Kamis, 01 Agustus 2013

Hari yang Bermakna



Title                : Hari yang Bermakna

Author           : Dita Chun © 2011

Type               : Oneshoot

Genre             : School Life, Slice of Life

Rating            : G



   Matahari masih belum berada di puncak. Tak seperti biasanya, pagi-pagi sekali aku berangkat menuju ke sekolah. Tempatku berlari dari segala pekerjaan rumah yang menantiku. Juga tempat yang cukup mengerikan di saat-saat begini. Kulongokkan kepalaku ke dalam ruang kelas. Sunyi dan gelap. Tak ada siapapun di dalam sana. Aku yang sedikit pengecut ini tak berani masuk ke dalam sana. Kududukkan tubuhku di atas sebuah kursi biru panjang di depan kelas sambil menenggerkan tasku di samping tempatku duduk. Aku menoleh kesana-kemari bagaikan orang hilang yang tak tahu arah. Tak ada siapapun disekitarku. Suasana sunyi yang menghujam ini bagaikan waktu yang terdistorsi dan berhenti begitu saja. Seolah sedetik pun begitu lama.

   “Hmh…,” aku menghela nafas lega begitu kulihat seorang temanku bersama pacarnya berjalan ke arahku. Kami memang sekelas. Setelah mereka memasuki kelas dan menyalakan lampu, aku melangkahkan kaki masuk ke dalam. Kuletakkan tas kecoklatan milikku ke atas bangku dan kusandarkan tubuhku di atasnya. Kubaca perlahan buku yang telah kubaca. Jadwal hari ini adalah Bahasa Inggris. Meski aku seolah acuh tak acuh atas sikap mereka, tapi sebenarnya aku mendengar pembicaraan mereka meski mereka berbicara sangat pelan dan mesra. Aku muak! Kubanting buku itu seolah sangat frustasi dikejar waktu dan pelajaran. Padahal aku sedang muak dengan tingkah mereka yang sudah berlalu beberapa waktu. Dengan pembicaraan mereka seperti itu, aku tak bisa konsentrasi pada buku yang sedang kubaca. Aku pun memutuskan keluar tanpa melihat ekspresi mereka berdua. Ketika aku menelisik setiap tulisan dalam buku catatanku, sesuatu kembali menggangguku. Tapi, kali ini aku tersenyum.

   “Pagi,” sapanya. Aku mengangguk sambil menyunggingkan sebuah senyum. Ia duduk disampingku dan mulai berbicara.

   “Bagaimana kira-kira nanti?” tanyanya. Aku hanya mengangkat bahu.

   “Ayo, masuk. Ada kau jadi tak masalah,” ucapku sembari masuk kembali ke dalam kelas. Tanpa bertanya, ia mengikutiku berjalan masuk ke kelas. Aku duduk di sampingnya. Kami pun mengobrol santai menghilangkan penatku pada materi ujian hari ini. Dalam hati aku berdo’a, “Semoga keberuntungan selalu menyertaiku”.

   Teet!! Teet!! Bel pertanda masuk telah berbunyi, aku segera kembali ke bangkuku semula. Dengan segera, kumasukkan buku catatanku ke dalam tas dan mengeluarkan papan ujian serta alat tulis. Setelah itu kuletakkan tasku di depan kelas diikuti teman-temanku.

   “Hari ini Pak Kemal!” seru Reno sambil berlari masuk ke kelas.

   “Kau yakin?” tanya Mia, ketua kelas di kelas kami.

   “Aku melihatnya sendiri di ruang guru,” jawab Reno. Ia segera masuk ke bangkunya dan menyelipkan beberapa lembar kertas berisi penuh tulisan. Diikuti beberapa temanku yang lain, mereka menyelipkan buku-buku mereka serta jaket mereka untuk menutupinya. Ada juga yang menyelipkan ponsel mereka dengan men-silent-nya. Aku hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat itu.

   “Selamat pagi anak-anak,” sapa Pak Kemal sembari memasuki ruang kelas kami. Tanpa banyak bicara kami segera berdo’a dan Pak Kemal membagikan seluruh lembar jawaban beserta lembar soalnya. Kujepitkan lembar jawaban milikku pada papan ujianku dan segera membaca soal-soal meski dengan hati yang bergemuruh sejak tadi. Kukerjakan soal tersebut semampuku. Tak ada aura ketegangan dalam diriku karena aku sama sekali tak menganggap ujian itu adalah sesuatu yang mengerikan. Sebenarnya, aku sangat senang dengan ujian. Ini sangat berguna untuk mengukur sampai dimana batas kemampuanku selama ini. Maka dari itu, aku tak mau mencontek ketika ujian. Hanya saja… Sesuatu membuatku kecewa. Ketika aku menengok ke kanan dan ke kiriku. Mereka membaca catatan-catatan itu ketika ujian berlangsung, lalu menulis jawabannya pada lembar jawaban. Tak jarang beberapa dari mereka saling melempar kertas atau menggunakan SMS untuk mencari contekan. Aku nyaris menangis saat posisiku begini…

   “Risa, jangan membuat ulah,” tegur Pak Kemal sembari terus membaca korannya. Tak ada tindakan apapun dari Pak Kemal. Hanya teguran-teguran tak bermutu yang ia lontarkan pada mereka-mereka yang mencontek, sehingga tak ada gubrisan dari mereka sama sekali dan menjadikan mereka semakin kalap dengan tindakan yang sudah mewabah ini.

   “Dita..! Dita..!” aku mendengar seseorang memanggilku pelan. Aku tak sanggup menengokkan kepalaku, takut akan dosa yang terlupakan ini. Meski sangat kecil, tetap saja ini buruk. Akhirnya aku pura-pura tak mendengarnya berbicara. Aku menengok jam tanganku, dalam hati berucap, “Berapa lama lagi aku akan menunggu?”

   Seperti biasa, dua puluh menit sebelum bel pulang aku sudah menyelesaikan soal-soal tersebut. Walaupun entah itu benar atau salah, yang pasti aku menjawabnya dengan apa yang telah tertanam di otakku. Tiba-tiba lima menit sebelum bel pulang, Pak Kemal meninggalkan kelas dengan begitu santai. Kini aku yang dari semula telah gugup makin merasa kalut.

   “Bagaimana jika mereka menghampiriku dan meminta jawaban itu padaku?! Aku harus bagaimana?” teriakku dalam hati. Kurasakan nyeri di kepalaku. Kutekan kuat kepalaku dan akhirnya bel pulang membuatku amat lega. Pak Kemal kembali ke kelas dengan wajah tak bersalah. Aku segera mengumpulkan jawabanku sebelum mereka merenggutnya. Kukemasi barang-barangku dan segera beranjak pulang. Pak Kemal bergegas meninggalkan kelas, begitu juga siswa-siswi lainnya yang tampak depresi dengan pekerjaan mereka. Aku tersenyum. Seorang temanku Linda menghampiriku.

   “Kau jahat sekali tak mau menoleh padaku,” ucapnya.

   “Eh, memangnya kau tadi memanggilku?” tanyaku pura-pura tak tahu.

   “Iya! Sekarang aku sangat bingung, bagaimana dengan nilaiku?!” serunya depresi.

   “Aih, menurutku nilai adalah sampingan. Yang penting sampai dimana batas kemampuan kita telah teruji,” ucapku sambil menepuk pundaknya pelan berusaha menyemangatinya.

   “Kau bisa bilang begitu karena kau jamin nilaimu baik, kan?” Ia mendongakkan kepalanya padaku. Tubuhnya yang kecil membuatku menundukkan kepala jika berbicara dengannya.

   “Tidak juga. Beberapa soal aku tak mengerti, tapi ya sudahlah. Perjalananku kan masih panjang. Terserah apa kata orang saat nilaiku ada di bawah. Yang pasti suatu saat aku ingin menunjukkan pada dunia. Aku ini adalah orang yang benar-benar berguna! Aku bukanlah suatu kepura-puraan. Kemampuanku adalah milikku dan itu harus kutunjukkan suatu saat nanti!” seruku sambil menggiring tubuhnya berjalan di koridor.

++++Author POV++++

   9 tahun kemudian~ Gadis yang percaya diri dengan jawabannya di setiap ujian itu kini berdiri di antara seniman-seniman ternama. Ia benar-benar menunjukkan dirinya yang sesungguhnya yang bukan kepalsuan. Semangat dan kerja kerasnya mengantarkannya sampai ia ada di sana. Karyanya melejit ke seluruh penjuru dunia Internasional. Sekarang… Tak ada yang tak mengenal seorang seniman muda dengan bakat multitalenta itu.
Dita~



The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar