempatku duduk. Aku menoleh kesana-kemari bagaikan orang
hilang yang tak tahu arah. Tak ada siapapun disekitarku. Suasana sunyi yang
menghujam ini bagaikan waktu yang terdistorsi dan berhenti begitu saja. Seolah
sedetik pun begitu lama.
“Hmh…,” aku menghela nafas
lega begitu kulihat seorang temanku bersama pacarnya berjalan ke arahku. Kami
memang sekelas. Setelah mereka memasuki kelas dan menyalakan lampu, aku melangkahkan
kaki masuk ke dalam. Kuletakkan tas kecoklatan milikku ke atas bangku dan
kusandarkan tubuhku di atasnya. Kubaca perlahan buku yang telah kubaca. Jadwal
hari ini adalah Bahasa Inggris. Meski aku seolah acuh tak acuh atas sikap
mereka, tapi sebenarnya aku mendengar pembicaraan mereka meski mereka berbicara
sangat pelan dan mesra. Aku muak! Kubanting buku itu seolah sangat frustasi
dikejar waktu dan pelajaran. Padahal aku sedang muak dengan tingkah mereka yang
sudah berlalu beberapa waktu. Dengan pembicaraan mereka seperti itu, aku tak
bisa konsentrasi pada buku yang sedang kubaca. Aku pun memutuskan keluar tanpa
melihat ekspresi mereka berdua. Ketika aku menelisik setiap tulisan dalam buku
catatanku, sesuatu kembali menggangguku. Tapi, kali ini aku tersenyum.
“Pagi,” sapanya. Aku
mengangguk sambil menyunggingkan sebuah senyum. Ia duduk disampingku dan mulai
berbicara.
“Bagaimana
kira-kira nanti?” tanyanya. Aku hanya mengangkat bahu.
“Ayo,
masuk. Ada kau jadi tak masalah,”
ucapku sembari masuk kembali ke dalam kelas. Tanpa bertanya, ia mengikutiku
berjalan masuk ke kelas. Aku duduk di sampingnya. Kami pun mengobrol santai
menghilangkan penatku pada materi ujian hari ini. Dalam hati aku berdo’a,
“Semoga keberuntungan selalu menyertaiku”.
Teet!!
Teet!! Bel pertanda masuk telah berbunyi, aku segera kembali ke bangkuku
semula. Dengan segera, kumasukkan buku catatanku ke dalam tas dan mengeluarkan papan
ujian serta alat tulis. Setelah itu kuletakkan tasku di depan kelas diikuti
teman-temanku.
“Hari
ini Pak Kemal!” seru Reno sambil berlari masuk ke kelas.
“Kau
yakin?” tanya Mia, ketua kelas di kelas kami.
“Aku
melihatnya sendiri di ruang guru,”
jawab Reno. Ia segera masuk ke bangkunya dan menyelipkan beberapa lembar kertas
berisi penuh tulisan. Diikuti beberapa temanku yang lain, mereka menyelipkan
buku-buku mereka serta jaket mereka untuk menutupinya. Ada juga yang
menyelipkan ponsel mereka dengan men-silent-nya. Aku hanya bisa
menggeleng-geleng kepala melihat itu.
“Selamat
pagi anak-anak,”
sapa Pak Kemal sembari memasuki ruang kelas kami. Tanpa banyak bicara kami
segera berdo’a dan Pak Kemal membagikan seluruh lembar jawaban beserta lembar
soalnya. Kujepitkan lembar jawaban milikku pada papan ujianku dan segera
membaca soal-soal meski dengan hati yang bergemuruh sejak tadi. Kukerjakan soal
tersebut semampuku. Tak ada aura ketegangan dalam diriku karena aku sama sekali
tak menganggap ujian itu adalah sesuatu yang mengerikan. Sebenarnya, aku sangat
senang dengan ujian. Ini sangat berguna untuk mengukur sampai dimana batas
kemampuanku selama ini. Maka dari itu, aku tak mau mencontek ketika ujian.
Hanya saja… Sesuatu membuatku kecewa. Ketika aku menengok ke kanan dan ke
kiriku. Mereka membaca catatan-catatan itu ketika ujian berlangsung, lalu
menulis jawabannya pada lembar jawaban. Tak jarang beberapa dari mereka saling
melempar kertas atau menggunakan SMS untuk mencari contekan. Aku nyaris menangis
saat posisiku begini…
“Risa,
jangan membuat ulah,”
tegur Pak Kemal sembari terus membaca korannya. Tak ada tindakan apapun dari
Pak Kemal. Hanya teguran-teguran tak bermutu yang ia lontarkan pada
mereka-mereka yang mencontek, sehingga tak ada gubrisan dari mereka sama sekali
dan menjadikan mereka semakin kalap dengan tindakan yang sudah mewabah ini.
“Dita..! Dita..!” aku mendengar
seseorang memanggilku pelan. Aku tak sanggup menengokkan kepalaku, takut akan
dosa yang terlupakan ini. Meski sangat kecil, tetap saja ini buruk. Akhirnya
aku pura-pura tak mendengarnya berbicara. Aku menengok jam tanganku, dalam hati
berucap, “Berapa lama lagi aku akan menunggu?”
Seperti
biasa, dua puluh menit sebelum bel pulang aku sudah menyelesaikan soal-soal
tersebut. Walaupun entah itu benar atau salah, yang pasti aku menjawabnya
dengan apa yang telah tertanam di otakku. Tiba-tiba lima menit sebelum bel
pulang, Pak Kemal meninggalkan kelas dengan begitu santai. Kini aku yang dari
semula telah gugup makin merasa kalut.
“Bagaimana
jika mereka menghampiriku dan meminta jawaban itu padaku?! Aku harus
bagaimana?” teriakku dalam hati. Kurasakan nyeri di kepalaku. Kutekan kuat
kepalaku dan akhirnya bel pulang membuatku amat lega. Pak Kemal kembali ke
kelas dengan wajah tak bersalah. Aku segera mengumpulkan jawabanku sebelum
mereka merenggutnya. Kukemasi barang-barangku dan segera beranjak pulang. Pak
Kemal bergegas meninggalkan kelas, begitu juga siswa-siswi lainnya yang tampak
depresi dengan pekerjaan mereka. Aku tersenyum. Seorang temanku Linda
menghampiriku.
“Kau
jahat sekali tak mau menoleh padaku,”
ucapnya.
“Eh,
memangnya kau tadi memanggilku?” tanyaku pura-pura tak tahu.
“Iya!
Sekarang aku sangat bingung, bagaimana dengan nilaiku?!” serunya depresi.
“Aih,
menurutku nilai adalah sampingan. Yang penting sampai dimana batas kemampuan
kita telah teruji,”
ucapku sambil menepuk pundaknya pelan berusaha menyemangatinya.
“Kau
bisa bilang begitu karena kau jamin nilaimu baik, kan?” Ia mendongakkan
kepalanya padaku. Tubuhnya yang kecil membuatku menundukkan kepala jika
berbicara dengannya.
“Tidak
juga. Beberapa soal aku tak mengerti, tapi ya sudahlah. Perjalananku kan masih
panjang. Terserah apa kata orang saat nilaiku ada di bawah. Yang pasti suatu
saat aku ingin menunjukkan pada dunia. Aku ini adalah orang yang benar-benar
berguna! Aku bukanlah suatu kepura-puraan. Kemampuanku adalah milikku dan itu
harus kutunjukkan suatu saat nanti!” seruku sambil menggiring tubuhnya berjalan
di koridor.
++++Author POV++++
9
tahun kemudian~ Gadis yang percaya diri dengan jawabannya di setiap ujian itu
kini berdiri di antara seniman-seniman ternama. Ia benar-benar menunjukkan
dirinya yang sesungguhnya yang bukan kepalsuan. Semangat dan kerja kerasnya
mengantarkannya sampai ia ada di sana. Karyanya melejit ke seluruh penjuru
dunia Internasional. Sekarang… Tak ada yang tak mengenal seorang seniman muda
dengan bakat multitalenta itu.
Dita~
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar