Senin, 16 April 2012

Daisuki ~ I Love You~ [Part III]

Title    : Daisuki ~I Love You~

Author   : dita-cHun

Type     : Multichapter

Part     : 3 of 7

Genre    : Romance

Rating   : PG+12

Music    : Hikari by Elisa

Cast     :

#Shida Mirai

#Yamada Ryosuke

#Ohgo Suzuka

#Chinen Yuuri

POV      : Yamada Ryosuke

Disclaimer    : all cast milik Tuhan! Suer! xD

Warning  : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya






.

.

“… Kalau kita pernah bertemu sebelumnya, anggap saja itu suatu kebetulan…”

.

.

Tidak! Meski mimpi sekalipun aku tidak rela Mirai mengucapkan hal itu. Pertemuan kami bukanlah suatu kebetulan. Persahabatan yang pernah terjalin selama empat tahun itu bukan sekedar kebetulan.

Baiklah. Aku tidak akan menyerah hanya karena Chinen atau Mirai yang amnesia. Kalau aku tidak bisa mengembalikan Mirai yang lama, maka aku akan mulai dari awal dengan Mirai yang baru. Kalau cinta yang lama itu sudah pudar, biar kumulai lagi cerita cinta yang baru. Ya… Mulai dari awal!

******

Yosh~ Mulai hari ini aku tidak mengenal Shida Mirai yang lama. Tidak pernah ada Shida Mirai sebelumnya dalam hidupku. Shida Mirai dan aku… Akan memulai lagi cerita mulai hari ini!

.

TAP

TAP

TAP

.

“AHH~!” pekikku ketika tanpa sengaja bertemu pandang dengan Mirai dan kami nyaris bertabrakan.

“Ohaeyou… (pagi)” sapaku begitu jarak kami sudah teratur kemudian segera duduk di bangkuku.

“Chinen, kau terlalu overprotective! Aku benci kau!” ucap Suzuka lalu menghampiriku.

“Ryo-chan, Chinen selalu saja menggangguku!” segala keluhnya tumpah begitu ia duduk di samping bangkuku.

“Sudahlah. Dia begitu pasti karena terlalu menyukaimu,” ucapku ringan.

“Menyukaiku? Hahh, itu bukan menyukai namanya, tapi mengekang! Dasar!” kemarahan Suzuka belum juga reda.

“Mirai-chan, terima kasih untuk sushi buatanmu kemarin. Itu enak,” suara Chinen terdengar keras sekali seperti berusaha memperdengarkannya padaku. Kurasa ini reaksinya akibat pembicaraanku dengan Suzuka barusan.

“Benarkah? Lain kali aku akan membuatnya lagi untukmu!” ucap Mirai semangat.

“…chan… Ryo-chan!”  bentak Suzuka membuatku terkejut.

“Eh? Nani? (ada apa?)” aku tersadar.

“Kau tadi sedang ada dimana?” tanyanya tak jelas.

“Hah? Sejak tadi kan aku ada disini. Kau bicara apa, sih?” ucapku tertawa kecil dengan pertanyaannya yang agak aneh di telingaku.

“Bukan tubuhmu, tapi rohmu! Kau mendengarkan aku bicara tidak, sih?” tanyanya lagi.

“Ah, gomen (maaf) aku tak mendengar. Aku setengah melamun,” ucapku jujur.

“Apakah sahabat perempuanmu itu? Apakah dia yang barusan kau pikirkan?” tanyanya. Nada bicaranya naik satu oktaf.

“Hm,” aku mengangguk.

“Siapa sih dia sebenarnya? Apa kau menyukainya?” tanyanya lagi.

“Ah, sepertinya aku lupa meletakkan angka 25 di buku PR matematikaku. Untunglah aku ingat…” aku mencoba membelokkan pembicaraan. Kini perhatianku teralih pada tas yang sejak tadi masih melekat di tubuhku.

“Jangan membelokkan pembicaraan,” jemari lentik Suzuka mencegah tanganku yang sudah nyaris membongkar isi tas ku. Ia menatapku  tajam.

“Apa penting? Haruskah aku menjawabnya?” tanyaku. Ia mengangguk mantap.

“Ya. Aku pernah menyukainya. Lima tahun yang lalu. Kau puas?” ucapku.

“Apa kau ingin kembali ke masa lalu? Apa kau ingin cintamu tidak pergi?” tanyanya balik.

“Tidak. Tidak akan. Aku tidak  akan kembali ke masa lalu, apapun yang terjadi. Aku adalah yang sekarang dan nanti. Cintaku juga bukan masa lalu lagi. Cintaku adalah yang sekarang dan nanti…” jawabku. Ia tersenyum.

“Ryo-chan, apakah kita akan berteman selamanya?” tanyanya.

“Tentu. Kau jangan terlalu memikirkan hal kecil begitu. Bagaimanapun kita adalah sahabat, Sampai kapanpun kita adalah sahabat,” jawabku.

“Arigatou (terima kasih)”

******

.

.

“Kau terlalu banyak membuat ulah di sekolah ini. Sekarang kau terkena kasus berkelahi dengan siswa SMA Mitsuhama. Sekolah sudah tidak mungkin lagi mentoleransi sikapmu kali ini.”

“Ini. Walimu harus datang besok atau kau akan di skors.”

“Baiklah. Kau boleh kembali ke kelasmu, Chinen-sama.”

.

.

Tadi siang, sepulang sekolah, tanpa sengaja aku mendengarkan pembicaraan Chinen dengan Tsuki sensei. Apa dia akan melakukannya? Aku melangkahkan kakiku menuju ruang tamu, kuharap sosok yang ingin kujumpai ada disana. Benar. Dia ada disana bersama segelas minuman dan televisi di hadapannya.

“ Chinen, apa kau berpikir untuk mengatakan hal itu pada Okaa-san?” tanyaku to the point. Ia menoleh, menatapku dengan tatapan membunuh.

“Kau itu suka sekali mencampuri urusan orang lain. Aku makin muak denganmu!” serunya lalu mengalihkan pandangannya ke arah televisi.

“Katakan saja pada Okaa-san… Dia… pasti akan datang…” ucapku meredam emosi. Ia berdiri dari tempatnya semula dan menghampiriku, menatapku dingin.

“Lebih baik aku di skors daripada harus memohon padanya,” ucapnya.

“Doushite? (kenapa?) Bukankah dia juga Okaa-san bagimu?” tanyaku.

“Tidak ada orang tuaku selain Otoo-san dan Okaa-san ku!” tegasnya.

“Kau terlalu egois, Chinen. Kau terlalu keras kepala,” ucapku.

“Kau pikir siapa dirimu bisa menilai diriku? Mirai-chan amnesia pun gara-gara kau!” teriaknya.

“Eh? Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti.

“Kau pikir saja sendiri,” ucapnya penuh penekanan lalu keluar dari rumah.

“Mirai-chan amnesia gara-gara aku? Demo, doushite? (tapi, kenapa?)”

.

Deaeta kiseki ni donna ketten mo

Imi nai yo kimi wa sono mama ga ichiban

Say! Hey hey hey hey hey hey hey

.

“Moshi-moshi? (hallo)” sapaku begitu kuangkat ponselku yang baru saja berdering.

“Ryo-chan?” sapa suara dari seberang.

“Dare? (siapa?)” tanyaku.

“Suzuka. Ohgo Suzuka,” jawabnya.

“Ah, kau… Kupikir siapa. Nani? (ada apa?)”

“Bagaimana jika liburan musim panas ini kita keluar?” tanyanya.

“Eh? Keluar? Memangnya mau kemana?”

“Aku ingin naik ferris wheel (baca: gondola) denganmu. Apa kau tidak bisa?” tanyanya. Dari nadanya sepertinya dia memang sangat ingin pergi ke sana.

“Emm… baiklah. Kita pergi hari Sabtu,” ucapku tak ingin membuatnya kecewa.

“Sungguh?”

“Hm.”

“Arigatou! Aku akan datang tepat waktu. Kita bertemu di sana jam tujuh, ok?” ucapnya semangat.

“Baiklah,” jawabku singkat.

“Bye,” ucap Suzuka dari seberang lalu menutup telepon.

“Dare? (siapa?)” Okaa-san tiba-tiba saja menghampiriku.

“Ah~ itu temanku Suzuka, Ohgo Suzuka,” jawabku.

“Kau menyukainya?” tanya Okaa-san dengan senyum khasnya.

“Bukan. Dia sahabatku. Tapi, Chinen yang menyukainya,” ucapku setengah tertawa.

“Chinen? Benarkah? Pasti dia gadis yang sangat manis,” ucap Okaa-san.

“Doushite? (kenapa) Kenapa Okaa-san berkata begitu?” tanyaku.

“Seburuk apapun laki-laki itu… Dia pasti mencari gadis yang paling baik. Begitupun sebaliknya,” ucap Okaa-san. Aku mengangguk tanda mengerti.

“Okaa-san, ada yang ingin kutanyakan.”

“Hm?”

“Apa Okaa-san menyayangi Chinen?” tanyaku.

“Tentu. Okaa-san sayang kalian berdua,” jawabnya.

“Bagaimana bisa? Bukankah Chinen sudah bersikap buruk pada Okaa-san? Bukankah dia sudah sering menyakitimu?” tanyaku.

“Itu karena Okaa-san sangat mencintai Otoo-san. Chinen juga anak Otoo-san. Mana mungkin Okaa-san menyakiti Chinen?”

“Chinen terlibat perkelahian dengan siswa SMA Mitsuhama,” aku menurunkan nada bicaraku satu oktaf. Okaa-san tampak terkejut. Ia menatapku dalam-dalam sejenak lalu mengalihkan pandangan dengan raut wajah yang amat menyakitkan.

“Tsuki sensei bilang kalau walinya tidak datang besok, Chinen akan di skors dari sekolah. Aku mendengarnya siang ini,” lanjutku.

“Okaa-san akan membuatkan sup untuk kalian,” Okaa-san nyaris pergi dari hadapanku kalau saja aku tidak memanggilnya.

“Okaa-san, daijobou desu ka? (kau baik-baik saja?)” tanyaku memastikan.

“Daijobou…” Okaa-san menjawab dengan nada datar tanpa menatapku sedikitpun lalu benar-benar berlalu.

“Tidak… Pasti tidak baik-baik saja. Gomennasai (maaf), Okaa-san…”






.TO BE CONTINUED++++++>>>>>


.COMMENT PLEASE! ^o^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar