Senin, 16 April 2012

Daisuki ~ I Love You~ [Part VII]


Title    : Daisuki ~I Love You~

Author   : dita-cHun

Type     : Multichapter

Part     : 7 of 7

Genre    : Romance

Rating   : PG+12

Music    : Hikari by Elisa

Cast     :

#Shida Mirai

#Yamada Ryosuke

#Ohgo Suzuka

#Chinen Yuuri

POV      : Yamada Ryosuke

Disclaimer    : all cast milik Tuhan! Suer! xD

Warning  : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya






.

CKLEK!

.

“Dokter!” seketika aku dan Suzuka langsung menyerbu dokter yang baru saja keluar dari ruangan Mirai.

“Apa salah satu dari kalian adalah keluarganya?” tanya dokter. Aku dan Suzuka saling berpandangan sejenak lalu menggeleng.

“Operasi yang sempat dilakukan berjalan dengan baik, tapi bukan berarti nyawa pasien dapat selamat. Sekarang dia dalam pengaruh obat bius. Kalau dalam waktu lebih dari 24 jam dia belum sadar kemungkinan dia akan koma,” jelas dokter.

“Koma?” tanyaku mengulang. Dokter itu mengangguk.

“Kalian boleh masuk ke dalam. Tapi, mohon jaga ketenangan,” ucap dokter lalu berlalu dari hadapan kami. Aku dan Suzuka bergegas masuk ke dalam ruangan Mirai.

Begitu sampai di dalam, kulihat Mirai yang masih terbaring lemah di ranjang dengan wajah begitu pucat. Aku menggenggam tangan kanannya sedangkan tangan kiriku membelai lembut rambutnya yang hitam legam.

“Mirai-chan… Gomen… (maaf) Gomennasai… (maaf)” ucapku.

“Mirai-chan… Kumohon bertahanlah… Kumohon jangan tinggalkan aku lagi…” lanjutku.

“Ryo-chan…” aku mendengar suara Suzuka berbicara. Aku menoleh.

“Suzu-chan… Gomennasai, aku tidak memberitahumu tentang Mirai-chan sebelumnya,” ucapku.

“Ryo-chan, apa kau yakin kau tidak akan kembali ke masa lalu? Ke masa dimana ada kau dan Mirai-chan? Kau yakin kau akan melupakan cinta Mirai-chan seperti yang kau bilang waktu itu?” tanya Suzuka.

“Aku tidak akan kembali ke masa lalu, tapi bukan berarti aku tidak boleh mencintai orang di masa laluku. Sampai kapanpun… Tentu saja aku tetap mencintai Mirai-chan… Suzu-chan…” jawabku.

“Kupikir… Aku akan menolak Chinen dan memilih menunggumu saja… Tapi, ternyata tidak mungkin,” ucap Suzuka.

“Suzu-chan…”

“Aku bukannya membenci Chinen, tapi aku hanya  tidak suka dengan sikapnya yang overprotective padaku. Aku menganggapnya lebih dari teman, tapi bukan berarti itu cinta. Sedangkan padamu, itu berbeda. Aku sudah mencintaimu sejak lama. Tapi,  kau sama sekali tak mempedulikanku. Ternyata cuma aku yang mencintai… Kalau kau yakin bahwa kau memang sangat mencintai Mirai-chan… Ikutilah kata hatimu. Jangan sampai kau menyesal,” ucap Suzuka.

“Arigatou, Suzu-chan… Gomen, aku tidak pernah mengerti perasaanmu,” ucapku.

“Iie… (tidak) Asal kau bahagia tidak apa-apa…” jawabnya.



++++Shida Mirai’s POV++++

.

.

Ai wo sagashite tabi wo suru hikari wa… Mune ni egaku mirai e tsuzuiteku darou… Tamerau tobira wo aketa nara… Atarashii ashita e to arukidaseru… Kokoro no oku fukaku shizumu… Setsunai omoi wa… Dare mo shiranai… Hitori bocchi na itami… Doushite na no? daiji na mono… Nakushite bakari de… Furishikiru ame… Mata kanashimi wo utau…” samar-samar aku mendengar suara anak laki-laki dan piano yang merdu. Ahh~ rasanya aku ingat Otoo-san yang pandai bermain piano. Sayang, Otoo-san tidak ada disini. Karena penasaran, aku segera menghampiri asal suara tersebut. Mungkin, ia merasa sepasang mata sedang mengawasinya lekat-lekat. Jemarinya berhenti mengusik tiap tuts piano di hadapannya. Pandangannya beralih dari piano itu ke arahku. Aku sejenak terpaku melihat parasnya yang sangat imut untuk ukuran anak lelaki seusianya. Pipinya tampak chubby, begitu menggemaskan! Ia tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya dengan senyuman simpul. Tanpa kusangka ia datang ke arahku. Aku hanya diam menatapnya.

“Ohaeyou… (pagi)” sapanya ramah. Aku hanya menyunggingkan senyum dan mengangguk kecil.

“Ryosuke desu. Yamada Ryosuke. Siapa namamu?” ia mengulurkan tangan.

“Mirai desu. Shida Mirai,” aku menjabat tangannya.

.

.

“Ryo-chan, kalau kau takut, aku akan menggenggam tanganmu. Kalau kau jatuh, aku akan menangkapmu. Aku janji. Jangan khawatir!”

“Hm.”

.

.

“Ryo-chan, kau makan strawberry?”

“Hm. Aku sangat suka strawberry. Kau mau?”

“Hai’! (ya)”

“Ini, Okaa-san membuatkan strawberry shortcake untukku. Kalau kau mau, aku akan membaginya untukmu juga.”

“Arigatou, Ryo-chan! (Terima kasih, Ryo-chan)”

.

.

“Mirai-chan, daijobou desu ka? (kau baik-baik saja?)”

“Hai’… (iya). Demo… ittai… (tapi…sakit…)”

“Kau tunggu disini, aku akan ambilkan obat!”

.

.

“Kau tidak boleh menyerah, Ryo-chan! Meski aku tidak akan ada disini lagi, semangatku akan tetap tinggal disini menyertaimu… Ganbare! (good luck)”

.

.

“Daisuki… (aku cinta kamu)”

.

.

“Ahh! Foto Ryo-chan jatuh disana… Aku akan mengambilnya dulu!”

“Awas!!”

.

.

“Mirai-chan!”

“Dare? (siapa?)”

“Aku Ryo-chan. Kau ingat, kan? Terakhir kali kita bertemu sekitar lima atau enam tahun yang lalu.”

“Ryo-chan? Lima tahun lalu? Dare? (siapa?) Aku sama sekali tidak ingat… Gomen ne… (maaf)”

.

.

Yamada Ryosuke…

Ryosuke…

Ryo-chan…

Ryo-chan…

.

Aku mencoba membuka mataku. Berat… Tuhan… Aku ingin bangun… Aku ingin bangun dan melihat dunia… Kenapa begitu berat…

“… Suster… Cepat…”

Berisik… Apa yang terjadi sebenarnya…?

“Dokter… Kumohon selamatkan dia!!”

Suara itu… Suara Ryo-chan… Aku ingat.

“Dokter…! Suster…!”

Aku bisa mendengar segalanya… Tapi, aku tidak mampu membuka mataku sama sekali. Aku merasakan betapa sakitnya benda-benda medis menusuk tubuhku. Tapi, sedikitpun aku tak mampu berteriak. Membuka mulutpun tak bisa. Apa yang terjadi…?



++++Ohgo Suzuka’s POV++++

.

2 Bulan Kemudian...

.

Sejak Mirai koma, orang tuanya hanya menengok beberapa kali lalu kembali ke Tokyo karena begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sementara yang selalu pergi ke rumah sakit ini adalah Ryosuke. Baik hari libur atau hari sekolah dia selalu datang setiap hari. Setiap hari dia selalu pulang membawa buku yang dipinjamnya dari perpustakaan setiap sore. Awalnya aku tak mengerti apa yang akan dilakukannya dengan buku-buku setebal itu. Rupanya, ia selalu membawanya ke rumah sakit dan membacakannya untuk Mirai seperti yang dilakukannya hari ini. Aku melihatnya membawa sebuah buku yang agak tebal. Ketika aku membuka pintu kamar Mirai, tak ada yang menghiraukanku. Terutama Ryosuke yang terlalu asyik membacakan buku itu penuh  emosi.

“… lalu ketika si kelinci turun ke sisi bukit tiba-tiba datang serigala yang rupanya telah mengintainya sejak tadi. Si kelinci yang menyadari kedatangan serigala segera berlari secepat-cepatnya. Ia mencari lubang agar dia dapat bersembunyi dari serigala tersebut…” Ryosuke masih terus membaca cerita itu dengan telaten, meskipun ia tidak tahu apakah yang diceritakannya itu mendengarkannya atau tidak. Dia benar-benar mencintai Mirai…

“Ryo-chan…” aku mencoba menyapanya. Ia menghentikan bacaannya dan menoleh padaku.

“Ah, Suzu-chan… Kau mengagetkanku,” ucapnya.

“Gomen (maaf), aku kesini karena ingin memberimu ini. Kau pasti lelah menjaga Mirai-chan setiap hari,” aku meletakkan sekotak strawberry shortcake di atas meja.

“Apa itu?” tanyanya.

“Strawberry shortcake,” jawabku ringan.

“Ah~arigatou (terima kasih)”

“Mirai-chan, apa dia akan dengar pembicaraan kita ya? Kalau dia mendengar kata ‘strawberry shortcake’ apa mungkin dia akan terbangun ya?” pandangannya tertuju pada Mirai. Sorot matanya tampak begitu tulus.

“Mungkin saja. Aku harap dia segera sehat,” ucapku mengukir segaris senyum.
Mungkin, apa yang dirasakan Ryosuke pada Mirai saat ini adalah sama seperti yang kurasakan pada Ryosuke. Perbedaannya hanya pada berbalas tidaknya cinta itu. Kalau Ryosuke sudah berbalas. Kalau aku? Entahlah… Mungkin akan ada seseorang yang lebih baik untukku. Tapi, aku tidak bisa menjamin perasaanku pada Ryosuke akan sepenuhnya hilang. Biarlah… Mencintai begini juga bahagia…



++++Yamada Ryosuke’s POV++++

“Aku tidak akan lama disini. Aku ada janji dengan Chinen untuk mengajarinya bahasa Inggris. Dia memintaku akhir-akhir ini,” ucap Suzuka.

“Ah, begitu. Baiklah. Hati-hati di jalan ya…” ucapku pada Suzuka yang hendak pergi. Ia tersenyum sekilas lalu benar-benar pergi.

“Ah~ lapar~ Mirai-chan, aku keluar sebentar ya,” ucapku pada Mirai yang masih tak bergerak satu centi pun dari tempatnya. Aku segera keluar menyusuri lorong-lorong rumah sakit untuk membeli makanan. Kuputuskan membeli seporsi sushi yang akan kumakan di kamar Mirai.

.

CKLEK!

.

“Mirai-chan?!”

Aku terkejut tak mendapati Mirai di kamarnya. Astaga! Kemana dia?! Aku segera meletakkan sushiku begitu saja di atas meja lalu bertanya ke receptionist. Namun, mereka tak menyatakan adanya pasien yang dipindahkan ruangannya. Lalu kemana Mirai pergi?

Aku kembali menyusuri lorong-lorong di sekitar kamar Mirai. Mungkin saja seorang suster baru saja membawanya pindah ruangan.

.

GREB!

.

Sepasang tangan merengkuh tubuhku dari belakang. Terasa dingin jemarinya menyentuh perutku. Aku membalikkan tubuhku.

“Mirai-chan?” aku terkejut sekaligus senang melihat sosok yang berdiri di hadapanku.

“Jangan meninggalkanku… Ryo-chan… Jangan tinggalkan aku… Aku… takut…” ucapnya terbata-bata. Aku memeluknya.

“Ya… Aku tidak akan meninggalkanmu…” jawabku. Aku segera menuntunnya ke ruangannya.

“Jangan pergi lagi… Ryo-chan… Jangan membuatku… mencarimu lagi…” ucapnya.

“Mirai-chan, kau ingat?” tanyaku memastikan. Ia mengangguk.

“Daisuki… (aku cinta kamu) Kenapa waktu itu… kau tidak mengatakan apapun…?” tanyanya.

“Aku terlalu terkejut. Lagipula kau pergi cepat sekali tanpa berkata apapun!” ucapku.

“Bahkan… kau tak bilang… ‘matte’ (tunggu)…” ucapnya.

“Aku hendak mengatakannya, tapi aku terlalu terkejut…”

“Ryo-chan… apa kau pernah menyukaiku?” tanyanya.

“Sejak hari itu aku hanya menyukaimu. Aishiteru… (aku cinta kamu)” ucapku. Ia tersenyum.

“Strawberry shortcake?” aku menyodorkan sepotong strawberry shortcake padanya. Ia mengangguk mantap.

“Aku suka strawberry…” ucapnya.

“Boku mo (aku juga)” ucapku.



____the end____

Tidak ada komentar:

Posting Komentar