Title : Collapse. . .
Author : dita-cHun
Type : Multichapter
Part : 2
Sub-title : The Girl and Her Mother
Genre : Hurt/Comfort, Darkfic, Deathfic, Friendship
Inspired : Collapse cover © Abimanyu Surya
Idea : Abimanyu Surya and dita-cHun
Music : Seijaku by Ooshima Michiru
Language : Indonesian
POV : Author
Warning : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya
Note : wah, wah… part 2 muncul! Benar-benar, deh! Menyelesaikan fic ini saya harus lembur sepulang kuliah T___T *nangis dadar guling* Sebenernya uda capek banget. Tapi, berhubung saya orangnya nulis mood-mood.an saya ngalah deh sama mood saya. Berperang lawan capek. Pas liat jam ternyata fic ini selesai tepat jam 00.50! wow! Saya kaget banget pas liat hasilnya. Eeh, rada gimana gitu.. Yah, gimana, ya… Maunya, sih, fic ini dibuat dengan suasana setenang mungkin. Tapi, karena yang diceritakan di bawah ini adalah cewek-cewek *melihat cewek pada dasarnya cerewet* saya jadi kebawa suasana dan menulis seolah-olah tokoh-tokoh cewek disini jadi cerewet banget >w< nyuu… Maaf banget, ya~ saya gak bisa bikin fic yang eksotis xD ini fic kalo dibaca sekali kesannya lumayan bagus *PLAK* tapi kalo berkali-kali pasti biasa banget, ne~ Ah, yaudahlah~ saya udah kepanjangan ngoceh~ kekekke~ Happy reading! ^^
Aroma bahan kimia menyeruak nyaris ke seluruh penjuru laboratorium kimia. Seluruh siswa berjas putih sibuk mencampur aduk bahan-bahan kimia sesuai perintah Murasaki sensei. Sesekali mereka mengobrol satu sama lain di sela-sela pekerjaan mereka, kecuali seorang gadis yang saat itu mencampur bahan-bahan kimia dengan mulut terbungkam sejak pelajaran kimia berlangsung.
“Maimi-chan, kau kelihatan begitu sibuk. Apa aku perlu membantumu?” tanya seorang gadis mungil berlabel Hagiwara Mai pada Yajima Maimi, gadis yang terus berkutat dengan pekerjaannya.
“Iie (tidak),” jawab Maimi singkat tanpa menghentikan aktivitasnya.
“Dia mengacuhkanku,” ujar Mai pada ketiga teman perempuannya yang lain, sambil sesekali menunjuk-nunjuk ke arah Maimi. Salah seorang di antara mereka berjalan menuju tempat Maimi bekerja. Ia meraih sebuah tabung reaksi dan mencampurkannya dengan salah satu tabung reaksi lainnya.
“Aku yakin kau lupa dengan yang ini,” ucap gadis itu sembari menyodorkan campuran bahan kimia itu ke arah Maimi. Kegiatannya barusan berhasil menyita perhatian Maimi, gadis itu tersenyum sekilas, menunjukkan sederet gigi rapinya termasuk gigi gingsul khasnya itu.
“Thanks,” ucap Maimi dengan logat Inggrisnya. Gadis di sampingnya mengedik sekilas, disambut senyum Maimi berikutnya.
“Kau benar-benar ingin menyelesaikannya sampai akhir?” tanya gadis bernama Suzuki Airi itu pada Maimi. Maimi tak menghentikan aktivitasnya sedikitpun, “Tentu.”
Airi meraih tabung reaksi di tangan Maimi kemudian mencucinya pada air kran yang letaknya tak cukup jauh dari tempat mereka bekerja. “Bagaimana keadaan Oba-san (bibi)?” Airi kembali membuka mulut.
“Tidak ada perkembangan sama sekali…” jawab Maimi kembali mengangkat tabung reaksi lainnya, kemudian menggoreskan tinta penanya ke atas buku tugas miliknya.
“Hmh… Suatu saat pasti ada,” ucap Airi setelah beberapa milisekon yang lalu menghela nafas panjang. Perhatian Airi masih tertuju pada air kran yang terus mengalir membasahi dan membersihkan tabung reaksi di genggamannya. Dengan sedikit bantuan sikat kecil, ia berhasil membersihkan noda-noda bekas bahan kimia itu dari tabung reaksi tersebut.
“Maimi-chan…” Airi menyodorkan tabung reaksi yang telah bersih itu pada Maimi. “… Kalau kau ingin bercerita, aku akan siap mendengarnya. Apapun itu…” ucap Airi sembari mengulas segaris senyum. Berselang kemudian ia meninggalkan Maimi yang kembali berkutat dengan tabung reaksi kimianya.
**
Maimi masuk ke beranda rumah dengan mulut terkatup rapat. Lima tahun silam ucapan ‘tadaima’ (aku pulang) begitu lancar dilafalkannya sambil berlari masuk ke beranda. Tentu saja ucapan ‘okaerinasai’ (selamat datang) masih bergema riang dari dalam rumah. Suara lembut ibunya yang selalu dirindukannya setiap pulang sekolah. Tapi, lima tahun yang lalu tetaplah waktu yang sudah berlalu. Semuanya berubah ketika seorang dokter memvonis ibunya mengidap HIV/Aids.
Kala itu Maimi kecil baru pulang dari sekolahnya. Ucapan ‘tadaima’ masih begitu nyaring terdengar di beranda dan hampir ke seluruh penjuru kediaman keluarga Yajima. Namun, ada yang berbeda siang itu. Tak ada sambutan ‘okaerinasai’ dari ibunya. Yang terdengar hanyalah isak tangis ibunya dan suara angin yang silih berganti saling mengisi.
Ia masih ingat betul seberapa banyak air mata ibunya yang jatuh berlinang di atas meja tempatnya membaca sebuah surat dokter. Ia juga masih mengingat betapa erat dekapan ibunya saat itu. Seolah itu adalah pelukan terakhir, ia membalas rangkulan ibunya lebih erat. Mereka menangis masih dalam diam. Maimi kecil benar-benar pandai membaca situasi. Ia tahu bagaimana tindakan yang harus diambilnya ketika menghadapi situasi. Sekalipun itu situasi yang sangat sulit. Ia memilih diam dan mencoba mencerna isi hati ibunya dari pelukan erat yang ia dapatkan.
Sejenak Maimi mencoba melupakan masa lalu. Atau paling tidak, menyingkirkan masalah-masalah di masa lalu untuk saat ini. Mungkin itulah yang terbaik bagi hidup Maimi di masa sekarang. Ia ingin fokus pada satu tujuan yang telah merongrong batinnya sejak empat tahun yang lalu. Tujuan yang sama sekali tidak pernah dipikirkannya sebelumnya. Tujuan yang tiba-tiba datang dalam pikirannya dan mendorongnya untuk terus berusaha. Ya, ia ingin sekali mencapainya. Dokter, itulah tujuan akhirnya. Ia ingin menjadi dokter. Ia ingin melihat ibunya tersenyum ceria seperti dulu ketika penyakit itu belum menggerogoti tubuh ibunya. Ia ingin mengembalikan semuanya di masa depan. Menemukan obat HIV/Aids demi ibunya dan semua orang yang mengidap penyakit mematikan itu.
“Maimi-chan…” sebuah suara lembut menelusup ke dalam pendengaran Maimi. Ia mengenal suara itu dan tentu saja pemiliknya. Seorang wanita paruh baya yang berusaha keras mencapai dapur setelah sekian menit sebelumnya masih berada di kamar.
“Okaa-san, daijoubu? (Ibu, tidak apa?)” tanya Maimi mencoba memastikan. Wanita itu mengangguk mantap, meskipun perlahan. Dengan sigap kedua tangannya menopang tangan wanita itu sebelum sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi. Ia menuntun wanita itu duduk di atas sofa ruang tamu.
“Ah, aku akan mengambil obat…” Maimi lekas berdiri dari posisinya. Kedua kakinya berlari kecil ke arah dapur, mengambil obat yang biasa diminum ibunya setiap pagi dan sore. Maimi tahu bahwa obat itu hanya obat pereda sakit yang dibelinya dari apotek rumah sakit. Karena sampai saat ini HIV/Aids belum ada obatnya.
Maimi mengisi gelas bening berukuran sedang dengan air mineral kemudian segera berjalan menuju tempat ibunya duduk. Ia meracik obat itu sedikit sampai kira-kira bercampur dengan air dalam sendok digenggamannya. Ia tidak ingin ibunya kesulitan menelan pil sebesar biji jagung itu.
“Minumlah…” Maimi menyuapkan sendok berisi obat tersebut pada ibunya. Setelah itu ia memberikan gelas itu pada ibunya sebagai pereda rasa pahit obat pereda sakit itu. “Okaa-san…”
“Hm?”
“Lima tahun lagi aku akan menyembuhkanmu…” Maimi mengukir segaris senyum di wajahnya. “Bersabarlah, Okaa-san. Lima tahun itu bukan waktu yang lama…” Mendengar itu ibunya hanya mengulas senyum simpul.
Maimi tidak menganggap lima tahun ke depan itu waktu yang lama karena ia sudah pernah menjalaninya. Menjalani masa lima tahun yang berat hingga ia masih bertahan bersama ibunya. Seumur hidupnya, Maimi belum pernah melihat sosok ayahnya. Ia tidak pernah tahu siapa ayahnya sejak ia lahir ke dunia. Ia hanya tahu bahwa ayahnya bukanlah seorang bernama Yajima. Karena Yajima adalah marga ibunya, Yajima Akairi. Dan Maimi tahu bahwa ibunya melahirkannya tanpa ikatan pernikahan.
**
Tik… Tik… Tik…
Suara keyboard itu belum berhenti sejak setengah jam yang lalu. Jemari-jemari lentik itu tampak begitu lihai menari-nari di atas keyboard. Pemilik jari-jari itu tidak menghentikan aktivitasnya sekalipun ia baru saja menengok ke arah jam dinding bahwa ternyata jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tugas-tugas sekolah serasa memburu tiap denyut nadinya. Dan tugas yang ia kerjakan sekarang adalah yang terakhir harus ia kerjakan dalam minggu ini, sebelum datang pekerjaan di minggu berikutnya.
Jadwal yang super padat dijalaninya dengan setengah hati. Namun, ia tidak menyesal, sama sekali tidak. Ia percaya bahwa pekerjaan yang ia lakoni saat ini adalah pintu gerbang yang harus dibukanya menuju cita-citanya. Tentang apa-apa yang ingin diraih, ia harus mau melewati semua ini. Ia tidak ingin kalah sampai disini. Cita-citanya akan segera sampai lima tahun lagi, kenapa ia harus menyerah setengah jalan? Baginya biarlah menderita saat ini. Ia tahu Tuhan tidak tidur dan akan mendengar do’a siapapun yang berusaha dan berdo’a pada-Nya. Hal itulah yang makin membulatkan tekadnya untuk terus melangkah, sekalipun itu hanya seperempat langkah ke depan.
Piiip… Piiip…
Suara ponsel itu seketika menghentikan pergerakan jemari yang semula berada di atas keyboard. Tampak pemilik jari-jari tersebut, Maimi, meringsek dari tempatnya mencoba meraih ponsel berwarna hijau muda itu.
“Moshi-moshi… (hallo)” sapanya tanpa melihat siapa yang meneleponnya. Suara di seberang terdengar parau. Suara siapa? Maimi menengok ke arah LCD ponselnya. Tertera nama bertuliskan huruf kanji disana Hagiwara Mai, teman sekelasnya.
“Mai-chan, doushita no? (ada apa?)” tanya Maimi mencoba memastikan.
“Hiks… Aku… Maimi-chan aku takut…” suara itu terdengar lebih parau dari sebelumnya, membuat Maimi sejenak bertanya-tanya. Ada apa?
“Kau dimana sekarang? Aku akan menyusulmu…” ucap Maimi mencoba menenangkan.
“Aku tidak tahu… Tempat ini gelap sekali, Maimi-chan… Aku takut sekali… Hiks,” ucap Mai nyaris tidak jelas. Suara dan isakannya bercampur baur sehingga menimbulkan kesan aneh di telinga Maimi.
“Bagaimana, ya…? Ah, coba kau beritahukan padaku bagaimana ciri-ciri tempat dimana kau berada sekarang!” ucap Maimi. Sejenak Maimi tak mendengar suara Mai, hanya terdengar suara isakannya. Mungkin Mai sedang berpikir.
“…Beraroma alkohol, ada dinding-dinding pembatas, dan mungkin beberapa drum minyak bekas…” ucap Mai akhirnya. Maimi berpikir sejenak, mungkin ia pernah tahu tempat itu. Tapi, dimana?
“Ah, mungkin aku tahu… Tunggu aku, Mai-chan…” ucap Maimi kemudian menutup sambungan telepon. Ia meraih jaket merahnya dan segera keluar dari rumah. Menuju tempat diduganya Mai ada disana.
**
Sudah lebih dari dua puluh menit Maimi menyusuri setiap jalan yang diingatnya. Namun, ia belum menjumpai Mai. Makin lama ia merasa suasana di sekitarnya makin mengerikan. Sepi, sunyi, dan suram… Satu pertanyaan yang ada di otak Maimi saat ini. Bagaimana bisa Maimi terjebak di tempat seperti itu?
Dang!
Suara itu sontak mengejutkan Maimi. Tanpa sengaja ia tersandung sesuaru, semacam besi. Karena terlalu gelap ia sampai tidak mengenali benda apa yang baru saja ditabraknya. Berselang kemudian ia merasa ada suara lain yang mengiringi suara benda itu.
“Hei, siapa disana?” tanya Maimi. Suara itu kembali terdengar, namun dengan volume yang lebih keras. “Maimi-chan, kau kah itu?!”
“Mai-chan?” Maimi lekas mencari sumber suara tersebut. Dijumpainya sesosok gadis mungil yang bukan lain adalah Mai. Gadis itu lekas merangkul Maimi, menunjukkan sejuta kelegaannya. “Yokatta…”
“Mai-chan, bagaimana bisa kau ada disini?” tanya Maimi.
“Aku tidak tahu… Aku tidak ingat.” Ucap Mai.
“Emh, kau mabuk, ya?” tanya Maimi begitu mencium aroma alcohol kadar tinggi.
“Aku dan yang lainnya tadi pergi ke diskotik. Lalu, aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba ada disini. Dan aku juga tidak menemukan mereka…” terang Mai.
Sebenarnya Maimi masih ingin tahu lebih banyak mengenai apa yang terjadi. Menurutnya, hal ini mungkin sedikit ganjil. Tapi, ia sadar bahwa hari sudah cukup larut dan besok mereka harus pergi ke sekolah pagi-pagi sekali. Akhirnya, Maimi mengantar Mai ke rumahnya kemudian pulang. Ia belum menyelesaikan pekerjaan terakhirnya. Beberapa paragraf lagi. Tugas bahasa Jepang yang menurutnya cukup rumit untuk dikerjakan.
“Ganbarimasu! (I’ll do my best)”
.Collapse. . .
.To be continued~
loh tadi ada kok!
BalasHapusbagus chun,....
BalasHapuskayak ga bad mod
mei,part 1 ma part 2 ny bda crta y? ?
BalasHapusBizny dcrta ne,napa g da kaitany ma part yg sblmNy? ?
Ah... =D
BalasHapusKeren ne~ xD
Ini.. Ceritanya nyambung sama yang part 1 ga ka? o.O
Ah... Mai kok ditinggal gitu? Temen-temennya tega banget... -.-"*eh?
Ne...!
tetep Bagus banget ne, ka! xD
Aku suka! =D
Sangkyu udah share linknya~! ^^
Semangat untuk part selanjutnya... Ditunggu lho~
XD
-Anna