Title : Daisuki ~I Love You~
Author : dita-cHun
Type : Multichapter
Part : 1 of 7
Genre : Romance
Rating : PG+12
Music : Hikari by Elisa
Cast :
#Shida Mirai
#Yamada Ryosuke
#Ohgo Suzuka
#Chinen Yuuri
POV : Yamada Ryosuke
Disclaimer : all cast milik Tuhan! Suer! xD
Warning : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya
.
.
“Daisuki… (aku cinta kamu)”
Mirai menatapku sejenak. Aku yang terlalu terkejut tak sempat mengucapkan apapun sampai akhirnya Mirai berlalu dari hadapanku.
“Ehh?!” kini aku benar-benar telah sadar akan ucapan Mirai barusan.
“Daisuki… (aku cinta kamu)” kalimat Mirai kembali terngiang di telingaku. Aku berbalik, berharap menemukan Mirai. Namun, itu hanya sia-sia. Bayangan Mirai pun sudah menghilang sejak tadi.
.
.
Kenangan itu sudah berlalu kurang lebih lima tahun. Meski begitu, aku masih sangat-sangat ingat apa yang diucapkan Mirai hari itu. Kalimat terakhir yang diucapkan Mirai sebelum akhirnya meninggalkan Osaka. Akupun masih mengingat segala hal tentang Mirai. Suaranya yang lembut bagai gemercik air di sungai. Rambutnya yang cepak sebahu selalu melambai-lambai tertiup angin. Sepatu kat dan celana pendek juga selalu menjadi cirri khasnya. Aku ingat semuanya… Semuanya…
“Ryo-chan, hari ini kau sibuk tidak?” seorang temanku, Ohgo Suzuka, tiba-tiba menghampiriku. Seperti biasanya, ia selalu tersenyum di akhir kalimat tanya yang diucapkannya. Itu membuatku tak pernah tega untuk menolak permintaannya.
“Iie… (tidak)” jawabku.
“Mau temani aku belanja, kan?”
“Hai’ (ya)”
“Seorang cowok yang kukenal berjalan ke arah kami. Chinen Yuuri.
“Kau temani aku nonton di mall malam ini, ok?” ucapnya pada Suzuka.
“Aku sibuk!” jawab Suzuka ketus.
“Apa semua ini karena Ryosuke lagi?!” nada bicara Chinen naik satu oktaf.
“Aku tidak suka nonton dengan laki-laki kasar sepertimu!” ucap Suzuka.
“Chinen, sudahlah!” aku angkat bicara.
Chinen mengalihkan pandangannya padaku. Ia menatapku tajam sambil berjalan ke arahku. Tatapannya berhasil membekukanku seketika.
“Kau!” ia menunjuk padaku.
“Andai kau tidak pernah ada, semuanya akan jauh lebih baik!” ucap Chinen ketus. Rasanya ia sudah merajam hatiku dengan kalimatnya. Aku hanya diam tak berkutik.
“Kali ini kau menang. Tapi, aku janji akan memberimu seribu kali lebih sakit. Tunggu saja!” ucapnya sejenak sebelum ia pergi dari hadapan kami.
“Ryo-chan, jangan pedulikan dia! Dia hanya asal bicara! Ayo,” ajak Suzuka sambil menarik tanganku.
******
“Okaa-san, Okaa-san!” aku begitu panik melihat Okaa-san pingsan di dapur. Aku menepuk pelan pipinya. Kemudian kugendong Okaa-san menuju kamarnya. Aku segera mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya di sekitar hidung Okaa-san.
“Mmmh…”
“Okaa-san, daijobou desu ka? (Ibu, kau baik-baik saja?)” tanyaku memastikan.
“Daijobou…” jawab Okaa-san pelan.
“Aku akan bawakan teh hangat,” ucapku bergegas ke dapur.
.
PRANG!
.
“Chinen, apa yang kau lakukan?” aku begitu terkejut melihat Chinen memecahkan gelas berisi teh untuk Okaa-san.
“Buat lagi apa begitu susah?” ucapnya dingin.
“Tapi, teh itu untuk Okaa-san! Mana boleh kau lakukan itu?!” ucapku.
“Kamawanai… (aku tidak peduli)” jawabnya ringan lalu pergi begitu saja.
******
“Ehh??!”
“Mitsu, kau dengar dari mana?” tanya Suzuka pada Mitsu yang ada di sampingnya.
“Aku mendengarnya dari pembicaraan Pak Kepala Sekolah dengan Tsuki sensei!” jawab Mitsu.
“Aissh, kalau ada murid baru dari Tokyo, kita pasti akan terlihat kampungan sekali,” ucap Suzuka. Tanpa sadar sejak tadi aku menguping pembicaraan Suzuka dan teman-temannya.
“Ryo-chan, apa pendapatmu tentang siswa baru itu?” Suzuka menghampiriku dan duduk di sampingku.
“Bagus juga. Bukankah kita bisa banyak belajar darinya?” jawabku diselingi senyuman tipis. Aku menoleh ke arah Chinen yang ada di samping bangkuku. Ia tampak memandang kami dengan tatapan muak. Aku hanya diam lalu mengalihkan pandanganku keluar jendela.
“Ryo-chan, menurutmu siswa baru itu akan seperti apa?” tanya Suzuka lagi.
“Entahlah… Kita, kan, belum melihatnya.” Ucapku.
“Ah, benar…” ia mengangguk sambil menggaruk kecil kepala belakangnya.
.
DING
DONG
DING
DONG
.
Ohaeyou gozaimasu! (selamat pagi)” Tsuki sensei nampak memasuki kelas dengan peralatan mengajar lengkap seperti biasanya.
“Ryo-chan, aku tegang sekali melihat siswa baru itu…” bisik Suzuka. Aku hanya tersenyum simpul membalasnya.
“Hari ini kelas kita kedatangan siswa baru dari Tokyo. Shida-sama…” ucap Tsuki sensei seperti memanggil seseorang. Seorang gadis berperawakan mungil dengan rambut sebahu masuk ke kelas.
ASTAGA! Itu… Mirai…!
“Perkenalkan dirimu…”
“Ano… Shida Mira desu. Aku siswi pindahan dari Tokyo. Yoroshiku onegaishimasu (nice to meet you)” Mirai nampak membungkukkan badannya nyaris 90 derajat.
“Mirai-chan…” bisikku sambil melambaikan tangan kecil padanya. Ia menoleh dan tersenyum sekilas. Ya… dia tersenyum. Itu artinya dia masih mengingatku. Mirai-chan, kau kembali!
.
“Daisuki…”
.
Apa dia ingat itu juga? Aku tahu sudah lima tahun berlalu… Mungkin juga dia lupa. Mendengar suaranya yang baru rasanya sedikit asing. Bunyi gemercik air itu sekarang sudah tidak seperti yang dulu. Suaranya makin teratur dan sedikit berat. Meski begitu… Tak akan sama sekali merubah satu hal, “aku cinta dia”.
******
Bel istirahat akhirnya berbunyi. Aku sudah tak sabar ingin mendengar celoteh Mirai tentang Tokyo. Aku juga ingin melihat seberapa besar perubahan pada dirinya saat ini. Shida Mirai…
“Mirai-chan!” tegurku. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik padaku. Sejurus kemudian tersenyum manis padaku. Senyum yang sama seperti lima tahun lalu, tak banyak berubah dari wajahnya.
“Dare? (siapa?)” tanyanya. Pertanyaan itu bagai meruntuhkan tiap tulang rusukku. Bagaimana mungkin dia mengatakan itu? Sementara ia sudah tersenyum padaku. Ini mustahil!
.TO BE CONTINUED++++++++>>>>>
.Comment please…^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar