Selasa, 30 Juli 2013

The Gentle Girl - Pesan Tak Sampai [Chapter VI]



Title            : The Gentle Girl

Author       : dita-cHun © 2013

Length       : Multichapter

Chapter      : 6

Subtitle       : Pesan Tak Sampai

Rating        : PG [Parents Guidance]

Genre         : Romance, Action

Main Cast  :

*Kim Jae Joong

*Ham Eun Jung

POV           : Author

Disclaimer : Kim Jae Joong and Ham Eun Jung are belong to themselves. I’m own nothing but plot. So, no bash, ok?

Warning     : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya

Note           : Ok, happy reading! Jangan lupa komen yah!






     Matahari bersinar begitu cerah pagi ini. Tanpa perlu menonton acara ramalan cuaca pun semua orang tentu tahu bahwa musim panas ini suhu akan naik lebih tinggi dari musim panas tahun sebelumnya. Acara berita tak lebih dari sekedar tontonan sampingan setelah serial musim panas serta iklan berbagai macam produk sunblock dan minuman dingin yang menjadi trendseter beberapa minggu terakhir.

     Toko-toko yang menjual alat elektronik pendingin mulai ramai belakangan. Pantai-pantai dan tempat wisata lain juga menjadi sasaran empuk kunjungan siswa-siswi yang tengah menikmati liburan musim panas yang baru saja dimulai. Matahari begitu terik, tapi sama sekali tak mengurungkan niat banyak wisatawan berkunjung di tempat-tempat terbuka seperti ini. Ah, tentu saja karena jauh lebih banyak hal menarik daripada hal buruk yang biasa mereka jumpai di sekolah, seperti tugas misalnya.

     Pip!

     Ponsel merah maroon beraksen klasik itu berdering dan bergetar sebentar. Posisinya berputar sekian derajat hanya karena getaran tak berarti barusan. Di balik layar LCD ponsel tersebut sang pemilik mampu menerka siapa gerangan yang baru saja mengganggu aktivitasnya untuk beberapa detik lamanya. Sebuah pesan masuk dan ia lekas membacanya tanpa mau menghabiskan banyak waktu untuk melalaikan pekerjaan. Sebentar ia membalas pesan itu kemudian melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda karena ponsel itu.

     “Selamat pagi, ada yang bisa kubantu?” Senyumnya menyungging simpul. Tampak begitu manis. Tapi, sayang sekali, hanya tuntutan pekerjaan yang menjadi latar belakang kedua sudut bibir itu tertarik.

**

     Suhu di udara menurut laporan cuaca pagi ini hampir mencapai tiga puluh empat derajat celicius. Belum apa-apa koran pagi ini sudah meletakkan berita cukup menggemparkan pada halaman muka. Musim panas kali ini cukup banyak merenggut korban dibanding tahun-tahun sebelumnya. Beberapa minggu lalu, minggu lalu, kemudian hari ini. Padahal ini baru awal musim panas. Tidak heran, sih. Suhu yang tinggi dengan pekerjaan yang keras, siapapun bisa mati karena itu.

     Pip!

     Ponsel seseorang berbunyi. Ya, salah satu dari kedua ponsel di atas meja makan nomor dua puluh lima baru saja berdering dan bergetar singkat. Sementara kedua pemilik ponsel buru-buru mengambil ponselnya masing-masing. Mungkin saja itu miliknya.

     0 Message

     Pria berlabel Kim Jae Joong yang baru saja merenggut ponselnya dari atas meja mengernyit. Tak ada satu pesan pun masuk sampai pagi ini. Sejauh ini ia masih menunggu pesan balasan dari Ham Eun Jung sejak pesan terakhirnya tadi pagi. Namun, tak ada tanda-tanda pesan itu berbalas sejak pesan pertama sampai pesan terakhirnya.

     Jae tidak menyerah. Jari-jarinya menari di atas keypad ponsel flipnya. Ia mengirimkan satu pesan lagi pada nomor yang sama.

     To : Ham Eun Jung

     Menu sarapan pagi ini sandwich, susu, dan es krim strawberry. Kau tahu kenapa ada es krim? Karena hari ini suhu di tempat ini mencapai tiga puluh empat derajat celcius. Bagaimana dengan di sana?

     Jae menekan tombol kirim dan pesan itu melesat menuju nomor yang tertera.

     Manager Park meletakkan kembali ponselnya setelah membaca satu pesan yang baru saja masuk tanpa membalasnya. Jae mengernyit bingung. Tidak biasanya Manager Park mengabaikan pesan masuk. Biasanya ia akan membalasnya meski satu atau dua kata. Dan kali ini Manager Park benar-benar menggeletakkan ponselnya dengan pesan masuk tak berbalas tanpa berat hati.

     “Ada apa?” Jae membuka pembicaraan.

     “Apanya yang ada apa? Harusnya aku yang bertanya begitu,” Manager Park menjawab sekenanya sembari menyuap sesendok es krim vanila favoritnya.

     “Memangnya barusan itu pesan dari siapa? Kenapa tidak dibalas?” tanya Jae.

     “Oh, itu. Memang tidak perlu dibalas, jadi tidak kubalas.” Tampaknya suhu cukup tinggi di Negeri Sakura ini sudah membuat isi kepala Manager Park menjadi tidak beres. Seperti apa yang barusan menjadi kalimat jawabannya atas pertanyaan Jae Joong pagi ini.

     “Belum genap dua malam kita di Jepang, kau jadi agak aneh. Kepalamu terbentur, ya?” Jae menyuap sesendok es krim di hadapannya.

     “Sepertinya begitu. Lagipula aku merasa harus ganti nomor secepatnya,” ucap Manager Park tidak jelas.

     “Memangnya kenapa?” Tanya Jae bingung.

     “Ada yang menerorku,” jawab Manager Park. “...Sepertinya seorang fans.” Manager Park melanjutkan dengan volume berbisik.

     “Aku tidak percaya kau punya fans!” tuding Jae.

     Adu mulut tak beguna pun tidak bisa dihindarkan dari kedua manusia tersebut di atas.

**

     “Haaaahh~ Capeknyaaa...!” gadis berseragam hijau putih itu merebahkan tubuh mungilnya ke salah satu kursi di bawah pohon kelapa. Aktivitasnya itu menyita perhatian gadis lain yang berperawakan lebih tinggi di sampingnya. “Ne, Jungie-chan, kau kuat sekali, ya! Padahal udara sedang panas-panasnya, kau malah masih bisa berlari kesana-kemari.”

     Gadis yang disebut Jungie-chan itu hanya tersenyum simpul menanggapi ocehan gadis bermarga Shida itu. Ia mengambil posisi di samping gadis itu dan meletakkan topinya ke atas meja. Dalam hati ia menebak-nebak bahwa gadis di sampingnya itu akan mengoceh lebih panjang lagi dari sebelumnya.

     Ne,” kelihatannya hipotesis Ham Eun Jung tidak meleset. “...Kenapa kau kerja di sini? Apakah di Korea tidak menyenangkan?”

     Eun Jung menoleh, “Tidak juga.”

     “Lalu? Kau sedang melarikan diri dari sesuatu?” Tanya Shida Mirai mencoba menebak-nebak.

     Eun Jung diam sejenak sebelum kembali menjawab, “Mungkin.”

     Mirai menenggak seperempat minuman buah yang ada di hadapannya. “Pekerjaan apa yang pernah kau lakukan sebelumnya? Maksudku di Korea,” tanya Mirai lagi.

     “Emm, sama saja seperti sekarang. Aku hanya seorang pelayan,” jawab Eun Jung.

     Demo... Aku tidak pernah melihat pelayan yang memiliki stamina luar biasa sepertimu. Kupikir kau pernah menjadi kuli batu, kuli bangunan, atau pekerja berat lainnya. Lihat saja otot tanganmu! Itu sudah kelihatan,” Mirai menepukkan punggung tangan kirinya ke salah satu lengan Eun Jung. “Rasanya kita harus lebih dekat lagi supaya kau bisa terbuka, Jungie-chan...” Gadis itu mengukir segaris senyum penuh arti.

     “Aku akan memikirkannya,” Eun Jung bangkit dari posisinya semula. Disambarnya topi di atas meja dan lekas mengenakannya kembali.

     “Eh? Memikirkan apa?”

     “Memberitahumu atau tidak,” ucap Eun Jung sembari berlalu dari hadapan Mirai.

     “Ckckck, semakin aku mengenalnya, dia kelihatan semakin misterius...” Mirai menenggak kembali minumannya sebelum ia kembali melanjutkan pekerjaannya bersama Eun Jung.

     Pip!

     Mirai menoleh ke arah suara itu berasal. Ia melihat sebuah ponsel merah maroon tergeletak tepat di samping kakinya. Ia kenal betul bahwa itu ponsel milik Eun Jung. Diambilnya ponsel itu dan lekas menghampiri Eun Jung yang masih sibuk melayani pelanggan.

     Ne, Jungie-chan kurasa kau menjatuhkan ponselmu,” Mirai mengangsurkan ponsel itu pada Eun Jung. “...Dan kelihatannya ada satu pesan masuk.”

     “Oh, arigatou, Mirai-chan...” Eun Jung lekas membaca pesan itu.

     From : Jung Yun Ho

     Pria itu terus mengirim pesan ke nomor lamamu. Kau tidak memberitahunya bahwa ganti nomor? Kuharap kau segera mengabarinya tentang nomor barumu. Kalau tidak dia akan membuatku sibuk meneruskan pesan ini padamu.

“Malam ini aku syuting di pantai dekat hotel tempatku menginap sekarang. Lusa aku baru akan pulang.”

     ‘Aneh,’ Eun Jung mengernyit. ‘Aku sudah membalasnya beberapa kali. Apa pesan itu tidak sampai?’

     Eun Jung lekas menutup lipatan ponselnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

**

     “Jae,” Manager Park tampak datang terburu-buru ke dalam kamar Jae. Di tangannya sebuah kertas satu bendel tampak bertengger rapi. “Aku bawakan perubahan naskahnya. Konsepnya seperti ini,” Manager Park mengangsurkan bendelan itu pada Jae Joong yang masih bersiap.

     Ne. Apa berubah begitu banyak?” Tanya Jae.

     “Lumayan. Dan sutradara tiba-tiba memasukkan kissing scene di dalamnya,” jawab Manager Park enteng. Jae Joong membuka bendelan di genggamannya. “Kis-kissing scene?”

     Manager Park mengangguk membenarkan.

     “Oh,” Jae mengangguk sekilas. “Tapi, apakah akan baik-baik saja jika aku tidak berpengalaman?”

     “Eh? Kau? Tidak berpengalaman? Kau tidak pernah berciuman sebelumnya? Dengan pacarmu atau mantan pacarmu?” Manager Park mengajukan seabrek pertanyaan senada pada Jae. Jae hanya menjawabnya dengan gelengan polos.

     Omo!” Manager Park mengangkat dagu Jae dan menolehkannya ke kanan dan kiri. “Wajah seperti ini mana mungkin tidak berpengalaman!”

     Ya! Kau pikir menyenangkan membicarakannya, huh?” Jae mundur satu petak dari posisinya semula.

     “Lalu?”

     “Apanya yang lalu?” Tanya Jae tidak mengerti.

     “Apa kita perlu berlatih?”

     Jae menatap Manager Park dengan pandangan tidak percaya dan jijik sekaligus. “Sampai mati pun aku tidak akan berlatih denganmu!”

     Ya!”

**

     Malam ini udara terasa agak panas. Meski begitu Jae bersyukur bahwa kostum yang ia kenakan cukup tipis dan agak terbuka. Selain itu angin laut membantu mendinginkan udara musim panas malam ini.

     Lima belas menit lagi syuting akan dimulai. Jae sudah selesai bersiap dan ia sedang menunggu lawan mainnya dalam iklan ini—Maeda Atsuko—selesai berias. Sejak pertama kali bertemu dengan gadis Jepang itu Jae merasa posisinya cukup nyaman. Gadis itu sangat enak diajak komunikasi karena memang kemampuan Bahasa Inggrisnya cukup fasih. Karena itu Jae tidak perlu bolak-balik minta tolong Manager Park dan kamus sakunya untuk membantu menerjemahkan Bahasa Jepang selain empat puluh persen kosakata yang baru dihapalnya.

     Dari kejauhan Jae mampu melihat gadis bermarga Maeda itu tengah melambai padanya. Ia lekas menghampiri gadis itu dan memutuskan untuk menyapanya sebentar. Untuk syuting di pantai pada malam hari seperti ini pencahayaan yang dibutuhkan cukup banyak dari biasanya. Tentu saja, karena di pantai ini sangat minim penerangan.

     “Atsuko-san,” Jae menyapa Arsuko yang masih asyik merapikan yukatanya. Gadis itu tersenyum begitu melihat sosok yang baru saja menyapanya.

     “Apa kau tidak merasa kepanasan memakai pakaian itu?” Tanya Jae sambil memperhatikan yukata yang dikenakan Atsuko.

     Gadis itu menggeleng, “Aku sudah biasa memakainya.”

     “Oh ya, biasanya aku melihat gadis yang memakai yukata itu memiliki rambut panjang dan kemudian mereka mengikatnya seperti ini,” Jae mencoba memperagakan apa yang pernah di tontonnya di televisi. “Tapi, kau tidak menyambung rambutmu, meskipun dengan rambut pendek kau juga tetap terlihat cantik, sih...”

     Atsuko tertawa kecil melihat tingkah pria di hadapannya barusan, “Sayang sekali ya rambutku tidak bisa diikat seperti itu...”

     Jae tertawa mendengar sindiran Atsuko. “Gomen, gomen.”

     Sejenak pembicaraan terputus. Baik Jae maupun Atsuko, mereka sedang mengamati pemandangan sekitar. Malam ini sutradara tidak terlalu rakus mengambil posisi. Beberapa pengunjung dibiarkan berkeliaran di sekitar lokasi syuting.

     Ne, Atsuko-san. Malam ini banyak yang memakai yukata, ya?” Celetuk Jae.

     Un. Karena sekarang musim panas, jadi sering ada festival-festival dan untuk datang ke festival itu biasanya kami memakai pakaian tradisional.” Terang Atsuko pada Jae.

     Jae mengangguk paham. “Kudengar akan ada festival kembang api dalam waktu dekat. Benarkah?”

     Atsuko mengangguk membenarkan, “Lusa. Kau mau datang bersamaku?”

     “Kau akan datang?” Tanya Jae antusias.

     Un,” Atsuko mengangguk.

     “Baiklah, aku pasti datang, Atsuko-san!”

     “Kalian berdua siap?” seorang kru tiba-tiba menghampiri mereka berdua. Sejenak Atsuko dan Jae saling berpandangan. Kemudian secara hampir bersamaan mereka mengangguk mantap.

     “Baiklah, pertama kau berjalan di sekitar sana.” Kru tersebut menunjuk suatu tempat pada Jae. “Kemudian kau melihatnya, tersenyum, kemudian berlari ke arahnya. Karena nanti posisi Atsuko-san akan membelakangimu, jadi kau harus menarik lengannya kemudian menciumnya. Setelah itu kalian saling berpelukan. Mengerti?”

     Jae dan Atsuko mengangguk paham.

     “Baik, silahkan siap-siap di posisi kalian masing-masing.”

     Jae dan Atsuko lekas berpisah sampai di sana. Jae stand by tepat di posisinya. Sesekali ia memainkan ombak yang sesekali menyapu kakinya. Terasa dingin di kaki Jae.

     “Ok, stand by!” teriak sutradara Hiroshi dari kejauhan. “Camera roll and action!”

     Jae lekas berjalan di sekeliling pantai. Kemudian sesuai naskah ia lekas menoleh ke arah posisi Atsuko. Di sana ia melihat gadis berambut pendek itu berdiri membelakanginya. Jae segera berlari ke arahnya dan lekas menciumnya sesuai apa yang sudah di jelaskan sebelumnya.

     Cup!

     Sesuatu yang mengejutkan terjadi. Sutradara Hiroshi bangkit dari kursi menyaksikan adegan tak terduga tersebut. Seluruh kru menatap ke arah Jae dan gadis di luar naskah yang tiba-tiba muncul dalam lokasi syuting tersebut. Kelihatannya, Jae salah mencium orang.

     “Eeehhhh?! Jungie-chan?!”

     Jae membuka matanya dan melemparkan pandangan terkejut pada gadis yang saat ini masih diciumnya, Ham Eun Jung.








.The Gentle Girl




.to be continue~




Glosarium :

*Natsu matsuri            : festival musim panas
*Ne                             : Ya/Baik [Korea]
*Ne                             : Hei [Jepang]
*Gomen                      : Maaf [Jepang]
*Arigatou                    : Terima Kasih [Jepang]
*Omo                          : Astaga [Korea]
*Ya                              : Hei [Korea]
*Yukata                       : Pakaian tradisional Jepang yang biasa di pakai oleh gadis-gadis saat festival atau acara tertentu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar