Senin, 16 April 2012

Daisuki ~ I Love You~ [Part V]


Title    : Daisuki ~I Love You~

Author   : dita-cHun

Type     : Multichapter

Part     : 5 of 7

Genre    : Romance

Rating   : PG+12

Music    : Hikari by Elisa

Cast     :

#Shida Mirai

#Yamada Ryosuke

#Ohgo Suzuka

#Chinen Yuuri

POV      : Yamada Ryosuke

Disclaimer    : all cast milik Tuhan! Suer! xD

Warning  : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya








  “Ryo-chan! Aku lega kau datang! Kupikir kau tidak akan datang,” ucap Suzuka begitu melihatku sampai di depan locket ferris wheel.

“Hm,” aku mengangguk ringan.

“Ryo-chan, daijobou desu ka? (kau baik-baik saja?) Kau tidak tampak seperti biasanya…” tanya Suzuka.

“Ah? Daijobou… Jangan khawatir…” aku mencoba mengukir segaris senyum di wajahku.

“Sungguh?” tanyanya mencoba meyakinkan.

“Hm,” aku mengangguk.

“Aku akan membeli tiket, kau duduklah disini,” ucap Suzuka. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. Lima menit kemudian Suzuka telah kembali dari locket dengan dua tiket di tangannya.

“Ryo-chan!” ia duduk di sampingku.

“Kita harus menunggu sepuluh menit untuk giliran kita. Tidak apa-apa?” tanyanya.

“Hm.”

“Syukurlah kau segera datang… Tadinya aku memutuskan untuk datang pada Chinen jika kau tidak datang,” ucap Suzuka. Aku menoleh padanya.

“Maksudmu?” tanyaku.

“Chinen mengajakku pergi ke jembatan malam ini. Aku sih sudah bilang tidak bisa karena aku akan pergi denganmu…” jawabnya.

“Suzu-chan, pergilah dengan Chinen malam ini,” ucapku.

“Demo… (tapi)”

“Kumohon, Suzu-chan…” pintaku.

Alasanku yang sebenarnya bukanlah karena aku kasihan pada Chinen atau aku ingin menyakiti Suzuka. Tapi, aku tidak ingin kehilangan Mirai…. Itu adalah satu-satunya alasanku… Dan semalam…

.

.

“Eh, Mirai-chan? Nani? (ada apa?)” kudengar suara Chinen berbicara.

“Aku… ada yang ingin kubicarakan denganmu Chii-kun…” berikutnya suara Mirai.

“Katakan saja…”

“Daisuki… (aku cinta kamu)”

“Eh?”

“Daisuki, Chii-kun… Daisuki…” Mirai mengulang kalimatnya dengan setengah mengisak. Sepertinya Mirai menangis.

“Apa kau tidak pernah tahu itu? Apa kau tidak merasakannya sedikitpun?” lanjutnya.

“Gomen (maaf), Mirai-chan. Sekalipun aku tahu, aku tidak mungkin bisa membalasnya…”

“Demo, doushite? (tapi, kenapa?)”

“Karena… sudah ada orang lain yang kusukai… Aku sangat menyukainya… Gomen, Mirai-chan… Gomennasai…”

.

.

“Baiklah… Ryo-chan…” ucapan Suzuka membuatku tersadar dari lamunan.

“Gomen, Suzu-chan…” ucapku merasa sedikit menyesal.

“Iie… daijobou… (tidak… tidak apa-apa)” ucapnya lalu bangkit dari tempatnya semula. Ia hendak pergi dari hadapanku. Namun, baru dua langkah ia kembali berbalik.

“Demo (tapi), boleh kutahu alasannya? Kenapa tiba-tiba kau menyuruhku pergi dengan Chinen?” tanyanya.

“Itu…” aku menunduk, bingung harus berkata apa.

“Apa hatimu masih terus untuk sahabatmu itu? Dia pasti beruntung sekali ya… Andai aku jadi dia, aku pasti tidak akan pergi meninggalkanmu. Andai dia itu aku, pastilah akan menunggu saat Ryo-chan bilang  ‘matteru ne’ (tunggu sebentar).”

“Suzu-chan…”

“Jaa… (bye)” ucapnya lalu pergi meninggalkanku. Tak lama setelah Suzuka pergi aku merogoh sakuku, mencari ponsel yang tersembunyi disana. Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan nomor ponsel Mirai.

“Mirai-chan, bisa kita keluar malam ini? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat…” aku mencoba mengirim pesan singkat padanya. Lama aku menunggu. Tidak ada balasan sama sekali darinya. Aku nyaris memasukkan ponselku ke dalam saku andai ponselku tidak berdering.

“Aku akan pergi ke jembatan. Kita bertemu disana saja. Lima menit lagi aku sampai di sana,” pesan itu sedikit menyentakku.

“Tidak…! Kalau Mirai ke jembatan… Itu artinya…”
Aku segera memasukkan ponselku ke dalam saku lalu bergegas pergi menuju jembatan.

.

BRAKH!

.

“Aaargh, sial!” karena tidak berhati-hati, tanpa sengaja aku menabrak tempat sampah di dekatku. Beberapa pasang mata mengamatiku. Karena ulahku itu sampah yang semula ada di dalam tempat sampah jadi berhamburan. Aku jadi sibuk membereskannya.

“Mirai-chan… Kumohon sesuatu menghentikannya melihat Chinen dan Suzuka…” batinku sembari memunguti sampah-sampah tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam tempat sampah. Usai itu aku segera berlari ke arah jembatan yang letaknya tak begitu jauh dari tempat ini.

******

“Suzu-chan… aku senang kau benar-benar datang…” aku melihat Chinen dan Suzuka berdiri di tengah-tengah jembatan. Chinen memberika sekaleng minuman pada Suzuka.

“Aku tidak tahu kau benar-benar menungguku. Kau tahu? Aku terharu sekali kalau melihat sikapmu begini…” ucap Suzuka dengan nada khasnya. Kulihat Chinen tersenyum. Senyum yang tidak pernah kulihat sebelumnya…

“Suzu-chan… aku tahu kalau kau pasti sudah mengetahui ini sebelumnya. Aku tahu, kau pasti merasakannya meski sedikit saja. Kalau aku sangat mencintaimu, Suzu-chan…” ucap Chinen tiba-tiba, sudah kuduga dia pasti akan mengatakan hal itu.

“Aku sangat mencintaimu. Meski seberapa banyak pun kau membuangnya… Aku akan terus memberikannya sebanyak yang kumampu… Karena aku bahagia mencintaimu, Suzu-chan…” lanjutnya. Aku agak terkejut dengan kalimatnya. Bukankah itu…

.

.

“Bagaimanapun… Mencintai orang lain itu adalah bagaimana dia memberikan seluruh kasih sayangnya sebanyak ia mampu, meski kasih sayang itu hanya akan terbuang sia-sia… Itulah cinta terdalam, Ryo-chan…”

.

.

“Chii-kun…” aku mendengar sebuah suara dari belakangku.

“Mirai-chan…” aku melihat Mirai membekap mulutnya rapat-rapat. Airmatanya mengalir begitu saja. Sedetik kemudian ia pergi. Berlari sekuat tenaga.

“Mirai-chan…! Matte! (tunggu)” aku mengejar Mirai yang langkahnya semakin jauh. Emosinya jauh mengalahkan akalnya.

“Matte! Chotto matte! (sebentar! Tunggu sebentar!)” teriakku sambil terus berusaha mengejarnya.

“Mirai-chan!”

.

CIIIITTTTT…!

BRAKKH…!!

.

“Mirai-chan..!!!!” teriakku melihat Mirai yang telah bersimbah darah. Sebuah mobil berkecepatan tinggi menghempaskan tubuh mungilnya ke sisi jalan dengan amat tragis.

“Iiieeeeeee…!!!! (tidak)” teriakku kuat-kuat.






.TO BE CONTINUED++++++>>>>>



.COMMENT PLEASE…!! ^o^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar