Title :
The Gentle Girl
Author :
dita-cHun © 2013
Length :
Multichapter
Chapter :
6
Subtitle :
Pesan Tak Sampai
Rating :
PG [Parents Guidance]
Genre :
Romance, Action
Main Cast :
*Kim Jae Joong
*Ham Eun Jung
POV :
Author
Disclaimer :
Kim Jae Joong and Ham Eun Jung are belong to themselves. I’m own nothing but
plot. So, no bash, ok?
Warning :
~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya
Note : Ok, happy reading! Jangan lupa
komen yah!
Matahari bersinar begitu cerah pagi ini.
Tanpa perlu menonton acara ramalan cuaca pun semua orang tentu tahu bahwa musim
panas ini suhu akan naik lebih tinggi dari musim panas tahun sebelumnya. Acara
berita tak lebih dari sekedar tontonan sampingan setelah serial musim panas
serta iklan berbagai macam produk sunblock
dan minuman dingin yang menjadi trendseter
beberapa minggu terakhir.
Toko-toko yang menjual alat elektronik
pendingin mulai ramai belakangan. Pantai-pantai dan tempat wisata lain juga
menjadi sasaran empuk kunjungan siswa-siswi yang tengah menikmati liburan musim
panas yang baru saja dimulai. Matahari begitu terik, tapi sama sekali tak
mengurungkan niat banyak wisatawan berkunjung di tempat-tempat terbuka seperti
ini. Ah, tentu saja karena jauh lebih banyak hal menarik daripada hal buruk
yang biasa mereka jumpai di sekolah, seperti tugas misalnya.
Pip!
Ponsel merah maroon beraksen klasik itu berdering dan bergetar sebentar.
Posisinya berputar sekian derajat hanya karena getaran tak berarti barusan. Di
balik layar LCD ponsel tersebut sang pemilik mampu menerka siapa gerangan yang
baru saja mengganggu aktivitasnya untuk beberapa detik lamanya. Sebuah pesan
masuk dan ia lekas membacanya tanpa mau menghabiskan banyak waktu untuk
melalaikan pekerjaan. Sebentar ia membalas pesan itu kemudian melanjutkan
aktivitasnya yang sempat tertunda karena ponsel itu.
“Selamat pagi, ada yang bisa kubantu?” Senyumnya
menyungging simpul. Tampak begitu manis. Tapi, sayang sekali, hanya tuntutan
pekerjaan yang menjadi latar belakang kedua sudut bibir itu tertarik.
**
Suhu di udara menurut laporan cuaca pagi
ini hampir mencapai tiga puluh empat derajat celicius. Belum apa-apa koran pagi
ini sudah meletakkan berita cukup menggemparkan pada halaman muka. Musim panas
kali ini cukup banyak merenggut korban dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Beberapa minggu lalu, minggu lalu, kemudian hari ini. Padahal ini baru awal
musim panas. Tidak heran, sih. Suhu yang tinggi dengan pekerjaan yang keras,
siapapun bisa mati karena itu.
Pip!
Ponsel seseorang berbunyi. Ya, salah satu
dari kedua ponsel di atas meja makan nomor dua puluh lima baru saja berdering
dan bergetar singkat. Sementara kedua pemilik ponsel buru-buru mengambil
ponselnya masing-masing. Mungkin saja itu miliknya.
0 Message
Pria berlabel Kim Jae Joong yang baru saja
merenggut ponselnya dari atas meja mengernyit. Tak ada satu pesan pun masuk
sampai pagi ini. Sejauh ini ia masih menunggu pesan balasan dari Ham Eun Jung
sejak pesan terakhirnya tadi pagi. Namun, tak ada tanda-tanda pesan itu
berbalas sejak pesan pertama sampai pesan terakhirnya.
Jae tidak menyerah. Jari-jarinya menari di
atas keypad ponsel flipnya. Ia
mengirimkan satu pesan lagi pada nomor yang sama.
To : Ham Eun Jung
Menu sarapan pagi ini sandwich, susu, dan
es krim strawberry. Kau tahu kenapa ada es krim? Karena hari ini suhu di tempat
ini mencapai tiga puluh empat derajat celcius. Bagaimana dengan di sana?
Jae menekan tombol kirim dan pesan itu
melesat menuju nomor yang tertera.
Manager
Park meletakkan kembali ponselnya setelah membaca satu pesan yang baru saja
masuk tanpa membalasnya. Jae mengernyit bingung. Tidak biasanya Manager Park mengabaikan pesan masuk. Biasanya
ia akan membalasnya meski satu atau dua kata. Dan kali ini Manager Park benar-benar menggeletakkan ponselnya dengan pesan
masuk tak berbalas tanpa berat hati.
“Ada apa?” Jae membuka pembicaraan.
“Apanya yang ada apa? Harusnya aku yang
bertanya begitu,” Manager Park
menjawab sekenanya sembari menyuap sesendok es krim vanila favoritnya.
“Memangnya barusan itu pesan dari siapa?
Kenapa tidak dibalas?” tanya Jae.
“Oh, itu. Memang tidak perlu dibalas, jadi
tidak kubalas.” Tampaknya suhu cukup tinggi di Negeri Sakura ini sudah membuat
isi kepala Manager Park menjadi tidak
beres. Seperti apa yang barusan menjadi kalimat jawabannya atas pertanyaan Jae
Joong pagi ini.
“Belum genap dua malam kita di Jepang, kau
jadi agak aneh. Kepalamu terbentur, ya?” Jae menyuap sesendok es krim di
hadapannya.
“Sepertinya begitu. Lagipula aku merasa
harus ganti nomor secepatnya,” ucap Manager
Park tidak jelas.
“Memangnya kenapa?” Tanya Jae bingung.
“Ada yang menerorku,” jawab Manager Park. “...Sepertinya seorang fans.” Manager Park melanjutkan dengan volume berbisik.
“Aku tidak percaya kau punya fans!” tuding Jae.
Adu mulut tak beguna pun tidak bisa
dihindarkan dari kedua manusia tersebut di atas.
**
“Haaaahh~ Capeknyaaa...!” gadis berseragam
hijau putih itu merebahkan tubuh mungilnya ke salah satu kursi di bawah pohon
kelapa. Aktivitasnya itu menyita perhatian gadis lain yang berperawakan lebih
tinggi di sampingnya. “Ne, Jungie-chan, kau kuat sekali, ya! Padahal
udara sedang panas-panasnya, kau malah masih bisa berlari kesana-kemari.”
Gadis yang disebut Jungie-chan itu hanya tersenyum simpul
menanggapi ocehan gadis bermarga Shida itu. Ia mengambil posisi di samping
gadis itu dan meletakkan topinya ke atas meja. Dalam hati ia menebak-nebak
bahwa gadis di sampingnya itu akan mengoceh lebih panjang lagi dari sebelumnya.
“Ne,”
kelihatannya hipotesis Ham Eun Jung tidak meleset. “...Kenapa kau kerja di
sini? Apakah di Korea tidak menyenangkan?”
Eun Jung menoleh, “Tidak juga.”
“Lalu? Kau sedang melarikan diri dari
sesuatu?” Tanya Shida Mirai mencoba menebak-nebak.
Eun Jung diam sejenak sebelum kembali
menjawab, “Mungkin.”
Mirai menenggak seperempat minuman buah
yang ada di hadapannya. “Pekerjaan apa yang pernah kau lakukan sebelumnya?
Maksudku di Korea,” tanya Mirai lagi.
“Emm, sama saja seperti sekarang. Aku hanya
seorang pelayan,” jawab Eun Jung.
“Demo...
Aku tidak pernah melihat pelayan yang memiliki stamina luar biasa sepertimu.
Kupikir kau pernah menjadi kuli batu, kuli bangunan, atau pekerja berat
lainnya. Lihat saja otot tanganmu! Itu sudah kelihatan,” Mirai menepukkan
punggung tangan kirinya ke salah satu lengan Eun Jung. “Rasanya kita harus
lebih dekat lagi supaya kau bisa terbuka, Jungie-chan...” Gadis itu mengukir segaris senyum penuh arti.
“Aku akan memikirkannya,” Eun Jung bangkit
dari posisinya semula. Disambarnya topi di atas meja dan lekas mengenakannya
kembali.
“Eh? Memikirkan apa?”
“Memberitahumu atau tidak,” ucap Eun Jung
sembari berlalu dari hadapan Mirai.
“Ckckck, semakin aku mengenalnya, dia
kelihatan semakin misterius...” Mirai menenggak kembali minumannya sebelum ia
kembali melanjutkan pekerjaannya bersama Eun Jung.
Pip!
Mirai menoleh ke arah suara itu berasal. Ia
melihat sebuah ponsel merah maroon
tergeletak tepat di samping kakinya. Ia kenal betul bahwa itu ponsel milik Eun
Jung. Diambilnya ponsel itu dan lekas menghampiri Eun Jung yang masih sibuk
melayani pelanggan.
“Ne,
Jungie-chan kurasa kau menjatuhkan
ponselmu,” Mirai mengangsurkan ponsel itu pada Eun Jung. “...Dan kelihatannya
ada satu pesan masuk.”
“Oh, arigatou,
Mirai-chan...” Eun Jung lekas membaca
pesan itu.
From : Jung Yun Ho
Pria itu terus mengirim pesan ke nomor
lamamu. Kau tidak memberitahunya bahwa ganti nomor? Kuharap kau segera
mengabarinya tentang nomor barumu. Kalau tidak dia akan membuatku sibuk
meneruskan pesan ini padamu.
“Malam
ini aku syuting di pantai dekat hotel tempatku menginap sekarang. Lusa aku baru
akan pulang.”
‘Aneh,’
Eun Jung mengernyit. ‘Aku sudah
membalasnya beberapa kali. Apa pesan itu tidak sampai?’
Eun Jung lekas menutup lipatan ponselnya
dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
**
“Jae,” Manager
Park tampak datang terburu-buru ke dalam kamar Jae. Di tangannya sebuah kertas
satu bendel tampak bertengger rapi. “Aku bawakan perubahan naskahnya. Konsepnya
seperti ini,” Manager Park
mengangsurkan bendelan itu pada Jae Joong yang masih bersiap.
“Ne.
Apa berubah begitu banyak?” Tanya Jae.
“Lumayan. Dan sutradara tiba-tiba
memasukkan kissing scene di dalamnya,”
jawab Manager Park enteng. Jae Joong
membuka bendelan di genggamannya. “Kis-kissing scene?”
Manager
Park mengangguk membenarkan.
“Oh,” Jae mengangguk sekilas. “Tapi, apakah
akan baik-baik saja jika aku tidak berpengalaman?”
“Eh? Kau? Tidak berpengalaman? Kau tidak
pernah berciuman sebelumnya? Dengan pacarmu atau mantan pacarmu?” Manager Park mengajukan seabrek
pertanyaan senada pada Jae. Jae hanya menjawabnya dengan gelengan polos.
“Omo!”
Manager Park mengangkat dagu Jae dan menolehkannya ke kanan dan kiri. “Wajah
seperti ini mana mungkin tidak berpengalaman!”
“Ya!
Kau pikir menyenangkan membicarakannya, huh?” Jae mundur satu petak dari
posisinya semula.
“Lalu?”
“Apanya yang lalu?” Tanya Jae tidak
mengerti.
“Apa kita perlu berlatih?”
Jae menatap Manager Park dengan pandangan tidak percaya dan jijik sekaligus.
“Sampai mati pun aku tidak akan berlatih denganmu!”
“Ya!”
**
Malam ini udara terasa agak panas. Meski
begitu Jae bersyukur bahwa kostum yang ia kenakan cukup tipis dan agak terbuka.
Selain itu angin laut membantu mendinginkan udara musim panas malam ini.
Lima belas menit lagi syuting akan dimulai.
Jae sudah selesai bersiap dan ia sedang menunggu lawan mainnya dalam iklan
ini—Maeda Atsuko—selesai berias. Sejak pertama kali bertemu dengan gadis Jepang
itu Jae merasa posisinya cukup nyaman. Gadis itu sangat enak diajak komunikasi
karena memang kemampuan Bahasa Inggrisnya cukup fasih. Karena itu Jae tidak
perlu bolak-balik minta tolong Manager
Park dan kamus sakunya untuk membantu menerjemahkan Bahasa Jepang selain empat
puluh persen kosakata yang baru dihapalnya.
Dari kejauhan Jae mampu melihat gadis
bermarga Maeda itu tengah melambai padanya. Ia lekas menghampiri gadis itu dan
memutuskan untuk menyapanya sebentar. Untuk syuting di pantai pada malam hari
seperti ini pencahayaan yang dibutuhkan cukup banyak dari biasanya. Tentu saja,
karena di pantai ini sangat minim penerangan.
“Atsuko-san,”
Jae menyapa Arsuko yang masih asyik merapikan yukatanya. Gadis itu tersenyum begitu melihat sosok yang baru saja
menyapanya.
“Apa kau tidak merasa kepanasan memakai
pakaian itu?” Tanya Jae sambil memperhatikan yukata yang dikenakan Atsuko.
Gadis itu menggeleng, “Aku sudah biasa
memakainya.”
“Oh ya, biasanya aku melihat gadis yang memakai
yukata itu memiliki rambut panjang
dan kemudian mereka mengikatnya seperti ini,” Jae mencoba memperagakan apa yang
pernah di tontonnya di televisi. “Tapi, kau tidak menyambung rambutmu, meskipun
dengan rambut pendek kau juga tetap terlihat cantik, sih...”
Atsuko tertawa kecil melihat tingkah pria
di hadapannya barusan, “Sayang sekali ya rambutku tidak bisa diikat seperti
itu...”
Jae tertawa mendengar sindiran Atsuko. “Gomen, gomen.”
Sejenak pembicaraan terputus. Baik Jae
maupun Atsuko, mereka sedang mengamati pemandangan sekitar. Malam ini sutradara
tidak terlalu rakus mengambil posisi. Beberapa pengunjung dibiarkan berkeliaran
di sekitar lokasi syuting.
“Ne,
Atsuko-san. Malam ini banyak yang
memakai yukata, ya?” Celetuk Jae.
“Un.
Karena sekarang musim panas, jadi sering ada festival-festival dan untuk datang
ke festival itu biasanya kami memakai pakaian tradisional.” Terang Atsuko pada
Jae.
Jae mengangguk paham. “Kudengar akan ada
festival kembang api dalam waktu dekat. Benarkah?”
Atsuko mengangguk membenarkan, “Lusa. Kau
mau datang bersamaku?”
“Kau akan datang?” Tanya Jae antusias.
“Un,”
Atsuko mengangguk.
“Baiklah, aku pasti datang, Atsuko-san!”
“Kalian berdua siap?” seorang kru tiba-tiba
menghampiri mereka berdua. Sejenak Atsuko dan Jae saling berpandangan. Kemudian
secara hampir bersamaan mereka mengangguk mantap.
“Baiklah, pertama kau berjalan di sekitar
sana.” Kru tersebut menunjuk suatu tempat pada Jae. “Kemudian kau melihatnya,
tersenyum, kemudian berlari ke arahnya. Karena nanti posisi Atsuko-san akan membelakangimu, jadi kau harus
menarik lengannya kemudian menciumnya. Setelah itu kalian saling berpelukan.
Mengerti?”
Jae dan Atsuko mengangguk paham.
“Baik, silahkan siap-siap di posisi kalian
masing-masing.”
Jae dan Atsuko lekas berpisah sampai di
sana. Jae stand by tepat di
posisinya. Sesekali ia memainkan ombak yang sesekali menyapu kakinya. Terasa
dingin di kaki Jae.
“Ok, stand
by!” teriak sutradara Hiroshi dari kejauhan. “Camera roll and action!”
Jae lekas berjalan di sekeliling pantai.
Kemudian sesuai naskah ia lekas menoleh ke arah posisi Atsuko. Di sana ia
melihat gadis berambut pendek itu berdiri membelakanginya. Jae segera berlari
ke arahnya dan lekas menciumnya sesuai apa yang sudah di jelaskan sebelumnya.
Cup!
Sesuatu yang mengejutkan terjadi. Sutradara
Hiroshi bangkit dari kursi menyaksikan adegan tak terduga tersebut. Seluruh kru
menatap ke arah Jae dan gadis di luar naskah yang tiba-tiba muncul dalam lokasi
syuting tersebut. Kelihatannya, Jae salah mencium orang.
“Eeehhhh?! Jungie-chan?!”
Jae membuka matanya dan
melemparkan pandangan terkejut pada gadis yang saat ini masih diciumnya, Ham
Eun Jung.
.The
Gentle Girl
.to
be continue~
Glosarium :
*Natsu
matsuri : festival musim panas
*Ne : Ya/Baik [Korea]
*Ne : Hei [Jepang]
*Gomen : Maaf [Jepang]
*Arigatou : Terima Kasih [Jepang]
*Omo : Astaga [Korea]
*Ya : Hei [Korea]
*Yukata : Pakaian tradisional
Jepang yang biasa di pakai oleh gadis-gadis saat festival atau acara tertentu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar