Senin, 16 April 2012

Daisuki ~ I Love You~ [Part II]


Title    : Daisuki ~I Love You~

Author   : dita-cHun

Type     : Multichapter

Part     : 2 of 7

Genre    : Romance

Rating   : PG+12

Music    : Hikari by Elisa

Cast     :

#Shida Mirai

#Yamada Ryosuke

#Ohgo Suzuka

#Chinen Yuuri

POV      : Yamada Ryosuke

Disclaimer    : all cast milik Tuhan! Suer! xD

Warning  : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya






“Dare? (siapa?)” tanyanya. Pertanyaan itu bagai meruntuhkan tiap tulang rusukku. Bagaimana mungkin dia mengatakan itu? Sementara ia sudah tersenyum padaku. Ini mustahil!

“Ah, mungkin aku sudah banyak berubah. Mungkin dia tidak mengenaliku,” pikirku.

“Aku Ryo-chan. Kau ingat, kan? Terakhir kali kita bertemu sekitar lima atau enam tahun yang lalu,” ucapku.

“Ryo-chan? Lima tahun lalu? Dare? (siapa?) Aku sama sekali tidak ingat… Gomen ne… (maaf)” ucapnya dengan wajah menyesal, ia tetap menatapku dengan puppy eyes-nya. Padahal ia masih nampak sama, selalu menatapku saat berbicara, apapun itu.

“Mirai-chan!” tiba-tiba Chinen menghampiri Mirai.

“Chii-kun! Aku merindukanmu!” ucap Mirai dengan nada begitu bahagia begitu melihat Chinen.
Aneh… Mana mungkin Mirai tidak mengenaliku sama sekali, tetapi dia malah tampak begitu akrab pada Chinen.

“Aku sangat terkejut kau masuk ke sekolah ini,” ucap Chinen.

“Oh ya, Chii-kun, kau mengenalnya? Dia temanmu, kah?” tanya Mirai sambil menunjuk-nunjuk padaku.

“Dia?” Chinen tampak memandangku muak.

“Dia orang yang sering kuceritakan padamu, Yamada Ryosuke,” lanjutnya.

“Apa? Dia Yamada Ryosuke?” tanya Mirai meyakinkan. Sementara Chinen hanya mengangguk malas.

“Kau ingat aku, Mirai-chan?” tanyaku. Tiba-tiba pandangan Mirai berubah. Ia mengernyitkan dahi sejenak lalu menggandeng tangan Chinen dan berlalu begitu saja.

“Mirai-chan… Dia menggandeng tangan Chinen… Mana boleh begitu?” batinku.

“Daisuki… Apa itu ‘daisuki’ lima tahun yang lalu? Kau lupa semuanya…?” ucapku kecewa.

“Ryo-chan, kau kenapa?” tanya Sizuka  yang entah sejak kapan ia berada di sampingku.

“Nani? (ada apa?)” aku menoleh.

“Daijobou desu ka? (kau baik-baik saja?)” tanyanya.

“Hm,” aku mengangguk.

“Syukurlah… Kau tampak sedikit aneh hari ini,” ucapnya.

“Benarkah?”

“Entahlah… Eh, ini jus strawberry kesukaanmu!” ia menyodorkan sekaleng jus strawberry padaku.

“Ryo-chan, kau tahu?” ia memulai pembicaraan begitu kami berjalan di tangga.

“Hm?”

“Saat kau bilang kau suka strawberry, meski aku tidak suka makanan masam, aku jadi menyukainya. Saat kau bilang bahwa perempuan pun boleh bermain sepak bola, aku jadi merasa kagum. Kau bisa mengatakan hal begitu seperti tiada jarak antara perempuan dan laki-laki. Saat kau tersenyum, aku ikut bahagia… Aneh, bukan?” ucapnya. Aku menyeruput sedikit jusku lalu mulai berbicara.

“Dulu… ketika aku masih kecil… Sembilan atau sepuluh tahunan, aku punya seorang sahabat…”

“Laki-laki atau perempuan?” potongnya.

“Perempuan. Namanya…” aku kembali teringat pada Mirai pagi ini.

“Namanya… Namanya, siapa?” desaknya.

“Ah, itu tidak penting. Yang pasti dia mengajariku banyak hal. Bahkan dia tak pernah mau disebut kawaii (cute) atau cantik dan semacamnya… Padahal dia perempuan,” aku jadi tertawa sendiri mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat Mirai bermain sepak bola bersama kami semua anak laki-laki. Ia justru tidak mirip seperti perempuan, seperti anak laki-laki jauh lebih mirip. Itu yang terkadang membuatku yang bergantung padanya.

“Oh ya, seperti apa dia sekarang?” tanya Suzuka.

“Sekarang? Sekarang dia makin cantik dan anggun. Wajahnya masih sama, tapi ada beberapa hal yang berbeda darinya… Entah apa yang terjadi belakangan padanya…” ucapku.

“Eh? Kenapa kau bicara begitu? Apa dia pernah pergi sebelumnya?” Suzuka berhenti berjalan.

“Lima tahun lalu dia meninggalkan Osaka…” jawabku.

“Ah? Gomen ne… (maaf)” ucapnya menyesal. Ia tak menatapku sama sekali setelah itu.

“Tidak apa. Ayo ke kantin, aku lapar!” seruku mengajaknya ke kantin.
Entah apa yang telah terjadi pada Mirai sampai ia melupakan segalanya. Sebenarnya bukan hal itu yang paling merisaukanku. Tapi… Bagaimana bisa Chinen mengenalnya? Sementara saat kami bersahabat, Okaa-san belum menikah dengan Otoo-san.

******

“Chinen, ada yang ingin kubicarakan,” ucapku usai Chinen membuka pintu kamarnya.

“Tak ada yang perlu dibicarakan,” ia hendak menutup pintu kamarnya, tapi aku mencegahnya.

“Kubilang kita harus bicara!” bentakku.

******

“Nani? (ada apa?)” tanyanya penuh emosi. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Sudah dua menit yang lalu aku diam dan dia duduk di sofa.

“Ini semua tentang Shida Mirai,” ucapku akhirnya.

“Mirai-chan?”

“Ya. Sejak kapan kau mengenalnya?” tanyaku.

“Kenapa kau begitu tertarik membahasnya?” tanyanya balik.

“Jawab dulu pertanyaanku,” ucapku.

“Empat tahun lalu di Tokyo,” ucapnya.

“Apa kau begitu menyukainya?” lanjutnya.

“Lima tahun lalu dia ada di Osaka, sebelum Otoo-san dan Okaa-san menikah. Dia sahabatku. Maka dari itu, aku heran kenapa dia bisa melupakanku dan Osaka. Sementara dia malah mengenalmu dengan baik,” ucapku.

“Kau terlalu naif mempercayai sahabat sejati,” Chinen tersenyum kecut meremehkan.

“Mirai-chan yang sekarang bukan lagi Mirai-chan yang dulu. Mirai-chan yang sekarang hanya mengenalku dan masa ini. Dia tak akan pernah  mengenalmu dan dunia masa lalumu,” Chinen berdiri dari duduknya.

“Apa maksudmu?”

“Mirai-chan pernah amnesia… Ryo-chan, Yamada Ryosuke, atau apalah… Sudah mati baginya. Jaa! (bye)” ucap Chinen tersenyum penuh kemenangan.

“Mirai-chan… amnesia?” batinku.

“Chinen…” aku menengadahkan kepalaku berharap menemukan Chinen. Namun, Chinen sudah pergi, entah kemana.

“Ryo-chan, kau bertengkar lagi dengan Chinen?”  tanya Okaa-san.

“Iie… Daijobou, Okaa-san… (Tidak… Tidak apa, Ibu)” jawabku sambil mengembangkan senyum.

“Ada yang ingin kau katakan?”

“Ah? Ano… Apa Okaa-san masih ingat pada Mirai-chan? Shida Mirai?” tanyaku.

“Shida Mirai? Bukankah dia teman kecilmu?”

“Hm. Dia sudah kembali ke Osaka,” ucapku.

“Benarkah? Kau pasti bahagia, kan?” ucap Okaa-san. Aku hanya tersenyum simpul.

******

“Mirai desu. Shida Mirai,”

“Ryosuke desu. Yamada Ryosuke.”

________________________________

“Ryo-chan, kalau kau takut, aku akan menggenggam tanganmu. Kalau kau jatuh, aku akan menangkapmu. Aku janji. Jangan khawatir!”

“Hm.”

________________________________

“Mirai-chan, daijobou desu ka? (kau baik-baik saja?)”

“Hai’… (iya). Demo… ittai… (tapi…sakit…)”

“Kau tunggu disini, aku akan ambilkan obat!”

________________________________

“Kau tidak boleh menyerah, Ryo-chan! Meski aku tidak akan ada disini lagi, semangatku akan tetap tinggal disini menyertaimu… Ganbare! (good luck)”

________________________________

“Daisuki…”

“Ehh?!”

________________________________

“Mirai-chan!”

Aku terbangun dari tidurku. Kenangan masa laluku dan Mirai terekam jelas dalam mimpiku. Seperti baru saja terjadi. Astaga…

.

TIK

TOK

TIK

TOK

.

08.15

.

“ASTAGA! Aku terlambat!” aku melompat dari tempat tidurku sedetik usai kulirik jam dinding kamarku. Aku segera mandi dan bersiap ke sekolah.

******

“Ryo-chan, kau datang terlambat sekali dari biasanya, ada apa?” tanya Suzuka sesampaiku di kelas.

“Aku ketiduran,” jawabku.

“Chii-kun, sekarang kau tampak begitu kurus,” kudengar suara Mirai.

“Aku malas makan akhir-akhir ini…” ucap Chinen usai melihatku sekilas.

“Sejak kematian Okaa-san, aku jadi malas makan…” lanjutnya.

“Aissh… Kenapa kau berkata begitu? Kau harus tetap bersemangat apapun yang terjadi…” ucap Mirai.

“Kau mau memasakkan sushi untukku? Aku suka itu.”

“Ah~baiklah. Aku senang membuatnya untukmu!” seru Mirai membuatku tertegun sejenak. Kemudian aku menghampirinya.

“Ano… Mirai-chan?” panggilku. Ia menoleh.

“Kau bisa memasak?” tanyaku ragu. Ia terbelalak seketika lalu berdiri dari duduknya.

“Kau pikir aku perempuan macam apa?! Tentu saja aku bisa! Aku suka! Kau dengar?!” bentaknya sambil menunjuk-nunjuk padaku.

“Hei, Ryosuke! Mirai-chan memang pandai sekali memasak. Apa ada masalah denganmu?” timpal Chinen.

“Gomennasai… (maaf) Ah, iya. Kudengar kau suka strawberry. Aku punya ini untukmu!” aku menyodorkan sekotak strawberry padanya. Nampaknya ia mulai tergoda dengan strawberry ini. Matanya tak berkedip sama sekali sejak aku membuka kotak strawberry itu. Pandangannya enggan teralih. Ia masih sama… Strawberry… Kuharap ia ingat…

“Ryosuke, nani? (ada apa?)” ucap Chinen sambil menutup kotak strawberry itu.

“Mirai-chan, sebaiknya kita ke kantin saja. Sepertinya Tooru sensei akan datang terlambat pagi ini,” Chinen merangkul pundak Mirai lalu membawanya pergi.

“Ryo-chan, kenapa kau tiba-tiba membawa strawberry untuk Mirai-chan? Apa sebelum ini kalian saling kenal?” Suzuka menghampiriku. Aku hanya menjawabnya dengan senyum tipis.

“Eh, Ryo-chan, can I have some of them?” Suzuka menunjuk-nunjuk pada kotak strawberry di genggamanku.

“Ambil saja kalau kau suka,” aku memberikan kotak itu padanya.

“Arigatou, Ryo-chan!” ucapnya dengan senyum manis mengembang di wajahnya seperti biasanya.

“Kau tidak boleh menyerah, Ryo-chan! Meski aku tidak akan ada disini lagi, semangatku akan tetap tinggal disini menyertaimu… Ganbare! (good luck)” aku kembali ingat ucapan Mirai lima tahun yang lalu.

“Ya... Aku tidak akan menyerah, Mirai-chan!” ucapku pelan.

.

DING!

DONG!

DING!

DONG!

.

“Yosh~akhirnya bisa pulang!” gumamku. Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela. Ada banyak anak-anak bermain bola di samping sekolah. Aku seperti melihat diriku yang lama. Ahh~

“Ehh?!?” aku teringat sesuatu.
******

.

DUKH!

.

Aku menendang bola itu ke arah Mirai. Tanpa sengaja mengenai pergelangan tangannya.

“Ittai! (sakit)” teriaknya. Mirai mengambil bola itu lalu mencari sesuatu.

“Mirai-chan! Ayo, kita main sepak bola!” ajakku. Ia berjalan ke arahku.

“Kau kah yang menendang ini?” tanya Mirai.

“Hm!” aku mengangguk.

.

PLAK!

.

“Kau membuat tanganku terluka! Rok-ku pun jadi kotor! Kenapa kau selalu menggangguku?! Doushite?! (kenapa?)” ucapnya keras dan penuh penekanan.

“Mirai-chan…”

“Yamada Ryosuke, Ryo-chan, atau apalah… Kumohon kau berhenti menggangguku! Kalau kita pernah bertemu sebelumnya, anggap saja itu suatu kebetulan. Aku tidak ingat apapun tentangmu… Gomen… Gomennasai… (maaf)” Mirai memberikan bola itu padaku lalu pergi begitu saja.

“Mirai-chan, doushite? (kenapa?) kenapa kau harus amnesia…?”






.TO BE CONTINUED+++++++>>>>>


.COMMENT PLEASE!! ^o^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar